Just Learning, Life is Beautiful

It’s Time to be Awesome

Salah satu film favorit anak saya Runa adalah My Little Pony. Pasti yang punya anak cewe tahu tuh. Itu lho kuda-kuda  kecil warna-warni yang saling bersahabat dengan karakter yang unik berbeda-beda. Kalo suami saya komen, “Apa bagusnya lihat film tentang kuda-kuda?”. Yang selanjutnya dicemberutin Runa, haha..

Karena saya sering nemenin Runa nonton, mau gak mau saya hapal juga tuh karakter si poni-poni yang ada enam: Twilight Sparkle, leader-nya, yang bijaksana, penuh pertimbangan, suka banget baca dan belajar. Rainbow Dash, yang percaya diri, berani, jago terbang, loyal pada sahabat-sahabatnya. Pinky Pie, yang ceria, lucu, menggemaskan, suka bikin kejutan dan pesta untuk teman-temannya. Apple Jack, yang jujur, kuat, si pekerja keras yang mengelola punya perkebunan apel dengan keluarganya. Fluttershy, si pemalu, penyayang binatang, dan yang paling lembut pada orang lain. Lalu Rarity, si pemurah, selalu berbagi dengan teman-temannya, stylish dan pintar menata busana/gaya.

Seru juga nonton kuda-kuda lucu tersebut. Kadang ada pelajaran yang bisa diambil dari mereka. Kalau dipikir-pikir mungkin karakter saya ini lebih banyak seperti Twilight Sparkle yang hobinya baca buku dan ngendon di perpustakaan. Saya juga suka terlalu banyak pertimbangan ini itu. Kalau saya belajar dari para poni tersebut, saya ingin bisa memiliki sedikit karakter Rainbow Dash yang percaya diri. Ia tidak pernah meragukan kemampuannya untuk berkompetisi, terlebih ketika ia mendaftar ke Akademi Penerbang ternama di Negeri Poni, Wonderbolt nama akademinya. Ia berani men-challenge dirinya untuk hal-hal yang lebih menantang. Si Optimis yang berani. Beda banget sama saya yang kebanyakan pesimis dan melihat segala sesuatu dari lubang sulitnya dulu, instead of dari kelebihan yang ada.

Di Little Pony the Movie, Rainbow Dash punya theme song sendiri. Ia menyanyikan lagu tersebut untuk menyemangati para awak kapal yang merasa terpuruk dengan kondisi mereka saat itu. Mereka merasa kalau mereka tidak bisa apa-apa, ya sudahlah kerjakan saya apa yang ada, tanpa berjuang lebih untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Padahal aslinya mereka memiliki mimpi yang besar dan punya kemampuan untuk mewujudkan mimpinya. Rainbow Dash, melihat itu. Dan menyemangati mereka dengan lagu ini;

It’s Time to be Awesome 

I know the world can get you down
Things don’t work out quite the way that you thought
Feeling like all your best days are done
Your fears and doubts are all you’ve got

But there’s a light shining deep inside
Beneath those fears and doubts, so just squash ’em
And let it shine for all the world to see
That it is time, yeah, time to be awesome

Ah, ah, ah-ah, awesome!I
t’s time to be so awesome!
Ah, ah, ah-ah, awesome!
It’s time to be so awesome!

You’ve no idea how hard it’s been
This dull routine we’ve been forced to do
Don’t let them rob you of who you are
Be awesome, it’s all up to you
I feel the light stirring deep inside

It’s like a tale still yet to be told
And now it’s time to break the shackles free
And start living like the brave and the bold!
It’s time to be awesome!

We used to soar through the clouds in the skies
Elaborate schemes we would love to devise
We rescued our treasure and stored it away
Saving those gemstones for a rainy day

We see that light filling up our skies
So take the Storm King’s orders and toss ’em
Cause it’s the time to let our colors fly

Bisa cek movie clipnya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=2gUFZCRHHvE

Ternyata bukan hanya para awak kapal itu saja yang merasa terpantik semangatnya. Saya yang ikutan nonton dan mendengar lagunya jadi ikutan semangat. It’s time to rise and shine! Jadilah lagu itu jadi theme song saya juga setiap saya merasa gak semangat. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang percaya diri dan optimis, thank you Rainbow Dash!

