Tentang Menulis

#ODOPfor99days 2017 dibuka!

#ODOPfor99days 2017 dibuka!!!

Buat teman-teman yang memiliki Resolusi ingin berlatih menulis rutin, kini #ODOPfor99days kembali di buka untuk tahun 2017.

📝Apa itu #ODOPfor99days?

Sebuah komunitas berlatih menulis rutin bersama di Grup Facebook dan WhatsApp.

Diharapkan teman-teman menuliskan target menulis masing-masing pada awal tahun, sebagai bahan evaluasi pencapaian pada akhir 2017.

📝Kenapa perlu mengikuti #ODOPfor99days?

Karena kalau sendiri kita suka malas. Dengan ada teman yang memiliki resolusi yang sama kita diharapkan akan lebih semangat untuk menulis rutin.

📝Siapa yang boleh ikut #ODOPfor99days?

Grup ini spesial untuk ibu-ibu, baik yang masih lajang atau yang sudah berkeluarga.

Kelas akan dikelola secara bergantian oleh Ketua Kelas yang akan dipilih setiap 2 minggu sekali.

Tidak ada guru yang akan memberikan materi khusus di sini. Kita hanya akan belajar dari teman-teman yang lain dan mengundang penulis untuk Kulwap.

📝Di mana Grup #ODOPfor99days akan berlangsung?

Di Public Group Facebook #ODOPfor99days 2017 dan WhatsApp Grup (Untuk Grup WhatsApp pesertanya dibatasi hanya 99 orang).

📝Kapan Grup #ODOPfor99days berlangsung?

Sepanjang tahun 2017, dimulai dari minggu ke-1 hingga minggu ke-52.

📝Bagaimana kegiatan di #ODOPfor99days?

Ketua kelas akan membuat Tread Mingguan dari minggu ke-1 hingga minggu ke-52 di tahun 2016 untuk teman-teman bisa menyetorkan tulisannya.

Tulisan boleh dalam bentuk postingan blog, Status di Facebook, Print Screen Notes HP, atau Print Screen Tulisan tangan.

Teman-teman bebas menentukan target penulisan masing-masing. Boleh dimulai dari seminggu sekali dengan minimal 300 kata, atau menulis setiap hari minimal 100 kata. Bebas saja menentukan target sesuai kondisi masing-masing.

Kegiatan rutin #ODOPfor99days 2017:

Senin pertama: Ketua Kelas akan membuat Tread setoran postingan mingguan.
Selasa pertama: Diskusi mengenai tema minggu ini yang ditentukan oleh Ketua Kelas.
Jumat pertama: Diskusi bacaan minggu ini. Boleh buku atau artikel.
Senin kedua: Ketua Kelas membuat Tread setoran postingan mingguan.
Selasa kedua: Berbagi tulisan tentang tema yang diberikan minggu sebelumnya. Diharapkan teman-teman saling menanggapi tulisan temannya.
Jumat kedua: Kulwap dengan penulis.
Sabtu kedua: Memilih Ketua Kelas untuk bertugas 2 minggu selanjutnya.

Bagaimana teman-teman? Yang berminat bergabung boleh join ke Facebook Group #ODOPfor99days 2017 dengan mengklik link berikut: https://www.facebook.com/groups/1188097207945578/

Terima Kasih!

“Tidak semua orang harus jadi Penulis. Tapi semua orang perlu berlatih mengungkapkan pikirannya dalam bentuk tulisan.”

Advertisements
Just Learning

Mengeluarkan Keutamaan

Beberapa hari yang lalu saya menonton kajian youtub mengenai Al Majmu, Bekal Nabi bagi Penuntut Ilmu, oleh Ust Adi Hidayat. Saya dapat linknya dari teman saya yang memang rajin mengaji, Insya Allah paham banyak ilmu agama. Nilai-nilai yang disampaikannya saya rasa sangat baik, tidak mengandung bid’ah atau membid’ahkan sesuatu. Semuanya Ia sampaikan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Wallahu a’lam. Apalah saya ini yang belajar ilmu agama bukan dari pesantren, kyai, syekh, atau ustadz langsung. Saya cuma mengambil manfaat dari yang beliau sampaikan di kajian tersebut.

