Just Learning, Love..

Potensi setelah Menikah

Ketika sudah menikah, tentu kita jadi masing-masing lebih tahu kelebihan dan kekurangan pasangan. Bahkan kita juga jadi lebih mengerti kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tapi dengan seperti itu malah membuat kita jadi semakin dekat dan semakin “bergantung” pada pasangan.

Ini yang saya rasakan setelah 5 tahun menikah. Mengenai potensi diri dan kebergantungan pada suami (dan sebaliknya).

Layaknya wanita pada umumnya yang instingnya kurang jalan untuk melihat peta, meghafal jalan, bahkan untuk mengendarai kendaraan, saya pun seperti itu. Tapi, dulu sebelum menikah, saya merasa kekurangan saya yang itu tidak boleh menghambat saya dalam beraktivitas. Walaupun saya memang suka nyasar kalau ke tempat baru, suka ga ngeh sama arah, dan ga terlalu mahir berkendaraan, tapi saya rasa saya mengatasi semuanya dengan baik. Saya berhasil lulus SIM A dengan tes murni, saya biasa menempuh kemacetan kopo dengan si Abang Muntam (KariMUN hiTAM), mobil mama jaman dulu, bahkan saya lebih duluan bisa nyetir daripada suami, serius. Waktu saya baru lulus kuliah dan suka ikut wawancara kerja di Jakarta, saya biasa ngegoogle di mana si tempat itu, liat peta, dan sampe dengan selamat. Waktu kerja di Jakarta (udah nikah sih, tapi masih suka ditinggal-tinggal ke site), saya biasa jalan-jalan muterin Jakarta (emang Jakarta lapangan lari kok diputerin) Transjak, metromini, kopaja, dll. Jaraaang saya ngandelin suami untuk nanya arah, nanya kendaraan umum yang harus dipake, atau sekedar liat peta Jakarta. Continue reading “Potensi setelah Menikah”

Advertisements
Love..

5 years with you

19 Desember 2015. Tadinya mau nulis tentang ini pas tanggal pernikahan. Tapi banyak yang dikerjain pas minggu-minggu itu *sok sibuk, padahal lagi libur winter*

5 tahun. Kalau anak sekolahan setaun lagi lulus SD

5 tahun. Kalau anak kuliahan, udah telat lulus setahun tu

5 tahun. Kalau mahasiswa farmasi, udah lulus sampe apoteker

5 tahun. Udah dikasih hadiah satu anak perempuan yang usianya mau 3 tahun dan gemesin banged dan lagi banyak nanya dan banyak maunya, hehe..

5 tahun udah ngapain aja yaa? Continue reading “5 years with you”

Just Learning, Lifestyle, Mumbling

About Married Woman

Selalu aja ada yang bilang:
“Kamu mah enak Mon udah nikah, ga usah cape-cape cari kerja lagi, ada suami.”
“Ga usah mikirin apa-apa Mon, kan semua udah ditanggung suami.”
“Kenapa harus lanjut S2 lagi? Santai ajalah, kan udah berkeluarga.”
Dan komentar sejenisnya.

Entah kenapa paradigma seperti itu yang mencuat di sekitar saya.  Menikah = Settle down = No need effort to pursue something.
Jadi karena sudah menjadi istri orang jadi saya ga usah susah-susah cari kerja dimana, berkarir gimana, atau melanjutkan pendidikan lagi, gitu?

Saya (saat ini) malah berpikir sebaliknya. Bukannya tidak bersyukur dan tidak merasa puas dengan keadaan “settle down”. Tapi sebagai seorang individu saya juga memiliki keinginan untuk berkembang *bunga kali berkembang*, ingin berkarya di “dunia luar”, ingin merasakan jerih payah sendiri dalam berupaya. Intinya aktualisasi diri, hal itu tidak terganti dengan materi. Terlebih lagi (beruntungnya saya) suami memberi kebebasan untuk bekerja atau sekolah lagi, ia malah mendukung saya untuk “bergerak”. Dia tahu kali ya saya biasa sibuk *ejiyee, males banget biasa sibuk, berasa orang penting*.

Menikah bukan berarti membuat saya merasa nyante dan ongkang-ongkang kaki di rumah nunggu suami pulang kerja. Iya, memang suami dan keluarga adalah zona nyaman saya. But in order to move forward, sometimes, you have to leave your comfort zone.

Kenapa saya bold-underline kata “sometimes”. Karena saya menyadari bahwa memang tidak selalu saya harus meninggalkan zona nyaman itu, tidak selalu saya akan berkeliaran di luar rumah untuk mengejar cita-cita. Fitrahnya istri dan wanita memang di rumah mengurus rumah tangga dan keluarga, itu ibadah yang besar bagi wanita. I realize it. So, pada akhirnya walaupun saya mempunyai aktivitas di luar rumah, kewajiban utama saya adalah mengayomi zona nyaman saya, yaitu keluarga.

Yah apapun profesinya seorang married woman, tentu tidak lupa kewajibannya sebagai ibu rumah tangga 🙂

Kata suami saya: I trust you, I support you, I know you can manage your time. As I know, the more busy a person, the more productive she/he is. And you’re gonna make it. I want our children learn a lot from their mother.

We’ll see 2-3 tahun lagi saya masih keliaran ga ya? haha..