Informatie, tips & trucs, Just Learning

Tentang Seleksi Beasiswa LPDP

Setelah mengulas mengenai lanjut kuliah S2 di Belanda dan jurusan Medical Pharmaceutical Sciences yg saya ambil, tidak lengkap rasanya tanpa mengulas beasiswa yang saya dapat, tidak lain dan tidak bukan adalah LPDP. Mungkin sudah banyak yg mengulas tentang ndaftar LPDP, mangkanya saya juga asalnya gamau nulis, krn referensi dari blog lain sudah cukup banyak dan lengkaaap.

Tapi beberapa temen yang mulai mencoba apply LPDP akhirnya ngontak dan nanya-nanya saya gimana prosesnya, terutama untuk interview/wawancara, yang katanya menentukan banget untuk kelulusan. Saya LPDP PK12, yang seleksinya itu awal tahun 2014. Dan sekarang angkatan PK LPDP sudah mencapai 32, (apa 34 ya?), dan pastinya banyak yang berkembang sampai sekarang, LPDP pun makin ketat seleksinya, makin kreatif program PKnya, dan makin terorganisir untuk administrasinya. Jadi saya hanya menceritakan sejauh yang saya alami saja, sambil berbagi pengalaman. Continue reading “Tentang Seleksi Beasiswa LPDP”

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Ideal, Beruntung, dan Berkah

Banyak yang bilang bahwa kondisi keluarga kami saat ini adalah ideal. Di mana saya berkuliah dengan full scholarship di Belanda, suami bekerja dengan pekerjaan yang sama di Indonesia, dan Runa sekolah dan berada di tangan yang terpercaya. Semuanya seperti terencana dengan rapi. Ada juga yang bilang bahwa kami sangat beruntung, saya bisa keterima S2 tanpa biaya yang memberatkan suami, suamipun bisa melanjutkan kerjanya di sini, yang katanya untuk bisa bekerja di Belanda itu sulit karena kita memang harus punya skill yang spesifik dan terutama fasih berbahasa Belanda, tidak cuma Inggris.

Apapun yang orang bilang dan pandang dari luar. Setiap mereka bilang, saya hanya bisa megucap syukur dalam-dalam. Alhamdulillah atas nikmat yang telah Allah berikan. Saya dan suami seringkali merenung, betapa cara Allah untuk membuat kami dalam kondisi sekarang ini adalah luar biasa. Saya dan suami tidak pernah merencanakan sejauh ini. Saat itu cita-cita saya cuma satu, kembali ke sekolah setelah Runa sudah cukup besar. Ternyata setelah melalui proses yang cukup panjang dan dramatis *lebay*, sampailah kami di sini. Continue reading “Ideal, Beruntung, dan Berkah”

Informatie, tips & trucs, Pharmacisthings, School stuff

About MSc. Medical Pharmaceutical Sciences

Beberapa teman dan kenalan yang mengetahui kalau saya lanjut kuliah S2 Farmasi di University of Groningen mengontak saya dan bertanya: Monik kuliah farmasi apa di sana? Cakupannya apa saja? Mata kuliahnya apa saja? Researchnya seperti apa? Nyambung tidak dengan pekerjaan atau latar belakang saya sebelumnya?

Saya senang bisa bantu menjawab rasa penasaran teman-teman sekalian. Oleh karena itu saya juga akan rangkumkan garis besar si jurusan S2 yang saya tempuh sekarang ini. Walaupun memang di website RuG sudah cukup lengkap, mungkin penjelasan saya akan membantu.

1. Jurusan apa aja sih yang bisa apply untuk MSc Medical Pharmaceutical Sciences (MPS) ?

In sya Allah background bachelor yang berlatar belakang farmasi sangat terbuka chance-nya untuk apply MPS. Tapi ternyata ga cuma farmasi, related research fields yang berhubungan dengan molecular and cellular biology, kimia organik, biokmia, juga bisa kok.

