Info for Motion, Journey, Lomba

Pengalaman Menamatkan Novel dan Mengikuti GWP2020

Alhamdulillah, akhirnyaa beres juga submit naskah untuk ikut event Gramedia Writing Project (GWP2020), The Writer’s Show. Ini naskah fiksi saya yang selesai pertama kalinya lho, *prokprokprok. Sejak zaman saya masih belum baligh, saya udah punya cita-cita pingin bikin buku, hihi.. Dulu pikiran saya bikin buku itu sama dengan bikin cerita fiksi, mungkin karena bacaan saya dulu banyakan cerita-cerita ya. Fast forward setelah saya punya menikah, punya anak, merantau jauh-jauh, baru bisa bikin buku sendiri, Alhamdulillah. Buku pertama yang bisa saya kelarin, buku nonfiksi, semacam jurnal, catatan hati, baca Groningen Mom’s Journal. Menurut pengalaman saya, membuat tulisan nonfiksi rasanya lebih mudah, entah mengapa. Ketika menulis fiksi, kreativitas dan imajinasi saya rasanya dituntut lebih keras.

Udah berapa kali saya nyobain bikin novel, idenya selalu ganti-ganti terus, dan ujungnya gak pernah selesai. Sedih sih. Draft-draft cerpen dan novel saya teronggok gitu aja di laptop, sampai laptop saya yang zaman zebot itu rukzak, dan lenyap semua. Tapi ya sayang gak sayang, soalnya naskahnya gak beres juga. Saya selalu gak pede dengan tulisan fiksi saya. Setelah lama, pake banget, akhirnya ada juga naskah novel yang bisa saya selesaikan melalui event GWP2020 ini.

Tujuan saya ikutan GWP2020 sebenarnya sih gak muluk-muluk. Cuma pingin naskah rampung. Di awal pendaftaran di bulan Juni, kan cuma disuruh upload 3 bab. Dipaksainnn, akhirnya bisa juga upload 5 bab, hihi. Ketika dulu saya masih muda belia dan manis manja, saya pinginnya bikin novel cinta-cintaan gitu, wkwkwk.. tapi tentunya saya tuh takut melanggar batas-batas tertentu, entah gimana, saya selalu merasa punya border sendiri dalam nulis fiksi. Mungkin batasan-batasan tersebut yang membuat saya terus urung menyelesaikan tulisan fiksi saya. Sampai saya pernah mengikuti kelas tausiyah dari Habiburrahman El-Shirazy di bulan Ramadan lalu, saya akhirnya menancapkan dalam hati tujuan saya menulis novel. Waktu itu saya bertanya via kolom chat pada beliau, intinya bagaimana menulis novel yang tetap dalam jalur-jalur Islam, yang selaras dengan aturan agama. Beliau berkata, ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Itu kembali lagi dari apa tujuan Anda menulis cerita tersebut. Hakikatnya menulis cerita itu bisa jadi ladang dakwah dan amal jariyah. Baiklah, bismillah.

Continue reading “Pengalaman Menamatkan Novel dan Mengikuti GWP2020”

Tentang Menulis

Berada di Tengah-tengah Komunitas yang Tepat

Kalau saya tidak berada di tengah-tengah komunitas yang “memaksa” saya untuk tetap menulis, pasti naskah saya tidak akan pernah jadi sampai 300 halaman. Kalau saya tidak nyemplung ke suatu lingkungan yang mensyaratkan saya untuk konsisten mempublish tulisan, pasti blog saya sudah lumutan dari zaman Fir’aun. Ternyata untuk saya, motivasi dan semangat pribadi saja tidak cukup. Saya harus berada di dalam wadah yang tepat untuk bisa memastikan motivasi saya tetap terjaga dan tentunya menjadi karya nyata. Bukan cuma sekedar tertulis di rencana dan angan-angan semata.

Yang saya sesali, kenapa tidak dari dahulu kala saya menemukan komunitas-komunitas tersebut. Atau mungkin dulu komunitas menulis tidak sepopuler sekarang. Atau mungkin dulu saya terlalu fokus sama sekolah dan main saja, dan meminggirkan hobi yang saya benar-benar sukai. Dulu waktu SMP, SMA, dan kuliah saya memang ikut komunitas majalah sekolah, buletin, dan media, semacamnya. Tapi tidak benar-benar menuangkan ide-ide menjadi cerita atau bentuk karya. Saya hanya bekerja sesuai instruksi saja.

Dulu komunitas menulis yang cukup populer hanya Forum Lingkar Pena. Saya pernah ikut ke beberapa pertemuannya, tapi banyak alasan ini itu yang menyebabkan saya tidak kontinyu ikut di dalamnya.

