Just Learning, Life is Beautiful, Trash = Relieved

Belajar Memaafkan dari Anak Kecil

Runa punya banyak teman. Ia senang sekali bermain sama teman-temannya. Tapi namanya juga bermain, kadang ada hal-hal yang bikin anak-anak ini berantem atau marah-marahan. Tipe anak emang beda-beda sih. Ada yang usilnya ga ketulungan, ada yang dominan dan suka ngatur-ngatur, ada juga yang cengeng. Ujungnya satu ada yang ngambek, satu ada yang nangis, atau satunya lagi merasa sebal. Kadang mereka bisa menyelesaikan sendiri masalahnya dan baikan. Kadang butuh orang tua juga yang memediasi mereka, untuk saling minta maaf, salaman, lalu berpelukan. Awalnya sih pada gengsi, tapi lima menit kemudian, eh mereka udah main-main lagi kayak biasa, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Besok-besoknya pun mereka gak ada yang mengungkit-ungkit peristiwa yang bikin mereka berantem.

Saya pun memperhatikan Runa dan kawan-kawannya seperti itu. Runa termasuk anak yang cengeng, kalau adu bodi atau adu mulut, pasti dia yang mewek duluan karena ga bisa ngelawan. Kadang saya gemas sih liat Runa, kok lebih mudah nangis daripada melawan. Tapi kemudian saya berkaca pada saya sendiri, dulu waktu kecil saya lebih parah cengengnya. Bahkan kalau ketemu sama saudara/om/tante yang pernah kenal saya pas kecil, komentar mereka pasti: “Monik nih dulu kecilnya cengeng banget, mangkanya orang seneng banget bikin monik nangis.” Okelah, mungkin gen cengeng itu menurun dari saya. Sampai sekarang saya juga bawaannya mellow dan gampang terhanyut (kaiiin kali hanyuut).

Eniwei, balik lagi pada topik anak-anak, berantem, dan maaf-maafannya. Saya salut lho sama mereka. Sungguh hati mereka benar-benar bersih, masih dijaga oleh Allah. Meski sebelumnya mereka berantem kayak apa, tapi sebentar saja mereka sudah baikan. Lalu gak ada tu dendam mak lampir bergelayut di hati mereka. Seolah gak kapok, besoknya mereka masih main sama-sama lagi. Kalau berantem ya maafan lagi. No left feeling and no unfinished businsess.

Saya jadi malu. Sebab sebagai orang dewasa (yang harusnya) bisa lebih bijak, kalau ada suatu masalah dengan orang lain ya sudah gak usah diperpanjang. Apalagi sampai bikin hati sesak, ruginya dobel-dobel. Ditambah lagi jika yang membuat kita bete, marah, tersinggung juga adalah sesama muslim, saudara kita. Yaa.. sebagai sesama muslim harusnya legowo dan saling memaafkan. Tanpa ada ekor di belakangnya: “tapi kan dia nyinggung saya duluan”, “tapi omongan dia tuh yang nyelekit”, “harusnya dia sadar diri dong sama kesalahan dia dulu.”. Yah no matter what the misatake is.. memaafkan ya tuntas gak pakai “tapi”.

We can’t control ones behaviour, but we can control ours. Terserah deh dia mau gimana-gimana, yang penting kita yang bisa jaga hati. Itu sih yang masih sulit. Kadang emosi kita bisa terpantik dari satu atau dua kalimat seseorang, atau dari tindakan seseorang, (yang mungkin dia gak bermaksud jahat). Tapi kemudian emosi itu yang bikin kita panas dan ingin membalas. Nah.. sebagai manusia yang suka khilaf ini saya belajar dari anak-anak yang masih suci dari dosa.

Ketika ada teman yang usil dan bikin kesal, tentu mereka juga gak bermaksud jahat, wong namanya juga anak-anak. Dan ketika mereka sudah saling memaafkan, clear, sudah. Besoknya mereka bermain lagi.

Mungkin kita harus belajar dari pola pergaulan anak-anak ini. Ketika ada yang menyakiti kita, positive thinking aja dulu, mereka ga bermaksud jahat. Kita yang harus mengontrol reaksi kita ke depannya. Dan ketika sudah sadar akan kesalahan masing-masing, ya sudah maafkan. Jangan sampai memutus tali silaturahmi.

