Being a Student Mom, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Paling Dirindukan

Setelah berbulan-bulan ga ke kampus, akhirnya saya berkesempatan juga ngampus lagi. Sekalian ngambil barang yang diperlukan sih. Tapi kan udah di sana mah ya gawe lah sekalian. Kayaknya terakhir ke kampus itu habis lebaran, tapi lupa kapan juga. Sekarang udah boleh ke kampus sekali seminggu, dengan aturan dalam ruangan saya, max cuma boleh 3 orang (seruangan ada 6).

Saya ke kampus dengan bersepeda. Biasalah, kendaraan rakyat, siapa saja punya. Sampai di kampus memang cuma ada saya temui segelintir orang. Salah satunya kawan seruangan saya, seorang post-doc dari Venezuela. Dia termasuk baru di departemen, baru bergabung bulan Juli.

Ternyata saya cukup menikmati space saya di kampus, di office, di room saya. Bisa mengakses kembali desktop tanpa repot harus connect ke sistem citrix, tanpa harus ribet ada waktu diskonek. Saya bisa dengan leluasa bekerja dengan layar yang cukup besar dan internet yang kencang (yah di rumah juga kenceng sih). Padahal saya pikir sebelumnya saya sangat menikmati work from home (wfh) dan mungkin gak ingin balik lagi ngantor.

Ternyata saya juga cukup menikmati interaksi dengan kolega saya, meski saya baru berkenalan dengannya. Ada rasa-rasa kalau saya menikmati percakapan dengan orang baru, tanpa canggung. Dengan bahasa Inggris percakapan yang sudah lama tidak saya pakai. Padahal saya pikir sebelumnya saya gak kehilangan tuh interaksi dengan kolega, haha.. maaf rada ansos.

Ternyata saya juga cukup menikmati kopi dari mesin kopi di departemen. Yang kata orang bilang kopinya rasanya gak enak. Saya memang bukan penikmat kopi sejati, yang tahu kopi mana yang enak dan yang gak enak. Asal bisa memberikan rasa pahit-pahit manis aja udah cukup, dan bikin adrenalin saya cukup terpacu ketika bekerja.

Dan ternyata lebih dari itu, ada hal yang sangat saya rindukan selama hampir 6 bulan wfh ini.

My desk. Standar ketika kerja, ada kopi, ada air putih (itu botol minum lucu dari Kamel, lhoo.. hihi seneng banget ketemu si botol lagi), kertas biasanya berserakan, catatan, pulpen, note, sticky notes.
My room @ UMCG. Empty office

Yang ternyata saya rindukan bukanlah suasana kerja, bukan kolega, bukan space di kantor, tetapi rutinitas naik sepeda ketika pulang dan pergi ke kampus. Waktu-waktu saya di sepeda ternyata begitu berharga. Saya kehilangan hal tersebut.

Ketika di sepeda, biasanya pikiran saya bebas berkelana ke mana saja. Di waktu pulang ke rumah saya kadang memikirkan to do list di rumah, termasuk mikirin mau masak apa nanti kalau sudah sampai rumah. Kadang saya juga merenungkan pembicaraan saya dengan si Ibuk Supervisor setelah meeting. Sementara di waktu berangkat ke kampus biasanya saya memikirkan kerjaan di kantor, eh paper mana yang harus dibaca, manuskrip ini nanti mau ditulis gimana, dst.  Kadang saya juga menyiapkan sedikit kalimat yang akan saya lontarkan sebelum meeting dengan si Ibuk nanti. Pikiran saya sepertinya sangat produktif. Sehingga saat sampai di kantor, saya tahu mau apa, dan ketika sampai ke rumah saya juga tahu mau ngapain. Walaupun sampai rumah biasanya perut keroncongan. Selain itu kadang saya juga memikirkan ide tulisan, naskah, dll.. sehingga lahirnya ide-ide juga tak lepas dari momen nyepeda.

