Pharmacisthings, Random Things

Menertawakan Kebodohan di Masa Lalu

Beberapa waktu lalu saya melihat pengumuman calon rektor Institut Gadjah Duduk (IGD) tahun 2019. Eh ada wajah yang familiar. Bapak dengan ekspresi datar, namun terkesan ramah. Panggil saja Bapak D Pikiran saya melayang ke lebih dari satu dekade silam. Saya lupa saya saat itu saya sedang tingkat berapa dan semester berapa, yang pasti saya masih imut dan polos, haha.

Meski masih imut dan polos, saya sebenarnya bukan mahasiswa yang lurus tanpa dosa, yang selalu rajin belajar dan memperhatikan dosen, yang taat aturan dan bersih dari kotoran akademik.

Setiap saya ingat si Bapak tersebut, yang selalu terbayang adalah keisengan bodoh saya dan kebandelan saya dulu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya, dan semoga anak-anak saya menjadi murid yang lebih baik dari emaknya ini.

Yunow, menjadi mahasiswa farmasi IGD artinya dituntut untuk rajin belajar dan bekerja. Belum lagi persaingan sengit dari para mahasiswa farmasi ambisus (MFA) yang bikin nyali sering ciut. Saya ikut kebawa juga, jadi berusaha untuk mengikuti pace mereka, meski banyak terengah-engah, hadeh. Kenapa sih orang-orang ini rajin mandraguna?

Dosa yang sering saya lakukan terhadap Si Bapak adalah, saya selalu tidak bisa menahan kantuk ketika beliau mengajar. Saya gak paham satupun isi kuliah beliau, bahkan nama mata kuliahnya saja (sekarang ini) saya gak ingat. Artinya apa yang beliau sampaikan di kelas gak sampai ke memori saya, sudah menguap duluan entah di mana. Saya memang gak begitu mengerti dan tertarik dengan bidang farmasi Si Bapak. Kalau tidak salah berhubungan dengan kimia analisis, kimia organik, atau apa deh. Beda cerita kalau menyangkut farmakologi dan farmasi klinik otak saya masih bisa diajak bekerja sama (ternyata ada efeknya juga ya sampai sekarang, bidang saya sekarang gak jauh-jauh dari Clinical Pharmacy and Pharmacology).

Saya berusaha untuk memahami mata kuliah tersebut, saya bolak-balik buku diktat, saya ikutan belajar kelompok, tapi hasilnya nihil. Ketika ujian, tentu saja saya mati kutu. Gak ngerti apa yang ditanyakan apa dan harus menjawab apa. Saya cuma bisa menjawab hal-hal yang berbau hapalan saja (itupun kalau benar). Saya mulai kasak-kusuk pas ujian, yaa.. kali aja ada kawan yang bisa memberikan pertolongan. Ya Allah, malu aku malu pada semut merah kalau inget itu. Habisnya, bayangan dapat nilai jelek dan dipandang bodoh oleh MFA lain bikin saya putus asa. Jadi deh, kebaikan dalam diri dikalahkan oleh pemikiran cetek itu. Saya lupa akhirnya apa saya dapat jawaban atau tidak dari kawan lain, tapi intinya saya sempat menarik perhatian Si Bapak ketika ujian, dan Si Bapak bolak-balik mendekat ke arah saya dan kawan-kawan. Jangan dicontoh ya guys. Itu hanya kekhilafan sesaat kok, serius. Di ujian lainnya saya lurus-lurus aja.

Itu satu.

Cerita lainnya.

Continue reading “Menertawakan Kebodohan di Masa Lalu”

Random Things

Halo, New Look!

Saya ini orangnya susah pindah ke lain hati. Kalau udah klik sama sesuatu, susah deh buat mengalihkan pada hal lainnya. Kalau saya sudah nyaman dengan suatu posisi tertentu, butuh waktu bagi saya untuk bisa melepaskan diri posisi enak tersebut. Antara setia dan mager (malas gerak) emang beda tipis, haha.

Seperti juga dengan blog ini. Tampilan blog jarang saya utak-atik. Dari dulu gitu aja terus, gak berkreasi (mungkin saya sebenarnya memang males aja untuk ngutak-ngatik). Saya ingat tampilan blog saya dulu didominasi oleh warna biru. Saya lupa saya set tampilan tersebut dari tahun berapa. Lalu setelah saya mulai rajin nulis lagi di blog, tampilan saya ganti di tahun 2014. Untuk mengenang si wajah lama, saya pernah post di sini.

Akhirnya setelah 3 tahun dengan tampilan berwarna pink-putih dengan aura soft, saya mengganti wajah blog saya dengan template appearance yang baru (dan yang masih gratis tentunya :P).

Tampilan Blog Monik 2014-2017

Memperbaharui tampilan blog gak ada maksud apa-apa sih, supaya lebih fresh aja, dan makin raijn nulis, hoho.. Semoga saja makin produktif. Ternyata suami mulai ketularan semangat nulis. Baru semangatnya aja sih, belum eksekusinya, wkwk. Dari dulu dia ingin nulisin pengalaman merantau setahun pas double degree di Groningen. Di saat masa muda masih susah penuh dengan semangat. Let’s see sejauh mana bisa berhasil.

