Catatan Haji 1437 Hijriyah, Serba-serbi Haji

Salat Jenazah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram

Madinah di bulan September siang itu berkisar di angka 40 derajat celcius. Saya tidak menyangka Madinah bisa sepanas itu. Tetapi rasa gerah yang ada tidak saya rasakan, kami, rombongan haji Euromuslim dari Belanda siang itu baru saja tiba di Madinah. Rasa-rasanya langsung ingin bertemu masjid yang dibangun Rasulullah itu.

Zuhur adalah salat pertama yang saya laksanakan di Masjid Nabawi, berjamaah dengan imam. Selepas salam, saya baru saja ingin berdoa, namun tiba-tiba terdengar suara iqamah yang tidak saya tangkap dengan jelas (iqamah untuk salat apa). Tiba-tiba para jemaah di sekitar saya sudah berdiri dan mengikuti aba-aba imam untuk salat berjamaah (lagi). Saya bingung, lho.. salat apa ya? Masa iya salat sunah rawatib berjamaah dengan imam? Akhirnya saya hanya diam dan memperhatikan saja jamaah melakukan salat.

Ternyata salat yang dilakukan singkat sekali, hanya empat kali takbir, dan tanpa rukuk dan sujud. Setelah takbir keempat, salat ditutup dengan salam, yang tetap dilakukan sambil berdiri. Saya baru ngeh … Oh ini sedang salat jenazah ternyata. Maklumlah baru pertama kali salat di Masjid Nabawi, belum tahu schedule-nya seperti apa. Nanti deh kalau ada salat jenazah lagi saya akan ikut, janji saya dalam hati. Continue reading “Salat Jenazah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram”

Advertisements
Catatan Haji 1437 Hijriyah, Pesona Madinah Al Munawarah

Madinah yang Penuh Kedamaian

Sejak pertama kali saya menjejakkan kaki di Madinah dan melihat Masjid Nabawi, saya langsung terpukau. Tidak henti-hentinya mengucapkan Subhanallah dan Masya Allah. Ini lho Kota Nabi, kota suci tempat hijrah Rasulullah SAW. Tempat di mana Rasulullah SAW meletakkan dasar-dasar pemerintahan Islam dan membangun masyarakat madani. Setiap sudut Kota Madinah sepertinya memancarkan kedamaian. Meskipun hawa panas luar biasa terasa (ya iya atuh daerah gurun), saat kami ke sana masih dalam musim panas.

Mayoritas muslimin yang melaksanakan ibadah haji dan umroh ke tanah suci Mekah pasti akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Madinah, berziarah dan beribadah di Masjid Nabawi. Meskipun ziarah dan ibadah di Masjid Nabawi bukan termasuk rukun dan syarat sah haji dan umroh. Seperti rombongan haji reguler dari Indonesia biasanya akan menghabiskan waktu sekitar 8 hari di Madinah, untuk mengejar shalat arba’in (shalat 40 waktu), meskipun menurut sumber yang saya baca haditsnya dhaif, tapi poin pentingnya maksudnya beribadahnya tho. Rombongan kami Euromuslim dari Belanda menghabiskan 5 hari 4 malam di Madinah. Lalu setelahnya baru melaksanakan umroh dan haji di Mekah. Opsi yang menurut saya cukup baik karena kami bisa menikmati Madinah dulu sebelum melakukan prosesi haji yang cukup melelahkan.

Kalau sekarang setiap melihat foto-foto Masjid Nabawi, membaca Sirah Nabawiyah saat Rasulullah SAW di Madinah, terbayang-bayang suasana di sana. Ingin rasanya bisa menghabiskan hidup di Kota Suci tersebut. Mimpi gitu ya bisa kuliah di University of Madinah. Mimpi dulu mah gapapalah ya..

Banyak sekali spot-spot yang menarik di Madinah, utamanya tentu Masjid Nabawi yang terletak sangat strategis di tengah-tengah Madinah.

Madinah Al Munawwarah

Saat Rasulullah SAW hijrah di tahun ke-14 kenabian, Madinah masih bernama Yastrib. Dalam piagam Madinah yang dibuat Rasulullah SAW, nama Madinah belum muncul. Yastrib-lah yang masih tercantum di dalamnya. Rasulullah  SAW mengganti Yastrib menjadi Madinah karena arti kata Yastrib sendiri yang kurang baik. Yastrib berasal dari kata tatsrib (celaan/makian) atau tsarab (hancur). Maka Rasulullah SAW menggantinya dengan nama Madinah (Ibnu Hisyam dan Ibnu Majah) (1). Madinah pun terkenal sebagai Madinatun Nabi (Kota Sang Nabi) dan Madinah Al Munawarah yang artinya kota yang bercahaya. Selain itu Madinah juga memiliki nama thabah (yang baik) atau thayyibah (yang suci) (2). Continue reading “Madinah yang Penuh Kedamaian”