Akhirnya selesai! Tapi…

Alhamdulillah Oktober 2016 lalu akhirnya saya bisa menyelesaikan studi master saya di University of Groningen. Syukur tidak ada habisnya perjuangan selama dua tahun menempuh perkuliahan, research, dan tesis akhirnya berakhir juga.

Eh, tapi benarkah berakhir begitu saja?

Bukankah hidup itu adalah perjalanan menempuh tujuan yang tidak ada habisnya? Tentu akan berakhir di ujung usia kita. Manusia akan “hidup” jika memiliki tujuan, apapun itu. Selama masih diberi umur oleh Allah, manusia akan selalu berusaha untuk menempuh hari-harinya. Hingga suatu saat akan terasa hasil dari yang diusahakannya.

Jika saya kilas balik dua tahun kemarin. Bisa dibilang itu adalah dua tahun yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Banyak tantangan, ada kesulitan, ada jatuh bangun. Tapi Alhamdulillah banyak juga senyum bahagia di sana.

Menjadi Student Mom

Continue reading

Advertisements

We Can’t (and Never) Satisfy Everybody

Kisah ini udah sering banget saya denger. Tiap denger lagi kisahnya selalu jadi pengingat buat saya karena memang cerita kayak gini sering banget kejadian, sama saya, sama sahabat saya, sama orang-orang di sekitar saya. Mungkin kamu juga udah sering denger. Kisah ini dari Luqmanul hakim, seseorang yang memiliki kisah hidup penuh dengan hikmah. Namanya bahkan menjadi nama salah satu surat di dalam AlQuran. Cerita ini mengenai Luqman, anaknya dan seekor keledai.

Pada suatu ketika Luqman melakukan perjalanan bersama anaknya. Luqman menaiki seekor keledai dan anaknya mengikuti dengan berjalan kaki. Ketika mereka bertemu dengan orang lain dalam perjalanan, orang itu pun berkata, “Lihatlah orang tua itu, tidak punya perasaan. Ia menaiki keledai sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki”.

Mendengar hal tersebut, kemudian Luqman turun dari keledainya dan menyuruh anaknya untuk menaikinya. Beberapa waktu kemudian mereka kembali bertemu orang, mereka berkata,”Lihatlah anak itu, kurang ajar sekali. Ia enak-enak naik keledai, sedangkan bapaknya dibiarkan berjalan kaki”.

Terkejut dengan perkataan orang, kemudian Luqman menyuruh anaknya menaiki keledai bersamanya. Kemudian mereka bertemu lagi dengan oranglain, yang berkata, “Kejam sekali mereka, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang”.

Sekali lagi mereka merubah posisi, sekarang keduanya berjalan di samping si keledai. Setelah beberapa saat, mereka kembali bertemu seseorang, “Betapa bodohnya mereka, punya keledai tapi tidak dinaiki”.

Continue reading

Pilihan

Dalam hidup pasti kita selau dihadapkan dalam pilihan. Waktu kita masih kecil sih pasti setiap pilihan kita yang nentuin ortu, mulai dari makan, baju, sekolah, dll. Tapi seiring kita beranjak dewasa, pasti kita harus memutuskan pilihan dalam hidup sesuai keputusan kita sendiri. We live by our own decision. Orang tua dan sahabat boleh ngasih masukan, tapi tentunya pilihan akhir ada di tangan kita.

Dalam hidup saya, saya juga selalu dihadapkan dalam pilihan-pilihan. Saya lupa kapan saya mulai mandiri untuk memutuskan sendiri segala sesuatunya. Yang pasti, saya ini terlalu banyak pertimbangan, nanya sana-sini, lihat ini-itu, memikirkan pendapat orang lain juga, dan akhirnya kadang saya menjalani pilihan yang orang lain sarankan untuk saya, bukan murni kata hati saya. Saya sendiri suka bingung, kata hati saya apaah yaa? heuehuehu..

Bahkan pilihan untuk kuliah di Farmasi ITB pun adalah saran dari orang tua, tante, dan lain-lain. Saat itu saya memikirkan yang orang bilang untuk saya ini pasti yang terbaik, tanpa memikirkan apa yang saya mau untuk ke depannya mungkin lebih baik. Kecondongan saya dulu adalah kuliah di Psikologi Unpad dan saya sudah diterima di sana, tapi itu tadi.. saya tidak merenungkan pilihan itu dan mengindahkan suara hati terdalam saya (kamana atuh suara hati terdalaaam :P), pokonya yang penting ITB. Bukan, bukan saya menyesal sudah kuliah 4 tahun di Farmasi dan 1 tahun Apoteker.. tentu tidak, Alhamdulillah.. kalau saya gak memilih di sana, I would’t meet my lovely friends FKK, dan belum tentu hubungan LDR saya bisa selamat sampai pernikahan, hehe. Yah who knows.. berarti, pilihan itu sudah yang terbaik Insya Allah.

Balik lagi ke soal pilihan. Setelah lulus, banyaaaaak banget pilihan jalan hidup terbentang buat saya, saya sebenarnya memilih untuk S2 abroad, hahaha.. apa daya belum dikasih, jadi saya dipilihkan oleh Allah untuk cari pengalaman dengan bekerja dulu. Sempet kerja di dua perusahaan berbeda selama setaun ini, dan kemudian hamil, saya dihadapkan dengan pilihan lagi: Lanjut kerja atau engga.

Banyak orang menyarankan: lanjutin ajalah kerja, sayang gelarnya ga kepake atau di Badan P*M udah bagus lho, prospek kerjanya untuk farmasi bagus dan jadi PNS cocok untuk perempuan atau jadi perempuan harus mandiri, walaupun suami bekerja dan penghasilannya mencukupi tapi perempuan juga harus bisa berdiri sendiri atau dll.

Yaaa.. sebagai orang peragu dan penuh pertimbangan, saran tsb masuk ke pikiran saya dan bikin saya banyak mikirrr.. aazzzzzzZZzzzZZzz.. tapi akhirnya ya. I decided to be a full time mother. Setidaknya untuk sampai 3-6 bulan ini. Cabut deh saya dari Badan P*M, no matter what how many people wants the position in that place, yasuwalah.. rezeki mah ga kemana.

Si ayah sendiri sebenernya seneng liat saya kerja *bukan karena bisa nambah pemasukan juga, teu ngaruh oge jigana mah gaji eike dalam menambah neraca pemasukan keluarga. Eh lumayan ding buat jajan daku pribadi mah, meuli buku cerita, cemilan, sampe daleman mah, hahaha*. Tapi si ayah tau, bundanya ini ga biasa ngajentung di rumah, biasa aktif dan sibuk *hazekk*. Dia mikir bunda juga perlu mengembangkan dirinya dengan aktivitas yang mengasah kemampuan (mungkin juga karena ibu mertua yang dari sejak si ayah kecil sibuk ngajar). Terbukti sih, pas udah resign emang aktivitas aku kebanyakan maen hape dan tidur.. –trus aku dikritik ayah,heu– padahal banyaaak kegiatan bermanfaat yang bisa dikerjain seperti nulis kaya gini, punya banyak waktu luang emang berbahaya.

Oke, let’s see in these 3-6 months, what choices that left for me? I’m sure that Allah has set the best path for me. Dan semoga saya ga jadi manusia peragu lagi, loba mikir. Inget kata si Barney ke Ted (kurang lebih begini, lupa tepatnya): Ted, all you’re just doing is think, think, and think. Instead of it, you just have to do, do, and do.