Wallahua’lam

__

Buat sahabatku yang pernah bercerita padaku bahwa ia merasa sangat sakit hati pada omongan/tindakan seseorang/sekelompok orang, I knew what you feel. Iya dirimu, yang lagi baca. Pasti dirimu baca postinganku, haha.. walaupun udah agak lama juga dirimu ga nulis blog. Betewe, saya bukan nulis ini berdasarkan pengalaman kamu sebenarnya, tapi pengalaman pribadi. But I can imagine your position at that time. Don’t waste your time on such issues. Lupain yang bikin sesak hatimu. Ini aku juga sambil monolog haha..

Ada suatu doa yang ketika dibaca, maka hati terhimpit gunung pun, jadi plong..

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ

وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Tiada illah selain Allah, zat yg Maha Agung lagi Maha Lembut..
Tiada illah selain Allah, Rabb –Penguasa ‘Arasy– yg Maha Agung..
Tiada illah selain Allah, Rabb –Penguasa Langit, dan Penguasa Bumi, dan Rabbnya ‘Arasy– yang Maha Mulia..

Kata temannya suami saya (yang menuliskan nasihat itu di laman facebooknya). Doa itu shahih dibaca oleh Rasulullah SAW di kala beliau mengalami masa-masa sulit, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim RA.

Advertisements
Trash = Relieved

Berfokus pada Hal Positif

Sudah lama banget saya gak nulis, jadi mungkin neuron-neuron otak saya dalam menulis bekerja lebih lambat dan gak sistematis.

Sebenarnya saya sediiihh banget udah lama ga cerita di blog. Saya merasa menulis tetap menjadi terapi saya yang utama, selain curhat sama Allah, baca surat cinta Allah, dan yang setelahnya curhat sama suami. Menulis itu bisa mengurai emosi saya, sehingga saya gak terlalu labil dan eksplosif kalau menghadapi masalah.

Terapi saya yang lain tentunya baca. (Jangan bilang baca paper ke saya ya, saya sudah mabok paper). Bacaan yang jadi terapi saya ya.. blog, wattpad, novel dan non fiksi ringan. Saya rindu banget nulis di blog. Rasa rindu saya nulis di blog terobati dengan baca postingan-postingan timeline wordpress saya. Ada cerita dari Mbak Dewi yang selalu seru dan bikin saya ngakak, curcol sederhana mengenai drama korea. Ada cerita sehari-hari dari Ceu Yunyun yang kocak, hanya sesimpel mengenai perjalanan dari Jetinenjer ke Bandung tapi bikin saya happy. Ada Mbak Imel yang selalu update resep dan cerita hariannya di kantor maupun di rumah, sederhana tapi bermakna. Dan terbaru yang baru join wp Teh Ghina yang selalu menyelipkan manfaat di setiap tulisannya. Saya ingin nulis lagi seperti mereka. Menulis yang LUBER, langsung umum bebas dan rahasia (berasa pemilu haha). Langsung karena gak pake mikir banyak tapi ngalir aja. Umum soalnya ye ini kan platform umum. Bebas.. ya lepas gitu ga terhimpit beban. Dan tentunya rahasia, soalnya yang baca postingan saya itu memang orang tertentu aja yang mau baca. Teman di lingkungan sehari-hari, keluarga, follower IG atau temen di FB bahkan sedikiiit yang baca juga.

Akhirnya pagi ini, sebelum saya berkutat dengan tugas saya di kampus, saya menyempatkan dirilah bersihin sarang laba-laba yang udah mulai bersarang di pojok blog saya. Sambil sedikit mau mengadu pada Mamaah Dedeeh, “Curhat dooonngg” hahaha.. *Kangen juga saya sama tontonan tiap subuh itu, dah lama banget ga ngikutin.

Beberapa bulan ini saya merasakan banyak sekali himpitan di pundak dan dada saya. Sampai saya susah bernapas rasanya. Lalu saya kemudian sadar.

Di beberapa akun sosmed selebgram, social influencer, atau apalah namanya. Saya sering membaca caption mereka yang kurang lebih isinya seperti ini:

Be grateful and stay positive.

