Project, Tentang Menulis

TERCELIK [Open PO]

Tercelik. Antologi Cerpen

My first antology (fiksi) book in 2018!ūüėé Alhamdulillah. Kali ini saya menjajal nulis fiksi berupa cerpen. Dan ternyata, nagih! Dua cerpen saya ada di dalam fiksi antologi berjudul Tercelik ini.

Mendaki jalanan terjal selalu memberi luka yang tak jarang membuat kita makin kuat. Ada banyak kisah tentang bagaimana anak adam terpelanting dan merasakan perih, terjatuh dengan penuh kepayahan. Namun, akan selalu ada seribu alasan untuk kembali berdiri, tegap, dan mengembalikan diri dengan mau bersusah payah bangkit.

Kisah kita memang bukan soal sesakit apa saat terjatuh, tapi sekeras apa kita mau mencoba bangkit dengan tercelik, kesadaran penuh.

Tercelik adalah kumpulan kisah reflektif dalam menemukan tekad untuk bangkit dan kembali sadar.

Buku ini ditulis oleh mentor dan para mentee Kelas Cerpen (KECE) Inspirator Academy Jilid 5 selama empat hari! Continue reading “TERCELIK [Open PO]”

Tentang Menulis

PULANG – CERPEN PPI BONN Lomba Bulan Bahasa

Sebelum membaca cerpen saya yang satu ini saya mau bikin pendahulan dulu nih, hehe. Biasanya saya gak pernah memposting cerpen di blog. Pertama, soalnya koleksi cerpen saya emang sedikit. Kedua, udah mah dikit belum tentu bagus juga, wakwaw.

Menulis fiksi sudah saya tekuni sejak dulu kala (mungkin sejak SD atau SMP?) Tapi penyakit saya dalam menulis fiksi adalah: saya gak pernah menyelesaikannya sampai tuntas dan saya tidak pernah pede sama kualitas fiksi saya. FIksi itu lebih njelimet daripada tulisan nonfiksi (menurut saya). Hyaeyalah biasanya kalau nulis nonfiksi ujung-ujungnya saya mah curhat. Saya juga sebenarnya lebih suka nulis cerpen anak. Tapi setelah dicoba menulis fiksi dewasa beberapa kali, eh nagih juga ya.

Kali ini saya memberanikan diri mengirimkan cerpen ke lomba yang diadakan oleh PPI Bonn, Lomba Bulan Bahasa, September 2017 lalu. Iseng-iseng sih, dari dulu ikutan lomba cerpen mah gak pernah tembus. Bisa ngirim sebelum deadline aja udah alhamdulillah. Eh gak disangka Oktober lalu, cerpen yang saya kirimkan ternyata keluar jadi juara 1, hihiw.. Selain dapat Piagam, dapat juga uang jajan 50euro, lumayan buat jajan churros sama kibeling :P.

Selintas mengenai cerpen ini, mungkin idenya aja yang lagi cocok sama tema lombanya, tentang ‘Mimpi Generasi Kami’. Ide awalnya dari Pak Suami, katanya tulis aja cerita yang dekat dengan kita. Setuju sih, kalau mau menulis dengan lancar dan baik, ya tulisnya¬†sesuatu yang kita familiar (kuasai) atau kita sukai.¬†Cerita ini terinspirasi dari sahabat kami, pasangan muda dinamis yang sudah beberapa tahun tinggal di Belanda. Tadinya mau merahasiakan nama, takut jadi tenar orangnya, haha.. Tapi ternyata yang bersangkutan malah gak keberatan juga (udah tenar juga soalnya). Jadi ini cerpen¬†courtesy of Kang Iging dan Teh Desti. Menurut saya pribadi, banyak diaspora yang mengalami kegalauan yang sama seperti yang tokoh rasakan, termasuk saya dan suami. Betapa kata ‘kontribusi’ itu rasanya masih samar, apalagi untuk benar-benar dijalankan. Tapi tentu hanya diri kita dan Allah yang tahu kenapa sampai saat ini kami masih bermukim di benua biru, belum juga pulang tanah air.

Semoga cerpen ini bisa menjadi inspirasi para diaspora di Eropa. Sekian, panjang beud curhatnya.

Continue reading “PULANG – CERPEN PPI BONN Lomba Bulan Bahasa”

Tentang Menulis

Kenapa Cerpen Anak ?

Akhir-akhir ini proyek menulis saya lebih banyak saya fokuskan pada menulis cerpen anak. Semangat menulis cerpen anak ini kayaknya muncul setelah saya¬†membaca bukunya Mbak Dian Kristiani, Momwriter’s Diary. Seneng banget ada ibu-ibu yang hobi menulisnya itu dari cerita anak. Saya kira awalnya cerita anak itu ya gak menantang, boring, dan jarang yang terkenal bukunya (mungkin saya yang gak gaul). Di sela-sela mengerjakan thesis kemarin, saya malah banyak dihinggapi ide-ide mengenai cerpen anak yang dari dulu pengen saya tulis, tapi gak pernah jadi. Pas saya bosen sama thesis saya selesaikan satu cerpen, lalu satu cerpen lagi, dan beberapa¬†ide-ide¬†cerita¬†untuk ditulis.

