Groningen's Corner

A year in Groningen

Time flies. Ga kerasa sudah pas setahun di kami sekeluarga tinggal di Groningen. 24 Agustus 2013 kami menjejakkan kaki di Schipol, masih berasa ngambang dan belum ngegrip banget rasanya pas pindah ke Groningen. Dengan persiapan yang kilat dan masih belum tau gimana nasib kami sekeluarga nanti di sini, kami memberanikan diri untuk berangkat bareng, yang penting pokoknya ngumpul aja.

Sekarang, sudah 1 tahun ini.. banyak mahasiswa baru yang berdatangan. Mungkin juga mereka merasa bingung, jet lag, gak siap, banyak nanya, meraba-raba, dan lain-lain. Ngerti kok, saya juga dulu gitu.

Alhamdulillah dalam setahun ini saya dan keluarga sudah bisa menyesuaikan diri dengen lingkungan sini. Banyak sekali nikmat Allah yang harus disyukuri. Semoga kami termasuk orang-orang yang ahli bersyukur.

Agustus 2013: Dulu sampai sini disambut sama hujan dan dinggiin banget rasanya, pas malem tidur rasanya menggigil padahal udah pake baju berlapis (walaupun masih akhir summer). Agustus 2014: Sekarang kok berasa gerah ya, boro-boro nyentuh selimut, baju aja cuma selapis.. *entah apa karena udah terbiasa sama cuaca galau Groningen atau emang si cuaca emang belum sedingin pas dulu saya dateng*

Agustus 2013: Masih meraba-raba beli makanan apa aja di sini yg cocok, yang halal, dan apa yang bagus buat Runa. Agustus 2014: Mau beli apa? makanan halal, roti, susu, sayur, daging, bumbu asia? Semua udah hapal deh. Tinggal mikir mau belanja ke mana hari ini? Continue reading “A year in Groningen”

Informatie, tips & trucs, Just Learning

Tentang Seleksi Beasiswa LPDP

Setelah mengulas mengenai lanjut kuliah S2 di Belanda dan jurusan Medical Pharmaceutical Sciences yg saya ambil, tidak lengkap rasanya tanpa mengulas beasiswa yang saya dapat, tidak lain dan tidak bukan adalah LPDP. Mungkin sudah banyak yg mengulas tentang ndaftar LPDP, mangkanya saya juga asalnya gamau nulis, krn referensi dari blog lain sudah cukup banyak dan lengkaaap.

Tapi beberapa temen yang mulai mencoba apply LPDP akhirnya ngontak dan nanya-nanya saya gimana prosesnya, terutama untuk interview/wawancara, yang katanya menentukan banget untuk kelulusan. Saya LPDP PK12, yang seleksinya itu awal tahun 2014. Dan sekarang angkatan PK LPDP sudah mencapai 32, (apa 34 ya?), dan pastinya banyak yang berkembang sampai sekarang, LPDP pun makin ketat seleksinya, makin kreatif program PKnya, dan makin terorganisir untuk administrasinya. Jadi saya hanya menceritakan sejauh yang saya alami saja, sambil berbagi pengalaman. Continue reading “Tentang Seleksi Beasiswa LPDP”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Mushola

Sudah lazim ketika kita berpindah ke suatu tempat yang baru, maka kita akan sering membanding-bandingkan kondisi di tempat lama dengan tempat baru. Tentunya kita juga merasa rindu dengan tempat kita dulu. Itulah yang juga saya alami setelah 6 bulan berada di sini. Saya membandingkan semua fasilitas dan keteraturan yang ada di Belanda yang tentunya jauh dengan Indonesia. Saya juga merasa geregetan setiap kali mendengar kabar/membaca berita tentang kondisi politik Indonesia yang carut marut, KPK, polri, Jokowi, Jokowi haters, dan apapun deh. Mengetahui sistem kesehatan Indonesia yang masih suka ga jelas, juga bikin miris. Rasa-rasanya ga pengen sama sekali denger berita-berita seperti itu, bikin kesel dan sedih.

Tapi.. tentunya sebagaimanapun buruknya negeri kita, toh kita tetep cinta, mau sampai manapun kita melangkah jauh, pasti akan kembali pulang. Right or wrong is my country.