Atau kebiasaan lainnya. Biasanya saya memutar playlist di hp saya, yang lagu-lagunya tidak pernah di-update. Saya gak mengikuti perkembangan musik sih, jadi di playlist ya lagunya itu-itu aja. Dan saya tidak pernah merasa bosan, meski ketinggalan zaman. Kalau lagi soleh, biasanya saya memutar murottal, sekalian menghapal, diulang-ulang terus aja beberapa ayat. Kalau lagi ingin siraman kalbu, saya memutar spotify-nya Ustadz Nouman Ali Khan, Adi Hidayat, atau Abdul Somad.

Momen berada di atas sepeda yang hanya berkisar 15 menit menjadi momen berharga bagi saya. Momen komtemplasi yang hanya ada saya dan pikiran saya yang berbicara. Dan itulah yang ternyata saya paling rindukan. Momen rutinitas bersepeda ke kampus.

Bersepeda di Groningen. Sepeda saya, sepeda suami, dan sepeda Runa.
Sepeda kesayanganku. Saya baru ganti sepeda 2x selama di Groningen. Sepeda pertama saya Gazzelle hijau, yang sudah sempoyongan rodanya. Sepeda kedua saya ini hadiah dari suami biar saya semangat menyelesaikan PhD hihi.. Gazelle juga tapi seri Esprit, dengan warna tosca lembut, yang saya bangettss.
Catatan Haji 1437 Hijriyah, Diary Perjalanan Haji

Diary Haji 2016 – Lima Hari di Madinah (part 1)

Jum’at, 2 September 2016

Jum’at, hari baik, hari penuh berkah. Di hari itu pulalah kami rombongan Haji dari Euromuslim juga akan bertolak dari Schiphol menuju Madinah, Arab Saudi.

Tidak ada iring-iringan, tidak ada rombongan yang mengantar kami dari Groningen, apalagi ada tanjidoran (emangnya Si Doel yang mau berangkat haji). Hanya ada saya dan suami berangkat dalam diam, naik bis dari rumah menuju stasiun Groningen. Kami hanya membawa dua koper besar dan menggendong ransel masing-masing. Musim panas saat itu terasa lebih mellow. Terlebih saya teringat Runa yang ditinggal di Bandung bersama Mama Papa saya.

Di stasiun Groningen ternyata ada Pak Taufiq dan Mbak Frita yang melepas kami. Alhamdulillah suasana jadi gak sepi-sepi amat. Terima kasih Pak Taufik, Mbak Frita.

Pukul 15.30 adalah jadwal yang ditentukan dari Euromuslim untuk berkumpul di Schiphol. Beberapa rekan kami di antar oleh keluarganya, anaknya, maupun kawan-kawannya. Lagi-lagi kami sedikit masygul, tapi cuma sebentar, sebab kami mulai disibukkan dengan pembagian tiket dan ID dari Euromuslim dan Diwan (rekanan travel dari Euromuslim). Ternyata jamaah Haji dari Diwan banyak juga, jamaah Indonesia sendiri yang berangkat bersama Euromuslim sekitar 30 orang. Keseluruhan jamaah dengan Diwan ada 180 orang. Kami bertemu jamaah Maroko, Turki, Belanda, Pakistan, dll. Bervariasi juga ternyata jamaahnya Diwan.

Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya
Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya
Suasana haru di Bandara Schiphol, saat jamaah haji Diwan dilepas oleh keluarganya. Ada yang bertangis-tangisan lho

Continue reading “Diary Haji 2016 – Lima Hari di Madinah (part 1)”

[GJ] – Groningen’s Journal

Review Groningen Mom’s Journal

Hati saya berbunga-bunga ketika ada kawan saya yang menuliskan panjang lebar kesan/komentar/review-nya mengenai buku Groningen Mom’s Journal. Buku bisa cetak saja sudah senang banget, apalagi ada yang bersedia membaca dan ternyata berkesan untuk mereka.

