review buku

Review Buku Battle Hymn of the Tiger Mother vs The Happiest Kids in the World

Battle Hymn of the Tiger Mother – Amy Chua VS The Happiest Kids in the World – Rina Mae Acosta & Michele Hutchison

Kedua buku ini saya baca di waktu yang hampir bersamaan, dan saya tamatkan di waktu yang berbeda. Meskipun kedua buku bertema parenting ini memiliki daya tarik tersendiri—tentunya dengan kubu dan pendekatan parenting yang berbeda. Anehnya, saya tidak langsung bisa menamatkan kedua buku tersebut dalam waktu relatif cepat, ada jeda waktu saat saya membaca kedua tersebut. Ada rasa “lelah” yang menggelayut saat saya membuka bab demi bab dari buku tersebut, dan saya butuh pause sebelum saya menyelesaikannya. Apa sebabnya?

Saya mulai dari buku pertama, sebuah memoar dari Amy Chua dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Amy Chua adalah seorang Chinese Mother, generasi kedua, yang lahir dan dibesarkan di Amerika. Kedua orang tuanya merupakan imigran pekerja keras, ayahnya merupakan lulusan PhD di universitas beken, Massachusetts Institute of Technology (MIT). Orang tua Chua mendidik Amy dan ketiga adik perempuannya menjadi seorang high-achiever, yang Amy bilang merupakan tipikal Chinese next generation after immigrant parents.

Amy Chua memiliki asumsi bahwa generasi Chinese ketiga (yaitu anak-anaknya, Sophia dan Lulu) akan menjadi generasi yang spoiled dan akan terjadi “penurunan kualitas hidup/value” generasi. Sebabnya generasi ketiga ini memiliki kenyamanan hidup dengan orang tua yang mapan, dengan kehidupan yang upper-middle class di Amerika. Kekhawatirannya ini membuat Amy kemudian berusaha menerapkan the Chinese hard and tough parenting pada kedua anaknya. Kebetulan juga Amy Chua lahir di tahun harimau, menurut kalender Cina, jadilah ia seorang Tiger Mom, memang cocok dengan karakter Amy yang percaya diri, tense, dan pengatur.

But. I could make sure that Sophia and Lulu were deeper and more cultivated than my parents and I were. (page 22)

Continue reading “Review Buku Battle Hymn of the Tiger Mother vs The Happiest Kids in the World”
review buku

Review Buku The Power of Habit – Charless Duhigg

All our life has it definite form, a mass of habits“. Kita mungkin mengira kalau kebanyakan dari keputusan yang kita ambil sehari-hari merupakan hasil dari pertimbangan yang matang, padahal bukan, keputusan-keputusan tersebut datang dari habit (kebiasaan), misalnya makanan yang kita pesan, apa yang kita ucapkan pada anak-anak sebelum tidur, apa saja yang kita beli di supermarket, berapa lama kita berolahraga, bagaimana kita mengatur pikiran dan work routines kita, dll. Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut tak disangka bisa memiliki efek yang besar bagi kesehatan kita, produktivitas, finansial, dan tentunya kebahagiaan. Kok bisa? Buku ini mengupasnya dengan lengkap.

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama fokus pada bagaimana habits bisa muncul di kehidupan seseorang, hal ini melibatkan kerja neurologi sampai pada transformasi habit. Lalu ada juga penjelasan mengenai bagaimana membangun kebiasaan baru dan menggantin kebiasaan lama, apa saja metodenya, dan polanya. Bagian kedua memaparkan bagaimana habits dari perusahaan dan organisasi yang sukses di dunia. Contohnya, bagaimana seorang CEO bisa mengubah perusahaan manufaktur yang sedang struggling menjadi top-performer company. Dan sebaliknya, bagaimana kumpulan-kumpulan dokter bedah bertalenta tetapi malah membuat kesalahan katastropik dengan adanya habits yang salah. Bagian ketiga menjelaskan bagaimana habits yang ada di masyarakt bisa mengubah dunia.

