Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja

Pesantren Kilat Venuslaan

#Latepost ini tuh. Tapi sayang kalau gak dituliskan. Siapa tahu bisa jadi inspirasi para orang tua muslim yang tinggal di luar negeri.

Berangkat dari kegelisahan saat Ramadan di rantau, saya menyusun agenda kegiatan khusus untuk anak-anak. Semacam pesantren klat (sanlat) lah. Inginnya ya menampung semua anak Pengajian Anak DeGromiest, dari yang usia 4 tahun ke atas (seusia Senja) sampai yang usia 8 tahun ke atas (seusia Runa). Inginnya lagi kegiatannya full seminggu. Tapi apa daya energi dan waktu terbatas untuk bikin semua agenda. Selama Ramadan tetap harus kerja, anak-anak juga masih sekolah biasa. Jadinya bikin pesantren sesuai kapasitas sendiri.

Target anak: Anak usia di atas 8 tahun, yang sudah bisa mandiri, karena agendanya menginap. Kalau anak-anak usia 4-5 mungkin masih agak insecure kalau dilepas menginap gak ada ortunya. Di Groningen, kebetulan anak yang seumuran Runa (dan perempuan) ada dua orang, Khaida dan Lilan. Saya pun menghubungi mamanya, mengabarkan kalau akan ada Sanlat Venuslaan. Khaida dan Lilan bisa ikut serta, gratis dong. Rencana saya disambut antusias oleh ortu keduanya. Saya pun jadi semakin serius menyusun agenda beneran dong.

Continue reading “Pesantren Kilat Venuslaan”
Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

Idul Fitri 1443 H di Groningen

Lebaran sudah berlalu hampir sebulan, Syawal sudah mau habis, tapi saya baru sempat bikin tulisan mengenai Idul Fitri tahun ini sekarang. Telat gak apa-apa ya. Sayang kalau juga gak ditulis, bisa jadi kenang-kenangan selama merantau di Belanda. Ramadan dan Idul Fitri akan selalu spesial di hati.

Jadi apa saja yang disiapkan untuk menyambut Idul Fitri? dan yang dikerjakan saat lebaran?

1. Membuat kue kering lebaran

Membuat kue lebaran menjadi tradisi saya bersama mama dan kakak setiap menyambut lebaran. Dulu kan belum ada atau jarang ya yang jual kue kering. Kalau ada pun mahal. Jadi kami sering bikin kuker sendiri. Menunya hampir sama tiap tahun: nastar, putri salju, semprit, kue kacang bertabur gula palem, dan kastengels. Saya dan kakak bagian ngerecokin bantuin Mama. Kadang Mama suka ngomel kalau hasil yang saya dan kakak kerjakan tidak sesuai instruksi Mama, misalnya kuenya bentuknya mencong, tidak seragam, nyomotin adonan, dll. Dulu saya suka kesel, yaelah Mama, gitu aja ngomel. Sekarang ketika punya anak dan udah bikin kue kering sendiri baru sadar. Bikin kue kering itu capek, kalau hasilnya gak sesuai, pasti gondok. Apalagi bahan-bahan kue kering kan mahal ya (Di Indonesia, dulu eman-eman bahan kalau bikin kue bahan premimum). Kalau di sini Alhamdulillah bahan-bahan kue termasuk murah. Jadi begitu anak-anak campur tangan, dan hasilnya sesuai karya mereka, ya udah gak apa. Saya gak ngomel deh, yang penting anak-anak happy. Kan ini untuk konsumsi pribadi aja.

Continue reading “Idul Fitri 1443 H di Groningen”
Catatan Hati, Mommy's Abroad, School stuff

Suara hati 4 tahun ini

Masya Allah ya Ramadan itu, berkahnya luar biasa. Baik yang terasa langsung ataupun tidak. Jadi saya mau curcol dikit nih tentang kejadian yang menurut saya “kok bisa ya?”, yang Masya Allah skenario Allah gak bisa ditebak.

Mungkin yang dulu pernah baca curcolan saya di masa-masa awal PhD, atau yang baca buku The Power of PhD Mama tahu bagaimana struggle-nya saya saat itu. Gak semuanya tentu saya ceritakan. Dan selama tahun-tahun setelahnya, sampai tahun terakhir saya hampir selesai PhD ini (aamiin), Alhamdulillah semuanya baik-baik. Tidak ada drama lebay banget. Kalau rasa capek, frustasi, beban, mah biasa, tapi itu turun naik. Hubungan saya sama si Ibuk pun stabil, gak kayak rollercoaster lagi. Bahkan dia sangat suportif.