Berikut beberapa review yang dituliskan oleh kawan-kawan saya:

Yang ini revierw dari teh Winda, kawan seperjuangan di ODOP dari tahun 2016. Sejak awal di ODOP, saya udah ngikutin blognya Teh Winda yang kocak, terutama kisah fiksi Ria Jenaka. Itu bikin saya ngakak-ngakak sendiri. Saya menanti nih, siapa tahu kumpulan cerita Ria Jenaka bisa diterbitkan jadi buku, aamiin.

Review di blog Teh Winda

Kita dapat menemukan banyak informasi dan inspirasi dari curhatan seorang ibu yang merantau nun jauh di sebuah negara Eropa dari buku padat berisi ini. Poin terpenting, saya merasa sama sekali tidak digurui oleh Monika di buku ini. Gaya bahasa yang digunakan cukup mudah diterima oleh pembaca dengan diksi yang tidak rumit. Secara tata bahasa, penyuntingan pun sudah termasuk rapi tanpa typo yang jelas mengganggu ataupun kalimat tak efektif.

Kata Teh Winda, yang perlu diperbaiki adalah soal foto. Iya saya setuju, soalnya foto-fotonya hitam putih, kadang ada yang kurang jelas. Kalau bisa berwarna mah keren banget. Hanya soal biaya harus dipikirkan. Bisa baca lengkapnya di blognya Teh Winda.

Nah yang ini ulasan dari Nyit. Nama aslinya sih Pranita, tapi dari SMA entah mengapa dipanggil Nyit, hehe.. Udah lama gak jumpa, Nyit ikut pesan buku saya dan gak nyangka ternyata niat juga nulisin reviewnya, huaa..

Review dari Nyitnyit

Bagi saya, buku ini sangat menginspirasi kita sebagai ibu – ibu yang masih muda, jangan pernah lelah untuk belajar dan mengejar mimpi yang dulu pernah kita cita – citakan sejak kecil. Status menikah dan memiliki anak bukanlah menjadi suatu penghalang, melainkan harus kita jadikan sebagai tantangan dalam hidup

Bisa baca lengkapnya di blog Mrs. Nyit

Terakhir, dari punggawa ODOP nih, Teh Shanty, yang menggiring saya ikut ODOP. Kalaulah saya tidak nyemplung basah di ODOP, mungkin buku saya ini belum terbit. Kalau Teh Shanty tahu dulu pas ikut ODOP awal-awal saya niat banget. Eh dulu ODOP beneran satu hari satu postingan lho, bukan rapelan seminggu kayak yang sekarang (minimal satu tulisan). Padahal waktu itu saya sambil ngerjain master report saya yang terakhir. Tabungan tulisan saya di blog ini ada yang saya masuk ke dalam buku ini. Jadi waktu itu, tiap saya baru datang ke kampus untuk ngerjain report, saya pemanasan dulu nulis di blog selama 30-40 menit, gak lebih. Kalau lebih nanti saya gak kelar dong nulis thesis saya mwahaha. Sampai kawan saya yang anak PhD dan juga suka ngeblog heran, kok tiap hari ada aja postingan saya nongol di feeds dia. Dia komen: ngeblog mulu woy! Tapi ternyata practices makes perfect itu benar adanya. Well ya gak perfect sih maksudnya. Tapi drilling dahulu kala itu menjadikan saya berkeinginan menerbitkan buku ini.

Review dari Teh Shanty

Ada tujuh poin ulasan dari Teh Shanty.

  1. Bagaimana seorang IRT bisa punya ide sekolah di luar negeri?
  2. Bagaimana sih caranya dapat beasiswa?
  3. Apa yang perlu dipersiapkan untuk sekolah ke Belanda?
  4. Belanda atau tepatnya Groningen itu seperti apa sih?Bagaimana suasana keagamaan di sana
  5. Bagaimana suasana keagamaan di sana?
  6. Bagaimana sih pendidikan untuk anak-anak di Belanda?
  7. Susah nggak sih jadi student mom di Belanda?

