Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, Mommy's Abroad, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Menarik dari Pendidikan Anak di Belanda – mengenai stimulus membaca

Walaupun sudah sering saya sharing tentang ini baik di post IG, live IG, sesi kuliah whatsapp, dll, gak apa-apa yaa saya tulis lagi. Soalnya pertanyaan mengenai membaca ini juga terus-menerus muncul.

Ada yang namanya nilai PISA atau Programme for International Student Assessment dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), yaitu penilaian untuk mengevaluasi sistem pendidikan suatu negara dengan mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam sains, matematika, dan membaca. Skor PISA Belanda di tahun 2018 untuk reading literacy mencapai 485 poin dari rata-rata 487 poin dalam negara-negara OECD. Sebuah skor yang cukup tinggi.

Apa yang bisa membuat reading literacy anak-anak Belanda memiliki skor yang tinggi? Kalau saya perhatikan, hal ini datang dengan cara menstimulus anak sejak dini untuk menyukai dunia literasi, di antaranya:

  1. Anak diajak mencintai buku
  2. Fasilitas, sarana dan prasarana yang niat dari pemerintah
  3. Melibatkan orang tua dan komunitas dalam menumbuhkan kecintaan pada dunia literasi
Continue reading “Yang Menarik dari Pendidikan Anak di Belanda – mengenai stimulus membaca”
Groningen's Corner

Nationale Voorleesdagen (National Reading Days)

Couple weeks ago, I received an email from Runa’s school. The title of the email is Informatie ouders Nationale Voorleesdagen SKSG Vuurtoren. The email of course in Dutch, heu. What was the email about?

Turned out that the school informed the parents about the National Reading Days (27 January – 6 February). They also told us the prentenboek van het jaar 2016 was: We Hebben we een Geitje bij!

Prentenboek (google translate: picture book) is a children book where text and illustrations complement each other and together tell a story. Usually the story is not too long, it has few text, also interesting pictures! This educational book intended to educate children. So, children can learn to read themselves or parents can read along with their children. The story in it has a positive purpose, bring satisfaction to the reader, or in short, a happy ending story.

Actually, not only the school that promote about the Nationale Voorleesdagen, but also kinder en jeugd centrum (posyandu), Het Dok (semacam kantor kecamatan), library, also book store, etc.  I also saw the commercial about the reading days and the prentenboek there.  Continue reading “Nationale Voorleesdagen (National Reading Days)”

Cerita Runa, Just Learning, Motherhood

Kapan Mengajak Anak Membaca Buku?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul di forum ibu-ibu adalah, “Kapan sih ngajak anak membaca buku?”

Mungkin karena kepikirannya, emang anak umur kurang dari satu tahun udah ngerti? emang anak bakal tertarik? wong kita aja udah gede gini males buka buku ya kan, apalagi baca buku pelajaran, hihi.. Atau mungkin juga kerasanya sayang kalau beli buku pas anak masih bayi, nanti malah gak kepake juga.

Saya sendiri dulu pas hamil dan baru punya anak sebenarnya ga terlalu kepikiran kapan ngajak anak baca buku. Hanya pas hamil saya seneng beli buku anak-anak, hehe.. Saya beli buku dongeng anak sebelum tidur dan saya iseng bacain bukunya keras-keras ke perut, berharap si janin juga denger. Saya juga beli buku untuk saya sendiri sih, dulu saya paling seneng ke Gramedia (deket juga sih sama apato yang di Bekasi), jadi me time saya adalah baca buku, apalagi semenjak saya resign yaa.. hiburannya kalo ga dari tv dari buku.

Pengalaman saya waktu kecil juga saya gak inget apakah mama dan papa sering mengajak saya untuk baca buku. Tapi yang pasti saya inget, saya punya banyaaaaak sekali koleksi buku. Mulai dari buku dongeng anak-anak, buku cerita nabi, buku cerita rakyat, novel-novel Enid Blyton, Lupus, Goosebumps, novel islami, komik-komik segala rupa, buku WWP (yang ensiklopedi itu lho), sampai langganan majalah bobo, yang kemudian majalah tersebut dibundel jadi buku gede saking banyaknya dan sayang kan kalo hilang/rusak/berceceran. Saya gak kehabisan buku untuk baca deh. Berarti saya akui mama dan papa lumayan royal untuk soal buku. Saya inget juga dulu setiap dapet THR lebaran pasti kita belanjain uangnya untuk beli buku (yaa.. selain beli mainan dan jajan sih), tapi rasanya tuh puas banget kalau bisa beli buku pake uang sendiri. Akhirnya semakin banyak koleksi buku kita, mama dan papa bikin lemari guede di lantai atas untuk nyimpen semua buku, ceritanya jadi perpustakaan, namanya “Rinnik” (dari moRIN dan moNIK). Continue reading “Kapan Mengajak Anak Membaca Buku?”