Life is Beautiful, Mumbling

Arti Mimpi Saya Menurut Pak Suami

Pernah ngerasa gak kalau setelah bangun tidur, kok rasanya tadi bermimpi, dan mimpinya masih terasa jelas alurnya. Atau mungkin bukan alurnya tapi tokoh-tokoh yang masuk ke dalam mimpi dan kejadian garis besarnya seperti apa. Saya pernah lho, beberapa kali.

Kalau lagi inget, saya suka iseng cerita ke suami tentang mimpi tersebut. Kadang mimpinya itu suka absurd dan gak nyambung gitu. Apalagi pas diceritain ke orang lain makin terasa ke-absurd-annya, alur dan kelogisannya gak ada (namanya juga mimpi ye, bebass).

Di dalam mimpi saya pernah ingat ada dua orang yang suka mampir cukup sering. Bukan mantan lho yaa, hush! Gak ada mantan juga soalnya, wkwkwk. Keduanya adalah sahabat masa kecil saya (sampai sekarang). Kami masih lumayan sering kontak-kontak, walaupun gak intens banget, dan bukan percakapan yang mendalam. Hanya saling berkabar singkat aja. Tapi entah kenapa ya mereka yang mampir. Sahabat yang pertama adalah sahabat dekat saya yang dari dulu zaman SD sampai kuliah jadi tempat curhatan saya, yang tahu banget kelakuan saya kayak apa. Sahabat saya yang kedua adalah juga sahabat saya di masa kecil, saingan berat di kelas balap-balapan ngejar ranking, dan sekarang dia punya karir bagus di luar negeri.

Waktu saya cerita ke suami, dia malah mulai (dengan sotoyna) menafsirkan arti mimpi saya ini ada sebabnya. Suami menceritakan hipotesisnya, dan saya agak mengakui mungkin dia ada benarnya. Dia bilang, “Ayah tuh udah semakin kenal Bunda itu kayak gimana, kebaca.” Weiss.. inikah kalau soulmate ternyata lebih paham isi pikiran pasangannya?

Continue reading “Arti Mimpi Saya Menurut Pak Suami”

Being a Student Mom, Mumbling

Drama bersama si Ibuk

Lockdown fase 2 masih diperpanjang di Belanda. Terhitung dari 18 Desember 2020 sampai 9 Februari. Tadinya saat peraturan pemerintah Belanda sudah mulai longgar (karena kasus covid mulai tertangani dengan baik), anak-anak sudah bisa kembali ke sekolah, full day, begitu juga dengan daycare. Yang masih harus stay di rumah, ya orang tuanya, terutama yang kerjanya bisa dari rumah. Dianjurkan HARUS KERJA DARI RUMAH.

Saya dan suami bisa bekerja dari rumah, sementara anak-anak pergi ke sekolah dan daycare. Meski situasi kerja di rumah kadang tidak se-kondusif di kantor, tetapi kami bersyukur, masih bisa bekerja dengan baik di rumah. Berbagi tugas, mengantar-jemput anak, menemami Runa pulang sekolah, bermain dengan Senja saat Senja gak ke daycare, dan bahu-membahu mengerjakam tugas domestik rumah tangga. Semua berjalan baik.

Sampai ketika lokdon kedua ini ditetapkan, segalanya berubah, situasi di rumah, ritme kerja, dan kondisi anak-anak. Sebab semuanya full harus di rumah. Runa sekolah dari rumah, dikasih tugas-tugas, dan kita juga harus mendampingi kalau Runa nanya. Untunglah Runa lumayan mandiri, dia bisa kerja sendiri, gak banyak merepotkan. Senja nih yang butuh perhatian khusus, namnya juga anak usia 3 tahun ya, mana bisa main sendiri. Awalnya saya berusaha calm down. Tetap bagi-bagi tugas sama suami untuk menjalani hari demi hari. Meski jam kerja masih gak teratur, tapi bersyukurlah semuanya sehat-sehat. Tuntutan kerjaan di kantor pun saya coba urai satu-satu. Sampai saat meeting pekanan dengan si Ibuk Supervisor pekan lalu, saya merasa agak spanneg, apa ya bahasanya, mumet gitu kali ya. You know-lah, tabiatnya si Ibuk udah pernah saya curcolin di sini dan di sini.

