Mumbling, Pharmacisthings, Trash = Relieved

Siang!

Siang. Saya suka waktu siang, dengan siang yang cerah dan kadang-kadang teduh karena matahari tertutup awan. Saya suka siang hari karena pada siang hari sepertinya banyak hal yang bisa dikerjakan, dan rasanya ceria gitu, karena sebagian besar orang juga beraktivitas di saat itu.

Sekarang ini aktivitas saya di siang hari bersama Runa adalah bobo siang (haha.. kan banyak orang bilang kalau bayinya lagi tidur, ibunya ikut tidur juga, biar istirahat — good advice btw). Saat saya sedang bergolek-golek cantik di kasur, saya ngeliat ke luar jendela, hmm.. lagi cerah dan suasananya enak gitu. PIkiran saya jadi melayang ke siang hari-siang hari sebelumnya.

Sewaktu kuliah saya suka waktu siang hari seperti ini, karena biasanya saya dan genggong FKK*) sedang nyangsang di basecamp kita di selasar farmasi, baru selesai kuliah. Kita ngampar di sana sambil membahas materi kuliah sebelumnya *bo’ong* sambil diselingi sedikit gosipan, garingan, dan bumbu kelebayan. (yang bener ngegosip sambil diselingi bahasan kuliah). Habis itu kita mo agak tobat, jadi kita jalan ke salman, solat zuhur, terus makan di nyawang atau bahkan ngampar lagi di selasar/koridor timur salman. Kalau ada kuliah jam berikutnya baru deh buru-buru balik ngampus lagi.

Haaah.. entah kenapa kangen banget kaya gitu lagi. Padahal dulu pas siang-siang jaman kuliah rasanya pengen deh nyari tempat yang enak buat tidur siang, saya bahkan bisa tidur di selasar farmasi, kortim salman, perpus, bahkan kelas. I do anything dah biar mata bisa mejem barang 10 menit aja (emang dasar tuti). Nah, sekarang I have my 10 minutes (or more) time for sleeping with my cute baby, but my mind sail away to that moment.

Kapan yaa bisa kaya gitu lagi.. heuhue.. kalo dipikir-pikir, dulu itu momen kaya gitu biasa aja, ga ada yang spesial. Baru kerasa ternyata that moment was precious. Hmm.. okelah brarti saat bobo siang saya saat ini juga bisa jadi precious moment in the future.

Baiklah kalau beg-beg-beg-begitu, mending sekarang saya bobo siang sambil mimpi lagi ada di saat-saat siang bersama FKK.

Have a nice day!

*)Farmasi Klinik dan Komunitas

Project

Pilihan

Dalam hidup pasti kita selau dihadapkan dalam pilihan. Waktu kita masih kecil sih pasti setiap pilihan kita yang nentuin ortu, mulai dari makan, baju, sekolah, dll. Tapi seiring kita beranjak dewasa, pasti kita harus memutuskan pilihan dalam hidup sesuai keputusan kita sendiri. We live by our own decision. Orang tua dan sahabat boleh ngasih masukan, tapi tentunya pilihan akhir ada di tangan kita.

Dalam hidup saya, saya juga selalu dihadapkan dalam pilihan-pilihan. Saya lupa kapan saya mulai mandiri untuk memutuskan sendiri segala sesuatunya. Yang pasti, saya ini terlalu banyak pertimbangan, nanya sana-sini, lihat ini-itu, memikirkan pendapat orang lain juga, dan akhirnya kadang saya menjalani pilihan yang orang lain sarankan untuk saya, bukan murni kata hati saya. Saya sendiri suka bingung, kata hati saya apaah yaa? heuehuehu..

