Cerita Runa dan Senja, Mommy's Abroad

Cerita mengenai Kehamilan di Belanda

It’s 37 weeks already! Alhamdulillah, sampai saat ini saya sehat dan begitu juga janin di dalam perut. Meski selama periode kehamilan ini tentu banyak tantangan, baik fisik maupun mental. Yaah.. namanya juga ibu hamil, keluhannya pasti ada aja. Mulai dari mual dan pusing di trimester pertama, harus menjaga asupan makanan yang bagus dan jangan sampai kecapekan di trimester kedua, sampai tidak nyaman setiap tidur malam karena sesak dan berat, serta beser di trimester ketiga.

Udah lama saya mau berbagi sedikit pengalaman saya hamil selama hampir 9 bulan di Belanda, bagaimana sistem kesehatannya, bagaimana pemeriksaan dengan bidan dan dokter, dan prosedur untuk mempersiapkan kelahiran, biar gak lupa pengalamannya. Tentu banyak cerita yang berbeda, jauh berbeda dengan kehamilan saya yang pertama di Indonesia. Jadi siap-siap ini postingan akan agak panjang.

Mulai dari mental dan kesiapan dari saya dan suami juga sudah beda. Dulu namanya anak pertama, pasti apa-apa khawatir, sedikit-sedikit ingin ke dokter, cek USG, nanya saran ini itu. Kalau sekarang saya cenderung lebih santai, atau jangan-jangan terlalu santai? Heuheu.. tapi tetap ada kekhawatiran sebenarnya, sebab pengalaman saya melahirkan anak pertama dulu cukup traumatis (ibuuu manaa yang lahirannya gampaang emaang?). Saya masih terbayang bagaimana kondisi dulu saya melahirkan Runa. Mungkin itu saat-saat paling terdekat dengan kematian.

Ringkas cerita, kehamilan saya dulu sangat baik, no big problem, mual muntah cuma sedikit, masih bisa beraktivitas kerja seperti biasa bahkan naik KRL dari Bekasi ke Percetakan Negara. Di trimester kedua saya dan suami sempat traveling ke Hongkong, saat saya ada konferensi Farmasi Klinik di sana. Di trimester ketiga kami juga sempat jalan-jalan ke Bali dengan pesawat, waktu itu suami ada meeting tahunan dengan klien kantornya. Saya yang sudah mau resign dari kerjaan ingin ikutan juga dong sekalian pelesir di Bali, membawa-bawa perut saya yang sudah demikian besar. Saya merasa optimis bisa melahirkan dengan normal, plasenta oke, BB bayi normal, ketuban baik, posisi bayi juga sudah di bawah.

Qadarullah, takdir berkata lain, sesiap dan sebagus apapun kondisi sebelumnya ternyata tidak menjamin bahwa saya bisa melewati kontraksi dengan baik. Baru di bukaan ke-4, tiba-tiba tekanan darah saya naik, sampai 190/110. Kepala saya sakit berat, saya muntah, dan pemeriksaan urin menandakan positif protein. Padahal selama kehamilan tekanan darah saya cenderung rendah/normal. Akhirnya saya harus menjalani operasi sesar dengan bius total. Belakangan saya tahu diagnosis dokter saat itu adalah impending eklampsi. Nah, berdasarkan pengalaman tersebut, sejak awal kami sudah memberitahu bidan dan dokter di sini mengenai riwayat tersebut.

Jadi bagaimana prosedur pemeriksaan kehamilan di Belanda?

Continue reading “Cerita mengenai Kehamilan di Belanda”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Les Bahasa Belanda Gratis

Ada satu fasilitas yang bagus dari Consultatiebureau Groningen (semacam Posyandu, yang fokus dalam kesehatan dan tumbuh kembang anak). Selain menyelenggarakan imunisasi gratis dan pemeriksaan rutin untuk anak-anak, Consultatiebureau juga sangat memperhatikan tumbuh kembang anak, misalnya bagaimana perkembangan si anak dalam berbicara, berkonsentrasi, dan memahami suatu instruksi.

Ada dua orang kawan Runa (orang Indonesia) yang belum lama tinggal di Groningen lalu mendapatkan fasilitas belajar bahasa Belanda lebih lanjut. Mereka berdua berusia 3 dan 4 tahun. Keduanya sudah memasuki usia sekolah (setara playgroup dan TK). Tentunya karena belum lama tinggal di sini, mereka memiliki kesulitan untuk berkomunikasi dalam bahasa Belanda. Meski sebenarnya untuk mereka bahasa bukanlah kendala dalam bermain di sekolah, tetapi memiliki basic bahasa Belanda akan membantu keseharian mereka.

