Just Learning, Love..

Potensi setelah Menikah

Ketika sudah menikah, tentu kita jadi masing-masing lebih tahu kelebihan dan kekurangan pasangan. Bahkan kita juga jadi lebih mengerti kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tapi dengan seperti itu malah membuat kita jadi semakin dekat dan semakin “bergantung” pada pasangan.

Ini yang saya rasakan setelah 5 tahun menikah. Mengenai potensi diri dan kebergantungan pada suami (dan sebaliknya).

Layaknya wanita pada umumnya yang instingnya kurang jalan untuk melihat peta, meghafal jalan, bahkan untuk mengendarai kendaraan, saya pun seperti itu. Tapi, dulu sebelum menikah, saya merasa kekurangan saya yang itu tidak boleh menghambat saya dalam beraktivitas. Walaupun saya memang suka nyasar kalau ke tempat baru, suka ga ngeh sama arah, dan ga terlalu mahir berkendaraan, tapi saya rasa saya mengatasi semuanya dengan baik. Saya berhasil lulus SIM A dengan tes murni, saya biasa menempuh kemacetan kopo dengan si Abang Muntam (KariMUN hiTAM), mobil mama jaman dulu, bahkan saya lebih duluan bisa nyetir daripada suami, serius. Waktu saya baru lulus kuliah dan suka ikut wawancara kerja di Jakarta, saya biasa ngegoogle di mana si tempat itu, liat peta, dan sampe dengan selamat. Waktu kerja di Jakarta (udah nikah sih, tapi masih suka ditinggal-tinggal ke site), saya biasa jalan-jalan muterin Jakarta (emang Jakarta lapangan lari kok diputerin) Transjak, metromini, kopaja, dll. Jaraaang saya ngandelin suami untuk nanya arah, nanya kendaraan umum yang harus dipake, atau sekedar liat peta Jakarta. Continue reading “Potensi setelah Menikah”

Advertisements
Just Learning, Mumbling

Hubungan antara Menyetir dan Emosi

Mengendarai mobil itu tak ubahnya sama seperti mengendalikan emosi dengan kopling, gas, dan rem (Monika, 2011)

Mobil diciptakan sedemikian rupa mulai dari abad ke-18 hingga sekarang modelnya makin bervariasi. Saya bukan penggemar mobil, hanya sedikit dari pengguna mobil di dunia (itupun bukan mobil sendiri, masih mobil orangtua, hehe)

Bisa menyetir mobil dan punya SIM A adalah salah satu resolusi saya di tahun 2009/2010. Alhamdulillah sudah bisa tercapai dengan perjuangan (saya ga nembak SIM lho, harus sampai 6 bulan bikin SIMnya, haha *bangga*)

Pengalaman menyetir saya tidak terlalu luas, tidak seperti si Kakak yang sudah bisa mengendarai mobil sejak SMA. Sampai sekarang ini saya selalu menjadi supir cadangan dalam keluarga, posisi pertama masih dipegang papa (Alhamdulillah beliau masih kuat nyetir Jakarta-Bandung PP), selanjutnya kalau papa capek, masih ada pilihan Mama atau Kakak, saya?? hehehe.. nanti dulu dehh.. Mungkin kalau adik saya sudah benar-benar lancar, posisi selanjutnya akan dipegang dia. Belum lagi kalau ada suami, yaa.. tentuya dia yang nyupir. Intinya saya hanya menyetir kalau:

Continue reading “Hubungan antara Menyetir dan Emosi”