Berhaji dari Belanda, Catatan Haji 1437 Hijriyah

Parameter Diterimanya Ibadah Haji

Yang ini adalah tausiyah yang diberikan oleh Ustadz Irwan, Ustadz yang menemani rombongan Euromuslim ketika menunaikan haji. Ustadz Irwan dan Ustadz Rolly adalah dua ustadz Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Madinah. Alhamdulillah mereka berdua sudah sangat paham situasi Madinah dan Mekah.

Saya tulis ulang catatan saya di blog, sebagai pengingat kembali bagi saya pribadi, juga supaya bisa bermanfaat untuk yang membaca.

Ba’da subuh, di Masjidil Haram, di lantai paling atas rombongan kami menunaikan salat Subuh berjamaah. Sambil menunggu fajar menyingsing, Ustadz Irwan membuka halaqah kami dengan kalimat: “ibadah haji adalah permulaan membuka lembaran baru”. Saat itu memang prosesi inti haji sudah selesai, dalam seminggu itu kami hanya menunaikan ibadah sunah di Masjidil Haram.

Ibadah haji yang sudah ditunaikan, lalu apa? Bagaimana parameter ibadah haji dterima oleh Allah? bagaimana implikasinya dalan pada keseharian kita selanjutnya? Tentu kita harus selalu mengusahakan agar ibadah yang kita lakukan selanjutnya senantiasa diterima dan ibadah haji tidak tertolak. Continue reading “Parameter Diterimanya Ibadah Haji”

Advertisements
Catatan Haji 1437 Hijriyah, Pesona Madinah Al Munawarah

Madinah yang Penuh Kedamaian

Sejak pertama kali saya menjejakkan kaki di Madinah dan melihat Masjid Nabawi, saya langsung terpukau. Tidak henti-hentinya mengucapkan Subhanallah dan Masya Allah. Ini lho Kota Nabi, kota suci tempat hijrah Rasulullah SAW. Tempat di mana Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar pemerintahan Islam dan membangun masyarakat madani. Setiap sudut Kota Madinah sepertinya memancarkan kedamaian. Meskipun hawa panas luar biasa terasa (ya iya atuh daerah gurun), saat kami ke sana masih dalam musim panas.

Mayoritas muslimin yang melaksanakan ibadah haji dan umroh ke tanah suci Mekah pasti akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Madinah, berziarah dan beribadah di Masjid Nabawi. Meskipun ziarah dan ibadah di Masjid Nabawi bukan termasuk rukun dan syarat sah haji dan umroh. Seperti rombongan haji reguler dari Indonesia biasanya akan menghabiskan waktu sekitar 8 hari di Madinah, untuk mengejar shalat arba’in (shalat 40 waktu), meskipun menurut sumber yang saya baca haditsnya dhaif, tapi poin pentingnya maksudnya beribadahnya tho. Rombongan kami Euromuslim dari Belanda menghabiskan 5 hari 4 malam di Madinah. Lalu setelahnya baru melaksanakan umroh dan haji di Mekah. Opsi yang menurut saya cukup baik karena kami bisa menikmati Madinah dulu sebelum melakukan prosesi haji yang cukup melelahkan.

Kalau sekarang setiap melihat foto-foto Masjid Nabawi, membaca Sirah Nabawiyah saat Rasulullah SAW di Madinah, terbayang-bayang suasana di sana. Ingin rasanya bisa menghabiskan hidup di Kota Suci tersebut. Mimpi gitu ya bisa kuliah di University of Madinah. Mimpi dulu mah gapapalah ya..

Banyak sekali spot-spot yang menarik di Madinah, utamanya tentu Masjid Nabawi yang terletak sangat strategis di tengah-tengah Madinah.

Madinah Al Munawwarah

Saat Rasulullah SAW hijrah di tahun ke-14 kenabian, Madinah masih bernama Yastrib. Dalam piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW, nama Madinah belum muncul. Yastrib-lah yang masih tercantum di dalamnya. Rasulullah  SAW mengganti Yastrib menjadi Madinah karena arti kata Yastrib sendiri yang kurang baik. Yastrib berasal dari kata tatsrib (celaan/makian) atau tsarab (hancur). Maka Rasulullah SAW menggantinya dengan nama Madinah (Ibnu Hisyam dan Ibnu Majah) (1). Madinah pun terkenal sebagai Madinatun Nabi (Kota Sang Nabi) dan Madinah Al Munawarah yang artinya kota yang bercahaya. Selain itu Madinah juga memiliki nama thabah (yang baik) atau thayyibah (yang suci) (2). Continue reading “Madinah yang Penuh Kedamaian”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Pesona Madinah Al Munawarah