Pas banget yang beliau sampaikan di kajian tersebut, mengenai pesan-pesan Rasulullah pada semua penuntut ilmu. Pas ketika saya juga mencari motivasi di balik semua kegiatan dan rutinitas saya.

Menurut petunjuk-petunjuk dari Rasulullah yang terangkum dalam hadits adalah: bila kita diminta untuk menekuni sesuatu, atau kita ingin mempraktekkan sesuatu (dalam ibadah), itu tidak langsung serta-merta dipraktekan. Tapi kita diminta untuk mengeluarkan dulu KEUTAMAAN dari aktivitas yang akan kita kerjakan. Mengapa? 1. Agar menjadi motivasi bagi kita, 2. Mengetahui janji positif yang Allah siapkan bagi hambaNya yang mengerjakannya. Continue reading “Mengeluarkan Keutamaan”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Serba-serbi Haji

Di Mana Air Zam-zam?

Ini salah satu yang bikin penasaran banyak orang karena keberadaannya. Ya, betul air zam-zam, sang mata air surga.

Kebanyakan orang yang belum pernah ke Mekah atau Madinah berpikir bahwa meminum air zam-zam di Mekah itu langsung dari sumurnya, sehingga pertanyaan yang muncul adalah:

“Jadi sumur air zamzam itu di mananya Ka’bah?”

“Kalau lagi di Madinah gak bisa menikmati air zam-zam dong, kan sumurnya hanya ada di Mekah?”

“Pasti ngantri dong ya pas mau minum air zam-zam, harus ngambil dari sumur?” –> karena yang terbayang adalah sumur dan timba seperti yang ada di desa-desa di Indonesia.

Itu juga yang saya pikirkan sebelum tiba di Madinah dan Mekah. Aslinya memang sih zaman dahulu zam-zam ini berupa sumur yang ada timbanya. Di Museum 2 mesjid (Exhibition Two Holy Mosque) ada replikanya.

sumber
sumber dari sini

Tapi kenyataannya di zaman sekarang ini:

Air zam-zam itu melimpah ruah dan mudah sekali didapatkan. Tidak perlu menimba dulu untuk mendapatkan air. Air zam-zam tersedia di sekitaran komplek Masjid Nabawi, di dalam Masjidil Haram, dan di sekitaran komplek Al Haram. Kapan saja dan berapa banyaknya mau diambil bisa saja. Continue reading “Di Mana Air Zam-zam?”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Diary Perjalanan Haji

Pengalaman Berkesan saat Haji

Jika ditanya pengalaman apa yang paling berkesan ketika haji?

Saya tidak bisa menjawab dengan hanya satu dua kalimat saja. Bisa jadi satu buku saya habiskan untuk bercerita. Saya juga tipe orang yang tidak terlalu pandai bercerita dengan lisan. Padahal banyak sekali yang ingin saya sharing. Tentu pengalaman tiap individu saat haji akan berbeda, pun pengalaman saya dan suami tidak sama meski kami sering bersama-sama ketika menjalankan ibadah haji. Spiritual dan perasaan yang tercipta hanya melibatkan makhluk tersebut dan Rabb-nya, romantis bukan?

Kalau dikupas satu-satu mungkin ini yang saya pribadi rasakan selama 3 minggu berada di Madinah dan Mekah Continue reading “Pengalaman Berkesan saat Haji”

Travelling time!

Trip to Italy? Choose the cities first

Sudah lama gak nulis tentang trip atau jalan-jalan ala Monik and Family. Masih ngutang Trip to Spain (Malaga and Granada), Trip to Bremen (yang udah ketiga kalinya saya ke sana), dan tentunya spiritual trip to Mekah dan Madinah. Deuh utangnya banyak cuy, kenapa saya anggap hutang? Karena menurut saya pengalaman tersebut harus dituliskan, supaya saya pribadi punya kenangan yang bisa dibaca dan dibuka kapan saja, ganjel aja gitu kalau ga dituliskan. Selain itu juga untuk sharing ke orang lain yang mungkin punya rencana trip yang sama dengan saya, jadi memudahkan juga toh.

Okeh, mumpung yang ini masih agak fresh, saya cicil cerita trip saya.