 

Life is Beautiful, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Tak Ternilai, bagi Seorang Penulis

Di suatu hari yang mendung, hujan rintik-rintik, dingin menusuk, saya memulai kembali pagi saya. Masih hari yang sama dengan pekan-pekan lalu, di hari Senin. Selesai anak-anak sarapan, kami memulai aktivitas masing-masing. Rasanya berat sekali memulai hari. Saya mengumpulkan semangat dengan menarik nafas panjang.

Oke, katanya kalau harimu terasa berat, mulailah dengan pekerjaan yang paling ringan, yaitu… buka email. Shallow works lah ya, balesin email dan ngurusin yang belom-belom. Soal kerjaan utama, engg.. bentar deh kalo jarinya udah panas dikit.

Pas saya buka gmail (bukan email kantor), ada satu pesan dari yang gak saya kenal, dengan subyek email: Salam Kenal dari Indonesia.

Ternyata emailnya cukup panjang. Saya baca pelan-pelan, menikmati setiap kalimat yang tertulis. Masya Allah, ternyata email dari orang yang tidak dikenal bisa membuat semangat saya muncul kembali. Apa isinya? Si Penulis ternyata adalah pembaca buku saya, Groningen Mom’s Journal. Dia bilang bahwa waktu itu dia ke toko buku, dan gak sengaja menemukan buku saya di rak. Saat itu ia merasa dalam kondisi down dan gagal, dia tahu itu buruk, tapi dia gak punya alasan untuk bangkit. Kemudian dia membaca buku saya, dan menemukan secercah semangat untuk kembali membangun cita-citanya. Dia bahkan sudah membaca buku saya lima kali!

Sampai situ saya sudah menahan napas, apakah betul tulisan saya bisa memberikan impact besar untuk pembacanya? Sekonyong-konyong hati dialiri rasa hangat. Seperti mendapat hangat matahari di saat Groningen sedang dingin-dinginnya sekarang ini (kan lagi musim dingin).

Lalu saya teruskan lagi membaca. Dia juga mengucapkan terima kaish karena telah berbagi inspirasi dan mimpi. Ada selipan doa supaya selanjutnya saya bisa menelurkan karya yang bermanfaat lagi (Kapaaan? Doanya ya guys, semoga bulan Februari ada kabar dari penerbit untuk PO). Si Pembaca buku saya ini juga membagi sebuah link podcast, yang bisa didengar melalui spotify, yang sedang dia garap. Nama podcast-nya Librarian Syndrome. Ia membedah buku GMJ pada episode pertama podcast-nya.: https://open.spotify.com/episode/7xNmCI9X35eY8jR9od5myC?si=uNmIe0xBTeCj2izHjENqeA

Huwaa… saya terharu sekali. Sampai cirambay kalo bahasa Sunda-nya mah, berkaca-kaca. Saya tidak pernah menyangka kalau ada orang yang bisa mengambil manfaat dari tulisan saya yang sederhana. Saya sadar GMJ adalah buku solo pertama saya, tentunya masih banyak kekurangan yang ada. Saya ingat, tujuan saya menulis buku GMJ saat itu hanya ingin merangkum momen kehidupan saya di sini, dan membaginya dengan orang lain. Khususnya untuk keluarga kami kelak nanti bisa kilas balik kembali ke momen tersebut, umumnya bagi pembaca supaya bisa mengambil hikmahnya.

Ada pembaca-pembaca lain yang juga mengirimi saya pesan di email, instagram, facebook, bahkan bertemu langsung, dengan tema yang sama, merasa bisa mengambil hikmah dari buku saya. Saya rasa, dari seluruh rasa yang saya dapatkan dari menulis, inilah hal yang tidak akan pernah terbeli. Buku boleh jadi memberikan keuntungan materi, atau kebahagian moral tersendiri buat penulis karena berhasil menerbitkan karyanya, tetapi mendapatkan hal seperti ini … mungkin tak bisa dicari di mana-mana.

