Catatan Hati

Titipkan pada Allah

Titipkan pada Allah❤️

Seringkali kita dihinggapi rasa khawatir mengenai urusan dunia. Bagaimana pekerjaan kita, kuliah kita, materi kita, bahkan sampai ke urusan anak. Bagaimana nanti anak-anak kita? Urusan jasmaninya, pendidikannya, hingga masa depannya. Maka di dunia barat muncul paham kalau anak itu adalah beban, ada tanggung jawab yang besar di sana. Seperti yang sedang hangat diperbincangkan tentang ribetnya mengurus anak. Apalagi sekarang booming childfree, dengan alasan dan latar belakang yang bermacam-macam disertai pro dan kontra.

Untuk saya dan suami, pernah terpikir ada rasa berat. Betul mendidik anak dan membesarkan anak itu berat, bukan hanya urusan materi dan jasmani dong ya. Terlebih urusan rohaninya. Apalagi saat ini kami bermukin di Belanda. Makin galau, gimana bisa mendidik anak-anak di lingkungan minoritas Islam? Sampai ada nasihat seorang Ustadz menampar kami.

Alangkah angkuhnya manusia. Merasa bahwa ia bisa menyelesaikan urusannya dengan kemampuannya. Anak-anak ini milik Allah, Allah yang akan menjaganya. Bukan dari usaha kita, bukan dari kekuatan kita, anak-anak ini bisa jadi manusia yang berhasil di dunia dan di akhirat, tetapi dari jalannya Allah. Kita cuma perlu berserah aja dan berdoa, gak usah pake ribet deh, titipkan semuanya. Kenapa kita selalu merasa mampu untuk mengatur hidup kita, ini dan itu. Mengapa kita selalu merasa hebat, saya memiliki keputusan ini dan itu. Seolah di tangan kitalah semuanya akan berjalan. Memang kita ini siapa? Di dunia aja cuma numpang.

Alangkah lemahnya manusia. Merasa tahu mau melakukan apa-apa, merasa mengerti, padahal tak ada satupun hal yang kita mampu dan ketahui tanpa bimbingan Allah SWT. Manusia ini, dicabut saja satu kenikmatannya, sudah kalang kabut paniknya. Manusia ini, diberikan saja ujian kecil, rasanya dunia sudah terbalik-balik. Jiwa ini milik Allah, maka Allah-lah yang menyelesaikan semua urusan kita. Coba saja jika Allah memberikan kita kuasa sedikit saja untuk menjalankan hidup kita, dijamin kita tidak mampu, saking lemahnya manusia (Seperti doa di bawah ini).

Maka berdoalah.
Seperti nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah RA untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang. Sebuah nasihat indah yang membuat saya tertegun.

“Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” (HR Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim).
.

Catatan Hati

Break setelah Keramaian

Setelah banyak ketemu orang, berinteraksi dengan orang, ada kalanya saya butuh waktu untuk sendiri. Ketika ada banyak orang, kadang pikiran saya gak bisa berpikir jernih. Ngobrol ya ngobrol aja, ngomong, basa-basi, cerita, berkabar. Sampai di satu titik saya merasa, berinteraksi dengan orang (tertentu) itu butuh effort yah.

Suami berkerenyit mendengar statement saya, “Anda repot banget jadi orang?” Masa ketemu dan ngobrol sama orang aja butuh effort? Untuk Suami, Si tipe koleris-sanguinis, yang dengan gampang membaur dan supel, tentu itu hal aneh. Tapi berhubung kami sudah 10 tahun bersama dalam pernikahan, jadi dia ngerti aja maksud saya gimana.

Continue reading “Break setelah Keramaian”
Catatan Hati

So Long, Bob …

Pria Belanda itu, seperti orang Belanda pada umumnya, tinggi menjulang. Hanya yang membuatnya lebih berkesan adalah, ia senang sekali tersenyum, dan ramah.

Sedih sekali saya mendengar kabar kalau ia sudah pergi. Bob Wilffert namanya. Profesor di bidang pharmacogenetic dan clinical pharmacology, University of Groningen. Pernah jadi kepala Dept. Clinical Pharmacy and Pharmacology. Tapi lebih dari itu, dialah supervisor pertama untuk studi saya di Belanda.

