Tentang Menulis

Giveaway Groningen Mom’s’Journal

#Giveaway #GroningenMomsJournal

WhatsApp Image 2018-03-30 at 19.45.38
Buku ini merantau dari Indonesia dan akhirnya menemukan “rumahnya”. Iya, gambar sampul depan Groningen Mom’s Journal ini memang ada betulan di Groningen. Merupakan salah satu spot favorit saya di Groningen. Kalau di sampul buku terlihat pohon-pohonnya masih hijau pertanda musim semi sedang bertandang. Saat ini dedaunan di pohon-pohonnya masih baru akan tumbuh. Musim semi segera datang!

Nah, buat yang penasaran belum baca bukunya, ikutan yuk #giveaway #GroningenMomsJournal ini. Caranya gampang!
1. Like postingan di Instagram @monikaoktora
2. Repost foto ini
3. Tuliskan makna rumah atau merantau bagimu di postingan tersebut. Boleh berupa puisi, fiksi mini, atau kontemplasi singkat.
4. Tag dan mention ig saya @monikaoktora di postinganmu, biar ga kelewat di notif saya
5. Tag minimal 5 teman kamu, sekalian ajakin ikut giveaway ini
6. Jangan lupa hastag #GroningenMomsJournal .

Deadline 7 April 2018, pukul 23.59 WIB.

Dua tulisan yang paling menarik dan bermakna, akan mendapatkan buku Groningen Mom’s Journal!
Seru kaan?! Mumpung lagi weekend nih sekalian nulis, curhat, eh bisa dapetin buku. So, tunggu apa lagi! .

Salam hangat dari Groningen yang mulai menghangat🌞

Tentang Menulis

Mengikat Inspirasi, Menuangkannya menjadi Tulisan

Dalam proses menulis, seringkali kita terbentur dalam keadaan: “sedang mencari inspirasi” atau “tidak ada inspirasi lewat, jadi menulisnya berhenti dulu”.

Inspirasi lalu dikambinghitamkan sebagai sesuatu yang tidak kunjung datang.

Ya sudah, nanti inspirasi akan datang sendiri kok seiring waktu, tunggu saja. Wah salah kaprah dong!

Sama seperti jodoh, inspirasi itu dicari, bukan dinanti.

“Inspiration does exist, but it must find you working” (Pablo Picasso)

“If you wait for inspiration to write, you’re not a WRITER, you’re a WAITER” (Dan Poynter)

Apakah kamu termasuk WRITER atau WAITER?

Lalu bagaimana mencari inspirasi, mengikatnya, agar bisa dituangkan menjadi tulisan?

Ada 5 cara efektif dalam mencari dan mengikat inspirasi agar bisa dikemas menjadi tulisan Continue reading “Mengikat Inspirasi, Menuangkannya menjadi Tulisan”

Tentang Menulis

Setelah Menerbitkan Buku Solo? What’s Next?

Januari 2018 was a big leap for me, as an amateur writer. Cita-cita dari zaman baheula (Sunda: dulu) akhirnya bisa terwujud, Alhamdulillah, Barakallah.

Satu buku solo sudah tembus penerbit mayor, Elexmedia Komputindo. Folder berisikan kumpulan naskah tersebut akhirnya menjadi lembar-lembar yang berwujud. Finally…. Perasaan yang gak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ternyata memang butuh setahun untuk ‘membereskan’ semuanya. Setahun yang gak kerasa. Setahun yang lalu saya mendeklarasikan bahwa saya akan menerbitkan buku. Yang mana saya paling ogah sama urusan deklarasi-deklarasian, cukup disimpan dalam notes pribadi aja. But somehow the declaration works.

Kalau saya tengok ke belakang lagi, dari mulai menulis, mengumpulkan semua bahan tulisan jadi satu, mengedit, menyelesaikan dokumen kelengkapan naskah (seperti sinopsis, profil, dll), mengirimkannya ke beberapa kawan untuk diminta kritik, mengedit lagi, meminta testimoni, mengedit lagi, mengirimkan ke beberapa penerbit, ditolak, mengirim lagi, mengedit, mengirim, ditolak, sampai akhirnya bisa berjodoh dengan salah satu editor Elexmedia. Well, that was a long journey. Continue reading “Setelah Menerbitkan Buku Solo? What’s Next?”

Tentang Menulis

Cara Menuliskan Cerita Menarik Menjadi sebuah Buku berdasarkan Pengalaman Pribadi

*Ini sebenarnya materi Kelas Menulis Online (KMO) Inspirator Academy. Alhamdulillah saya diminta untuk jadi narasumber di 3 KMO. Daripada disimpan, saya tuliskan kembali di sini ya..

