Cerita Runa, Motherhood

Terima Kasih Bapak AT. Mahmud

Runa seneng banget sama lagu dan musik. Dari sejak masih seumur jangung sampai (ga terasa) sekarang mau 2 tahun Runa sering didendangkan lagu-lagu sambil dininabobo, dicupcup kalo lagi nangis, atau dinyanyiin sambil diajak main.. Entah itu sama Anin-nya dan Uti-nya (nenek), sama Oma-omanya (adik-adiknya mama), sama Mimo-nya (Umi Morin), dan tentu saja sama Bundanya hehe.. Walaupun suara Bundanya bisa dibilang sebelas dua belas-lah sama Raisa, Runa tetep seneng dinyanyiin Bundanya :9.

Tentunya lagu-lagu yang dinyanyiin lagu anak dong (Menurut loowh? Runa mau dinyanyiin lagunya Bang Oma?). Saya jadi nostalgia lagi sama masa kecil saya. Mama dari dulu memang suka nyanyiin macem-macem lagu anak populer Indonesia. Sampai sekarang masih banyak lagu yang saya ingat dan hafal. Mungkin karena lagunya sederhana dan liriknya ringan..  Dan itu tuh “anak2” banggeed. Sangat mencerminkan dunia anak. Ga kayak sekarang lagu anak isinya cinta-cintaan.. “Kau bidadari.. jatuh dari surga..” Walaupun tidak dapat dipungkiri emak-emak pun suka sama Iqbalnya lagunya Coboy Junior. Gak cocoklah untuk anak-anak lagu-lagu cem gitu

Continue reading “Terima Kasih Bapak AT. Mahmud”

Mommy's Abroad, Motherhood

Is It Hard?

You’re doing a master while taking care of your family, is it hard?

Beberapa temen di kampus sempet melontarkan pertanyaan seperti itu. Hmm.. dan jawaban saya pun cuma.. “Yaaa.. it seems hard, but I’ll try”. Bukan jawaban yang menjanjikan.

Beberapa dari mereka cukup heran juga, oh are u already married? oh u have a daughter? Mungkin bukan sesuatu yg biasa gitu kali ya untuk mereka sekolah sambil mengurusi anak yang masih kecil. *Emang buat saya juga ini ga biasa*. Karena kebanyakan dari teman-teman saya yang lanjut master di sini itu masih fresh graduated dari bachelor-nya, ada juga yang udah beres masternya di bidang lain dan lanjut di bidang ini (rajin beut ya), atau memang lagi ambil short course. Kalo mahasiswa PhD di sini yang udah menikah dan punya anak  cukup banyak, jadi mungkin terlihat lebih wajar.

Entah yang bikin herannya itu apakah poin saya sudah menikah (karena mereka pikir saya masih umur 20an *sok muda*, etapi bener lho orang Asia itu emang tampak lebih muda), saya sudah punya anak (untung ga disangka teen pregnancy), atau saya sekolah S2 sambil punya anak. What is your goal? Tujuan saya, ya belajar. Bukan cuma belajar dari bangku kuliah, tapi belajar hidup di sini, belajar membentuk pola pikir, dan belajar “memajukan” diri sendiri, karena ilmu ga ada batasnya (ceileh, sok asik banget kayanya ngemeng gitu) Continue reading “Is It Hard?”

Love.., Motherhood

My Name is MOM….

Mau sharing status yang dicopas dari grup ah..

My Name is MOM….

The telephone’s ringing, the TV is blaring.Sister is crying’ cause Brother’s not sharing. There’s a spill on the carpet that no one will claim.
There’s no time for sitting when Mommy’s your name….

The laundry is folded but not put away.The dishes you just washed are from yesterday. Without any warning your relatives came and see all the mess, They may think you careless in taking care your kids n house..and there’s no getting caught up when Mommy’s your name….

You drive to the market, you drive to the school. ……You drive to the cleaners, you drive the carpool…..You drive yourself crazy, it’s really a shame…
There’s no time for resting when Mommy’s your name….

To your bedroom you sneak to find peace for a minute, but your minute is over before you begin it. Your little one finds you and thinks it’s a game.
There’s no time for hiding when Mommy’s your name….

At night as you kneel to thank to Allah Azza wa jalla for everything and forgive all mistakes you have done… Suddenly An angels creeps in and says, “Mommy, I love you.”