Just ignore the negativity around me.”

“Gue sih ga peduli omongan dan komentar jelek dari orang lain, fokus aja sama hal positif yang ada.”

Keep the positive energy inside, and throw away the discouraging things.

Haters mah cuekin aja”

And so on.. Well, since I am only rakyat jelata, awalnya saya gak begitu ngerti kenapa mereka sering banget curcol tentang “hal positif” dan “hal negatif” yang melingkupi mereka. Tapi ternyata saya bisa mengerti juga di kemudian hari, alasan mereka bilang gitu. Eh bukan karena saya tiba-tiba jadi seleb ya terus jadi ngerti posisi mereka. Tapi mau kamu seleb atau bukan, rakyat jelata atau kaum kerajaan, dalam kehidupan ini pasti kamu akan menemukan hal-hal positif dan negatif di sekeliling kamu, adanya orang nyinyir dan orang suportif, adanya orang yang menyakiti kamu dan orang yang lembut hatinya padamu. Tapi karena mereka orang terkenal, tentu porsi “ada yang nyinyir dan komen negatif” lebih jelas dan sering terjadi pada mereka.

Himpitan di pundak dan dada yang saya rasakan itu tentunya adalah akumulasi dari hal-hal negatif yang ada di sekitar saya. Tapi kemudian … Setelah saya pikir-pikir, ada berapa banyak sih hal negatif yang mampir pada saya? Bisa dihitung dengan jari mungkin: Sebutlah supervisor dan bos yang seperti jelmaan JP. Coen (yang ga kenal JP. Coen buka lagi buku sejarahnya ye), atau teman yang suka memberikan komentar negatif tanpa mikir dulu dan mengerti kondisi, orang judes yang ditemui di jalan, kolega yang ngenyek banget, atau lainnya.

Lalu berapa banyak sih hal positif yang saya dapatkan? Wah malah gak bisa dihitung dengan jari. Oke ada supervisor atau bos yang berdarah penjajah, tapi saya punya banyak kemudahan, suami yang soleh dan suportif, anak-anak yang sehat dan gak banyak rewel sama bundanya. Oke ada teman yang mulutnya perlu sekolah lagi, tapi itu cuma satu di antara sahabat-sahabat saya yang baik: Ada yang menampung curhatan saya ketika saya stres dan pusing dengan kerjaan kampus, ada yang tanpa saya minta bantuan selalu menawarkan bantuan, ada yang selalu menyemangati saya untuk tetap ngaji dan menambah hapalan, Masya Allah.

Kata-kata mereka tertata dan membuat hangat dada saya: “Ambil positifnya saja”, “Yang sabar ya Mbak Monik, Insya Allah semuanya bernilai ibadah.”, “Semangat, Mbak!” dan lainnya, walau hanya sesimpel kata-kata itu.

Iya ada kolega yang ngenyek banget, tapi itu cuma satu di antara kolega-kolega lain yang warm-hearted dan suka menolong. Iya ada juga orang judes yang saya temui di jalan, bahkan mungkin memandang aneh jilbab dan gamis saya, tapi lebih banyak lagi orang ramah yang saya jumpai. Ada kasir toko, dia muslimah, yang tahu saya berjilbab, menyapa saya dengan: “Assalamu’alaikum”, instead of “Goede Morgen” atau “Hoi”. Ada orang yang tidak saya kenal di jalan, tapi mereka tahu saya muslim, mereka lalu memberikan salam. Ada orang-orang Belanda yang ramahnya juga ngalahin pelayan Pizza Hut Indonesia.

lntinya, kenapa hati saya harus susah dengan hal negatif yang cuma sedikit? Mungkin saya terlalu fokus pada hal-hal negatif tersebut sehingga lupa bahwa lebih buanyaaakk lagi hal baik dan luar biasa yang Allah berikan untuk saya. Allah Maha Adil, tanpa kita minta, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Sometimes pain is not about you, but it’s about something better that you did not know. Indah kan?

Why don’t we just spread the positivism and say good bye to the negativism around us?” –> Udah kayak caption-caption social influencer belom? Haha.

