Journey, Just Learning

Penantian

Hari Kamis. Pagi itu saya terbangun lebih cepat, sebab hari itu banyak yang harus saya kerjakan. Saya pikir jika saya bangun lebih pagi, saya bisa mencicil pekerjaan sehingga hari itu tidak akan terlalu berat terasa. Rasanya saya ingin hari itu cepat-cepat berlalu, paling tidak jika saat salat zuhur sudah tiba, artinya setengah dari pekerjaan saya sudah selesai. Saya hanya tinggal menanti sore hari dengan lebih santai. Continue reading “Penantian”

Advertisements
Journey, Just Learning

(Lagi-lagi) Resolusi 2018

Dih bosen gak denger kata resolusi? Mainstream abis. Semua pasti masih berkutat dengan resolusi awal tahun ini itu deh. Daku juga sih. Tapi memang harus diomongin sih mau gak mau. Kenapa? Ya kenapa tidak?

Walaupun targetan dari resolusi itu kadang di awang-awang, maksudnya ada yang kebayang ada yang enggak. Tapi begitu kita sudah menuliskannya, artinya kita sudah (paling tidak) berani merencanakannya.

Tahun lalu, saya tidak menuliskan resolusi secara detail, saya cuma nulis berupa poin singkat: 1. Saya ingin menerbitkan buku, 2. Saya ingin lanjut PhD, 3. dst… ada beberapa poin singkat yang saya tuliskan. Bahkan saya hampir gak ingat saya pernah menuliskannya. Di sepanjang tahun 2017 kemarin, resolusi singkat tersebut hanya teronggok di halaman sebuah buku tulis (yang jarang saya buka). Ketika saya beres-beres buku, saya baru ingat pernah nulis seperti itu. Secara sadar tidak sadar, eh dari 5 poin yang saya tuliskan 3 poin ketembak, Alhamdulillah.

Mungkin poin singkat itu secara tidak langsung tertanam di pikiran bawah sadar saya. Meski saya perjalanan mencapainya terkadang lambat seperti jalannya siput dan kadang berkabut seperti pemandangan Groningen di subuh hari, tapi Qadarullah ada yang bisa tercapai.

Tahun ini, yah setidaknya harus lebih baik. Tentunya bukan hanya targetan duniawi, tapi juga untuk targetan sebagai bekal di kampung akhirat kelak. Kadang kalau saya memikirkan resolusi kebanyakan kok rasanya duniawi amat sih ya.. Tapi wallahu’alam bisshawab, saya berusaha meniatkan apa-apa yang mungkin tampak sebagai perhiasan dunia, sebagai bagian dari bekal akhirat kelak. Mangkanya apa-apa kembalikan pada niat dulu, Mon. Reminder pribadi saya ini mah.

Resolusi itu harus dituliskan

Akhir kata, mungkin gak nyambung dari tulisan mengenai resolusi ini, tapi masih berhubungan dengan kenikmatan dunia dan akhirat. Saya cuma ingin menuliskan sesuatu yang saya ingat dari ceramah Ust. Adi Hidayat. Kadang kita yang hidup Alhamdulillah serba cukup ini memandang saudara-saudara kita di Palestina dan sekitarnya, merasa miris dan kasihan. Anak masih kecil-kecil sudah syahid ditembaki zionis, penduduk di sana disiksa dan dibombardir peluru dan bom. Ya Allah kasihan. Kata ust. Adi Hidayat, kira-kira begini: “Kasihan? Buat apa? Mungkin Anda yang kasihan hidup di dunia bermewah-mewah, di akhirat belum tentu mendapat kenikmatan. Anak-Anak Palestina itu masih kecil sudah hafidz, diri mereka tidak pernah tersentuh hal-hal haram dan makruh. Allah sayang sama mereka, sehingga mereka cepat-cepat dipanggil pulang. Buat apa di dunia, pulang saja. Lebih nikmat di alam kubur. Kita? Belum tentu bisa seperti itu. Masya Allah.

Selamat berresolusi! Semoga kita menjadi insan yang senantiasa disayangi Allah, aamiin.

