Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Pelajaran dari Sekolah

Menginjak usia 4 tahun, Senja sudah mulai masuk grup 1 basisschool (setara TK A). Jadi di sini waktu pertama masuk sekolah itu ditentukan dari H+1 dari hari lahir si anak.

Anyway saya mau cerita lain sebenarnya, soalnya bertepatan dengan Senja masuk sekolah, pas juga dengan adanya oudergespreek (parents meeting dengan gurunya Runa). 

Biasanya di pertemuan itu, guru akan menjelaskan perkembangan si anak di kelas, pelajaran yang diterima apa aja, interaksi di kelas, gak cuma hard skill, tapi juga soft skill. Tapi di pertemuan kali ini, agak berbeda. Jadi sebaliknya, guru yang akan balik bertanya pada si anak. Kamu suka pelajaran apa di sekolah? Apa yang susah, apa yang gampang? Apa yang menurut kamu perlu lebih dipelajari? Bagaimana perasaanmu selama belajar dan bermain di sekolah? dll.

Hanya ada satu pertanyaan menarik, yang mungkin jarang atau gak pernah ditanyakan  guru ke muridnya? At least saya gak pernah ditanya seperti itu.

“Apa di luar sekolah kamu suka bermain bersama dengan teman-teman kamu (di rumahmu, di rumah temanmu, atau playdate di mana)?”, “Dengan siapa saja kamu bermain?”

Saya tangkap bahwa mereka merasa kehidupan sosial dalam berkawan itu juga sangat penting. Memastikan bahwa si anak punya banyak teman, bisa bergaul dengan baik, dan bisa membawa diri. Sekolah bukan cuma tempat untuk menimba ilmu, tetapi juga untuk sebanyak-banyaknya

Catatan Hati, Mommy's Abroad, School stuff

Inferior

Tiga tahun lalu, saya memulai perjalanan PhD ini dengan rasa inferior parah. Merasa salah tempat, gak bisa membawa diri dan membaur dalam kelompok, takut salah, takut dianggap gak kompeten. Bahasa Inggris belepotan, bahasa Belanda apa lagi. Kalau mau ngejawab pake bahasa Inggris, untuk percakapan sederhana sekalipun, saya suka takut salah. Apalagi untuk obrolan saintifik, untuk ngejawab pertanyaan supervisor pas diskusi tangan saya aja sampe dingin. Pikiran saya mengulang-ulang kalimat apa yang mau saya lontarkan. Sambil pikiran lain berbicara: gimana kalau balelol, salah grammar, atau orang gak ngerti apa yang saya omongin. Padahal sebenarnya bahasa Inggris saya gak parah amat kok. Dulu IELTS sekali tes langsung lulus band 7, kelas bahasa Inggris zaman kuliah pun masuk ke kelas A (kelas writing), yang artinya cukup di atas rata-rata. Cuma tuh emang bodohnya saya, rasa pede saya aja yang emang tiarap. Rasa inferior yang menggerogoti.

Tak ada hari tanpa beban bergelayut di pundak dan di hati. Saya selalu merasa berbeda dengan yang lain, dan saya takut dijudge karenanya.

Tahun berlalu, eh saya masih di sini. Qadarullah sebenarnya semuanya gak seburuk yang saya pikirkan. Alhamdulillah Allah sayang, dan terus membuka mata saya. Bahwa rasa inferior itu harus dibuang jauh-jauh. Hei, seorang ibu juga punya aktualisasi diri. Student Indonesia juga gak kalah smartnya dengan orang Eropa lho, biasanya malah lebih punya daya juang tinggi. Cuma memang kekurangan kita sebagai orang Indonesia itu (kebanyakan ya), suka merasa rendah diri, dan menganggap kalau bule-bule itu tuh wah banget, pinter, superior, dll. Padahal asli enggak, bule-bule juga sama ae kayak kita, kadang lebih parah, udah mah gak tahu, tapi suka sok tahu, haha.. tapi mereka pede aja gitu. Kalau salah ya ngaku aja biasa, minta maaf, dan gak ada rasa minder karena malu.

