Lifestyle, Mumbling

Kapankah kita boleh bersantai?

Tulisan ini murni curhat aja

Saat hari Senin sudah di depan mata, saya suka menghela napas panjang. Mulai lagi nih pekan ini. Ingin rasanya memperpanjang weekend, tapi tentu saja tidak mungkin. Senin adalah waktunya kembali memulai rutinitas, bakbukbakbuk untuk mengerjakan semua amanah, tugas, to-do-list di depan mata. Biasanya saya mulai bernapas sedikit di hari Rabu. Hari Rabu tidak ada jadwal daycare untuk Senja. Jadi biasanya saya bermain dengan Senja sepuasnya. Siang hari baru saya colongan buka email, saat suami sedang istirahat siang. Oiya, Runa sekolah sampai pukul 14.00, dan dia gak harus ditemani terus. Biasanya habis makan siang, dia akan sibuk sendiri, entah baca buku atau main di kamarnya. Jadi hari-hari biasa, Runa gak terlalu banyak menyita perhatian lagi.

Lanjut di hari Rabu tadi, kalau ada tugas penting untuk diselesaikan Kamis atau Jumat, Rabu malam saya paksakan untuk kembali menatap layar laptop. Hari Kamis adalah hari paling “dinanti” sepanjang pekan. Sebab di hari itu adalah jadwal meeting rutin saya dan supervisor. Saya sudah harus siap dengan segala bahan diskusi, jangan sampai meleng. Biasanya bahan meeting sudah saya kirimkan beberapa hari sebelumnya. Jumat pekan sebelumnya (kalau rajin), Senin, atau Selasa di pekan yang sama.

Kamis, pukul 11.00, ketika meeting sudah usai, rasanya setengah dari beban di pundak saya terangkat. Lalu saya cenderung sedikit bersantai, bisa sambil menyimak kajian tafsir Ustadz Hartanto Saryono via zoom. Sambil mengerjakan tugas yang ada. Lalu mulai deh buka-buka godaan baca blog, sosmed, twitter, hehe, sampai jam makan siang. Setelahnya baru nyadar, ya ampun tadi udah buang-buang waktu, harusnya bisa lebih efektif kerjanya. Langsung buru-buru bikin to-do-list baru biar lega dan gak merasa bersalah. Jumat tuh hari random, kalau saya lagi gak ada kerjaan yang mepet, biasanya saya loss aja tu seharian. Senja juga gak ke daycare. Jadi saya puas-puasin main sama Senja, buka email juga enggak. Tapi kadang Jumat suka ada jadwal meeting, di jam-jam tertentu, jadi saya minta suami atau adik saya megangin Senja selama 2 jam-an.

Saya pernah bilang sama Suami, Ini kayaknya saya semingguan itu, hidup untuk melewati hari Kamis. Kalau Kamis sudah terlewati, rasanya lega.

Sebenarnya gak selebay itu juga sih. Bisa jadi karena meeting sama supervisor yang membuat hari itu jadi terasa penting. Bisa jadi juga karena Kamis itu sudah mendekati weekend. Tapi tak apa, bismillah, diniatkan ibadah. Kalau gak punya kesibukan nanti bingung lagi. Terus kapan dong kita boleh bersantai? Kan urusan kerjaan itu gak kelar-kelar, urusan dunia juga terus berputar, sampai pada akhirnya ada waktu finish masing-masing.

Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, nikmat sehat dan waktu luang (HR Bukhari). Sedang sehat, tapi tidak punya waktu luang karena sibuk dengan urusan dunia. Kalau sedang punya waktu lowong, malah kondisi sedang tidak sehat. Sedangkan ketika punya keduanya, manusia malah dihinggapi rasa malas. Itulah manusia yang tertipu.

