Life is Beautiful, Mumbling

Arti Mimpi Saya Menurut Pak Suami

Pernah ngerasa gak kalau setelah bangun tidur, kok rasanya tadi bermimpi, dan mimpinya masih terasa jelas alurnya. Atau mungkin bukan alurnya tapi tokoh-tokoh yang masuk ke dalam mimpi dan kejadian garis besarnya seperti apa. Saya pernah lho, beberapa kali.

Kalau lagi inget, saya suka iseng cerita ke suami tentang mimpi tersebut. Kadang mimpinya itu suka absurd dan gak nyambung gitu. Apalagi pas diceritain ke orang lain makin terasa ke-absurd-annya, alur dan kelogisannya gak ada (namanya juga mimpi ye, bebass).

Di dalam mimpi saya pernah ingat ada dua orang yang suka mampir cukup sering. Bukan mantan lho yaa, hush! Gak ada mantan juga soalnya, wkwkwk. Keduanya adalah sahabat masa kecil saya (sampai sekarang). Kami masih lumayan sering kontak-kontak, walaupun gak intens banget, dan bukan percakapan yang mendalam. Hanya saling berkabar singkat aja. Tapi entah kenapa ya mereka yang mampir. Sahabat yang pertama adalah sahabat dekat saya yang dari dulu zaman SD sampai kuliah jadi tempat curhatan saya, yang tahu banget kelakuan saya kayak apa. Sahabat saya yang kedua adalah juga sahabat saya di masa kecil, saingan berat di kelas balap-balapan ngejar ranking, dan sekarang dia punya karir bagus di luar negeri.

Waktu saya cerita ke suami, dia malah mulai (dengan sotoyna) menafsirkan arti mimpi saya ini ada sebabnya. Suami menceritakan hipotesisnya, dan saya agak mengakui mungkin dia ada benarnya. Dia bilang, “Ayah tuh udah semakin kenal Bunda itu kayak gimana, kebaca.” Weiss.. inikah kalau soulmate ternyata lebih paham isi pikiran pasangannya?

Continue reading “Arti Mimpi Saya Menurut Pak Suami”

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful, [GJ] – Groningen’s Journal

Berserah pada Jalan Allah

Bagaimana Kabar Ramadan?

Ramadan sudah berlalu dua pertiga jalan, tinggal sepertiga lagi akan kita tempuh Insya Allah. Lalu bagaimana Ramadanmu? Ada rasa mellow juga mengingat Ramadan ini sudah mau habis, tapi rasanya belum banyak yang dilakukan dengan maksimal. Masih ada missed-nya, masih ada kekurangannya, masih belum kenceng doanya. Ya Allah, manusia memang tempatnya salah dan penuh nafsu. Tapi semoga momentum Ramadan ini menjadi momen kita bisa menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Saya percaya, pasti ada hal-hal baik yang “nyangkut” dari Ramadan kali ini untuk dibawa jalan ke depan. Meski tertatih, tapi kita tahu kita ada di jalan yang benar, Insya Allah di jalan yang diridoi Allah, aamiin.

Manusia memang lemah. Bahkan untuk mengurus hidupnya sendiri manusia itu tidak mampu, Allahlah yang membimbing dan menunjukkan jalan. Seperti nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah RA untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang. Sebuah nasihat indah yang membuat saya tertegun. Terkadang diri ini merasa sombong, merasa tahu mau melakukan apa-apa, merasa mengerti ini itu, padahal tak ada satupun hal yang kita mampu dan ketahui tanpa bimbingan Allah SWT.

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ! أَصْلِحْ لِي شَأْنِيَ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Artinya: Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata. (HR Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim).

Jangan engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata, Masya Allah.  Jangan sampai Allah meninggalkan diri ini bersama kelemahan-kelemahan yang ada.

Saat hidup ini terasa sempit, saat dirasa jalan ini sulit ditapaki, bahkan rasanya mustahil apa-apa yang kita usahakan bisa berhasil. Mungkin saatnya kita berhenti sejenak dari kebisingan dunia dan bersujud, memohon ampun pada Allah. Bertawakkal, jalan keluar itu bukan kita yang mengusahakan, tetapi Allah yang memberikan.