Continue reading “Inferior”
Catatan Hati, review buku

Resensi Buku Atomic Habits – James Clear

Buku ini yang beli suami, tadinya saya gak terlalu minat baca karena saya udah baca buku tentang habit juga sebelumnya, The Power of Habit oleh Charless Duhigg. Saya iseng aja baca introduction-nya, bagian My Story. Eh kok seru ya. Dapet nih pitch point-nya untukmengundang terus baca. Akhirnya saya lanjut. Dan ternyata banyak banget dagingnya, trik, tips, dan cara untuk membuat hidup lebih produktif dan terarah (ciyeh). Tentu seperti biasa, biar gak lupa, saya catat ulang bagian pentingnya di sini. Hal pertama yang membuat saya tertarik lanjut adalah fakta bahwa meskipun progres yang kita lakukan sedikit, tetapi akan berdampak besar di depan, tanpa kita sadari. Nampar kan buat saya yang suka banget bilang: pengen cepet-cepet beres ini, pengen cepetan kelar itu, sementara lupa sama detail kecil yang menyertai prosesnya.

Time magnifies the margin between success and failure. It will multiply whatever you feed it. Good habits make time your ally. Bad habits make time your enemy. Habits are double-edged sword. bad habits can cut you down just as easily as good habits can build you up, which is why understanding the details is crucial. Asli najong nih kalimatnya. Menurut saya mirip sih dengan hadits tentang waktu adalah pedang, bisa bermata dua. Waktu sebagai bahan bakar yang kita pakai dalam kebiasaan kita.

James Clear memperkenalkan istilah the plateau of latent potential (people call it an overnight success). Ini penting buat kita yang sering menganggap bahwa keberhasilan orang kok kayanya gampang, dia kok bisa cepat suksesnya, apalagi di dunia digital yang serba instan ni. Sementara kok kita lambat banget mau sukses. Aslinya kita aja yang gak tahu. Gak ada kesuksesan yang melalui proses instan, kecuali sukses bikin mie instan enak. The outside world only sees the most dramatic event rather than all that preceded it. But you know, that it’s the work you did long ago−when it seemed that you weren’t making progress−that makes the jump today possible. Jadi kudu sabar dalam berproses. Kayak kalau bikin candi dalam semalam mah bisa berujung kegagalan, apalagi kalau buat kita yang gak punya ilmu sakti mandraguna.

Small changes often appear to make no difference until you cross a critical threshold. The most powerful outcomes of any compounding process are delayed. You need to be patient. -page 28

Kenapa sih dinamakan atomic habits? Atom yang merupakan partikel terkecil yang menyusun sifat dan karakteristik segala sesuatu di dunia ini, meski merupakan bagian terkecil, tetapi atom adalah hal fundamental dalam penyusunan semesta. Sama seperti habit juga merupakan unit fundamental yang memberikan kontribusi besar bagi overall improvement kita. Mungkin habit seukuran atom ini terasa insignificant, tetapi ketika sudah membentuk dan terikat satu sama lain, maka ia akan menjadi bahan bakar kemenangan di masa mendatang.

Atomic habits−a regular practice or routine that is not only small and easy to do, but also the source of incredible power; a component of the system of compound growth. -page 27

Perlu diingat bahwa untuk membangun habit, yang diperlukan bukan hanya goal atau outcome, tetapi juga perubahan identitas diri. Fokusnya adalah pada diri kita mau jadi orang apa/seperti apa? Katakanlah kita punya goal ingin menulis atau membuat buku. Bangunlah identitas bahwa kita adalah seorang penulis. Setiap kita menulis, maka kita adalah seorang penulis. Setiap kita latihan lari, maka kita adalah pelari. Kalau identitas itu sudah lekat, maka sulit untuk menanggalkannya.