Komunitas menulis saya yang cukup kondusif malah baru saya temukan setelah saya pindah ke Groningen. #99 days One Day One Posting namanya. Digagas dari salah satu forum ibu-ibu di Bandung. Meski tidak ada aturan main yang mengikat dan persyaratan yang ketat, saya ternyata bisa konsisten di dalamnya. Thanks ODOP 🙂

Berikutnya saya bergabung di Mentoring Menulis Online #16. Ini yang benar-benar memaksa saya untuk menyelesaikan naskah pertama saya. Saya tahu masih banyak kekurangannya, tapi saya lega. Lega akhirnya saya punya naskah lengkap. Ternyata saya bisa. Berada di tengah-tengah mentee MMO #16, membuat saya sangat nyaman. Saya menemukan keluarga di dunia maya, yang bahkan saya tidak pernah bertemu mereka. Saya merasa mereka berada di jalan yang sama dengan saya dan menuju ke arah yang sama.

Setelah MMO#16 selesai, semangat menulis saya kembali mandek. Ternyata lebih sulit mengedit naskah dan melengkapinya sana-sini agar layak dikirimkan ke penerbit. Prosesnya terasa lebih berat, heu. Sebab itu, saya melanjutkan lagi perjalanan komunitas menulis saya, dengan mengikuti 30 Days Writing Challange. Menulis lebih bebas setiap harinya, asal ada yang ditulis. It works. Saya kembali menemukan ritme menulis saya. Walaupun diselingi drama mual-mual dan pusing karena saya sedang hamil muda (doakan yaa semuaa…). Saya tidak bisa menatap laptop lama-lama karena kepala akan terasa berat dan perut jadi eneg. Saya harus menurunkan sedikit tempo menulisnya, supaya badan tetap fit. Padahal yang ingin ditulis banyak, hiks..

Intinya, temukanlah komunitas yang tepat untuk mendorongmu melakukan hal-hal yang positif. Saya selalu ingat hadits populer ini: Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Find the right community!

Tentang Menulis

#ODOPfor99days 2017 dibuka!

#ODOPfor99days 2017 dibuka!!!

Buat teman-teman yang memiliki Resolusi ingin berlatih menulis rutin, kini #ODOPfor99days kembali di buka untuk tahun 2017.

📝Apa itu #ODOPfor99days?

Sebuah komunitas berlatih menulis rutin bersama di Grup Facebook dan WhatsApp.

Diharapkan teman-teman menuliskan target menulis masing-masing pada awal tahun, sebagai bahan evaluasi pencapaian pada akhir 2017.

📝Kenapa perlu mengikuti #ODOPfor99days?

Karena kalau sendiri kita suka malas. Dengan ada teman yang memiliki resolusi yang sama kita diharapkan akan lebih semangat untuk menulis rutin.

📝Siapa yang boleh ikut #ODOPfor99days?

Grup ini spesial untuk ibu-ibu, baik yang masih lajang atau yang sudah berkeluarga.

Kelas akan dikelola secara bergantian oleh Ketua Kelas yang akan dipilih setiap 2 minggu sekali.

Tidak ada guru yang akan memberikan materi khusus di sini. Kita hanya akan belajar dari teman-teman yang lain dan mengundang penulis untuk Kulwap.

📝Di mana Grup #ODOPfor99days akan berlangsung?

Di Public Group Facebook #ODOPfor99days 2017 dan WhatsApp Grup (Untuk Grup WhatsApp pesertanya dibatasi hanya 99 orang).

📝Kapan Grup #ODOPfor99days berlangsung?

Sepanjang tahun 2017, dimulai dari minggu ke-1 hingga minggu ke-52.

📝Bagaimana kegiatan di #ODOPfor99days?

Ketua kelas akan membuat Tread Mingguan dari minggu ke-1 hingga minggu ke-52 di tahun 2016 untuk teman-teman bisa menyetorkan tulisannya.

Tulisan boleh dalam bentuk postingan blog, Status di Facebook, Print Screen Notes HP, atau Print Screen Tulisan tangan.

Teman-teman bebas menentukan target penulisan masing-masing. Boleh dimulai dari seminggu sekali dengan minimal 300 kata, atau menulis setiap hari minimal 100 kata. Bebas saja menentukan target sesuai kondisi masing-masing.

Kegiatan rutin #ODOPfor99days 2017:

Senin pertama: Ketua Kelas akan membuat Tread setoran postingan mingguan.
Selasa pertama: Diskusi mengenai tema minggu ini yang ditentukan oleh Ketua Kelas.
Jumat pertama: Diskusi bacaan minggu ini. Boleh buku atau artikel.
Senin kedua: Ketua Kelas membuat Tread setoran postingan mingguan.
Selasa kedua: Berbagi tulisan tentang tema yang diberikan minggu sebelumnya. Diharapkan teman-teman saling menanggapi tulisan temannya.
Jumat kedua: Kulwap dengan penulis.
Sabtu kedua: Memilih Ketua Kelas untuk bertugas 2 minggu selanjutnya.

