Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Senja

Checklist Babyuitzet

Sebelum bayi lahir, pasti nih ibu-ibu udah mulai hunting perlengkapan baby segala rupa demi menyambut babyborn. Kalau dulu pas lahiran anak pertama saya di Indonesia, list perlengkapan yang saya siapkan gak terlalu banyak. Soalnya banyak yang ngasih kado juga mwahaha.. Kayak stroller, baby box, bouncer, car seat, Alhamdulillah ada yang ngasih kado. Perlengkapan inti lainnya kayak baju, selimut, topi, sarung tangan, itu sudah pasti nyiapin sendiri, di samping ada yang ngasih kado juga. Cuma rasanya gak ada barang yang “wajib” banget harus punya gitu. Soalnya baby box pun malah ujungnya hanya kepake sebentar banget, bayi jadinya tidur sekasur sama emaknya. Stroller juga jaraang banget dipake. Masa iya make stroller kalau cuma nge-mall doang, heu.

Kalau di sini? Ternyata ada list barang inti yang memang harus dimiliki ketika bayi lahir. List-nya sendiri malah sudah diberikan jauh-jauh hari oleh pihak Kraamzorg. Lengkapnya bisa dilihat di sini: Checklist babyuitzet. Sedangkan perlengkapan untuk ibu, seperti pembalut nifas berbagai ukuran, alas tidur untuk jaga-jaga kalau tembus air ketuban/nifasnya, kain kasa dan alkohol untuk membersihkan bekas luka sudah disiapkan dari kraampakket dari asuransi. Continue reading “Checklist Babyuitzet”

Berhaji dari Belanda, Catatan Haji 1437 Hijriyah

Berhaji dari Belanda, Kenapa Tidak?

Fajar dan Monik pergi haji dari Belanda pakai paspor apa?” Begitu pertanyaan yang terlontar dari Ibu di beberapa minggu sebelum kami berangkat haji.

Ya, pakai paspor Indonesia, Bu. Kita belom ganti kewarganegaraan kok, hehe..” Canda suami menjawab pertanyaan ibu.

Belakangan saya baru sadar, oh Ibu bertanya seperti itu bukan tanpa sebab. Ternyata ada kasus bahwa sekian ratus jemaah haji asal Indonesia berangkat dari Filipina, menggunakan paspor palsu. Apakah mereka ditipu oleh agen atau memang mereka mengambil risiko berangkat dengan “mengambil” kuota Filipina saya juga tidak membaca beritanya lebih lanjut. Yang pasti mereka dijanjikan untuk berangkat haji pada tahun itu juga setelah mendaftar melalui agen tersebut.

Mungkin Ibu saya agak cemas, apakah kami menggunakan “jalan pintas” untuk berangkat haji. Lha iya, kok bisa berangkat haji di tahun itu juga, padahal kami baru mendaftar sebelum bulan Ramadhan, sekitar tiga bulan sebelumnya. Di Indonesia saja jika ingin berangkat haji tahun depan, paling kurang tahun ini harus mendaftar, itupun dengan biaya yang cukup mahal, ikut ONH plus plus plus. Continue reading “Berhaji dari Belanda, Kenapa Tidak?”

Groningen's Corner

So Long, Tetangga Tersayang!

*latepost*: To Keluarga Pak Taufiq, Mbak Tina, Mas Rayyan & Mbak Mayya

Tinggal di LN, pastinya kadang dilanda rasa kesepian karena jauh dari keluarga, kerabat, dan sahabat. Tentu cemas juga, siapa yang bisa diandalkan di sini kalau tetangga pun bukan orang terdekat? Tapi tidak begitu di Groningen, Alhamdulillah sejak menginjakkan kaki di Groningen, saya selalu dipertemukan oleh saudara tidak sedarah yang menyenangkan. Kami punya perkumpulan pelajar, ada juga halaqah pengajian, juga tetangga setia yang ringan tangan.