Sejak dulu saya memiliki cita-cita untuk menuliskan cerita berdasarkan pengalaman sehari-hari saya. Kata orang mungkin simple atau bahkan tidak menarik. Apa hebatnya menuliskan cerita mengenai keseharian saja?
Misal cerita selama belajar di sekolah, aktivitas ketika kuliah, atau kesibukan sehari-hari seorang ibu rumah tangga.  Tapi untuk saya di situlah daya tariknya. Bukankah kita adalah obyek dari pengalaman sehari-hari itu?

Saya bukanlah seseorang yang memiliki warna-warni kehidupan yang indah sehingga patut menuliskannya menjadi sebuah kisah. Bukan juga seseorang yang memiliki track record luar biasa dalam memperjuangkan sesuatu sehingga pantas membagikannya menjadi sebuah buku. Pengalaman saya lurus-lurus saja, sederhana. Tapi selalu ada hal yang penuh kesan dari kesederhanaan tersebut, paling tidak untuk saya pribadi. Sehingga saya merasa perlu mencatatnya. Itulah mengapa dari dulu saya suka menulis buku harian, supaya kesan menarik dalam keseharian saya tercatat, jadi saya bisa ingat di kemudian hari. Continue reading “Cara Menuliskan Cerita Menarik Menjadi sebuah Buku berdasarkan Pengalaman Pribadi”

Tentang Menulis, [GJ] – Groningen’s Journal

Groningen Mom’s Journal

Groningen Mom’s Journal
-Jejak Mimpi Keluarga Kecil di Ujung Utara Belanda-

Groningen, sebuah kota di ujung utara Belanda yang ternyata banyak menyimpan cerita.

Siapa sangka kota yang mungkin lebih cocok dianggap sebagai kulkas raksasa (saking dinginnya) menjadi tempat berlabuh bagi keluarga kecil ini. Berawal dari mimpi seorang ibu rumah tangga yang ingin melanjutkan kuliah di negeri kompeni, kisah keluarga kecil ini berlanjut. Dukungan penuh dari suami dan anak membuatnya semakin yakin akan keputusannya untuk mengarungi petualangan empat musim di benua biru. Bersama keluarganya, ia mengambil kesempatan sekaligus risiko untuk merantau belasan ribu kilometer jauhnya dari Indonesia.

Groningen, the city of bikes, kota yang tidak pernah sepi akan lalu lalang penyepeda.

Siapa sangka kota yang lebih sering memberikan cuaca sendu itu malah membuat keluarga kecil tersebut menemukan petualangan kehidupan yang penuh makna. Bagaimana menemukan komunitas yang nyaman di tengah kondisi minoritas, bagaimana beradaptasi dengan cuaca, makanan, dan budaya di tanah kompeni, bagaimana bisa menjadi pribadi yang mandiri di tengah-tengah kehidupan perantauan yang jauh dari kenyamanan tanah air, dan sekelumit kisah lainnya.

Groningen, sebuah kota nun jauh di sana, yang ramai dengan pelajar perantau. Continue reading “Groningen Mom’s Journal”

Project, Tentang Menulis

TERCELIK [Open PO]

Tercelik. Antologi Cerpen

My first antology (fiksi) book in 2018!😎 Alhamdulillah. Kali ini saya menjajal nulis fiksi berupa cerpen. Dan ternyata, nagih! Dua cerpen saya ada di dalam fiksi antologi berjudul Tercelik ini.

Mendaki jalanan terjal selalu memberi luka yang tak jarang membuat kita makin kuat. Ada banyak kisah tentang bagaimana anak adam terpelanting dan merasakan perih, terjatuh dengan penuh kepayahan. Namun, akan selalu ada seribu alasan untuk kembali berdiri, tegap, dan mengembalikan diri dengan mau bersusah payah bangkit.

Kisah kita memang bukan soal sesakit apa saat terjatuh, tapi sekeras apa kita mau mencoba bangkit dengan tercelik, kesadaran penuh.

Tercelik adalah kumpulan kisah reflektif dalam menemukan tekad untuk bangkit dan kembali sadar.

Buku ini ditulis oleh mentor dan para mentee Kelas Cerpen (KECE) Inspirator Academy Jilid 5 selama empat hari! Continue reading “TERCELIK [Open PO]”

Project, Tentang Menulis

Welkom 2018

Assalamu’alaikum 2018!

Wuidih Alhamdulillah udah 10 hari pertama di bulan Januari. Kalau awal-awal bulan gini antara masih semangat dengan resolusi baru dan masih leyeh-leyeh. Semangat soalnya kan baru nyusun target-target tahun ini, untuk ruhiyah, keluarga, pribadi, cita-cita, dst. Rasanya masih fresh. Tapi juga dalam masa leyeh-leyeh soalnya.. “ah kan baru Januari..” Ini sih yang bahaya. Kalau leyeh-leyeh dilanjutkan bisa jadi terhanyut suasana, tiba-tiba eh udah akhir bulan, udah Februari, eh udah bulan Ramadhan, eehh.. udah musim panas. Lhooo..