Ada four-step loop yang menyokong habit: cue, craving, response, and reward. Ketika diulangi, maka ada feedback neurologis yang akan membentuk kebiasaan kita Dari empat langkah tersebut, James Clear menyusun ada 4 laws of behaviour change yang menyusun atomic habit ini:

  1. Cue –> Make it obvious
  2. Craving –> Make it attractive
  3. Response –> Make it easy
  4. Reward –> Make it satisfying

Pertanyaannya how to?

Continue reading “Resensi Buku Atomic Habits – James Clear”
review buku

Review Buku: Semangat, Tante Sasa!

Semangat, Tante Sasa! Dibaca dari Gramedia Digital

Buku ini saya tamatkan kurang dari tiga hari, itu pun karena disela aktivitas lainnya. Kalau dilanjut terus, buku ini bisa selesai dalam sekali duduk, soalnya penasaraannn. Saya sampai lupa kalau baca buku ini lewat layar ponsel, dari aplikasi Gramedia Online. Biasanya saya gak betah baca buku dari ponsel, tapi untuk buku ini sepertinya pengecualian, hehe.

Ketika baca blurp-nya, saya sudah dibikin penasaran aja dengan cerita lengkapnya. Mengapa harus Tante Sasa yang menjaga ponakannya, Velisa, saat Mamanya (nenek ponakannya) naik haji? Apa yang terjadi pada Mamanya Velisa ya? Gimana nih seorang Sasa yang suka hura-hura bisa menjaga anak kecil? Satu-persatu rasa penasaran saya terjawab melalui bab-bab cerita yang disusun dengan apik oleh Thessalivia, penulisnya.

Ide cerita yang tidak biasa

Kisah Sasa mengasuh Velisa ini sangat unik. Bukan cerita mengenai percintaan remaja yang termehek-mehek, bukan drama kisah cinta ala metropolitan Jakarta, bukan juga cerita mengenai rumah tangga biasa. Sasa, seseorang yang memiliki masa lalu cukup sulit, berasal dari keluarga yang tidak lengkap, hubungan kurang harmonis dengan Mamanya, dan sepertinya memiliki inner child yang terbawa hingga dewasa. Ditambah lagi Sasa pernah terlibat dalam hubungan percintaan rumit dengan mantan kekasihnya yang sudah menikah. Sebagai budak korporat Jakarta, Sasa juga sangat disibukkan dengan pekerjaannya dan bosnya yang menuntut. Pokoknya hidup Sasa sendiri sudah complicated.

Tokoh yang bertumbuh sejalan dengan cerita

Semua kerumitan hidup Sasa lalu berubah semenjak ia mengasuh Velisa, anak almarhum Kakak kesayangannya, Kak Vania, yang berusia enam tahun. Ternyata di balik sosoknya yang keras kepala sekaligus rapuh, Sasa masih memiliki kasih sayang besar untuk ponakannya ini. Meski ia sama sekali tidak memiliki ilmu dalam mengasuh anak, tetapi sejalannya waktu, ia belajar dari kesalahan, ia belajar dari pengalaman, dan berusaha memperbaikinya. Ia mencoba membangun hubungan baik dengan Velisa sekaligus ingin memberikan perlindungan pada ponakannya yang sudah tidak memiliki orang tua itu. Sasa bahkan berkembang menjadi pribadi yang lebih dewasa setelah ia tinggal bersama Velisa. Velisa sendiri digambarkan selayaknya anak usia enam tahun pada umumnya, polos, ceria, apa adanya. Namun yang bikin saya jadi terharu adalah membayangkan anak seusia Velisa sangat tegar dalam menghadapi hidupnya. Beruntung Velisa memiliki Tante Sasa dan Neneknya!