Salah satu keluarga istimewa yang saya temui di Groningen adalah keluarga Mbak Tina dan Pak Taufiq. Rumahnya persis di depan rumah saya. Kalau Mbak Tina lagi masak dan buka jendela, bau masakan yang wangi aja tercium. Kalau Rayyan dan Mayya, anak-anaknya, lagi main di luar pasti suaranya sampai kedengeran ke rumah. Terus Runa pasti akan bilang: “Bun, Runa denger suara.. itu pasti Mas Rayyan dan Mbak Mayya!” Selanjutnya Runa pasti minta ikut keluar rumah buat main. Continue reading “So Long, Tetangga Tersayang!”

Being Indonesian in the Netherlands

6 Hal yang Sulit Diubah Setelah Tinggal di LN

Sudah 1 tahun 9 bulan saya menetap di Groningen. Sebagai pure Indonesian dengan darah Minang-Jawa dan terdidik di tanah Sunda banyak adapatasi yang saya dan keluarga sesuaikan di sini. Tapi ada kebiasaan yang tidak bisa hilang juga lho setelah di sini. Saya yakin banyak Indonesian lain yang sependapat dengan saya.

Berikut list 6 hal yang sulit diubah setelah tinggal di LN:

1. Makan nasi

“Belum makan namanya kalau belum makan nasi”. Dari kecil ya didik, makan itu = makan dengan nasi. Karbohidrat lainnya hanya lauk atau cemilan. Tidak tahu dari mana bisa terbentuk seperti itu. Tapi budaya Minang dari Mama dan Papa memang selalu membiasakan makan itu ya dengan nasi, sarapan, makan siang maupun makan malam. Roti di pagi hari? Okelah kalau sedang buru-buru. Kentang sebagai pengganti nasi? Nope.. itu sih sebagai peneman nasi, atau dijadikan lauk.  Continue reading “6 Hal yang Sulit Diubah Setelah Tinggal di LN”

Groningen's Corner

Indonesian Day 2016

Indonesian Day photo booth (Sesi Siang pas bazar)
Indonesian Day photo booth (Sesi Siang pas bazar)

Akhirnya hari Sabtu kemarin bisa menikmati event Indonesian Day (ID) kedua saya di Groningen, Alhamdulillah. Oiya sebelumnya buat yang belum tahu, Indonesian Day adalah kegiatan PPIG yang diadakan setahun sekali dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Kegiatannya dibagi dua, siang untuk bazaar kuliner dan kerajinan khas Indonesia, sambil ada performances seni dari pelajar Indonesia. Kegiatan malamnya lebih formal, berupa (semi) fine-dining dan tentunya tetap ada penampilan seni juga. Continue reading “Indonesian Day 2016”

Lomba

Akhirnya Ikut Lomba Cerpen Juga

Cerpen PPI India
Cerpen PPI India

Dari semua lomba-lomba menulis yang dishare di group ataupun di facebook, ga semua saya ikuti. Walaupun pengennya sih menjajal kemampuan menulis saya dengan mengikuti semua lomba itu *maruk*. Bukan karena saya tertarik dengan hadiahnya lho ya. Kebanyakan juga hadiahnya itu ya dikirim ke alamat Indonesia, lha saya di ujung utara Londo.. Bukan juga karena hadiahnya ga menarik. Tapi karena saya harus memilih di antara semua lomba itu.. mana yang bakal serius saya ikuti. Saya memilih berdasarkan tema sih biasanya.. kalau temanya soal family, parenting, anak, travelling ya saya tertarik.. Atau kalau lombanya berupa menulis cerpen atau artikel singkat, curhatan apalagee, wkwk.. Kalau saya punya banyak free time, pengen saya cobain deh semua tu lomba. Continue reading “Akhirnya Ikut Lomba Cerpen Juga”

Being Indonesian in the Netherlands

Silaturahmi Kajuit 2016

Weekend kemarin, kami warga Indonesia di Kajuit, Lewenborg mengadakan silaturahmi reguler (ga tentu sih reguler-nya kapan, tapi kami doyan ngumpul). Tadinya dalam rangka syukuran ultah Runa dan Kinan.. Walaupun dah telat banget sih syukurannya, lha ultahnya bulan Januari, ini syukurannya udah akhir Februari, maklum pada banyak acara gitu deeh. Tapi gak papa, niat baik harus tetap dilaksanakan.