Tapi ternyata mungkin hal yang saya pendam dulu kala dan gak sempat tersampaikan itu ada momennya sendiri untuk terkuak. Suara itu menguar bebasnya di udara, tanpa ada percakapan antara saya dan si Ibuk. Tapi dengan perantara, di waktu yang baik.

Continue reading “Suara hati 4 tahun ini”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja, Mommy's Abroad

Ramadan dan Runa tahun ini

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Masih ada kesempatan untuk mengumpulkan bekal-bekal pahala yang bertaburan. Masih ada kesempatan untuk memohon ampun untuk dosa-dosa. Padahal dosa selalu nambah aja tiap tahun.

Ramadan ini dimulai dengan suasana mellow. Ya mellow cuacanya (yang sering hujan angin), ya mellow juga perasannya. Ada perasaan, ya Allah pengen saya tu Ramadan lagi di Indonesia, di Bandung, deket keluarga. Udah 7 tahun ya Ramadan di rantau, ternyata ada rasa sedih-sedihnya kerasa sekarang.

Juga tantangan muncul, sebab Runa sudah semakin besar, udah 9 tahun. Sudah harus semakin mengerti Islam, iman, ibadah-ibadah. Bukan maksudnya ngerti gimana banget, tapi ya, terbiasa, dan tahu bahwa ini adalah agama yang jadi pegangan hidup kita sampai mati, yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Terus gimana menerapkannya value-value itu pada Runa? Gak gampang, asli. Dulu saya merasa, saya belajar memahami Islam seperti let it flow, semuanya sudah ada, semuanya serba mudah. Itu gak berlaku untuk Runa. Juga untuk saya sebagai orang tua.

Continue reading “Ramadan dan Runa tahun ini”
Being Indonesian in the Netherlands

Di Balik Perang Ukraina Rusia

“Bun, boleh gak Runa minta 2 euro untuk nyumbang ke sekolah untuk bantuan ke Ukraina?” Tanya Runa minggu lalu.

“Oiya minggu sebelumnya kan Runa udah kasih 5 euro ya? Juga Runa sama Lola udah ngumpulin botol-botol bekas untuk ditukarkan dengan uang ke supermarket.”

Sejak serangan Rusia ke Ukraina 24 Februari lalu, Belanda memang banyak menggalang dana bantuan untuk para refugee Ukraina, melalui organisasi sosial Giro555. Penggalangan ini juga ditampung oleh sekolah. Kayak ada semacam ‘kencleng’ gitu di tiap kelas. Luar biasa memang, fund raising ini mencapai 100 juta euro dalam dua pekan saja. Mereka juga bisa menukarkan botol-botol plastik bekas minuman ke supermarket untuk ditukarkan dengan sejumlah uang.

“Iya, Runa udah nyumbang, tapi teman-teman yang lain banyak yang masih nyumbang. Lola juga ngasih 20 euro dari orang tuanya.”

Sebentar, sebentar. Harus diluruskan dulu ni.

Continue reading “Di Balik Perang Ukraina Rusia”
Being Indonesian in the Netherlands

Ramadan, will be tough?

Oh yes, next week is Ramadan. It will be tough for you

It will be hard to not eating and drinking for a whole day

I have respect for a person who is doing Ramadan, it may be challenging.

Itu kata beberapa teman, tetangga, kolega saya yang orang Belanda/ non muslim di sini ketika ngetahui bahwa kami akan melakukan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Yaa.. saya sebenarnya mau bilang, kalau puasa itu gak berat, gak tough seperti yang mereka bayangkan. Bahkan Ramadan itu bulan yang sangat istimewa dalam satu tahun ini. Di mana banyak sekali rahmat dan pahala yang dilipatkgandakan, serta dosa-dosa diampuni. Saat di mana setan-setan dibelenggu, pintu neraka ditutup, dan pintu surga dibuka. Ramadan juga bulan saat diturunkan Al Qur’an. Bahkan nikmat yang Allah janjikan pada orang berpuasa ada dua, nikmat saat berbuka, dan nikmat saat berjumpa dengan Allah di Hari Akhir kelak.

Tapi mau ngomong panjang lebar gitu mah buat orang yang gak percaya agama, pasti gak kesampean. Manalagi aku gak pinter menjelaskan. Intinya Ramadan itu membahagiakan. Bahagia yang tidak bisa mereka mengerti. Gak papalah … Semoga suatu hari nanti mereka akan mendapatkan jawaban dari keheranan mereka tentang Ramadan dan tentang sulitnya berpuasa seharian.