Just Learning

Testimoni Buku – Anak Rantau – A.Fuadi

Anak Rantau karya A.Fuadi ini jadi salah satu buku favorit saya sejauh ini, selain Ayah karya Andrea Hirata. Menurut saya ini adalah buku terbaik @afuadi di antara semua bukunya yang pernah saya baca. Seperti candu, sekali membuka halamannya, saya tidak bisa menutupnya sampai memang saya harus berhenti dulu karena hal-hal yang tidak bisa ditunda.

Buku ini sangat lengkap dari semua sisi, kekeluargaan, persahabatan, petualangan, keberanian, konflik yang terasa nyata meski novel ini fiktif, ditambah unsur budaya Minang yang kuat. Saya selalu suka novel-novel dengan unsur daerah yang kental. Konon sih A.Fuadi sampai melakukan riset yang mendalam untuk novel ini, sampai mewawancarai ketua adat dan para perantau.

Saya kira awalnya Anak Rantau berkisah mengenai kisah perjuangan seseorang di tanah nun jauh dari kampungnya, ternyata sebaliknya. Kisah ini mengenai seorang anak yang kembali ke kampungnya, di pedalaman Sumatera Barat. Meski saya tidak pernah menetap di Sumatera Barat, hanya sesekali pulang saat liburan saja, tapi gambaran kampuang di buku ini terasa dekat. Menariknya di bagian akhir buku bahkan ada gambaran peta Kampung Tanjung Durian, yang menjadi setting cerita ini.

Sebagai seorang dengan darah Minang yang kuat, saya membacanya dengan antusias. Bagaimana adat istiadat Minang, pergaulan di kampung, kehidupan anak surau, istilah-istilah bahasa Minang yang kental, sampai filosofi “Alam Takambang jadi Guru” yang diulang-ulang.

Recommended untuk dibaca oleh anak usia sekolah, abg, maupun orang tua. Buku ini sangat kaya dan renyah, tidak menyesal saya menyelipkan buku ini di antara barang bawaan saya di koper saat pulang lagi ke Belanda.

Jadi ingat saya juga sedang merantau di tanah orang. Sejatinya kita semua adalah perantau, di bumi Allah. Yang akan kembali ke tanah rantau abadi di akhirat kelak.

Anak Rantau – A.Fuadi
Just Learning

Kisah Awal Seorang Jenius

Jenius, visioner, pekerja keras, luar biasa, extraordinary!

Itu sederet komentar saya yang keluar sepanjang saya membaca buku mengenai kisah masa muda Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang dikenal dengan nama Rudy di masa mudanya.

Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner

Selama ini saya hanya mengenal sosok Pak Habibie sebagai orang yang jenius, titik. Dalam buku dan film Ainun dan Habibie, lagi-lagi sosok yang tercipta adalah seorang jenius, di samping keromantisan kisah cinta mereka berdua. Mungkin saya memang kurang gaul mengenai perjalanan hidup beliau. Yang saya tahu beliau bersekolah sampai doktoral di Jerman, orang Indoneisa pertama mendesain pesawat di IPTN, serta presiden ketiga RI. Ternyata beliau lebih dari itu.

Buku berjudul Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner, telah membuka mata saya mengenai perjalanan hidup Pak Habibie. Sahabat saya yang telah berbaik hati meminjamkan bukunya. Saya bilang pada sahabat saya, saya lagi ingin membaca sesuatu yang ringan tetapi memotivasi. Ia pun memilihkan buku tersebut. Pilihannya tidak salah, kisah masa muda Rudy ini enak dibaca dan begitu menginspirasi. Meski saya menamatkan buku tersebut di sela-sela kegiatan liburan travelling saya, tetapi saya tidak bisa berhenti meletakkan buku tersebut, sampai saya merasa pusing membaca.