Masjid Nabawi, Pilar Kota Madinah

Madinah di awal bulan September, di penghujung musim panas. Hawa panas sangat menyengat siang itu, mencapai 48 derajat celcius. Mustahil rasanya berjalan di bawah teriknya matahari tanpa pelindung kepala atau tanpa memicingkan mata karena silau. Topi, sorban, maupun kacamata hitam selalu menemani langkah kami menantang panasnya Madinah. Kami yang biasanya hanya merasakan maksimal 30 derajat celcius di daratan Belanda tentu merasa kelabakan. Bahkan, panasnya tanah ini melebihi teriknya Jakarta di siang hari. Dengan cepat kami melangkah menuju Sang Pilar Kota Madinah, Masjid Nabawi, untuk melaksanakan shalat zuhur. Dari jauh kami sudah ingin merasakan sejuknya lantai mesjid dan terpaan AC. Tapi ternyata kami masih harus bersaing dengan jamaah lain untuk mendapatkan tempat di dalam mesjid, jika tidak ingin shalat di pelataran mesjid.

Kami tiba di Madinah seminggu sebelum prosesi Haji, Kebetulan pada saat-saat itu banyak jamaah haji yang sudah berangkat ke Mekah untuk persiapan haji, terutama jemaah haji ONH dari Indonesia, semuanya sudah berada di Mekah. Hanya tersisa beberapa jamaah dari Afrika, BIP (Bangladesh, India, Pakistan), Turki, dan Eropa. Kata Pak Said, pemimpin rombongan kami, Madinah pada saat itu termasuk sepi. Meskipun Mesjid Nabawi selalu ramai diisi oleh Jemaah. Kami harus tetap datang ke Mesjid jauh jauh sebelum adzan berkumandang jika ingin mendapatkan posisi strategis.

Ah Masjid Nabawi, setiap saya mengingatnya, rasanya masih terbayang kesan yang begitu kuat, begitu tenang, begitu syahdu di setiap tempatnya, pelatarannya, pintu besarnya, raudhah, makam Rasulullah, payung-payung indahnya, kubahnya, suara merdu adzannya, tentramnya shalat berjamaah di sana. Masya Allah, semoga kami masih diberi kesempatan untuk berkunjung ke Masjid Rasulullah tersebut. Aamiin.

Siang hari di Madinah
Menjelang siang hari di Madinah. Pemandangan dari depan gerbang Masjid Nabawi

Continue reading “Masjid Nabawi, Pilar Kota Madinah”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Serba-serbi Haji

Di Mana Air Zam-zam?

Ini salah satu yang bikin penasaran banyak orang karena keberadaannya. Ya, betul air zam-zam, sang mata air surga.

Kebanyakan orang yang belum pernah ke Mekah atau Madinah berpikir bahwa meminum air zam-zam di Mekah itu langsung dari sumurnya, sehingga pertanyaan yang muncul adalah:

“Jadi sumur air zamzam itu di mananya Ka’bah?”

“Kalau lagi di Madinah gak bisa menikmati air zam-zam dong, kan sumurnya hanya ada di Mekah?”

“Pasti ngantri dong ya pas mau minum air zam-zam, harus ngambil dari sumur?” –> karena yang terbayang adalah sumur dan timba seperti yang ada di desa-desa di Indonesia.

Itu juga yang saya pikirkan sebelum tiba di Madinah dan Mekah. Aslinya memang sih zaman dahulu zam-zam ini berupa sumur yang ada timbanya. Di Museum 2 mesjid (Exhibition Two Holy Mosque) ada replikanya.

sumber
sumber dari sini

Tapi kenyataannya di zaman sekarang ini:

Air zam-zam itu melimpah ruah dan mudah sekali didapatkan. Tidak perlu menimba dulu untuk mendapatkan air. Air zam-zam tersedia di sekitaran komplek Masjid Nabawi, di dalam Masjidil Haram, dan di sekitaran komplek Al Haram. Kapan saja dan berapa banyaknya mau diambil bisa saja. Continue reading “Di Mana Air Zam-zam?”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Diary Perjalanan Haji

Pengalaman Berkesan saat Haji

Jika ditanya pengalaman apa yang paling berkesan ketika haji?

