Journey, Life is Beautiful

Menyambut Syawal

Selamat Idul Fitri 1441 H.
Taqobbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan batin.

Fajar, Monik, Runa, Senja

Dari ‘Aisyah RA, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, kerjakanlah amalan-amalan yang kalian mampu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling disenangi Allah adalah yang berkesinambungan, walau itu sedikit.” (HR. Bukhari).

Semoga Ramadan yang telah berlalu tidak membuat rutinitas ibadah yang dibangun selama Ramadan ikut pergi. Namun malah menjadi bekal bagi kita untuk menghadapi 11 bulan ke depan, menjadi manusia yang terus memperbaiki diri. Aamiin..

Coba dicatat amalan dan ibadah rutin apa yang selalu dilakukan ketika Ramadan dan kiranya bisa diteruskan di bulan ini, bulan berikutnya, dan seterusnya? Ibadah-ibadah yang terasa mudah dilakukan di bulan Ramadan memang rasanya lebih berat dijalankan di luar Ramadan ya, entah kenapa. Bisa karena memang setan-setan udah bebas berkeliaran, bisa karena tidak ada dukungan komunitas (maksudnya kan kalo Ramadan komintas terdekat kita ya  puasa, tarawih, berlomba-lomba melakukan kebaikan), bisa karena kurangnya strong will di dalam diri sendiri, yang menyebabkan diri ini jadi berleha-leha. 

Bismillah … semoga istiqomahnya tetap terjaga di bulan Syawal dan seterusnya. Meski targetan ibadah tidak se”ambisius” di bulan Ramadan, namun setidaknya bisa meninggalkan jejak keistiqomahan, aamiin.

Just Learning, Life is Beautiful

Hikmah di Balik Musibah

Kalau ditanya apa hikmah di balik musibah, ternyata hikmah yang dipetik ga cuma satu, dua, tapi mungkin puluh-puluhan, tak terhitung. Sama seperti nikmat yang Allah berikan pada manusia tidak bisa terukur.

Alhamdulillah Forum Komunikasi Netherlands (ForKom NL), gabungan dari perkumpulan muslim Indonesia di Belanda, mengadakan kajian rutin online tiap minggunya. Dengan pengisinya ustadz-ustadz mumpuni, Masya Allah. Ternyata termasuk kegiatan yang saya tunggu-tunggu tiap minggunya. Setelah dalam seminggu berkutat dengan kesibukan work-from-home, bolak balik masak, memantau pe-er Runa, ngajak main anak-anak, beres-beres lagi, gitu terus muter. Lelah kadang, tapi begitu ketemu weekend ada leganya. Setidaknya ada agenda bergizi untuk diikuti.

Kajian minggu ke-2 adalah dari Ust. Oemar Mita, mengenai hikmah di balik musibah. Apa yang dipaparkan Ust. Oemar Mita bikin saya merasa ditampar bolak-balik. Malu, cuma segini-gininya aja jadi makhluk.

Saya rangkum catatan kajiannya di sini, biar tidak lupa.

Pandemik corona ini adalah musibah. Setiap manusia akan mendapat musibah. Yang membedakan antar tiap manusia adalah waktunya dan kadarnya. Ujian corona ini mungkin bentuknya gak sama bagi tiap manusia.

Ketika di dunia, bisa jadi kita menangis, banyak air mata keluar karena ujian dan musibah. Tapi air mata kita akan kering di akhirat nanti insya Allah.

Apa bedanya azab, ujian, musibah? Continue reading “Hikmah di Balik Musibah”

Life is Beautiful

Life in the Time of Corona

Assalamu’alaikum bloooggg..

OHHHH I MISS YOUU SOO MUCCHH!!

Napa eike ga nulis-nulis lagi siih? Syebel eike juga sama diri sendiri, yang gak bisa menyediakan waktu untuk nulis. Betapa kangen jari-jari saya menuangkan apa yang ada di kepala dan hati.

