Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

My 1-year Assessment as a PhD

Bismillahirrahimaanirrahim..

Harus banget ini nulis, sebelum saya sibuk (sok banget) dan lupa sama apa yang mau ditulis. Sebab, tulisan yang jujur adalah ketika kita sedang on untuk curhat, mwahaha.

Enggak sih, sebenarnya saya juga kangen nulis pakai bahasa kalbu dan bahasa Indonesia (sok banget banyakan nulis pakai bahasa enggres ya kamu Mon?). Bukannya mau, tapi tuntutan profesi, gemana lagi dong, padahal Enggres aku juga cemen sebenernya.

Jadi bulan Maret ini saya resmi sudah menjalani PhD mom selama satu tahun. Mulai dari yang cuma masuk dua hari, lalu dua setengah hari, tiga hari, sampai tiga setengah hari. Gak usah dibayangin gimana saya bisa menyusun jadwalnya deh, di sela-sela mengurus keluarga dan rumah. Menjelang satu tahun assessment go or no go saya ga berhenti berdoa sama Allah. Ya Allah moga yang ini berlangsung lancar, ga separah assessment 6 bulan saya dulu. Satu lagi saya berharap semoga paper saya yang sedang on process di salah satu jurnal bisa accepted. Supaya paling engga ada nilai plus dalam penilaian nanti. Allah Maha Kuasa, dengan pertolonganNya-lah, tiba-tiba 3 hari sebelum hari assessment, saya menerima email yang menggembirakan:

Paper pertama saya akhirnya accepted di salah satu journal Q1

Saya membacanya berulang-ulang sampai yakin, ini beneran accepted

Terima kasih ya Allah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…..

Ini beneran bukan semata-mata hasil saya. Ada banyak faktor yang membantu saya bisa menyelesaikan semuanya. Support suami dan anak-anak, bantuan kawan-kawan dan kerabat, doa orang tua, dan tentunya dorongan supervisor tercintah saya, Si Ibuk. Kalau bukan karena dia yang meres-meres saya mungkin saya akan santai-santai. Kalau bukan karena dia yang ngoreksi kerjaan saya dengan detail, mungkin juga kerjaan ini ga akan beres.

Tapi bener ya, pelaut yang hebat itu gak lahir di laut yang tenang. Bukannya saya bilang saya pelaut yang hebat ya (emang bukan pelaut sih), tapi setidaknya saya ada di laut yang ombaknya gede bergulung-gulung. Gimana enggak, tiap minggu saya harus menghadapi si ibu di meeting reguler, duduk sama-sama, diskusi, ngebahas kerjaan satu-satu. Tentunya sebelum meeting saya harus nyiapin bahan, saya udah ngerjain apa aja selama seminggu ini? Gak banyak supervisor kayak gitu, yang bener-bener ngeluangin waktu untuk muridnya. Gak banyak juga orang yang tahan kerja sama kaya Si Ibuk, yang segala aspek dia komentari. Tapi saya merasa, dia kayak gitu karena dia profesional sama kerjaannya, passionnya itu dapet banget. Cuma masalahnya, saya tahan banting apa engga kerja sama dia?

Tapi kalimat pertama ketika assessment bersama kedua supervisor saya membuat saya berlega hati: We think you deserve a go, you have showed improvements …..

Saya berusaha memasang wajah senormal dan secool mungkin, padahal dalam hati udah girang teriak Alhamdulillah….

Oiya, Saat-saat assessment juga supervisor juga kudu dikasih feedback lho. Saya ingin bilang dengan jujur bahwa saya tuh sebenarnya agak gak nyaman sama style coaching-nya beliau. Namanya orang Indonesia ya, susah banget ngomong jujur to the point. Akhirnya saya formulasikan uneg-uneg dengan sehalus mungkin:

At first, there were maybe a cultural and personal differences with me and Pxxxx on how to communicate and discuss some issues. Sometimes it was difficult for me to get along with her style of coaching, that is make me discouraged, and that may seem for her I did not show eagerness on doing my research. But I guess it was the process on learning and how to work together. I learn to keep up and follow her pace, and not to take everything personally.