2018 ini selain kalender dan jurnal baru, ada juga yang baru di keluarga kami. Adiknya Runa… Alhamdulillah 21 November 2017 lalu Humaira Senja Medina lahir di Groningen. Panggilannya Senja :). Mau cerita lengkap mengenai kelahiran dan proses setelah melahirkan di Belanda nih, menyusul kemudian yaa, Insya Allah.

Nah, untuk menjaga ritme menulis, awal tahun ini saya ikut ODOP l(One Day One Posting) lagi. ODOP di tahun 2016 kemarin sangat membantu Alhamdulillah. Saya jadi bisa mengumpulkan tulisan saya yang terserak di blog ini sampai bisa jadi naskah Groningen’s Journal. Tahun 2017 saya ga konsisten menulis di blog, alasannya saya ikut MMO (Mentoring Menulis Online). Itulah saat saya bisa mengeksekusi naskah jadi buku. Insya Allah 2018 coba lagi ODOP! Saya udah kepincut sama komunitasnya. Doakan semoga lancar 🙂

Segini dulu. Nanti lanjut lagi…

 

Tentang Menulis

PULANG – CERPEN PPI BONN Lomba Bulan Bahasa

Sebelum membaca cerpen saya yang satu ini saya mau bikin pendahulan dulu nih, hehe. Biasanya saya gak pernah memposting cerpen di blog. Pertama, soalnya koleksi cerpen saya emang sedikit. Kedua, udah mah dikit belum tentu bagus juga, wakwaw.

Menulis fiksi sudah saya tekuni sejak dulu kala (mungkin sejak SD atau SMP?) Tapi penyakit saya dalam menulis fiksi adalah: saya gak pernah menyelesaikannya sampai tuntas dan saya tidak pernah pede sama kualitas fiksi saya. FIksi itu lebih njelimet daripada tulisan nonfiksi (menurut saya). Hyaeyalah biasanya kalau nulis nonfiksi ujung-ujungnya saya mah curhat. Saya juga sebenarnya lebih suka nulis cerpen anak. Tapi setelah dicoba menulis fiksi dewasa beberapa kali, eh nagih juga ya.

Kali ini saya memberanikan diri mengirimkan cerpen ke lomba yang diadakan oleh PPI Bonn, Lomba Bulan Bahasa, September 2017 lalu. Iseng-iseng sih, dari dulu ikutan lomba cerpen mah gak pernah tembus. Bisa ngirim sebelum deadline aja udah alhamdulillah. Eh gak disangka Oktober lalu, cerpen yang saya kirimkan ternyata keluar jadi juara 1, hihiw.. Selain dapat Piagam, dapat juga uang jajan 50euro, lumayan buat jajan churros sama kibeling :P.

Selintas mengenai cerpen ini, mungkin idenya aja yang lagi cocok sama tema lombanya, tentang ‘Mimpi Generasi Kami’. Ide awalnya dari Pak Suami, katanya tulis aja cerita yang dekat dengan kita. Setuju sih, kalau mau menulis dengan lancar dan baik, ya tulisnya sesuatu yang kita familiar (kuasai) atau kita sukai. Cerita ini terinspirasi dari sahabat kami, pasangan muda dinamis yang sudah beberapa tahun tinggal di Belanda. Tadinya mau merahasiakan nama, takut jadi tenar orangnya, haha.. Tapi ternyata yang bersangkutan malah gak keberatan juga (udah tenar juga soalnya). Jadi ini cerpen courtesy of Kang Iging dan Teh Desti. Menurut saya pribadi, banyak diaspora yang mengalami kegalauan yang sama seperti yang tokoh rasakan, termasuk saya dan suami. Betapa kata ‘kontribusi’ itu rasanya masih samar, apalagi untuk benar-benar dijalankan. Tapi tentu hanya diri kita dan Allah yang tahu kenapa sampai saat ini kami masih bermukim di benua biru, belum juga pulang tanah air.

Semoga cerpen ini bisa menjadi inspirasi para diaspora di Eropa. Sekian, panjang beud curhatnya.

Continue reading “PULANG – CERPEN PPI BONN Lomba Bulan Bahasa”

Tentang Menulis

Berada di Tengah-tengah Komunitas yang Tepat

Kalau saya tidak berada di tengah-tengah komunitas yang “memaksa” saya untuk tetap menulis, pasti naskah saya tidak akan pernah jadi sampai 300 halaman. Kalau saya tidak nyemplung ke suatu lingkungan yang mensyaratkan saya untuk konsisten mempublish tulisan, pasti blog saya sudah lumutan dari zaman Fir’aun. Ternyata untuk saya, motivasi dan semangat pribadi saja tidak cukup. Saya harus berada di dalam wadah yang tepat untuk bisa memastikan motivasi saya tetap terjaga dan tentunya menjadi karya nyata. Bukan cuma sekedar tertulis di rencana dan angan-angan semata.