Makanya santai-santainya tetap harus yang bermanfaat dong yah. Gimana sih santai-santai yang bermanfaat? Kalau buat saya:

  1. Nulis
  2. Baca buku
  3. Baca blog/web yang bermanfaat
  4. Nonton youtube/denger podcast kajian ustadz
  5. Bikin konten untuk post IG (jatohnya nulis juga maksudnya sih)
  6. Masak-masak, bikin kue

Maunya sih nonton K-drama, menggoda banget. Tapi aku kapok. Gara-gara banyak yang bilang Reply 1988 seru jadi we aku nonton di Netflix. Daaan.. benar seru dan tak bisa berhenti. Akhirnya malah kebanyakan nontonnya, begadang demi memuaskan dahaga penasaran, besok paginya bangun malah gak fit, migren karena kurang tidur, kerjaan pun tak beres. Kapok udah. Saya stop dulu nonton yang bikin candu gitu. Nanti aja kalau beneran emang libur panjang.

Gimana santai-santai yang bermanfaat menurut kamu?

Mumbling, review buku

Membaca Kembali Groningen Mom’s Journal

Ceritanya saya ingin segera menuntaskan naskah Groningen Mom’s Journal part 2, yang sudah lama mendekam di laptop. Ingin rasanya segera menyerahkannya ke editor, disunting, lay-out, cover, dicetak, beres deh. Tapi beberapa pekan ini saya lagi agak sibuk, entah sibuk apa, haha. Yang pasti di antaranya ngerjain tugas riset, yang memang gakan beres-beres, heuheu.

Wiken ini saya memaksa diri saya untuk mantengin laptop untuk urusan naskah. Ya Allah kayaknya saya udah lama meninggalkan si naskah ini huhu. Terus saya malah jadi ingin baca lagi buku pertama saya. Ingin tahu dulu saya nulis apaan sih? Sebagai referensi dan pembanding dengan naskah yang sedang GMJ part 2 ini.

Groningen Mom’s Journal

Jujur sejak buku saya terbit, saya memang gak pernah membacanya lagi, bisi malu, haha.. aneh yak sama tulisan sendiri kok malu. Ya begitu deh sifat minder saya suka gengges emang. Saya paksain deh baca dari awal sampai akhir, saya ingin tahu bagaimana gaya nulis saya, apa informasi yang dulu saya tulis, menarik/membosankan gak, dll. Saya juga bingung yak, dulu bisa aja menyelesaikan naskah lengkap itu, hebat ey. Tapi di sisi lain ternyata saya sadar tulisan saya masih banyak kurangnya juga di sana-sini. Masih ada bagian yang “apaan sih?” (menurut saya), dan juga kalimat-kalimat yang gak enakeun. Atau bahkan alur yang mboseni (mungkin karena saya udah pernah ngalamin apa yang ditulis kali ya).

Yah gakpapa lah ya, namanya juga buku pertama, banyak yang harus di-improve. Yang pasti saya harus memberikan apresiasi pada diri saya untuk karya saya yang satu ini. Meski bukan best seller dan tidak cetak ulang, setidaknya pernah mampir di toko buku besar di Indonesia, dipajang di rak buku, dan dinikmati oleh banyak pembaca di Indonesia, Alhamdulillah.

Buku tersebut menjadi refleksi kehidupan saya dan keluarga selama dua tahun pertama tinggal di Groningen. Kayaknya di dalam buku tersebut terasa masih setetes aja yang saya pahami dari kehidupan merantau di Groningen. Masih sedikit yang saya tahu tentang Belanda dan apa-apa yang ada di dalamnya. Sekarang sudah enam tahun berselang dari 2014 lalu, rasanya banyak yang berbeda. Banyak hal-hal baru yang ternyata oh begini dan oh begitu. Yang tadinya ada hal-hal menakjubkan sekarang jadi biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal sulit sekarang ya biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal biasa aja eh malah jadi sesuatu yang penting. Ada hal-hal yang bergesar dan bergerak. Begitu deh kehidupan.

Maaf saya mah cuma numprang ngecapruk aja ini mah.

