Catatan Haji 1437 Hijriyah, Pesona Madinah Al Munawarah

Masjid Nabawi, Pilar Kota Madinah

Madinah di awal bulan September, di penghujung musim panas. Hawa panas sangat menyengat siang itu, mencapai 48 derajat celcius. Mustahil rasanya berjalan di bawah teriknya matahari tanpa pelindung kepala atau tanpa memicingkan mata karena silau. Topi, sorban, maupun kacamata hitam selalu menemani langkah kami menantang panasnya Madinah. Kami yang biasanya hanya merasakan maksimal 30 derajat celcius di daratan Belanda tentu merasa kelabakan. Bahkan, panasnya tanah ini melebihi teriknya Jakarta di siang hari. Dengan cepat kami melangkah menuju Sang Pilar Kota Madinah, Masjid Nabawi, untuk melaksanakan shalat zuhur. Dari jauh kami sudah ingin merasakan sejuknya lantai mesjid dan terpaan AC. Tapi ternyata kami masih harus bersaing dengan jamaah lain untuk mendapatkan tempat di dalam mesjid, jika tidak ingin shalat di pelataran mesjid.

Kami tiba di Madinah seminggu sebelum prosesi Haji, Kebetulan pada saat-saat itu banyak jamaah haji yang sudah berangkat ke Mekah untuk persiapan haji, terutama jemaah haji ONH dari Indonesia, semuanya sudah berada di Mekah. Hanya tersisa beberapa jamaah dari Afrika, BIP (Bangladesh, India, Pakistan), Turki, dan Eropa. Kata Pak Said, pemimpin rombongan kami, Madinah pada saat itu termasuk sepi. Meskipun Mesjid Nabawi selalu ramai diisi oleh Jemaah. Kami harus tetap datang ke Mesjid jauh jauh sebelum adzan berkumandang jika ingin mendapatkan posisi strategis.

Ah Masjid Nabawi, setiap saya mengingatnya, rasanya masih terbayang kesan yang begitu kuat, begitu tenang, begitu syahdu di setiap tempatnya, pelatarannya, pintu besarnya, raudhah, makam Rasulullah, payung-payung indahnya, kubahnya, suara merdu adzannya, tentramnya shalat berjamaah di sana. Masya Allah, semoga kami masih diberi kesempatan untuk berkunjung ke Masjid Rasulullah tersebut. Aamiin.

Siang hari di Madinah
Menjelang siang hari di Madinah. Pemandangan dari depan gerbang Masjid Nabawi

Continue reading “Masjid Nabawi, Pilar Kota Madinah”