Rasanya saat dipikir-pikir, ya Allah berat banget ya mendidik anak di Belanda ini. Rasanya saya lelah gitu harus berusaha lebih kuat untuk mengajari anak salat, mengaji, tauhid. Padahal ya, saya sendiri saja masih berjuang belajar. Masih sedikit sekali ilmu saya untuk bisa saya teruskan pada anak-anak. Untuk belajar sabar dan bersyukur saja masih praktiknya sulit. Padahal kalau saya lirik kawan-kawan di Indonesia, Masya Allah.. senangnya bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah Islam terbaik, bahkan di pesantren. Terbesit rasa iri juga. Saya takut kalau apa-apa yang kami berikan masih kurang untuk bekal anak-anak kelak. Ini kalau curol tentang ini panjang sih, nanti saya khususkan untuk curcol soal pendidikan Islami anak.

Rasanya dipikir-pikir, ya Allah, berat ya jadi Mamak sekolah, kok banyak yang gak kepegang. Padahal list tugas menumpuk, gak cuma dari kampus, tapi juga dari rumah, dari anak-anak. Ngerjain tugas aja ngap-ngapan, terus kapan saya bisa ngerjain hobi saya nulis, bikin buku lagi?

Rasanya dipikir-pikir, ya Allah, sampai kapan kami terdampar di Belanda ini? Rasanya ingin pulang ke Indonesia dan punya kepastian tempat tinggal, pekerjaan, dan pendidikan anak yang baik di sana. Tapi rezeki kami masih di sini … Bahkan kami pun gak tahu sampai kapan di sininya.

Tapi semua yang “dipikir-pikir” itu kan cuma dalam pikiran manusia, kalau kata Allah mah, ini mah gampang. Kamu cuma perlu berserah aja dan berdoa, gak usah pake ribet deh. Salah satu Ustadz menasihati saya ketika saya bertanya tentang mendidik anak di Belanda, katanya: Berdoa saja, saya titipkan anak-anak ini pada Allah. Anak-anak ini milik Allah, Allah yang akan menjaganya. Bukan dari usaha kita, bukan dari kekuatan kita anak-anak ini bisa jadi manusia yang berhasil di dunia dan di akhirat, tetapi dari jalannya Allah.

Saya tertegun. Iya betul. Bukan usaha kami, tetapi kehendak Allah. Allah yang akan menjaganya.

Begitu juga nasib saya sebagai Mamak sekolah dan kelanjutan perjalanan kami di sini. Allah yang akan mengatur. Wallahua’lam

Just Learning, Life is Beautiful

It’s Time to be Awesome

Salah satu film favorit anak saya Runa adalah My Little Pony. Pasti yang punya anak cewe tahu tuh. Itu lho kuda-kuda  kecil warna-warni yang saling bersahabat dengan karakter yang unik berbeda-beda. Kalo suami saya komen, “Apa bagusnya lihat film tentang kuda-kuda?”. Yang selanjutnya dicemberutin Runa, haha..

Karena saya sering nemenin Runa nonton, mau gak mau saya hapal juga tuh karakter si poni-poni yang ada enam: Twilight Sparkle, leader-nya, yang bijaksana, penuh pertimbangan, suka banget baca dan belajar. Rainbow Dash, yang percaya diri, berani, jago terbang, loyal pada sahabat-sahabatnya. Pinky Pie, yang ceria, lucu, menggemaskan, suka bikin kejutan dan pesta untuk teman-temannya. Apple Jack, yang jujur, kuat, si pekerja keras yang mengelola punya perkebunan apel dengan keluarganya. Fluttershy, si pemalu, penyayang binatang, dan yang paling lembut pada orang lain. Lalu Rarity, si pemurah, selalu berbagi dengan teman-temannya, stylish dan pintar menata busana/gaya.

