Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Ideal, Beruntung, dan Berkah

Banyak yang bilang bahwa kondisi keluarga kami saat ini adalah ideal. Di mana saya berkuliah dengan full scholarship di Belanda, suami bekerja dengan pekerjaan yang sama di Indonesia, dan Runa sekolah dan berada di tangan yang terpercaya. Semuanya seperti terencana dengan rapi. Ada juga yang bilang bahwa kami sangat beruntung, saya bisa keterima S2 tanpa biaya yang memberatkan suami, suamipun bisa melanjutkan kerjanya di sini, yang katanya untuk bisa bekerja di Belanda itu sulit karena kita memang harus punya skill yang spesifik dan terutama fasih berbahasa Belanda, tidak cuma Inggris.

Apapun yang orang bilang dan pandang dari luar. Setiap mereka bilang, saya hanya bisa megucap syukur dalam-dalam. Alhamdulillah atas nikmat yang telah Allah berikan. Saya dan suami seringkali merenung, betapa cara Allah untuk membuat kami dalam kondisi sekarang ini adalah luar biasa. Saya dan suami tidak pernah merencanakan sejauh ini. Saat itu cita-cita saya cuma satu, kembali ke sekolah setelah Runa sudah cukup besar. Ternyata setelah melalui proses yang cukup panjang dan dramatis *lebay*, sampailah kami di sini. Continue reading “Ideal, Beruntung, dan Berkah”

Just Learning, Lifestyle, Mumbling

About Married Woman

Selalu aja ada yang bilang:
“Kamu mah enak Mon udah nikah, ga usah cape-cape cari kerja lagi, ada suami.”
“Ga usah mikirin apa-apa Mon, kan semua udah ditanggung suami.”
“Kenapa harus lanjut S2 lagi? Santai ajalah, kan udah berkeluarga.”
Dan komentar sejenisnya.

Entah kenapa paradigma seperti itu yang mencuat di sekitar saya.  Menikah = Settle down = No need effort to pursue something.
Jadi karena sudah menjadi istri orang jadi saya ga usah susah-susah cari kerja dimana, berkarir gimana, atau melanjutkan pendidikan lagi, gitu?

Saya (saat ini) malah berpikir sebaliknya. Bukannya tidak bersyukur dan tidak merasa puas dengan keadaan “settle down”. Tapi sebagai seorang individu saya juga memiliki keinginan untuk berkembang *bunga kali berkembang*, ingin berkarya di “dunia luar”, ingin merasakan jerih payah sendiri dalam berupaya. Intinya aktualisasi diri, hal itu tidak terganti dengan materi. Terlebih lagi (beruntungnya saya) suami memberi kebebasan untuk bekerja atau sekolah lagi, ia malah mendukung saya untuk “bergerak”. Dia tahu kali ya saya biasa sibuk *ejiyee, males banget biasa sibuk, berasa orang penting*.

Menikah bukan berarti membuat saya merasa nyante dan ongkang-ongkang kaki di rumah nunggu suami pulang kerja. Iya, memang suami dan keluarga adalah zona nyaman saya. But in order to move forward, sometimes, you have to leave your comfort zone.

Kenapa saya bold-underline kata “sometimes”. Karena saya menyadari bahwa memang tidak selalu saya harus meninggalkan zona nyaman itu, tidak selalu saya akan berkeliaran di luar rumah untuk mengejar cita-cita. Fitrahnya istri dan wanita memang di rumah mengurus rumah tangga dan keluarga, itu ibadah yang besar bagi wanita. I realize it. So, pada akhirnya walaupun saya mempunyai aktivitas di luar rumah, kewajiban utama saya adalah mengayomi zona nyaman saya, yaitu keluarga.

Yah apapun profesinya seorang married woman, tentu tidak lupa kewajibannya sebagai ibu rumah tangga 🙂

Kata suami saya: I trust you, I support you, I know you can manage your time. As I know, the more busy a person, the more productive she/he is. And you’re gonna make it. I want our children learn a lot from their mother.

We’ll see 2-3 tahun lagi saya masih keliaran ga ya? haha..