Anyway, ini tampilan baru si blog saya. Lebih kalem dan nampak selow, menandakan kedewasaan (apa seehh Mooonn?). Yah, semoga aja jadi doa, memang si penulis di belakang blog ini makin dewasa. Saya memasukkan beberapa header yang bisa berubah-ubah tiap klik. Tiap header merupakan foto favorit saya.

Kardinge saat salju. Foto diambil saat saya lari pagi. Dingiiinnn, tapi indah pemandangannya

 

Lingkungan dekat rumah kami, di Lewenborg. Saya suka banget lingkungan kami, yang walaupun kata orang jauh dan ndesa, tapi damai. Asli, pemandangan pepohonan, ada burung-burung, bebek, danau, jembatan, bisa dilihat dengan hanya melangkah beberapa meter dari rumah.

 

Our favorite babymoon, di Santorini, Yunani

 

Our favorite spring trip, Hallstatt, Austria

See you!

Random Things

Saat Tidak Tahu itu Lebih Baik

Kadang kala saya merasa ada bagusnya juga saat kita dalam posisi “tidak tahu”. Padahal tidak tahu itu bisa juga berarti negatif kan.. Tidak tahu = bodoh, tidak tahu = tidak update, tidak tahu = malas mencari tahu.

Baru saya sadari, ternyata ada tidak tahu yang memiliki arti positif.

Yaitu saat kita tidak tahu aib saudara/teman kita. Kita jadi tidak penasaran, tidak ambil pusing, tidak kepo, atau bahkan ikut membicarakan aib tersebut. Berbahagialah ketika kita tidak tahu apa-apa. Lebih baik tidak usah mendengarnya sama sekali. Kalau sudah terlanjur tahu? Ya pura-pura saja tidak tahu.

Seperti kata hadits: “Barangsiapa menutupi (aib) saudaranya sesama muslim di dunia, Allah menutupi (aib) nya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Pratiknya tentu tidak mudah, perlu banyak menahan mata, mulut, telinga. Jadi ingat kisah hikayat tiga monyet bijak yang terkenal dalam proverb: see no evil, hear no evil, speak no evil. Monyet pertama bernama Mizaru menutup matanya (terhadap pandangan yang buruk); Kikazaru, si monyet kedua menutup telinganya (dari suara/hal-hal yang buruk); monyet terakhir Iwazaru menutup mulutnya (dari perkataan yang jelek).

Gambar dari sini
Gambar dari sini

Saya juga pernah dengar bahwa kita itu bukanlah apa-apa jika Allah tidak menutup aib-aib kita. Bisa saja aib-aib kita sebenarnya lebih banyak daripada orang yang tampak aibnya tersebut. Saya juga bukannya sudah berada dalam posisi paling benar sih, seringkali mata, telinga, dan mulut ini ikut terseret dalam mendengar dan membicarakan aib orang lain. Entah kenapa memang ghibah itu ada daya tariknya.

Itulah kenapa program infotainment berisi gosip-gosip artis sangat laku ya di Indonesia. Salah satu yang saya syukuri di sini adalah sejak di sini saya sama sekali tidak tersentuh gosip-gosip artis Indonesia yang kadang kacangan, gak jelas, gak penting, haduhh.. Ya soalnya gak bisa nonton di tv juga, kecuali mau streaming (niat banget itu sih). Gak ada tabloid gosip beredar. Berita online? Saya mah ga tertarik baca berita online. Pernah saya merasa iya ya sepi juga tv gak ada acara yang seru-seru apa kek tentang artis, tapi langsung saya getok kepala sendiri, sadar woy! Udah bagus dihindarkan dari acara yang gak manfaat gitu malah pengen tau. Ini adalah posisi tidak tahu yang positif.

Masih harus banyak latihan sih. Banyak berpikir jernih, sejenak hening.. untuk menikmati hidup. Saya baca buku Adjie Silarus yang Sadar Penuh Hadir Utuh juga belajar banyak jadinya. Nanti kalau sudah beres saya tulis resensinya ala saya. Recommended! Untuk orang yang selalu merasa dikejar-kejar waktu, yang merasa sibuk terus, dan merasa sering tidak fokus dan tidak bahagia dengan hidupnya.

Maaf ini postingan malah loncat-loncat.. Maklum postingan ke #99 di ODOP sih jadi banyak yang pengen dikeluarin.

Intinya balik lagi ke bahasan mengenai tidak tahu. Ada baiknya memiliah apa yang ingin kita tahu dan tidak kita ketahui demi kebaikan kita sendiri.

Wallahu a’lam bishawab.