Setiap babnya memiliki pesan yang seragam, bahwa habits can be changed, if we understand how they work

Dalam buku ini dijelaskan mengenai habit loop: cue, routine, and reward. Sinyal, rutinitas, dan hadiah. Tiga hal itulah yang membangun habit.

Change might not be fast and it isn’t always easy. But with time and effort, almost any habits can be reshaped

Continue reading “Review Buku The Power of Habit – Charless Duhigg”
review buku, [GJ] – Groningen’s Journal

Pemesanan Buku Groningen Mom’s Journal dan The Power of PhD Mom

Halo para pembaca! Yang belum sempat membeli dan membaca buku Groningen Mom’s Journal dan The Poewer of PhD Mom, berikut informasi pemesanannya ya.

Groningen Mom’s Journal – terbitan Elexmedia, 2018

Bisa menghubungi:

Shopee Samudra Books shopee.co.id/urfaqurrotaainy atau

web www.samudrabooks.id. IG: https://www.instagram.com/samudra.books/

Samudra Book melayani pengiriman ke seluruh Indonesia, ke beberapa negara lain, seperti Malaysia (via Shopee) 😊.

The Power of PhD Mom – terbitan NEApublishing, 2021

Reposted from @neapublishing SUPER MUSLIMAH

Jadi muslimah sekaligus ibu dan istri bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi dan mengejar cita.

@monikaoktora adalah contohnya. Perempuan muda ini melebarkan langkahnya hingga ke Belanda untuk meraih gelar Doktor sembari menjalani perannya sebagai istri dan ibu bagi dua buah hatinya.

Mau tahu Monika sekolah apa di Belanda?

Monika studi PhD (S3) di Clinical Pharmacy and Pharmacology Dept, University Medical Center Groningen (UMCG) di Groningen, Belanda.

Keren kan?

Insya Allah, kisah seru Monika akan hadir dalam buku THE POWER OF PhD MAMA.

Ini buku baru terbitan @neapublishing.
Info pembelian buku bisa kontak admin NEA Publishing di +62-821-2690-8782
Just Learning, review buku

Review Buku Peak, Secrets from the New Science of Expertise – Anders Ericsson dan Robert Pool

Saya mencatat apa-apa yang penting dari buku ini di blog, supaya saya gak lupa. Bahwa semangat saya terpantik setelah membaca buku ini. Jadi bismillah, semoga bisa bermanfaat.

Kadang kita suka bertanya-tanya kalau melihat ada orang yang kok kayanya berbakat banget dalam suatu hal: ada orang yang kelihatannya dengan sedikit effott tapi kok bisa mengerjakan sesuatu dengan maksimal. Misal ada teman yang kelihatannya gak belajar banyak Matematika, tapi tiap ujian nilainya paling tinggi, bahkan bisa sampai ikut olimpiade Matematika. Wah ini pasti otaknya encer, dan kita yang lemot dalam urusan logika dan angka. Lalu ada orang yang jago banget nih olah raganya, padahal latihannya kayaknya sama-sama aja. Ada orang yang sepertinya gifted dalam hal seni, main gitar bisa, piano jago, sementara kita kok bersin aja fals.

Pertanyaanya, apakah benar kalau orang-orang tersebut memang terlahir dengan sesuatu yang exceptional, yang kita sebut bakat, atau kelebihan di bidang tertentu? Buku ini menjawab rahasia tersebut, dari sisi ilmiah, dari riset, studi literatur, dan data-data sejarah. Boring dong? Sama sekali enggak, serius. Bacanya kayak lagi diceritakan suatu rahasia dari kemampuan manusia, yang kadang kita anggap gak mungkin atau gak penting.

Buku ini bermula dari cerita sang Maestro Musik, Mozart, yang terkenal sangat jenius, memiliki perfect pitch, yaitu keahlian mengidentifikasi nada dari instrumen musik, manapun. Mozart bisa secara langsung membedakan mana A-sharp di oktaf kedua, atau E-flat di bawah middle C, dst.. (Saya juga ga terbayang, haha). Semua orang percaya bahwa Mozart lahir dengan bakat musik yang luar biasa, udah dari sononya gitu. Tapi benarkah begitu? Hal ini kemudian dibahas detail di buku ini. Bagaimana potensi manusia itu sebenarnya luar biasa, even we can create our potential. Yang jadi masalah adalah, kita sendiri yang suka membatasi diri, kalau: “Saya mah gak bisa”, “Saya gak bakat”, “Otak saya cuma segini-gininya”, “Emang dari sananya kemampuan aku gini aja”, WRONG!