Intinya mah saya teh banyak makan hati sama Ibuk, (baca curcolan saya sebelumnya). But that’s tough love. Style coaching dia yang ala penjajah, mungkin sulit diterima oleh saya yang berhati hellokitty. Ketika baca komen saya di atas, dia tanya, lalu sekarang gimana, apa sudah lebih baik dengan style saya?

Ya saya bilang, udah mendingan Bu, tapi coba Ibu minum kombantrin dulu yang rutin biar agak lemes gitu, ga usah streng-streng amat (candaa..)

Saya bilang, ya udah oke, toh juga ga akan mengubah style coaching kamu? Saya yang harus lebih berjiwa Rambo kalau menghadapi Si Ibu.

Dia bilang, iya saya memang seperti ini, I won’t change.

Karepmulah Buk. Yang pasti saya memang banyak belajar dari dia, dia bener-bener nge-drill saya untuk melakukan hal-hal di luar kemampuan saya. Meski kadang lelah, tapi saya percaya, semoga ini semua ada berkahnya, ada manfaatnya.

Lain kali saya akan kupas style coaching dia itu kayak apa, siapa tahu bisa menginspirasi anda, haha.

Semoga Si Ibu dapat hidayah, aamiin.

Advertisements
Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

A Roller-Coaster Relationship

Tiap hari Kamis, saya pasti gelisah dan deg-degan. Apa pasal, tiap kamis ada agenda merah bertengger di kalender saya: meeting pekanan dengan Ibuk supervisor. Dulu ketika saya masih memproses proposal S3 saya dan lanjut dengan proyek pendahuluan, saya juga sudah sering bertemu beliau secara rutin. Tapi tidak ada hal yang perlu saya cemaskan. Beliau masih manusia biasa, tidak ada tanda-tanda ia punya tanduk di kepalanya atau taring sepanjang galah yang muncul di bulan purnama. Saya juga tidak merasa kalau dia adalah tipe supervisor yang killer. Pokoknya everything went well-lah.

Tapi sudah lebih dari separuh tahun 2018 ini saya berinteraksi intens dengannya, tanduknya mulai keluar kepribadian aslinya baru terasa. Dulu ketika saya mencoba “melamar” beliau sebagai supervisor, feeling saya merasa bahwa dia tidak seperti Dutch pada umumnya, yang dingin dan to the point. Saya pikir supervisor S2 saya sudah cukup membuat saya kapok waktu itu. Gak lagi deh saya bergaul dengan tipe Dutch yang ngomongnya kayak Feni Rose (setajam silet). Tapi ternyata … setelah saya renungi, “silet” supervisor master saya dulu ga ada apa-apanya. Kalau boleh saya bandingkan, saya mau balik lagi dah sama supervisor master saya, daripada sama si Ibuk ini. Tapi roti sudah menjadi basi (berhubung Dutch makannya roti bukan nasi), we can’t turn back the time.

Semakin banyak bergaul dengannya, baru kelihatan ternyata si Ibuk ini kepribadiannya agak bipolar, haha.. Maksudnya kadang di satu meeting dia baik gitu ya, kayak jelmaan Dewi Kwam Im, senyum-senyum aja. Di meeting lain dia kayak streng banget mukanya kayak lagi sembelit. Suatu kali dia pernah memuji kerjaan saya, bahkan bertepuk tangan (untung gak sampai tepuk pramuka). Suatu kali lainnya saya pernah disayat-sayat dengan sembilu dengan perkataannya. Duh…

Lalu ada meeting meeting evaluasi 6 bulanan saya sebagai PhD. Di sanalah batu loncatan di mana tanduk si Ibuk mulai terlihat jelas dan berkilat. Saya cukup shock. Sebab, semua kawan saya yang PhD bilang, evaluasi 6 bulanan itu mah cuma ngobrol-ngobrol doang, santai, ga ada apa-apanya. Ternyata hal itu tidak terjadi pada saya. Mungkin banyak hal yang mempengaruhi juga, saat itu si Ibuk agak spanneng karena sibuk urusan ini itu, ditambah jadwal meeting kita mepet sama acara orasi profesor baru di departemen. Jadilah kayak semuanya seperti diburu-buru, dan yang keluar dari mulutnya adalah rentetan peluru. Saya yang hanya berbekal bambu runcing tentu kewalahan mengatasi serangan Ibuk kompeni. Jenderal Soedirman tolong sayaaahh, di sini ada kompeni ngamuk. 