Tahun pertama saya jadi mahasiswa master di Groningen. Cupu sekali, buta riset, bahasa Inggris masih belepotan, grogian sangat. Memang jalan dari Allah untuk menggerakkan saya mengontak Bob Wilffert untuk menjadi supervisor riset pertama saya. Qadarullah ia membalas email saya dengan cepat. Darinya pula, saya dikenalkan dengan Kak Aizati, PhD student asal Malaysia yang sedang menjalani tahun kedua studinya di Groningen. Bob adalah promotor Aizati, ia menugaskan Aizati untuk jadi daily supervisor saya. Dua orang dengan kombinasi baik, yang membuat saya gak kapok untuk menjalani riset.

“Selamat pagi!”, “Selamat siang!”, “Selamat sore!”, begitu ia mencoba menyapa mahasiswanya yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Setiap saya berpapasan dengannya, ia akan berhenti sebentar untuk berpikir sebelum menyapa dengan pagi/siang/sore. Lama-kelamaan ia pun hapal sendiri. Lebih fasih daripada saya mencoba menyapanya dengan “goede morgen/middag”.

Saya yakin setiap orang pasti pernah mengalami “jinx” saat presentasi di depan publik. Entah itu lupa materi yang disampaikan, salah ucap, gemetaran, grogian, gak bisa jawab pertanyaan audience, dll. Nasib saya mengalaminya di presentasi pertama saya saat kuliah master. Saya harus menyampaikan presentasi awalan untuk riset saya di hadapan student master dan PhD di departemen tempat saya melaksanakan riset. Isinya mengenai background studi, metode, dan planning untuk melaksanakan riset. Saya udah siap-siap dan latihan dong. Slides ppt juga sudah saya kirim ke Kak Aizati dan Bob.

Continue reading “So Long, Bob …”
Catatan Hati

Buat Apa Kita Khawatir?

Namanya manusia ya, pikirannya galau wae. Khawatir aja. Gimana kalau gini, gimana kalau gitu. Kalau nanti gagal, kalau nanti susah, kalau hasilnya jelek, kalau tak sesuai harapan, kalau ada kesulitan, dan kalau kalau kalauuu terus.

Untung Allah Maha Baik ya, biarpun manusianya kayak saya yang rese’, banyak ngeluh dan khawatiran, tapi Allah gak pernah moody dan capek dengerin makhlukNya. Allah gak pernah bilang, pikir ndiri. Pasti Allah akan tetap membimbing kita. Masalahnya ini saya si makhluk bebal ini, sabar gak sih untuk meraih bimbingan Allah.

Allah itu punya sistem yang canggih. Lebih canggih daripada sistem tercanggih di dunia ini. Lebih canggih daripada SolarCity and Tesla Energy rancangan Elon Musk. Lebih super canggih daripada artificial intelligence yang sekarang dielu-elukan. Lebih super advanced daripada speech and handwriting recognition, virtual reality and 3D visualization, smart cards, real-time collaboration, enhanced user authentication, data mining, etc, etc.….. Sedangkan masih ada eror ditemukan di sistem canggih tersebut

Sistem Allah yang dijelaskan juga di surat Al-Mulk. Coba lihat memangnya ada yang kurang, ada yang cacat dari semua yang Allah ciptakan, Allah jadikan, Allah gariskan? Enggak adaaaa…

Continue reading “Buat Apa Kita Khawatir?”
Catatan Hati

Apakah Saya Disayang Allah?

Saat pandemi ini, banyak sekali saudara-saudara kita di Indonesia ditimpa banyak ujian, musibah, kehilangan, kesakitan, dan segala rupa. Saya dan keluarga suami pun mengalaminya. Banyak kisah sedih dan tragis membuat saya ikut merasa merana, membayangkan betapa pedih rasa kehilangan, dan betapa berat ujian yang harus dihadapi orang tersebut.

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Al Quran Surat Al Baqarah ayat 155-157

Di sela-sela rasa duka yang saya rasakan. Terselip sebuah tanya: Allah menyayangi hambaNya dengan memberikan ujian2 berupa kesulitan, materi, kehilangan dan lain-lain. Saya merasa, Alhamdulillah ya Allah, sejak dulu sampai sekarang, Allah sangat baik sekali, memberikan ujian kesulitan yang akhirnya bisa selesai. Pernah ada kesulitan yang rasanya menghimpit, tapi kemudian seiring berjalan waktu, semuanya membaik. Hanya saya takut, apakah Allah tidak memberikan ujian berat pada saya, seperti yang dialami orang-orang terdahulu, karena saya tidak termasuk orang yang disayangi Allah😭😭? Tapi tentu saya juga gak akan berani untuk meminta diberi ujian berat, takut sekali, mentalnya lemah menghadapi ujian seperti itu.