Seru juga nonton kuda-kuda lucu tersebut. Kadang ada pelajaran yang bisa diambil dari mereka. Kalau dipikir-pikir mungkin karakter saya ini lebih banyak seperti Twilight Sparkle yang hobinya baca buku dan ngendon di perpustakaan. Saya juga suka terlalu banyak pertimbangan ini itu. Kalau saya belajar dari para poni tersebut, saya ingin bisa memiliki sedikit karakter Rainbow Dash yang percaya diri. Ia tidak pernah meragukan kemampuannya untuk berkompetisi, terlebih ketika ia mendaftar ke Akademi Penerbang ternama di Negeri Poni, Wonderbolt nama akademinya. Ia berani men-challenge dirinya untuk hal-hal yang lebih menantang. Si Optimis yang berani. Beda banget sama saya yang kebanyakan pesimis dan melihat segala sesuatu dari lubang sulitnya dulu, instead of dari kelebihan yang ada.

Di Little Pony the Movie, Rainbow Dash punya theme song sendiri. Ia menyanyikan lagu tersebut untuk menyemangati para awak kapal yang merasa terpuruk dengan kondisi mereka saat itu. Mereka merasa kalau mereka tidak bisa apa-apa, ya sudahlah kerjakan saya apa yang ada, tanpa berjuang lebih untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Padahal aslinya mereka memiliki mimpi yang besar dan punya kemampuan untuk mewujudkan mimpinya. Rainbow Dash, melihat itu. Dan menyemangati mereka dengan lagu ini;

It’s Time to be Awesome 

I know the world can get you down
Things don’t work out quite the way that you thought
Feeling like all your best days are done
Your fears and doubts are all you’ve got

But there’s a light shining deep inside
Beneath those fears and doubts, so just squash ’em
And let it shine for all the world to see
That it is time, yeah, time to be awesome

Ah, ah, ah-ah, awesome!I
t’s time to be so awesome!
Ah, ah, ah-ah, awesome!
It’s time to be so awesome!

You’ve no idea how hard it’s been
This dull routine we’ve been forced to do
Don’t let them rob you of who you are
Be awesome, it’s all up to you
I feel the light stirring deep inside

It’s like a tale still yet to be told
And now it’s time to break the shackles free
And start living like the brave and the bold!
It’s time to be awesome!

We used to soar through the clouds in the skies
Elaborate schemes we would love to devise
We rescued our treasure and stored it away
Saving those gemstones for a rainy day

We see that light filling up our skies
So take the Storm King’s orders and toss ’em
Cause it’s the time to let our colors fly

Bisa cek movie clipnya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=2gUFZCRHHvE

Ternyata bukan hanya para awak kapal itu saja yang merasa terpantik semangatnya. Saya yang ikutan nonton dan mendengar lagunya jadi ikutan semangat. It’s time to rise and shine! Jadilah lagu itu jadi theme song saya juga setiap saya merasa gak semangat. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang percaya diri dan optimis, thank you Rainbow Dash!

Life is Beautiful, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Tak Ternilai, bagi Seorang Penulis

Di suatu hari yang mendung, hujan rintik-rintik, dingin menusuk, saya memulai kembali pagi saya. Masih hari yang sama dengan pekan-pekan lalu, di hari Senin. Selesai anak-anak sarapan, kami memulai aktivitas masing-masing. Rasanya berat sekali memulai hari. Saya mengumpulkan semangat dengan menarik nafas panjang.

Oke, katanya kalau harimu terasa berat, mulailah dengan pekerjaan yang paling ringan, yaitu… buka email. Shallow works lah ya, balesin email dan ngurusin yang belom-belom. Soal kerjaan utama, engg.. bentar deh kalo jarinya udah panas dikit.

Pas saya buka gmail (bukan email kantor), ada satu pesan dari yang gak saya kenal, dengan subyek email: Salam Kenal dari Indonesia.

Ternyata emailnya cukup panjang. Saya baca pelan-pelan, menikmati setiap kalimat yang tertulis. Masya Allah, ternyata email dari orang yang tidak dikenal bisa membuat semangat saya muncul kembali. Apa isinya? Si Penulis ternyata adalah pembaca buku saya, Groningen Mom’s Journal. Dia bilang bahwa waktu itu dia ke toko buku, dan gak sengaja menemukan buku saya di rak. Saat itu ia merasa dalam kondisi down dan gagal, dia tahu itu buruk, tapi dia gak punya alasan untuk bangkit. Kemudian dia membaca buku saya, dan menemukan secercah semangat untuk kembali membangun cita-citanya. Dia bahkan sudah membaca buku saya lima kali!