Mumbling, Trash = Relieved

Berkeluh Kesah

Memang sudah jadi sifat dasar manusia gitu ya, berkeluh kesah..
Ini saya lg pengen berkeluh kesah dan lg ga pengen dijudge (please). Hihiks.. Kalo bahasa zaman kuliah yg sering saya pakai saat ngrasa saat-saat kaya gini itu ‘Futur’. Ah udah lama ga mendeklarasikan: “saya lagi futur nih”. Dulu sering banget kalo lagi males ngerjain apa-apa dan pengen ngeluh-ngeluh ngakunya lagi futur. Dan penyebab utama lagi futur ini biasanya adalah lagi ‘dapet’, kombinasi pengaruh hormonal, perasaan ga nyaman, sedikit dismenorea, dan halangan untuk solat jadi bikin mood jadi fluktuatif dan tentunya lebih sensitippp.

Kalau begini bawaannya tuh jadi pesimistis dan pamaleuseun. Pesimis.. Berbagai pikiran negatif jd mampir.. Bisa ga ya saya nyelesein semuanya, bisa ga saya nyelesein research ini, bisa ga saya nyelesein semua urusan kuliah saya sambil mengurus Runa, gmn ya runa nanti pas baru mulai sekolah, ko rasanya saya oon beut yaa, ko rasanya semuanya ga meyakinkan, ko saya ga bisa ngerjain ini itu, saya takut dianggap ga guna, saya bete sama si ini dan si itu.. daaaaaann pikiran jelek lainnya.

Tentunya diri ini tidak ingin berkubang terus di dalam lubang hitam ini, pengen produktif dan semangat lagi.. Sebenernya banyak cara untuk kembali ‘pulih’ dan tergantung kitanya juga gmn mau memulainya. Oke, untuk merefresh diri ini baiknya saya evaluasi apa yang bisa bikin saya terCHARGE lagi

  1. Nulis. seperti ini…
  2. Berkeluh kesah pada seseorang yang mau mendengar tanpa menjudge. Saya jadi kangen my partner in crime selama kuliah dan selama bikin TA. I miss u buddy.. I know we always had a time to whine in each other, dan berlebay2an dalam mengeluh.. dan pada akhirnya kita menemukan semangat itu untuk kembali bangkit. Mungkin itu hal yang hilang saat ini. Saya bukan lagi anak begajulan yg ngeluh lebay di selasar farmasi. Sekarang saya seorang ibu dan istri, dan ya tentunya kita harus tampil sekuat mungkin di depan anak. Malu saya kalo liat Runa lagi riang gembira dan ngoceh2 trus sayanya muram. Pasti deh saya langsung on lagi kalo liat Runa (thank you honey for your smile and spirit..)
  3. Nonton atau baca hal-hal yang bisa ‘bring back spirit’. Kaya kmrn saya sempet yutubing Dian Sastro di SarahSechan.. dan saya sangat amazed.. Terlepas memang dia sangat sempurna dlm segala hal, tapi untuk jadi seperti itu there’s must be a big struggle behind it. Dia bilang dia nyelesein s2 sambil punya 2 anak dan sempet tidur cuma 2 jam untuk menyelesaikan urusan kuliahnya. dan di pagi hari langsung beraktivitas lagi sebagai ibu dan istri yang sigap. Inget-inget si Dian Sastro ini.. masa Dian aja bisa kita enggak? (emang lo sapee)
  4. Kembali padaNya. dan berkeluh kesah padaNya.. Semoga episode ini jadi loncatan untuk jadi yg lebih baik lagi..

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al- Ma’arij: 19-21) Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu senantiasa mengerjakannya“. (Al Ma’arij: 22-23)

Salam…

Random Things, Trash = Relieved

Postingan Galau

Galau sangat niihh

tadinya mau posting yg rada-rada berbobot tapii.. haduuhhh..