Hari itu membuat saya bersemangat kembali menulis. Bahwa saya masih punya cita-cita menjadi seorang penulis yang bisa menuai amal jariyah, aamiin. Mungkin dengan keilmuan saya sekarang, sebagai seorang apoteker dan mahasiswa S3, saya merasa sangat dangkal, ilmu saya belum bisa saya bagi kemana-mana. Untuk mengerjakan riset saja saya jatuh bangun. Iya ada manfaat bagi saya tentunya, untuk aktualisasi diri, menambah knowlegde saya sebagai researcher. Tetapi untuk berbagi dan bermanfaat? Lain lagi ceritanya. Tapi setidaknya selama saya menjalani peran saya ini, saya bisa sambil menuangkan cerita yang saya punya agar bisa dibaca orang lain, yang bisa mengambil manfaatnya. Aamiin.

Hatur nuhun para pembaca sekalian! You’re the writer’s hero

Life is Beautiful, Project

Resolusi oh Resolusi

Apa kabar 2020? Yes, I know, banyak yang mengungkapkan bahwa 2020 adalah tahun penuh tantangan, penuh perjuangan. Banyak kehilangan, banyak kesulitan, banyak penyesuaian. Saya pun masih berjuang untuk itu. Namun, 2020 pun patut diingat sebagai tahun di mana kita menjadi manusia yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih toleran dari sebelumnya. Insya Allah.

Tiap tahun biasanya kami bikin resolusi. Yaa.. resolusi singkat aja. Tadinya mikir, 2021 gak usah muluk-muluk, bisa menyelesaikan 2020 dengan baik saja sudah Alhamdulillah. Tahun lalu, saya dan suami menempel kertas Resolusi 2020 di depan lemari pakaian. Otomatis hampir tiap hari kami membacanya. Ya kalau gak ngebaca banget paling gak selintas tahu ada kertas resolusi dipajang di sana.

Saya bukan orang yang selalu membagi-bagikan cita-cita saya di khalayak ramai, suami saya sebaliknya. Saya introver, suami ekstrover. List resolusi ini kami simpan baik-baik untuk kami berdua saja. Tapi di penghujung 2020, saya mau nulis ini di blog saya. Sebagai pengingat, bahwa ketika kita punya keberanian untuk menuliskannya, dan kemudian kita baca hampir setiap hari, hal itu seperti memberikan motivasi yang tidak saya sadari. Bahkan seperti menjadi doa, menjadi semangat, dalam menjalani hari. Seperti batu yang ditetesi oleh air sedikit demi sedikit, lama-lama akan lunak juga. Seperti cita-cita yang setiap harinya ditiup oleh doa dan semangat, ada titik di mana ternyata hal tersebut dapat tercapai, Qadarullah.

Tadinya di pertengahan tahun saya baru ngeh, lho ini list yang tercentang baru beberapa poin saja. Lalu tiba-tiba pandemi, banyak rencana berubah, dan sepertinya semakin mustahil untuk menyelesaikan list tersebut sampai di akhir tahun. Gak kebayang gitu, ini belum itu belum, kokkk yaa..

Meski sempat pesimis, tapi masa-masa pandemi ini juga akhirnya bisa terlewati juga. Well ya belum lewat sih, tetapi sudah bisa berdamai dan bersyukur dengan kondisi. Sebelum penghujung tahun, saya cukup surprised bahwa hampir 100% list tersebut bisa saya centang juga. Masya Allah, karena izin Allah.