Entah sayanya yang memang rungsing dengan sikon kerja yang gak menentu, atau memang si Ibuk juga yang lagi sedikit tegas dengan rules yang ada. Saya merasa si Ibuk agak menekan saya, intinya dia nyebelin plus rewel. Singkatnya, dia itu orangnya kan sangat lurusss pada aturan dan kadang saklek. Dia tuh minta untuk saya menyimpan data dan dokumen penelitian di folder tertentu (yang gak bisa diakses oleh pihak lain dari server kantor). Jadi data penelitian ini tu kan data pasien, jadi harus diperlakukan hati-hati, sesuai protokol yang ada. Walaupun dia agak lebaaay gitulah ngomongnya (mungkin saya yang tendensius). Saya merasa sudah menyimpannya dengan baik. Tapi dia gak puas, sebab harusnya disimpan di A. Sementara folder A itu gak ada, dan bukan salah saya. Continue reading “Drama bersama si Ibuk”

Mumbling

Quality Time bersama Suami – Nonton Drakor

Tadinya mau mengulas di feed IG atau di story IG. Tapi saya pikir tetap lebih enak curcol di blog, karena bisa panjaaang dan gak usah bolak-balik cek komen dari orang, mwahaha. Walaupun saya senang komen-komenan di IG story, tapi rasanya lebih bebas kalau mau curcol geje di blog, ya gak sih? Biar gak terlalu lama ngabisin waktu maenan IG wae.

Postingan ini bakal cemen banget, monggo di-skip aja. Kalau mau lanjut, please bear with me. Dua minggu libur natal dan tahun baru, kami memang merencanakan untuk quality time nonton apa gitu. Drakor pilihan kami tak lain dan tak bukan adalah: START-UP. Udah dari kapan banyak banget seliweran tentang Start-Up di medsos, dari circle pertemanan kami. Tapi ya sayangnya mah kami tak tergerak juga buat nonton. Sampai ada di Netflix, dan ada teman kami yang bikin review-nya serius, tapi malah bermanfaat. Review yang bener lihat di sini aja. Soalnya saya mah cuma mau bahas capruknya aja.

Temanya kan kekinian banget ya, Start-Up, bisnis anak muda jaman sekarang. Di 10 menit awal episode saya sebenarnya gak terlalu kecantol. Tapi begitu udah bergeser ke bagian keluarga, yang ayahnya sangat family man, kerja keras, pontang-panting, barulah eike mewek srot-srot. Belum lagi pas adegan Han Ji-Pyeong (HJP) muda yang gak punya siapa-siapa ditolong sama neneknya. Untung sedihnya gak lama-lama ya pas ke adegan HJP udah jadi sukses, eh kok ternyata ni orang ganteng uga, mwahaha. Jiwa fangirling yang udah lama menguap kok muncul lagi.

Akhirnya bela-belain deh kami nonton ini tiap malem habis anak-anak bobo, jadi semacam quality time bersama, ciyeh.. Meski kami berbeda tim. Daku tentunya tim HJP, suami tim Nam Do San. Kami jadi heboh we sendiri ngelihat scene-scene yang menggemaskan.

Suami: Karakter Do San itu lebih relatable. Dia itu tulus, polos, mau bekerja keras, orang kayak gini suka diremehkan orang lain, padahal dia punya kemampuan besar, semacam underdog gitu. Perasaannya juga halus ke Dal Mi, dia tipe orang baik.

Istri: Orang-orang tu cuma lihat HJP pas udah sukses aja kali. Padahal dia juga dulu pasti berjuang keras, mana dia anak yatim. Sekarang aja kelihatannya udah sukses dan tajir. Sayang gak dilihatin perjuangan dia dulu. Hidupnya yang keras itu yang bikin dia jadi lebih dingin sama orang lain. Tambah lagi dia tu kalau senyum kok gemanaa gituuu.

Suami: Tu kan perempuan mah senengnya sama cowok asal ganteng dan tajir aja.

Istri: Yah, yang penting mah soleh, kayak suamiku.

Ihikhikihk … biar suami ga jealous sama HJP.

Sumber gambar dari sini

Continue reading “Quality Time bersama Suami – Nonton Drakor”

Lifestyle, Mumbling

Kapankah kita boleh bersantai?

