Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja, Groningen's Corner

Avond4Daagse – Groningen (Reitdiep)

Registration of Avond4daagse is now open!

That was the slight message that appeared in the school portal. This message attracted me since I am actually already familiar with the activity. However, we never join this event. And there was corona for two years, and we did not really pay attention to the extra activities outside school.

I thought maybe this would be an excellent chance to join. Without any doubt, I enrolled Runa for 5 km walking in Avond4Daagse, organized by the school in the Reitdiep neighborhood.

So, what is actually Avond4Daagse?
Evening4daagse is an initiative event of Koninklijke Wandelbond Nederland ([KWbN], a sports association in the Netherlands). The mission is to persuade the children as much as possible in walking activity. They move through the neighborhood during the evening time, for 4 days in a row. The idea is not only to promote a healthy lifestyle, but also to make them have an unforgettable ‘walking party’. And this event was passed from generation to generation. Almost every region or city in the Netherlands organizes this activity. Children from 4 years old and older can join, and also parents can participate (especially for small children). Older children can walk by themselves.

Continue reading “Avond4Daagse – Groningen (Reitdiep)”
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja

Pesantren Kilat Venuslaan

#Latepost ini tuh. Tapi sayang kalau gak dituliskan. Siapa tahu bisa jadi inspirasi para orang tua muslim yang tinggal di luar negeri.

Berangkat dari kegelisahan saat Ramadan di rantau, saya menyusun agenda kegiatan khusus untuk anak-anak. Semacam pesantren klat (sanlat) lah. Inginnya ya menampung semua anak Pengajian Anak DeGromiest, dari yang usia 4 tahun ke atas (seusia Senja) sampai yang usia 8 tahun ke atas (seusia Runa). Inginnya lagi kegiatannya full seminggu. Tapi apa daya energi dan waktu terbatas untuk bikin semua agenda. Selama Ramadan tetap harus kerja, anak-anak juga masih sekolah biasa. Jadinya bikin pesantren sesuai kapasitas sendiri.

Target anak: Anak usia di atas 8 tahun, yang sudah bisa mandiri, karena agendanya menginap. Kalau anak-anak usia 4-5 mungkin masih agak insecure kalau dilepas menginap gak ada ortunya. Di Groningen, kebetulan anak yang seumuran Runa (dan perempuan) ada dua orang, Khaida dan Lilan. Saya pun menghubungi mamanya, mengabarkan kalau akan ada Sanlat Venuslaan. Khaida dan Lilan bisa ikut serta, gratis dong. Rencana saya disambut antusias oleh ortu keduanya. Saya pun jadi semakin serius menyusun agenda beneran dong.

Continue reading “Pesantren Kilat Venuslaan”
Catatan Hati, Mommy's Abroad, School stuff

Suara hati 4 tahun ini

Masya Allah ya Ramadan itu, berkahnya luar biasa. Baik yang terasa langsung ataupun tidak. Jadi saya mau curcol dikit nih tentang kejadian yang menurut saya “kok bisa ya?”, yang Masya Allah skenario Allah gak bisa ditebak.

Mungkin yang dulu pernah baca curcolan saya di masa-masa awal PhD, atau yang baca buku The Power of PhD Mama tahu bagaimana struggle-nya saya saat itu. Gak semuanya tentu saya ceritakan. Dan selama tahun-tahun setelahnya, sampai tahun terakhir saya hampir selesai PhD ini (aamiin), Alhamdulillah semuanya baik-baik. Tidak ada drama lebay banget. Kalau rasa capek, frustasi, beban, mah biasa, tapi itu turun naik. Hubungan saya sama si Ibuk pun stabil, gak kayak rollercoaster lagi. Bahkan dia sangat suportif.

Tapi ternyata mungkin hal yang saya pendam dulu kala dan gak sempat tersampaikan itu ada momennya sendiri untuk terkuak. Suara itu menguar bebasnya di udara, tanpa ada percakapan antara saya dan si Ibuk. Tapi dengan perantara, di waktu yang baik.

Continue reading “Suara hati 4 tahun ini”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja, Mommy's Abroad

Ramadan dan Runa tahun ini

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Masih ada kesempatan untuk mengumpulkan bekal-bekal pahala yang bertaburan. Masih ada kesempatan untuk memohon ampun untuk dosa-dosa. Padahal dosa selalu nambah aja tiap tahun.

Ramadan ini dimulai dengan suasana mellow. Ya mellow cuacanya (yang sering hujan angin), ya mellow juga perasannya. Ada perasaan, ya Allah pengen saya tu Ramadan lagi di Indonesia, di Bandung, deket keluarga. Udah 7 tahun ya Ramadan di rantau, ternyata ada rasa sedih-sedihnya kerasa sekarang.

