Motherhood

Happy Mom – Happy Little Soul

Happy Little Soul – Retno Hening
Sudah lama saya pernah dikasih tahu oleh kawan saya, katanya ada IG seorang ibu yang anaknya gemesin banget, celotehnya banyak dan anaknya lucu. Saya pun melihat sekilas ke timeline IG tersebut (@retnohening) dari smartphone kawan saya itu. Nama anaknya Kirana. Usia Kirana kayaknya waktu itu 2 tahun-an, beda setahun dari Runa.

Continue reading “Happy Mom – Happy Little Soul”

Advertisements
Being Indonesian in the Netherlands, Pharmacisthings

Ramah itu Menyemangati

Saya paling seneng kalau ketemu orang ramah. Dampak yang dia bawa jadi positif banget. Bawaannya kita jadi ikut ramah, ikut seneng, dan ikut senyum. Berasa sehat deh badan dan berasa damai dunia

Katanya sih orang Indonesia itu ramah-ramah. Katanya orang bule itu apatis. Hmm.. kalo kata saya mah itu mah tergantung orangnya sendiri.

Di Indonesia banyak juga saya suka nemu mbak-mbak jutek di supermarket, mas-mas nyebelin di angkot, yang bikin kita jadi ikut menarik bibir ke bawah gegara ngeliat dia.

Tapi sering kali juga saya nemu mamang-mamang batagor yang ramahnya bukan main, kalau saya lewat suka nyapa, kalau saya beli suka basa-basi nanya, “Kemana aja Neng jarang keliatan?”. Ada juga mbak-mbak murah senyum yang ketemu di metromini, dia ngegeser duduknya kalau kita mau duduk atau mau lewat. Continue reading “Ramah itu Menyemangati”

Just Learning, Life is Beautiful

Ayah – Sebuah Perjalanan Inspirasi

Kalau ada cerita yang bisa membangkitkan semangat saya lagi untuk apapun, itu adalah cerita Ayah dari Andrea Hirata.

Kalau ada buku yang bikin saya ga bisa berhenti sampai ke halaman terakhirnya, itu adalah buku Ayah dari Andrea Hirata.

Saya baca beberapa buku karya anak bangsa dalam kurun beberapa bulan ini, ceritanya saya pengen menggiatkan lagi kebiasaan baca buku yang sudah rada tenggelam semenjak saya punya anak, setidaknya sebulan sekali tamat satu buku. Saya baca Critical Eleven – Ika Natasha, Dilan – Pidi Baiq, dan satu cerpen Filosofi Kopi – Dee. Semuanya punya gaya cerita yang beda-beda, Ika Natasha dengan metropolis-jetsetnya, Pidi Baiq yang simpel, barebas dan bodor, Dee yang cerdas dan kadang rumit. Saya suka bacanya, tapi saya paliiing suka baca si Ayah ini dari Andrea Hirata, yang paling candu.

Saya baca semua karya Andrea Hirata (kecuali yg 11 Patriot, belum sempet nemu bukunya)  dan Ayah ini yang paling saya sukaiiiii, setelah Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, atau mungkin saya lebih suka ini dulu baru Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, entah deh.. yang pasti daya tariknya sama seperti kedua buku sebelumnya. Mungkin dulu Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi bikin saya berapi-api semasa kuliah dengan semua tagline “mengejar mimpi”. Ayah ini bikin saya adem menenangkan di masa-masa berkeluarga. Bahwa.. hidup itu ga rumit kok, bahagia itu begitu sederhana, sesederhana hari-hari Sabari, si Tokoh di dalamnya.

Selebihnya semua berlangsung seperti sediakala, Sabari bangun subuh, mengurus kambing, bekerja, merasa beruntung jika sekilas saja melihat Lena, pulang, mengurus kambing lagi, ngobrol dengan ibunya, mendorong kursi roda ayahnya ke dermaga, saling bercerita dan berbalas puisi sambil menyaksikan matahari terbenam di muara, malamnya duduk di beranda, menyaksikan cahaya bulan jatuh di padang ilalang. Dia merindukan Lena hingga jatuh tertidur sambil menggenggam pensil. Keesokannya terbangun, dia masih menggenggam pensil itu.

Continue reading “Ayah – Sebuah Perjalanan Inspirasi”

Life is Beautiful

Definisi Bahagia

Suatu kali ada yang pernah menyeletuk pada saya: “You don’t need to be happy anymore. You are married, you are happy already”

Saya jadi mikir. Begitukah? Jadi menikah adalah patokan kebahagiaan untuk seseorang?

Mungkin itulah pandangan teman saya itu terhadap kebahagiaan. Terlepas dari benar atau tidaknya pendefinisian dia terhadap kebahagiaan. Ya well.. I am happy.

But sometimes I still pursue for another happiness.

Saya kadang merasa sedikit iri pada teman-teman saya yang bisa melanjutkan sekolahnya ke luar negeri, belajar di negeri orang,  sambil jalan-jalan, melihat dunia lain, eh dunia baru yang luas, bergaul dengan orang baru dari berbagai negara. That’s a great happiness that not everyone can feel.

Di sisi lain, ada orang berpandangan kebahagiaan adalah di saat kamu bisa memiliki pendapatan besar dari pekerjaan bagus dan perusahaan bergengsi. That’s pride and happiness.

Lainnya, bahagia adalah ketika orang-orang melihat kamu sebagai seseorang yang sukses, dikenal masyarakat, memiliki popularitas yang baik di mata orang-orang.

Bahagia pun didekatkan dengan segala hal berbau keduniawian, yang  terlihat dari luar secara kasat mata, padahal sebenarnya bersifat semu saja.

The point is. Setiap orang selalu merasa bahwa definisi bahagia adalah “milik orang lain”. Semua yang ada pada orang lain adalah kebahagiaan. Sampai-sampai lupa akan nikmat yang ia miliki (getok kepala sendiri).

Hingga akhirnya people always pursue their happiness, while they don’t realize that the happiness is in their hands. So why should bother to looking for happiness?

My definition of happiness is… my life.

What’s yours?