Tulisan ini murni curhat aja

Saat hari Senin sudah di depan mata, saya suka menghela napas panjang. Mulai lagi nih pekan ini. Ingin rasanya memperpanjang weekend, tapi tentu saja tidak mungkin. Senin adalah waktunya kembali memulai rutinitas, bakbukbakbuk untuk mengerjakan semua amanah, tugas, to-do-list di depan mata. Biasanya saya mulai bernapas sedikit di hari Rabu. Hari Rabu tidak ada jadwal daycare untuk Senja. Jadi biasanya saya bermain dengan Senja sepuasnya. Siang hari baru saya colongan buka email, saat suami sedang istirahat siang. Oiya, Runa sekolah sampai pukul 14.00, dan dia gak harus ditemani terus. Biasanya habis makan siang, dia akan sibuk sendiri, entah baca buku atau main di kamarnya. Jadi hari-hari biasa, Runa gak terlalu banyak menyita perhatian lagi.

Lanjut di hari Rabu tadi, kalau ada tugas penting untuk diselesaikan Kamis atau Jumat, Rabu malam saya paksakan untuk kembali menatap layar laptop. Hari Kamis adalah hari paling “dinanti” sepanjang pekan. Sebab di hari itu adalah jadwal meeting rutin saya dan supervisor. Saya sudah harus siap dengan segala bahan diskusi, jangan sampai meleng. Biasanya bahan meeting sudah saya kirimkan beberapa hari sebelumnya. Jumat pekan sebelumnya (kalau rajin), Senin, atau Selasa di pekan yang sama.

Kamis, pukul 11.00, ketika meeting sudah usai, rasanya setengah dari beban di pundak saya terangkat. Lalu saya cenderung sedikit bersantai, bisa sambil menyimak kajian tafsir Ustadz Hartanto Saryono via zoom. Sambil mengerjakan tugas yang ada. Lalu mulai deh buka-buka godaan baca blog, sosmed, twitter, hehe, sampai jam makan siang. Setelahnya baru nyadar, ya ampun tadi udah buang-buang waktu, harusnya bisa lebih efektif kerjanya. Langsung buru-buru bikin to-do-list baru biar lega dan gak merasa bersalah. Jumat tuh hari random, kalau saya lagi gak ada kerjaan yang mepet, biasanya saya loss aja tu seharian. Senja juga gak ke daycare. Jadi saya puas-puasin main sama Senja, buka email juga enggak. Tapi kadang Jumat suka ada jadwal meeting, di jam-jam tertentu, jadi saya minta suami atau adik saya megangin Senja selama 2 jam-an.

Saya pernah bilang sama Suami, Ini kayaknya saya semingguan itu, hidup untuk melewati hari Kamis. Kalau Kamis sudah terlewati, rasanya lega.

Sebenarnya gak selebay itu juga sih. Bisa jadi karena meeting sama supervisor yang membuat hari itu jadi terasa penting. Bisa jadi juga karena Kamis itu sudah mendekati weekend. Tapi tak apa, bismillah, diniatkan ibadah. Kalau gak punya kesibukan nanti bingung lagi. Terus kapan dong kita boleh bersantai? Kan urusan kerjaan itu gak kelar-kelar, urusan dunia juga terus berputar, sampai pada akhirnya ada waktu finish masing-masing.

Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, nikmat sehat dan waktu luang (HR Bukhari). Sedang sehat, tapi tidak punya waktu luang karena sibuk dengan urusan dunia. Kalau sedang punya waktu lowong, malah kondisi sedang tidak sehat. Sedangkan ketika punya keduanya, manusia malah dihinggapi rasa malas. Itulah manusia yang tertipu.

Makanya santai-santainya tetap harus yang bermanfaat dong yah. Gimana sih santai-santai yang bermanfaat? Kalau buat saya:

  1. Nulis
  2. Baca buku
  3. Baca blog/web yang bermanfaat
  4. Nonton youtube/denger podcast kajian ustadz
  5. Bikin konten untuk post IG (jatohnya nulis juga maksudnya sih)
  6. Masak-masak, bikin kue

Maunya sih nonton K-drama, menggoda banget. Tapi aku kapok. Gara-gara banyak yang bilang Reply 1988 seru jadi we aku nonton di Netflix. Daaan.. benar seru dan tak bisa berhenti. Akhirnya malah kebanyakan nontonnya, begadang demi memuaskan dahaga penasaran, besok paginya bangun malah gak fit, migren karena kurang tidur, kerjaan pun tak beres. Kapok udah. Saya stop dulu nonton yang bikin candu gitu. Nanti aja kalau beneran emang libur panjang.

