Ingin Cepat-cepat

Ketika saya berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan, dalam tekanan, atau tidak nyaman, secara tidak sadar saya selalu berucap: ingin cepet-cepet selesai ini atau ingin cepet-cepet sampai itu.

Pokoknya ingin cepat-cepat aja. Saya sendiri mengucapkannya secara spontan. Sampai suami yang bilang: Bunda tuh kalau lagi blabla (dalam kondisi di atas), selalu bilangnya ingin cepet-cepet terus.

Misalnya:

Ketika saya sedang sibuk dan repot dengan research project S2 saya, saya bilang: ingin cepet-cepet beres kerjaannya dan segera lulus.

Ketika saya sedang mengalami kebosanan di tengah-tengah kuliah dan capek dengan rutinitas rumah tangga, saya bilang: ingin cepet-cepet liburan dan travelling.

Ketika saya sedang travelling selama seminggu dan sudah berada di ujung liburan, badan sudah terasa lelah, saya bilang: ingin cepet-cepet sampai rumah dan istirahat.

Ketika saya sedang mual, puyeng, gak nafsu makan di masa trimester pertama saya, saya bilang: ingin cepet-cepet selesai trimester pertamanya dan bisa makan enak lagikalau bisa babynya segera lahir.

Dalam pikiran saya, saya ingin masa-masa tidak menyenangkan tersebut segera berakhir. Berganti ke masa-masa yang lebih baik, lebih enak. Padahal semuanya berproses. Tidak mungkin kan bisa langsung ke momen yang ingin cepet-cepet itu begitu saja. Malah ketika sudah sampai ke “bagian akhir” tersebut, ya sudah selesai saja.

Yang sesungguhnya akan melekat di memori ternyata bukan bagian akhir yang saya inginkan sebelumnya.

Ketika saya sudah lulus kuliah, yang lebih saya ingat bukanlah momen ketika saya menerima ijazah, berfoto dengan keluarga di depan Academic Gebouw, dan menerima banyak bunga. Tetapi adalah saat-saat saya berjuang menyelesaikan research saya. Bagaimana setiap harinya diisi dengan progress yang lambat laun berujung ke final master report dan presentasi.

Ketika saya sudah berada di detik-detik hendak liburan, yang saya ingat bukanlah saat-saat packing dan mempersiapkan trip, tetapi justru rutinitas kuliah dan urusan rumah tangga yang akhirnya bisa selesai demi liburan ini.

Ketika saya sudah sampai di rumah setelah pulang travelling, tentu bukan momen kembali ke rumah yang saya ingat. Setiap seru dan susahnya saat travelling yang paling melekat di kepala saya.

Ketika saya melihat Runa sudah besar dan sekarang saya sedang hamil. Saya akan selalu mengingat masa-masa saat saya sedang hamil Runa, dan membandingkannya dengan kondisi hamil saya sekarang. Bahkan saya tidak ingat bagaimana saya melahirkan Runa (soalnya saya dibius total haha), saya cuma melihat Runa sekilas, sebelum saya “pingsan” lagi. Mudah-mudahan kehamilan yang sekarang berjalan lebih lancar daripada yang pertama, aamiin.

Artinya mah.. just cherish every moment you have. Cause you’ll never know, after you reach the finish line, you will remember all the things (that seems hard and terrible) as GOOD THINGS.

Advertisements

Reminder #1

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Abu Daud no. 5090 dan Ahmad no. 20430. Dinyatakan hasan oleh syaikh Syuaib Al-Arnauth dan syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

Kadang kita sering berusaha dan menggantungkan hasil pada usaha kita sendiri. Sedangkan nyatanya semua itu bermuara pada kehendak Allah..

Maka apakah tidak sepatutnya kita selalu menyerahkan sepenuhnya pada Allah dari permulaan usaha kita, bukan “hanya” berpasrah diri di akhir usaha kita? Bukankah hidup kita, mati kita hanyak milik Nya?

reminder to myself and my family

Me VS My Husband: Upil War

Gambar dari sini

Gambar dari sini

Ini postingan sebenarnya berbau-bau gak penting campur rada tabu, tapi di antara proyek menulis yang sedang saya hadapi mulai dari yang menengah serius (travelling journal atau dan semacam essay) sampai super serius banget (ehem thesis), saya pengen sedikit leha-leha sama tulisan ringan. Kebetulan topiknya memang gak penting. Maaf sebelumnya kalau ini bisa jadi sesuatu yang jorok bagi sebagian orang. Mending gak usah baca aja kalo gitu.