Juga tantangan muncul, sebab Runa sudah semakin besar, udah 9 tahun. Sudah harus semakin mengerti Islam, iman, ibadah-ibadah. Bukan maksudnya ngerti gimana banget, tapi ya, terbiasa, dan tahu bahwa ini adalah agama yang jadi pegangan hidup kita sampai mati, yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Terus gimana menerapkannya value-value itu pada Runa? Gak gampang, asli. Dulu saya merasa, saya belajar memahami Islam seperti let it flow, semuanya sudah ada, semuanya serba mudah. Itu gak berlaku untuk Runa. Juga untuk saya sebagai orang tua.

Continue reading “Ramadan dan Runa tahun ini”
Being a Student Mom, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Paling Dirindukan

Setelah berbulan-bulan ga ke kampus, akhirnya saya berkesempatan juga ngampus lagi. Sekalian ngambil barang yang diperlukan sih. Tapi kan udah di sana mah ya gawe lah sekalian. Kayaknya terakhir ke kampus itu habis lebaran, tapi lupa kapan juga. Sekarang udah boleh ke kampus sekali seminggu, dengan aturan dalam ruangan saya, max cuma boleh 3 orang (seruangan ada 6).

Saya ke kampus dengan bersepeda. Biasalah, kendaraan rakyat, siapa saja punya. Sampai di kampus memang cuma ada saya temui segelintir orang. Salah satunya kawan seruangan saya, seorang post-doc dari Venezuela. Dia termasuk baru di departemen, baru bergabung bulan Juli.

Ternyata saya cukup menikmati space saya di kampus, di office, di room saya. Bisa mengakses kembali desktop tanpa repot harus connect ke sistem citrix, tanpa harus ribet ada waktu diskonek. Saya bisa dengan leluasa bekerja dengan layar yang cukup besar dan internet yang kencang (yah di rumah juga kenceng sih). Padahal saya pikir sebelumnya saya sangat menikmati work from home (wfh) dan mungkin gak ingin balik lagi ngantor.

Ternyata saya juga cukup menikmati interaksi dengan kolega saya, meski saya baru berkenalan dengannya. Ada rasa-rasa kalau saya menikmati percakapan dengan orang baru, tanpa canggung. Dengan bahasa Inggris percakapan yang sudah lama tidak saya pakai. Padahal saya pikir sebelumnya saya gak kehilangan tuh interaksi dengan kolega, haha.. maaf rada ansos.

Ternyata saya juga cukup menikmati kopi dari mesin kopi di departemen. Yang kata orang bilang kopinya rasanya gak enak. Saya memang bukan penikmat kopi sejati, yang tahu kopi mana yang enak dan yang gak enak. Asal bisa memberikan rasa pahit-pahit manis aja udah cukup, dan bikin adrenalin saya cukup terpacu ketika bekerja.

Dan ternyata lebih dari itu, ada hal yang sangat saya rindukan selama hampir 6 bulan wfh ini.

My desk. Standar ketika kerja, ada kopi, ada air putih (itu botol minum lucu dari Kamel, lhoo.. hihi seneng banget ketemu si botol lagi), kertas biasanya berserakan, catatan, pulpen, note, sticky notes.
My room @ UMCG. Empty office

Yang ternyata saya rindukan bukanlah suasana kerja, bukan kolega, bukan space di kantor, tetapi rutinitas naik sepeda ketika pulang dan pergi ke kampus. Waktu-waktu saya di sepeda ternyata begitu berharga. Saya kehilangan hal tersebut.

Ketika di sepeda, biasanya pikiran saya bebas berkelana ke mana saja. Di waktu pulang ke rumah saya kadang memikirkan to do list di rumah, termasuk mikirin mau masak apa nanti kalau sudah sampai rumah. Kadang saya juga merenungkan pembicaraan saya dengan si Ibuk Supervisor setelah meeting. Sementara di waktu berangkat ke kampus biasanya saya memikirkan kerjaan di kantor, eh paper mana yang harus dibaca, manuskrip ini nanti mau ditulis gimana, dst.  Kadang saya juga menyiapkan sedikit kalimat yang akan saya lontarkan sebelum meeting dengan si Ibuk nanti. Pikiran saya sepertinya sangat produktif. Sehingga saat sampai di kantor, saya tahu mau apa, dan ketika sampai ke rumah saya juga tahu mau ngapain. Walaupun sampai rumah biasanya perut keroncongan. Selain itu kadang saya juga memikirkan ide tulisan, naskah, dll.. sehingga lahirnya ide-ide juga tak lepas dari momen nyepeda.