You may not know glory or fortune or fame, but you are lucky when mommy is ur name!!!

Cerita Runa, Info for Motion, Just Learning, Lifestyle, Love.., Motherhood

MPASI Runa (2) – Fakta

Nah nah nah.. Jadwal MPASI yang saya jembreng sebelumnya akhirnya ga sesuai sama sekali. Ada beberapa sih yang masih sesuai menu, tapi pokoknya berubah deh smuanya.. Beberapa hal yang berubah antara lain:

  1. Runa memulai MPASI gak pas 6m TENG, tapi 3 hari lebih cepat dari jadwalnya. Kenapa? Bukannya ga sabaran sih. Jadi kan sebelumnya kita sempet main-main ke Bandung dan nginep selama 3 hari. Pulang dari Bandung, eh Runa kumat lagi kebiasaan lamanya mogok mimik sama bundanya, lebih milih jari. Aku kaaan ceuuudiiiihhh.. Terus, takutnya nih, Runa rewel karena lapar, ya udah saya cobain MPASI aja, sapatau dengan dijejelin makanan baru dia jadi lebih mau mimik *entah teori dari mana*, lagipula saya juga ngasihnya cuma 3-5 sendok makan bayi doang. Ah gapapa dah cuma beda 3 hari inilah, ga usah saklek amat
  2. Ga strict aturan 3-4 hari tunggu untuk reaksi alergi. Ah yaudah deh.. bisi Runa bosen makan itu selama 4 hari, terabas aja deh ganti menu. Terus nyampurin beberapa bahan sayuran di buburnya, heuheu..
  3. Penahapannya ga sesuai jadwal. Di rencana awal saya ngasih MPASI hanya pagi saja, dan 2 minggu setelahnya baru dikasih pagi dan sore. Faktanya, sejak awal MPASI saya ngasih Runa 2x makan pagi-sore. Alasannya.. karena Runa makan paginya dikiiiit, ga salah dong ditambah porsinya pas sore.
  4. Akhirnya ngasih juga biskuit bayi instan karena satu dan lain hal, huehue..

Boleh dilihat nih jadwal real MPASI Runa:

mpasi Runa real

dan cuma kecatet sampai tangga; 11 Agustus, hehe.. Ya sudahlah,, emang ribet sih.. tapi Alhamdulillah Runa makannya lancar, walaupun kadang dia rada susah makannya. Sejauh ini menu favorit Runa adalah pure kentang + brokoli, variasinya kadang ditambah kaldu, kadang ditambah wortel.. Nanti deh resepnya saya share, cetek sih sebenernya mah.

Melalui MPASI dan perjalanan makan Runa selama ini saya belajar bahwa:

kadang kita tidak bisa strict to the rules. Aturan mungkin bisa kita pegang untuk panduan, tapi ada kalanya kita harus fleksibel demi menyesuaikan kebutuhan anak dan kondisi yang ada. Kadang kita gak bisa memaksakan kehendak dari aturan yang kita pegang. Ada lingkungan sekitar kita yang ikut berperan dalam berjalannya proses tersebut, ada mama yang selalu “setia” memberi kritikan dan saran, ada tante-tante, tetangga. Pengalaman empiris mereka tidak dapat kita tolak begitu sahaja, heuhue.. Walaupun kita tahu itu tidak sama dengan “paham” yang kita pegang, ya berusahalah nrimo dan sebisa mungkin menyesuaikanlah.. tapi dengan catatan tidak keluar jalur banget.

Beginilah pengalaman MPASi Runa sebulan pertama. Susah-susah gampang.

Cerita Runa, Info for Motion, Journey, Lifestyle, Motherhood

MPASI Runa (1) – Rencana

Saat-saat MPASI memang ditunggu-tunggu, kayaknya seru gitu nyiap-nyiapin makanan terus nyuapin anak. Kayak main rumah-rumahan pas waktu kecil, hehe..

Karena ingin menyiapkan MPASI yang terbaik untuk Runa, mulailah saya searching-searching berbagai sumber bagaimana memulai MPASI, menu MPASI, perlengkapan MPASI, dan lain sebagainya. Awal-awal rasanya kok rempong ya buat mulai makan aja banyak banget harus belajarnya. Yah, namanya juga ibu baru, takut ada yang salah-salah, kasihan juga anak jadi bahan percobaan.