Ya sulit terlihatnya. Tapi ketika Ramadan sampai, beneran Masya Allah, seperti Allah itu menguatkan dan memampukan kita untuk bisa berpuasa sebulan.

Dan memang kebahagiaan berbuka itu luar biasa nikmatnya. Meski baru mereguk teh manis hangat dan kurma saja. Membayangkan orang-orang yang mungkin sering menahan lapar karena memang gak ada makanan, membuat kita jadi manusia yang lebih peka dan berempati. Sedangkan kita menahan lapar seharian karena puasa, Alhamdulillah masih bisa berbuka dengan hidangan yang macam-macam.

Masya Allah, berkahilah puasa dan ibadah kami di bulan Ramadan, aamiin.

Groningen's Corner

Surat dari Oma di Depan Jendela

Masih ingat cerita Oma di depan jendela? (Baca ini kalau belum https://monikaoktora.com/2021/03/09/sadari-hal-kecil-yang-bisa-berarti-besar/)

Kami masih secara konsisten ngedadahin Oma ketika lewat depan rumahnya. Begitupun si Oma. Kalau pagi itu gak semangat, rasanya habis lihat senyum lebar Oma, ada rasa hangat nyelip di hati, dan saya bergumam, bisa, bisa, hari ini bisa dilalui.

Pekan lalu adalah hari terakhir Senja ke sekolah daycare. Senja udah 4 tahun, artinya Senja akan masuk basisschool. Senja masuk sekolah yang sama dengan Runa. Arah sekolahnya berbeda dengan rute yang biasa kita lewati kalau ke sekolah daycare. Artinya setiap pagi, kami tidak akan melewati rumah si Oma lagi. Ada rasa sedikit janggal eeeh iya ya gak akan dadah-dadah lagi sama Oma tiap pagi.

Nah hari terakhir Senja ke sekolah, Senja bawa traktatie (traktiran) berupa bolu kukus cantik warna-warni buatan Mbak Septi (bukan akulaaah… mana sempat aku tuu bebikinan), dan bawa pembatas buku yang dibuat sendiri.

Terus kami sengaja mampir ke rumah Oma untuk ngasih bolu kukus dan pembatas bukunya juga. Omanya seneng banget. Dan dia bilang kalo sedih juga gak bisa lihat kamu lagi dadah-dadah di depan jendela, tapi seneng juga karena Senja sudah besar dan ke bassisschool. Kalau lewat-lewat lagi pokonya jangan lupa dadah ya..

Continue reading “Surat dari Oma di Depan Jendela”
Catatan Hati, Mommy's Abroad, School stuff

Inferior

Tiga tahun lalu, saya memulai perjalanan PhD ini dengan rasa inferior parah. Merasa salah tempat, gak bisa membawa diri dan membaur dalam kelompok, takut salah, takut dianggap gak kompeten. Bahasa Inggris belepotan, bahasa Belanda apa lagi. Kalau mau ngejawab pake bahasa Inggris, untuk percakapan sederhana sekalipun, saya suka takut salah. Apalagi untuk obrolan saintifik, untuk ngejawab pertanyaan supervisor pas diskusi tangan saya aja sampe dingin. Pikiran saya mengulang-ulang kalimat apa yang mau saya lontarkan. Sambil pikiran lain berbicara: gimana kalau balelol, salah grammar, atau orang gak ngerti apa yang saya omongin. Padahal sebenarnya bahasa Inggris saya gak parah amat kok. Dulu IELTS sekali tes langsung lulus band 7, kelas bahasa Inggris zaman kuliah pun masuk ke kelas A (kelas writing), yang artinya cukup di atas rata-rata. Cuma tuh emang bodohnya saya, rasa pede saya aja yang emang tiarap. Rasa inferior yang menggerogoti.

Tak ada hari tanpa beban bergelayut di pundak dan di hati. Saya selalu merasa berbeda dengan yang lain, dan saya takut dijudge karenanya.