Pertanyaan ini saya tanyakan pada Kakak ipar saya, seorang yang Masya Allah kaya ilmu dan saleh. Beliau menjawab dengan bijak. Tentu jawabannya ada di Al Qur’an. Hal tersebut menenangkan hati saya.

كُلُّ  نَفْسٍ  ذَآئِقَةُ  الْمَوْتِ   ۗ وَنَبْلُوْكُمْ  بِا لشَّرِّ  وَا لْخَيْرِ  فِتْنَةً   ۗ وَاِ لَيْنَا  تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Saya izin mengcopy pesannya di whatsapp ke blog saya (yang cetak miring), agar bisa saya baca lagi sebagai pengingat. Dan bisa juga menjadi manfaat bagi para pembaca blog, dan netizen dunia maya. 

Allah menguji kita dengan dua macam ujian, yaitu ujian keburukan dan kebaikan. Menurut Ibnu Abbas RA, maksudnya adalah الرخاء والشدة yaitu kondisi sejahtera dan kondisi susah.
Maka saat kita mengalami kesulitan, kita sedang diuji. Ketika kemudian kesulitan itu selesai, kita berada dalam kondisi sejahtera, maka itu juga kita sedang diuji.

–> Artinya apapun keadaannya, manusia itu selalu dalam keadaan diuji. Seperti di ayat Al Baqarah 155 tadi,  Yang namanya manusia hidup di dunia ya pasti diuji. Itu normal, itu biasa saja, itu sunatullah.

Di dalam Al Quran pun ada contoh hamba-hamba yang disayang Allah yang diuji dengan bermacam ujian.
Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman (semoga salam dari Allah terlimpah kepada beliau berdua) diuji oleh Allah dengan kemenangan, kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan yang amat besar. Beliau berdua lulus ujian ini dengan tetap konsisten dalam syukur dan amal shalih. Bandingkan dengan Qarun yang diuji Allah dengan kekayaan tapi gagal karena sombong dan menolak berbuat baik dengan kekayaannya.

Sudah tepat sikap kita tidak meminta ujian berat karena kita tidak tahu apakah kita sanggup atau tidak kalau diuji berat. Allah lebih mengetahui ujian yang paling tepat untuk kita.

Yang diajarkan Allah dalam Al Quran adalah doa meminta kebaikan, bukan meminta keburukan. Juga doa meminta kemenangan, bukan meminta kekalahan. Juga doa meminta anak cucu yang baik, bukan anak cucu yang durhaka. Juga pasangan yang menjadi penyejuk mata.

Meskipun kita tahu, ada hamba-hamba Allah yang Dia sayangi pun diuji Allah dengan kekalahan dalam sebagian perang. Ada yang diuji anak yang durhaka. Ada yang diuji dengan suami yang jahat. Ada yang diuji dengan istri yang kafirah.

Yang diajarkan Nabi Muhammad (semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada beliau) adalah doa-doa meminta kesembuhan, bukan meminta sakit. Juga doa meminta kecukupan dan rizki yang baik, bukan meminta kekurangan dan kemiskinan.

–> Saya jadi ingat kata Ust. Hanan Attaki, memang ada orang yan berdoa minta miskin, minta susah? Gak ada! Gak berani. Kenapa? Karena kita percaya karena Allah Maha Mengabulkan Doa. Nah, kalau beneran dikabulin gimana? 

Kita tahu betapa besar pahala perang di jalan Allah. Tapi meski demikian, Nabi saw mengajarkan kita untuk tidak berangan-angan bertemu musuh. Berangan-angan saja dilarang, apalagi meminta bertemu musuh. Tapi apabila Allah menguji seorang muslim dengan bertemu musuh, maka supaya lulus ujian itu, dia harus hadapi dengan tegar tidak boleh lari.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Wahai kaum Muslimin, janganlah kalian mengharap bertemu dengan musuh, dan mohonlah kesehatan kepada Allah, namun apabila kalian bertemu dengan mereka maka bersabarlah. Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa surga berada di bawah naungan pedang.”