Konflik yang diselesaikan dengan natural

Tadinya saya pikir konflik yang Sasa hadapi hanya berputar mengenai mengasuh anak-memperbaiki diri-menata hidupnya. Tetapi ada konflik dari masa lalu yang masih tertinggal, yang merupakan jawaban mengapa Sasa menjadi seperti sekarang. Saya menikmati bagaimana penulis menceritakan dengan apik konflik masa lalu keluarga Sasa dengan flashback yang berselang-seling di bab tertentu. Sampai pada akhirnya ia harus menyelesaikan masalahnya dengan sang mantan pacar beristri, memperbaiki hubungannya dengan Mamanya, dan tentu tetap menjadi Tante Sasa yang paling disayangi Velisa

Plus dan Minus Poin

Hampir di bagian akhir tiap bab ada paragraf penutup mengenai: Pelajaran mengasuh anak hari ke-… . Itu merupakan bagian menarik dari buku ini. Untuk yang sudah memiliki anak langsung bisa mengamini poin tersebut, dan bagi yang belum pernah mengasuh/memiliki anak, catatan tersebut bisa menjadi tips penting untuk ke depannya. Sedikit kritik mungkin mengenai bagian akhir dari cerita. Saya merasa konsolidasi antara Sasa dan Mamanya terjadi agak cepat. Saya masih ingin merasakan eksplorasi lebih jauh mengenai hubungan mereka berdua yang “unik” ini. Ini pendapat pribadi aja sih, haha.. Mungkin karena saya juga pernah mengalami naik turun dalam hubungan saya dengan orang tua. Jadi saya pikir dari bertahun-tahun apa yang dialami Sasa, setidaknya sebuah keselarasan dengan ibunya dibutuhkan dalam beberapa tahap. Tapi kalau dilanjutkan memang akan jadi terlalu panjang sih. Anyway, konflik utama tetap pada Velisa juga.

Akhir kata, sukses untuk Teh Tessa atas bukunya! Semoga bisa terbit fisik juga, aamiin. Ditunggu karya-karya berikutnya.

Catatan Hati

Titipkan pada Allah

Titipkan pada Allah❤️

Seringkali kita dihinggapi rasa khawatir mengenai urusan dunia. Bagaimana pekerjaan kita, kuliah kita, materi kita, bahkan sampai ke urusan anak. Bagaimana nanti anak-anak kita? Urusan jasmaninya, pendidikannya, hingga masa depannya. Maka di dunia barat muncul paham kalau anak itu adalah beban, ada tanggung jawab yang besar di sana. Seperti yang sedang hangat diperbincangkan tentang ribetnya mengurus anak. Apalagi sekarang booming childfree, dengan alasan dan latar belakang yang bermacam-macam disertai pro dan kontra.

Untuk saya dan suami, pernah terpikir ada rasa berat. Betul mendidik anak dan membesarkan anak itu berat, bukan hanya urusan materi dan jasmani dong ya. Terlebih urusan rohaninya. Apalagi saat ini kami bermukin di Belanda. Makin galau, gimana bisa mendidik anak-anak di lingkungan minoritas Islam? Sampai ada nasihat seorang Ustadz menampar kami.

Alangkah angkuhnya manusia. Merasa bahwa ia bisa menyelesaikan urusannya dengan kemampuannya. Anak-anak ini milik Allah, Allah yang akan menjaganya. Bukan dari usaha kita, bukan dari kekuatan kita, anak-anak ini bisa jadi manusia yang berhasil di dunia dan di akhirat, tetapi dari jalannya Allah. Kita cuma perlu berserah aja dan berdoa, gak usah pake ribet deh, titipkan semuanya. Kenapa kita selalu merasa mampu untuk mengatur hidup kita, ini dan itu. Mengapa kita selalu merasa hebat, saya memiliki keputusan ini dan itu. Seolah di tangan kitalah semuanya akan berjalan. Memang kita ini siapa? Di dunia aja cuma numpang.

Alangkah lemahnya manusia. Merasa tahu mau melakukan apa-apa, merasa mengerti, padahal tak ada satupun hal yang kita mampu dan ketahui tanpa bimbingan Allah SWT. Manusia ini, dicabut saja satu kenikmatannya, sudah kalang kabut paniknya. Manusia ini, diberikan saja ujian kecil, rasanya dunia sudah terbalik-balik. Jiwa ini milik Allah, maka Allah-lah yang menyelesaikan semua urusan kita. Coba saja jika Allah memberikan kita kuasa sedikit saja untuk menjalankan hidup kita, dijamin kita tidak mampu, saking lemahnya manusia (Seperti doa di bawah ini).