2. Intinya si MPS ini mengarah ke mana sih?

MPS ini fokus pada studi patofisiologi dan intervensi obat. Cakupan programnya cukup luas, jadi mulai dari mempelajari penyakit, sampai drug development, dari mulai basic farmasetik, farmakologi molekular, analisis farmasi, toksikologi, farmasi klinik, farmakoterapi, sampai studi post marketing surveillance. Tapi kita ga akan mempelajari semuanya secara dalam. Kita cukup memilih akan berfokus pada bidang yang mana, terutama untuk research. Continue reading “About MSc. Medical Pharmaceutical Sciences”

Mommy's Abroad, Motherhood

Bunda Lanjut Kuliah? Kenapa Engga?

“Ayah kantor.. Bunda kampus.. Runa kolah..” Begitu kira-kira celoteh Runa (2y 2m) di pagi hari sebelum berangkat sekolah dan juga setelah pulang sekolah. Hmm.. Senang dengernya. Setiap saya jemput di sekolah, saya selalu memeluk Runa dan bilang: “Makasih ya Runa, sudah membantu Bunda hari ini, Runanya pinter sudah sekolah, Bunda jadi bisa ke kampus.”

Yang tadinya saya pikir adalah hal mustahal untuk bisa mencicipi kembali bangku kuliah, ternyata bisa dijalani. Seperti yang pernah saya kisahkan sebelumnya di sini mengenai kuliah di LN sambil mengurus anak. Saya mau sedikit sharing pengalaman saya selama sekitar setengah tahun menjadi mahasiswi lagi. Banyak hikmah yang bisa saya dapat selama waktu tersebut, banyak belajar, banyak trial error, dan sebagainya. Alhamdulillah Allah selalu memberikan kemudahan dibalik kesulitan. Continue reading “Bunda Lanjut Kuliah? Kenapa Engga?”

Info for Motion, Informatie, tips & trucs, School stuff

Monik lagi S2 di Belanda? Boleh Nanya-nanya ga?

Boleh bangeeeet.

Ini bukannya saya sok-sokan eksis ada yang nanya-nanya segala. Tapi memang beberapa orang teman nanya ke saya, bagaimana saya akhirnya bisa S2? beasiswanya apa? persiapannya apa? dan lain-lain. Saya seneng kok kalau bisa ikut bantu jawab pertanyaan temen-temen yang penasaran gimana caranya S2 di luar negeri dengan beasiswa. Saya juga soalnya dulu suka nanya-nanya, dan saya bersyukur kalau tiap saya nanya, orang merespon dengan hangat dan sabar. Jadiiii.. yaa apa salahnya saya rangkum jawaban saya di sini. Nanti kalo ada yang nanya, saya bisa langsung share link, dan kalo ada yang bingung bisa nanya lagi.

Monik sekarang S2, kok bisa??

Hahaha.. heran gitu ya? Kayak kok aku ga meyakinkan buat bisa lanjut S2 *becandaaa*. Iya, Alhamdulillah, Monik S2, bisa.. dengan pertolongan Allah, hehe..

Monik S2 jurusan apa, di mana?

Monik ambil jurusan farmasi juga, tepatnya MSc. Medical Pharmaceutical Science, di University of Groningen (Rijkuniversitet Groningen/RuG), Belanda. Nih kalau mau tau apa aja fakultas dan jurusan yang tersedia di RuG http://www.rug.nl/masters/by-faculty

Gimana bisa nemu jurusan dan universitas yang cocok sama kita?

Kalau untuk master, mau ga mau kita emang harus banyak cari informasi sendiri, bisa lewat education fair, googling, dan liat web universitasnya. Emang butuh effort untuk memilah-milah mana universitas mana yang jurusannya ada dan sesuai dengan minat dan background kita. Lalu juga memilah-milah negara mana yang kira-kira cocok untuk kita. Filter sebanyak-banyaknya opsi yang diinginkan, jangan cuma mentok sama satu pilihan aja. Saya pilih Belanda dan RuG sebenarnya karena beberapa faktor: Continue reading “Monik lagi S2 di Belanda? Boleh Nanya-nanya ga?”