Mumbling

1 Muharram 1442

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H
“Ya Allah … aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud)

*Ini doa saya banget, akhir-akhir ini sulit fokus

Di era digital ini informasi kayak air bah, derasnya gak kira-kira. Kita kadang-kadang kewalahan memilah mana informasi yang perlu dibaca dan diserap serta mana yang seharusnya dilewatkan saja.

Kadang saya suka gemes sih sama diri saya sendiri, berselancar di sosial media sampai lupa waktu, scrolling aja. Mbok  ya yang lupa waktu itu pas ngaji dan berdoa gitu, huhu..

Saya dan suami majang list dalam di awal tahun (tahun masehi sih), kira-kira apa yang mau dicapai. List itu kami tempel di lemari, tiap ganti baju, buka lemari, pasti sedikit-sedikit kebaca. Baru pas tahun baru Muharram ini saya baca benar listnya. Wah ternyata tanpa sadar ada daftar yang bisa dicentang dengan sukses, Alhamdulillah. Sementara lebih banyak yang masih on process bahkan jadi tanda tanya. Setidaknya itu jadi pengingat kami, untuk kembali fokus dalam mencapai yang kami targetkan. Gak papa target tinggi, setindaknya setengahnya bisa tercapai.

Semoga yang kami kerjakan bermanfaat, untuk dunia akhirat, kami bisa semakin khusyu, merasa cukup atas karunia Allah, dan senantiasa bersabar.

 

Mumbling

Ruang Sendiri

Pagi ini lain seperti biasanya, suasana rumah agak sepi. Saya sedang tidak ke kampus, Runa sedang sekolah. Suami sedang ada training ke London seminggu penuh ini. Beda ya aura kalau lagi gak ada pak suami di rumah. Masak males, makan males, beberes rumah aja sih yang gak males, hehe. Masa rumah dibiarin kotor. Ya habis, kalau mau masak, buat siapa? Runa makannya roti, saya juga gak terlalu hobi mengeksplor resep kalau yang menyantapnya cuma satu perut aja.

Udah lama soalnya daku gak jauh-jauhan sama suami, haha. Kami dah kayak pasangan perangko-amplop, nempel mulu. Rasa ketergantungannya jadi mengingkat kalau gak ada bau-bau suami di rumah. Ya udah saya buka “tugas” di laptop yang menumpuk (biar keliatan sibuk je). Cuaca mendung, saya orangnya mageran keluar rumah, males kongkow-kongkow juga. Kadang-kadang memang waktu untuk sendiri itu perlu juga. Masih kerasa sepi yang aneh ini, saya puter streaming radio Indonesia dari laptop. Eh ada lagunya Tulus, Ruang Sendiri. Pernah dengerin sih sesekali, gak tahu lagunya tentang apa, cuma seneng aja denger suara Tulus yang empuk. Didengerin lebih seksama lho ternyata..

Ruang Sendiri
Beri aku kesempatan.. Tuk bisa merindukanmu
(Jangan datang terus)Beri juga aku ruang.. Bebas dan sendiri
(Jangan ada terus)

Aku butuh tahu seberapa kubutuh kamu.. Percayalah rindu itu baik untuk kita

(Pagi melihatmu) menjelang siang kau tahu. (Aku ada di mana) sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin. Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai

Baik buruk perubahanku.. Tak akan kau sadari
(Kita berevolusi)

Bila kita ingin tahu.. Seberapa besar rasa yang kita punya
Kita butuh ruang

(Pagi melihatmu) menjelang siang kau tahu. (Aku ada di mana) sore nanti
Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin. Hingga aku lupa rasanya sepi
Tak lagi sepi bisa kuhargai

Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri
Untuk tetap menghargai rasanya sepi