Selain dari internet, dari grup di facebook, dan tanya kanan kiri, saya juga nyari buku yang enak buat dibaca. Teuteup ga lengkap kalo ga megang buku ga afdhol. Akhirnya saya beli buku MPASI Perdana Cihuy! dan 60 Variasi Bubur Saring Sehat, belakangan saya tambah koleksi buku MPASI saya dengan buku HomeMAde Healthy Baby Food.

Banyak variasi dalam memulai MPASI, ada yang ngikut panduan dari WHO, ada juga yang ngikutin skema food-combining (FC). Saya mah sebenernya fleksibel sih mau yang mana aja. Poin penting yang saya catat:

1. TEKSTUR

untuk awal, tekstur makanan jangan terlalu encer ataupun kental. Patokannya: sendok dimiringin, makanan tidak langsung tumpah

2. JUMLAH

Kan katanya bayi 6-9 bulan tu baru belajar makan. Sumber makanan utama tetep ASI, mangkanya makanannya pun disesuaikan dengan selera bayi, jangan dipaksa, dan ditingkatkan jumlahnya secara bertahap. Awal MPASi dumulai dengan 2-3 sdm, lanjut sampai setengah mangkuk ukuran 250 mL untuk 6-9 bulan, dan setengah mangkuk untuk  9-12 bulan.

3. VARIASI

Nah ini nih yang macem-macem pendapat.

  • Pilihan tepung beras/serealia dulu karena tingkat  alerginya rendah
  • Pilihan sayur dulu (sebelum buah) karena kalau buah duluan dikasih (rasanya manis), takutnya anak nanti jadi ga suka sayuran karena rasanya lebih hambar
  • Pilihan buah dulu karena rasanya enak dan buah mengandung gula yang mudah dicerna bayi.

Catatan: pengenalan makanan dilakukan bertahap, diberikan secara single dengan aturan tunggu 4 hari untuk melihat adanya alergi pada bayi.

Nah, tapi ada panduan terbaru dari WHO nih, katanya variasi makanan dikenalkan sejak dini: karbo, sayuran, protein nabati, protein hewani, buah. Bahkan daging merah dan kaldu diberikan saat 6,5 bulan supaya mencegah bayi kekurangan zat besi yang pada umumnya memang kurang didapatkan dari MPASI pertamanya.

Berbekal dari sana saya pun menyusun jadwal seperti ini untuk Runa

MPASI RUNA 6m+

Tanggal 19 Juli TENG Runa 6 bulan dan MPASI-nya dimulai.. tapi eh tapi.. manusia memang punya rencana tetapi Tuhan yang menentukan, mau nyusun jadwal segimanapun, tapi kalo akhirnya berbelok dari jadwal  karena satu dan lain hal ya mau bagaimana lagi..

Akhirnya saya ga strict to the rule yang saya pegang dan saya buat. Gapapa deh yang penting Runa sehat. Next, saya ceritain perjalanan MPASI Runa dalam sebulan ini 😀

Lifestyle, Motherhood

Super Woman, Super Wife, Super Mom, .. Super Tired

Temen saya pernah bilang: “Saat menjadi ibu, cita-cita kita akan menjadi lebih sederhana”

Akhirnya sedikit banyak saya memahami juga maksud perkataannya.

Ketika menjadi ibu, kita mengemban tanggung jawab lebih besar, pada anak, pada suami, pada urusan rumah tangga. Suami, orang tua, dan orang-orang di sekitar kita pun mengharapkan kita menjadi sosok seperti Andra and the Backbone (Sempurna, maksudnya). Apa yang kita kerjakan dinilai, apakah si anaknya sehat, apakah rumahnya bersih, apakah bisa mengurus suami dan anak, dll.

Emang ga gampang seperti yang terlihat. Tentunya sebagai ibu juga kita harus bisa menyingkirkan ego kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat bagi keluarga. Akhirnya sebagai pilihan, saya mending resign (dulu) deh, di rumah dulu aja, ngerjain hal-hal berbau keibuan dan kerumahtangga-an yang kadang suka dipandang sakiceup mata.