Maka berdoalah.
Seperti nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fatimah RA untuk senantiasa berdoa pada setiap pagi dan petang. Sebuah nasihat indah yang membuat saya tertegun.

“Wahai (Dzat) yang Maha Hidup dan Maha Berdiri! Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” (HR Imam An-Nasai, Imam Al-Hakim).
.

Catatan Hati

Break setelah Keramaian

Setelah banyak ketemu orang, berinteraksi dengan orang, ada kalanya saya butuh waktu untuk sendiri. Ketika ada banyak orang, kadang pikiran saya gak bisa berpikir jernih. Ngobrol ya ngobrol aja, ngomong, basa-basi, cerita, berkabar. Sampai di satu titik saya merasa, berinteraksi dengan orang (tertentu) itu butuh effort yah.

Suami berkerenyit mendengar statement saya, “Anda repot banget jadi orang?” Masa ketemu dan ngobrol sama orang aja butuh effort? Untuk Suami, Si tipe koleris-sanguinis, yang dengan gampang membaur dan supel, tentu itu hal aneh. Tapi berhubung kami sudah 10 tahun bersama dalam pernikahan, jadi dia ngerti aja maksud saya gimana.

Continue reading “Break setelah Keramaian”
Catatan Hati

So Long, Bob …

Pria Belanda itu, seperti orang Belanda pada umumnya, tinggi menjulang. Hanya yang membuatnya lebih berkesan adalah, ia senang sekali tersenyum, dan ramah.

Sedih sekali saya mendengar kabar kalau ia sudah pergi. Bob Wilffert namanya. Profesor di bidang pharmacogenetic dan clinical pharmacology, University of Groningen. Pernah jadi kepala Dept. Clinical Pharmacy and Pharmacology. Tapi lebih dari itu, dialah supervisor pertama untuk studi saya di Belanda.

Tahun pertama saya jadi mahasiswa master di Groningen. Cupu sekali, buta riset, bahasa Inggris masih belepotan, grogian sangat. Memang jalan dari Allah untuk menggerakkan saya mengontak Bob Wilffert untuk menjadi supervisor riset pertama saya. Qadarullah ia membalas email saya dengan cepat. Darinya pula, saya dikenalkan dengan Kak Aizati, PhD student asal Malaysia yang sedang menjalani tahun kedua studinya di Groningen. Bob adalah promotor Aizati, ia menugaskan Aizati untuk jadi daily supervisor saya. Dua orang dengan kombinasi baik, yang membuat saya gak kapok untuk menjalani riset.

“Selamat pagi!”, “Selamat siang!”, “Selamat sore!”, begitu ia mencoba menyapa mahasiswanya yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Setiap saya berpapasan dengannya, ia akan berhenti sebentar untuk berpikir sebelum menyapa dengan pagi/siang/sore. Lama-kelamaan ia pun hapal sendiri. Lebih fasih daripada saya mencoba menyapanya dengan “goede morgen/middag”.

Saya yakin setiap orang pasti pernah mengalami “jinx” saat presentasi di depan publik. Entah itu lupa materi yang disampaikan, salah ucap, gemetaran, grogian, gak bisa jawab pertanyaan audience, dll. Nasib saya mengalaminya di presentasi pertama saya saat kuliah master. Saya harus menyampaikan presentasi awalan untuk riset saya di hadapan student master dan PhD di departemen tempat saya melaksanakan riset. Isinya mengenai background studi, metode, dan planning untuk melaksanakan riset. Saya udah siap-siap dan latihan dong. Slides ppt juga sudah saya kirim ke Kak Aizati dan Bob.

Continue reading “So Long, Bob …”
Catatan Hati

Buat Apa Kita Khawatir?

Namanya manusia ya, pikirannya galau wae. Khawatir aja. Gimana kalau gini, gimana kalau gitu. Kalau nanti gagal, kalau nanti susah, kalau hasilnya jelek, kalau tak sesuai harapan, kalau ada kesulitan, dan kalau kalau kalauuu terus.