Apalagi saat ini dunia dalam kondisi krisis. Darurat. Pandemik. Udah kayak mau akhir zaman (ya memang mungkin udah mau kiamat, Walllahua’lam). Tapi Allah memang Maha Kuasa, Pemilik segala di langit dan bumi, Yang bisa membuat segala-galanya mungkin. Kita sebagai manusia merasa sangat lemah, lemah sekali.

Sebenernya kali ini saya nulis juga gak tau mau nulis apa. Saya lagi kebagian jatah bisa kerja tanpa gangguan anak-anak. Suami lagi jagain anak-anak di bawah. Setengah jam lagi saya ada meeting  sama Si Ibuk spv. (Rasanya) saya sudah cukup menyiapkan bahan diskusi, dan malas buka-buka lagi, belum ada update-an untuk dikerjain lagi. Terus tetiba saya ingin membuka blog.

Selama hampir sebulan ini hidup terasa ups and downs, aneh, parnoan. Tapi yang jelas aneeh banget, aneh.

Sebagai orang yang ambivert. Saya merasa hepi-hepi aja ada di rumah, ga mesti ngantor, dan ketemu banyak orang. Tapi di sisi lain, kok ada sesuatu yang hilang ya, ternyata saya juga ingin ngomong dan didengar, ingin mendengar dan menatap wajah orang secara langsung, ingin berkumpul.

Tadinya saya merasa gak masalah untuk work from home sama sekali. Malah untung, bisa kerja dan tetep bisa membersamai anak-anak. Bisa buka-buka laptop dan gantian shift kerja sama suami, sambil bisa masak, beres-beres rumah. Bisa sambil curi-curi selonjoran dan baca buku favorit sambil minum kopi. Tapi lama-lama kok saya merasa agak tertekan. Kerjaan suami yang lebih urgent  dan butuh telepon dan online setiap waktu membuat saya jadi merasa gak bisa dapat waktu khusus untuk kerja. Masak, beres-beres, tidak ada habisnya. Pe-er sekolah Runa harus dicek, sekolah jarak jauhnya, ngaji, dan hapalannya. Eh kok hapalan dan ngaji sendiri keteteran. Kok malah ga menikmati baca buku karena kalo ada waktu luang tentu dipake untuk buka kerjaan. Continue reading “Life in the Time of Corona”

Life is Beautiful

A New Start: 2019

Bismillah..

Tadinya mau nulis sedikit (mudah-mudahan emang jadi sedikit, kebiasaan kalo nulis suka kemana-mana ga bisa berhenti). Besok udah mau mulai kerja lagi, kuliah lagi, baca paper lagi, mantengin laptop lagi, duduk di kursi panas lagi, anter-jemput anak lagi, masak kilat lagi, dst dst.. Intinya mamak kudu setrong lagi, setelah liburan “cuma” 2 minggu. Meski kami ga banyak jalan-jalan ke mana gitu. Tapi momen akhir tahun banyak bikin saya kontemplasi. Mulai dari sakit bergiliran sekeluarga, deadline tiba-tiba di akhir tahun (harus disyukuri juga sih), juga kerjaan suami yang nambah. Rasanya pingin loncat indah sambil kayang.

Tapi yaa.. meski rasanya saya awalnya selalu merasa dalam posisi mengasihani diri sendiri dan nelangsa, tapi ternyata setelah mau masuk kerja lagi, saya baru menemukan energi baru, semangat baru, untuk membuang pikiran negatif saya ini. Banyak faktor, banyak ketemu orang (oiya liburan kali ini kami manfaatkan untuk lebih banyak silaturahmi juga), banyak momen, dll. Yang pasti, I’m fed up of being the victim (dari pikiran saya sendiri), yang selalu bikin saya: merasa “gak pantes” untuk jadi mahasiswa S3, merasa bersalah sebagai emak beranak dua tapi sibuk ngampus, dan pikiran jelek lainnya. Gusti Allah, maafkan hamba.