Lagi galau menunggu kepastian. Kepastian yang satu udah pasti, dateng kondisi-kondisi lainnya yang belom pasti. Memang di dunia ini yang benar-benar pasti adalah ketidakpastian. *ini ngemeng apa dehh*

Setahun yang lalu galau di rumah aja, jadi ibu RT, terus galau mikirin mau sekolah atau kerja lagi.. galau mikirin kalau udah jadi ibu RT kesempatan untuk berkarya jadi terbatas. Terus beberapa bulan yang lalu galau menunggu kepastian si ayah yang ditransfer ke Duri, Alhamdulillah skrg udah stay di Jakarta lagi. Beberapa bulan kemudian galau menunggu kepastian beasiswa, Alhamdulillah udah dapet setelah menempuh beberapa proses yang di dalamnya isinya juga ada galaunya. Sekarang-sekarang ini galaunya beurat ey… nunggu kepastian visa… dan kepastian untuk urus visa keluarga.. biar bisa berangkat bareng. Edanlah galaunya mikirin bakal ninggalin Runa utk beberapa waktu yang ga tentu kalau visa keluarganya ga jadi tepat waktu.

Tiap solat yang dipikirin ituuuu, didoainnya itu.. biar bisa bareng-bareng Runa dan si Ayah. Emang setelah curhat sebanyak-banyaknya sama Allah lega, walaupun besoknya kepikiran lagi. Satu setengah bulan lagii meeen.. kaya belom siap apa-apa, banyak yang dipikirin.

Daku tau juga sih, banyak yang posisinya sama kaya aku, di angkatan beasiswa kmrn juga banyak, ibu-ibu yang mau sekolah lagi. bahkan ada yang anaknya udah 2, ada yang berangkatnya lebih cepet, ada yang kondisinya lebih njelimet. Kalau posisinya bapak-bapak kayanya keliatan lebih kul dan lebih tenang, santey we tentang keluarganya yang mo ditinggal duluan, entah karena bawaaan laki-laki kaya gitu. Sekarang banyak-banyak berdoa, bersyukur, bersabar, bersedekah…..

Namanya konsekuensi dari sebuah pilihan ya… In sya Allah jalan yang terbaik. semoga kami semua kuat menjalaninya..

Alhamdulillah ya lagi Romadhon, jadi galaunya bisa disalurkan ke rasa lapar *ngarangg*… Apalgi ini shaum pertama setelah 2 taun kemarn ga shaum…

Seneng juga lagi ada Worldcup, jadi ada yang ditunggu-tunggu tiap malemnya.. Ada lagi pengalihan galaunya.

*ngaji dong moniiikk, tahajudddd* backsound suara hati..

Maap ini capruk banget tulisannnn… mumpung Runa lagi bobo…

Music of My Heart, Random Things, Trash = Relieved

Let It be

Malem2 kemaren lagi ngerasa sedih ey…

Entah karena suatu “perbincangan”, suatu “asumsi”, dan campuran perasaan feeling lonely dan masih sedikit dongkol sama suatu oknum. Untungnya.. saya masih punya Allah :), kebetulan saya belum selesai ngaji sejuz, ya udah saya buka Al-Qur’an dan baca terjemahnya, Subhanallah Allah memang selalu punya jawabannya..

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf 199)

Terus liat di sebelah Runa tidur nyenyak, ilang deh semua perasaan itu.. just let it be, cukup Allah aja yang tahu dan mengerti

Emang bener lirik-nya Let It be-nya The Beatles, cuma sedikit diubah nih yaa

“Let It Be”

When I find myself in times of trouble
Allah SWT comes to me
Speaking words of wisdom, let it be
And in my hour of darkness
He is standing right in front of me
Speaking words of wisdom, let it be
Let it be, let it be
Let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

And when the broken hearted people
Living in the world agree
There will be an answer, let it be
For though they may be parted
There is still a chance that they will see
There will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Let it be, let it be
Yeah there will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Let it be, let it be
Whisper words of wisdom, let it be

Let it be, let it be
Ah let it be, yeah let it be
Whisper words of wisdom, let it be
And when the night is cloudy
There is still a light that shines on me
Shine on until tomorrow, let it be
I wake up to the sound of Al Qur’an,
Allah SWT comes to me
Speaking words of wisdom, let it be
Yeah let it be, let it be
Let it be, yeah let it be
Oh there will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Let it be, yeah let it be
Oh there will be an answer, let it be
Let it be, let it be
Ah let it be, yeah let it be
Whisper words of wisdom, let it be

*maap om McCartney, saya sangeunahna ngarubah lirik ente.. tapi ngeunaheun ey lagunya…

just sing.. let it bee.. let it bee.. there will be an answer, let it be, let it be..

