Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Welcome Spring

Hello, I need you dear sunshine

I really miss how the sun touches my skin with warm

That I rarely feel in here

Hello Spring,

Although you seem very warm and bright

You are still not comforting enough

Maap ik ga biasa bikin pupuisian romantis. Itu cuma seliweran geje diriku. Sekarang lagi Spring Break (libur ganti musin dari winter ke spring). Anak-anak sekolahan libur, ya kite yang kuliah sama kerja mah engga. *Eh kayanya anak kuliahan S1 libur juga sih, lupa*.. Yang pasti supervisor saya mah libur karena anak-anaknya libur sekolah, ya dia juga ikutan cuti.

Namanya mah aja ganti musim, tapi suhu tetep ga berganti. Tirisnya masih aja kerasa.

Sekali waktu tiba-tiba pagi hari turun salju tipis-tipis, tapi siangnya udah habis saljunya karena matahari muncul

Sekali lainnya ada hujan es di siang bolong, setelah itu sorenya cerah

Besoknya hari cerah banget, horee.. ada matahari, tapi angin kencengnya ga kira-kira

Langit dan matahari cerah di sini tak lain dan tak bukan hanyalah fatamorgana semata *tsaaah*, yang terlihat indah dari kejauhan, tapi ketika didekati dan dirasakan keberadaanya, sama sekali ga ada.. PHP* PISAN SIH KAMU MATAHARI.

*PHP = Pemberi Harapan Palsu

Tampak cerah. Padahal, brr... teuteup dinginnn
Tampak cerah. Padahal, brr… teuteup dinginnn
Jalan yang biasa dilewati Runa setiap ke sekolah
Jalan yang biasa dilewati Runa setiap ke sekolah

Tertanda,

Yang kangen matahari dan kehangatannya

Yang kangen cerahnya pagi Indonesia…. dan juga makanan-makanan enaknya..

Groningen's Corner

Belajar Berenang di Groningen

Kemarin Runa ngikut Mbak Mayya dan Mas Rayyan (tetangga Runa di sini) pergi les berenang. Asalnya saya dan Runa ga rencana mau ikut. Tapi kayaknya seru nih bisa lihat  Mbak Mayya berenang (Mas Rayyan renangnya besoknya).

Di deket lingkungan rumah kami, di Lewenborg memang ada fasilitas kolam renang dan ada lesnya juga. Tempatnya bersebelahan dengan sekolah Runa, deket kok dari Rumah. Nama tempat lesnya Aqua Groningen. Saya kirain tu asalnya tempatnya kolamnya gede gitu (yang kebayang ya Big Water Park-nya Kopo atau Bikasoga-nya Buah Batu), eh ternyata kolamnya cuma satu, seucrit lagi.. tapi tingginya hampir 2 meter.

Anak-anak yang les di sana? Wuih penuh.. jadwalnya padat. Satu kali les sebenarnya cuma 30 menit. Kami datang jam 4 sudah ada grup (1 grup bisa max sampai 12 anak kayanya) yang sedang les. kemudian giliran Mbak Mayya dan grupnya, setelahnya ada lagi lanjutnya. Gurunya gak ganti dong.. Katanya sampai jam 7 malem masih ada grup yang les. Wow amazing. Continue reading “Belajar Berenang di Groningen”

Groningen's Corner

Nationale Voorleesdagen (National Reading Days)

Couple weeks ago, I received an email from Runa’s school. The title of the email is Informatie ouders Nationale Voorleesdagen SKSG Vuurtoren. The email of course in Dutch, heu. What was the email about?

Turned out that the school informed the parents about the National Reading Days (27 January – 6 February). They also told us the prentenboek van het jaar 2016 was: We Hebben we een Geitje bij!

Prentenboek (google translate: picture book) is a children book where text and illustrations complement each other and together tell a story. Usually the story is not too long, it has few text, also interesting pictures! This educational book intended to educate children. So, children can learn to read themselves or parents can read along with their children. The story in it has a positive purpose, bring satisfaction to the reader, or in short, a happy ending story.

Actually, not only the school that promote about the Nationale Voorleesdagen, but also kinder en jeugd centrum (posyandu), Het Dok (semacam kantor kecamatan), library, also book store, etc.  I also saw the commercial about the reading days and the prentenboek there.  Continue reading “Nationale Voorleesdagen (National Reading Days)”

Groningen's Corner

A year in Groningen

Time flies. Ga kerasa sudah pas setahun di kami sekeluarga tinggal di Groningen. 24 Agustus 2013 kami menjejakkan kaki di Schipol, masih berasa ngambang dan belum ngegrip banget rasanya pas pindah ke Groningen. Dengan persiapan yang kilat dan masih belum tau gimana nasib kami sekeluarga nanti di sini, kami memberanikan diri untuk berangkat bareng, yang penting pokoknya ngumpul aja.

Sekarang, sudah 1 tahun ini.. banyak mahasiswa baru yang berdatangan. Mungkin juga mereka merasa bingung, jet lag, gak siap, banyak nanya, meraba-raba, dan lain-lain. Ngerti kok, saya juga dulu gitu.

Alhamdulillah dalam setahun ini saya dan keluarga sudah bisa menyesuaikan diri dengen lingkungan sini. Banyak sekali nikmat Allah yang harus disyukuri. Semoga kami termasuk orang-orang yang ahli bersyukur.