Betul untuk berubah gak butuh perubahan tahun, bisa kapan saja. Tapi untuk berubah butuh momentum juga. Kadang kita menunggu momen untuk berubah. Ya, manfaatkan saja yang ada sekarang. Mungkin ini memang kebetulan.

Utamanya saya ingin lebih menikmati peran saya di semua bidang, jadi mahasiswi, jadi ibu, jadi istri, jadi anak. Cem pria macho yang ada di iklan rokok gitu deh, hidupnya enjoy aja.

Lalu saya ingin lebih mengapresiasi diri saya sendiri. Berhenti mengasihani diri sendiri. Selama ini saya kok saya merasa banyak ngeluh. Sok-sok jadi tokoh drama korea gitu. Jemput anak naik sepeda, sambil hujan-hujanan, sebelumnya baru dibejek sama supervisor, perut melilit belum makan nasi dari pagi, pulang-pulang kudu masak. Terus dalam hati, Ya Allah kok saya kasihan banget ya. Pingin nangis cantik deh. Kalo Song Hye Kyo di Endless Love, sih iya cantik nangisnya, bikin yang nonton ikut terbawa termehek-mehek, menjual beud. Lha gueee.. mau nangis dramatis mengasihani diri sendiri kaga ada guna beib.

Jadiiii… 2019 I’m comiiinnngg!

Bismillahirrahmaanirrahiimm…

I’m happy doing my job and I’m happy being myself!

Mengutip lagu kesukaan Runa sekarang ini: Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanyaa…

Just Learning, Life is Beautiful, Trash = Relieved

Belajar Memaafkan dari Anak Kecil

Runa punya banyak teman. Ia senang sekali bermain sama teman-temannya. Tapi namanya juga bermain, kadang ada hal-hal yang bikin anak-anak ini berantem atau marah-marahan. Tipe anak emang beda-beda sih. Ada yang usilnya ga ketulungan, ada yang dominan dan suka ngatur-ngatur, ada juga yang cengeng. Ujungnya satu ada yang ngambek, satu ada yang nangis, atau satunya lagi merasa sebal. Kadang mereka bisa menyelesaikan sendiri masalahnya dan baikan. Kadang butuh orang tua juga yang memediasi mereka, untuk saling minta maaf, salaman, lalu berpelukan. Awalnya sih pada gengsi, tapi lima menit kemudian, eh mereka udah main-main lagi kayak biasa, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Besok-besoknya pun mereka gak ada yang mengungkit-ungkit peristiwa yang bikin mereka berantem.

Saya pun memperhatikan Runa dan kawan-kawannya seperti itu. Runa termasuk anak yang cengeng, kalau adu bodi atau adu mulut, pasti dia yang mewek duluan karena ga bisa ngelawan. Kadang saya gemas sih liat Runa, kok lebih mudah nangis daripada melawan. Tapi kemudian saya berkaca pada saya sendiri, dulu waktu kecil saya lebih parah cengengnya. Bahkan kalau ketemu sama saudara/om/tante yang pernah kenal saya pas kecil, komentar mereka pasti: “Monik nih dulu kecilnya cengeng banget, mangkanya orang seneng banget bikin monik nangis.” Okelah, mungkin gen cengeng itu menurun dari saya. Sampai sekarang saya juga bawaannya mellow dan gampang terhanyut (kaiiin kali hanyuut). Continue reading “Belajar Memaafkan dari Anak Kecil”

Groningen's Corner, Life is Beautiful

Pindah

Sepertinya hal yang satu ini harus ditulis, biar rasanya lega. Soalnya dari beberapa bulan kemarin saya merasa masih agak gamang dengan yang namanya pindah.

Iya pindah. Jadi dalam sebulan ke depan, Insya Allah saya dan keluarga akan menempati rumah baru, di lingkungan yang baru, juga termasuk sekolah Runa yang baru. Tadinya sebelum merencanakan pindah ke sana, saya selalu melontarkan denial dengan perkataan pada suami saya. Seperti, “Beneran mau pindah?”, “Rasanya susah membayangkan pindah dari lingkungan sekarang ke tempat baru.”, sampai “Gak bisa ya kita cari rumah di daerah sini aja?”

