Catatan Haji 1437 Hijriyah, Pesona Madinah Al Munawarah

Madinah yang Penuh Kedamaian

Sejak pertama kali saya menjejakkan kaki di Madinah dan melihat Masjid Nabawi, saya langsung terpukau. Tidak henti-hentinya mengucapkan Subhanallah dan Masya Allah. Ini lho Kota Nabi, kota suci tempat hijrah Rasulullah SAW. Tempat di mana Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar pemerintahan Islam dan membangun masyarakat madani. Setiap sudut Kota Madinah sepertinya memancarkan kedamaian. Meskipun hawa panas luar biasa terasa (ya iya atuh daerah gurun), saat kami ke sana masih dalam musim panas.

Mayoritas muslimin yang melaksanakan ibadah haji dan umroh ke tanah suci Mekah pasti akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Madinah, berziarah dan beribadah di Masjid Nabawi. Meskipun ziarah dan ibadah di Masjid Nabawi bukan termasuk rukun dan syarat sah haji dan umroh. Seperti rombongan haji reguler dari Indonesia biasanya akan menghabiskan waktu sekitar 8 hari di Madinah, untuk mengejar shalat arba’in (shalat 40 waktu), meskipun menurut sumber yang saya baca haditsnya dhaif, tapi poin pentingnya maksudnya beribadahnya tho. Rombongan kami Euromuslim dari Belanda menghabiskan 5 hari 4 malam di Madinah. Lalu setelahnya baru melaksanakan umroh dan haji di Mekah. Opsi yang menurut saya cukup baik karena kami bisa menikmati Madinah dulu sebelum melakukan prosesi haji yang cukup melelahkan.

Kalau sekarang setiap melihat foto-foto Masjid Nabawi, membaca Sirah Nabawiyah saat Rasulullah SAW di Madinah, terbayang-bayang suasana di sana. Ingin rasanya bisa menghabiskan hidup di Kota Suci tersebut. Mimpi gitu ya bisa kuliah di University of Madinah. Mimpi dulu mah gapapalah ya..

Banyak sekali spot-spot yang menarik di Madinah, utamanya tentu Masjid Nabawi yang terletak sangat strategis di tengah-tengah Madinah.

Madinah Al Munawwarah

Saat Rasulullah SAW hijrah di tahun ke-14 kenabian, Madinah masih bernama Yastrib. Dalam piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW, nama Madinah belum muncul. Yastrib-lah yang masih tercantum di dalamnya. Rasulullah  SAW mengganti Yastrib menjadi Madinah karena arti kata Yastrib sendiri yang kurang baik. Yastrib berasal dari kata tatsrib (celaan/makian) atau tsarab (hancur). Maka Rasulullah SAW menggantinya dengan nama Madinah (Ibnu Hisyam dan Ibnu Majah) (1). Madinah pun terkenal sebagai Madinatun Nabi (Kota Sang Nabi) dan Madinah Al Munawarah yang artinya kota yang bercahaya. Selain itu Madinah juga memiliki nama thabah (yang baik) atau thayyibah (yang suci) (2). Continue reading “Madinah yang Penuh Kedamaian”

Advertisements
Just Learning

Tahfizh Al-Qur’an

For the last few months, me and my husband and couple of Indonesian students here gathered to learn Al-Qur’an in tahfiz and tafsir. The initiators for this activity are Mas Zaky and Mas Hegar (thanked for them). So, they opened registration for whoever want to learn Qur’an together. The teacher himself is Mas Zaky. He is a hafiz, understand Arabic verrry well, and he spent years of his education in pesantren. He has noble aim to distribute his knowlede to us, to motivate us learn Al-Qur’an. May his deed become jariyah, Aamiin.

So, we started to study from the beginning of Qur’an, Al Fatihah and the Al-Baqarah. Why should start from the first Qur’an, why Al-Baqarah? not from the juz 30, it’s seems easier right? He said:

  • When you start with Al Baqarah, it will be easier to you to continue to another surah, because you can learn many vocabularies from Al-Baqarah, You will get use to remember all those arabic words
  • After you finish  Al-Baqarah, it can give you more confident to memorize other surah. Al Baqarah is the longest surah in Al-Qur’an. You can say to yourself: I can finish Al-Baqarah which has 286 ayat, of course you can do it for other surah.
  • Memorizing Juz 30 is good (the short surah you may already know by heart, right?), but for the longer surah in juz 30? Yes, it difficult. Those words are poetic, incredible, it may harder to memorize those words/ayat.

Continue reading “Tahfizh Al-Qur’an”