Mumbling, Pharmacisthings, Trash = Relieved

Siang!

Siang. Saya suka waktu siang, dengan siang yang cerah dan kadang-kadang teduh karena matahari tertutup awan. Saya suka siang hari karena pada siang hari sepertinya banyak hal yang bisa dikerjakan, dan rasanya ceria gitu, karena sebagian besar orang juga beraktivitas di saat itu.

Sekarang ini aktivitas saya di siang hari bersama Runa adalah bobo siang (haha.. kan banyak orang bilang kalau bayinya lagi tidur, ibunya ikut tidur juga, biar istirahat — good advice btw). Saat saya sedang bergolek-golek cantik di kasur, saya ngeliat ke luar jendela, hmm.. lagi cerah dan suasananya enak gitu. PIkiran saya jadi melayang ke siang hari-siang hari sebelumnya.

Sewaktu kuliah saya suka waktu siang hari seperti ini, karena biasanya saya dan genggong FKK*) sedang nyangsang di basecamp kita di selasar farmasi, baru selesai kuliah. Kita ngampar di sana sambil membahas materi kuliah sebelumnya *bo’ong* sambil diselingi sedikit gosipan, garingan, dan bumbu kelebayan. (yang bener ngegosip sambil diselingi bahasan kuliah). Habis itu kita mo agak tobat, jadi kita jalan ke salman, solat zuhur, terus makan di nyawang atau bahkan ngampar lagi di selasar/koridor timur salman. Kalau ada kuliah jam berikutnya baru deh buru-buru balik ngampus lagi.

Haaah.. entah kenapa kangen banget kaya gitu lagi. Padahal dulu pas siang-siang jaman kuliah rasanya pengen deh nyari tempat yang enak buat tidur siang, saya bahkan bisa tidur di selasar farmasi, kortim salman, perpus, bahkan kelas. I do anything dah biar mata bisa mejem barang 10 menit aja (emang dasar tuti). Nah, sekarang I have my 10 minutes (or more) time for sleeping with my cute baby, but my mind sail away to that moment.

Kapan yaa bisa kaya gitu lagi.. heuhue.. kalo dipikir-pikir, dulu itu momen kaya gitu biasa aja, ga ada yang spesial. Baru kerasa ternyata that moment was precious. Hmm.. okelah brarti saat bobo siang saya saat ini juga bisa jadi precious moment in the future.

Baiklah kalau beg-beg-beg-begitu, mending sekarang saya bobo siang sambil mimpi lagi ada di saat-saat siang bersama FKK.

Have a nice day!

*)Farmasi Klinik dan Komunitas

Journey, Mumbling, Only a Story

Graduation Googles

Saya sering mengalami hal ini:

Saat saya merasa di puncak rasa jenuh atau malas akan sesuatu yang sedang dihadapi, tiba-tiba saya merasa sedikit gamang jika suatu waktu saya akan meninggalkan hal yang membuat saya jenuh atau muak tersebut.

Kalau kata Robin Scherbatsky: It’s graduation goggles. Like with high school. It’s four years of bullies, making fun of all the kids with braces, even after the braces come off and they can walk just fine. But then, on the graduation day, you suddenly get all misty because you realize you’re never going to see those jerks again (HIMYM, season 6, eps 20)

Yap, Out of nowhere. I suddenly got kind of wistful. Saya merasa ada secuil dari hati saya seperti berbisik: “Are you sure wanna leave this?” Don’t you think you’re gonna miss these crap?”

Akhirnya saya merasa ragu untuk memutuskan: Stay or Leave. Yes it’s graduation googles.