Hal tersebut cukup menyita pikiran saya selama seminggu. Saya cukup kesal dengan hasilnya. Lalu saya pun menulis email penjelasan yang cukup panjang padanya, sedikit komplen dan negosoisasi. Sampai akhirnya dia menjadwalkan evaluasi ulang. Untunglah dia tipe yang mau menerima masukan ya. Dia kayaknya sadar, sepertinya saat itu ia terlalu on fire (mungkin sedikit pms, haha) dan buru-buru. Akhirnya dia melunak dan lebih memberi banyak masukan positif dan jalan keluar. Alhamdulillah. Dia masih punya hati juga.

Tapi setelah hari itu, semua jadi terasa berbeda. Setiap ada meeting pekanan, saya selalu dirundung cemas: Did I make any mistake in my progress? Did I do wrong? Did I miss something to report to her? Beneran gak sehat, pingin nelen obat penenang rasanya.

Kawan-kawan sesama PhD sering menyemangati saya bahwa saya beruntung bisa diasuh di bawah bimbingan si Ibuk, sebab gak semua PhD bisa diskusi intens sama supervisornya, mereka mah bisa nyium bau parfum si supervisor di koridor aja udah seneng banget. Dalam seminggu aja saya bisa ketemu dia dua-tiga kali di meeting yang berbeda-beda, padahal kawan-kawan PhD saya sampai mohon-mohon ke supervisornya buat ketemu, eh saya mah keseringan. Suami pun tak kalah menyemangati. Katanya saya akan sangat bersyukur bertemu si Ibuk sebab banyak orang yang lost di awal PhD-nya karena supervisor terlalu cuek. Lha ini mah “perhatian” banget. Nanti di tahun ke-dua saya akan terbiasa dengan sikapnya dan malah bikin saya makin kuat.

Kawan-kawan saya bilang, bagus banget kerjaan saya dibahas detail sama dia, dikasih banyak masukan, bahkan dikritik habis-habisan. Mereka bilang, mereka pingin banget dikritik sama supervisornya daripada dianggurin. Yaa.. dikritik sih mau tapi caranya gak pakai bumbu boncabe level 10 juga keles.

Mungkin juga sih yaa.. mungkin.. saya yang terlalu banyak ngambil hati dari perkataan dia. Yah, namanya juga orang Asia, orang Indonesia, full of sugar coating talk dan banyak basa-basi. Tiba-tiba dikasih kultur yang beginian, ampun inang … . Salah satu kawan PhD saya (Dutch) yang juga dibimbing si Ibuk juga bilang, dia mah emang gitu … kalau saya udah tahu sih dia mau ngeritik saya di bagian itu dan saya sadar. Dianya selow-selow aja gitu, mungkin karena sesama Dutch, dia gak ambil pusing dengan kritik yang tajam. Mboh juga sih.

Sampai sekarang saya masih merasa skeptis sama si Ibuk. Sekali waktu dia memberikan compliment karena menurutnya yang saya kerjakan sudah baik (meski tetap dibarengi kritik di belakangnya). Tapi saya gak hirau sama pujiannya. Sebab saya takut, kalau di meeting kali ini saya masih selamat nih, tapi who knows di meeting ke depan, saya bisa kena semprot lagi. Menjalani hubungan dengan si Ibuk seperti laiknya naik roller-coaster. Kadang perut dikocok-kocok karena tegang, kadang ada rasa (sedikit) excited di dalamnya, pernah juga terasa datar seperti di awal laju roller-coaster. Tapi saya masih akan menjalani a roller-coaster relationship ini sampai 3.5 tahun ke depan. Pembaca Budiman … Doakan saya yaaaa …