Gimana santai-santai yang bermanfaat menurut kamu?

Mumbling, review buku

Membaca Kembali Groningen Mom’s Journal

Ceritanya saya ingin segera menuntaskan naskah Groningen Mom’s Journal part 2, yang sudah lama mendekam di laptop. Ingin rasanya segera menyerahkannya ke editor, disunting, lay-out, cover, dicetak, beres deh. Tapi beberapa pekan ini saya lagi agak sibuk, entah sibuk apa, haha. Yang pasti di antaranya ngerjain tugas riset, yang memang gakan beres-beres, heuheu.

Wiken ini saya memaksa diri saya untuk mantengin laptop untuk urusan naskah. Ya Allah kayaknya saya udah lama meninggalkan si naskah ini huhu. Terus saya malah jadi ingin baca lagi buku pertama saya. Ingin tahu dulu saya nulis apaan sih? Sebagai referensi dan pembanding dengan naskah yang sedang GMJ part 2 ini.

Groningen Mom’s Journal

Jujur sejak buku saya terbit, saya memang gak pernah membacanya lagi, bisi malu, haha.. aneh yak sama tulisan sendiri kok malu. Ya begitu deh sifat minder saya suka gengges emang. Saya paksain deh baca dari awal sampai akhir, saya ingin tahu bagaimana gaya nulis saya, apa informasi yang dulu saya tulis, menarik/membosankan gak, dll. Saya juga bingung yak, dulu bisa aja menyelesaikan naskah lengkap itu, hebat ey. Tapi di sisi lain ternyata saya sadar tulisan saya masih banyak kurangnya juga di sana-sini. Masih ada bagian yang “apaan sih?” (menurut saya), dan juga kalimat-kalimat yang gak enakeun. Atau bahkan alur yang mboseni (mungkin karena saya udah pernah ngalamin apa yang ditulis kali ya).

Yah gakpapa lah ya, namanya juga buku pertama, banyak yang harus di-improve. Yang pasti saya harus memberikan apresiasi pada diri saya untuk karya saya yang satu ini. Meski bukan best seller dan tidak cetak ulang, setidaknya pernah mampir di toko buku besar di Indonesia, dipajang di rak buku, dan dinikmati oleh banyak pembaca di Indonesia, Alhamdulillah.

Buku tersebut menjadi refleksi kehidupan saya dan keluarga selama dua tahun pertama tinggal di Groningen. Kayaknya di dalam buku tersebut terasa masih setetes aja yang saya pahami dari kehidupan merantau di Groningen. Masih sedikit yang saya tahu tentang Belanda dan apa-apa yang ada di dalamnya. Sekarang sudah enam tahun berselang dari 2014 lalu, rasanya banyak yang berbeda. Banyak hal-hal baru yang ternyata oh begini dan oh begitu. Yang tadinya ada hal-hal menakjubkan sekarang jadi biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal sulit sekarang ya biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal biasa aja eh malah jadi sesuatu yang penting. Ada hal-hal yang bergesar dan bergerak. Begitu deh kehidupan.

Maaf saya mah cuma numprang ngecapruk aja ini mah.

Mumbling

1 Muharram 1442

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H
“Ya Allah … aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud)

*Ini doa saya banget, akhir-akhir ini sulit fokus

Di era digital ini informasi kayak air bah, derasnya gak kira-kira. Kita kadang-kadang kewalahan memilah mana informasi yang perlu dibaca dan diserap serta mana yang seharusnya dilewatkan saja.

Kadang saya suka gemes sih sama diri saya sendiri, berselancar di sosial media sampai lupa waktu, scrolling aja. Mbok  ya yang lupa waktu itu pas ngaji dan berdoa gitu, huhu..

Saya dan suami majang list dalam di awal tahun (tahun masehi sih), kira-kira apa yang mau dicapai. List itu kami tempel di lemari, tiap ganti baju, buka lemari, pasti sedikit-sedikit kebaca. Baru pas tahun baru Muharram ini saya baca benar listnya. Wah ternyata tanpa sadar ada daftar yang bisa dicentang dengan sukses, Alhamdulillah. Sementara lebih banyak yang masih on process bahkan jadi tanda tanya. Setidaknya itu jadi pengingat kami, untuk kembali fokus dalam mencapai yang kami targetkan. Gak papa target tinggi, setindaknya setengahnya bisa tercapai.