Tak lagi sepi bisa kuhargai

Yah, ini mah liriknya gak cocok buat saya. Bagian yang saya banget itu: pagi melihatmu, siang juga tahu di mana, sore nanti apalagi, malam gak pernah kerasa dingin. Jadi merasa tertohok, ih Tulus tau aje deh kami begini.
Saya mah gak usah deh dikasih kesempatan untuk sendiri supaya bisa menghargai sepi. Saya juga gak perlu dikasih ruang untuk tahu seberapa besarnya rindu. Udah tauu, udah tauu.. Udah pasti rindu, udah pasti menghargai kalau ada waktu sendiri. Dalam empat hari jauhan sama suami kerasa nih bingungnya. Dengerin streaming lagu-lagu dari radio Indonesia aja jadi bikin mamak-mamak ini jadi alay dan berasa anak muda lagi yang lagi kangen sama pacar, mwahaha. Duh maap yah, eyke bukan yang biasa ngasih puisi romantis, prosa, apalagi pantun buat suami atau berkata-kata di ruang publik seberapa rindu dan sepinya diri ini kalau sendiri  *hazek* (kecuali di blog gapapalah sesekali).
But I really do miss you honey, cepet pulang yaaa.. temenin Runa main dan bantuin sasapu rumah (lhooohh).

 

Mumbling

Hiatus yang Terlalu Lama

Assalamu’alaikum!

Halo my blog! Kemana aja atuh Neng?! Bulan Mei lho terakhir posting, itupun waktu masih ikutan 30 Days Challange Writing. Sekarang udah mau di penghujung Agustus aja. Maklumlah banyak berkontemplasi (sok asik) dan mengurus ini itu (sok sibuk). Kangen juga ya nulis di blog. Jari-jari jadi rada kaku kalau gak banyak dipakai ngetik.

Waktu bulan puasa datang, eh nulis di blog juga ikut-ikutan puasa. Padahal mah penulisnya lagi gak puasa juga (lagi dalam masa nausea di trimester pertama). Gak punya alasan khusus sih kenapa hiatus sebenarnya. Dan untuk memulai lagi nulis di blog ternyata butuh perjuangan ya..

Memulai lagi kebiasaan yang 3 bulan lamanya ditinggalkan itu ternyata gak gampang. Banyak excuse, banyak tantangannya. Terutama mengumpulkan niat yang utuh dalam menulis lagi. Bukan berarti saya gak menulis sama sekali sih. Ada porsi-porsi menulis yang saya kerjakan juga, hanya bukan di blog. Hiatus kemarin juga banyak saya manfaatkan untuk melahap banyak bacaan untuk menambah khazanah dan hikmah. Salah satunya yang sangat nyangkut adalah Buku Anak Rantau karya A.Fuadi. Wuah itu bagusss banget! Karya A. Fuadi yang terbaik di antara buku-buku sebelumnya. Buku Revive Your Heart dari Nouman Ali Khan juga saaangaat Masya Allah bagusnya. Ketika membacanya seperti membayangkan beliau berceramah. Ada beberapa dari isinya yang pernah saya dengar di ceramahnya. Jadi itu buku rekomendasi dari saya buat yang lagi nyari bahan bacaan.

Emm.. selanjutnya apa lagi ya. Oh iya, tadinya tu mau melengkapi part mengenai ‘Berhaji’ berhubung bulan ini sudah mendekati puncak haji dan banyak juga yang tanya-tanya mengenai Berhaji dari Belanda. Tapi sayang nih, sayanya kurang kuat hati untuk menyisihkan waktu barang sejam aja untuk nulis. Padahal maaah.. poin-poin tulisan udah ada dari kapan.

Banyak juga cerita-cerita yang pengen saya share selama pulkam kemarin ke Indonesia juga curhatan ke-hiatus-an saya di medsos, terutama Instagram dan Facebook. Saya meng-uninstal aplikasi Instagram dan Facebook di ponsel saya. Tadinya saya berazam hanya untuk bulan Ramadhan sampai Idul Fitri. Namun ternyata, hiatus medsos ini berujung pada detoksifikasi. Saya jadi merasa tidak butuh dan tidak ingin untuk membukanya. Saya juga jadi kehilangan kemampuan berkata-kata di medsos saking jarangnya mem-post sesuatu. Saya tidak sign out sih, cuma meminimalisasi gerakan jempol untuk mengklik si simbol F berwarna biru dan simbol kamera ungu yang menggoda, haha.