Mommy's Abroad, [GJ] – Groningen’s Journal

Catatan Ramadhan 1439: Mubazir – sebuah Jalan Keluar dari Keraguan

Setiap bertemu hari Senin, pikiran saya sering gelisah, terutama ketika membuka hari. Setiap hari Senin jam 9 pagi, saya memang sudah ada jadwal untuk ke kampus. Setidaknya ada dua jadwal meeting yang harus dihadiri di kampus. Yaa.. gak wajib-harus sih. Tetapi itu sudah jadi agenda rutin di departmen saya, sebagai anak bawang PhD yang baru mulai, sebaiknya saya manut apa kata supervisor. Terkadang di Monday Morning Meeting jam 9 pagi itu dan di GANG meeting jam 11, saya merasa pikiran saya loss aja gitu. Kalimat-kalimat yang berseliweran dalam presentasi dan diskusi bahkan ada yang tidak saya mengerti sama sekali. Saya merutuk, bergumam tidak jelas dalam hati. Hati dan pikiran saya seperti melakukan diskusi sendiri.

Ya Allah, napa saya ada di sini?

Apakah saya tidak salah tempat?

Why do I even hear something I do not understand entirely?

Kenapa saya tidak di rumah saja, nyaman di depan laptop, ngerjain hobi saya, baca sampai sakit mata, ngetik sampai pegel?

Apa yang saya kejar dengan mengambil sekolah lagi? Cukuplah saya mengurus bayi saya-yang makan MPASI aja belum-, sambil sesekali tidur siang bareng? Continue reading “Catatan Ramadhan 1439: Mubazir – sebuah Jalan Keluar dari Keraguan”

Mommy's Abroad

Cerita mengenai Kehamilan di Belanda

It’s 37 weeks already! Alhamdulillah, sampai saat ini saya sehat dan begitu juga janin di dalam perut. Meski selama periode kehamilan ini tentu banyak tantangan, baik fisik maupun mental. Yaah.. namanya juga ibu hamil, keluhannya pasti ada aja. Mulai dari mual dan pusing di trimester pertama, harus menjaga asupan makanan yang bagus dan jangan sampai kecapekan di trimester kedua, sampai tidak nyaman setiap tidur malam karena sesak dan berat, serta beser di trimester ketiga.

Udah lama saya mau berbagi sedikit pengalaman saya hamil selama hampir 9 bulan di Belanda, bagaimana sistem kesehatannya, bagaimana pemeriksaan dengan bidan dan dokter, dan prosedur untuk mempersiapkan kelahiran, biar gak lupa pengalamannya. Tentu banyak cerita yang berbeda, jauh berbeda dengan kehamilan saya yang pertama di Indonesia. Jadi siap-siap ini postingan akan agak panjang.

Mulai dari mental dan kesiapan dari saya dan suami juga sudah beda. Dulu namanya anak pertama, pasti apa-apa khawatir, sedikit-sedikit ingin ke dokter, cek USG, nanya saran ini itu. Kalau sekarang saya cenderung lebih santai, atau jangan-jangan terlalu santai? Heuheu.. tapi tetap ada kekhawatiran sebenarnya, sebab pengalaman saya melahirkan anak pertama dulu cukup traumatis (ibuuu manaa yang lahirannya gampaang emaang?). Saya masih terbayang bagaimana kondisi dulu saya melahirkan Runa. Mungkin itu saat-saat paling terdekat dengan kematian.

