Travelling time!

Trip to Innsbruck: The Capital City of Alpen

Halo! Menyambung postingan dari Trip Austria sebelumnya nih, wadoh telat banget ya.. Gak papa lah ya. Yang penting ditulis juga walaupun udah agak lama, hehe. Day 1 sampai Day 4, kami sudah memutari Salzburg dan Hallstatt. Di Day 4, sore hari dari Hallstatt, kami melanjutkan perjalanan menuju Innsbruck dengan kereta. Perjalanan dari Hallstatt ke Innsbruck sekitar 4.5 jam.

Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan berupa bukit, gunung, pohon, banyak yang hijau-hijau dan segar. Bikin mata jadi terasa sehat. Kan katanya menyejukkan mata dan menenangkan. Runa sampai berdendang lagu favoritnya, Pemandangan, dan liriknya sudah sesuai sama pemandangan aslinya. Memang Innsbruck ini terletak di persimpangan perbukitan Valley, yang terbentang antara Muncih (Jerman) dan Verona (Italia).

Pemandangan di kereta sepanjang Hallstatt-Innsbruck
Pemandangan di kereta sepanjang Hallstatt-Innsbruck

Continue reading “Trip to Innsbruck: The Capital City of Alpen”

Advertisements
Journey, Just Learning, Love..

Kebodohan Derajat 1: Unforgivable, but must forgotten

Pengen ga pengen nyeritain ini, tetapi didorong oleh rasa kemanusiaan dan sosial yang tinggi, saya akan menuangkan kisah ini di blog saya. Sebagai pengingat, suatu hari bisa ditertawakan, tapi ga perlu disesalkan..

Judulnya adalah the worst trip to Bandung ever!!!!

It was a looooongg and never ending nightmare for me.

Bermula dari sabtu ceria di Jakarta, saya sudah menunggu-nunggu kedatangan hari Sabtu karena saya bakal mudik ke kota yang telah membesarkan saya, Bandung. Terlebih lagi Sabtu sore ada acara kumpul-kumpul FKKers 06, farewell party tetuanya anak FKK, Ilman a.ka Omkong.. karena dia mau ke Jepang minggu depan dalam rangka jadi TKI bergengsi. Minggunya pun udah ada jadwal ke acara farmadays HMF Ars Praeparandi, ceritanya nih eike diundang jadi juri PCE (Patient Counseling Event) *ga kerasa dulu jadi peserta, sekarang diminta jadi juri*. Intinya in that time I was so excited waiting for 12.30 teng, untuk segera go kejar bus pulaaaaang! Continue reading “Kebodohan Derajat 1: Unforgivable, but must forgotten”