Ya sudah, kita tinggalkan dulu berita-berita tanah air yang bikin kesel. Setidaknya masih banyak hal yang bikin saya kangen dengan Indonesia, ya keluarga, ya Bandung, ya kulinernya, dan lain-lain. Tapi ada satu hal juga yang ga bisa terganti di sini, fasilitas ibadah, yang simpel aja mushola. Kalau mesjid sih ada di sini, mesjid Turki dan mesjid Maroko, dan termasuk gampang menjangkaunya. Ini yang lebih simple sih, mushola. Mushola adalah suatu tempat, bisa ruangan atau rumah ,yang diperuntukkan bagi muslim melakukan ibadah shalat, mengaji, dll. Di Indonesia kita bisa menemui mushola di mana-mana, di kampus, di perkampungan, di pusat pertokoan, di mall, terminal, satasiun, bandara, dan tempat-tempat umum lainnya, sehingga kita tidak perlu khawatir untuk berpergian dan akan melaksanakan shalat ketika sedang dalam perjalanan dan ketika beraktivitas, pasti ada tempat untuk shalat.

Berbeda dengan di sini, mushala adalah tempat langka. Kalau mau jalan-jalan ke centrum kita sebisa mungkin mencocokan waktu pergi dan jalan-jalan dengan waktu shalat. Jadi mau jalan siang, ya lebih baik setelah zuhur dan pulang sebelum asar, atau pergi pagi dan pulang sebelum waktu zuhur habis. Ya kalau mepet terpaksa deh kita shalat di jalan, bisa di bus, di kursi cafetaria, atau di toko tempat kita sedang belanja (sambil duduk). Begitu juga kalau di kampus, harus bisa mengatur waktu antara kuliah, istirahat, dan shalat. Ga kaya ketika di ITB semua bisa dilakukan sekaligus di salman (makan dan shalat, sekaligus beristirahat).

Ada mushola di kampus saya, di UMCG, satu-satunya musola di lingkungan UMCG (rumah sakit-univ-pusat penelitian yang luaass bgt). Itupun namanya bukan mushola, tapi stilte room atau silent room. Tempat ini ditujukan bukan hanya untuk shalat tapi juga bisa untuk tempat ibadah agama lain. Bukan hanya untuk muslim, kristen, budha, hindu, apa saja bisa melakukan kegiatan peribadatan di sini.

Stilte Room, UMCG, Musola

Continue reading “Mushola”

Being Indonesian in the Netherlands

Lebih Bule dari Orang Bule

Salah seorang dosen saya pernah berpesan ke anak didiknya yang akan terbang ke Negeri Belanda untuk menuntut ilmu. Beliau berkata kurang lebih seperti ini, “Kamu nanti hati-hati ya di sana, jangan jadi lebih Belanda daripada orang Belanda-nya”

Pesan singkat, tapi menurut saya sangat tajam maknanya (ciyee.. sambil asah pisau). Lah emang orang Belanda kenapa sihh? Gapapa juga sebenernya, orang Belanda (terutama di Groningen) menurut saya termasuk orang-orang bule yang ramah di Eropa. Mereka humble, menghargai orang lain yang berbeda bangsa, murah senyum, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong. Tapi mungkin yang dimaksud Bapak Dosen saya bukan itu. Sebagai orang Indonesia dan muslim, tentu kita punya prinsip dan nilai-nilai agama dan norma yang kita pegang. Hal inilah menjadi dasar kita berpijak di manapun kita berada, termasuk di luar negeri. Ada di negeri orang bule, segala sesuatunya akan berbeda, budaya, kebiasan, prinsip, dan agama. Perbedaan-perbedaan (yang bertentangan) inilah yang jangan sampai membuat kita ikut terseret ke dalamnya. Yaa.. seperti yang suka kita lihat di pelem-pelem barat kan, orang bule itu sangat liberal, bebas. Minum alkohol, party-party, pergaulan bebas, makan produk-produk b4b1. Hal-hal tersebut menjadi yang lumrah di sini, dan bukan jadi sesuatu yang salah. Memang bukan orang Belanda aja sih yang begitu, sebut saja ‘orang2 bule’ nya.