Saya dan suami termasuk tipe easy-silly couple. Dalam artian gak terlalu kaku serius, gak gitu romantis, dan kadang punya kegiatan atau obrolan yang gak penting. Salah satu kegiatan gak penting tapi sangat menghibur sedang berlangsung selama beberapa pekan ini. Berawal dari kebiasan kami berdua yang rada geuleuh: ngupil. Continue reading

We Can’t (and Never) Satisfy Everybody

Kisah ini udah sering banget saya denger. Tiap denger lagi kisahnya selalu jadi pengingat buat saya karena memang cerita kayak gini sering banget kejadian, sama saya, sama sahabat saya, sama orang-orang di sekitar saya. Mungkin kamu juga udah sering denger. Kisah ini dari Luqmanul hakim, seseorang yang memiliki kisah hidup penuh dengan hikmah. Namanya bahkan menjadi nama salah satu surat di dalam AlQuran. Cerita ini mengenai Luqman, anaknya dan seekor keledai.

Pada suatu ketika Luqman melakukan perjalanan bersama anaknya. Luqman menaiki seekor keledai dan anaknya mengikuti dengan berjalan kaki. Ketika mereka bertemu dengan orang lain dalam perjalanan, orang itu pun berkata, “Lihatlah orang tua itu, tidak punya perasaan. Ia menaiki keledai sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki”.

Mendengar hal tersebut, kemudian Luqman turun dari keledainya dan menyuruh anaknya untuk menaikinya. Beberapa waktu kemudian mereka kembali bertemu orang, mereka berkata,”Lihatlah anak itu, kurang ajar sekali. Ia enak-enak naik keledai, sedangkan bapaknya dibiarkan berjalan kaki”.

Terkejut dengan perkataan orang, kemudian Luqman menyuruh anaknya menaiki keledai bersamanya. Kemudian mereka bertemu lagi dengan oranglain, yang berkata, “Kejam sekali mereka, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang”.

Sekali lagi mereka merubah posisi, sekarang keduanya berjalan di samping si keledai. Setelah beberapa saat, mereka kembali bertemu seseorang, “Betapa bodohnya mereka, punya keledai tapi tidak dinaiki”.

Continue reading

Farmasiku Dulu dan Kini

Rasanya saya dulu pernah bikin tulisan ini. Tapi saya cari-cari di ‘perpus’ blog saya kok gak ada ya. Yowes, karena foto-fotonya masih ada ya saya bikin lagi aja deh tulisannya. Itung-itung sambil mengobati rasa kangen saya pada kampus dan fakultas/prodi saya, hehe..

2006-2016 Udah hampir 10 tahun berarti saya punya keluarga di Sekolah Farmasi ITB 2006 dan 9 tahun kebersamaan saya dengan FKK (Farmasi Klinik dan Komunitas), si prodi muda farmasi. Penjurusan di FKK memang dimulai di tahun kedua kuliah. Tahun di mana saya menemukan keluarga kedua saya dan akhirnya saya bisa menemukan kenyamanan belajar farmasi.

Saya kangen 33 saudara saya di FKK. Kami si anak sulung yang banyak melewati trial dan error. Kenapa anak sulung? Iyah FKK itu baru ada pas angkatan saya dan baru diakreditasi setelah kami lulus. Mangkanya itu kami merasa lebih deket karena kami melewatinya bareng-bareng. Saya salut pada dosen-dosen farmasi ITB yang percaya bahwa prodi FKK itu penting dan perlu, bahwa farmasi ga melulu soal formulasi dan industri. Saya salut pada semua saudara sesulung saya yang berani mengambil pilihan menjadi si anak pertama. Tahu sendiri jadi anak pertama ga gampang toh? Jadi ortu aja ngedidik anak pertama banyak trial error-nya, gimana ngedidik prodi yang baru didirikan? Saya salut pada kepercayaan Bapak Sigit (alm.) dan dosen-dosen yang memperjuangkan FKK, karena merekalah kami ada dan bisa berkarya sampai sekarang. Ah, pak Sigit, andai Bapak ngeliat anak-anak sulung Bapak sekarang.. Continue reading

Ayah – Sebuah Perjalanan Inspirasi

Kalau ada cerita yang bisa membangkitkan semangat saya lagi untuk apapun, itu adalah cerita Ayah dari Andrea Hirata.

Kalau ada buku yang bikin saya ga bisa berhenti sampai ke halaman terakhirnya, itu adalah buku Ayah dari Andrea Hirata.