Atau kebiasaan lainnya. Biasanya saya memutar playlist di hp saya, yang lagu-lagunya tidak pernah di-update. Saya gak mengikuti perkembangan musik sih, jadi di playlist ya lagunya itu-itu aja. Dan saya tidak pernah merasa bosan, meski ketinggalan zaman. Kalau lagi soleh, biasanya saya memutar murottal, sekalian menghapal, diulang-ulang terus aja beberapa ayat. Kalau lagi ingin siraman kalbu, saya memutar spotify-nya Ustadz Nouman Ali Khan, Adi Hidayat, atau Abdul Somad.

Momen berada di atas sepeda yang hanya berkisar 15 menit menjadi momen berharga bagi saya. Momen komtemplasi yang hanya ada saya dan pikiran saya yang berbicara. Dan itulah yang ternyata saya paling rindukan. Momen rutinitas bersepeda ke kampus.

Bersepeda di Groningen. Sepeda saya, sepeda suami, dan sepeda Runa.
Sepeda kesayanganku. Saya baru ganti sepeda 2x selama di Groningen. Sepeda pertama saya Gazzelle hijau, yang sudah sempoyongan rodanya. Sepeda kedua saya ini hadiah dari suami biar saya semangat menyelesaikan PhD hihi.. Gazelle juga tapi seri Esprit, dengan warna tosca lembut, yang saya bangettss.
Catatan Haji 1437 Hijriyah, Diary Perjalanan Haji

Diary Haji 2016 – Lima Hari di Madinah (part 1)

Jum’at, 2 September 2016

Jum’at, hari baik, hari penuh berkah. Di hari itu pulalah kami rombongan Haji dari Euromuslim juga akan bertolak dari Schiphol menuju Madinah, Arab Saudi.

Tidak ada iring-iringan, tidak ada rombongan yang mengantar kami dari Groningen, apalagi ada tanjidoran (emangnya Si Doel yang mau berangkat haji). Hanya ada saya dan suami berangkat dalam diam, naik bis dari rumah menuju stasiun Groningen. Kami hanya membawa dua koper besar dan menggendong ransel masing-masing. Musim panas saat itu terasa lebih mellow. Terlebih saya teringat Runa yang ditinggal di Bandung bersama Mama Papa saya.

Di stasiun Groningen ternyata ada Pak Taufiq dan Mbak Frita yang melepas kami. Alhamdulillah suasana jadi gak sepi-sepi amat. Terima kasih Pak Taufik, Mbak Frita.

Pukul 15.30 adalah jadwal yang ditentukan dari Euromuslim untuk berkumpul di Schiphol. Beberapa rekan kami di antar oleh keluarganya, anaknya, maupun kawan-kawannya. Lagi-lagi kami sedikit masygul, tapi cuma sebentar, sebab kami mulai disibukkan dengan pembagian tiket dan ID dari Euromuslim dan Diwan (rekanan travel dari Euromuslim). Ternyata jamaah Haji dari Diwan banyak juga, jamaah Indonesia sendiri yang berangkat bersama Euromuslim sekitar 30 orang. Keseluruhan jamaah dengan Diwan ada 180 orang. Kami bertemu jamaah Maroko, Turki, Belanda, Pakistan, dll. Bervariasi juga ternyata jamaahnya Diwan.

Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya

Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya

Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya. Ada yang bertangis-tangisan lho

Continue reading “Diary Haji 2016 – Lima Hari di Madinah (part 1)”

[GJ] – Groningen’s Journal

Review Groningen Mom’s Journal

Hati saya berbunga-bunga ketika ada kawan saya yang menuliskan panjang lebar kesan/komentar/review-nya mengenai buku Groningen Mom’s Journal. Buku bisa cetak saja sudah senang banget, apalagi ada yang bersedia membaca dan ternyata berkesan untuk mereka.

Berikut beberapa review yang dituliskan oleh kawan-kawan saya:

Yang ini revierw dari teh Winda, kawan seperjuangan di ODOP dari tahun 2016. Sejak awal di ODOP, saya udah ngikutin blognya Teh Winda yang kocak, terutama kisah fiksi Ria Jenaka. Itu bikin saya ngakak-ngakak sendiri. Saya menanti nih, siapa tahu kumpulan cerita Ria Jenaka bisa diterbitkan jadi buku, aamiin.