Ringkas cerita, kehamilan saya dulu sangat baik, no big problem, mual muntah cuma sedikit, masih bisa beraktivitas kerja seperti biasa bahkan naik KRL dari Bekasi ke Percetakan Negara. Di trimester kedua saya dan suami sempat traveling ke Hongkong, saat saya ada konferensi Farmasi Klinik di sana. Di trimester ketiga kami juga sempat jalan-jalan ke Bali dengan pesawat, waktu itu suami ada meeting tahunan dengan klien kantornya. Saya yang sudah mau resign dari kerjaan ingin ikutan juga dong sekalian pelesir di Bali, membawa-bawa perut saya yang sudah demikian besar. Saya merasa optimis bisa melahirkan dengan normal, plasenta oke, BB bayi normal, ketuban baik, posisi bayi juga sudah di bawah.

Qadarullah, takdir berkata lain, sesiap dan sebagus apapun kondisi sebelumnya ternyata tidak menjamin bahwa saya bisa melewati kontraksi dengan baik. Baru di bukaan ke-4, tiba-tiba tekanan darah saya naik, sampai 190/110. Kepala saya sakit berat, saya muntah, dan pemeriksaan urin menandakan positif protein. Padahal selama kehamilan tekanan darah saya cenderung rendah/normal. Akhirnya saya harus menjalani operasi sesar dengan bius total. Belakangan saya tahu diagnosis dokter saat itu adalah impending eklampsi. Nah, berdasarkan pengalaman tersebut, sejak awal kami sudah memberitahu bidan dan dokter di sini mengenai riwayat tersebut.

Jadi bagaimana prosedur pemeriksaan kehamilan di Belanda?

Continue reading “Cerita mengenai Kehamilan di Belanda”

Groningen's Corner, Mommy's Abroad, Pharmacisthings

Runa Schoolreisje

Hari Kamis (4 Mei) kemarin, sekolah Runa mengadakan schoolreisje (school trip), mungkin kalau di Indo namanya karyawisata kali ya. Kali ini tujuannya ke Wildlands Adventure Zoo Emmen. Semacam kebun binatang yang dilengkapi arena petualangan seru di dalamnya. Mereka pergi dengan bus yang memakan waktu satu jam perjalanan. Di jadwalnya mereka berkumpul di sekolah pukul 8.30, berangkat dengan bus pukul 09.00, dan akan sampai kembali ke sekolah pukul 15.30. 30 menit lebih lambat dari biasanya sekolah berakhir. Semua anak dari grup 1 sampai grup 8 diharapkan ikut. Oiya biayanya gratis.

Beberapa minggu sebelumnya, orang tua dikirimi email mengenai detail schoolreisje ini. Orang tua murid boleh ikut, dengan mendaftar sebelumnya. Di kelas Runa, karena beberapa orang tua bersedia ikut, lalu diundi orang tua siapa yang beruntung ikut. Tapi para orang tua ini ikut bukan untuk menjaga anaknya lho. Tetapi ia diberi tugas untuk mengawasi grup kecil yang akan dibentuk saat jalan-jalan nanti.

Runa sangat excited dari beberapa hari sebelum pergi. Tapi kok sayanya yang deg-degan. Ya iyaa.. ini kan pertama kalinya Runa pergi jalan-jalan jauh tanpa orang tuanya (atau saudara/kerabat dekatnya). Takutnya Runa capek karena mereka pasti akan jalan kaki mengelilingi Zoo Emmen tersebut, padahal kalau jalan-jalan sama kami pasti selalu bawa stroller. Takutnya Runa rewel karena bosan atau ngantuk. Takutnya Runa kedinginan karena cuaca pagi itu mendung dan sedikit gerimis, sudah pertengahan musim semi tapi cuaca tidak berubah membaik. Takutnya Runa lapar selama perjalanan, meskipun saya membekali Runa dengan roti, pisang, biskuit, dan botol minum. Sifatnya emak-emak emang selalu khawatiran. Saya juga bilang sama gurunya, ini pertama kalinya Runa pergi agak jauh dengan rombongan besar, dan bukan familinya. Juf(guru)-nya sih bilang: don’t worry, be happy. Enggak deng, haha.. Kata gurunya gak usah khawatir, nanti anak-anak akan dibagi dalam 4 grup kecil dan ada orang dewasa di dalam grup tersebut yang mengawasi anak-anak tsb. Lagipula dua guru di kelas Runa, Marjolejn dan Doeska juga ikut serta.