Bahkan pilihan untuk kuliah di Farmasi ITB pun adalah saran dari orang tua, tante, dan lain-lain. Saat itu saya memikirkan yang orang bilang untuk saya ini pasti yang terbaik, tanpa memikirkan apa yang saya mau untuk ke depannya mungkin lebih baik. Kecondongan saya dulu adalah kuliah di Psikologi Unpad dan saya sudah diterima di sana, tapi itu tadi.. saya tidak merenungkan pilihan itu dan mengindahkan suara hati terdalam saya (kamana atuh suara hati terdalaaam :P), pokonya yang penting ITB. Bukan, bukan saya menyesal sudah kuliah 4 tahun di Farmasi dan 1 tahun Apoteker.. tentu tidak, Alhamdulillah.. kalau saya gak memilih di sana, I would’t meet my lovely friends FKK, dan belum tentu hubungan LDR saya bisa selamat sampai pernikahan, hehe. Yah who knows.. berarti, pilihan itu sudah yang terbaik Insya Allah.

Balik lagi ke soal pilihan. Setelah lulus, banyaaaaak banget pilihan jalan hidup terbentang buat saya, saya sebenarnya memilih untuk S2 abroad, hahaha.. apa daya belum dikasih, jadi saya dipilihkan oleh Allah untuk cari pengalaman dengan bekerja dulu. Sempet kerja di dua perusahaan berbeda selama setaun ini, dan kemudian hamil, saya dihadapkan dengan pilihan lagi: Lanjut kerja atau engga.

Banyak orang menyarankan: lanjutin ajalah kerja, sayang gelarnya ga kepake atau di Badan P*M udah bagus lho, prospek kerjanya untuk farmasi bagus dan jadi PNS cocok untuk perempuan atau jadi perempuan harus mandiri, walaupun suami bekerja dan penghasilannya mencukupi tapi perempuan juga harus bisa berdiri sendiri atau dll.

Yaaa.. sebagai orang peragu dan penuh pertimbangan, saran tsb masuk ke pikiran saya dan bikin saya banyak mikirrr.. aazzzzzzZZzzzZZzz.. tapi akhirnya ya. I decided to be a full time mother. Setidaknya untuk sampai 3-6 bulan ini. Cabut deh saya dari Badan P*M, no matter what how many people wants the position in that place, yasuwalah.. rezeki mah ga kemana.

Si ayah sendiri sebenernya seneng liat saya kerja *bukan karena bisa nambah pemasukan juga, teu ngaruh oge jigana mah gaji eike dalam menambah neraca pemasukan keluarga. Eh lumayan ding buat jajan daku pribadi mah, meuli buku cerita, cemilan, sampe daleman mah, hahaha*. Tapi si ayah tau, bundanya ini ga biasa ngajentung di rumah, biasa aktif dan sibuk *hazekk*. Dia mikir bunda juga perlu mengembangkan dirinya dengan aktivitas yang mengasah kemampuan (mungkin juga karena ibu mertua yang dari sejak si ayah kecil sibuk ngajar). Terbukti sih, pas udah resign emang aktivitas aku kebanyakan maen hape dan tidur.. –trus aku dikritik ayah,heu– padahal banyaaak kegiatan bermanfaat yang bisa dikerjain seperti nulis kaya gini, punya banyak waktu luang emang berbahaya.

Oke, let’s see in these 3-6 months, what choices that left for me? I’m sure that Allah has set the best path for me. Dan semoga saya ga jadi manusia peragu lagi, loba mikir. Inget kata si Barney ke Ted (kurang lebih begini, lupa tepatnya): Ted, all you’re just doing is think, think, and think. Instead of it, you just have to do, do, and do.

Journey

Moment of Life – Ujian Apoteker ITB

If there is… a moment in my life.. that I REALLY REALLY DONT WANT TO REPEAT ANYMORE EVER, the answer must be: UJIAN APOTEKER ITB 2011

Rasanya kok saat menjalaninya beraaaat banget, entah karena saya jenuh atau memang ga menikmati dunia perapotekeran ini. *hampura ya Allah*

Waktu itu saya memang merasa dalam titik nadir *halah* melihat teman-teman yang lain udah pada terbang bebas ke awan, sedangkan saya masih berenang-renang di sungai, yang ombaknya gede..  (sungai kok ada ombaknya). Ya memang, tampak tenang di luar seperti sungai, tapi di dalam berkecamuk diterjang ombak *apa siih monikkk*. Yang paling saya seneng di apoteker ini adalah bagian 1. KP di Jakarta, 2. KP di Apotek, 3. KP di RS (tapi ga selama 7 minggu juga, menikmatinya 3 minggu di tengah-tengah, hehe). Kalau bagian ujiannyaa… A BIG NO. Saya mual tiap mikirin itu.