Continue reading “Lebih Bule dari Orang Bule”

Competition

Cara Kreatif Belanda Belajar dari Alam dan Bertahan di Bawah Air

Dilihat dari segi geografi, Indonesia merupakan negara yang beruntung. Bagaimana tidak? Tanah air Indonesia yang menyebar di sekitar khatulistiwa menjadikan negeri ini beriklim tropis. Letak kepulauan Indonesia di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, membuat wilayah Indonesia strategis berada pada posisi silang. Hal ini mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan iklim dan perekonomian. Total daratan Indonesia 1.922.570 km² dengan daratan non-air: 1.829.570 km² dan daratan berair: 93.000 km². Dengan lima pulau besarnya  Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya, Indonesia kaya akan potensi alam, laut, dan tanah yang subur. Sampai muncul lagu Koes Plus berjudul Kolam Susu yang terinspirasi dari kayanya Indonesia

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Yap, melihat fakta-fakta di atas, sebagai orang Indonesia kita dapat berbangga hati. Namun, jika kita melirik sedikit ke negara yang memiliki hubungan dekat dengan Indonesia selama 350 tahun di masa silam, tentu rasa syukur itu akan bertambah, bahkan dapat berubah menjadi decak kagum. Mengapa?  Fasilitas alam dan kenyamanan geografis yang kita miliki sayangnya tidak dimiliki negara tersebut, tetapi apakah itu membuat negara asal legenda pesepakbola Ruud Gullit tersebut menjadi terpuruk? Hmm…

Belanda nama negeri itu. Tentu anda tahu kalau bentuk permukaan tanah Belanda termasuk yang unik. Terletak di benua Eropa dengan berbatasan langsung dengan Laut Utara, Belanda memiliki permukaan tanah yang sangat rata. Hampir separuh dari negara Belanda berada kurang satu meter dari permukaan laut. Permukaan tertingginya hanya 321 meter di permukaan laut, yaitu propinsi Limburg, yang berada di bagian tenggara negeri Belanda. Bagaimana dengan permukaan terendahnya? Daerah bernama Nieuwerkerk aan den Ijssel berada berada 6.76 dibawah permukaan laut!

Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/6b/Netherlands_map_small.png/300px-Netherlands_map_small.png

 Wah, jika begitu bagaimana penduduk di sana bertahan dari bentukan alam yang tidak mendukung tanah negerinya? Belajar dari tempaan alam asli, ternyata malah membuat Belanda menjadi lebih kreatif. Banjir besar dan lautan badai yang berulang kali menerpa mendorong negara Oranye ini pantang menyerah pada keadaan, Si Oranye ini tetap optimis membangun masa depannya.

Sampai di sini, Anda pun tentu paham mengapa Belanda disebut negara  bendungan? Betul, untuk bertahan dari terjangan air maka dibuatlah bendungan-bendungan untuk menahan air yang mengelilingi tanah Belanda. Bendungan pertama dibangun seribu tahun lalu (bisa dibayangkan? Itu 1000 tahun yang lalu!). Caranya: danau-danau dikeringkan, polder (tanah reklamasi) dibangun, dan ketinggian air dikontrol. Sampai pada akhirnya pembangunan bendungan berujung pada suatu karya raksasa.

Afsluitdijk nama karya tersebut. Pada monumen bendungan Afsluitdijk tertulis: “Bangsa yang hidup, membangun masa depannya”. Dari kalimat tersebut dapat tercermin gigihnya perjuangan para penggagasnya. Afsluitdijk adalah salah satu mahakarya modern Belanda, satu keping bendungan yang membentang sepanjang 32 km lurus-lempeng, dengan lebar 90 m, seolah seperti garis yang membelah lautan. Dengan ketinggian 7,25 meter dari permukaan laut, di atas bendungan tersebut terbentang jalan bebas hambatan dan jalur khusus untuk sepeda. Afsluitdijk sungguh merupakan pemandangan indah bagi orang yang berkendara di atasnya.