Oleh karena itu, tahun ini saya akan kembali menuliskan Resolusi 2021. Optimis adalah bagian dari izzah kita sebagai muslim. Insya Allah bisa! Semangat karena Allah, mengejar cita-cita demi kemuliaan dunia dan akhirat, aamiin

Listnya udah dicorat-coret Runa karena dia penasaran ini apaan sih

Tahun ini kertas Resolusi 2021 kami tempel juga di lemari pakaian, masing-masing milik saya dan suami. Menariknya, Runa juga kami ajak untuk menuliskan resoulsinya. Eh Runa malah semangat. Resolusi Runa juga ditempel di lemari baju di kamarnya.

Bismillahirrahmaanirrahiim semoga dimudahkan. Semangat 2021!

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Melawan Kebatilan

(postingan yang telat diposting, udah dari pekan-pekan lalu, tapi gakpapalah ya, daripada enggak sama sekali)

Baru-baru ini ada kasus tak menyenangkan terjadi di Prancis. Saya singkat aja ya ceritanya. Jadi ada seorang guru di sekolah menengah atas yang memberikan pelajaran mengenai freedom of expression dengan cara memberi contoh kartun Rasulullah SAW. Kartun atau karikatur tersebut kalau tidak salah merupakan karya dari Charlie Hebdo yang heboh sejak 2006 silam, lalu muncul lagi di tahun 2013. Menurut sang guru, kartun yang menggambarkan sosok paling mulia di bumi adalah salah satu contoh kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Padahal ia tahu ada siswa muslim di kelasnya. Tapi ia tetap melakukannya. Tentu hal tersebut menyinggung sang murid. Lalu berikutnya ternyata sang guru ditemukan terbunuh mengenaskan oleh muridnya tersebut.

Sebuah peristiwa yang sangat miris. Miris karena penghinaan yang dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Miris karena penghinaan tersebut dibalas dengan darah. Setelah itu Perdana Menteri Prancis, Macron, mengeluarkan statement yang membuat umat Islam di Prancis semakin terpojok. Katanya kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sah-sah saja sebagai kebebasan berpendapat. Setelahnya kartun tersebut malah dipajang di beberapa tempat, dengan alasan kebebasan tadi. Umat Islam semakin terpojok dengan adanya isu islamphobia.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim di Eropa khususnya? Yang posisinya dekat dengan Prancis. Saya pun mau gak mau jadi merasa takut juga kalau ada islamophobia yang berujung diskriminasi. 

Tapi sebelum ke sana, pertama kita lihat dulu bagaimana dengan adanya penghinaan tersebut? Apa yang kita rasakan jika ada orang yang menghina Rasulullah SAW?

Continue reading “Melawan Kebatilan”
Journey, Life is Beautiful

Terpaksa Nanjak dan Turun

Liburan naik gunung, hiking, trekking, apalah namanya (saya gak tahu bedanya), sambil berburu foto-foto landscape yang cantik mungkin jadi ambisi suami sejak kapan, Qadarullah baru kesampaian summer 2020 ini, trip ke Switzerland (Lauterbrunnen dan sekitarnya, Engelberg dan sekitarnya). Istrinya yang jiwa petualangnya mengkeret setelah punya dua anak agak susah diajak berkoordinasi. Makanya saya bebaskan saja suami untuk menyusun itenerary ke mana, pokoknya saya ngikut aja. Tiba-tiba hari ini trekking 4 km PP, besoknya melewati jembatan dan terowongan air terjun, besoknya naik cable car ke atas gunung, dst.

Pinginnya selalu bisa merangkum trip di blog, tapi apa daya, kadang suka skip. Udah banyak trip-trip yang catatannya tertunda ditulis, sampai sekarang udah lupa jadinya. Tujuannya nulis di blog, ya biar inget, oh dulu pas nge-trip gini dan gitu, kesannya apa, bisa terekam terus jejaknya.

Jadi saya nulis segini dulu aja, sama sedikit foto. Klau mau lihat hasil foto-foto landscape yang bagus selama di Switzerland, bisa dicek di akun IG suami aja: @fbprasetyo.