Tahun berlalu, eh saya masih di sini. Qadarullah sebenarnya semuanya gak seburuk yang saya pikirkan. Alhamdulillah Allah sayang, dan terus membuka mata saya. Bahwa rasa inferior itu harus dibuang jauh-jauh. Hei, seorang ibu juga punya aktualisasi diri. Student Indonesia juga gak kalah smartnya dengan orang Eropa lho, biasanya malah lebih punya daya juang tinggi. Cuma memang kekurangan kita sebagai orang Indonesia itu (kebanyakan ya), suka merasa rendah diri, dan menganggap kalau bule-bule itu tuh wah banget, pinter, superior, dll. Padahal asli enggak, bule-bule juga sama ae kayak kita, kadang lebih parah, udah mah gak tahu, tapi suka sok tahu, haha.. tapi mereka pede aja gitu. Kalau salah ya ngaku aja biasa, minta maaf, dan gak ada rasa minder karena malu.

Continue reading “Inferior”
Being Indonesian in the Netherlands, Catatan Hati, [GJ] – Groningen’s Journal

Berserah pada Jalan Allah

Bagaimana Kabar Ramadan?

Ramadan sudah berlalu dua pertiga jalan, tinggal sepertiga lagi akan kita tempuh Insya Allah. Lalu bagaimana Ramadanmu? Ada rasa mellow juga mengingat Ramadan ini sudah mau habis, tapi rasanya belum banyak yang dilakukan dengan maksimal. Masih ada missed-nya, masih ada kekurangannya, masih belum kenceng doanya. Ya Allah, manusia memang tempatnya salah dan penuh nafsu. Tapi semoga momentum Ramadan ini menjadi momen kita bisa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Saya percaya, pasti ada hal-hal baik yang “nyangkut” dari Ramadan kali ini untuk dibawa jalan ke depan. Meski tertatih, tapi kita tahu kita ada di jalan yang benar, Insya Allah di jalan yang diridoi Allah, aamiin.

Manusia memang lemah. Bahkan untuk mengurus hidupnya sendiri manusia itu tidak mampu, Allahlah yang membimbing dan menunjukkan jalan. Seperti nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah RA untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang. Sebuah nasihat indah yang membuat saya tertegun. Terkadang diri ini merasa sombong, merasa tahu mau melakukan apa-apa, merasa mengerti ini itu, padahal tak ada satupun hal yang kita mampu dan ketahui tanpa bimbingan Allah SWT.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Artinya: Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. (HR Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim).

Continue reading “Berserah pada Jalan Allah”
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Ramadan Bercerita bersama DeGromiest

Marhaban Yaa Ramadan..

Alhamdulillah bisa bertemu lagi dengan Ramadan tahun ini. Meski dalam suasana pandemi, tetapi Ramadan tidak berkurang kesyahduannya. Masih berasa sepi juga (tapi Belanda emang sepi sih mau bulan apa juga, haha.. kecuali pas summer kali orang-orang baru kelihatan banyak keluar).

Well, semuanya harus tetap disyukuri. Walaupun kangen berat sama kampung halaman, suasana di Indonesia, panasnya matahari di Bandung, bau kesang, debu-debu intan yang bertebaran di jalanan Bandung, pemandangan dengan banyak manusia familiar, suara-suara dengan bahasa yang akrab di telinga, aaah… sudahlah. Masih jadi angan-angan saja. eniwei tentang bahasa, lucunya sekarang saya sudah bisa menangkap percakapan orang-orang Londo. Kalau dulu ada orang ngobrol, pasti saya gak tahu mereka ngomong apa, tapi sekarang kok bisa ya otomatis paham aja gitu (efek udah kelamaan keles di Londo).

Cukup deh capruknya. Intinya saya ingin berbagi program dari DeGromiest (Himpunan Keluarga Muslim Indonesia di Groningen. Masih ya karena pandemi dan lockdown, gak ada deh kumpul-kumpul, pengajian, apalagi buka puasa bareng dan tarawih ke masjid, kan masih ada pemberlakuan jam malam (mulai pukul 22.00), sedangkan buka puasa aja sekitar pukul 21.00 an, heu.

Nah, jadi untuk tetap semangat di bulan Ramadan, Insya Allah dari tim DeGromiest mengadakan program “DeGromiest Ramadan Bercerita”. Insya allah setiap hari akan ditayangkan kultum bercerita tentang kisah hidup Rasulullah, para sahabat, dan keluarga beliau, ataupun kisah teladan di dalam Al-Qur’an. Kisah-kisah ini dibawakan oleh teman teman dari DeGromiest dengan semangat berbagi ilmu. Insya Allah video kultum itu akan tayang pada pukul 16.00 CEST / 21.00 WIB .

Continue reading “Ramadan Bercerita bersama DeGromiest”