Kemampuan manusia yang luar biasa ini bisa dibentuk, dilatih, dan dikembangkan, dengan yang namanya DELIBERATE PRACTICE.

Apa itu deliberate practice? Ini bukan proses biasa, tetapi memiliki TUJUAN yang jelas dengan POLA tertentu. A purposeful practice has well-defined specific goal, more thoughtful, and focus/full attention. 

Continue reading “Review Buku Peak, Secrets from the New Science of Expertise – Anders Ericsson dan Robert Pool”
review buku

Review buku Deep Work – Cal Newport

Buku pertama yang saya selesaikan di 2021. Saya sebenarnya gak banyak baca buku self-development, tapi di satu titik, saya rasa saya perlu ilmu untuk bisa bekerja lebih efektif. Terlebih lagi di dunia yang saat ini penuh distraksi: revolusi digital network, arus informasi yang deras (entah benar atau hoax), dan tentunya godaan sosial media.

Continue reading “Review buku Deep Work – Cal Newport”
review buku

Review buku Freelance 101

Review buku Freelance 101, by Ikhwan Alim @zakki.wakif

Freelance. Dulu, waktu saya baru punya anak, saya gak kepikiran untuk bekerja kantoran, apalagi di Jakarta. Pikiran saya saat itu, pokoknya ribet kerja fix time sambil ngurus anak. Pekerjaan paling ideal yang bisa saya pikirkan adalah menjadi pekerja freelance. Padahal saya gak tahu juga pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakan freelance😅. Akhirnya gak pernah nyobain deh.

Coba aja saya baca buku ini pada saat itu, pasti saya akan kebayang mengenai seluk-beluk freelance. Buku ini mengupas hal-hal dasar yang wajib dipahami oleh setiap freelancer: cara memulainya, bidang-bidang pilihan freelance, bagaimana proses operasional seorang freelancer, trik meningkatkan produktivitas dan kreativitas freelancer, sampai pada titik apakah freelance hendak dijadikan profesi permanen.

Yang menarik adalah penulis menekankan freelance itu bukanlah suatu pekerjaan yang “asal jadi”, yang penting bisa kerja sesuai hobi dan dapat duit secukupnya. Tidak, freelance juga membutuhkan profesionalitas plus passion. Profesi yang bersifat lepasan ini sangat menantang dan perlu nafas panjang.

Freelance bukan hanya cocok bagi para mahasiswa yang ingin mencari penghasilan tambahan, atau bagi para wanita yang memutuskan bekerja dari rumah. Tetapi freelance juga bisa dilakukan seorang karyawan kantoran, staf tetap, atau seorang yang ingin mengamplifikasi hobinya. Kuncinya ya tadi, be professional, nothing is impossible.

Buku ini ditulis oleh senior saya di farmasi dan di himpunan dulu. Selalu banyak belajar dari beliau. Kalau dulu berdiskusi dengannya, saya suka ngawang sebab bahasan sama beliau gak terjangkau pikiran saya, haha. Ide-ide dan pilihan karir Kak Ikhwan sangat unik. Terima kasih Kak Ikhwan sudah menulis buku ini dan membagi pengalamannya. Sukses selalu👍

#BacaBuku2020 #freelancer #freelance101 #ReviewBuku #pekerjalepas #DreamJob

 
review buku

Review singkat buku Metode Inovatif dalam Menghafal Al-Qur’an

“Dan sungguh telah kami mudahkan Al Qur’an untuk diingat, apakah ada yang mau mengingatnya?” (Al Qamar:17)

Menjadi penghafal Al Qur’an pastilah menjadi cita-cita banyak orang. Siapa yang tidak ingin bertemu Allah dengan bekal firman-firmanNya yang terpatri di hati dan pikirannya.