Selama diajak membolang naik-turun gunung, sebenarnya ada secuil rasa enggan dibalut keterpaksaan. Haduh nanti capek, haduh berat naik ke atas, haduh kasian nanti anak-anak gimana, dan haduh-haduh lainnya. Maap anaknya suka pesimisan dalam situasi yang menantang. Jadinya dalam perjalanan naik dan turun saya banyak berzikir aja, supaya lancar selama hiking, sekaligus memuji keindahan alam yang dilewati selama perjalanan. Dan saya juga jadi (sok-sokan) berfilosofi.

Berikut foto-foto pendakian kami:

Journey, Life is Beautiful

Menyambut Syawal

Selamat Idul Fitri 1441 H.
Taqobbalallahu minna wa minkum.
Mohon maaf lahir dan batin.

Fajar, Monik, Runa, Senja

Dari ‘Aisyah RA, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, kerjakanlah amalan-amalan yang kalian mampu, sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling disenangi Allah adalah yang berkesinambungan, walau itu sedikit.” (HR. Bukhari).

Semoga Ramadan yang telah berlalu tidak membuat rutinitas ibadah yang dibangun selama Ramadan ikut pergi. Namun malah menjadi bekal bagi kita untuk menghadapi 11 bulan ke depan, menjadi manusia yang terus memperbaiki diri. Aamiin..

Coba dicatat amalan dan ibadah rutin apa yang selalu dilakukan ketika Ramadan dan kiranya bisa diteruskan di bulan ini, bulan berikutnya, dan seterusnya? Ibadah-ibadah yang terasa mudah dilakukan di bulan Ramadan memang rasanya lebih berat dijalankan di luar Ramadan ya, entah kenapa. Bisa karena memang setan-setan udah bebas berkeliaran, bisa karena tidak ada dukungan komunitas (maksudnya kan kalo Ramadan komintas terdekat kita ya  puasa, tarawih, berlomba-lomba melakukan kebaikan), bisa karena kurangnya strong will di dalam diri sendiri, yang menyebabkan diri ini jadi berleha-leha. 

Bismillah … semoga istiqomahnya tetap terjaga di bulan Syawal dan seterusnya. Meski targetan ibadah tidak se”ambisius” di bulan Ramadan, namun setidaknya bisa meninggalkan jejak keistiqomahan, aamiin.

Just Learning, Life is Beautiful

Hikmah di Balik Musibah

Kalau ditanya apa hikmah di balik musibah, ternyata hikmah yang dipetik ga cuma satu, dua, tapi mungkin puluh-puluhan, tak terhitung. Sama seperti nikmat yang Allah berikan pada manusia tidak bisa terukur.

Alhamdulillah Forum Komunikasi Netherlands (ForKom NL), gabungan dari perkumpulan muslim Indonesia di Belanda, mengadakan kajian rutin online tiap minggunya. Dengan pengisinya ustadz-ustadz mumpuni, Masya Allah. Ternyata termasuk kegiatan yang saya tunggu-tunggu tiap minggunya. Setelah dalam seminggu berkutat dengan kesibukan work-from-home, bolak balik masak, memantau pe-er Runa, ngajak main anak-anak, beres-beres lagi, gitu terus muter. Lelah kadang, tapi begitu ketemu weekend ada leganya. Setidaknya ada agenda bergizi untuk diikuti.

Kajian minggu ke-2 adalah dari Ust. Oemar Mita, mengenai hikmah di balik musibah. Apa yang dipaparkan Ust. Oemar Mita bikin saya merasa ditampar bolak-balik. Malu, cuma segini-gininya aja jadi makhluk.

Saya rangkum catatan kajiannya di sini, biar tidak lupa.

Pandemik corona ini adalah musibah. Setiap manusia akan mendapat musibah. Yang membedakan antar tiap manusia adalah waktunya dan kadarnya. Ujian corona ini mungkin bentuknya gak sama bagi tiap manusia.

Ketika di dunia, bisa jadi kita menangis, banyak air mata keluar karena ujian dan musibah. Tapi air mata kita akan kering di akhirat nanti insya Allah.