Maksudnya.. yaaa gitulah,, however you will not feel what I feel lah, if you don’t taste it by yourself. Ini ujian tu yaa.. needs a lot of sacrifice, materi, moril, tenaga, kewarasan. Saya waktu itu cuma bisa memohon sama Allah, ya Allah.. saya yakin bukan cuma saya yang merasakan kalau ujian ini berat, berilah kami semua kelulusan ya Allah.. Saya ga yakin bisa mengulangnya lagi. Karena itu ketika pengumuman kelulusan dipajang dan ada yang tidak melewatinya.. Saya merasa sedihhh.. Tapi saya yakin Allah pasti memberikan ujian pada mereka yang sangat kuat dan tawakal, Allah tidak pernah salah.

Yang salah saya.. karena saya berulang kali jatuh bangun dan merasa setres menghadapi 3 kali ujian ini. Apalagi yaa.. saya tu dapet soal: Fluvoksamin tablet. Indikasi: OCD (obsessive-compulsive disorder) dan depresi. selama periode ujian 2 Agustus 2011-22 September 2011 saya ngubek-ngubek tentang obat itu dan patologi penyakitnya (berhubung kami di subjur Farmasi Klinik, kami lebih concern di bagian terapi-obat-penyakit), saya makin terseret dalam dunia OCD dan depresi, haha.. menghayati pisan.. saya jadi merasa, apa saya merasakan gejala dan tanda pasien OCD dan depresi ini ya pada diri saya..

Oke, ketika pengumuman tanggal 29 September dipajang. Alhamdulillah.. Saya merasa bagai ada sebongkah batu diangkat dari hati saya, bagai bisul pecah, bagai terkikisnya gumpalan kolesterol dari pembuluh darah,  bagai menderasnya dopamin dan serotonin dalam otak, bagai hidung terbebas dari upil raksasa. Subhanallah.. sujud syukur.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.

Sebagai gambaran keriweuhan ujian kami, cek foto ini

Continue reading “Moment of Life – Ujian Apoteker ITB”

Music of My Heart, Pharmacisthings

Jenuh

Tenyata hati, tak bisa berdusta
Meskiku coba, tetap tak bisa
Dulu cintaku, banyak padamu
Entah mengapa, kini berkurang

Maaf ku jenuh padamu
Lama sudah kupendam
Tertahan dibibirku
Mauku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja…. jenuh ….

Taukah kini, kau kuhindari
Merasakan kau, ku lain padamu
Cnta bukan, hanya cinta saja
Sementara kau, merasa cukup

Maaf ku jenuh padamu
Lama sudah kupendam
Tertahan dibibirku
Mauku tak menyakiti
Meski begitu indah
Ku masih tetap saja…. jenuh ….

Jenuh, by: Rio Febrian

Hai my blog! long time no see..

Lha-lha.. sekali-kalinya muncul ko tiba2 dengan lagu ituu??

Iyooiii.. kira2 itulah yg melanda diriku selama hampir 2 bulan ini.

Sumpah jeeekk, jenuhhh..

JENUH sama FARMASI, jenuh sama KULIAH DI FARMASI, jenuh sama MATAKULIAH FARMASI (terutama kalo inget UJIANNYA), jenuh sama KEFARMASIAN.. AAAARRRRGGHHH.. dan semuanya bertolak belakang dengan yang harus diriku jalanin sekarang.. tampak ga sinkron tea.

Serius deh, rasanya aku tu pengen cepet2 keluar dari lingkaran maut ini, yg bikin hidupku ga tenang.

Lagi-lagi mau flashback.. ehh bener ya milih jalan di farmasi ini? *TELAAATTT MOOOONNN, TELAAAATT!* udah hampir 5 tahun ko baru nanyaaaa.

Continue reading “Jenuh”