Buku ini mengupas langkah inovatif dalam menghafal Al Qur’an dalam 3 langkah:
1. Mendengarkan murattal di waktu luang, sebelum tidur, dan setelah bangun tidur.
2. Tahap memahami, mentadaburi maknanya. Caranya dengan membagi per tema/kisah.
3. Tahap memperkuat hafalan dengan membaca dari mushaf. Tentu dengan mengulang-ulangnya.

Buku ini juga menjabarkan lebih detail bagaimana mengimplementasikan langkah-langkah tsb, beserta bagaimana cara murajaah terbaik, sesuai dengan pengalaman penulis, Abdel Daim Kaheel, yang merupakan peneliti tentang kemukjizatan ilmiah Al Qur’an.

Saya melihat secercah cahaya setelah membacanya. Meski perjalanan menghafal masih panjang, tapi nasihat-nasihat emas dalam buku ini membuat saya lebih optimis.

Barakallah Gurunda Ustadz @hartanto_saryono dan tim @rumahtajwid.id sudah mencetak kembali buku ini. Insya Allah banyak sekali manfaatnya.

#BacaBuku2020 #MenghafalAlQuran #Murojaah #RumahTajwid

review buku

Review Buku Helen dan Sukanta – Pidi Baiq

Dari semua buku Pidi Baiq yang pernah ditulis dan saya baca, ini yang menjadi favorit saya, Helen dan Sukanta. Dahulu saya pernah dibuat ngakak-ngakak pas baca serial Drunken-nya, dan dibuat termehe-mehe pas baca kisah Dilan-Milea, tapi kisah Helen dan Sukanta ini lain. Begitu dalam sekaligus menyayat. Begitu tulus dan romantis tapi tidak picisan. Dibalut dengan latar sejarah di era kolonialisme Belanda di Indonesia tahun 1930-1945. Lengkap dengan penuturan deskripsi tempat yang cukup detail di kawasan Ciwidey-Bandung-Lembang, di masa tersebut. Pikiran saya langsung melayang membayangkan Bandung tempo doeloe yang dingin dan berkabut di pagi hari, dengan tempat-tempat yang mengundang rasa rindu.

Saya masih terpikir apakah kisah Helen ini fiksi atau nyata. Rasanya terlalu nyata untuk fiksi, tetapi terlalu tragis jika ini nyata. Tadinya di awal-awal bab, saya mengira kisah cinta antara Helen dan Sukanta (Ukan) akan serupa Dilan-Milea, khas kisah cinta anak muda yang berapi-api. Tetapi tidak, kisah mereka tumbuh dari persahabatan anak-anak yang senang bermain dan mengeksplorasi alam. Tentu percakapan unik khas Pidi Baiq yang jenaka tetap terasa.

Helen Maria Eleonora adalah Noni Belanda yang lahir dan dibesarkan di Tjiwidey, ayahnya bekerja di perkebunan di sana. sementara Sukanta adalah pribumi biasa yang tinggal di daerah lingkungan Helen. Helen yang tidak punya teman karena keluarganya tertutup dari lingkungan luar selalu merasa kesepian. Dari Ukan-lah Helen menemukan kesenangan yang bebas, bermain di sungai, mencari belut, menjelajahi Situ Cileunca, diajari makan dengan tangan dengan menu khas rakyat. Sudah bisa ditebak tentu kisah cinta mereka mendapat pertentangan kuat dari pihak keluarga Helen. Namun, pada akhirnya bukan keluarganyalah yang memisahkan mereka, tetapi kondisi keji peperangan dan kekejaman pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Aku ingin segera mengatakan bahwa sebuah perang selalu tidak menyenangkan, yang ada hanyalah penderitaan, terutama bagi warga sipil.” (Halaman 351).

Dari sosok Helen saya merasakan bahwa tidak semua orang Belanda di masa penjajahan adalah sosok antagonis, tidak semua bersalah atas penderitaan rakyat Indonesia. Dari sosok Ukan saya mendapatkan ketulusan dan keramahan orang Indonesia, yang pada zaman sekarang ini semakin memudar.