Saya masih bisa membuka kedua medsos itu melalui chrome di ponsel. Instagram sih gak enak kalau dibuka lewat chrome, tampilannya jelek dan gak menarik. Hebatnya Facebook, walaupun dibuka di chrome masih aja bisa menarik, dulu padahal gak begitu. Disclaimer: Saya masih butuh Facebook untuk grup-grup tertentu yang penting, tapi kadang kepeleset juga lihat timeline, padahal timeline sekarang gak sehat, ckckck. Tapi bener lho, mengurangi waktu berselancar di kedua medsos tersebut, bikin hidup lebih enteng dan segar, entah kenapa.

Berasa ya, tulisan saya jadi ngalor-ngidul gini haha, gak pake ide dan outline, ngetik aja apa yang keluar di kepala.

Yawes, sampai ketemu besok! Insya Allah. Iyaaa, besok saya akan mulai rajin lagi ngeblog, ini janji buat saya sendiri, suwer! Hope the tagline ‘diet always starts tomorrow(means never happen)’  will not apply on me, hoho.

 

Mumbling

Menunggu

Di ruang tunggu boarding bandara Schiphol. Tebak ada berapa orang yang sibuk dengan gadget?

Ruang tunggu boarding di gate M bandara Schiphol siang itu penuh dengan orang-orang yang akan terbang. Destinasinya macam-macam, Lisbon, Milan, Edinburgh, London, Malaga, dll. Semua calon penumpang menunggu dengan sabar. Sekitar 2-3 jam lagi calon penumpang baru akan dipanggil untuk boarding.

Lumayan juga waktu yang dihabiskan untuk menunggu. Banyak cara yang bisa dilakukan selama menunggu. Mengobrol, makan, membaca buku, tidur, main gadget, dan main (untuk Runa tentunya). Untungnya di tuang tunggu ada arena permainan sederhana, berupa perosotan dan anak tangga. Buat anak-anak itu udah lumayan banget. Untuk membunuh waktu, main gadget dan buka-buka hape adalah pilihan paling simpel dan banyak diambil oleh orang-orang, termasuk saya. Mulai dari buka whatsapp-an, teleponan, sampi buka sosmed hingga bosan. Tapi jarang sekali yang saya lihat membaca buku/majalah/koran. Sepertinya membaca bukan menjadi pilihan menarik sekarang ini. Saya sendiri membawa buku The Battle Hymn of the Tiger Mom. Akhirnya dalam durasi 3 jam menunggu, saya habiskan dengan membaca buku, main hape, makan, dan mengawasi Runa main.

Dulu, setiap aktivitas yang melibatkan tunggu-menunggu saya pasti menyiapkan satu buku apapun, untuk dibaca. Terutama di angkutan umum. Maklum dulu kan hape belum secanggih sekarang, jadi lihat-lihat hape cuma 5 menit aja sudah bosan. Paling sms-sms temen, paling mentok main game snake, haha. Sosmed juga belum booming. Kalaupun ada, gak bisa dibuka di hape jadul juga. Sekarang, saya juga masih suka membawa buku ke mana-mana, tapi keinginan membaca buku seringkali kalah dengan nafsu membuka hape, untuk balesin whatsapp dan buka sosmed, heu. Si buku jadi dicuekin di pangkuan. Kecuali kalau bukunya benar-benar bikin penasaran dan gak bisa ditutup.

Kalau melihat ke sekeliling. Di halte bus, di stasiun, di bandara, di kafe dan restoran, di kendaraan umum, di tempat tunggu dokter, dan lain-lain makin jarang menemukan orang yang asyik dengan buku. Hape dirasa lebih simpel dan menarik untuk dinikmati sambil menunggu. Orang baca buku ya kalau gak di perpus ya di toko buku.