Untung Allah Maha Baik ya, biarpun manusianya kayak saya yang rese’, banyak ngeluh dan khawatiran, tapi Allah gak pernah moody dan capek dengerin makhlukNya. Allah gak pernah bilang, pikir ndiri. Pasti Allah akan tetap membimbing kita. Masalahnya ini saya si makhluk bebal ini, sabar gak sih untuk meraih bimbingan Allah.

Allah itu punya sistem yang canggih. Lebih canggih daripada sistem tercanggih di dunia ini. Lebih canggih daripada SolarCity and Tesla Energy rancangan Elon Musk. Lebih super canggih daripada artificial intelligence yang sekarang dielu-elukan. Lebih super advanced daripada speech and handwriting recognition, virtual reality and 3D visualization, smart cards, real-time collaboration, enhanced user authentication, data mining, etc, etc.….. Sedangkan masih ada eror ditemukan di sistem canggih tersebut

Sistem Allah yang dijelaskan juga di surat Al-Mulk. Coba lihat memangnya ada yang kurang, ada yang cacat dari semua yang Allah ciptakan, Allah jadikan, Allah gariskan? Enggak adaaaa…

Continue reading “Buat Apa Kita Khawatir?”
Catatan Hati

Apakah Saya Disayang Allah?

Saat pandemi ini, banyak sekali saudara-saudara kita di Indonesia ditimpa banyak ujian, musibah, kehilangan, kesakitan, dan segala rupa. Saya dan keluarga suami pun mengalaminya. Banyak kisah sedih dan tragis membuat saya ikut merasa merana, membayangkan betapa pedih rasa kehilangan, dan betapa berat ujian yang harus dihadapi orang tersebut.

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Al Quran Surat Al Baqarah ayat 155-157

Di sela-sela rasa duka yang saya rasakan. Terselip sebuah tanya: Allah menyayangi hambaNya dengan memberikan ujian2 berupa kesulitan, materi, kehilangan dan lain-lain. Saya merasa, Alhamdulillah ya Allah, sejak dulu sampai sekarang, Allah sangat baik sekali, memberikan ujian kesulitan yang akhirnya bisa selesai. Pernah ada kesulitan yang rasanya menghimpit, tapi kemudian seiring berjalan waktu, semuanya membaik. Hanya saya takut, apakah Allah tidak memberikan ujian berat pada saya, seperti yang dialami orang-orang terdahulu, karena saya tidak termasuk orang yang disayangi Allah😭😭? Tapi tentu saya juga gak akan berani untuk meminta diberi ujian berat, takut sekali, mentalnya lemah menghadapi ujian seperti itu.

Pertanyaan ini saya tanyakan pada Kakak ipar saya, seorang yang Masya Allah kaya ilmu dan saleh. Beliau menjawab dengan bijak. Tentu jawabannya ada di Al Qur’an. Hal tersebut menenangkan hati saya.

كُلُّ  نَفْسٍ  ذَآئِقَةُ  الْمَوْتِ   ۗ وَنَبْلُوْكُمْ  بِا لشَّرِّ  وَا لْخَيْرِ  فِتْنَةً   ۗ وَاِ لَيْنَا  تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Saya izin mengcopy pesannya di whatsapp ke blog saya (yang cetak miring), agar bisa saya baca lagi sebagai pengingat. Dan bisa juga menjadi manfaat bagi para pembaca blog, dan netizen dunia maya. 

Allah menguji kita dengan dua macam ujian, yaitu ujian keburukan dan kebaikan. Menurut Ibnu Abbas RA, maksudnya adalah الرخاء والشدة yaitu kondisi sejahtera dan kondisi susah.
Maka saat kita mengalami kesulitan, kita sedang diuji. Ketika kemudian kesulitan itu selesai, kita berada dalam kondisi sejahtera, maka itu juga kita sedang diuji.