Tuan rumahnya kali ini Keluarga Kajuit 94, Ibu Intan dan Bapak Rully, dan tentunya Kinan si yang berulang tahun. Kami sebagai yang juga punya hajat ikut mempersiapkan menu yang akan disajikan di acara silaturahmi. Antusiasme Bapak Rully dama membuat mie ayam akhirnya mendorong saya untuk melengkapinya dengan bakso dan pangsit. Kegigihan Ibu Intan membuat ayam panggang super lezat saya lengkapi juga dengan nasi kuning resep si Mama. Pokoknya kami saling lengkap-melengkapi deh demi makan-makan enak. Continue reading “Silaturahmi Kajuit 2016”

Being Indonesian in the Netherlands, School stuff

Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda

Artikel ini dipersembahkan untuk Kang Ikhwan Alim, yang sejak Desember tahun lalu mengajak saya untuk barter tulisan, yang kemudian akan diposting di blog. Saya menyanggupi sesuai dengan rekues tema dari beliau. Janji adalah janji yang harus ditepati, meskipun terlambat, ini dia saya tuliskan juga.

Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda

Kalau ditanya apa bedanya kuliah di Belanda dan Indonesia tentu akan BEDA. Akan banyak pula poin yang terurai dari tulisan saya ini mengenai perbedaan tersebut, tentunya itu subjektvitas saya pribadi. Perspektifnya akan sempit karena saya hanya mengambil merasakan kuliah di salah satu jurusan dan di salah satu univ di Belanda. Padahal banyaaak sekali jurusan/fakultas yang tersebar di kota-kota Belanda. Beda pengalaman, beda pribadi, beda komunitas, dan beda-beda lainnya akan menghasilkan respon yang berbeda.

Oleh karena itu, saya melemparkan pertanyaan singkat pada teman-teman saya di Belanda yang sedang/pernah menjalani perkuliahan di Belanda. Kemudian semuanya saya rangkum di sini. Continue reading “Perbedaan Kuliah di Indonesia dan di Belanda”

Love..

5 years with you

19 Desember 2015. Tadinya mau nulis tentang ini pas tanggal pernikahan. Tapi banyak yang dikerjain pas minggu-minggu itu *sok sibuk, padahal lagi libur winter*

5 tahun. Kalau anak sekolahan setaun lagi lulus SD

5 tahun. Kalau anak kuliahan, udah telat lulus setahun tu

5 tahun. Kalau mahasiswa farmasi, udah lulus sampe apoteker

5 tahun. Udah dikasih hadiah satu anak perempuan yang usianya mau 3 tahun dan gemesin banged dan lagi banyak nanya dan banyak maunya, hehe..

5 tahun udah ngapain aja yaa? Continue reading “5 years with you”

Being Indonesian in the Netherlands

Right or Wrong is My Country

Hidup di sini (Belanda) memang enak, tapi fana (AS, 2015)

Pulang 3 minggu ke Indonesia memang ga cukup untuk memenuhi segala macam keinginan libur dan berkangen-kangenan sama keluarga, sahabat, tempat, suasana, makanan, daaaan segala macem lainnya. Tapi apa mau di kata memang jatah liburan kali ini hanya segitu, itupun karena adik nikah, jadi kita pengen sekalian pulang. Liburan kemarin itu emang bela-belain banget, suami ngabisin jatah cuti, saya pun sebelum pulang pun saya rodi (lebay) buat ngeberesin tugas-tugas kuliah supaya pas pulang ga numpuk, Alhamdulillah beres (Pertanyaannya: gimana memompa semangat kembali nih buat ngerjain research part 2).

Oke, jadi pengalaman pas di Indonesia kemarin itu seneng sih seneng, enak sih enak, tapi saya kebayang juga nanti kalau saya dan keluarga udah jadi pulang for good di Indonesia, apa saya ga bakal ngangenin segala macam fasilitas di Belanda yang lengkap dan nyaman, apa saya ga bakal misuh-misuh kok negara kita gini banget gak kayak di luar negeri, apa saya ga bakal ngangenin keteraturan di sini? Continue reading “Right or Wrong is My Country”