Dulu saya pernah merasakannya saat sebelum lulus apoteker, ada masa-masa yang mboseni banget, saat KP yang udah tahap garing dan masa-masa mau ujian sampai setelah ujian. Ada momen saya merasa jengah dan berharap semuanya cepet selesei, tapi ketika periode tersebut akan berakhir, yes I get misty, heuhehu.. Namun ada 1 hal yang pasti. Saya tahu, cepat atau lambat, suka atau tidak, muak atau tidak, semuanya akan ada ujungnya. It will end at the right time, jadi I have no choice but to face it.

Nah, berbeda dengan keadaan sekarang. Saat sudah menjalani kehidupan sebagai insan merdeka (pas kuliah ceritanya terjajah tugas-tugas kuliah, mwehehe), ga ada tuh yang namanya jadwal tertentu, ini startnya, ini mid, dan endingnya. Ga ada periode ujian, deadline, dan gerbang kelulusan. Saat berkarir, semuanya akan tergantung keputusan kita. Kita mau start dari mana, mau meneruskan di mana, atau resign, atau mengabdi sampai pensiun, atau jadi kutu loncat.

Ketika saat ini merasakan fenomena grads googles saya jadi bimbimbangbang, biiim-baang.. Karena saya ga punya patokan untuk berhenti di mana dan kapannya, ga kayak yang saya alami sebelumnya. Pikiran saya ngasih berbagai macam pendapat ke hati dan otak. Saya jenuh, tapi kadang saya menikmatinya. Ada sisi-sisi yang membuat saya gerah, tapi ada yang menahan saya, bahwa ada sisi baiknya juga.

But the point is you can’t trust graduation googles, they’re just misleading your (whatever) googles.

Ketika di episode HIMYM tersebut. Marshall merasa pekerjaannya sudah tidak sesuai dengan passionnya lagi dan dia merasa benci pekerjaannya. Dia merasakan grads googles. But in the end, he did this: “I have to quit. I need to do better things in my life”

For me, I am still thinking, what “the thing” is better thing in my life? Istikharah, istikharah..

Just wait and see, pals, what happen next. I’ll catch you later. Maap meracau

Just Learning, Lifestyle

Friendship at Work?

Buat fresh grads, yang baru mulai kerja, atau sudah menapaki dunia kerja, saya yakin pernah mengalami masa-masa kangen kuliah, kangen jadi mahasiswa, kangen ngampus, hehe.. That’s a glance phase of life.

Ga disangkal, I have been there too (or still being there? heu). Memang, dunia kerja tidak senyaman pelukan kampus, dimana semua masih terasa menyenangkan, (sedikit) tanpa beban, dan yah.. It was fun, terlepas dengan segala tetek bengek ujian dan praktikum (OMG, praktikum! I never think that I will miss those activites >.<)

Mungkin salah satu faktor yang membuat kita merasa kangen dunia kuliah adalah the sense of friendship and the friends itself. Mostly, I miss my FKK gang. Seangkatan FKK yang baru berdiri mulai dari angkatan kita berisi 34 orang, si anak sulung yang ga berkakak, dan (pas awal) ga beradek, ga ber-role model juga, hiks. Gimana ga apet kita? Saya juga kangen bergaul dengan sahabat-sahabat saya di unit, kabinet, bahkan “hanya” teman yang ketemu di kepanitiaan atau organisasi tertentu. Kita semua dalam bersahabat merasa satu strata, friends with no profit, hanya terjalin begitu saja.. tulus and pure *alah naoonn deuiii*

Yah, itulah yang sulit didapet di dunia kerja. Saya sering mendengar keluhan-keluhan teman saya, bermacam-macam isinya, mulai dari yang sikut-sikutan, carmuk-carmukan (cari muka ,-red), sampai friends with benefit, kayaknya semua yang terjalin itu penuh tujuan dan intrik deh, haha,, cem sinetron aja.  Ada yang bilang, it’s so different when you start a friendship in the line of work, than a friendship at school time.

Continue reading “Friendship at Work?”