Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa

Catatan Ramadhan 1436: Menjadi Jiwa yang Pemaaf

Alhamdulillah ini adalah Ramadhan pertama saya di Belanda, pertama jauh dari keluarga besar, pertama puasa 19 jam di summer, pertama ga makan masakan khas mama. Antara rada sedih dan excited. Sedih karena ga bisa kumpul sama mama, papa, kakak, adek, ibu, bapak, dan tante-om semua, terutama nanti kalau lebaran (karena ga ada rencana pulang kampung juga sih pas lebaran), sedih karena ga bisa nyicipin makanan pembuka khas Indonesia (kok malah makanannn). Excited juga merasakan tantangan shaum di negara yang mayoritas non-muslim dan tantangan puasa yang leeeubih puanjangggg. Katanya sih selama 35 tahun di Belanda, summer ini adalah yang terpanjang, yang mana juga membuat maghrib datang lebih lambat, huhuks.. Saat orang-orang bule sini udah mulai bergelimpangan di taman-taman kota pakai bikini en makan eskrim, kita pengen ngadem aje di rumah sambil selimutan, haha.

Continue reading “Catatan Ramadhan 1436: Menjadi Jiwa yang Pemaaf”

Being Indonesian in the Netherlands

Al-Biatu Sholihah

Menyambung dari postingan saya sebelumnya di sini. Saya jadi ingin ngeshare sedikit materi yang saya dapat. Menurut Ibnu Abbas, seorang sahabat yang selalu menyertai Rasulullah, terdapat 7 indikator kebahagiaan di dunia. Menurut Beliau ada 7 indikator kebahagiaan tersebut,  Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur; Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh;  Auladun abrar, yaitu anak yang soleh; Albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita; Al malul halal, atau harta yang halal; Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama; dan umur yang barokah.

Cuma satu yang mau saya bahas di sini, mengenai Al-Biatu Sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Kenapa saya ingin mengulas ini? Salah satunya karena saat ini saya dan keluarga tinggal di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim, dan di mana fasilitas untuk peribadatan muslim (lebih) terbatas dibandingkan dengan Indonesia.

Rasulullah sendiri menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang saleh yang selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan bila kita salah. Diriwayatkan hadits: “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap”. (HR. Bukhari Muslim).

Continue reading “Al-Biatu Sholihah”