Sampai situ saya sudah menahan napas, apakah betul tulisan saya bisa memberikan impact besar untuk pembacanya? Sekonyong-konyong hati dialiri rasa hangat. Seperti mendapat hangat matahari di saat Groningen sedang dingin-dinginnya sekarang ini (kan lagi musim dingin).

Lalu saya teruskan lagi membaca. Dia juga mengucapkan terima kaish karena telah berbagi inspirasi dan mimpi. Ada selipan doa supaya selanjutnya saya bisa menelurkan karya yang bermanfaat lagi (Kapaaan? Doanya ya guys, semoga bulan Februari ada kabar dari penerbit untuk PO). Si Pembaca buku saya ini juga membagi sebuah link podcast, yang bisa didengar melalui spotify, yang sedang dia garap. Nama podcast-nya Librarian Syndrome. Ia membedah buku GMJ pada episode pertama podcast-nya.: https://open.spotify.com/episode/7xNmCI9X35eY8jR9od5myC?si=uNmIe0xBTeCj2izHjENqeA

Huwaa… saya terharu sekali. Sampai cirambay kalo bahasa Sunda-nya mah, berkaca-kaca. Saya tidak pernah menyangka kalau ada orang yang bisa mengambil manfaat dari tulisan saya yang sederhana. Saya sadar GMJ adalah buku solo pertama saya, tentunya masih banyak kekurangan yang ada. Saya ingat, tujuan saya menulis buku GMJ saat itu hanya ingin merangkum momen kehidupan saya di sini, dan membaginya dengan orang lain. Khususnya untuk keluarga kami kelak nanti bisa kilas balik kembali ke momen tersebut, umumnya bagi pembaca supaya bisa mengambil hikmahnya.

Ada pembaca-pembaca lain yang juga mengirimi saya pesan di email, instagram, facebook, bahkan bertemu langsung, dengan tema yang sama, merasa bisa mengambil hikmah dari buku saya. Saya rasa, dari seluruh rasa yang saya dapatkan dari menulis, inilah hal yang tidak akan pernah terbeli. Buku boleh jadi memberikan keuntungan materi, atau kebahagian moral tersendiri buat penulis karena berhasil menerbitkan karyanya, tetapi mendapatkan hal seperti ini … mungkin tak bisa dicari di mana-mana.

Hari itu membuat saya bersemangat kembali menulis. Bahwa saya masih punya cita-cita menjadi seorang penulis yang bisa menuai amal jariyah, aamiin. Mungkin dengan keilmuan saya sekarang, sebagai seorang apoteker dan mahasiswa S3, saya merasa sangat dangkal, ilmu saya belum bisa saya bagi kemana-mana. Untuk mengerjakan riset saja saya jatuh bangun. Iya ada manfaat bagi saya tentunya, untuk aktualisasi diri, menambah knowlegde saya sebagai researcher. Tetapi untuk berbagi dan bermanfaat? Lain lagi ceritanya. Tapi setidaknya selama saya menjalani peran saya ini, saya bisa sambil menuangkan cerita yang saya punya agar bisa dibaca orang lain, yang bisa mengambil manfaatnya. Aamiin.

Hatur nuhun para pembaca sekalian! You’re the writer’s hero

Life is Beautiful, Project

Resolusi oh Resolusi

Apa kabar 2020? Yes, I know, banyak yang mengungkapkan bahwa 2020 adalah tahun penuh tantangan, penuh perjuangan. Banyak kehilangan, banyak kesulitan, banyak penyesuaian. Saya pun masih berjuang untuk itu. Namun, 2020 pun patut diingat sebagai tahun di mana kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih toleran dari sebelumnya. Insya Allah.

Tiap tahun biasanya kami bikin resolusi. Yaa.. resolusi singkat aja. Tadinya mikir, 2021 gak usah muluk-muluk, bisa menyelesaikan 2020 dengan baik saja sudah Alhamdulillah. Tahun lalu, saya dan suami menempel kertas Resolusi 2020 di depan lemari pakaian. Otomatis hampir tiap hari kami membacanya. Ya kalau gak ngebaca banget paling gak selintas tahu ada kertas resolusi dipajang di sana.

