Mommy's Abroad

“Dirijek, dirijek, dirijek aja”

Beberapa pekan lalu saya mengerjakan review manuskrip yang disupervisi oleh supevisor saya. Jadi dalam hal ini saya bertindak selaku reviewer yang diamanahi sebuah jurnal untuk mengecek “kepantasan” suatu manuskrip untuk layak terbit atau tidak. Jurnal tersebut lumayan ternama, masih Q1 di area medicine, edpidemiology, dan pharmacology.

Merupakan pengalaman yang menarik, sebab saya harus mengkritisi isi paper tersebut. Biasanya kan saya, sebagai PhD student, yang selalu kena kritik. Tentu ketajaman saya mengkritik masih selow, dibandingkan dengan si Ibuk supervisor. Dia bisa melihat dari sisi depan-belakang-kiri-kanan kekurangan dan kelebihan paper tersebut. Di beberapa tempat, si Ibuk juga sepakat pada poin-poin strong and weakness poin yang saya tuliskan di review. Sebagai reviewer, kita hanya berhak memberikan penilaian, tapi pertimbangan untuk rejection dan acceptance itu dari pihak editor jurnal. Jadi ya serah editornya. Editor akan menimbang dari kesimpulan major and minor concern dari beberapa reviewer yang dia tunjuk.

Baru kemarin ternyata saya diforwardkan email dari editor tersebut, bahwa paper tersebut bernasib malang. Ah sayang sekali paper tersebut kena reject. Padahal saya sangat mengapresiasi kerja keras authors dalam menuangkan risetnya ke paper tersebut. Saya membayangkan juga bagaimana dia bisa menghasilkan paper tersebut dengan banyak results, figures, dan tables. Pasti sang PhD tersebut pontang-panting menyelesaikannya (ngaca sendiri). Selain daripada dia juga menyitasi paper saya, ehem.. saya sebenarnya berharap papernya di-accept oleh jurnal tersebut. Menurut pandangan editor, dari dua reviewers, kesimpulannya ada major points yang harus diselesaikan dan nampaknya untuk sekarang mereka menolak dulu. Continue reading ““Dirijek, dirijek, dirijek aja””

Journey, Only a Story

First day and Last day

Kids, sometimes you realized the journey you’ve been taking has reached its final stop. So the question becomes: Where do you go next? (Ted Mosby, HIMYM S0716)

Yes well, every journey has its first and its last. And the thing is, you have to be sure to each steps you’ve taken.

After 4 months binding in the editorial world, finally I end it. It’s not because I don’t like it, I just.. feel.. that.. I have to take another chance. Allah always give the best for us.

And for these 4 months. I got a lot of experiences, great friends, great chance. Alhamdulillah. Sometimes I think maybe I took the wrong path being there, but after I really end this, I know that I’m not wrong. Once again, the best way from Him.

Funny thing is, entah kenapa hari pertama dan terakhir saya berada di sana setting-an nya mirip. Saat hari pertama saya datang kesana, melakukan serangkaian tes dan interview, sampai dinyatakan diterima di sana. I felt awkward, misty, and hesitate. Did I do the right thing? Saat hari terakhir saya pamit di sana, perpisahan, foto-foto, say goodbye, dikasi kado, dll. I felt that too. Was it right?

Hari pertama dan terakhir di sana, adalah pulang kantor tersore saya, jam 17.30 saya baru keluar daerah kantor. Mendung, hujan rintik-rintik, dan macet. Hari pertama dan terakhir di sana, sama-sama momen di mana saya pulang sampai Dahlia TownHouse Lebak Bulus cukup malam dan suami udah menunggu karena sudah sampai duluan (padahal biasanya saya yang selalu pulang duluan). Mungkin kebetulan yang sebenarnya biasa, tapi entah perasaan saya yang sensitif ga jelas.

Yang jelas, all these series have been the part of my life. I enjoyed it, and I thank Allah… I’m gonna miss all my great fellas and all moments there (sweet and also bitter moments, hehehe)

Then, another journey begin: I have to start my first day again. This March. Bismillah.. Wish me luck ūüôā

*Actually I’m not ending it for good, I get offered being freelance editor, and I take it.