Apapun aktivitasnya dalam menunggu, yang penting sih bisa bermanfaat. Saya juga inginnya memberikan memori pada Runa kalau lagi bosan itu ya perginya ke buku, bukan ke hape. Teringat dulu ketika menyambut liburan pulang kampung, papa dan mama selalu mengajak kami ke toko buku untuk membeli banyak bacaan sebagai teman di perjalanan panjang kami.

Mumbling

Ketika Bunda Sakit

Selama tiga tahun di sini, ini adalah kali kedua saya merasakan sakit yang bener-bener sakit. Maksudnya yang ‘benar-benar sakit’ adalah tidak bisa mengerjakan apapun dengan baik, kecuali berbaring saja. Sakitnya ya sebenarnya standar, demam, sakit kepala, meriang, radang. Meskipun begitu, saat itu saya tidak periksa ke dokter dulu. Harus menunggu tiga hari jika kondisi tidak membaik, baru bisa bikin janji dengan huisart (dokter keluarga). Memang benar, di hari ke-4 biasanya kondisi sudah berangsur-angsur membaik. Tetapi, untuk mencapai kondisi yang membaik itu, selama tiga hari sakit adalah yang paling berat.  Rasanya saya harus berjuang supaya sakitnya gak berkepanjangan.

Pekerjaan domestik rumah tangga, mengurus Runa, dan urusan lainnya tidak bisa saya sentuh. Kali pertama saya sakit adalah di saat winter pertama saya di tahun 2014. Saat itu rasanya nelangsa banget, pengen ada (mama) yang bikinin makanan hangat dan enak atau sekedar warteg untuk beli makanan jadi. Concern utama ketika sakit tentunya asupan makanan kan? Kali kedua ini adalah persis setelah Runa sudah baikan dari sakit radangnya. Mungkin penyakitnya berpindah ke saya. Keluhan Runa pada saat sakit adalah: sakit nelen, telinga sakit, ditambah batpil+demam. Beberapa hari Runa tidak bisa tidur karena hidungnya mampet dan batuk-batuk. Seminggu dia tidak masuk sekolah. Rasanya sedih banget pas melihat anak sakit. Akhirnya setelah ke dokter dan diberi obat, kondisinya membaik. Continue reading “Ketika Bunda Sakit”

Mumbling, Random Things, Tentang Menulis

#Day99 ODOP (yang tertunda)

Ternyata hari ini sudah menginjak #day99 di One Day One Posting. Tengok dulu progress ODOP saya? heum.. ternyata masih nyangkut di #day88. Ternyata saya gak bisa menyelesaikan project ODOP for 99 days tepat waktu, hiks. Yowes rapopo. Saya ikut SP (semester pendek) dan kelulusan saya ditunda sejenak. Asal jangan graduation S2 saya aja yang ditunda maak, jangan plis…

Salut sama beberapa rekan yang sanggup konsisten mencapai garis finish tepat waktu! My standing ovation *prokprokprok*. Saya gak punya pembelaan tertentu sih kenapa saya sedikit telat. Benar saya punya amanah lain dalam menulis, benar juga proyek menulis saya sempat berhenti saat liburan bersama orang tua, tapi bukan pembenaraan sih harusnya. Cuma saya memaafkan diri saya deh untuk ini, gak usah terlalu keras pada diri sendiri, haha. Continue reading “#Day99 ODOP (yang tertunda)”

Mumbling

Kenapa sih harus ‘Gak Enakan’ ?

Dari dulu saya ingin menuliskan dengan gamblang mengenai ini, tapi ternyata dua rekan saya (Mbak Nia dan Mas Rully) sudah lebih dulu memaparkannya dengan sangat baik, seperti mengutarakan isi kepala saya. Bedanya, mereka berdua adalah orang yang blak-blakan, dan saya seperti orang Indonesia pada umumnya, masih terbungkus dalam kebiasaan ‘gak enakan’. Itulah kenapa saya masih gatel pengen nulis tentang ini.