Ga ada deh yang namanya bangun tidur sesuka hati, ga ada deh yang namanya kelayapan pulang malem habis jalan-jalan, ga ada deh ngemall dari pagi sampe malem (btw sapaa juga yang mo ngelakuin gitu?). Waktu single kebanyakan yang kita pikirkan adalah: hari ini saya mau apa, saya mau beli apa, saya mau ke mana, semuanya serba saya. Sedangkan saat sudah menikah dan punya anak prioritas pertama adalah hari ini anak mau makan apa, mau disiapin apa.. terus ditambah urusan rumah tangga, hari ini mau masak apa buat si ayah, mau beberes ini itu, dll, apalagi kalau tanpa asisten rumah tangga. Continue reading “Super Woman, Super Wife, Super Mom, .. Super Tired”

Love.., Motherhood

Repost – About IRT – dari Ust. Felix Siauw

1. saya masih ingat beberapa tahun lalu sebelum Muslim | papi sempat menasihati saya perihal “Ibu Rumah Tangga”

2. “lix, selama papimu masih bisa mencukupi keluarga, mamimu tugasnya di rumah” | tegas papi berpendapat soal IRT

3. padahal saat itu isu feminisme sedang santer | wacana wanita karir sedang panas-panasnya | arus genderisme mewabah

4. tapi papi tenang aja lalu menyampaikan | bahwa dia ingin yang terbaik bagi anak-anaknya | dan itu berarti perhatian full dari ibu mereka

5. hidup kala itu tidak mudah, dan akal lebih mudah seandainya mami bekerja | tapi papi sudah mengambil pilihan, dan itulah yang ia jalani

6. karena semua manusia punya pilihan | apa yang didapat dan apa yang dikorbankan | semua selalu tentang pilihan

7. sebelum Muslim pun saya tumbuh dengan memahami | lelaki dan wanita tidaklah sama | mereka punya kelebihan di bidang masing-masing

8. posisi ibu dalam dunia anak itu tidak tergantikan | perhatian seorang ibu pada anaknya takkan terbeli sebanyak apapun harta

9. dan posisi ibu itu tidak bisa diulang kembali | karena umur anak takkan bisa diputar lagi

10. maka ketika memilih calon ibu dari anak-anak kami syaratkan | “maukah engkau menjadi fulltime-mother bagi anak-anak?”

11. “saya nggak mau ketika anak dewasa lalu bermaksiat, kita menyesal ‘mengapa dulu tidak habiskan lebih banyak waktu bersamanya?!'”

12. itu pemahaman sebelum Muslim | saat sudah mengenal Islam | kami memahami betul Islam paling memuliakan wanita

13. feminisme menjadikan materi sebagai standar sukses | wajar bila mereka merasa dunia tidak adil | karena materi jadi penanda sukses

14. feminisme menganggap waniat modern harus lebih mirip lelaki | bahwa bila wanita tidak bekerja maka wanita akan direndahkan

15. feminisme sukses mendidik wanita melihat kesuksesan sebagai | punya penghasilan tinggi, gelar seabrek, mobil mewah, buka aurat dll

16. wajar hasilnya di negara-negara asal feminisme | wanita jadi lebih malas berkeluarga apalagi memiliki anak | kerja lebih asyik

17. menurut pandangan feminis | IRT itu perendahan martabat perempuan, tidak modern, perbudakan terhadap wanita

18. wajar di negara-negara yang vokal feminisme | perceraian pun memuncak | karena tidak ada satu pemimpin dalam keluarga

19. US misalnya yang jadi kampiun feminisme | angka perceraian mencapai 50% per 2012 sila rujuk http://t.co/OUvEkdUY8L

20. “nearly 80% cited financial problems as the leading cause of the marital demise” (Carr, 2003, p.10) | http://t.co/zQFsyYQuqe

21. feminisme mangaburkan fungsi ayah dan ibu dalam rumah tangga | hanya semata-mata demi mendapat lebih banyak materi

22. akhirnya meningkatlah angka single parents http://t.co/k9eNybXtq7 | dan jelas broken home http://t.co/yUvU499gT9 http://t.co/qAjjFfHBQJ

23. banyak juga studi-studi yang menperingatkan | sangat sulit untuk memadukan ibu dan karir sekaligus | http://t.co/mu5t6N2u3m

24. sebagai tambahan, US yang melahirkan gerakan feminisme saja | sudah banyak bermunculan gerakan anti-feminisme sebagai gantinya

25. di US, sudah banyak wanita sadar bahwa feminisme mengorbankan keluarga | mereka ingin kembali menjalankan peran ibu rumah tangga

26. karena seberapa banyak waktu pun yang didedikasikan untuk mendidik anak | tiada pernah akan ada waktu yang cukup untuknya

27. “saya ibu sekaligus karyawan, anak saya baik-baik saja” | di-sambi aja sudah baik, apalagi bila fulltime-mother? tentu sangat baik 😀

28. lalu pertanyaan prinsipil | “apakah Islam melarang wanita bekerja?” | “apakah wanita tidak boleh berpendidikan tinggi?”