Wallahua’lam bishawab…

Ya Allah berikanlah ketenangan hati, curahkan kasih sayangMu… aamiin

Catatan Hati

Kehidupan Dunia dan Negeri Akhirat

-Tulisan ini mah murni isi hati kerisauan saya, diskip aja. Saya nulis ini benar-benar untuk menuangkan pikiran yang belakangan ini gak karuan.

Pandemi masih ada. Berita duka udah kayak aliran air aja, deras. Hampir setiap hari selalu dengar ada kabar duka, khususnya dari Indonesia. Perasaan campur aduk gak karuan. Dulu, saya dengan pikiran sempit dan miskin ilmu merasa bahwa kita akan mencapai kehidupan manusia pada umumnya, menjadi dewasa, menikah, punya anak, menjadi tua, dan meninggal dengan nyaman di hari tua. Tapi semakin hari, semakin tersadarlah saya. Umur itu gak ada yang tahu, tinggal di dunia gak tahu sampai kapan, tapi meninggal itu adalah sebuah kepastian.

Sudah tertulis di catatan Allah. Gak bisa kita merasa aman bahwa hari ini kita akan baik-baik saja, dan esok masih bangun di pagi hari. Saya merasa takut. Takut gak punya bekal cukup, takut banyak dosa, takut tiba-tiba dipanggil terus gak siap. Jeleknya rasa takut saya ini terkadang membuat saya gak bersemangat untuk menjalani targetan hidup. Misal, apakah saya kuliah S3 ini dinilai sebagai amal di dunia? Apakah dengan saya mengerjakan ini dan itu bisa berguna di masa depan? Toh nanti ketika mati, S3 saya ini gak juga berarti di akhirat (Ya Allah, saya niatkan ibadah ya Allah…. semoga apa-apa yang menyibukkan saya di dunia menjadi bekal saya di akhirat, aamiin)

Ada juga rasa takut kalau ditinggal oleh keluarga, oleh pasangan, oleh orang tua, bagaimana nanti saya akan bisa menghadapinya? Bagaimana caranya kalau orang soleh bisa menghadapi ujian hidup dengan benar? Apakah saya sanggup? Apakah saya bisa ketika ujian ditinggalkan orang tersayang itu mampir pada saya? Sedangkan saya orang yang lemah dan mudah sekali menangis.

Rasanya mengawang-ngawang hidup saya dalam beberapa bulan ini. Kadang semangat untuk menyelesaikan amanah, beribadah, dan jadi orang yang bermanfaat. Tapi kadang rasanya ingin sibuk dengan pikiran sendiri saja, gak tahu mau merencanakan apa ke depan.

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” QS. Al-An’am 6: Ayat 32)

Nikmat dunia itu hanya sebentar. Jika diibaratkan dengan nikmatnya makanan, maka nikmatnya hanya sampai kerongkongan, setelah tertelan, ya sudah selesai. Sesingkat itu petualangan manusia di dunia.

“Saat kita lahir, kita diadzankan, dan ketika mati, kita disalatkan. Ibaratnya kehidupan di dunia itu sebentar saja hanya berjarak antara adzan yang dikumandangkan dan salat yang dikerjakan.” (Ust. Salim A. Fillah).

Ketika sudah di alam kubur dan di akhirat, katanya banyak manusia yang menyesal dan ingin dihidupkankan lagi untuk bisa beramal saleh. Nah kita yang masih ada jatah hidup di dunia ini, apakah sudah menyibukkan diri dengan amal saleh? Mungkin kita berpikir, wah kasihan orang itu, masih mudah sudah dipanggil Allah. atau Kasihan si Fulan itu meninggal setelah berjuang melawan covid, dll. Yang kasihan itu bukan dia. Ya kita-kita ini yang masih hidup. Dia mah tugasnya sudah selesai, kalau meninggal dalam sakitnya, bisa jadi dosanya diampuni, bisa jadi syahid karena wafat di tengah wabah. Lah kita ini yang nasibnya belum jelas. Di dunia masih bikin dosa, beribadah gak sepenuh jiwa, kadang lupa dunia ini sementara. Astagfirullah…..