Bisa baca lengkapnya di blog Teh Shanty

Banyak hal baru yang saya dapatkan dalam buku ini. Ini nih yang bikin buku menarik untuk dibaca. Bukan hal-hal klise yang sejuta umat sudah tahu.
Satu bahan perenungan saya setelah membaca buku ini. Saya mengenal 2 tipe teman. Ada yang tipe Stay at home Momseperti saya, ada yang tipe Student Mom atau Working Mom seperti Monika.

Buku ini membuka wawasan saya betapa Monika bisa menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai Student Mom. Sebuah pilihan yang mungkin di permukaan kita menilainya sebagai pilihan yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri di atas kepentingan anak dan keluarga.
Tapi itu tidak terjadi dalam kasus Monika dan keluarga. Saya melihat seorang ibu rumah tangga yang membanggakan korpsnya (korps emak-emak berdaster maksudnya), membanggakan keluarganya, membawa nama almamaternya, mengenalkan nama negaranya, bahkan menjadi agen dakwah bagi agamanya.
Saya suka membaca bagaimana celoteh Runa di pagi hari: “Ayah kantor…Bunda kampus…Runa kolah….” (hal 216)

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Cerita Kraamzorg (Maternity Care) di Belanda

Salah satu benefit yang saya rasakan besar manfaatkan ketika melahirkan di Belanda adalah adanya pelayanan maternity care, yang dalam bahasa belanda dikenal dengan nama kraamzorg. Kraamzorg adalah fasilitas kesehatan pasca melahirkan yang dikelola oleh suatu badan independen, namun dibayar oleh kita melalui premi asuransi per bulan. Setiap wanita yang melahirkan di Belanda hampir wajib mendapatkan pelayanan kraamzorg, dengan durasi kerja yang telah ditentukan sebelumnya. Pelayanan kraamzorg ini cukup unik dan katanya sih Belanda adalah satu-satunya negara yang menyediakan fasilitas istimewa ini.

Support dari kraamzorg ini tentunya sangat membantu bagi keluarga yang baru memiliki bayi, khususnya bagi kami para perantau yang tinggal di Belanda dan tidak ada keluarga dekat yang bisa mendampingi dan membantu di rumah pasca kelahiran bayi. List semua organisasi kraamzorg yang ada di Belanda bisa ditemukan di sini. Continue reading “Cerita Kraamzorg (Maternity Care) di Belanda”

Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Senja

Checklist Babyuitzet

Sebelum bayi lahir, pasti nih ibu-ibu udah mulai hunting perlengkapan baby segala rupa demi menyambut babyborn. Kalau dulu pas lahiran anak pertama saya di Indonesia, list perlengkapan yang saya siapkan gak terlalu banyak. Soalnya banyak yang ngasih kado juga mwahaha.. Kayak stroller, baby box, bouncer, car seat, Alhamdulillah ada yang ngasih kado. Perlengkapan inti lainnya kayak baju, selimut, topi, sarung tangan, itu sudah pasti nyiapin sendiri, di samping ada yang ngasih kado juga. Cuma rasanya gak ada barang yang “wajib” banget harus punya gitu. Soalnya baby box pun malah ujungnya hanya kepake sebentar banget, bayi jadinya tidur sekasur sama emaknya. Stroller juga jaraang banget dipake. Masa iya make stroller kalau cuma nge-mall doang, heu.

Kalau di sini? Ternyata ada list barang inti yang memang harus dimiliki ketika bayi lahir. List-nya sendiri malah sudah diberikan jauh-jauh hari oleh pihak Kraamzorg. Lengkapnya bisa dilihat di sini: Checklist babyuitzet. Sedangkan perlengkapan untuk ibu, seperti pembalut nifas berbagai ukuran, alas tidur untuk jaga-jaga kalau tembus air ketuban/nifasnya, kain kasa dan alkohol untuk membersihkan bekas luka sudah disiapkan dari kraampakket dari asuransi. Continue reading “Checklist Babyuitzet”

Tentang Menulis, [GJ] – Groningen’s Journal

Groningen Mom’s Journal

Groningen Mom’s Journal
-Jejak Mimpi Keluarga Kecil di Ujung Utara Belanda-

Groningen, sebuah kota di ujung utara Belanda yang ternyata banyak menyimpan cerita.