Semoga yang kami kerjakan bermanfaat, untuk dunia akhirat, kami bisa semakin khusyu, merasa cukup atas karunia Allah, dan senantiasa bersabar.

Mumbling

Ruang Sendiri

Pagi ini lain seperti biasanya, suasana rumah agak sepi. Saya sedang tidak ke kampus, Runa sedang sekolah. Suami sedang ada training ke London seminggu penuh ini. Beda ya aura kalau lagi gak ada pak suami di rumah. Masak males, makan males, beberes rumah aja sih yang gak males, hehe. Masa rumah dibiarin kotor. Ya habis, kalau mau masak, buat siapa? Runa makannya roti, saya juga gak terlalu hobi mengeksplor resep kalau yang menyantapnya cuma satu perut aja.

Udah lama soalnya daku gak jauh-jauhan sama suami, haha. Kami dah kayak pasangan perangko-amplop, nempel mulu. Rasa ketergantungannya jadi mengingkat kalau gak ada bau-bau suami di rumah. Ya udah saya buka “tugas” di laptop yang menumpuk (biar keliatan sibuk je). Cuaca mendung, saya orangnya mageran keluar rumah, males kongkow-kongkow juga. Kadang-kadang memang waktu untuk sendiri itu perlu juga. Masih kerasa sepi yang aneh ini, saya puter streaming radio Indonesia dari laptop. Eh ada lagunya Tulus, Ruang Sendiri. Pernah dengerin sih sesekali, gak tahu lagunya tentang apa, cuma seneng aja denger suara Tulus yang empuk. Didengerin lebih seksama lho ternyata..

Ruang Sendiri
Beri aku kesempatan.. Tuk bisa merindukanmu
(Jangan datang terus)Beri juga aku ruang.. Bebas dan sendiri
(Jangan ada terus)

Aku butuh tahu seberapa kubutuh kamu.. Percayalah rindu itu baik untuk kita

(Pagi melihatmu) menjelang siang kau tahu. (Aku ada di mana) sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin. Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai

Baik buruk perubahanku.. Tak akan kau sadari
(Kita berevolusi)

Bila kita ingin tahu.. Seberapa besar rasa yang kita punya
Kita butuh ruang

(Pagi melihatmu) menjelang siang kau tahu. (Aku ada di mana) sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin. Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai

Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri
Untuk tetap menghargai rasanya sepi

Tak lagi sepi bisa kuhargai

Yah, ini mah liriknya gak cocok buat saya. Bagian yang saya banget itu: pagi melihatmu, siang juga tahu di mana, sore nanti apalagi, malam gak pernah kerasa dingin. Jadi merasa tertohok, ih Tulus tau aje deh kami begini.
Saya mah gak usah deh dikasih kesempatan untuk sendiri supaya bisa menghargai sepi. Saya juga gak perlu dikasih ruang untuk tahu seberapa besarnya rindu. Udah tauu, udah tauu.. Udah pasti rindu, udah pasti menghargai kalau ada waktu sendiri. Dalam empat hari jauhan sama suami kerasa nih bingungnya. Dengerin streaming lagu-lagu dari radio Indonesia aja jadi bikin mamak-mamak ini jadi alay dan berasa anak muda lagi yang lagi kangen sama pacar, mwahaha. Duh maap yah, eyke bukan yang biasa ngasih puisi romantis, prosa, apalagi pantun buat suami atau berkata-kata di ruang publik seberapa rindu dan sepinya diri ini kalau sendiri  *hazek* (kecuali di blog gapapalah sesekali).
But I really do miss you honey, cepet pulang yaaa.. temenin Runa main dan bantuin sasapu rumah (lhooohh).

 

Mumbling

Hiatus yang Terlalu Lama

Assalamu’alaikum!

Halo my blog! Kemana aja atuh Neng?! Bulan Mei lho terakhir posting, itupun waktu masih ikutan 30 Days Challange Writing. Sekarang udah mau di penghujung Agustus aja. Maklumlah banyak berkontemplasi (sok asik) dan mengurus ini itu (sok sibuk). Kangen juga ya nulis di blog. Jari-jari jadi rada kaku kalau gak banyak dipakai ngetik.