Tapi memang pada kenyataannya kami sudah berusaha untuk mendapatkan rumah di daerah tempat kami tinggal sekarang ini. Ada tiga rumah yang kami datangi. Satu dari tiga itu cocok banget rasanya, tapi harganya bok yang ga cocok di kantong. Lalu kami juga kalah bidding, sebab ada yang menawar jauh di atas harga yang kami tawarkan. Continue reading “Pindah”

Life is Beautiful, Only a Story

Ingin Cepat-cepat

Ketika saya berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan, dalam tekanan, atau tidak nyaman, secara tidak sadar saya selalu berucap: ingin cepet-cepet selesai ini atau ingin cepet-cepet sampai itu.

Pokoknya ingin cepat-cepat aja. Saya sendiri mengucapkannya secara spontan. Sampai suami yang bilang: Bunda tuh kalau lagi blabla (dalam kondisi di atas), selalu bilangnya ingin cepet-cepet terus.

Misalnya:

Ketika saya sedang sibuk dan repot dengan research project S2 saya, saya bilang: ingin cepet-cepet beres kerjaannya dan segera lulus.

Ketika saya sedang mengalami kebosanan di tengah-tengah kuliah dan capek dengan rutinitas rumah tangga, saya bilang: ingin cepet-cepet liburan dan travelling.

Ketika saya sedang travelling selama seminggu dan sudah berada di ujung liburan, badan sudah terasa lelah, saya bilang: ingin cepet-cepet sampai rumah dan istirahat.

Ketika saya sedang mual, puyeng, gak nafsu makan di masa trimester pertama saya, saya bilang: ingin cepet-cepet selesai trimester pertamanya dan bisa makan enak lagikalau bisa babynya segera lahir.

Dalam pikiran saya, saya ingin masa-masa tidak menyenangkan tersebut segera berakhir. Berganti ke masa-masa yang lebih baik, lebih enak. Padahal semuanya berproses. Tidak mungkin kan bisa langsung ke momen yang ingin cepet-cepet itu begitu saja. Malah ketika sudah sampai ke “bagian akhir” tersebut, ya sudah selesai saja.

Yang sesungguhnya akan melekat di memori ternyata bukan bagian akhir yang saya inginkan sebelumnya.

Ketika saya sudah lulus kuliah, yang lebih saya ingat bukanlah momen ketika saya menerima ijazah, berfoto dengan keluarga di depan Academic Gebouw, dan menerima banyak bunga. Tetapi adalah saat-saat saya berjuang menyelesaikan research saya. Bagaimana setiap harinya diisi dengan progress yang lambat laun berujung ke final master report dan presentasi.

Ketika saya sudah berada di detik-detik hendak liburan, yang saya ingat bukanlah saat-saat packing dan mempersiapkan trip, tetapi justru rutinitas kuliah dan urusan rumah tangga yang akhirnya bisa selesai demi liburan ini.

Ketika saya sudah sampai di rumah setelah pulang travelling, tentu bukan momen kembali ke rumah yang saya ingat. Setiap seru dan susahnya saat travelling yang paling melekat di kepala saya.

Ketika saya melihat Runa sudah besar dan sekarang saya sedang hamil. Saya akan selalu mengingat masa-masa saat saya sedang hamil Runa, dan membandingkannya dengan kondisi hamil saya sekarang. Bahkan saya tidak ingat bagaimana saya melahirkan Runa (soalnya saya dibius total haha), saya cuma melihat Runa sekilas, sebelum saya “pingsan” lagi. Mudah-mudahan kehamilan yang sekarang berjalan lebih lancar daripada yang pertama, aamiin.

Artinya mah.. just cherish every moment you have. Cause you’ll never know, after you reach the finish line, you will remember all the things (that seems hard and terrible) as GOOD THINGS.