29. dalam Islam hukum wanita bekerja itu mubah (boleh) | sedangkan menjadi “ibu dan pengelola rumah tangga” itu kewajiban

30. jadi sah-sah saja wanita memilih bekerja | namun beres juga kewajibannya | tentu bila dia lebih memilih yang wajib, itu yang utama

31. hidup memang perkara pilihan | dan Islam memerintahkan untuk memaksimalkan waktu ibu untuk anak-anaknya | urusan uang biar ayahnya

32. bagaimana dengan wanita yang ditinggal suami apapun alasannya | maka bekerja menafkahi anak tentu amal pahala besar baginya 🙂

33. maka karir terbaik wanita | adalah menjadi ibu sepenuhnya

34. tentang pendidikan? | tidak bosan-bosan saya sampaikan | bahwa seorang ibu HARUS terdidik sempurna, tinggi dan luasnya

35. bahkan wanita Muslimah WAJIB lebih terdidik daripada lelaki | karena ialah madrasatul ula (pendidikan pertama dan utama) anak-anaknya

36. maka jangan tanya “untuk apa pendidikan tinggi bila hanya jadi IRT?” | jadi IRT justru perlu pendidikan tinggi

37. karena di tangan kaum ibu generasi Muslim berada | bukan di tangan ayah generasi Muslim dibentuk

38. banyak wanita yang sebetulnya bisa menggapai dunia lebih dari lelaki | tapi mereka mengorbankan segalanya demi anaknya | MULIA

39. dari ibunda MULIA semisal itulah | menjadilah Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad

40. rata-rata ulama besar menghabiskan masa kecil dalam yatim | ibu merekalah yang mendidik dan mendaras Al-Qur’an setiap waktu

41. sembah sujud kami pada Allah yang selalu menjaga dunia dengan para ibunda MULIA | yang mau mengorbankan semua buat kami anak-anaknya

42. hormat khidmat kami padamu wahai ibu | yang gadaikan semua waktu tanpa sesal dan keluh | membina kami jadi yang terbaik dalam agama

43. pada para bunda MULIA doa kami | “Wahai Tuhanku, kasihilah keduanya, sebagaimana keduanya TELAH MENDIDIK AKU WAKTU KECIL” (QS 17:24)

44. kembali lagi semua masalah pilihan | part-time mother or full-time mother? | you decide 😀

Motherhood, Project, Trash = Relieved

Seminggu Sekali

Huwaaahh..

Gapapa sih cuma pengen huwah aja, hehehe.

Baru baca ‘Madre’nya Dee. Ceritanya unik, hebat Dee yaa.. bisaan bikin cerita dengan tema yang biasa menjadi luar biasa. Dari cerita tentang roti aja bisa dibikin semenarik itu, bahkan dijadiin film. Pengen nonton filmnya (ada Vino Bastian gituhh :-*), apa daya buntutnya belom bisa diajak ke bioskop, hehe.. Jadi untuk sementara cukup terhibur dengan adanya tv kabel sama buku-buku aja.

Di dalam cerita Madre itu, tokoh utamanya bernama Tansen punya kehidupan yang bebas, tidak terikat, suka-suka, ga berutinitas. Dipikir enak bener yah hidupnya, santeeey gitu, tanpa pressure. Yang saya suka dari kebiasaan Tansen ini, walaupun dia ini hidupnya serabutan dan ga punya jadwal rutin tapi dia punya satu-satunya kebiasaan yang dia pelihara dengan baik, nulis blog!

Yep si Tansen ini setia mengupdate blognya walaupun hanya seminggu sekali. Katanya itulah rutinitas satu-satunya yang dia pelihara. Kalau serabutan adalah penyakit, maka blog ini adalah obatnya -begitu dia bilang.