Bagaimana teman-teman? Yang berminat bergabung boleh join ke Facebook Group #ODOPfor99days 2017 dengan mengklik link berikut: https://www.facebook.com/groups/1188097207945578/

Terima Kasih!

“Tidak semua orang harus jadi Penulis. Tapi semua orang perlu berlatih mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan.”

Just Learning, Tentang Menulis

KulWap #ODOP99days with Dee Lestari

Apaaah Dee Lestari mau kulwap di ODOP? Ah becandaaaa..

dee-books

Seriusann cuuy!

Thanks to Teh Shanty, yang lagi-lagi sukses menjembatani mastah-mastah ke grup kita. Horee.. Alhamdulillah.

Kalau tentang Dee, pastinya hampir semua orang sudah tahu ya. Penulis Supernova, vokalis RSD, penulis skenario film. Yang paling booming tentu novel Supernova-nya. Saya baca Supernova yang pertama waktu SMP. Rasanya magis aja gitu tulisannya. Meskipun saya ga ngikutin Supernova-nya sampai sekarang. Terhenti di Petir. Saya mulai agak lemot mencerna isinya, haha.. Tapi saya menikmati cerpen-cerpen Dee di Filosofi Kopi dan Rectoverso. Madre juga bagus, soalnya tokohnya unik (pas diperanin sama Vino Bastian, cocok yak). Perahu Kertas adalah karya Dee yang agak beda dibanding yang lainnya, lebih chic dan bernuansa segar, tapi tetap menarik.

So, this is the resume!

Kini mari kita masuk ke sesi tanya-jawab: Continue reading “KulWap #ODOP99days with Dee Lestari”

Project, Tentang Menulis

#ODOP #Day 100: It’s a wrap!

Alhamdulillah…. Akhirnyaa..

Selesai juga. Het is klaar! It’s finished!

*Ambil toga dan mic buat pidato kelulusan ODOP*

Lengkap sudah 99 postingan saya di sini. Tidak terasa ya 19 minggu (saya lebih kan beresnya bukan di hari ke 99) atau sekitar hampir 4 bulan saya tergabung di ODOP dan berusaha “memaksa” diri saya untuk menulis setiap harinya. Saya tahu saya suka menulis, tapi kadang saya malas dan ragu menuangkannya. Saya tahu kualitas tulisan saya mungkin belum tingkat tinggi, tapi saya merasa semuanya terasah dan tentu butuh proses.

Meskipun saya tidak tepat waktu menyelesaikan tantangan ini, tapi akhirnya tercapai juga *tepuk pramuka* eh maksudnya tepuk punggung, hehe. Continue reading “#ODOP #Day 100: It’s a wrap!”

Tentang Menulis

Resume Kulwap Tasaro GK

Lagi-lagi ada Kuliah Whatsapp di ODOP, horeee.. Kali ini saya gak terlalu ngeh sebenarnya sama pematerinya *maap Mas Tasaro*. Bukan karena beliau gak tenar, tapi sayanya yang kurang luas area membacanya. Buktinya kawan-kawan lain di ODOP udah pada baca karya-karya Mas Tasaro. Jadi merasa ketinggalan, heuheu..

Anyway, tetep ada oleh-oleh yang bisa dibawa pulang dari pemateri. Banyak tips dan ilmu yang beliau bagi.. Ini profil singkat beliau.

Tasaro (akronim dari namanya, Taufik Saptoto Rohadi, belakangan menambahkan “GK”, singkatan dari Gunung Kidul) adalah lulusan jurusan Jurnalistik PPKP UNY, Yogyakarta.
Berkarir sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Memutuskan berhenti menjadi wartawan setelah menempati posisi redaktur pelaksana di harian Radar Bandung dan memulai karir sebagai penulis sekaligus editor.
Saat ini Tasaro GK adalah seorang guru PAUD di sebuah perkampungan lereng Gunung Geulis, Sumedang. Menghabiskan waktu sebagai penulis, guru serta perajin paper craft untuk menghias dinding kamar dua anaknya.
Cita-cita terbesarnya adalah menghabiskan waktu di rumah, menimang anak dan terus menulis buku.

Karyanya yang fenomenal yaitu novel tetralogi MUHAMMAD :
1. Lelaki Penggenggam Hujan
2. Para Pengeja Hujan
3. Sang Pewaris Hujan
4. Generasi Penggema Hujan Continue reading “Resume Kulwap Tasaro GK”

Tentang Menulis

Rasanya Tidak Menulis

Writing_Quote_298

Woww.. banyak sekali bolong saya nih di ODOP. Ide tulisan sih banyak *minta dijepret pake karet gelang*, tapi ide tetaplah sesuatu yang kosong ketika tidak dituliskan. Jadi sama aja bohong.