Rombongan ke Emmen itu besar juga lho. Di kelas Runa ada sekitar 25 anak, mungkin kelas lain jumlahnya ya kurang lebih 20-25 anak juga. Dikali total ada 26 grup di satu sekolah, jadi ada 600-an anak yang ikut.

Pukul 15.30 kurang lima menit saya sudah menunggu rombongan bus tiba di lapangan sekolah. Saya menunggu dengan cemas di bawah rintik-rintik hujan sore itu. Bus Runa belum tiba juga, sudah ada beberapa bus yang sampai duluan. Sampai akhirnya 5 menit menunggu datang juga bus grup Runa. Runa turun bus sambil memegang tasnya dan bungkus biskuitnya yang sudah habis. Kelihatannya dia capek. Saya langsung memeluk Runa dan bertanya antusias, gimana tadi sepanjang perjalanan, capek gak, lapar gak, makan apa aja, sama siapa aja mainnya. Runa menjawab sambil ogah-ogahan. Capek katanya.

Sampai di rumah, Runa pun mandi air hangat dan makan. Saya kira setelahnya dia akan segera tidur karena capek. Eh ternyata baterainya kayak terisi penuh lagi, haha. Runa malah jadi cerewet menceritakan pengalamannya tadi. Dia bilang tadi naik boat, lihat banyak binatang, juga dikasih makan patat (kentang goreng) jadi bekal roti dan pisangnya gak habis. Saya jadi lega.

Tadinya saya cemas aja, anak 4 tahu lhoo ikutan school trip segalasaya aja dulu trip jauh-jauh pas udah kelas 6 SD kayaknya. Tapi memang anak Belanda ini jadi cepat dewasa karena dianggap mandiri juga sama orang dewasa. Mereka dianggap sudah bisa mengatur dirinya sendiri dan belajar bertanggung jawab. Selama trip mereka harus menggendong tasnya sendiri (yang isinya bekal dan air minum). Kalau mereka mau pipis dan pup ya bilang sama gurunya (meski di dalam tasnya juga anak-anak kecil ini diminta untuk membawa baju salin jika kotor). Mereka juga belajar untuk mendengarkan dan mengikuti instruksi orang dewasa dengan baik.

Dua hari setelahnya saya sudah bisa mengakses foto-foto saat schoolreisje-nya. Saya jadi tahu, oh ini yang dimaksud Runa naik boat. Oh ini kegiatan mereka selama di sana. Salut, Runa memang terlihat (belajar) lebih mandiri

Bersama teman-teman sekelasnya dan dua orang jufnya. Mereka dipakaikan rompi khusus, biar gampang dikenali kali ya, gak ilang-ilang.
Kecapekan di Bus, tidur di perjalanan pulang
Mommy's Abroad, Pharmacisthings, [GJ] – Groningen’s Journal

Bapak-Bapak yang Macho itu adalah…

Runa diantar Ayah ke Sekolah

Vandaag op school
Runa is blij als elke keer Ayah te gaan met haar naar school.
Zij zwaaien in het raam
*pardon my Dutch, msh belajar iki
.
.
Hari ini di sekolah
Runa seneng banget kalau setiap Ayahnya nganter ke sekolah.
Runa selalu minta Ayahnya dadah-dadah di jendela setelah nganter.

Saya juga senang kalau tiap ke sekolah Runa sering melihat bapak-bapak yang mengantar anaknya sekolah, ada yang menemani sampai depan pintu kelas, ada yang ikut masuk dulu ke kelas, membaca buku dulu bersama sampai gurunya datang, atau ada juga yang melambaikan tangan dari depan kelas/jendela.

Tidak jarang juga ada bapak-bapak yang menjemput anaknya ketika pulang sekolah, sambil mendorong stroller berisi anaknya yang lebih kecil. Bapak-bapak itu kelihatan sangat warm dan manly. Meski ada yang penampilannya bertato, terlihat sangar dengan kepala botak, beranting, atau ada juga sih yang necis memakai jas atau jaket keren, dengan sepatu pantofel.