Sumber: http://www.goingdutchtours.com/afbeeldingen/1700_afsluitdijk.jpg

Sumber:  http://mw2.google.com/mw-panoramio/photos/medium/10759290.jpg

Afsluitdijk mulanya dibangun pada tahun 1927 dan 1933. Didorong oleh terjadinya banjir besar yang tiada hentinya, akhirnya pemerintah Belanda pun meloloskan rencana pembangunan bendungan ini. Pada tahun 1920 dimulailah suatu proyek ambisius yang dimulai dengan: ‘menguras dan mengeringkan’ laut. Terbayangkah oleh Anda bagaimana menguras kaut? Untuk menguras air tergenang akibat banjir di komplek perumahan saja sulit, apalagi menguras laut?

Lalu, apakah sampai di situ saja perjuangan negeri tulip ini dalam membangun bangsanya? Ternyata belum, alam telah mengajarkan mereka untuk tangguh dan kreatif bertahan. Maka suatu pekerjaan mahakarya konstruksi modern yang jauh lebih besar dan rumit dari Afsluitdijk dirancang. Delta Works namanya, proyek ini adalah pembangunan tanggul penahan gelombang laut. Perencanaan tata ruang dan konstruksi difokuskan pada pemisahan air dan dataran. Delta Works yang dibangun berkelanjutan dari tahun 1950an–1997 ini masih dilanjutkan lagi konstruksinya karena situasi terakhir pemanasan global dan naiknya permukaan air laut. Dengan tembok setinggi 13 meter dari permukaan laut, sistem ini diyakini mampu menahan badai besar yang terjadi di Belanda.

Sumber: http://www.cityguiderotterdam.com/uploads/pics/deltawerken_01.jpg

Dengan total panjang 16.500 km, yang terdiri dari 2.420 km bendungan utama dan 14.080 km bendungan sekunder, jumlah totalnya adalah 300 struktur raksasa. Tentu tidak diragukan lagi Afsluitdijk dan Delta Work, dua mega proyek tersebut kini dipercaya menjadi salah satu keajaiban konstruksi raksasa di dunia modern ini.

Belajar dari tuntutan alam dan ‘dipaksa’ berkreasi untuk dapat bertahan di negara sendiri memanglah tidak mudah. Mungkin itulah yang menyebabkan bidang konstruksi Belanda berkembang sedemikan pesat.

Berkaca dari negara kincir angin ini, banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya: melihat kekuatan dari pembelajaran alam, membangun sesuatu yang sulit menjadi mungkin, dan mewujudkan hidup di bawah lautan! Saatnya kita kembali menelaah diri sendiri. Seperti yang Koes Plus bilang, tanah kita tanah surga, mungkin kita sudah terlalu terlena dengan surga yang kita miliki. Saatnya bangkit, belajarlah dari alam!

Referensi:

  1. http://umum.kompasiana.com/2010/03/25/air-ancaman-dan-sahabat-orang-di-belanda/ (akses 1 Mei 2012)
  2. http://www.deltawerken.com/Deltaworks/23.html (akses 1 Mei 2012)
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Afsluitdijk (akses 1 Mei 2012)
  4. http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda (akses 1 mei 2012
  5.  http://www.cityguiderotterdam.com/day-tours/delta-works-holland/ (akses 2 Mei 2012)
Journey, Only a Story

Edisi Nonton di GBK

Hari Kamis 17 November 2011 kemarin, saya dan suami menyempatkan diri untuk meramaikan Sea Games 2011 (bukan dengan ikut bertanding jadi atlet), bukaan.. kami belum sampai tahap itu, kami cuma penikmat olah raga saja.

Cabang olahraga yang kami nonton secara langsung adalah sepakbola. Saat itu Tim Garuda Muda Indonesia sedang naik daun karena performanya di babak penyisihan, Tim sepakbola kita saat itu sudah dipastikan lolos ke babak semi final. Pertandingan terakhir di babak penyisihan menyisakan laga Indonesia vs Malaysia. Pertarungan yang cukup bergengsi mengingat persaingan dan pertikaian kedua negara rumpun Melayu ini.

Continue reading “Edisi Nonton di GBK”