Being Indonesian in the Netherlands

Catatan Ramadhan (2) – yang tertunda

Note: Postingan ini berakhir di draft. Tapi sayang dibuang.. Ya udah diselesaikan saja yang sudah dimulai. Sekalian sebagai perekam jejak saya di Ramadhan 2016 kemarin.

Minggu pertama Ramadhan meskipun puasa 19 jam tapi terasa lebih mudah dijalani daripada tahun kemarin. Karena kangen suasana Ramadhan dan masakan di Indonesia, saya mencoba menelurkan beberapa karya yang cukup niat di dapur. Semuanya kebanyakan masakan Padang dan resep Mama, hoho. Ini contohnya:

Karya di Dapur

1. Roti srikaya – ta’jil favorit orang rumah di kopo. Itu berupa roti tawar yang disiram kuah srikaya. Resepnya cuma bikin kuahnya aja kok. Rasanya yang manis cocok untuk berbuka

Bahan: gula merah, kayu manis, telur, santan, daun pandan, garam

Cara membuat: Gula merah direbus dengan air, tambahkan santan, biarkan mendidik. Kocok telur, tuangan sedikit demi sedikit ke rebusan gula merah, aduk-aduk. Tambahkan daun pandan dan serutan kayu manis (sekalian masukan juga kayu manisnya). Tambahkan garam secukupnya. Koreksi rasa. Continue reading “Catatan Ramadhan (2) – yang tertunda”

Being Indonesian in the Netherlands, Pharmacisthings

Ramadhan tahun kedua di Groningen

Alhamdulillah bisa ketemu Bulan Ramadhan lagi, bulan mulia, bulan di mana setan-setan dibelenggu dan dilipatgandakannya pahala.

Ini puasa ke-2 saya dan Runa di Belanda. Ramadhan kali ini bertepatan dengan musim panas yang mana siangnya lebih puanjaangg. Dulu pas pertama kali menjalani puasa di sini saya agak khawatir, bisa gak yaa puasa 19-20 jam? Tapi ternyata sebulan itu terlewati juga dengan baik, bolongnya puasa hanya karena lagi ada tamu bulanan aja. Tahun ini? Saya merasa lebih santai.. Yowes jalani saja, pasti selalu ada hikmahnya, disyukuri. Meskipun tetap kangen dengan suasana Ramadhan di Indonesia, ada tarawih di mesjid deket rumah, kalau nunggu buka sambil denger kultum di tv, penjual ta’jil yang melimpah di mana-mana, sampai masakan mama yang lezat. Di sini harus masak-masak sendiri, hiks… *salim sama tukang nasi goreng tektek dan tukang martabak keju* Continue reading “Ramadhan tahun kedua di Groningen”

Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa

Catatan Ramadhan 1436: Menjadi Jiwa yang Pemaaf

Alhamdulillah ini adalah Ramadhan pertama saya di Belanda, pertama jauh dari keluarga besar, pertama puasa 19 jam di summer, pertama ga makan masakan khas mama. Antara rada sedih dan excited. Sedih karena ga bisa kumpul sama mama, papa, kakak, adek, ibu, bapak, dan tante-om semua, terutama nanti kalau lebaran (karena ga ada rencana pulang kampung juga sih pas lebaran), sedih karena ga bisa nyicipin makanan pembuka khas Indonesia (kok malah makanannn). Excited juga merasakan tantangan shaum di negara yang mayoritas non-muslim dan tantangan puasa yang leeeubih puanjangggg. Katanya sih selama 35 tahun di Belanda, summer ini adalah yang terpanjang, yang mana juga membuat maghrib datang lebih lambat, huhuks.. Saat orang-orang bule sini udah mulai bergelimpangan di taman-taman kota pakai bikini en makan eskrim, kita pengen ngadem aje di rumah sambil selimutan, haha.

Continue reading “Catatan Ramadhan 1436: Menjadi Jiwa yang Pemaaf”