Saya bukan orang yang selalu membagi-bagikan cita-cita saya di khalayak ramai, suami saya sebaliknya. Saya introver, suami ekstrover. List resolusi ini kami simpan baik-baik untuk kami berdua saja. Tapi di penghujung 2020, saya mau nulis ini di blog saya. Sebagai pengingat, bahwa ketika kita punya keberanian untuk menuliskannya, dan kemudian kita baca hampir setiap hari, hal itu seperti memberikan motivasi yang tidak saya sadari. Bahkan seperti menjadi doa, menjadi semangat, dalam menjalani hari. Seperti batu yang ditetesi oleh air sedikit demi sedikit, lama-lama akan lunak juga. Seperti cita-cita yang setiap harinya ditiup oleh doa dan semangat, ada titik di mana ternyata hal tersebut dapat tercapai, Qadarullah.

Tadinya di pertengahan tahun saya baru ngeh, lho ini list yang tercentang baru beberapa poin saja. Lalu tiba-tiba pandemi, banyak rencana berubah, dan sepertinya semakin mustahil untuk menyelesaikan list tersebut sampai di akhir tahun. Gak kebayang gitu, ini belum itu belum, kokkk yaa..

Meski sempat pesimis, tapi masa-masa pandemi ini juga akhirnya bisa terlewati juga. Well ya belum lewat sih, tetapi sudah bisa berdamai dan bersyukur dengan kondisi. Sebelum penghujung tahun, saya cukup surprised bahwa hampir 100% list tersebut bisa saya centang juga. Masya Allah, karena izin Allah.

Oleh karena itu, tahun ini saya akan kembali menuliskan Resolusi 2021. Optimis adalah bagian dari izzah kita sebagai muslim. Insya Allah bisa! Semangat karena Allah, mengejar cita-cita demi kemuliaan dunia dan akhirat, aamiin

Listnya udah dicorat-coret Runa karena dia penasaran ini apaan sih

Tahun ini kertas Resolusi 2021 kami tempel juga di lemari pakaian, masing-masing milik saya dan suami. Menariknya, Runa juga kami ajak untuk menuliskan resoulsinya. Eh Runa malah semangat. Resolusi Runa juga ditempel di lemari baju di kamarnya.

Bismillahirrahmaanirrahiim semoga dimudahkan. Semangat 2021!

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Melawan Kebatilan

(postingan yang telat diposting, udah dari pekan-pekan lalu, tapi gakpapalah ya, daripada enggak sama sekali)

Baru-baru ini ada kasus tak menyenangkan terjadi di Prancis. Saya singkat aja ya ceritanya. Jadi ada seorang guru di sekolah menengah atas yang memberikan pelajaran mengenai freedom of expression dengan cara memberi contoh kartun Rasulullah SAW. Kartun atau karikatur tersebut kalau tidak salah merupakan karya dari Charlie Hebdo yang heboh sejak 2006 silam, lalu muncul lagi di tahun 2013. Menurut sang guru, kartun yang menggambarkan sosok paling mulia di bumi adalah salah satu contoh kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Padahal ia tahu ada siswa muslim di kelasnya. Tapi ia tetap melakukannya. Tentu hal tersebut menyinggung sang murid. Lalu berikutnya ternyata sang guru ditemukan terbunuh mengenaskan oleh muridnya tersebut.

Sebuah peristiwa yang sangat miris. Miris karena penghinaan yang dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Miris karena penghinaan tersebut dibalas dengan darah. Setelah itu Perdana Menteri Prancis, Macron, mengeluarkan statement yang membuat umat Islam di Prancis semakin terpojok. Katanya kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sah-sah saja sebagai kebebasan berpendapat. Setelahnya kartun tersebut malah dipajang di beberapa tempat, dengan alasan kebebasan tadi. Umat Islam semakin terpojok dengan adanya isu islamphobia.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim di Eropa khususnya? Yang posisinya dekat dengan Prancis. Saya pun mau gak mau jadi merasa takut juga kalau ada islamophobia yang berujung diskriminasi. 

Tapi sebelum ke sana, pertama kita lihat dulu bagaimana dengan adanya penghinaan tersebut? Apa yang kita rasakan jika ada orang yang menghina Rasulullah SAW?