Mumbling, Trash = Relieved

Drop and Down

Sebenernya pengen mengurangi posting yg isinya ngeluh dan nyampah.. Tapi apa daya saya masih manusia biasa yang ternyata butuh juga media untuk sekedar naro sedikit uneg-uneg, walaupun sebagian udah saya taro juga di jurnal pribadi saya..

Dalam sebulan ini saya bener-bener merasa paralysed, dalam artian.. Cape, cape ga ada ujungnya. Kalau mau judging duluan, silahkan. I don’t care.. Emang saya bukan sosok ibu yang strong dan tabah.

Runa udah 8 bulan, alhamdulillah sehat.. Sebelum2nya saya juga ga terlalu menemukan kesulitan besar dalam mengurus Runa, oh paling waktu dia mogok mimik dan lebih milih jarinya daripada asi emaknya sndiri 😥 berasa jadi ibu ga guna. Tapi kemudian dengan segala macem cara akhirnya Runa balik lagi mau mimik..

Continue reading “Drop and Down”

Motherhood, Project, Trash = Relieved

Seminggu Sekali

Huwaaahh..

Gapapa sih cuma pengen huwah aja, hehehe.

Baru baca ‘Madre’nya Dee. Ceritanya unik, hebat Dee yaa.. bisaan bikin cerita dengan tema yang biasa menjadi luar biasa. Dari cerita tentang roti aja bisa dibikin semenarik itu, bahkan dijadiin film. Pengen nonton filmnya (ada Vino Bastian gituhh :-*), apa daya buntutnya belom bisa diajak ke bioskop, hehe.. Jadi untuk sementara cukup terhibur dengan adanya tv kabel sama buku-buku aja.

Di dalam cerita Madre itu, tokoh utamanya bernama Tansen punya kehidupan yang bebas, tidak terikat, suka-suka, ga berutinitas. Dipikir enak bener yah hidupnya, santeeey gitu, tanpa pressure. Yang saya suka dari kebiasaan Tansen ini, walaupun dia ini hidupnya serabutan dan ga punya jadwal rutin tapi dia punya satu-satunya kebiasaan yang dia pelihara dengan baik, nulis blog!

Yep si Tansen ini setia mengupdate blognya walaupun hanya seminggu sekali. Katanya itulah rutinitas satu-satunya yang dia pelihara. Kalau serabutan adalah penyakit, maka blog ini adalah obatnya -begitu dia bilang.

Dari kalimat tersebut saya jadi tergelitik. Dan kebiasaan Tansen itu bikin saya jadi termotivasi. Bener sih. Selama ini saya nulis buat apa? buat terapi.. Terapi dari penyakit kejiawaan akut saya. Tapi terapinya ga saya jalankan dengan baik, pantes saya ga sembuh-sembuh, hahaha.. Selayaknya minum obat yang harusnya diminum teratur, pas ga dikonsumsi teratur malah makin sakit.

Oke, saya sih yang selalu banyak beralasan pada diri sendiri dengan berkata dalam hati. Ah capek hari ini seharian sama Runa ga bisa buka lepi, ah pegel cucian lagi banyak, ah hari ini udah masak ga sempet nulis, ah koneksi internet odong-odong jadi susah buka wp.

Sebaiknya saya sudahi saja beralasan ini dan mulai menjalankan terapi terbengkalai ini. Dan memulai proyek penataan diri yang dimulai dengan seminggu sekali. Toh waktu itu saya menetapkan target untuk menulis straight 12 hari bisa terlaksana juga.

Mungkin memang ga banyak yang bisa saya sharing. Mungkin cerita saya juga ga menarik dan menantang, seperti berlayar ke Raja Ampat pake rakit, memanjat menara eiffel, atau berski di pegunungan alpen dengan baju renang. Cuma kehidupan ibu rumah tangga yang baru resign dan merasakan seharian di rumah ngurus bayi, masak, beberes, sambil ngejalanin bisnis online yang lagi bertumbuh. You bet my life is so boring, right? But whatsoever.. I kinda enjoy it. And it’s time for me to have a simple and healing routinity once a week. Blogging!

Just wish me luck!