–> Artinya apapun keadaannya, manusia itu selalu dalam keadaan diuji. Seperti di ayat Al Baqarah 155 tadi,  Yang namanya manusia hidup di dunia ya pasti diuji. Itu normal, itu biasa saja, itu sunatullah.

Di dalam Al Quran pun ada contoh hamba-hamba yang disayang Allah yang diuji dengan bermacam ujian.
Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman (semoga salam dari Allah terlimpah kepada beliau berdua) diuji oleh Allah dengan kemenangan, kekuatan, kekayaan, dan kekuasaan yang amat besar. Beliau berdua lulus ujian ini dengan tetap konsisten dalam syukur dan amal shalih. Bandingkan dengan Qarun yang diuji Allah dengan kekayaan tapi gagal karena sombong dan menolak berbuat baik dengan kekayaannya.

Sudah tepat sikap kita tidak meminta ujian berat karena kita tidak tahu apakah kita sanggup atau tidak kalau diuji berat. Allah lebih mengetahui ujian yang paling tepat untuk kita.

Yang diajarkan Allah dalam Al Quran adalah doa meminta kebaikan, bukan meminta keburukan. Juga doa meminta kemenangan, bukan meminta kekalahan. Juga doa meminta anak cucu yang baik, bukan anak cucu yang durhaka. Juga pasangan yang menjadi penyejuk mata.

Meskipun kita tahu, ada hamba-hamba Allah yang Dia sayangi pun diuji Allah dengan kekalahan dalam sebagian perang. Ada yang diuji anak yang durhaka. Ada yang diuji dengan suami yang jahat. Ada yang diuji dengan istri yang kafirah.

Yang diajarkan Nabi Muhammad (semoga salawat dan salam Allah tercurah kepada beliau) adalah doa-doa meminta kesembuhan, bukan meminta sakit. Juga doa meminta kecukupan dan rizki yang baik, bukan meminta kekurangan dan kemiskinan.

–> Saya jadi ingat kata Ust. Hanan Attaki, memang ada orang yan berdoa minta miskin, minta susah? Gak ada! Gak berani. Kenapa? Karena kita percaya karena Allah Maha Mengabulkan Doa. Nah, kalau beneran dikabulin gimana? 

Kita tahu betapa besar pahala perang di jalan Allah. Tapi meski demikian, Nabi saw mengajarkan kita untuk tidak berangan-angan bertemu musuh. Berangan-angan saja dilarang, apalagi meminta bertemu musuh. Tapi apabila Allah menguji seorang muslim dengan bertemu musuh, maka supaya lulus ujian itu, dia harus hadapi dengan tegar tidak boleh lari.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ

“Wahai kaum Muslimin, janganlah kalian mengharap bertemu dengan musuh, dan mohonlah kesehatan kepada Allah, namun apabila kalian bertemu dengan mereka maka bersabarlah. Ketahuilah oleh kalian semua, bahwa surga berada di bawah naungan pedang.”

Wallahua’lam bishawab…

Ya Allah berikanlah ketenangan hati, curahkan kasih sayangMu… aamiin

Catatan Hati

Kehidupan Dunia dan Negeri Akhirat

-Tulisan ini mah murni isi hati kerisauan saya, diskip aja. Saya nulis ini benar-benar untuk menuangkan pikiran yang belakangan ini gak karuan.

Pandemi masih ada. Berita duka udah kayak aliran air aja, deras. Hampir setiap hari selalu dengar ada kabar duka, khususnya dari Indonesia. Perasaan campur aduk gak karuan. Dulu, saya dengan pikiran sempit dan miskin ilmu merasa bahwa kita akan mencapai kehidupan manusia pada umumnya, menjadi dewasa, menikah, punya anak, menjadi tua, dan meninggal dengan nyaman di hari tua. Tapi semakin hari, semakin tersadarlah saya. Umur itu gak ada yang tahu, tinggal di dunia gak tahu sampai kapan, tapi meninggal itu adalah sebuah kepastian.