Ternyata saya suka mengkhayalkan dunia anak, mwahaha..¬† Continue reading “Kenapa Cerpen Anak ?”

Lomba

Akhirnya Ikut Lomba Cerpen Juga

Cerpen PPI India
Cerpen PPI India

Dari semua lomba-lomba menulis yang dishare di group ataupun di facebook, ga semua saya ikuti. Walaupun pengennya sih menjajal kemampuan menulis saya dengan mengikuti semua lomba itu *maruk*. Bukan karena saya tertarik dengan hadiahnya lho ya. Kebanyakan juga hadiahnya itu ya dikirim ke alamat Indonesia, lha saya di ujung utara Londo.. Bukan juga karena hadiahnya ga menarik. Tapi karena saya harus memilih di antara semua lomba itu.. mana yang bakal serius saya ikuti. Saya memilih berdasarkan tema sih biasanya.. kalau temanya soal family, parenting, anak, travelling ya saya tertarik..¬†Atau kalau lombanya berupa menulis cerpen atau artikel singkat, curhatan apalagee, wkwk.. Kalau saya punya banyak free time, pengen¬†saya cobain deh semua tu lomba. Continue reading “Akhirnya Ikut Lomba Cerpen Juga”

Project, Tentang Menulis

Cerpen Anak

Saya dulu suka membaca cerpen-cerpen anak di Bobo, PerCil, atau majalah anak lainnya. Selain itu saya juga suka membaca cerita anak dari Enid Blyton. Beberapa kali saya pernah membuat cerpen anak. Beberapa di antaranya pernah dimuat di PerCil, itu waktu saya masih SMP dan SMA *masih dihitung anak gak ya*, haha.. udah lama banget yak.

Saya sebenarnya gak tahu kalau saya nulis cocoknya untuk cerita apa. Apakah cerita remaja, chiclit, cerita anak, cerita dewasa, cerita serius, esai, artikel ilmiah, eumm kalo thesis mah wajib lain cocok atau gak cocok. Saya sih nyoba aja semuanya. Iya mungkin ga berpendirian, namanya juga amatir, semua dijajaki dulu. Tapi kalau bikin cerpen anak itu buat saya gampang-gampang susah.

Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba rekan saya di FLP Bandung menginvite ke HujanKarya. Syaratnya cuma sertakan cerpen anak aja. Saya masih belum ngeh sebenarnya apa sih Hujan Karya. Ya udah cobain dulu.. Continue reading “Cerpen Anak”

Cerita Runa, Random Things

Imajinasi Anak Kecil

Pernah gak ngerasa kalau imajinasi anak itu luasss banget gak terbatas? Kalau belum mengalami sama anak sendiri, paling ga dulu waktu kita kecil pernah dong kita punya imajinasi yang orisinil, bebas, lepas, ga merasa takut, dan yang penting kita suka?

Saya perhatikan Runa juga seperti anak kecil lainnya yang suka berkhayal dan berimajinasi ketika bermain. Contohnya ketika dia bermain dengan boneka-bonekanya dia¬†akan bercakap-cakap sesukanya, kadang dengan bahasa Indonesia, kadang dengan bahasa Belanda, kadang bahasa campuran Indo-Belanda-sebagian lagi ngasal. Atau ketika Runa bermain dengan Lego-nya, Runa akan membangun sendiri rumah untuk orang-orangannya. “Ini Papanya, ini mamanya, ini anaknya“, begitu kata Runa. Masing-masing orangya dibikinin pesawat sama Runa, bahkan ada si beruang peliharan keluarga lego itu juga punya pesawat sendiri.

Kadang Runa juga suka mengarang-ngarang lagu sendiri dan berdendang sesuka dia, dengan nada buatan dia sendiri. “Kitaa.. mensahalanya.. kita bermaiin..¬†bersama-samaa.. kitaa..”¬†Apa deh lanjutannya gak jelas. Begitu juga kalau menggambar, Runa¬†akan menggambar sesukanya. Saya ikutan menggambar juga sih sama Runa, tapi saya gak mencontohkan Runa harus gambar apa (alaaah bilang aja emang ga bisa gambar). Biasanya Runa cuma corat-coret ala benang kusut yang kemudian¬†gambar tersebut dia namakan ‘celaka yang lari‘. Maksudnya apaa Run? saya tanya. Ya itu, celaka yang lari ini sama ada dinosaurusnya. ¬†Saya cuma ngangguk-ngangguk aja. Continue reading “Imajinasi Anak Kecil”