Siapa sangka kota yang mungkin lebih cocok dianggap sebagai kulkas raksasa (saking dinginnya) menjadi tempat berlabuh bagi keluarga kecil ini. Berawal dari mimpi seorang ibu rumah tangga yang ingin melanjutkan kuliah di negeri kompeni, kisah keluarga kecil ini berlanjut. Dukungan penuh dari suami dan anak membuatnya semakin yakin akan keputusannya untuk mengarungi petualangan empat musim di benua biru. Bersama keluarganya, ia mengambil kesempatan sekaligus risiko untuk merantau belasan ribu kilometer jauhnya dari Indonesia.

Groningen, the city of bikes, kota yang tidak pernah sepi akan lalu lalang penyepeda.

Siapa sangka kota yang lebih sering memberikan cuaca sendu itu malah membuat keluarga kecil tersebut menemukan petualangan kehidupan yang penuh makna. Bagaimana menemukan komunitas yang nyaman di tengah kondisi minoritas, bagaimana beradaptasi dengan cuaca, makanan, dan budaya di tanah kompeni, bagaimana bisa menjadi pribadi yang mandiri di tengah-tengah kehidupan perantauan yang jauh dari kenyamanan tanah air, dan sekelumit kisah lainnya.

Groningen, sebuah kota nun jauh di sana, yang ramai dengan pelajar perantau. Continue reading “Groningen Mom’s Journal”

Mommy's Abroad

Cerita mengenai Kehamilan di Belanda

It’s 37 weeks already! Alhamdulillah, sampai saat ini saya sehat dan begitu juga janin di dalam perut. Meski selama periode kehamilan ini tentu banyak tantangan, baik fisik maupun mental. Yaah.. namanya juga ibu hamil, keluhannya pasti ada aja. Mulai dari mual dan pusing di trimester pertama, harus menjaga asupan makanan yang bagus dan jangan sampai kecapekan di trimester kedua, sampai tidak nyaman setiap tidur malam karena sesak dan berat, serta beser di trimester ketiga.

Udah lama saya mau berbagi sedikit pengalaman saya hamil selama hampir 9 bulan di Belanda, bagaimana sistem kesehatannya, bagaimana pemeriksaan dengan bidan dan dokter, dan prosedur untuk mempersiapkan kelahiran, biar gak lupa pengalamannya. Tentu banyak cerita yang berbeda, jauh berbeda dengan kehamilan saya yang pertama di Indonesia. Jadi siap-siap ini postingan akan agak panjang.

Mulai dari mental dan kesiapan dari saya dan suami juga sudah beda. Dulu namanya anak pertama, pasti apa-apa khawatir, sedikit-sedikit ingin ke dokter, cek USG, nanya saran ini itu. Kalau sekarang saya cenderung lebih santai, atau jangan-jangan terlalu santai? Heuheu.. tapi tetap ada kekhawatiran sebenarnya, sebab pengalaman saya melahirkan anak pertama dulu cukup traumatis (ibuuu manaa yang lahirannya gampaang emaang?). Saya masih terbayang bagaimana kondisi dulu saya melahirkan Runa. Mungkin itu saat-saat paling terdekat dengan kematian.

Ringkas cerita, kehamilan saya dulu sangat baik, no big problem, mual muntah cuma sedikit, masih bisa beraktivitas kerja seperti biasa bahkan naik KRL dari Bekasi ke Percetakan Negara. Di trimester kedua saya dan suami sempat traveling ke Hongkong, saat saya ada konferensi Farmasi Klinik di sana. Di trimester ketiga kami juga sempat jalan-jalan ke Bali dengan pesawat, waktu itu suami ada meeting tahunan dengan klien kantornya. Saya yang sudah mau resign dari kerjaan ingin ikutan juga dong sekalian pelesir di Bali, membawa-bawa perut saya yang sudah demikian besar. Saya merasa optimis bisa melahirkan dengan normal, plasenta oke, BB bayi normal, ketuban baik, posisi bayi juga sudah di bawah.