Apa bedanya azab, ujian, musibah? Continue reading “Hikmah di Balik Musibah”

Life is Beautiful

Life in the Time of Corona

Assalamu’alaikum bloooggg..

OHHHH I MISS YOUU SOO MUCCHH!!

Napa eike ga nulis-nulis lagi siih? Syebel eike juga sama diri sendiri, yang gak bisa menyediakan waktu untuk nulis. Betapa kangen jari-jari saya menuangkan apa yang ada di kepala dan hati.

Apalagi saat ini dunia dalam kondisi krisis. Darurat. Pandemik. Udah kayak mau akhir zaman (ya memang mungkin udah mau kiamat, Walllahua’lam). Tapi Allah memang Maha Kuasa, Pemilik segala di langit dan bumi, Yang bisa membuat segala-galanya mungkin. Kita sebagai manusia merasa sangat lemah, lemah sekali.

Sebenernya kali ini saya nulis juga gak tau mau nulis apa. Saya lagi kebagian jatah bisa kerja tanpa gangguan anak-anak. Suami lagi jagain anak-anak di bawah. Setengah jam lagi saya ada meeting  sama Si Ibuk spv. (Rasanya) saya sudah cukup menyiapkan bahan diskusi, dan malas buka-buka lagi, belum ada update-an untuk dikerjain lagi. Terus tetiba saya ingin membuka blog.

Selama hampir sebulan ini hidup terasa ups and downs, aneh, parnoan. Tapi yang jelas aneeh banget, aneh.

Sebagai orang yang ambivert. Saya merasa hepi-hepi aja ada di rumah, ga mesti ngantor, dan ketemu banyak orang. Tapi di sisi lain, kok ada sesuatu yang hilang ya, ternyata saya juga ingin ngomong dan didengar, ingin mendengar dan menatap wajah orang secara langsung, ingin berkumpul.

Tadinya saya merasa gak masalah untuk work from home sama sekali. Malah untung, bisa kerja dan tetep bisa membersamai anak-anak. Bisa buka-buka laptop dan gantian shift kerja sama suami, sambil bisa masak, beres-beres rumah. Bisa sambil curi-curi selonjoran dan baca buku favorit sambil minum kopi. Tapi lama-lama kok saya merasa agak tertekan. Kerjaan suami yang lebih urgent  dan butuh telepon dan online setiap waktu membuat saya jadi merasa gak bisa dapat waktu khusus untuk kerja. Masak, beres-beres, tidak ada habisnya. Pe-er sekolah Runa harus dicek, sekolah jarak jauhnya, ngaji, dan hapalannya. Eh kok hapalan dan ngaji sendiri keteteran. Kok malah ga menikmati baca buku karena kalo ada waktu luang tentu dipake untuk buka kerjaan. Continue reading “Life in the Time of Corona”

Life is Beautiful

A New Start: 2019

Bismillah..

Tadinya mau nulis sedikit (mudah-mudahan emang jadi sedikit, kebiasaan kalo nulis suka kemana-mana ga bisa berhenti). Besok udah mau mulai kerja lagi, kuliah lagi, baca paper lagi, mantengin laptop lagi, duduk di kursi panas lagi, anter-jemput anak lagi, masak kilat lagi, dst dst.. Intinya mamak kudu setrong lagi, setelah liburan “cuma” 2 minggu. Meski kami ga banyak jalan-jalan ke mana gitu. Tapi momen akhir tahun banyak bikin saya kontemplasi. Mulai dari sakit bergiliran sekeluarga, deadline tiba-tiba di akhir tahun (harus disyukuri juga sih), juga kerjaan suami yang nambah. Rasanya pingin loncat indah sambil kayang.