Waktu bulan puasa datang, eh nulis di blog juga ikut-ikutan puasa. Padahal mah penulisnya lagi gak puasa juga (lagi dalam masa nausea di trimester pertama). Gak punya alasan khusus sih kenapa hiatus sebenarnya. Dan untuk memulai lagi nulis di blog ternyata butuh perjuangan ya..

Memulai lagi kebiasaan yang 3 bulan lamanya ditinggalkan itu ternyata gak gampang. Banyak excuse, banyak tantangannya. Terutama mengumpulkan niat yang utuh dalam menulis lagi. Bukan berarti saya gak menulis sama sekali sih. Ada porsi-porsi menulis yang saya kerjakan juga, hanya bukan di blog. Hiatus kemarin juga banyak saya manfaatkan untuk melahap banyak bacaan untuk menambah khazanah dan hikmah. Salah satunya yang sangat nyangkut adalah Buku Anak Rantau karya A.Fuadi. Wuah itu bagusss banget! Karya A. Fuadi yang terbaik di antara buku-buku sebelumnya. Buku Revive Your Heart dari Nouman Ali Khan juga saaangaat Masya Allah bagusnya. Ketika membacanya seperti membayangkan beliau berceramah. Ada beberapa dari isinya yang pernah saya dengar di ceramahnya. Jadi itu buku rekomendasi dari saya buat yang lagi nyari bahan bacaan.

Emm.. selanjutnya apa lagi ya. Oh iya, tadinya tu mau melengkapi part mengenai ‘Berhaji’ berhubung bulan ini sudah mendekati puncak haji dan banyak juga yang tanya-tanya mengenai Berhaji dari Belanda. Tapi sayang nih, sayanya kurang kuat hati untuk menyisihkan waktu barang sejam aja untuk nulis. Padahal maaah.. poin-poin tulisan udah ada dari kapan.

Banyak juga cerita-cerita yang pengen saya share selama pulkam kemarin ke Indonesia juga curhatan ke-hiatus-an saya di medsos, terutama Instagram dan Facebook. Saya meng-uninstal aplikasi Instagram dan Facebook di ponsel saya. Tadinya saya berazam hanya untuk bulan Ramadhan sampai Idul Fitri. Namun ternyata, hiatus medsos ini berujung pada detoksifikasi. Saya jadi merasa tidak butuh dan tidak ingin untuk membukanya. Saya juga jadi kehilangan kemampuan berkata-kata di medsos saking jarangnya mem-post sesuatu. Saya tidak sign out sih, cuma meminimalisasi gerakan jempol untuk mengklik si simbol F berwarna biru dan simbol kamera ungu yang menggoda, haha.

Saya masih bisa membuka kedua medsos itu melalui chrome di ponsel. Instagram sih gak enak kalau dibuka lewat chrome, tampilannya jelek dan gak menarik. Hebatnya Facebook, walaupun dibuka di chrome masih aja bisa menarik, dulu padahal gak begitu. Disclaimer: Saya masih butuh Facebook untuk grup-grup tertentu yang penting, tapi kadang kepeleset juga lihat timeline, padahal timeline sekarang gak sehat, ckckck. Tapi bener lho, mengurangi waktu berselancar di kedua medsos tersebut, bikin hidup lebih enteng dan segar, entah kenapa.

Berasa ya, tulisan saya jadi ngalor-ngidul gini haha, gak pake ide dan outline, ngetik aja apa yang keluar di kepala.

Yawes, sampai ketemu besok! Insya Allah. Iyaaa, besok saya akan mulai rajin lagi ngeblog, ini janji buat saya sendiri, suwer! Hope the tagline ‘diet always starts tomorrow(means never happen)’  will not apply on me, hoho.

 

Mumbling

Menunggu

Di ruang tunggu boarding bandara Schiphol. Tebak ada berapa orang yang sibuk dengan gadget?

Ruang tunggu boarding di gate M bandara Schiphol siang itu penuh dengan orang-orang yang akan terbang. Destinasinya macam-macam, Lisbon, Milan, Edinburgh, London, Malaga, dll. Semua calon penumpang menunggu dengan sabar. Sekitar 2-3 jam lagi calon penumpang baru akan dipanggil untuk boarding.