Yang bikin saya sedih lagi, kenapa ya Allah.. banyak Ulama, Ustadz, dan orang-orang saleh yang dipanggil duluan. Tentu alasan utama karena Allah sayang pada mereka. Allah panggil mereka di tengah dunia yang semakin parah ini. Lalu bagaimana dengan kami ya Allah? Apakah kami akan disisakan untuk hidup bersama orang-orang yang zalim? bersama pemimpin yang lalim? Saya takut ya Allah. Takut kalau saya tidak termasuk orang yang Engkau sayang, dan takut kalau hidup saya ini disisakan bersama mereka-mereka yang merusak dunia. Saya si Bodoh ini berpikir lagi, ya Allah kenapa gak Engkau ambil saja pemimpin-pemimpin jahat itu, orang-orang lalim dan kejam itu, kenapa Ustadz, kenapa Ulama, kenapa orang saleh? Kalau mereka yang berilmu dan beriman itu Engkau panggil, bagaimana kami ya Allah? Ampuni saya ya Allah… Astagfirullahaladzim….

Life is Beautiful

Saat Jatuh dari Sepeda

Dari sekian tahun pengalaman bersepeda di tanah Belanda, saya pernah beberapa kali terjatuh dan luka. Ada jatuh yang menyebabkan cedera cukup parah, sampai bagian engkel dan mata kaki saya bengkak dan membiru. Rasa nyerinya bertahan berminggu-minggu. Jalan saya jadi teklek-teklek. Untungnya bukan patah, sepertinya tendon engkelnya robek.

Hari itu Sabtu di bulan Desember 2018, sudah hampir mendekati libur natal dan akhir tahun. Saya mengayuh sepeda dengan susah payah dari kampus menuju rumah. Suhu sebenarnya tidak begitu dingin, tetapi angin bertiup lebih kencang dari biasanya. Rupanya KNMI (semacam BMKG-nya Indonesia) sudah mengeluarkan kode kuning.

Sebenarnya kalau buka kepepet, saya gak akan mungkin ke kampus akhir pekan. Tapi deadline untuk submit revisi manuskrip menunggu di bulan Januari. Sementara kedua supervisor akan mengambil cuti panjang di liburan musim dingin. Jadi revisian harus digenjot sebelum mereka off kerja.

“BRAAAK!” sepeda saya oleng, diterpa angin kencang yang tak pandang bulu. Kaki kiri saya berusaha menahan keseimbangan, tapi berat sepeda dan tubuh saya lebih condong ke kiri. Saya jatuh ditimpa sepeda.

Naik sepedanya kapok?
Alhamdulillah enggak. Sampai sekarang masih naik ke mana-mana, tapi jadi lebih hati-hati.
Ngerjain manuskripnya kapok?
Yah gemana itu mah, harus, kalo gak, yah gak beres dong sekolanya.
Kalau sekolahnya kapok?
Bismillah jangan yaa..
Life goes on, another day will come, kata BTS juga (saya bukan army, suer).

“…Jangan merasa takut (akan masa depan), dan jangan bersedih hati (akan masa lalu), sepatutnya kita bergembira dengan surga yang telah dijanjikan” (Fussilat 30)

review buku

Review Buku Battle Hymn of the Tiger Mother vs The Happiest Kids in the World

Battle Hymn of the Tiger Mother – Amy Chua VS The Happiest Kids in the World – Rina Mae Acosta & Michele Hutchison

Kedua buku ini saya baca di waktu yang hampir bersamaan, dan saya tamatkan di waktu yang berbeda. Meskipun kedua buku bertema parenting ini memiliki daya tarik tersendiri—tentunya dengan kubu dan pendekatan parenting yang berbeda. Anehnya, saya tidak langsung bisa menamatkan kedua buku tersebut dalam waktu relatif cepat, ada jeda waktu saat saya membaca kedua tersebut. Ada rasa “lelah” yang menggelayut saat saya membuka bab demi bab dari buku tersebut, dan saya butuh pause sebelum saya menyelesaikannya. Apa sebabnya?

Saya mulai dari buku pertama, sebuah memoar dari Amy Chua dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Amy Chua adalah seorang Chinese Mother, generasi kedua, yang lahir dan dibesarkan di Amerika. Kedua orang tuanya merupakan imigran pekerja keras, ayahnya merupakan lulusan PhD di universitas beken, Massachusetts Institute of Technology (MIT). Orang tua Chua mendidik Amy dan ketiga adik perempuannya menjadi seorang high-achiever, yang Amy bilang merupakan tipikal Chinese next generation after immigrant parents.

