review buku

Review buku Deep Work – Cal Newport

Buku pertama yang saya selesaikan di 2021. Saya sebenarnya gak banyak baca buku self-development, tapi di satu titik, saya rasa saya perlu ilmu untuk bisa bekerja lebih efektif. Terlebih lagi di dunia yang saat ini penuh distraksi: revolusi digital network, arus informasi yang deras (entah benar atau hoax), dan tentunya godaan sosial media.

Buku ini mengupas secara gamblang kunci untuk bisa bekerja fokus dengan efektif dan efisien, tanpa tekanan, dengan hasil yang luar biasa. Di bagian satu, Newport menceritakan hipotesis dari deep work, mengapa deep work itu jarang tetapi sangat berharga. Apalagi di tengah persaingan ekonomi global yang kompetitif. Kasarnya mah kalau kita gak punya ‘skill mumpuni’ ya kita bakal digantikan aja sama mesin/komputer, kan sekarang zamannya artificial intelligence ya. Di bagian dua, penulis memberikan langkah-langkah untuk melatih deep work, bagaimana work habits yg mendukung, serta mengoptimalkan waktu dan potensi diri untuk kehidupan profesional kita.

Profesi seperti apa yang akan masih terpakai dan kompetitif di era ekonomi ini? Yang pertama adalah the high-skilled workers. Yaitu mereka yang memiliki kemampuan spesifik dengan output kerja yang valuable. Mereka yang pekerjaannya tidak bisa digantikan oleh fungsi mesin/komputer, tetapi mereka yang mengendalikannya. Misal orang-orang yang bekerja di bidang aritificial intellegent, data visualization, high speed communication, etc. (yang demand-nya tinggi ya sekarang ini) Atau mereka yang bekerja sampai meraih pendidikan spesifik di jenjang PhD. Kelompok kedua adalah the superstars. Yaitu mereka yang kemampuannya terbaik di bidangnya. Misal kamu adalah dokter, maka kamu harus menjadi dokter yang terbaik di antara dokter lainnya. Kamu adalah guru, programmer, koki, pemusik. Banyak orang dengan profesi seperti itu, tetapi jika kamu outstanding di bidangmu, maka kamu akan tetap terpakai. Yang ketiga adalah the owners. Jika kamu bukan ahli di bidangmu atau menjadi yang terbaik, maka kamu bisa menjadi orang yang punya kapital besar untuk menjalankan bisnis. Mereka yang berinvestasi dalam pengembangan ekonomi dan kemudian memperluas lapangan kerja.

Dalam buku Deep Work ini, bahasan akan fokus pada grup pertama dan kedua. Sebab kedua grup itu yang masih bisa dikejar dengan metode deep work. Kecuali kamu turunan orang kaya-berpunya kapital, maka yaa.. lanjutlah untuk di grup ketiga.

Oke, bagi saya pribadi, saya bisa mengejar grup kedua dan ketiga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan S3 yang cukup spesifik, ya, diharapkan bisa menjadi ahli di bidangnya. Atau jika saya gak berkembang di sana, saya ingin menjadi yang terbaik, apapun profesi saya kelak. Metode Deep work dijelaskan lebih detail di The Rules. Apa saja rulesnya:

  1. Work deeply; fokus, definisikan goal yang paling utama, dan ukur bagaimana menempuh tujuan tersebut, disiplin.
  2. Embrace boredom; konsentrasi pada pekerjaan yang ada, jangan biasakan pindah-pindah kegiatan dalam satu waktu kerja, nanti akan ada residual yang terbawa. Hindari distraksi.
  3. Quit social media; sudah jelas sih ini mah, sumber distraksi terbesar di zaman sekarang haha.
  4. Drain the shallows; pekerjaan itu ada yang shallows ada yang butuh deep. Kalau lagi punya target untuk deep work, eliminasi pekerjaan-pekerjaan “ringan”, seperti membalas email, browsing, atau pekeraan “spontan” lain yang gak berhubungan dengan goal utama kita.

Yang bisa saya rangkum singkat, kalau mau berhasil, kuncinya mah dua aja, gak muluk:

1. Komitmen dan khusyuk;

2. Berusaha mengivestasikan waktu dan tenaga dengan bijak.

Itu juga sudah disebutkan di Al Qur’an jauh sebelum ada era digital ini. Training untuk khusyuk udah 5x sehari melalui salat. Investasi waktu? Semua pasti udah pada hafal surat Al Ashr, demi masa … Harusnya mah deep work gini bukan urusan sulit buat para muslim (yang benar-benar bisa mengimplementasikan isi Al Qur’an). Bismillah, semoga dimudahkan!

Matur nuwun Mas @ario_muhammad87 yang sudah merekomendasikan buku ini.

Nb: Setelah baca buku ini, saya jadi tertantang nih untuk bisa kerja produktif dan menyingkirkan distraksi yang gak relevan sama pekerjaan dan tujuan saya. Apakah tantangannya: Saya mau log off dulu dari IG dan FB. Sampai kapan? Mau saya coba sampai buku Groningen Mom’s Journal 2 terbit. Bismillah. Eh iya, di buku ini sebenernya penulis bilang, kalau mau log off sosmed jangan pengumuman, tapi untuk kalian pembaca mah saya bisikin aja, hehe. Kali aja ada yang mau ikutan tantangan ini.