“Orang Hindia dalam banyak hal lebih punya simpati dan perhatian daripada orang Belanda. Mereka lebih banyak memberi penghormatan yang bisa dirasakan oleh setiap orang Belanda. Oleh karena itu, harus aku katakan, orang Hindia hanya ingin mengambil persahabatan, tetapi kita membalasnya dengan kaki di atas kepala mereka.” (Helen, Halaman 236)

Saya yakin Helen adalah orang Belanda yang lebih mencintai tanah Bandung dan Indonesia melebihi orang Indonesia sendiri atau melebihi tanah nenek moyangnya, Belanda. Belanda baginya adalah tanah asing, yang tidak pernah ia rasakan kedekatan batinnya. Saya jadi mengerti mengapa orang-orang yang merantau jauh ke luar negeri, tetapi dalam lubuk hatinya nama Indonesia masih saja terpancang kuat. Meski coreng-moreng membayangi wajah Ibu Pertiwi.

Penuturan situasi alam Ciwidey, Bandung, dan Lembang pada jaman kolonialisme digambarkan dengan apik oleh Pidi Baiq. Ada lembah-lembah, sungai, kebun teh, perumahan, suasana Bandung, dan jalan-jalannya yang masih diikuti dengan weg (jalan, dalam bahasa Belanda). Saya seperti diberi kemampuan untuk bernostalgia dan menjelajahi kehidupan di tahun tersebut tanpa pernah ada di sana.

“Waktu akan membuat kita lupa, tapi yang kita tulis akan membuat kita ingat.” —Pidi Baiq

Helen dan Sukanta – Pidi Baiq
Mumbling, review buku

Membaca Kembali Groningen Mom’s Journal

Ceritanya saya ingin segera menuntaskan naskah Groningen Mom’s Journal part 2, yang sudah lama mendekam di laptop. Ingin rasanya segera menyerahkannya ke editor, disunting, lay-out, cover, dicetak, beres deh. Tapi beberapa pekan ini saya lagi agak sibuk, entah sibuk apa, haha. Yang pasti di antaranya ngerjain tugas riset, yang memang gakan beres-beres, heuheu.

Wiken ini saya memaksa diri saya untuk mantengin laptop untuk urusan naskah. Ya Allah kayaknya saya udah lama meninggalkan si naskah ini huhu. Terus saya malah jadi ingin baca lagi buku pertama saya. Ingin tahu dulu saya nulis apaan sih? Sebagai referensi dan pembanding dengan naskah yang sedang GMJ part 2 ini.

Groningen Mom’s Journal

Jujur sejak buku saya terbit, saya memang gak pernah membacanya lagi, bisi malu, haha.. aneh yak sama tulisan sendiri kok malu. Ya begitu deh sifat minder saya suka gengges emang. Saya paksain deh baca dari awal sampai akhir, saya ingin tahu bagaimana gaya nulis saya, apa informasi yang dulu saya tulis, menarik/membosankan gak, dll. Saya juga bingung yak, dulu bisa aja menyelesaikan naskah lengkap itu, hebat ey. Tapi di sisi lain ternyata saya sadar tulisan saya masih banyak kurangnya juga di sana-sini. Masih ada bagian yang “apaan sih?” (menurut saya), dan juga kalimat-kalimat yang gak enakeun. Atau bahkan alur yang mboseni (mungkin karena saya udah pernah ngalamin apa yang ditulis kali ya).

Yah gakpapa lah ya, namanya juga buku pertama, banyak yang harus di-improve. Yang pasti saya harus memberikan apresiasi pada diri saya untuk karya saya yang satu ini. Meski bukan best seller dan tidak cetak ulang, setidaknya pernah mampir di toko buku besar di Indonesia, dipajang di rak buku, dan dinikmati oleh banyak pembaca di Indonesia, Alhamdulillah.