Qadarullah, takdir berkata lain, sesiap dan sebagus apapun kondisi sebelumnya ternyata tidak menjamin bahwa saya bisa melewati kontraksi dengan baik. Baru di bukaan ke-4, tiba-tiba tekanan darah saya naik, sampai 190/110. Kepala saya sakit berat, saya muntah, dan pemeriksaan urin menandakan positif protein. Padahal selama kehamilan tekanan darah saya cenderung rendah/normal. Akhirnya saya harus menjalani operasi sesar dengan bius total. Belakangan saya tahu diagnosis dokter saat itu adalah impending eklampsi. Nah, berdasarkan pengalaman tersebut, sejak awal kami sudah memberitahu bidan dan dokter di sini mengenai riwayat tersebut.

Jadi bagaimana prosedur pemeriksaan kehamilan di Belanda?

Continue reading “Cerita mengenai Kehamilan di Belanda”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Les Bahasa Belanda Gratis

Ada satu fasilitas yang bagus dari Consultatiebureau Groningen (semacam Posyandu, yang fokus dalam kesehatan dan tumbuh kembang anak). Selain menyelenggarakan imunisasi gratis dan pemeriksaan rutin untuk anak-anak, Consultatiebureau juga sangat memperhatikan tumbuh kembang anak, misalnya bagaimana perkembangan si anak dalam berbicara, berkonsentrasi, dan memahami suatu instruksi.

Ada dua orang kawan Runa (orang Indonesia) yang belum lama tinggal di Groningen lalu mendapatkan fasilitas belajar bahasa Belanda lebih lanjut. Mereka berdua berusia 3 dan 4 tahun. Keduanya sudah memasuki usia sekolah (setara playgroup dan TK). Tentunya karena belum lama tinggal di sini, mereka memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dalam bahasa Belanda. Meski sebenarnya untuk mereka bahasa bukanlah kendala dalam bermain di sekolah, tetapi memiliki basic bahasa Belanda akan membantu keseharian mereka.

Fasilitas belajar  bahasa Belanda tersebut ada dua pilihan, menambah jam bermain mereka di sekolah atau mendatangkan fasilitator yang datang ke rumah untuk mengajak si anak mengobrol. Dulu Runa mengambil pilihan pertama, soalnya saya masih kuliah, jadi lumayan kan Runa mendapatkan satu hari tambahan di sekolah (di luar jam wajibnya) tentu tanpa menambah biaya apapun. Continue reading “Les Bahasa Belanda Gratis”

Groningen's Corner

Groens Cup XVI 2017

Salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia di Groningen adalah Groens Cup. Sebuah ajang olahraga antar pelajar terbesar di Belanda. Yang mengadakannya siapa lagi kalau bukan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPIG). Pesertanya tidak hanya diikuti dari kontingen dari Belanda saja lho, ada beberapa kontingen dari Jerman dan Prancis yang juga turut serta. Sampai saat ini, sudah 16 kali Groens Cup diadakan.

Tahun 2017, tema yang diusung adalah KSATRIA dengan nuansa warna biru dongker. Olahraga dan permainan yang dipertandingkan adalah futsal, tenis meja, badminton, basket, voli, panco, capsa, catur sampai PS FIFA. Dalam dua hari 29-30 April 2017, Groens Cup akan berlangsung. Semua atlet dari tiap kontingen berusaha untuk memberikan performa terbaiknya.