Agustus 2013: Dulu sampai sini disambut sama hujan dan dinggiin banget rasanya, pas malem tidur rasanya menggigil padahal udah pake baju berlapis (walaupun masih akhir summer). Agustus 2014: Sekarang kok berasa gerah ya, boro-boro nyentuh selimut, baju aja cuma selapis.. *entah apa karena udah terbiasa sama cuaca galau Groningen atau emang si cuaca emang belum sedingin pas dulu saya dateng*

Agustus 2013: Masih meraba-raba beli makanan apa aja di sini yg cocok, yang halal, dan apa yang bagus buat Runa. Agustus 2014: Mau beli apa? makanan halal, roti, susu, sayur, daging, bumbu asia? Semua udah hapal deh. Tinggal mikir mau belanja ke mana hari ini? Continue reading “A year in Groningen”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Mushola

Sudah lazim ketika kita berpindah ke suatu tempat yang baru, maka kita akan sering membanding-bandingkan kondisi di tempat lama dengan tempat baru. Tentunya kita juga merasa rindu dengan tempat kita dulu. Itulah yang juga saya alami setelah 6 bulan berada di sini. Saya membandingkan semua fasilitas dan keteraturan yang ada di Belanda yang tentunya jauh dengan Indonesia. Saya juga merasa geregetan setiap kali mendengar kabar/membaca berita tentang kondisi politik Indonesia yang carut marut, KPK, polri, Jokowi, Jokowi haters, dan apapun deh. Mengetahui sistem kesehatan Indonesia yang masih suka ga jelas, juga bikin miris. Rasa-rasanya ga pengen sama sekali denger berita-berita seperti itu, bikin kesel dan sedih.

Tapi.. tentunya sebagaimanapun buruknya negeri kita, toh kita tetep cinta, mau sampai manapun kita melangkah jauh, pasti akan kembali pulang. Right or wrong is my country.

Ya sudah, kita tinggalkan dulu berita-berita tanah air yang bikin kesel. Setidaknya masih banyak hal yang bikin saya kangen dengan Indonesia, ya keluarga, ya Bandung, ya kulinernya, dan lain-lain. Tapi ada satu hal juga yang ga bisa terganti di sini, fasilitas ibadah, yang simpel aja mushola. Kalau mesjid sih ada di sini, mesjid Turki dan mesjid Maroko, dan termasuk gampang menjangkaunya. Ini yang lebih simple sih, mushola. Mushola adalah suatu tempat, bisa ruangan atau rumah ,yang diperuntukkan bagi muslim melakukan ibadah shalat, mengaji, dll. Di Indonesia kita bisa menemui mushola di mana-mana, di kampus, di perkampungan, di pusat pertokoan, di mall, terminal, satasiun, bandara, dan tempat-tempat umum lainnya, sehingga kita tidak perlu khawatir untuk berpergian dan akan melaksanakan shalat ketika sedang dalam perjalanan dan ketika beraktivitas, pasti ada tempat untuk shalat.

Berbeda dengan di sini, mushala adalah tempat langka. Kalau mau jalan-jalan ke centrum kita sebisa mungkin mencocokan waktu pergi dan jalan-jalan dengan waktu shalat. Jadi mau jalan siang, ya lebih baik setelah zuhur dan pulang sebelum asar, atau pergi pagi dan pulang sebelum waktu zuhur habis. Ya kalau mepet terpaksa deh kita shalat di jalan, bisa di bus, di kursi cafetaria, atau di toko tempat kita sedang belanja (sambil duduk). Begitu juga kalau di kampus, harus bisa mengatur waktu antara kuliah, istirahat, dan shalat. Ga kaya ketika di ITB semua bisa dilakukan sekaligus di salman (makan dan shalat, sekaligus beristirahat).

Ada mushola di kampus saya, di UMCG, satu-satunya musola di lingkungan UMCG (rumah sakit-univ-pusat penelitian yang luaass bgt). Itupun namanya bukan mushola, tapi stilte room atau silent room. Tempat ini ditujukan bukan hanya untuk shalat tapi juga bisa untuk tempat ibadah agama lain. Bukan hanya untuk muslim, kristen, budha, hindu, apa saja bisa melakukan kegiatan peribadatan di sini.

Stilte Room, UMCG, Musola

Continue reading “Mushola”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, Mommy's Abroad

Seminggu Pertama di Groningen

Ini Monik sebenernya mau nulis rutin dan up to date gitu, tiap ada kejadian baru, pengalaman baru, atau ide baru pengennya langsung ditulis.. Tapi apa daya kadang mood susah ditegakkan dan waktu juga ga mendukung, huu.. Akhirnya semua tulisan jadinya latepost deh, udah basi yak.. Judulnya Seminggu Pertama di Groningen, padahal di sini udah hampir 3 bulan, wkwkwk.. Postingannya udah buluk nih. Tapi gapapalah ya, mumpung masih inget samar-samar.

Oke, Groningen. Kota pelajar, kota sepeda, kota galau (cuacanya moody banget). Saya harus banyak beradaptasi dengan hal-hal baru: Continue reading “Seminggu Pertama di Groningen”