Dua minggu lalu saya masih sempet nulis di sela-sela penyelesaian draft thesis. Setelah meeting progress research saya jadi merasa agak menahan diri saya untuk nulis. Mungkin saya merasa bersalah kok ya saya lebih seneng (dan lebih sering) nulis blog daripada nulis thesis, hiks.. Saya merasa masih ada beban di pundak, hutang 40 ECTS yang harus selesai di bulan Juli. Rasanya jari ini gatel sekali ingin menulis segala rupa, tapi sayang otak harus ON ke tempat lain. Saya juga jadi sedikit ragu untuk bisa melanjutkan pendidikan berikutnya setelah lulus.. Bisa gak yaa…? Banyak sekali pertimbangan yang saya pikirkan. Kapan-kapan deh pengen nulis curcolan kelas berat: “Setelah lulus kuliah, lalu..?”. Kegalauan yang berbeda ketika setelah lulus S1.. ya iya pertimbangan utama bukan hanya dari diri sendiri, kan ada suami dan anak. Continue reading “Rasanya Tidak Menulis”

Just Learning, Tentang Menulis

Resume Kulwap – Mindfulnes ala Adjie Silarus

Mindfulnes apaan tuh ya? baru denger.. Yang kepikiran pertama kali setelah denger kata itu adalah itu tentang “penuh kesadaran”. Tapi memang mindfulnes ini bikin lebih tenang dan fokus ternyata. Penasaran? Yuk simak resume Kulwap Adjie Silarus.

leef-in-het-moment-is-belangrijk-in-mindfulness

Adjie Silarus adalah seorang lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang merupakan praktisi mindfulnes. Penulis dari buku Sejenak hening dan Sadar Penuh Hadir Utuh. Ia juga founder dan CEO dari SukhaCitta. Perusahaan yang membuat perencanaan, mengelola sesi pelatihan, seminar, dan konsultasi yang berkaitan dengan hidup bahagia dan juga bahagia berkarya melalui pendekatan “mindfulness”.

Berikut adalah resume Kulwapnya

Mindfulness for Writer
#‎ODOPfor99days‬
Selasa, 19 April 2016
Pk 9.00 – 10.30 WIB Continue reading “Resume Kulwap – Mindfulnes ala Adjie Silarus”

Lomba

Akhirnya Ikut Lomba Cerpen Juga

Cerpen PPI India
Cerpen PPI India

Dari semua lomba-lomba menulis yang dishare di group ataupun di facebook, ga semua saya ikuti. Walaupun pengennya sih menjajal kemampuan menulis saya dengan mengikuti semua lomba itu *maruk*. Bukan karena saya tertarik dengan hadiahnya lho ya. Kebanyakan juga hadiahnya itu ya dikirim ke alamat Indonesia, lha saya di ujung utara Londo.. Bukan juga karena hadiahnya ga menarik. Tapi karena saya harus memilih di antara semua lomba itu.. mana yang bakal serius saya ikuti. Saya memilih berdasarkan tema sih biasanya.. kalau temanya soal family, parenting, anak, travelling ya saya tertarik.. Atau kalau lombanya berupa menulis cerpen atau artikel singkat, curhatan apalagee, wkwk.. Kalau saya punya banyak free time, pengen saya cobain deh semua tu lomba. Continue reading “Akhirnya Ikut Lomba Cerpen Juga”

Tentang Menulis

Refleksi #ODOPfor99days Putaran Kedua

Putaran kedua #OneDayOnePostingfor99Days sudah terlewat, sekarang bahkan sudah sampai di postingan ke #71. Banyak sekali yang saya dapat dan pelajari selama hampir 2 bulan ke belakang. Kalau di ODOP putaran pertama saya lebih banyak pada tulisan saya sendiri, saya lebih sering memikirkan ide apa yang mau saya tulis hari ini atau besok, dan sayapun cuma blogwalking ke beberapa blog yang sudah familiar dengan saya sebelumnya. Baca refleksi ODOP putaran pertama sini.

Sejak putaran kedua ini, bisa dibilang tulisan saya rada lebih rapih dikit *atau cuma perasaan saya aja?* Selain itu saya juga jadi lebih banyak punya ide nulis, saya jadi gak takut nulis apapun yang saya mau dan lebih pede dengan hasilnya. Walaupun yaa.. tulisan saya gitu-gitu aja sih, hoho.  Continue reading “Refleksi #ODOPfor99days Putaran Kedua”