Fasilitas belajar  bahasa Belanda tersebut ada dua pilihan, menambah jam bermain mereka di sekolah atau mendatangkan fasilitator yang datang ke rumah untuk mengajak si anak mengobrol. Dulu Runa mengambil pilihan pertama, soalnya saya masih kuliah, jadi lumayan kan Runa mendapatkan satu hari tambahan di sekolah (di luar jam wajibnya) tentu tanpa menambah biaya apapun. Continue reading “Les Bahasa Belanda Gratis”

Groningen's Corner

Groens Cup XVI 2017

Salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia di Groningen adalah Groens Cup. Sebuah ajang olahraga antar pelajar terbesar di Belanda. Yang mengadakannya siapa lagi kalau bukan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPIG). Pesertanya tidak hanya diikuti dari kontingen dari Belanda saja lho, ada beberapa kontingen dari Jerman dan Prancis yang juga turut serta. Sampai saat ini, sudah 16 kali Groens Cup diadakan.

Tahun 2017, tema yang diusung adalah KSATRIA dengan nuansa warna biru dongker. Olahraga dan permainan yang dipertandingkan adalah futsal, tenis meja, badminton, basket, voli, panco, capsa, catur sampai PS FIFA. Dalam dua hari 29-30 April 2017, Groens Cup akan berlangsung. Semua atlet dari tiap kontingen berusaha untuk memberikan performa terbaiknya.

Dulu tahun 2014, saya pernah sih jadi atlet badminton kelas bulu ayam, haha. Maksudnya cupu banget. Dilawan sama atlet pro dari kontingen lain langsung keok. Gapapa yang penting pernah mencoba meramaikan Groens Cup. Sementara suami selalu setia menjadi atlet futsal dalam tiga tahun ini, meski jarang menang. Tapi sudah cukup senang bisa bertanding serius. Kadang pernah juga suami jadi cadangan di tim basket, yaa hitung-hitung mencoba juga.  Suami memang suka olahraga. Jadi Groens Cup jadi momen yang menyenangkan baginya. Tidak hanya jadi atlet, tapi jadi penonton pertandingan juga sudah seru, katanya.

Tapi Groenscup ini tidak hanya diramaikan oleh ajang olahraga. Tidak lupa stand-stand kuliner khas Indonesia juga memeriahkan Groens Cup. Para koki-koki Groningen dengan bakat terpendam menyajikan menu-menu yang membuat ngiler. Nasi kuning, nasi padang, pempek, batagor, baso tahu, bebek cabe hijau, mie ayam, tempe mendoan, klepon, martabak manis, martabak asin, lumpia basah, dan masih banyak lagi. Tidak baik untuk kesehatan kantong, huhu. Apalagi untuk saya yang sudah sangat kangen masakan Indonesia. Harga makanan berkisar dari 5-6 euro. Untuk cemilan kecil mulai dari 1-2 euro.

Saya dan dua teman juga sudah pernah lho buka stand di Groens Cup, tahun 2014 silam. Tapi kami kapok, haha. Kami tidak setangguh emak-emak yang konsisten masak untuk jumlah besar sekaligus beberapa menu. Memasak untuk porsi banyak itu berat, Bung! Belum lagi lelah harus begadang, menyiapkan segala rupa bahan dari mulai mentah sampai disajikan, lalu harus pula menunggui lapak. Akhirnya tahun-tahun berikutnya kami menyerah. Lebih baik jadi penikmat stand saja. Bisa makan enak tanpa capek.

Groens Cup menjadi ajang yang lengkap. Sehat karena ikut olahraga dapat, senang karena bisa melihat pertandingan seru dengan sportivitas, bisa memanjakan perut dengan makanan enak, sekaligus bersilaturahmi dengan penduduk Groningen plus komunitas dari belahan Belanda dan Eropa lainnya. Alhamdulillah

Tim Basket PPIG vs Tim Basket PPI Bonn (Jerman), pertandingan yang seru!
Ada stand yang unik tahun ini. Schminken (face painting) dari Mbak Frita. Laris diserbu anak-anak
Stand Makanan di Groens Cup 2017
Tim Futsal PPIG vs Tim Futsal AIA Amsterdam
School stuff

Hora Finita!