Rudy memang seseorang yang diberi kelebihan oleh Allah dengan kepintarannya yang sudah menonjol sejak kecil. Hingga sampai usia sekolah, kecerdasan Rudy semakin terlihat. Bahkan Mami, panggilan ibu Rudy, sampai bela-belain menyekolahkan Rudy ke Jakarta, ke Bandung, hingga ke Jerman. Keluarga Rudy memang cukup berada memiliki latar belakang pendidikan yang baik. ia beruntung bisa mengecap pendidikan Belanda ketika masih kecil. Saya juga baru tahu dari buku ini bahwa Pak Habibie memang fasih berbahasa Belanda sejak kecil, selain karena ia bersekolah di sekolah Belanda, juga karena bahasa Belanda adalah bahasa yang populer digunakan di Parepare (kota Parepare menjadi persinggahan bangsa asing, termasuk Belanda).

Yang membedakan Rudy dengan para jenius lainnya adalah, idealismenya untuk Indonesia. Orang jenius mungkin banyak, tetapi yang memiliki cita-cita dan optimisme besar untuk Indonesia mungkin hanya Rudy.

Ia bersekolah jauh-jauh ke Jerman demi memikirkan nasib bangsanya. Ia memiliki cita-cita untuk membangun Indonesia dengan pesawat terbangnya. Diceritakan pula selama kuliah di Aachen, Jerman, Rudy tidak hanya serius belajar, tetapi ia juga aktif di perhimpunan mahasiswa Aachen dan Jerman Barat. Ia bahkan mengadakan Seminar Pembangunan yang isinya mengonsep masa depan bangsa Indonesia, diikuti oleh seluruh PPI cabang kota di Eropa. Ada ceramah yang diisi dari pembesar Indonesia, termasuk Moh. Hatta di dalamnya. Kemudian setiap PPI cabang kota saling berdiskusi dan bertukar pikiran, mengoordinasikan kebutuhan pembangunan Indonesia di bidang industri, sesuai bidang studi masing-masing. Berat euy bahasannya. Langkah awal ini yang kemudian memandu Rudy untuk selalu menyimpan cita-cita besarnya untuk Indonesia.

Kalau direfleksikan dengan kondisi sekarang, rasanya jauh sekali. Di mana para pemuda Indonesia di luar negeri saat itu begitu idealis demi bangsa. Saya jadi berkaca pada diri sendiri, wah boro-boro memikirkan pembangunan Indonesia berkelanjutan. Kadang malah rasanya pesimis sekali dengan negara sendiri. Meski saya tahu hubungan saya dengan Indonesia ini seperti sebel-sebel-rindu. Sejauh apapun saya melangkah, pasti saya menengok ke tanah air saya, membayangkan apa yang bisa saya lakukan untuk tanah air di masa depan. Doakan saja, selalu ada langkah awal untuk memulainya. Aamiin.

 

Just Learning, Lifestyle

Millennial Paradox

Begitu banyak tulisan, video, cerita, ceramah, gambar, meme, apapun deh yang menggambarkan betapa ketergantungannya anak muda zaman sekarang dengan gadget, smart phone, dan media sosial (medsos). Berkali-kali juga saya sering menyimak sharing-sharing tersebut baik melalui facebook, youtube, broadcast message di whatsapp tentang bahaya akan ketergantungan medsos. Memang sih setelah itu saya jadi sadar, oh iya nih gak bener saya sering-sering medsos-an bikin waktu jadi gak berkualitas.. Lalu saya pun mengurangi waktu saya dengan hape dan medsos. Di antaranya menjadwalkan no hape pada pukul 18-21. Sehingga suasana malam lebih kondusif. Makan malam bersama keluarga, bercerita bersama, menemani Runa bermain, mengaji, membaca buku, sampai akhirnya tidur. Awal-awal masih bisa kondusif. Tapi namanya manusia tu ya, semangat dan konsistensinya naik turun gak karuan (saya itu mah). Belakangan ya lupa lagi dengan si janji suci untuk mengurangi interaksi dengan hape dan medsos. Lama-lama bablas lagi itu jadwal no hape-nya.