Jadi Trip to Italy ini adalah the first buat saya dan Runa jalan-jalan tanpa Si Ayah. Saya dan Runa “bertugas” menemani Mama dan Papa jalan-jalan ke tanah kelahiran Leonardo da Vinci tersebut, Negara di bagian Eropa Selatan. Suami memang lagi gak bisa nemenin karena cutinya udah tipis, dipakai untuk haji kemarin. Alasan lain saya mau aja berangkat gak sama suami yaa karena saya sendiri belum pernah menjejakkan kaki ke negara pizza tersebut. Yang kedua, kapan lagi ini anaknya bisa ngajak orang tua pelesir ke negara orang (yang juga belum pernah ke sana), yang katanya penuh dengan karya budaya dan berseni tinggi? Continue reading “Trip to Italy? Choose the cities first”

Catatan Haji 1437 Hijriyah, Persiapan Pra Keberangkatan

Persiapan sebelum Haji, Apa Sajakah?

Beberapa minggu menjelang berangkat haji, hari Jum’at 2 September 2016, banyak pertanyaan yang mampir pada kami,

“Moonnn, udah siap mau berangkat?”

“Udah nyiapin aja nih sebelum haji?”

Begitupun setelah kami pulang haji, hari Sabtu 24 September 2016, pertanyaan serupa ditanyakan beberapa rekan yang tertarik dan berniat haji juga dari Belanda,

“Eh jadi kalau mau berangkat haji apa aja yang harus disiapkan?”

 “Mau dong tips-tipsnya untuk berhaji?”

Berbekal dari persiapan kami sebelum berangkat dan berkaca dari pengalaman selama 3 minggu di sana, saya ingin merangkumkan hal-hal tersebut agar mudah diinformasikan kembali.

Tidak seperti jamaah haji dari Indonesia yang mungkin persiapannya sangat lengkap, mulai dari kain ihram dan mukena bahkan seragam batik disediakan. Pasti dari agen hajinya sudah diberikan list apa saja yang harus dibawa, pengalaman mereka tentu sudah banyak. Kami yang berangkat dari Belanda tidak diberi perbekalan khusus, semua harus kami cari sediakan sendiri dan cari tahu sendiri, termasuk barang apa saja yang harus dibawa. Terlebih lagi tidak semua barang mudah didapatkan di Belanda (dan tidak murah). Saya sendiri satu bulan sebelum berangkat haji sempat pulang ke Indonesia untuk mengantar Runa. Untunglah kesempatan tersebut sekalian saya gunakan untuk membeli barang-barang perlengkapan haji, di Pasar Baru Bandung lantai 4 banyak toko yang menjual perlengkapan haji, lengkap dan cukup murah. Continue reading “Persiapan sebelum Haji, Apa Sajakah?”

Berhaji dari Belanda, Catatan Haji 1437 Hijriyah

Berhaji dari Belanda, Kenapa Tidak?

Fajar dan Monik pergi haji dari Belanda pakai paspor apa?” Begitu pertanyaan yang terlontar dari Ibu di beberapa minggu sebelum kami berangkat haji.

Ya, pakai paspor Indonesia, Bu. Kita belom ganti kewarganegaraan kok, hehe..” Canda suami menjawab pertanyaan ibu.

Belakangan saya baru sadar, oh Ibu bertanya seperti itu bukan tanpa sebab. Ternyata ada kasus bahwa sekian ratus jemaah haji asal Indonesia berangkat dari Filipina, menggunakan paspor palsu. Apakah mereka ditipu oleh agen atau memang mereka mengambil risiko berangkat dengan “mengambil” kuota Filipina saya juga tidak membaca beritanya lebih lanjut. Yang pasti mereka dijanjikan untuk berangkat haji pada tahun itu juga setelah mendaftar melalui agen tersebut.

Mungkin Ibu saya agak cemas, apakah kami menggunakan “jalan pintas” untuk berangkat haji. Lha iya, kok bisa berangkat haji di tahun itu juga, padahal kami baru mendaftar sebelum bulan Ramadhan, sekitar tiga bulan sebelumnya. Di Indonesia saja jika ingin berangkat haji tahun depan, paling kurang tahun ini harus mendaftar, itupun dengan biaya yang cukup mahal, ikut ONH plus plus plus. Continue reading “Berhaji dari Belanda, Kenapa Tidak?”