Attending a PhD public defense always brings chill for me. It is like watching all the hardwork, sacrifies, effort, tears, even blood, were paid in one day, with the word HORA FINITA!

Untuk bisa meraih gelar doktor di University of Groningen (RuG), kandidat PhD harus melalui serangkaian proses yang panjang. Di akhir penganugerahan gelar, kandidat harus menghadapi public defense. Semacam sidang terbuka, di mana ia harus mempertahankan disertasinya yang telah ia rampungkan. Ia akan ditanya oleh para expert di bidangnya, beberapa adalah profesor dari RuG, dari universitas lain di Belanda, bahkan di luar Belanda, bisa juga profesor yang merupakan praktisi di bidangnya. Mereka akan bertindak sebagai opponent dan bertanya apapun yang berkaitan dengan research sang kandidat. Sidang ini boleh disaksikan oleh siapapun yang ingin melihat, keluarga, teman, kolega. Syaratnya penonton tidak boleh ribut, anak di atas 6 tahun biasanya sudah bisa mengikuti proses dengan tenang.

Tentu promotor dari kandidat akan menemani “anak asuh” mereka tersebut dalam sidang. Tapi jarang sekali promotor membantu memberikan jawaban (sejauh yang pernah saya saksikan). Ada juga dua orang paranymph (semacam pendamping kandidat) yang akan menyertai kandidat sebelum, selama, dan setelah sidang, untuk memastikan kebutuhan kandidat dalam menjalani proses defense. Ya tugasnya, semacam bridesmaid-lah dalam pernikahan.

Selama sekitar 45 menit, kandidat akan harus menjawab semua pertanyaan dari para opponent dengan baik. Sampai terdengar pintu ruang sidang terbuka dan seorang “pemandu para profesor” (saya gak tahu apa namanya), akan mengumandangkan kata: “Hora Finita!” yang menandakan waktu sidang sudah berakhir.

Hora Finita, diambil dari bahasa Latin yang artinya the time has passed. Kata itu akan membawa kelegaan panjang, tidak hanya bagi kandidat, tetapi juga bagi para penonton yang menyaksikan sidang. Setelah itu, para opponent akan meninggalkan ruangan untuk berdiskusi apakah kandidat akan diberi gelar doktor atau tidak.

Sejauh yang saya tahu, public defense para kandidat PhD selalu berakhir dengan happy ending. Katanya sih asal bisa menyelesaikan semua pertanyaan dengan lancar (tersendat-sendat sedikit itu biasa, namanya juga grogi) sampai hora finita terdengar, kandidat akan sudah pasti menggenggam ijazahnya. Belum pernah saya mendengar ada yang gagal dalam public defense. Kecuali katanya pernah ada kandidat yang pingsan ketika sidang, saking grogi/panik, sebelum ia berhasil menjawab semua pertanyaan. Tapi ujungnya ijazahnya tetap ia dapatkan kok. Bisa sampai ke public defense saja dengan menyelesaikan satu buku thesis saja itu sudah pencapaian yang luar biasa. Public defense ini terasa sebagai formalitas saja. Namun tetap menguji nyali para kandidat.

Di akhir prosesi public defense, kandidat akan diberikan gelar doktor secara resmi serta ijazah dari RuG. Lalu promotor akan memberikan short speech mengenai kandidat. Bagaimana mereka pertama kali bertemu, bagaimana etos kerja si kandidat, bagaimana perjuangannya selama menyelesaikan studi, bahkan hal-hal lucu dalam hubungan mereka, dan mengenai keluarga sang kandidat. Hal itu merupakan bagian paling menyentuh dalam sebuah public defense. Saya selalu merinding ketika medengar sang profesor berbicara mengenai tahun-tahun perjuangan kandidat, terutama kalau saya mengenal baik si kandidatnya.

Akhirnyaaa.. selesai juga, kelegaan yang tidak bisa terbayangkan. Saya saja lega, apalagi si kandidat? Mungkin berjuta-juta ton beban terangkat dari pundaknya

Sudah beberapa kali saya menyaksikan public defense dari kandidat PhD, kebanyakan merupakan rekan-rekan Indonesia. Dari semua yang saya saksikan, tidak semua bisa saya pahami apa penelitiannya, apa inti dari buku thesisnya, apalagi pertanyaan yang dilontarkan para opponent. Cukup mengangguk-angguk saja ketika mendengar jawaban dari kandidat. Tentu, karena bidang penelitian mereka sangat spesifik dan bukan merupakan hal yang familiar bagi saya. Ada yang penelitiannya mengenai edukasi di Indonesia, ekonomi blabla, manfaat ekstrak jatropha curcas, liver fibrosis, dll.  Sejauh ini hanya dua public defense yang bisa saya pahami sedikit maksudnya. Itu pun karena saya terlibat di salah satu chapter dalam penelitian mereka. Tentu topiknya tidak jauh dari bidang saya.