Suatu pagi, saya dapat lagi nih video bagus mengenai Millennial Paradox yang dipaparkan oleh Simon Sinek, seoranng speaker, konsultan, dan penulis asal Inggris. Video motivasinya mengenai How Great Leaders Inspire Action sangat popular di TED. Yang dia bilang di video tersebut meskipun pedas tapi benar adanya. Walaupun saya sudah berkali-kali juga dapat teori atau materi yang mirip-mirip seperti itu. Tapi cukuplah paparan Simon tersebut menampar saya (dan suami, karena kami nontonnya bareng-bareng).

Ya, kitalah generasi milenial, yang lahir di atas tahun 1984 ke atas. Kita, teman-teman kita, lingkungan sepantaran kita yang dibesarkan dengan banyak limpahan gadget dan medsos. Facebook, Instagram, Path, Twitter, Line, Friendster (eh) you name it. Sepertinya interaksi kita di sosmed masih dalam batas normal kok, yaa biasa aja. Tapi men, sebenarnya ga sesimpel itu. Agak susah memang mengakui sesuatu dalam diri kita yang sepertinya benar tapi ternyata salah, it’s paradox.  Maka dari itu saya nulis ini biar jadi pengingat buat saya.

Oke biar adil, saya menggambarkan keadaan diri saya sendiri saja sebagai seorang milenial. Continue reading “Millennial Paradox”

Just Learning

Mengeluarkan Keutamaan

Beberapa hari yang lalu saya menonton kajian youtub mengenai Al Majmu, Bekal Nabi bagi Penuntut Ilmu, oleh Ust Adi Hidayat. Saya dapat linknya dari teman saya yang memang rajin mengaji, Insya Allah paham banyak ilmu agama. Nilai-nilai yang disampaikannya saya rasa sangat baik, tidak mengandung bid’ah atau membid’ahkan sesuatu. Semuanya Ia sampaikan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Wallahu a’lam. Apalah saya ini yang belajar ilmu agama bukan dari pesantren, kyai, syekh, atau ustadz langsung. Saya cuma mengambil manfaat dari yang beliau sampaikan di kajian tersebut.

Pas banget yang beliau sampaikan di kajian tersebut, mengenai pesan-pesan Rasulullah pada semua penuntut ilmu. Pas ketika saya juga mencari motivasi di balik semua kegiatan dan rutinitas saya.

Menurut petunjuk-petunjuk dari Rasulullah yang terangkum dalam hadits adalah: bila kita diminta untuk menekuni sesuatu, atau kita ingin mempraktekkan sesuatu (dalam ibadah), itu tidak langsung serta-merta dipraktekan. Tapi kita diminta untuk mengeluarkan dulu KEUTAMAAN dari aktivitas yang akan kita kerjakan. Mengapa? 1. Agar menjadi motivasi bagi kita, 2. Mengetahui janji positif yang Allah siapkan bagi hambaNya yang mengerjakannya. Continue reading “Mengeluarkan Keutamaan”

Just Learning, Tentang Menulis

KulWap #ODOP99days with Dee Lestari

Apaaah Dee Lestari mau kulwap di ODOP? Ah becandaaaa..

dee-books

Seriusann cuuy!

Thanks to Teh Shanty, yang lagi-lagi sukses menjembatani mastah-mastah ke grup kita. Horee.. Alhamdulillah.

Kalau tentang Dee, pastinya hampir semua orang sudah tahu ya. Penulis Supernova, vokalis RSD, penulis skenario film. Yang paling booming tentu novel Supernova-nya. Saya baca Supernova yang pertama waktu SMP. Rasanya magis aja gitu tulisannya. Meskipun saya ga ngikutin Supernova-nya sampai sekarang. Terhenti di Petir. Saya mulai agak lemot mencerna isinya, haha.. Tapi saya menikmati cerpen-cerpen Dee di Filosofi Kopi dan Rectoverso. Madre juga bagus, soalnya tokohnya unik (pas diperanin sama Vino Bastian, cocok yak). Perahu Kertas adalah karya Dee yang agak beda dibanding yang lainnya, lebih chic dan bernuansa segar, tapi tetap menarik.

So, this is the resume!

Kini mari kita masuk ke sesi tanya-jawab: Continue reading “KulWap #ODOP99days with Dee Lestari”