Dulu tahun 2014, saya pernah sih jadi atlet badminton kelas bulu ayam, haha. Maksudnya cupu banget. Dilawan sama atlet pro dari kontingen lain langsung keok. Gapapa yang penting pernah mencoba meramaikan Groens Cup. Sementara suami selalu setia menjadi atlet futsal dalam tiga tahun ini, meski jarang menang. Tapi sudah cukup senang bisa bertanding serius. Kadang pernah juga suami jadi cadangan di tim basket, yaa hitung-hitung mencoba juga.  Suami memang suka olahraga. Jadi Groens Cup jadi momen yang menyenangkan baginya. Tidak hanya jadi atlet, tapi jadi penonton pertandingan juga sudah seru, katanya.

Tapi Groenscup ini tidak hanya diramaikan oleh ajang olahraga. Tidak lupa stand-stand kuliner khas Indonesia juga memeriahkan Groens Cup. Para koki-koki Groningen dengan bakat terpendam menyajikan menu-menu yang membuat ngiler. Nasi kuning, nasi padang, pempek, batagor, baso tahu, bebek cabe hijau, mie ayam, tempe mendoan, klepon, martabak manis, martabak asin, lumpia basah, dan masih banyak lagi. Tidak baik untuk kesehatan kantong, huhu. Apalagi untuk saya yang sudah sangat kangen masakan Indonesia. Harga makanan berkisar dari 5-6 euro. Untuk cemilan kecil mulai dari 1-2 euro.

Saya dan dua teman juga sudah pernah lho buka stand di Groens Cup, tahun 2014 silam. Tapi kami kapok, haha. Kami tidak setangguh emak-emak yang konsisten masak untuk jumlah besar sekaligus beberapa menu. Memasak untuk porsi banyak itu berat, Bung! Belum lagi lelah harus begadang, menyiapkan segala rupa bahan dari mulai mentah sampai disajikan, lalu harus pula menunggui lapak. Akhirnya tahun-tahun berikutnya kami menyerah. Lebih baik jadi penikmat stand saja. Bisa makan enak tanpa capek.

Groens Cup menjadi ajang yang lengkap. Sehat karena ikut olahraga dapat, senang karena bisa melihat pertandingan seru dengan sportivitas, bisa memanjakan perut dengan makanan enak, sekaligus bersilaturahmi dengan penduduk Groningen plus komunitas dari belahan Belanda dan Eropa lainnya. Alhamdulillah

Tim Basket PPIG vs Tim Basket PPI Bonn (Jerman), pertandingan yang seru!
Ada stand yang unik tahun ini. Schminken (face painting) dari Mbak Frita. Laris diserbu anak-anak
Stand Makanan di Groens Cup 2017
Tim Futsal PPIG vs Tim Futsal AIA Amsterdam
School stuff

Hora Finita!

Attending a PhD public defense always brings chill for me. It is like watching all the hardwork, sacrifies, effort, tears, even blood, were paid in one day, with the word HORA FINITA!

Untuk bisa meraih gelar doktor di University of Groningen (RuG), kandidat PhD harus melalui serangkaian proses yang panjang. Di akhir penganugerahan gelar, kandidat harus menghadapi public defense. Semacam sidang terbuka, di mana ia harus mempertahankan disertasinya yang telah ia rampungkan. Ia akan ditanya oleh para expert di bidangnya, beberapa adalah profesor dari RuG, dari universitas lain di Belanda, bahkan di luar Belanda, bisa juga profesor yang merupakan praktisi di bidangnya. Mereka akan bertindak sebagai opponent dan bertanya apapun yang berkaitan dengan research sang kandidat. Sidang ini boleh disaksikan oleh siapapun yang ingin melihat, keluarga, teman, kolega. Syaratnya penonton tidak boleh ribut, anak di atas 6 tahun biasanya sudah bisa mengikuti proses dengan tenang.