Amy Chua memiliki asumsi bahwa generasi Chinese ketiga (yaitu anak-anaknya, Sophia dan Lulu) akan menjadi generasi yang spoiled dan akan terjadi “penurunan kualitas hidup/value” generasi. Sebabnya generasi ketiga ini memiliki kenyamanan hidup dengan orang tua yang mapan, dengan kehidupan yang upper-middle class di Amerika. Kekhawatirannya ini membuat Amy kemudian berusaha menerapkan the Chinese hard and tough parenting pada kedua anaknya. Kebetulan juga Amy Chua lahir di tahun harimau, menurut kalender Cina, jadilah ia seorang Tiger Mom, memang cocok dengan karakter Amy yang percaya diri, tense, dan pengatur.

But. I could make sure that Sophia and Lulu were deeper and more cultivated than my parents and I were. (page 22)

Continue reading “Review Buku Battle Hymn of the Tiger Mother vs The Happiest Kids in the World”
review buku

Planet Omar Book Review

My daughter insisted me to read these books (she always does that when she thinks the book is super cool), turned out that, she was right! I loooooveee these books! I would recommend parents and kids to read Planet Omar.

It’s funny and hilarious, it’s unique (compared to other children’s books I have read), and really relatable for us: moslem, minority, living far away from our hometown, should raise children in this kind of situation.

The story is about Omar, a boy with a big heart, yet have a huge imagination in his daily live. Omar is a great character for a young moslem, how to overcome being different (religion, race, culture). He just normal kids who doesn’t always have the easiest time, he has to face bullies, unfriendly neighbour, difficult situation, etc. But he always believe that Allah is there to support him, in a simple and joyful way.

@zanibmian put the educative and religious touch in a clever way, about fasting, Ramadan, mosque, community, being nice to people, how to encounter bullies and problems as kids. And the sketches @synasaya throughout are really lovely to keep entertained.

I can understand that my daughter laughed a lot when reading it, I did it too. I had good discussion with my daughter about things that we found similar with our situation, about friends, school, about Islam. Even we argued which chapter is the funniest, and which book is the best. I like the first book, ‘Accidental Trouble Magnet’, and my daugther picks ‘Unexpected Super Spy’ as her favorite.

#BacaBuku2021

review buku

Duizen-en-èen paarse djellaba’s (Seribu-an abaya ungu)

Buku ini Runa yang search dan order sendiri di bibliotheek online @biblionetgn. Katanya bukunya sempat dibacakan di kelas waktu bulan Ramadan. Jufnya bilang dia ketemu cerita yang lucu tentang muslim. Terus Runa pingin Bundanya juga ikut tahu serunya si buku ini (sekalian ngasih Bunda pe-er untuk belajar baca bahasa Belanda gitu maksudnya ya, Run?) Sebenarnya ceritanya gak khusus tentang Ramadan sih. Tapi sebagai imigran muslim yang tinggal di Belanda, ceritanya emang relatable banget, dan kocak.

Esmaa dan keluarganya berasal dari Maroko. Liburan panjang ini mereka mau mudik ke Marrakech. Koper-koper mereka lalu diisi berbagai macam barang untuk oleh-oleh keluarga besarnya. Yaitu barang-barang biasanya di Maroko harganya mahal atau susah didapat. Sebaliknya ketika mereka sampai di kampung halamannya, koper mereka pun terisi penuh dengan berbagai macam oleh-oleh untuk mereka, barang yang tidak ada di Belanda, atau mahal harganya. Hmm.. sounds familiar kan ya? Kayak orang Indonesia di NL kalo mudik juga gitu hahaha…

Di Marrakech Esmaa diajak Tante dan Mamanya ke pasar tradisional. Yang mana pasarnya itu padaaat banget, ada segala macam toko, ada pengamen yang beratraksi dengan ular, monyet, akrobat. Eh tiba-tiba di pasar yang rame itu Esmaa kehilangan Mamanya. Dia mengikuti wanita yang memakai djellaba (semacam abaya khas Afrika) warna ungu, seperti yang dipakai Mamanya. Ternyata Esmaa salah orang! Dia pun panik karena di pasar ada sekitar seribu orang yang memakai djellaba ungu (lebaynya mah gitu saking ini pasar rame orang).

Lalu gimana dong akhirnya Esmaa bisa menemukan Mamanya di tengah kerumunan pasar? Itulah keseruannya. Yang pasti pas baca daku jadi pingin mudik, tentunya bukan ke Marrakech yaa.. ke Bandung 🇮🇩tercinta dong😆

#BacaBuku2021