Journey, Mumbling, Only a Story

Graduation Googles

Saya sering mengalami hal ini:

Saat saya merasa di puncak rasa jenuh atau malas akan sesuatu yang sedang dihadapi, tiba-tiba saya merasa sedikit gamang jika suatu waktu saya akan meninggalkan hal yang membuat saya jenuh atau muak tersebut.

Kalau kata Robin Scherbatsky: It’s graduation goggles. Like with high school. It’s four years of bullies, making fun of all the kids with braces, even after the braces come off and they can walk just fine. But then, on the graduation day, you suddenly get all misty because you realize you’re never going to see those jerks again (HIMYM, season 6, eps 20)

Yap, Out of nowhere. I suddenly got kind of wistful. Saya merasa ada secuil dari hati saya seperti berbisik: “Are you sure wanna leave this?” Don’t you think you’re gonna miss these crap?”

Akhirnya saya merasa ragu untuk memutuskan: Stay or Leave. Yes it’s graduation googles.

Dulu saya pernah merasakannya saat sebelum lulus apoteker, ada masa-masa yang mboseni banget, saat KP yang udah tahap garing dan masa-masa mau ujian sampai setelah ujian. Ada momen saya merasa jengah dan berharap semuanya cepet selesei, tapi ketika periode tersebut akan berakhir, yes I get misty, heuhehu.. Namun ada 1 hal yang pasti. Saya tahu, cepat atau lambat, suka atau tidak, muak atau tidak, semuanya akan ada ujungnya. It will end at the right time, jadi I have no choice but to face it.

Nah, berbeda dengan keadaan sekarang. Saat sudah menjalani kehidupan sebagai insan merdeka (pas kuliah ceritanya terjajah tugas-tugas kuliah, mwehehe), ga ada tuh yang namanya jadwal tertentu, ini startnya, ini mid, dan endingnya. Ga ada periode ujian, deadline, dan gerbang kelulusan. Saat berkarir, semuanya akan tergantung keputusan kita. Kita mau start dari mana, mau meneruskan di mana, atau resign, atau mengabdi sampai pensiun, atau jadi kutu loncat.

Ketika saat ini merasakan fenomena grads googles saya jadi bimbimbangbang, biiim-baang.. Karena saya ga punya patokan untuk berhenti di mana dan kapannya, ga kayak yang saya alami sebelumnya. Pikiran saya ngasih berbagai macam pendapat ke hati dan otak. Saya jenuh, tapi kadang saya menikmatinya. Ada sisi-sisi yang membuat saya gerah, tapi ada yang menahan saya, bahwa ada sisi baiknya juga.

But the point is you can’t trust graduation googles, they’re just misleading your (whatever) googles.

Ketika di episode HIMYM tersebut. Marshall merasa pekerjaannya sudah tidak sesuai dengan passionnya lagi dan dia merasa benci pekerjaannya. Dia merasakan grads googles. But in the end, he did this: “I have to quit. I need to do better things in my life”

For me, I am still thinking, what “the thing” is better thing in my life? Istikharah, istikharah..

Just wait and see, pals, what happen next. I’ll catch you later. Maap meracau

Just Learning, Lifestyle, Mumbling

About Married Woman

Selalu aja ada yang bilang:
“Kamu mah enak Mon udah nikah, ga usah cape-cape cari kerja lagi, ada suami.”
“Ga usah mikirin apa-apa Mon, kan semua udah ditanggung suami.”
“Kenapa harus lanjut S2 lagi? Santai ajalah, kan udah berkeluarga.”
Dan komentar sejenisnya.

Entah kenapa paradigma seperti itu yang mencuat di sekitar saya.  Menikah = Settle down = No need effort to pursue something.
Jadi karena sudah menjadi istri orang jadi saya ga usah susah-susah cari kerja dimana, berkarir gimana, atau melanjutkan pendidikan lagi, gitu?

Saya (saat ini) malah berpikir sebaliknya. Bukannya tidak bersyukur dan tidak merasa puas dengan keadaan “settle down”. Tapi sebagai seorang individu saya juga memiliki keinginan untuk berkembang *bunga kali berkembang*, ingin berkarya di “dunia luar”, ingin merasakan jerih payah sendiri dalam berupaya. Intinya aktualisasi diri, hal itu tidak terganti dengan materi. Terlebih lagi (beruntungnya saya) suami memberi kebebasan untuk bekerja atau sekolah lagi, ia malah mendukung saya untuk “bergerak”. Dia tahu kali ya saya biasa sibuk *ejiyee, males banget biasa sibuk, berasa orang penting*.

Menikah bukan berarti membuat saya merasa nyante dan ongkang-ongkang kaki di rumah nunggu suami pulang kerja. Iya, memang suami dan keluarga adalah zona nyaman saya. But in order to move forward, sometimes, you have to leave your comfort zone.

Kenapa saya bold-underline kata “sometimes”. Karena saya menyadari bahwa memang tidak selalu saya harus meninggalkan zona nyaman itu, tidak selalu saya akan berkeliaran di luar rumah untuk mengejar cita-cita. Fitrahnya istri dan wanita memang di rumah mengurus rumah tangga dan keluarga, itu ibadah yang besar bagi wanita. I realize it. So, pada akhirnya walaupun saya mempunyai aktivitas di luar rumah, kewajiban utama saya adalah mengayomi zona nyaman saya, yaitu keluarga.

Yah apapun profesinya seorang married woman, tentu tidak lupa kewajibannya sebagai ibu rumah tangga 🙂

Kata suami saya: I trust you, I support you, I know you can manage your time. As I know, the more busy a person, the more productive she/he is. And you’re gonna make it. I want our children learn a lot from their mother.

We’ll see 2-3 tahun lagi saya masih keliaran ga ya? haha..