Review di blog Teh Winda

Kita dapat menemukan banyak informasi dan inspirasi dari curhatan seorang ibu yang merantau nun jauh di sebuah negara Eropa dari buku padat berisi ini. Poin terpenting, saya merasa sama sekali tidak digurui oleh Monika di buku ini. Gaya bahasa yang digunakan cukup mudah diterima oleh pembaca dengan diksi yang tidak rumit. Secara tata bahasa, penyuntingan pun sudah termasuk rapi tanpa typo yang jelas mengganggu ataupun kalimat tak efektif.

Kata Teh Winda, yang perlu diperbaiki adalah soal foto. Iya saya setuju, soalnya foto-fotonya hitam putih, kadang ada yang kurang jelas. Kalau bisa berwarna mah keren banget. Hanya soal biaya harus dipikirkan. Bisa baca lengkapnya di blognya Teh Winda.

Nah yang ini ulasan dari Nyit. Nama aslinya sih Pranita, tapi dari SMA entah mengapa dipanggil Nyit, hehe.. Udah lama gak jumpa, Nyit ikut pesan buku saya dan gak nyangka ternyata niat juga nulisin reviewnya, huaa..

Review dari Nyitnyit

Bagi saya, buku ini sangat menginspirasi kita sebagai ibu – ibu yang masih muda, jangan pernah lelah untuk belajar dan mengejar mimpi yang dulu pernah kita cita – citakan sejak kecil. Status menikah dan memiliki anak bukanlah menjadi suatu penghalang, melainkan harus kita jadikan sebagai tantangan dalam hidup

Bisa baca lengkapnya di blog Mrs. Nyit

Terakhir, dari punggawa ODOP nih, Teh Shanty, yang menggiring saya ikut ODOP. Kalaulah saya tidak nyemplung basah di ODOP, mungkin buku saya ini belum terbit. Kalau Teh Shanty tahu dulu pas ikut ODOP awal-awal saya niat banget. Eh dulu ODOP beneran satu hari satu postingan lho, bukan rapelan seminggu kayak yang sekarang (minimal satu tulisan). Padahal waktu itu saya sambil ngerjain master report saya yang terakhir. Tabungan tulisan saya di blog ini ada yang saya masuk ke dalam buku ini. Jadi waktu itu, tiap saya baru datang ke kampus untuk ngerjain report, saya pemanasan dulu nulis di blog selama 30-40 menit, gak lebih. Kalau lebih nanti saya gak kelar dong nulis thesis saya mwahaha. Sampai kawan saya yang anak PhD dan juga suka ngeblog heran, kok tiap hari ada aja postingan saya nongol di feeds dia. Dia komen: ngeblog mulu woy! Tapi ternyata practices makes perfect itu benar adanya. Well ya gak perfect sih maksudnya. Tapi drilling dahulu kala itu menjadikan saya berkeinginan menerbitkan buku ini.

Review dari Teh Shanty

Ada tujuh poin ulasan dari Teh Shanty.

  1. Bagaimana seorang IRT bisa punya ide sekolah di luar negeri?
  2. Bagaimana sih caranya dapat beasiswa?
  3. Apa yang perlu dipersiapkan untuk sekolah ke Belanda?
  4. Belanda atau tepatnya Groningen itu seperti apa sih?Bagaimana suasana keagamaan di sana
  5. Bagaimana suasana keagamaan di sana?
  6. Bagaimana sih pendidikan untuk anak-anak di Belanda?
  7. Susah nggak sih jadi student mom di Belanda?

Bisa baca lengkapnya di blog Teh Shanty

Banyak hal baru yang saya dapatkan dalam buku ini. Ini nih yang bikin buku menarik untuk dibaca. Bukan hal-hal klise yang sejuta umat sudah tahu.
Satu bahan perenungan saya setelah membaca buku ini. Saya mengenal 2 tipe teman. Ada yang tipe Stay at home Momseperti saya, ada yang tipe Student Mom atau Working Mom seperti Monika.