Saya tidak bisa menjawab dengan hanya satu dua kalimat saja. Bisa jadi satu buku saya habiskan untuk bercerita. Saya juga tipe orang yang tidak terlalu pandai bercerita dengan lisan. Padahal banyak sekali yang ingin saya sharing. Tentu pengalaman tiap individu saat haji akan berbeda, pun pengalaman saya dan suami tidak sama meski kami sering bersama-sama ketika menjalankan ibadah haji. Spiritual dan perasaan yang tercipta hanya melibatkan makhluk tersebut dan Rabb-nya, romantis bukan?

Kalau dikupas satu-satu mungkin ini yang saya pribadi rasakan selama 3 minggu berada di Madinah dan Mekah Continue reading “Pengalaman Berkesan saat Haji”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Persiapan Pra Keberangkatan

Persiapan sebelum Haji, Apa Sajakah?

Beberapa minggu menjelang berangkat haji, hari Jum’at 2 September 2016, banyak pertanyaan yang mampir pada kami,

“Moonnn, udah siap mau berangkat?”

“Udah nyiapin aja nih sebelum haji?”

Begitupun setelah kami pulang haji, hari Sabtu 24 September 2016, pertanyaan serupa ditanyakan beberapa rekan yang tertarik dan berniat haji juga dari Belanda,

“Eh jadi kalau mau berangkat haji apa aja yang harus disiapkan?”

 “Mau dong tips-tipsnya untuk berhaji?”

Berbekal dari persiapan kami sebelum berangkat dan berkaca dari pengalaman selama 3 minggu di sana, saya ingin merangkumkan hal-hal tersebut agar mudah diinformasikan kembali.

Tidak seperti jamaah haji dari Indonesia yang mungkin persiapannya sangat lengkap, mulai dari kain ihram dan mukena bahkan seragam batik disediakan. Pasti dari agen hajinya sudah diberikan list apa saja yang harus dibawa, pengalaman mereka tentu sudah banyak. Kami yang berangkat dari Belanda tidak diberi perbekalan khusus, semua harus kami cari sediakan sendiri dan cari tahu sendiri, termasuk barang apa saja yang harus dibawa. Terlebih lagi tidak semua barang mudah didapatkan di Belanda (dan tidak murah). Saya sendiri satu bulan sebelum berangkat haji sempat pulang ke Indonesia untuk mengantar Runa. Untunglah kesempatan tersebut sekalian saya gunakan untuk membeli barang-barang perlengkapan haji, di Pasar Baru Bandung lantai 4 banyak toko yang menjual perlengkapan haji, lengkap dan cukup murah. Continue reading “Persiapan sebelum Haji, Apa Sajakah?”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Journey, Persiapan Pra Keberangkatan

Wasiat

Kalau ditanya, apa saja persiapan mau berangkat haji? Sudah siap mau haji?

Ya, Insya Allah siap. Meskipun hati masih ketar-ketir sekaligus excited juga setiap mengingat akan menjejakkan langkah di tanah suci, akan menunaikan rukun islam ke-5.

Dari seluruh persiapan yang kami upayakan, seperti persiapan jasmani, materi, perlengkapan, rohani, dan ilmu mengenai manasik haji, Alhamdulillah kami bisa menyelesaikannya setahap demi setahap. Namun ada satu hal yang menurut saya paling berat dalam persiapan ini.

Hal-hal penting yang harus diselesaikan sebelum berangkat haji adalah hutang, berwasiat, berpamitan, meminta maaf pada keluarga, kerabat, sahabat, terutama juga memastikan keluarga (dalam hal ini Runa) yang ditinggalkan terjamin segala sesuatunya.

Hutang, pamit, meminta maaf, dan memastikan Runa dalam keadaan yang Insya Allah baik selama kami pergi sudah dijalankan (Insya Allah tidak ada yang tertinggal). Satu lagi yang lama saya siapkan berupa wasiat. Antara enggan, berat dan juga takut dalam menyelesaikannya. Bagaimana jika memang wasiat tersebut harus dijalankan karena kami tidak kembali?