Continue reading “Melawan Kebatilan”
Journey, Life is Beautiful

Terpaksa Nanjak dan Turun

Liburan naik gunung, hiking, trekking, apalah namanya (saya gak tahu bedanya), sambil berburu foto-foto landscape yang cantik mungkin jadi ambisi suami sejak kapan, Qadarullah baru kesampaian summer 2020 ini, trip ke Switzerland (Lauterbrunnen dan sekitarnya, Engelberg dan sekitarnya). Istrinya yang jiwa petualangnya mengkeret setelah punya dua anak agak susah diajak berkoordinasi. Makanya saya bebaskan saja suami untuk menyusun itenerary ke mana, pokoknya saya ngikut aja. Tiba-tiba hari ini trekking 4 km PP, besoknya melewati jembatan dan terowongan air terjun, besoknya naik cable car ke atas gunung, dst.

Pinginnya selalu bisa merangkum trip di blog, tapi apa daya, kadang suka skip. Udah banyak trip-trip yang catatannya tertunda ditulis, sampai sekarang udah lupa jadinya. Tujuannya nulis di blog, ya biar inget, oh dulu pas nge-trip gini dan gitu, kesannya apa, bisa terekam terus jejaknya.

Jadi saya nulis segini dulu aja, sama sedikit foto. Klau mau lihat hasil foto-foto landscape yang bagus selama di Switzerland, bisa dicek di akun IG suami aja: @fbprasetyo.

Selama diajak membolang naik-turun gunung, sebenarnya ada secuil rasa enggan dibalut keterpaksaan. Haduh nanti capek, haduh berat naik ke atas, haduh kasian nanti anak-anak gimana, dan haduh-haduh lainnya. Maap anaknya suka pesimisan dalam situasi yang menantang. Jadinya dalam perjalanan naik dan turun saya banyak berzikir aja, supaya lancar selama hiking, sekaligus memuji keindahan alam yang dilewati selama perjalanan. Dan saya juga jadi (sok-sokan) berfilosofi.

Berikut foto-foto pendakian kami:

Journey, Life is Beautiful

Menyambut Syawal

Selamat Idul Fitri 1441 H.
Taqobbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan batin.

Fajar, Monik, Runa, Senja

Dari ‘Aisyah RA, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, kerjakanlah amalan-amalan yang kalian mampu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling disenangi Allah adalah yang berkesinambungan, walau itu sedikit.” (HR. Bukhari).

Semoga Ramadan yang telah berlalu tidak membuat rutinitas ibadah yang dibangun selama Ramadan ikut pergi. Namun malah menjadi bekal bagi kita untuk menghadapi 11 bulan ke depan, menjadi manusia yang terus memperbaiki diri. Aamiin..

Coba dicatat amalan dan ibadah rutin apa yang selalu dilakukan ketika Ramadan dan kiranya bisa diteruskan di bulan ini, bulan berikutnya, dan seterusnya? Ibadah-ibadah yang terasa mudah dilakukan di bulan Ramadan memang rasanya lebih berat dijalankan di luar Ramadan ya, entah kenapa. Bisa karena memang setan-setan udah bebas berkeliaran, bisa karena tidak ada dukungan komunitas (maksudnya kan kalo Ramadan komintas terdekat kita ya  puasa, tarawih, berlomba-lomba melakukan kebaikan), bisa karena kurangnya strong will di dalam diri sendiri, yang menyebabkan diri ini jadi berleha-leha. 

Bismillah … semoga istiqomahnya tetap terjaga di bulan Syawal dan seterusnya. Meski targetan ibadah tidak se”ambisius” di bulan Ramadan, namun setidaknya bisa meninggalkan jejak keistiqomahan, aamiin.

Just Learning, Life is Beautiful

Hikmah di Balik Musibah

Kalau ditanya apa hikmah di balik musibah, ternyata hikmah yang dipetik ga cuma satu, dua, tapi mungkin puluh-puluhan, tak terhitung. Sama seperti nikmat yang Allah berikan pada manusia tidak bisa terukur.