Tapi yaa.. meski rasanya saya awalnya selalu merasa dalam posisi mengasihani diri sendiri dan nelangsa, tapi ternyata setelah mau masuk kerja lagi, saya baru menemukan energi baru, semangat baru, untuk membuang pikiran negatif saya ini. Banyak faktor, banyak ketemu orang (oiya liburan kali ini kami manfaatkan untuk lebih banyak silaturahmi juga), banyak momen, dll. Yang pasti, I’m fed up of being the victim (dari pikiran saya sendiri), yang selalu bikin saya: merasa “gak pantes” untuk jadi mahasiswa S3, merasa bersalah sebagai emak beranak dua tapi sibuk ngampus, dan pikiran jelek lainnya. Gusti Allah, maafkan hamba.

Betul untuk berubah gak butuh perubahan tahun, bisa kapan saja. Tapi untuk berubah butuh momentum juga. Kadang kita menunggu momen untuk berubah. Ya, manfaatkan saja yang ada sekarang. Mungkin ini memang kebetulan.

Utamanya saya ingin lebih menikmati peran saya di semua bidang, jadi mahasiswi, jadi ibu, jadi istri, jadi anak. Cem pria macho yang ada di iklan rokok gitu deh, hidupnya enjoy aja.

Lalu saya ingin lebih mengapresiasi diri saya sendiri. Berhenti mengasihani diri sendiri. Selama ini saya kok saya merasa banyak ngeluh. Sok-sok jadi tokoh drama korea gitu. Jemput anak naik sepeda, sambil hujan-hujanan, sebelumnya baru dibejek sama supervisor, perut melilit belum makan nasi dari pagi, pulang-pulang kudu masak. Terus dalam hati, Ya Allah kok saya kasihan banget ya. Pingin nangis cantik deh. Kalo Song Hye Kyo di Endless Love, sih iya cantik nangisnya, bikin yang nonton ikut terbawa termehek-mehek, menjual beud. Lha gueee.. mau nangis dramatis mengasihani diri sendiri kaga ada guna beib.

Jadiiii… 2019 I’m comiiinnngg!

Bismillahirrahmaanirrahiimm…

I’m happy doing my job and I’m happy being myself!

Mengutip lagu kesukaan Runa sekarang ini: Buat apa susah, buat apa susah, susah itu tak ada gunanyaa…

Just Learning, Life is Beautiful, Trash = Relieved

Belajar Memaafkan dari Anak Kecil

Runa punya banyak teman. Ia senang sekali bermain sama teman-temannya. Tapi namanya juga bermain, kadang ada hal-hal yang bikin anak-anak ini berantem atau marah-marahan. Tipe anak emang beda-beda sih. Ada yang usilnya ga ketulungan, ada yang dominan dan suka ngatur-ngatur, ada juga yang cengeng. Ujungnya satu ada yang ngambek, satu ada yang nangis, atau satunya lagi merasa sebal. Kadang mereka bisa menyelesaikan sendiri masalahnya dan baikan. Kadang butuh orang tua juga yang memediasi mereka, untuk saling minta maaf, salaman, lalu berpelukan. Awalnya sih pada gengsi, tapi lima menit kemudian, eh mereka udah main-main lagi kayak biasa, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Besok-besoknya pun mereka gak ada yang mengungkit-ungkit peristiwa yang bikin mereka berantem.

Saya pun memperhatikan Runa dan kawan-kawannya seperti itu. Runa termasuk anak yang cengeng, kalau adu bodi atau adu mulut, pasti dia yang mewek duluan karena ga bisa ngelawan. Kadang saya gemas sih liat Runa, kok lebih mudah nangis daripada melawan. Tapi kemudian saya berkaca pada saya sendiri, dulu waktu kecil saya lebih parah cengengnya. Bahkan kalau ketemu sama saudara/om/tante yang pernah kenal saya pas kecil, komentar mereka pasti: “Monik nih dulu kecilnya cengeng banget, mangkanya orang seneng banget bikin monik nangis.” Okelah, mungkin gen cengeng itu menurun dari saya. Sampai sekarang saya juga bawaannya mellow dan gampang terhanyut (kaiiin kali hanyuut). Continue reading “Belajar Memaafkan dari Anak Kecil”