Yang saya sesali, kenapa tidak dari dahulu kala saya menemukan komunitas-komunitas tersebut. Atau mungkin dulu komunitas menulis tidak sepopuler sekarang. Atau mungkin dulu saya terlalu fokus sama sekolah dan main saja, dan meminggirkan hobi yang saya benar-benar sukai. Dulu waktu SMP, SMA, dan kuliah saya memang ikut komunitas majalah sekolah, buletin, dan media, semacamnya. Tapi tidak benar-benar menuangkan ide-ide menjadi cerita atau bentuk karya. Saya hanya bekerja sesuai instruksi saja.

Dulu komunitas menulis yang cukup populer hanya Forum Lingkar Pena. Saya pernah ikut ke beberapa pertemuannya, tapi banyak alasan ini itu yang menyebabkan saya tidak kontinyu ikut di dalamnya.

Komunitas menulis saya yang cukup kondusif malah baru saya temukan setelah saya pindah ke Groningen. #99 days One Day One Posting namanya. Digagas dari salah satu forum ibu-ibu di Bandung. Meski tidak ada aturan main yang mengikat dan persyaratan yang ketat, saya ternyata bisa konsisten di dalamnya. Thanks ODOP 🙂

Berikutnya saya bergabung di Mentoring Menulis Online #16. Ini yang benar-benar memaksa saya untuk menyelesaikan naskah pertama saya. Saya tahu masih banyak kekurangannya, tapi saya lega. Lega akhirnya saya punya naskah lengkap. Ternyata saya bisa. Berada di tengah-tengah mentee MMO #16, membuat saya sangat nyaman. Saya menemukan keluarga di dunia maya, yang bahkan saya tidak pernah bertemu mereka. Saya merasa mereka berada di jalan yang sama dengan saya dan menuju ke arah yang sama.

Setelah MMO#16 selesai, semangat menulis saya kembali mandek. Ternyata lebih sulit mengedit naskah dan melengkapinya sana-sini agar layak dikirimkan ke penerbit. Prosesnya terasa lebih berat, heu. Sebab itu, saya melanjutkan lagi perjalanan komunitas menulis saya, dengan mengikuti 30 Days Writing Challange. Menulis lebih bebas setiap harinya, asal ada yang ditulis. It works. Saya kembali menemukan ritme menulis saya. Walaupun diselingi drama mual-mual dan pusing karena saya sedang hamil muda (doakan yaa semuaa…). Saya tidak bisa menatap laptop lama-lama karena kepala akan terasa berat dan perut jadi eneg. Saya harus menurunkan sedikit tempo menulisnya, supaya badan tetap fit. Padahal yang ingin ditulis banyak, hiks..

Intinya, temukanlah komunitas yang tepat untuk mendorongmu melakukan hal-hal yang positif. Saya selalu ingat hadits populer ini: Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Find the right community!

Project, Tentang Menulis

Hi, I’m (still) here!

Waduh, ini blog udah kayak ruangan penuh dengan sarang laba-laba saking lama gak dilongok sama yang empunyanya, masih untung gak ada tikus berkeliaran.

Tapi hey, yang empunyanya punya alasan bagus sih dalam rentang waktu dua bulan ini gak nulis blog. Bukan, saya gak berpergi bertapa kok atau pergi mencari kitab suci bersama Sun Go Kong. Saya cuma mengerjakan proyek lain. Hasek, proyek. Biar gaya dikit kita bilang aje proyek. Kan kedengerennya kayak sophisticated bangeud.

Yup, jadi bulan Februari kemarin ini, saya mencemplungkan diri ke sebuah komunitas menulis yang menjanjikan akan menggembleng para pesertanya untuk bisa menyelesaikan naskah dalam 30 hari. Betul, MMO namanya, Mentoring Menulis Online, batch ke 16.

Tadinya saya memang sudah merasakan hawa-hawa menulis saya menurun drastis di awal tahun. Padahal masih ikut ODOP, tapi masalahnya ODOP itu sangat bebas, parameter dan targetnya ya kita yang tentukan sendiri. Di ODOP tahun lalu saya masih bisa mengikuti. Soalnya saya juga sambil pemanasan nulis tiap hari, sing penting mah ada tulisan dalam sehari, terserah isinya apa. Lama-lama, gak ada yang nuntut saya untuk tetap nulis setiap hari, jadinya saya loss deh. Continue reading “Hi, I’m (still) here!”