Lifestyle, Random Things

My Top 10 Guilty Pleasures

Guilty pleasureSomething that you shouldn’t like, but like anyway (Urban Dictionary)

Guilty pleasure ~ Something pleasurable that induces a usually minor feeling of guilt (merriam-webster Dictionary)

Monik version: Kesenangan yang berdosa. Jadi suatu kegiatan yang sebenarnya tidak sesuai (pakem pribadi) tapi dalam pelaksanannya itu malah bikin doyan atau nikmat. Walaupun tau salah tapi tetep dikerjain juga.. Dalam proses pengerjaannya ya terselip rasa bersalah jadinya.

Here’s my top 10 guilty pleasure (random order)

1. Tidur sama Runa

Sejak Runa menginjak 3 tahun, memang kami mencoba agar Runa tidur sendiri. Walaupun belum beda kamar, tapi paling tidak beda tempat tidur dulu deh. Memang awal-awal susah karena Runa pengen ditemenin dan dibacain buku dulu, kadang Runa juga masih pengen bobo sambil ndesel-ndesel Bundanya. Lama-lama Runa bisa juga tidur di kasur sendiri tanpa ada saya. Cumaaa… sayanya yang kadang susah move on. Kalau Runa mau tidur malah saya yang nawarin bobo bareng saya *emak tidak konsisten*. Saya malah berakhir tidur empet-empetan di kasur mungil Runa, biasanya saya ketiduran setelah bacain buku atau kalau Runa kebangun tengah malem saya yang setengah sadar ngepuk-pukin Runa di kasurnya. Ayahnya yang geleng-geleng kepala, ini gimana anaknya mau mandiri? Habis tidur deket Runa enak siih, wangiii dan lembuuut, hihi.. Continue reading “My Top 10 Guilty Pleasures”

Mumbling, Random Things, Tentang Menulis

#Day99 ODOP (yang tertunda)

Ternyata hari ini sudah menginjak #day99 di One Day One Posting. Tengok dulu progress ODOP saya? heum.. ternyata masih nyangkut di #day88. Ternyata saya gak bisa menyelesaikan project ODOP for 99 days tepat waktu, hiks. Yowes rapopo. Saya ikut SP (semester pendek) dan kelulusan saya ditunda sejenak. Asal jangan graduation S2 saya aja yang ditunda maak, jangan plis…

Salut sama beberapa rekan yang sanggup konsisten mencapai garis finish tepat waktu! My standing ovation *prokprokprok*. Saya gak punya pembelaan tertentu sih kenapa saya sedikit telat. Benar saya punya amanah lain dalam menulis, benar juga proyek menulis saya sempat berhenti saat liburan bersama orang tua, tapi bukan pembenaraan sih harusnya. Cuma saya memaafkan diri saya deh untuk ini, gak usah terlalu keras pada diri sendiri, haha. Continue reading “#Day99 ODOP (yang tertunda)”

Lifestyle, Random Things

Dari Jarkom ke Group WhatsApp

Coba hitung ada berapa grup whatsapp yang ada di smartphone kamu? 10, 20, 30? Katanya sih makin banyak group WA makin menunjukkan tingkat keaktifan seseorang. Saya sendiri punya kira-kira lebih dari 20 grup WA, tapi yang aktif saya ikuti atau yang aktif berbunyi paling hanya sekitar 6-10. Mulai dari grup whatsapp keluarga, saudara, teman kampus, tetangga, alumni SD, angkatan farmasi, genggong pas kuliah, awardee, komunitas blogger, komunitas di Groningen, sampai grup whatsapp sementara, yang terbentuk untuk janjian bikin acara, kepantiaan, atau iuran kado. Kreatif dan praktis banget generasi zaman Y dan Z ini. Gak ribet mau komunikasi atau memberi informasi di antara kumpulan orang, tinggal bikin grup, ngobrol di grup, jadi deh.

Saya jadi inget zaman saya SMA dan kuliah dulu. Mana ada grup whatsapp untuk woro-woro ngasih pengumuman. Yang ada itu adalah JARKOM, alias jaringan komunikasi. Masih inget gak? Continue reading “Dari Jarkom ke Group WhatsApp”

Only a Story, Random Things

Obrolan Konyol tentang Pendidikan Runa

Suatu kali saya dan suami terlibat obrolan serius, biasanya banyak becandaan soalnya.

Pembicaraan dimulai dari fenomena pelajar Indonesia di Groningen yang jumlahnya meningkat drastis. Gak cuma yang berbekal beasiswa, tapi juga yang mendapat kucuran dana dari ABF (Ayah Bunda Foundation) alias biaya sendiri. Saya merasakan ternyata orang Indonesia tu sebenernya banyak ya yang kaya, banyak banget yang kuliah di sini pake biaya sendiri, ga cuma yang kuliah S2, yang S1 juga banyaak. Contohnya anak UI yang bisnis itu (katanya) seangkatan sekolah semua di LN, double degree. Biayanya pasti aduhai..

Terus saya tanya sama suami: “Yah kalo nih ya, kalo.. misalnya kita tu orang kayaaa banget, banyak duit, yang duitnya ga berkurang kalo dipake nyekolahin anak ke LN, ayah mau ga Runa disekolahin di LN? Untuk S1 lho ya..” Continue reading “Obrolan Konyol tentang Pendidikan Runa”