Buku ini membuka wawasan saya betapa Monika bisa menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai Student Mom. Sebuah pilihan yang mungkin di permukaan kita menilainya sebagai pilihan yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri di atas kepentingan anak dan keluarga.
Tapi itu tidak terjadi dalam kasus Monika dan keluarga. Saya melihat seorang ibu rumah tangga yang membanggakan korpsnya (korps emak-emak berdaster maksudnya), membanggakan keluarganya, membawa nama almamaternya, mengenalkan nama negaranya, bahkan menjadi agen dakwah bagi agamanya.
Saya suka membaca bagaimana celoteh Runa di pagi hari: “Ayah kantor…Bunda kampus…Runa kolah….” (hal 216)

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Cerita Kraamzorg (Maternity Care) di Belanda

Salah satu benefit yang saya rasakan besar manfaatkan ketika melahirkan di Belanda adalah adanya pelayanan maternity care, yang dalam bahasa belanda dikenal dengan nama kraamzorg. Kraamzorg adalah fasilitas kesehatan pasca melahirkan yang dikelola oleh suatu badan independen, namun dibayar oleh kita melalui premi asuransi per bulan. Setiap wanita yang melahirkan di Belanda hampir wajib mendapatkan pelayanan kraamzorg, dengan durasi kerja yang telah ditentukan sebelumnya. Pelayanan kraamzorg ini cukup unik dan katanya sih Belanda adalah satu-satunya negara yang menyediakan fasilitas istimewa ini.

Support dari kraamzorg ini tentunya sangat membantu bagi keluarga yang baru memiliki bayi, khususnya bagi kami para perantau yang tinggal di Belanda dan tidak ada keluarga dekat yang bisa mendampingi dan membantu di rumah pasca kelahiran bayi. List semua organisasi kraamzorg yang ada di Belanda bisa ditemukan di sini. Continue reading “Cerita Kraamzorg (Maternity Care) di Belanda”

Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Senja

Checklist Babyuitzet

Sebelum bayi lahir, pasti nih ibu-ibu udah mulai hunting perlengkapan baby segala rupa demi menyambut babyborn. Kalau dulu pas lahiran anak pertama saya di Indonesia, list perlengkapan yang saya siapkan gak terlalu banyak. Soalnya banyak yang ngasih kado juga mwahaha.. Kayak stroller, baby box, bouncer, car seat, Alhamdulillah ada yang ngasih kado. Perlengkapan inti lainnya kayak baju, selimut, topi, sarung tangan, itu sudah pasti nyiapin sendiri, di samping ada yang ngasih kado juga. Cuma rasanya gak ada barang yang “wajib” banget harus punya gitu. Soalnya baby box pun malah ujungnya hanya kepake sebentar banget, bayi jadinya tidur sekasur sama emaknya. Stroller juga jaraang banget dipake. Masa iya make stroller kalau cuma nge-mall doang, heu.

Kalau di sini? Ternyata ada list barang inti yang memang harus dimiliki ketika bayi lahir. List-nya sendiri malah sudah diberikan jauh-jauh hari oleh pihak Kraamzorg. Lengkapnya bisa dilihat di sini: Checklist babyuitzet. Sedangkan perlengkapan untuk ibu, seperti pembalut nifas berbagai ukuran, alas tidur untuk jaga-jaga kalau tembus air ketuban/nifasnya, kain kasa dan alkohol untuk membersihkan bekas luka sudah disiapkan dari kraampakket dari asuransi. Continue reading “Checklist Babyuitzet”

Tentang Menulis, [GJ] – Groningen’s Journal

Groningen Mom’s Journal

Groningen Mom’s Journal
-Jejak Mimpi Keluarga Kecil di Ujung Utara Belanda-

Groningen, sebuah kota di ujung utara Belanda yang ternyata banyak menyimpan cerita.

Siapa sangka kota yang mungkin lebih cocok dianggap sebagai kulkas raksasa (saking dinginnya) menjadi tempat berlabuh bagi keluarga kecil ini. Berawal dari mimpi seorang ibu rumah tangga yang ingin melanjutkan kuliah di negeri kompeni, kisah keluarga kecil ini berlanjut. Dukungan penuh dari suami dan anak membuatnya semakin yakin akan keputusannya untuk mengarungi petualangan empat musim di benua biru. Bersama keluarganya, ia mengambil kesempatan sekaligus risiko untuk merantau belasan ribu kilometer jauhnya dari Indonesia.

Groningen, the city of bikes, kota yang tidak pernah sepi akan lalu lalang penyepeda.

Siapa sangka kota yang lebih sering memberikan cuaca sendu itu malah membuat keluarga kecil tersebut menemukan petualangan kehidupan yang penuh makna. Bagaimana menemukan komunitas yang nyaman di tengah kondisi minoritas, bagaimana beradaptasi dengan cuaca, makanan, dan budaya di tanah kompeni, bagaimana bisa menjadi pribadi yang mandiri di tengah-tengah kehidupan perantauan yang jauh dari kenyamanan tanah air, dan sekelumit kisah lainnya.

Groningen, sebuah kota nun jauh di sana, yang ramai dengan pelajar perantau. Continue reading “Groningen Mom’s Journal”