Alhamdulillah Forum Komunikasi Netherlands (ForKom NL), gabungan dari perkumpulan muslim Indonesia di Belanda, mengadakan kajian rutin online tiap minggunya. Dengan pengisinya ustadz-ustadz mumpuni, Masya Allah. Ternyata termasuk kegiatan yang saya tunggu-tunggu tiap minggunya. Setelah dalam seminggu berkutat dengan kesibukan work-from-home, bolak balik masak, memantau pe-er Runa, ngajak main anak-anak, beres-beres lagi, gitu terus muter. Lelah kadang, tapi begitu ketemu weekend ada leganya. Setidaknya ada agenda bergizi untuk diikuti.

Kajian minggu ke-2 adalah dari Ust. Oemar Mita, mengenai hikmah di balik musibah. Apa yang dipaparkan Ust. Oemar Mita bikin saya merasa ditampar bolak-balik. Malu, cuma segini-gininya aja jadi makhluk.

Saya rangkum catatan kajiannya di sini, biar tidak lupa.

Pandemik corona ini adalah musibah. Setiap manusia akan mendapat musibah. Yang membedakan antar tiap manusia adalah waktunya dan kadarnya. Ujian corona ini mungkin bentuknya gak sama bagi tiap manusia.

Ketika di dunia, bisa jadi kita menangis, banyak air mata keluar karena ujian dan musibah. Tapi air mata kita akan kering di akhirat nanti insya Allah.

Apa bedanya azab, ujian, musibah? Continue reading “Hikmah di Balik Musibah”

Life is Beautiful

Life in the Time of Corona

Assalamu’alaikum bloooggg..

OHHHH I MISS YOUU SOO MUCCHH!!

Napa eike ga nulis-nulis lagi siih? Syebel eike juga sama diri sendiri, yang gak bisa menyediakan waktu untuk nulis. Betapa kangen jari-jari saya menuangkan apa yang ada di kepala dan hati.

Apalagi saat ini dunia dalam kondisi krisis. Darurat. Pandemik. Udah kayak mau akhir zaman (ya memang mungkin udah mau kiamat, Walllahua’lam). Tapi Allah memang Maha Kuasa, Pemilik segala di langit dan bumi, Yang bisa membuat segala-galanya mungkin. Kita sebagai manusia merasa sangat lemah, lemah sekali.

Sebenernya kali ini saya nulis juga gak tau mau nulis apa. Saya lagi kebagian jatah bisa kerja tanpa gangguan anak-anak. Suami lagi jagain anak-anak di bawah. Setengah jam lagi saya ada meeting  sama Si Ibuk spv. (Rasanya) saya sudah cukup menyiapkan bahan diskusi, dan malas buka-buka lagi, belum ada update-an untuk dikerjain lagi. Terus tetiba saya ingin membuka blog.

Selama hampir sebulan ini hidup terasa ups and downs, aneh, parnoan. Tapi yang jelas aneeh banget, aneh.

Sebagai orang yang ambivert. Saya merasa hepi-hepi aja ada di rumah, ga mesti ngantor, dan ketemu banyak orang. Tapi di sisi lain, kok ada sesuatu yang hilang ya, ternyata saya juga ingin ngomong dan didengar, ingin mendengar dan menatap wajah orang secara langsung, ingin berkumpul.

Tadinya saya merasa gak masalah untuk work from home sama sekali. Malah untung, bisa kerja dan tetep bisa membersamai anak-anak. Bisa buka-buka laptop dan gantian shift kerja sama suami, sambil bisa masak, beres-beres rumah. Bisa sambil curi-curi selonjoran dan baca buku favorit sambil minum kopi. Tapi lama-lama kok saya merasa agak tertekan. Kerjaan suami yang lebih urgent  dan butuh telepon dan online setiap waktu membuat saya jadi merasa gak bisa dapat waktu khusus untuk kerja. Masak, beres-beres, tidak ada habisnya. Pe-er sekolah Runa harus dicek, sekolah jarak jauhnya, ngaji, dan hapalannya. Eh kok hapalan dan ngaji sendiri keteteran. Kok malah ga menikmati baca buku karena kalo ada waktu luang tentu dipake untuk buka kerjaan. Continue reading “Life in the Time of Corona”