Dari kalimat tersebut saya jadi tergelitik. Dan kebiasaan Tansen itu bikin saya jadi termotivasi. Bener sih. Selama ini saya nulis buat apa? buat terapi.. Terapi dari penyakit kejiawaan akut saya. Tapi terapinya ga saya jalankan dengan baik, pantes saya ga sembuh-sembuh, hahaha.. Selayaknya minum obat yang harusnya diminum teratur, pas ga dikonsumsi teratur malah makin sakit.

Oke, saya sih yang selalu banyak beralasan pada diri sendiri dengan berkata dalam hati. Ah capek hari ini seharian sama Runa ga bisa buka lepi, ah pegel cucian lagi banyak, ah hari ini udah masak ga sempet nulis, ah koneksi internet odong-odong jadi susah buka wp.

Sebaiknya saya sudahi saja beralasan ini dan mulai menjalankan terapi terbengkalai ini. Dan memulai proyek penataan diri yang dimulai dengan seminggu sekali. Toh waktu itu saya menetapkan target untuk menulis straight 12 hari bisa terlaksana juga.

Mungkin memang ga banyak yang bisa saya sharing. Mungkin cerita saya juga ga menarik dan menantang, seperti berlayar ke Raja Ampat pake rakit, memanjat menara eiffel, atau berski di pegunungan alpen dengan baju renang. Cuma kehidupan ibu rumah tangga yang baru resign dan merasakan seharian di rumah ngurus bayi, masak, beberes, sambil ngejalanin bisnis online yang lagi bertumbuh. You bet my life is so boring, right? But whatsoever.. I kinda enjoy it. And it’s time for me to have a simple and healing routinity once a week. Blogging!

Just wish me luck!

Motherhood, Project

BuBy Shop – Bunda and Baby Shop

Waktu itu temen saya yang berbisnis dengan membuka online shop pernah bilang, kunci pertama dalam berbisnis adalah tentukan passion-mu. Oke, passion saya apa yaa..?

Sebelum melahirkan dan setelah melahirkan baru saya menyadari minat saya kalau nanti hendak berbisnis. Saya sukaaaa banget baby&kids things, hahaha.. siapa coba yang ga gemes liat barang-barang kecil dan unyuuuu.. rasa pengen diremes-remes saking gemesnya, hahaha.. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk mencoba berbisnis. Di bidang mother/baby/kids things.. hihihi.. Walaupun awalnya ragu:

1. Ntar kalau rugi gimana? Kalau gagal gimana?

Jawab: kalau rugi itu urusan Allah, nanti Allah yang atur. Rezeki ga kemana. Kalau gagal? Dahlan Iskan aja merugi sampai milyaran sebelum bisnisnya sukses. Lha ini belom juga rugi seperak pun dah kepikiran. Orang yang berpikir kalau dia akan gagal sebelum mulai itu udah rugi duluan.

Oke, fine.. I’ll continue my business.

2. Ntar kalau barangnya ga laku gimana?

Nah ini niih.. Setelah menemukan supplier dan konsepnya, ada lagi ni yang suka bikin pesimis, mengacu pada ga laku = rugi.

Jawab: Tapi akhirnya saya berpikir nothing to lose aja. Saya beli barang kalau ga laku kan bisa buat Runa, atau bisa buat ngado ke temen-temen saya yang juga mo pada ngelahirin, nanti seiring waktu bakal dicari juga ko barang yang aku jual (aamiin).

Oke, fine.. it’s nothing to lose.

3. Emang ga malu kok jualan?

Paradigma ini sih yang suka bikin ciut. Katanya sarjana, katanya kuliah tinggi-tinggi, kok malah akhirnya jualan?

Jawab: Yaa.. iya sih.. ada pikiran kayak gitu, orang mah ngelanjutin S2, kerja di perusahaan gede, dll. But, this is my way. Toh sebagai ibu rumah tangga saya tetap produktif dan kalau jadi enterpreneur saya malah lebih leluasa bekerja untuk diri saya sendiri, kaga ada namanya bos, ga ada namanya tugas. Ini namanya independensi pribadi!

Oke, fine.. it’s my independency!

So, I finally start my own business.

I designed my own logo (thanks always to my beloved sister, who taught me corel draw, so I can draw and design with it. Btw, in my previous office my corel skill is very useful, nobody can use corel but me,hahaha).

And I chose the name: BuBy Shop – Bunda and Baby Shop

Buby shop logoThis is my online shop now, find us on facebook

http://www.facebook.com/pages/Buby-Shop-Bunda-Baby-Shop/132225576956045

Lifestyle, Love.., Motherhood

Role model: Papa

Papa.