Untuk penonton sidang, mungkin berkali-kali menyaksikan sidang akan menjadi pengalaman menarik. Tidak masalah mau datang ke sidang manapun. Tapi yang pasti, untuk para kandidat PhD, cukup sekali saja mengalami sidang maha penting dalam hidupnya itu.

Being Indonesian in the Netherlands

Me VS Dutch: Scheduling Agenda Appointments (part 2)

Beberapa minggu ini ada hal yang menyentil saya untuk kembali menuliskan mengenai topik ini. Setelah sebelumnya pernah saya ceritakan secara singkat di sini. Dua tahun lebih menetap di Belanda membuat saya semakin banyak disiplin dan latihan mengatur jadwal dan waktu. Terutama jika berhubungan dengan orang lain atau kegiatan yang melibatkan orang lain di dalamnya. Tidak hanya dengan Dutch people juga dengan bangsa sendiri.

Saya dan suami pernah mengalami pengalaman yang agak menggelitik dalam scheduling dengan Dutch ini. Mungkin saya dan suami yang agak sensi, atau memang anggapan Dutch pada Non EU atau Non Dutch atau bahkan pada muslim (saya berjilbab) yang agak meng-underestimate (Mudah-mudahan saja bukan karena alasan ini). Sepengalaman saya sih Dutch itu toleran dan cenderung tidak rasis dan membeda-bedakan. Mungkin saja Kami kurang beruntung bertemu Dutch yang kurang begitu respek.  Continue reading “Me VS Dutch: Scheduling Agenda Appointments (part 2)”

Groningen's Corner

So Long, Tetangga Tersayang!

*latepost*: To Keluarga Pak Taufiq, Mbak Tina, Mas Rayyan & Mbak Mayya

Tinggal di LN, pastinya kadang dilanda rasa kesepian karena jauh dari keluarga, kerabat, dan sahabat. Tentu cemas juga, siapa yang bisa diandalkan di sini kalau tetangga pun bukan orang terdekat? Tapi tidak begitu di Groningen, Alhamdulillah sejak menginjakkan kaki di Groningen, saya selalu dipertemukan oleh saudara tidak sedarah yang menyenangkan. Kami punya perkumpulan pelajar, ada juga halaqah pengajian, juga tetangga setia yang ringan tangan.

Salah satu keluarga istimewa yang saya temui di Groningen adalah keluarga Mbak Tina dan Pak Taufiq. Rumahnya persis di depan rumah saya. Kalau Mbak Tina lagi masak dan buka jendela, bau masakan yang wangi aja tercium. Kalau Rayyan dan Mayya, anak-anaknya, lagi main di luar pasti suaranya sampai kedengeran ke rumah. Terus Runa pasti akan bilang: “Bun, Runa denger suara.. itu pasti Mas Rayyan dan Mbak Mayya!” Selanjutnya Runa pasti minta ikut keluar rumah buat main. Continue reading “So Long, Tetangga Tersayang!”

Being Indonesian in the Netherlands, Europe, etc, Groningen's Corner, Travelling time!

One Day Trip to Bourtange

Menyambut weekend minggu kemarin, saya diajak Mbak Frita jalan-jalan ke Bourtange, salah satu obyek wisata di Provinsi Groningen. Letaknya sebenarnya cukup jauh dari pusat Kota Groningen, hampir ke perbatasan Jerman, ke arah selatannya Groningen. Saya yang lagi lowong pun mengiyakan saja, lumayan bisa sekalian cek lokasi kalau nanti mau ke sana lagi ngajak Mama dan Runa.

Ada beberapa cara untuk bisa sampai ke Bourtange. Kami memilih untuk naik bus. Kebetulan saat zomer vakantie ini ada promo dari Qbuzz Groningen, dagkaart 10€ (untuk 2 orang), bisa naik bus ke seluruh wilayah Provinsi Groningen seharian! Murah banget itu mah namanya. Kebetulan kami memang ber-4 (saya, Mbak Frita, Mbak Esmi, dan Laras), jadi pas beli tiketnya. Oiya ditambah Muti, anaknya Mbak Frita, tapi anak-anak sih masih gratis bayar transportasinya. Continue reading “One Day Trip to Bourtange”

Being Indonesian in the Netherlands

Catatan Ramadhan (2) – yang tertunda

Note: Postingan ini berakhir di draft. Tapi sayang dibuang.. Ya udah diselesaikan saja yang sudah dimulai. Sekalian sebagai perekam jejak saya di Ramadhan 2016 kemarin.