Tentu promotor dari kandidat akan menemani “anak asuh” mereka tersebut dalam sidang. Tapi jarang sekali promotor membantu memberikan jawaban (sejauh yang pernah saya saksikan). Ada juga dua orang paranymph (semacam pendamping kandidat) yang akan menyertai kandidat sebelum, selama, dan setelah sidang, untuk memastikan kebutuhan kandidat dalam menjalani proses defense. Ya tugasnya, semacam bridesmaid-lah dalam pernikahan.

Selama sekitar 45 menit, kandidat akan harus menjawab semua pertanyaan dari para opponent dengan baik. Sampai terdengar pintu ruang sidang terbuka dan seorang “pemandu para profesor” (saya gak tahu apa namanya), akan mengumandangkan kata: “Hora Finita!” yang menandakan waktu sidang sudah berakhir.

Hora Finita, diambil dari bahasa Latin yang artinya the time has passed. Kata itu akan membawa kelegaan panjang, tidak hanya bagi kandidat, tetapi juga bagi para penonton yang menyaksikan sidang. Setelah itu, para opponent akan meninggalkan ruangan untuk berdiskusi apakah kandidat akan diberi gelar doktor atau tidak.

Sejauh yang saya tahu, public defense para kandidat PhD selalu berakhir dengan happy ending. Katanya sih asal bisa menyelesaikan semua pertanyaan dengan lancar (tersendat-sendat sedikit itu biasa, namanya juga grogi) sampai hora finita terdengar, kandidat akan sudah pasti menggenggam ijazahnya. Belum pernah saya mendengar ada yang gagal dalam public defense. Kecuali katanya pernah ada kandidat yang pingsan ketika sidang, saking grogi/panik, sebelum ia berhasil menjawab semua pertanyaan. Tapi ujungnya ijazahnya tetap ia dapatkan kok. Bisa sampai ke public defense saja dengan menyelesaikan satu buku thesis saja itu sudah pencapaian yang luar biasa. Public defense ini terasa sebagai formalitas saja. Namun tetap menguji nyali para kandidat.

Di akhir prosesi public defense, kandidat akan diberikan gelar doktor secara resmi serta ijazah dari RuG. Lalu promotor akan memberikan short speech mengenai kandidat. Bagaimana mereka pertama kali bertemu, bagaimana etos kerja si kandidat, bagaimana perjuangannya selama menyelesaikan studi, bahkan hal-hal lucu dalam hubungan mereka, dan mengenai keluarga sang kandidat. Hal itu merupakan bagian paling menyentuh dalam sebuah public defense. Saya selalu merinding ketika medengar sang profesor berbicara mengenai tahun-tahun perjuangan kandidat, terutama kalau saya mengenal baik si kandidatnya.

Akhirnyaaa.. selesai juga, kelegaan yang tidak bisa terbayangkan. Saya saja lega, apalagi si kandidat? Mungkin berjuta-juta ton beban terangkat dari pundaknya

Sudah beberapa kali saya menyaksikan public defense dari kandidat PhD, kebanyakan merupakan rekan-rekan Indonesia. Dari semua yang saya saksikan, tidak semua bisa saya pahami apa penelitiannya, apa inti dari buku thesisnya, apalagi pertanyaan yang dilontarkan para opponent. Cukup mengangguk-angguk saja ketika mendengar jawaban dari kandidat. Tentu, karena bidang penelitian mereka sangat spesifik dan bukan merupakan hal yang familiar bagi saya. Ada yang penelitiannya mengenai edukasi di Indonesia, ekonomi blabla, manfaat ekstrak jatropha curcas, liver fibrosis, dll.  Sejauh ini hanya dua public defense yang bisa saya pahami sedikit maksudnya. Itu pun karena saya terlibat di salah satu chapter dalam penelitian mereka. Tentu topiknya tidak jauh dari bidang saya.

Untuk penonton sidang, mungkin berkali-kali menyaksikan sidang akan menjadi pengalaman menarik. Tidak masalah mau datang ke sidang manapun. Tapi yang pasti, untuk para kandidat PhD, cukup sekali saja mengalami sidang maha penting dalam hidupnya itu.