Ga banyak kata dan cerita tentang sosok seorang papa, sama seperti orangnya, yang juga ga banyak berkata-kata. Bahkan untuk orang yang ga kenal papa, orang berasumsi kalo papa orang yang galak dan dingin. (Mungkin dari situ ya sifat pendiam saya mengalir –what monik pendiam? Ahahaha).

Papa seperti layaknya sosok bapak-bapak kebanyakan: tenang, diam, lebih banyak bekerja daripada bicara. Kalau digambarkan dalam cerita, papa pas seperti ayahnya si Ikal dalam Laskar Pelangi. Dia kecewa atau dia senang, kelihatannya sama. Sama-sama tetap sayang sama anak-anaknya.

Papa adalah penyeimbang mama dalam segala hal. Mama blak-blakan, papa memendam. Mama banyak cerita, papa mendengarkan. Mama banyak mengomeli anak-anaknya supaya nurut, papa cukup diam sudah bisa membuat kami terdiam. Mama berhemat, papa suka ngasih uang jajan lebih (hahaha). Dan masih banyak lagi.

Kadang-kadang saya juga bingung, kenapa papa saya unik begini.. rasanya pengen punya hubungan ayah-anak yang romantis, seperti di pelem-pelem barat itu looh.. hubungan ayah-anak perempuannya itu kan katanya sangat spesial. Seorang ayah yang ingin selalu melindungi putrinya. Tapi memang, mungkin pendekatan hubungan antara saya dan papa berbeda dengan yang saya lihat di film-film tersebut. Namanya juga sifat orang beda-beda ya.

Papa memang jarang (ato ga pernah ya? err..) bilang ‘i love you’ sama anak-anaknya, juga ga mengungkapkan lewat pelukan dan ciuman kebapakan, juga bukan tempat curhat yang baik. Mungkin kasih sayangnya memang tidak disalurkannya melalui hal-hal menye kaya gitu..

Tapi selalu ada hal-hal yang membuat saya yakin walaupun papa bukan tipe romantic father, but he truly loves me.

Ada 1 hal yang unik

Dari sejak saya SD sampai kuliah, kalau berangkat pagi saya selalu diantar papa. Pulang pun kalau sore/malam dijemput papa. Setiap saya semobil dengan papa, saya PASTI SELALU TIDUR di mobil, mau pagi, sore, malem, mau duduk di sebelah papa atau di bangku belakang, pasti saya ketiduran. Yah, mungkin suasana mobil yang sepi, seperti biasa si papa ga banyak ngomong, paling cuma nanya: “gimana ujiannya tadi?” atau karena suara radio elshinta yang isinya berita bikin daku ngantuk, heuheu.. Saya tidur dari awal naik mobil sampai nyampe tujuan. Tapii.. walaupun saya tertidur, di sebelah papa, papa engga pernah sekalipun membangunkan saya atau protes berasa dianggep sopir gitu, ditinggal tidur. Si papa pasti membiarkan saya yang masih ngantuk karena berangkat pagi, atau udah cape karena pulang malem. Padahal papa kan juga cape, terus saya tidur, papa nyetir? Memang anak tida tau diuntung, hahaha.. He never wakes me up, until we arrive to the destination.

Itu aja udah cukup bagi saya untuk menandakan bahwa papa sayang anaknya.

Sifat lain papa yang saya suka adalah. Papa itu orangnya bersih dan apik. Walaupun laki-laki papa ga pernah gengsi buat nyuci piring, nyuci baju, nyapu, ngepel, bahkan masak. Papa melakukan contohnya dengan tindakan, bukan dengan kata-kata (dan itulah sebaik-baiknya teladan). Sifat perfeksionisnya dalam bebersih ini yang nurun ke saya, alhamdulillah karena liat papa pembersih jadi alam bawah sadar saya pun mengikuti polanya.

Nah, sekarang saya punya anak perempuan yang cantik.. I wondering, how my husband will be a father for my daughter? I bet they will be have a special-unique relationship too 🙂

Good luck ayah, for becoming her superdaddy..

“A father has to be a provider, a teacher, a role model, but most importantly, a distant authority figure who can never be pleased. Otherwise, how will children ever understand the concept of God?”
― Stephen Colbert

image