Kebanyakan saya merasa ‘Gak enakan’ untuk hal:

Memberikan pandangan/pendapat yang berbeda dengan orang lain Continue reading “Kenapa sih harus ‘Gak Enakan’ ?”

Mumbling, Trash = Relieved

Berkeluh Kesah

Memang sudah jadi sifat dasar manusia gitu ya, berkeluh kesah..
Ini saya lg pengen berkeluh kesah dan lg ga pengen dijudge (please). Hihiks.. Kalo bahasa zaman kuliah yg sering saya pakai saat ngrasa saat-saat kaya gini itu ‘Futur’. Ah udah lama ga mendeklarasikan: “saya lagi futur nih”. Dulu sering banget kalo lagi males ngerjain apa-apa dan pengen ngeluh-ngeluh ngakunya lagi futur. Dan penyebab utama lagi futur ini biasanya adalah lagi ‘dapet’, kombinasi pengaruh hormonal, perasaan ga nyaman, sedikit dismenorea, dan halangan untuk solat jadi bikin mood jadi fluktuatif dan tentunya lebih sensitippp.

Kalau begini bawaannya tuh jadi pesimistis dan pamaleuseun. Pesimis.. Berbagai pikiran negatif jd mampir.. Bisa ga ya saya nyelesein semuanya, bisa ga saya nyelesein research ini, bisa ga saya nyelesein semua urusan kuliah saya sambil mengurus Runa, gmn ya runa nanti pas baru mulai sekolah, ko rasanya saya oon beut yaa, ko rasanya semuanya ga meyakinkan, ko saya ga bisa ngerjain ini itu, saya takut dianggap ga guna, saya bete sama si ini dan si itu.. daaaaaann pikiran jelek lainnya.

Tentunya diri ini tidak ingin berkubang terus di dalam lubang hitam ini, pengen produktif dan semangat lagi.. Sebenernya banyak cara untuk kembali ‘pulih’ dan tergantung kitanya juga gmn mau memulainya. Oke, untuk merefresh diri ini baiknya saya evaluasi apa yang bisa bikin saya terCHARGE lagi

  1. Nulis. seperti ini…
  2. Berkeluh kesah pada seseorang yang mau mendengar tanpa menjudge. Saya jadi kangen my partner in crime selama kuliah dan selama bikin TA. I miss u buddy.. I know we always had a time to whine in each other, dan berlebay2an dalam mengeluh.. dan pada akhirnya kita menemukan semangat itu untuk kembali bangkit. Mungkin itu hal yang hilang saat ini. Saya bukan lagi anak begajulan yg ngeluh lebay di selasar farmasi. Sekarang saya seorang ibu dan istri, dan ya tentunya kita harus tampil sekuat mungkin di depan anak. Malu saya kalo liat Runa lagi riang gembira dan ngoceh2 trus sayanya muram. Pasti deh saya langsung on lagi kalo liat Runa (thank you honey for your smile and spirit..)
  3. Nonton atau baca hal-hal yang bisa ‘bring back spirit’. Kaya kmrn saya sempet yutubing Dian Sastro di SarahSechan.. dan saya sangat amazed.. Terlepas memang dia sangat sempurna dlm segala hal, tapi untuk jadi seperti itu there’s must be a big struggle behind it. Dia bilang dia nyelesein s2 sambil punya 2 anak dan sempet tidur cuma 2 jam untuk menyelesaikan urusan kuliahnya. dan di pagi hari langsung beraktivitas lagi sebagai ibu dan istri yang sigap. Inget-inget si Dian Sastro ini.. masa Dian aja bisa kita enggak? (emang lo sapee)
  4. Kembali padaNya. dan berkeluh kesah padaNya.. Semoga episode ini jadi loncatan untuk jadi yg lebih baik lagi..

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al- Ma’arij: 19-21) Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu senantiasa mengerjakannya“. (Al Ma’arij: 22-23)

Salam…