Saya baca beberapa buku karya anak bangsa dalam kurun beberapa bulan ini, ceritanya saya pengen menggiatkan lagi kebiasaan baca buku yang sudah rada tenggelam semenjak saya punya anak, setidaknya sebulan sekali tamat satu buku. Saya baca Critical Eleven – Ika Natasha, Dilan – Pidi Baiq, dan satu cerpen Filosofi Kopi – Dee. Semuanya punya gaya cerita yang beda-beda, Ika Natasha dengan metropolis-jetsetnya, Pidi Baiq yang simpel, barebas dan bodor, Dee yang cerdas dan kadang rumit. Saya suka bacanya, tapi saya paliiing suka baca si Ayah ini dari Andrea Hirata, yang paling candu.

Saya baca semua karya Andrea Hirata (kecuali yg 11 Patriot, belum sempet nemu bukunya)  dan Ayah ini yang paling saya sukaiiiii, setelah Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, atau mungkin saya lebih suka ini dulu baru Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, entah deh.. yang pasti daya tariknya sama seperti kedua buku sebelumnya. Mungkin dulu Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi bikin saya berapi-api semasa kuliah dengan semua tagline “mengejar mimpi”. Ayah ini bikin saya adem menenangkan di masa-masa berkeluarga. Bahwa.. hidup itu ga rumit kok, bahagia itu begitu sederhana, sesederhana hari-hari Sabari, si Tokoh di dalamnya.

Selebihnya semua berlangsung seperti sediakala, Sabari bangun subuh, mengurus kambing, bekerja, merasa beruntung jika sekilas saja melihat Lena, pulang, mengurus kambing lagi, ngobrol dengan ibunya, mendorong kursi roda ayahnya ke dermaga, saling bercerita dan berbalas puisi sambil menyaksikan matahari terbenam di muara, malamnya duduk di beranda, menyaksikan cahaya bulan jatuh di padang ilalang. Dia merindukan Lena hingga jatuh tertidur sambil menggenggam pensil. Keesokannya terbangun, dia masih menggenggam pensil itu.

Continue reading

Jauh

Jauh/ja·uh/: panjang antaranya (jaraknya); tidak dekat. Begitu menurut paparan dari KBBI mengenai kata jauh.

Pandangan saya terhadap ‘jauh’ mungkin berbeda dengan yang KBBI bilang. Menurut saya jauh adalah panjang antaranya (jaraknya), tetapi relatif menurut individu tertentu. Sepanjang hidup saya selama 27 tahun ini saya sangat familiar dengan yang namanya ‘jauh’. Gimana enggak, setiap tempat tinggal yang saya huni (di beberapa kota) selalu dikomen orang: “jauh banget rumahnya”. Mungkin jauh sudah menjadi mengalir di darah saya (apa siih).

Saya besar di Bandung, sejak kecil saya tinggal di Kopo. Orang bilang Bandung coret. Emang iya sih, perbatasan kota Bandung dan kabupatennya sudah dilewati sama komplek rumah saya. Tapi saya bersekolah SD, SMP, SMA sampai kuliah di kota (ciyeh, berasa desa ke kota), yang jaraknya dari rumah rata-rata lebih dari 10 km. SD di Kebon Kelapa (Sasak Gantung), SMP di Jalan Sumatera, SMA di Jalan Belitung, kuliah di Jalan Ganesa. Makin tinggi pendidikan saya, makin jauh jarak yang harus saya tempuh. Beruntung papa saya sangat sabar, dari mulai SD sampe saya kuliah selaluuuuuuuu nganterin saya dan kakak saya ke sekolah, bahkan kalo sore-sore sempet ya jemputin juga. Jadi berasa betapa baiknya papaku ini huhu.. dan akunya suka bandel, kalo dijemput papa telat suka ngambek, maafkan anakmu papa.

Sudah biasa buat saya jadi bahan bully-an temen-temen. “Idiihh jauh amat rumahnya”, “Bandung coret yah”, “Ogah, ke rumah Monik entar sampe-sampe ke sana bisa-bisa udah ubanan”. Mungkin sebenarnya selain jauhnya juga, macet jadi masalah di perjalanan dari Kopo ke Bandung. Tapi entahlah.. lagi-lagi macet mungkin juga jadi relatif bagi orang Kopo. Kalo jalanan tersendat-sendat orang udah bilang macet, kita masih bilang lancar merayap. Emang saya juga sempet merasa desperate sama rumah kok ya jauh banget. Lalu si mama akan menjawab panjang lebar sejarah kenapa si papa memilih tempat tinggal di sini. “Dulu ini yaa.. pas mama pertama kali ke rumah ini, sepanjang jalan menuju ke sini itu sawaahh aja.. Mama juga mikir, hah mau tinggal di mana ini.” Baiklah mama.. daku menyerah.. Alhamdulillah juga ya punya rumah. Papa sudah mengambil keputusan terbaik menghuni rumah di Kopo.

Continue reading