Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Journal

Momen yang Paling Membuat Rindu Kampung Halaman


Untuk perantau, rindu kampung halaman itu selalu. Tapi perasaan bisa naik turun. Kadang kalau lagi semangat dan imannya tebal, perasaan rindu itu dijadikan kekuatan untuk mengisi hidup lebih bermanfaat dan produktif. Kadang kalau lagi mellow dan ada masalah, keinget kampung halaman, hati jadi terasa pedih. Pengen pulang kepikirannya, dan jadi gak semangat.

Kadang saya suka track back, di bagian decision manakah yang membuat keluarga kami jadi bisa sekian lamanya tinggal di Groningen? Karena rasanya cuma dijalani, terus baru sadar, eh udah hampir sembilan tahun aja. Apakah semuanya akan berbeda ketika kami memutuskan untuk pulang for good? Misal setelah saya lulus S2. Atau sebelum saya berniat S3?

Ketika sudah selesai S3, sudah berlalu lagi lima tahun. Rasanya makin sedikit ruang untuk memutuskan “tiba-tiba” pulang for good. But, I do think, at some point we have to decide, to stay (for how long) or to go home.

Ada tiga momen yang bisa membuat saya dan para perantau lain merasakan beratnya tinggal jauh dari keluarga dan kampung halaman, dan yang membuat rinduuu.

1. Ketika winter

Aura winter itu emang lain sih, gloomy, mendung, hujan, dingiiiin (yang pasti tentunya), bikin badan juga mager, kadang mudah sakit, pengennya kruntelan aja, dan porsi gelapnya lebih banyak. Tentu beda sama Indonesia yang selalu seimbang antara terang dan gelapnya, siang dan malamnya, waktu solat yang tidak banyak bergeser. Belum lagi cuaca di Indonesia yang tidak berubah-ubah secara drastis.

Ketika winter tiba, pasti ada aja momen yang bikin mellow, dan jadi rindu berat kampung halaman. Entah mungkin ada dorongan winter blues juga (padahal eike juga sebelumnya gak kenal tu yang namanya winter blues, is that even exist?).

2. Ketika Ramadan

Ini sih udah pasti. Aura dan suasana yang berbeda hype-nya gak sedapet kayak Ramadan di Indonesia. Semua rasanya biasa aja. Yang bikin jadi lumayan berbeda tentunya keberadaan komunitas muslim yang ada di daerah masing-masing. Itu juga kalau pada aktif yah. Kalau di Indonesia, rasanya kita mah gak effort banget menyambut bulan Ramadan, pasti kerasa excited-nya. Kalau di Belanda, ya kita sendiri yang harus memeriahkan Ramadan ini, terutama untuk anak-anak ya. Biar mereka tu gak ngerasa hari raya dan seneng-seneng itu pas Natal. Padahal pas Natal kita malah ga ngapa-ngapain. Jadi hampir tiap tahun, kami sekeluarga berusaha menyusun agenda Ramadan biar meriah.

Pas Idul Fitri tiba, jangan ditanya gimana rindunya pingin berkumpul sama keluarga, solat id bareng, ngumpul bareng, makan bareng, silaturahmi ngider ke mana-mana, atau bahkan momen pulang kampung ke rumah nenek/kakek. Di sini Alhamdulillahnya sih komuntas muslim banyak, jadi gak sepi banget. Walaupun tetap momen sama keluarga gak tergantikan.

3. Ketika sakit

Duh ini berat. Makanya mending Dilan aja yang sakit (naon deui, haha). Sakit di negeri orang itu gak enak, serba salah. Kalau dalam satu keluarga ada yang sakit, pasti semua anggota keluarga bakal sibuk ngurusin yang sakit. Gak bisa bergantung pada pertolongan keluarga, bibik, saudara, gofood, dll. Harus mandiri, harus kuat. Meski komunitas Indonesia di Groningen (dan Belanda umumnya) lumayan kuat, jadi sering bahu-membahu, tapi kita juga sadar, mereka juga di sini punya keluarga dan diri yang harus diurusi, gak bisa kita bergantung terus. Emergency net di sini emang terbatas.

Mungkin yang positifnya adalah, orang Londo malah pengertian banget kalau kita atau anggota keluarga sakit. Gak ada yang julid tuh, dan tetap memaksa kita untuk kerja. Gak pakai surat dokter segala untuk membuktikan kita gak masuk kerja karena sakit. Bahkan gak kehitung cuti, ya itungannya sakit aja. Coba kalau di Indonesia, waduh kadang bos-bos dan perusahaan suka gak berperasaan sama keluarga yang sedang diuji sakit/kesulitan (Ini saya dengar dari teman, waktu anaknya sakit dirawat di RS, dia masih harus bawa-bawa laptop dan kerjaan ke RS sambil nungguin anaknya). Ya, meski ada bantuan nenek/kakek/bibik tapi kan tetap aja ortunya harus yang utama jagain anaknya.

Nah gitu aja curcolan singkat saya kali ini.

Semoga rindu yang tersimpan ini senantiasa terkirim dalam bentuk doa… doa yang terbaik. Allah Maha Mengerti hambaNya, aamiin.

Leave a comment