Testimoni Buku – Anak Rantau – A.Fuadi

Anak Rantau karya A.Fuadi ini jadi salah satu buku favorit saya sejauh ini, selain Ayah karya Andrea Hirata. Menurut saya ini adalah buku terbaik @afuadi di antara semua bukunya yang pernah saya baca. Seperti candu, sekali membuka halamannya, saya tidak bisa menutupnya sampai memang saya harus berhenti dulu karena hal-hal yang tidak bisa ditunda.

Buku ini sangat lengkap dari semua sisi, kekeluargaan, persahabatan, petualangan, keberanian, konflik yang terasa nyata meski novel ini fiktif, ditambah unsur budaya Minang yang kuat. Saya selalu suka novel-novel dengan unsur daerah yang kental. Konon sih A.Fuadi sampai melakukan riset yang mendalam untuk novel ini, sampai mewawancarai ketua adat dan para perantau.

Saya kira awalnya Anak Rantau berkisah mengenai kisah perjuangan seseorang di tanah nun jauh dari kampungnya, ternyata sebaliknya. Kisah ini mengenai seorang anak yang kembali ke kampungnya, di pedalaman Sumatera Barat. Meski saya tidak pernah menetap di Sumatera Barat, hanya sesekali pulang saat liburan saja, tapi gambaran kampuang di buku ini terasa dekat. Menariknya di bagian akhir buku bahkan ada gambaran peta Kampung Tanjung Durian, yang menjadi setting cerita ini.

Sebagai seorang dengan darah Minang yang kuat, saya membacanya dengan antusias. Bagaimana adat istiadat Minang, pergaulan di kampung, kehidupan anak surau, istilah-istilah bahasa Minang yang kental, sampai filosofi “Alam Takambang jadi Guru” yang diulang-ulang.

Recommended untuk dibaca oleh anak usia sekolah, abg, maupun orang tua. Buku ini sangat kaya dan renyah, tidak menyesal saya menyelipkan buku ini di antara barang bawaan saya di koper saat pulang lagi ke Belanda.

Jadi ingat saya juga sedang merantau di tanah orang. Sejatinya kita semua adalah perantau, di bumi Allah. Yang akan kembali ke tanah rantau abadi di akhirat kelak.

Anak Rantau – A.Fuadi

Advertisements

Pulang Kampuang

Tahun ini kali pertama saya dan keluarga pulang kampung ditemani anggota keluarga terkecil kami, Runa. Runa mau ketemu Uci (Nenek dalam bahasa bukittingginya), Buyutnya.. Uci belum pernah ketemu Runa ni, uyut satu2nya.. mumpung masih ada umur dan kesempatan. Runa harus tau dia punya darah minang dari Bundanya, dia harus tetep kenal kampuangnya. Begitu juga dengan kampung ayahnya di Magelang dan Solo, tentu Runa pun akan kami ajak ke sana.

imageRuna pulang kampuang

Alhamdulillah masih banyak saudara-saudara yg bermukim di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.. jd ke manapun kami melangkah selalu ada yg menampung. Kampung mama sebenarnya di Payakumbuh, almarhumah Oma besar di sana.. mama jg lahir di sana, sedangkan Opa ga ada darah Padangnya, Opa dari Madiun. Kalau Padang tempat mama&saudara2nya dibesarkan.. Opa&Oma kerja di Padang sebagai guru dan dosen. Papa berasal dari Bukittinggi, Uci dan alm. Aki sudah bermukim di sana sejak lama.. Continue reading