Itu juga tidak hanya dilihat di sekolah Runa saja lho. Di Belanda, sepertinya bapak-bapak membawa anak (seorang diri, tanpa istrinya) adalah pemandangan yang biasa. Mereka terlihat di posyandu, mengantar anaknya imunisasi atau kontrol rutin. Mereka juga terlihat di pusat perbelanjaan, mendorong stroller dan menggandeng anaknya. Mereka juga terlihat di kereta atau bus. Ke mana ibunya? Saya juga tidak tahu. Mungkin mereka sedang berbagi tugas saja. Mereka tidak nampak risih dan kikuk. Padahal sepertinya cukup repot juga melihat bapak-bapak dengan anak balita/batita. Mereka malah terlihat makin macho.

Saya salut sama bapak-bapak itu. Santai saja mereka menjalani perannya. Memang tidak ada yang salah juga. Tidak ada yang menganggap hal itu tabu juga. Mengurus anak kan bukan cuma tugas istri toh? Seperti paradigma yang banyak dianut masyarakat di Indonesia. Bahwa urusan anak-rumah-dapur adalah tugas istri. Bapak-bapak ya tugasnya cari duit di luar rumah. Jadilah beban seorang ibu-ibu Indonesia terasa beratnya. Kalau pun suaminya mau berbagi tugas mengurus anak, nanti judgment dari lingkungan luar yang membuat suami (dan tentu istrinya) jadi merasa di posisi yang salah. Masa suaminya disuruh gantiin popok anaknya? Kok suaminya sih yang belanja ke pasar? Itu ibunya ke mana kok yang ngasuh anak-anaknya malah bapaknya? dst.

Saya merasa bersyukur. Kalau tidak pernah menjalani kehidupan di Belanda, mungkin suami tidak akan banyak belajar untuk ikut berperan dalam mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga. Di sini, tidak ada pembantu rumah tangga, semua harus dikerjakan sendiri. Mau tak mau kerja tim sangat dibutuhkan untuk bisa seimbang.

Dulu waktu saya maasih sibuk kuliah dan suami kerja. Kami selalu berbagi tugas beres-beres rumah, masak, dan mengurus Runa. Saat kuliah saya sudah selesai, tidak ada yang berubah. Walaupun saya lebih banyak di rumah, tetapi bukan berarti rumah adalah tugas saya sepenuhnya, bukan berarti mengurus anak hanya menjadi urusan saya. Suami tetap berperan di dalamnya, mengantar jemput Runa, beres-beres rumah, kadang belanja. Kalau “hanya” kerja dan ongkang-0ngkang kaki di rumah, malu dong sama bapak-bapak tatoan tadi, yang lebih luwes mengurus anak. Nanti jadinya machonya berkurang deh.

Lomba, Mommy's Abroad

Akhirnya selesai! Tapi…

Alhamdulillah Oktober 2016 lalu akhirnya saya bisa menyelesaikan studi master saya di University of Groningen. Syukur tidak ada habisnya perjuangan selama dua tahun menempuh perkuliahan, research, dan tesis akhirnya berakhir juga.

Eh, tapi benarkah berakhir begitu saja?

Bukankah hidup itu adalah perjalanan menempuh tujuan yang tidak ada habisnya? Tentu akan berakhir di ujung usia kita. Manusia akan “hidup” jika memiliki tujuan, apapun itu. Selama masih diberi umur oleh Allah, manusia akan selalu berusaha untuk menempuh hari-harinya. Hingga suatu saat akan terasa hasil dari yang diusahakannya.

Jika saya kilas balik dua tahun kemarin. Bisa dibilang itu adalah dua tahun yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Banyak tantangan, ada kesulitan, ada jatuh bangun. Tapi Alhamdulillah banyak juga senyum bahagia di sana.

Menjadi Student Mom

Continue reading “Akhirnya selesai! Tapi…”