Sudah tertulis di catatan Allah. Gak bisa kita merasa aman bahwa hari ini kita akan baik-baik saja, dan esok masih bangun di pagi hari. Saya merasa takut. Takut gak punya bekal cukup, takut banyak dosa, takut tiba-tiba dipanggil terus gak siap. Jeleknya rasa takut saya ini terkadang membuat saya gak bersemangat untuk menjalani targetan hidup. Misal, apakah saya kuliah S3 ini dinilai sebagai amal di dunia? Apakah dengan saya mengerjakan ini dan itu bisa berguna di masa depan? Toh nanti ketika mati, S3 saya ini gak juga berarti di akhirat (Ya Allah, saya niatkan ibadah ya Allah…. semoga apa-apa yang menyibukkan saya di dunia menjadi bekal saya di akhirat, aamiin)

Ada juga rasa takut kalau ditinggal oleh keluarga, oleh pasangan, oleh orang tua, bagaimana nanti saya akan bisa menghadapinya? Bagaimana caranya kalau orang soleh bisa menghadapi ujian hidup dengan benar? Apakah saya sanggup? Apakah saya bisa ketika ujian ditinggalkan orang tersayang itu mampir pada saya? Sedangkan saya orang yang lemah dan mudah sekali menangis.

Rasanya mengawang-ngawang hidup saya dalam beberapa bulan ini. Kadang semangat untuk menyelesaikan amanah, beribadah, dan jadi orang yang bermanfaat. Tapi kadang rasanya ingin sibuk dengan pikiran sendiri saja, gak tahu mau merencanakan apa ke depan.

“Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” QS. Al-An’am 6: Ayat 32)

Nikmat dunia itu hanya sebentar. Jika diibaratkan dengan nikmatnya makanan, maka nikmatnya hanya sampai kerongkongan, setelah tertelan, ya sudah selesai. Sesingkat itu petualangan manusia di dunia.

“Saat kita lahir, kita diadzankan, dan ketika mati, kita disalatkan. Ibaratnya kehidupan di dunia itu sebentar saja hanya berjarak antara adzan yang dikumandangkan dan salat yang dikerjakan.” (Ust. Salim A. Fillah).

Ketika sudah di alam kubur dan di akhirat, katanya banyak manusia yang menyesal dan ingin dihidupkankan lagi untuk bisa beramal saleh. Nah kita yang masih ada jatah hidup di dunia ini, apakah sudah menyibukkan diri dengan amal saleh? Mungkin kita berpikir, wah kasihan orang itu, masih mudah sudah dipanggil Allah. atau Kasihan si Fulan itu meninggal setelah berjuang melawan covid, dll. Yang kasihan itu bukan dia. Ya kita-kita ini yang masih hidup. Dia mah tugasnya sudah selesai, kalau meninggal dalam sakitnya, bisa jadi dosanya diampuni, bisa jadi syahid karena wafat di tengah wabah. Lah kita ini yang nasibnya belum jelas. Di dunia masih bikin dosa, beribadah gak sepenuh jiwa, kadang lupa dunia ini sementara. Astagfirullah…..

Yang bikin saya sedih lagi, kenapa ya Allah.. banyak Ulama, Ustadz, dan orang-orang saleh yang dipanggil duluan. Tentu alasan utama karena Allah sayang pada mereka. Allah panggil mereka di tengah dunia yang semakin parah ini. Lalu bagaimana dengan kami ya Allah? Apakah kami akan disisakan untuk hidup bersama orang-orang yang zalim? bersama pemimpin yang lalim? Saya takut ya Allah. Takut kalau saya tidak termasuk orang yang Engkau sayang, dan takut kalau hidup saya ini disisakan bersama mereka-mereka yang merusak dunia. Saya si Bodoh ini berpikir lagi, ya Allah kenapa gak Engkau ambil saja pemimpin-pemimpin jahat itu, orang-orang lalim dan kejam itu, kenapa Ustadz, kenapa Ulama, kenapa orang saleh? Kalau mereka yang berilmu dan beriman itu Engkau panggil, bagaimana kami ya Allah? Ampuni saya ya Allah… Astagfirullahaladzim….