Karena kami tinggal di Belanda dan keluarga di Indonesia, tentu ada beberapa hal yang perlu kami wasiatkan, baik pada keluarga kami di Indonesia maupun pada kerabat terdekat kami di Belanda. Kami percayakan urusan kami di Groningen pada tetangga-tetangga kami, jikalau ada yang harus diurus, keluarga kami bisa menghubungi mereka. Sebaliknya juga di Indonesia, ada mama papa, kakak, adik, ibu bapak, keluarga besar yang senantiasa siap membantu. Wasiat tersebut kami sampaikan secara lisan maupun tulisan namun tidak secara resmi, hanya berupa pesan ini itu. Hal ini lebih kepada urusan teknis.

Oiya, menyambung sedikit ada yang sering menyamakan wasiat sebagai warisan. Kedua hal ini berbeda, warisan berkaitan dengan harta benda yang ditinggalkan, sedangkan wasiat lebih kepada pesan, yang di dalamnya bisa jadi menyinggung masalah warisan. Untuk masalah warisan Insya Allah kami tidak bingung, Al Qur’an dan sunah sudah mengatur semuanya dengan jelas.

Wasiat utama lain yang kami persiapkan adalah benar-benar surat wasiat untuk Runa. Yang awalnya saya pikir, ya sudahlah apa yang harus ditulis? Kenapa harus? Ya kenapa tidak? Siapa yang tahu urusan di depan. Jika memang kami tidak kembali, bukankah Runa setidaknya mendapatkan sedikit pesan dari kami, dengan tujuan untuk menguatkan jiwa dan melembutkan hatinya kelak. Beberapa pesan yang kami tulis ada yang kami ambil dari pesan Luqman pada anaknya, di surat Luqman. Pesan-pesan Luqman mengandung hikmah yang dalam untuk pegangan hidup di dunia.

Wasiat sederhana itu akhirnya selesai juga, saya dan suami tanda tangan dan kami kirimkan melalui email pada kakak saya, orang yang saya percayai. Kalau dikirim ke orang tua saya, takutnya malah mama sama papa kepikiran dan jadi cemas, heuheu. Saya bilang pada kakak, jika kami tidak kembali, silahkan suratnya dibuka dan dibacakan pada Runa (meski mungkin dia akan mengerti saat sudah dewasa). Kakak saya bilang: sebegitu seriusnya kah kalau mau haji?

Iya, betul. Terutama karena kami sudah punya tanggungan utama, Runa. Memang semua harus dipersiapkan seperti itu. Beberapa hari inipun saya selalu berpikir tentang kematian. Terutama bekal apa yang sudah saya punya untuk menghadap Allah, rasanya takut, takut sekali. Kenapa harus memikirkan mengenai hal ini?

Namun, saya sadar, mungkin ini adalah salah satu proses dalam perjalanan haji. Allah ingin membuat saya mengerti hakikat hidup di dunia ini. Menyadarkan saya bahwa hidup itu sementara, kita ini bukan siapa-siapa tanpa Allah, dan kita tidak memiliki apa-apa dan tidak akan membawa apa-apa ketika meninggal, tidak harta, ilmu, keluarga, hanya amal saja yang bisa kita bawa sebagai bekal.

Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian. Tidak hanya orang yang akan pergi haji saja yang akan meninggal toh? Orang tidur saja tiba-tiba bisa Allah panggil. Tua, muda, bayi, sehat, sakit. Setiap pergi ke kantor, ke kampus, holiday trip, kapan saja kita bisa dipanggil. Tentu kita berharap akan dipanggil dalam keadaan khusnul khotimah.. Aamiin.

Setidaknya setelah berwasiat, hati kami menjadi lapang, Insya Allah kami siap melaksanakan perintah Allah dan menjalankan sunah Rasulullah di tanah suci.

Insya Allah besok kami akan bertolak ke tanah suci, melaksanakan ibadah umroh dan haji 2 September-24 September 2016. Untuk yang belum saya pamiti secara pribadi, saya dan suami sekali lagi mohon maaf atas segala kesalahan, jika ada hutang-hutang yg belum lunas segera diinformasikan saja pada keluarga (karena saya mungkin tidak sempat melunasi jika sudah berada di Mekah), kalaupun ada dan lupa mohon diikhlaskan. Mohon doa agar haji kami mabrur, bisa kembali dengan sehat, selamat dan berkumpul dengan keluarga lagi.

Wallahu A’lam Bishawab (Hanya Allah yang Maha Mengetahui)