Lumayan juga waktu yang dihabiskan untuk menunggu. Banyak cara yang bisa dilakukan selama menunggu. Mengobrol, makan, membaca buku, tidur, main gadget, dan main (untuk Runa tentunya). Untungnya di tuang tunggu ada arena permainan sederhana, berupa perosotan dan anak tangga. Buat anak-anak itu udah lumayan banget. Untuk membunuh waktu, main gadget dan buka-buka hape adalah pilihan paling simpel dan banyak diambil oleh orang-orang, termasuk saya. Mulai dari buka whatsapp-an, teleponan, sampi buka sosmed hingga bosan. Tapi jarang sekali yang saya lihat membaca buku/majalah/koran. Sepertinya membaca bukan menjadi pilihan menarik sekarang ini. Saya sendiri membawa buku The Battle Hymn of the Tiger Mom. Akhirnya dalam durasi 3 jam menunggu, saya habiskan dengan membaca buku, main hape, makan, dan mengawasi Runa main.

Dulu, setiap aktivitas yang melibatkan tunggu-menunggu saya pasti menyiapkan satu buku apapun, untuk dibaca. Terutama di angkutan umum. Maklum dulu kan hape belum secanggih sekarang, jadi lihat-lihat hape cuma 5 menit aja sudah bosan. Paling sms-sms temen, paling mentok main game snake, haha. Sosmed juga belum booming. Kalaupun ada, gak bisa dibuka di hape jadul juga. Sekarang, saya juga masih suka membawa buku ke mana-mana, tapi keinginan membaca buku seringkali kalah dengan nafsu membuka hape, untuk balesin whatsapp dan buka sosmed, heu. Si buku jadi dicuekin di pangkuan. Kecuali kalau bukunya benar-benar bikin penasaran dan gak bisa ditutup.

Kalau melihat ke sekeliling. Di halte bus, di stasiun, di bandara, di kafe dan restoran, di kendaraan umum, di tempat tunggu dokter, dan lain-lain makin jarang menemukan orang yang asyik dengan buku. Hape dirasa lebih simpel dan menarik untuk dinikmati sambil menunggu. Orang baca buku ya kalau gak di perpus ya di toko buku.

Apapun aktivitasnya dalam menunggu, yang penting sih bisa bermanfaat. Saya juga inginnya memberikan memori pada Runa kalau lagi bosan itu ya perginya ke buku, bukan ke hape. Teringat dulu ketika menyambut liburan pulang kampung, papa dan mama selalu mengajak kami ke toko buku untuk membeli banyak bacaan sebagai teman di perjalanan panjang kami.

Mumbling

Ketika Bunda Sakit

Selama tiga tahun di sini, ini adalah kali kedua saya merasakan sakit yang bener-bener sakit. Maksudnya yang ‘benar-benar sakit’ adalah tidak bisa mengerjakan apapun dengan baik, kecuali berbaring saja. Sakitnya ya sebenarnya standar, demam, sakit kepala, meriang, radang. Meskipun begitu, saat itu saya tidak periksa ke dokter dulu. Harus menunggu tiga hari jika kondisi tidak membaik, baru bisa bikin janji dengan huisart (dokter keluarga). Memang benar, di hari ke-4 biasanya kondisi sudah berangsur-angsur membaik. Tetapi, untuk mencapai kondisi yang membaik itu, selama tiga hari sakit adalah yang paling berat.  Rasanya saya harus berjuang supaya sakitnya gak berkepanjangan.

Pekerjaan domestik rumah tangga, mengurus Runa, dan urusan lainnya tidak bisa saya sentuh. Kali pertama saya sakit adalah di saat winter pertama saya di tahun 2014. Saat itu rasanya nelangsa banget, pengen ada (mama) yang bikinin makanan hangat dan enak atau sekedar warteg untuk beli makanan jadi. Concern utama ketika sakit tentunya asupan makanan kan? Kali kedua ini adalah persis setelah Runa sudah baikan dari sakit radangnya. Mungkin penyakitnya berpindah ke saya. Keluhan Runa pada saat sakit adalah: sakit nelen, telinga sakit, ditambah batpil+demam. Beberapa hari Runa tidak bisa tidur karena hidungnya mampet dan batuk-batuk. Seminggu dia tidak masuk sekolah. Rasanya sedih banget pas melihat anak sakit. Akhirnya setelah ke dokter dan diberi obat, kondisinya membaik. Continue reading “Ketika Bunda Sakit”