Minggu pertama Ramadhan meskipun puasa 19 jam tapi terasa lebih mudah dijalani daripada tahun kemarin. Karena kangen suasana Ramadhan dan masakan di Indonesia, saya mencoba menelurkan beberapa karya yang cukup niat di dapur. Semuanya kebanyakan masakan Padang dan resep Mama, hoho. Ini contohnya:

Karya di Dapur

1. Roti srikaya – ta’jil favorit orang rumah di kopo. Itu berupa roti tawar yang disiram kuah srikaya. Resepnya cuma bikin kuahnya aja kok. Rasanya yang manis cocok untuk berbuka

Bahan: gula merah, kayu manis, telur, santan, daun pandan, garam

Cara membuat: Gula merah direbus dengan air, tambahkan santan, biarkan mendidik. Kocok telur, tuangan sedikit demi sedikit ke rebusan gula merah, aduk-aduk. Tambahkan daun pandan dan serutan kayu manis (sekalian masukan juga kayu manisnya). Tambahkan garam secukupnya. Koreksi rasa. Continue reading “Catatan Ramadhan (2) – yang tertunda”

Travelling time!

Trip to Austria: Background Trip and Itinerary!

Libur paskah kali ini kami sekeluarga memutuskan mengambil libur seminggu sekalian. Liburnya sih cuma jumat dan senin, tapi lumayan kan sekalian dibablasin sampai jumat minggu depannya lagi. Dari dua bulan sebelumnya kami udah kasak kusuk merencanakan mau ke mana nih memanfaatkan momen liburan di tengah kegiatan yang padat.

Kebetulan Runa lagi suka nonton ‘Sound of Music’. Saya tidak sengaja menemukan DVD-nya di kringloop winkel (toko barang bekas), harganya cuma 1 euro pula. Ternyata begitu diputar Runa suka, terutama dengan adegan-adegan yang ada anak-anak Von Trapp yang sedang bernyanyi. Saya juga suka dong filmnya, saya nonton film itu udah lamaaa sekali, mungkin waktu SD atau SMP, yang paling diingat dari filmnya tentu lagu-lagunya yang easy listening dan long lasting, seperti ‘Do Re Mi’, ’16 Going on 17′, ‘My Favorite Things’, ‘Edelweiss’ dan banyak lagi. Film yang diluncurkan pada tahun 1965 ini populer sekali bahkan sampai menang lima Oscar di zamannya. Sampai sekarang pun orang pasti masih akan familiar dengan Jullie Andrews yang memerankan Maria dan kisah keluarga Von Trapp. Oiya katanya ini dikisahkan dari pengalaman nyata Maria dan George Von Trapp. Continue reading “Trip to Austria: Background Trip and Itinerary!”

Groningen's Corner

Treinsuïcide: Cara Bunuh Diri yang Ngetren di Belanda

Suatu kali temen saya cerita. Katanya semalem dia pulang dari Amsterdam ke Groningen naik trein ns (kereta umum Belanda) dan telaaat banget sampainya. Yang harusnya dijadwalkan sampai jam 9 malam, dia baru sampai stasiun Groningen hampir jam 1 dini hari. Keretanya terhenti di Amersfoort dan stuck selama 4 jam! Storringen (gangguan) bukan karena macet atau karena si Komo lewat, tapi karena ada yang bunuh diri di rel kereta, hiiiiiyyy! Ngebayanginnya aja udah serem.

Tapi ternyata, kejadian bunuh diri di rel ini bukan hanya terjadi sekali dua kali aja dalam setahun, tapi hampir 200 kali dalam dua tahun. Bahkan Belanda tercatat memegang rekor bunuh diri di atas rel terbayak di antara negara Eropa lainnya, ckckck..

Suicide on the track is more often registered in the Netherlands than in other countries of the European Union. In 2006 and 2007 found more than 190 people in the Netherlands to bear the death in front of a train (sumber: treinreizger).

Continue reading “Treinsuïcide: Cara Bunuh Diri yang Ngetren di Belanda”