Buku tersebut menjadi refleksi kehidupan saya dan keluarga selama dua tahun pertama tinggal di Groningen. Kayaknya di dalam buku tersebut terasa masih setetes aja yang saya pahami dari kehidupan merantau di Groningen. Masih sedikit yang saya tahu tentang Belanda dan apa-apa yang ada di dalamnya. Sekarang sudah enam tahun berselang dari 2014 lalu, rasanya banyak yang berbeda. Banyak hal-hal baru yang ternyata oh begini dan oh begitu. Yang tadinya ada hal-hal menakjubkan sekarang jadi biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal sulit sekarang ya biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal biasa aja eh malah jadi sesuatu yang penting. Ada hal-hal yang bergesar dan bergerak. Begitu deh kehidupan.

Maaf saya mah cuma numprang ngecapruk aja ini mah.

review buku

Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata

Sepertinya cuma buku Andrea Hirata yang bikin saya gak akan menutup buku sekali membuka lembar pertama ceritanya.

Akhir minggu. Saya buka bukunya di pagi hari, pikiran saya terpaku pada kisahnya, gak mau pergi. Siang hari saya baca di sembari menemani anak-anak bermain. Malam hari, saya tamatkan tanpa jeda. Seperti ingin mengikuti terus ke mana langkah kaki Aini dan Guru Desi di cerita tersebut.

Andrea Hirata selalu bisa mengangkat topik orang-orang marginal menjadi sesuatu yang mencengangkan. Cerita Andrea Hirata meniupkan motivasi, mengembangkan mimpi, dan memperkaya jiwa. Sama seperti dulu saat saya membaca dua karya pertamanya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi 15 tahun yang lalu. Yang membuat saya ingin bermimpi ingin mengejar cita-cita ke negeri asing, dan meyakini bahwa tak ada yang mustahil bagi siapa yang berusaha keras. Dan buku Guru Aini ini telah melecutkan semangat yang sama pada saya dengan kedua buku pendahulunya.

Guru Aini, Andrea Hirata

Melalui sosok Aini, saya temukan berlian di balik timbunan lumpur. Berlian yang akan menampakkan kilaunya ketika ditempa dengan alat yang tepat, dan cara yang benar. Bahwa kebodohan bukanlah sesuatu yang absolut, tapi kemalasanlah sumber kebodohan. Bodoh atau tidak itu terletak pada keinginan untuk mengubah nasib. Dan keinginan itu akan ada ketika kita memiliki motivasi yang kuat. Motivasi Aini, si anak peraih angka biner 0 1 0 setiap ulangan Matematika, adalah ia ingin menjadi dokter ahli. Padahal ia sendiri tidak tahu apa itu dokter ahli, pokoknya ia ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan penyakit ayahnya. Ayahnya yang hanya berjualan mainan anak-anak kaki lima di pelabuhan tiba-tiba kolaps, perawat di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Kabupaten tak ada yang bisa mengobati. Mustahil pula keluarga Aini bisa membawa ayahnya berobat ke dokter ahli.  kota Palembang. Kata Tabib di Selat Garam, tabib kesekian belas yang didatangi, penyakit model Ayah Aini hanya bisa disembuhkan dengan sekolah, dengan ilmu kedokteran modern, oleh dokter ahli.

“Ada keindahan yang sangat besar pada seseorang yang sangat ingin tahu, Laila, keindahan yang terlukisakan kata-kata” (Guru Desi pada Guru Laila, hal  198).

Tak ayal sesekali dia gembira, gembira karena keluarga dan sahabat setia, namun memahami suatu ilmu memberinya bentuk gembira yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Kegembiraan yang sulit dilukiskannya dengan kata-kata (Aini, hal 206).

“Jika Ibu ikuti dengan pensil, lambang ini takkan pernah berakhir. Inilah lambang infinity, Bu, suatu lambang yang bagi kemungkinan tak berhingga. Kata Guru Desi, kemungkinan tak berhingga bagi mereka yang ingin belajar, bagi mereka yang punya niat baik, bagi mereka yang berani bermimpi.” (Aini pada Ibunya, hal 212).

Continue reading “Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata”