Sponsored Post

Tempat Wisata Instagrammable di Pekanbaru

Apakah kamu adalah penggemar swafoto atau menyukai wisata yang di dalamnya terdapat banyak spot foto menarik?

Nah, kalau iya, coba deh berkunjung ke sejumlah tempat di Pekanbaru yang dicap sebagai destinasi wisata instagrammable.

sumber : oknusantara.com

Ini dia daftarnya:

1. Ulu Kasok

Siapa yang tak terpesona pada keindahan Raja Ampat? Banyak orang ingin datang berkunjung, tetapi terkendala biaya yang mahal. Di Pekanbaru, ada destinasi wisata yang disebut-sebut mirip dengan Raja Ampat, Ulu Kasok namanya. Meski tidak serupa, tetapi panorama alamnya tidak kalah indahnya.

Ulu Kasok ini merupakan salah satu alternatif bagi para wisatawan yang ingin “mencicipi” Raja Ampat versi hemat. Gugusan pulau kecil di tengah lautan, mirip dengan versi aslinya. Setiap hari selalu ada saja pengunjung yang datang. Tentu utamanya Ulu Kasok ini dipadati para pengunjung di hari libur.

Selain pemandangan indah, Ulu Kasok pun menawarkan sejumlah spot foto yang menarik. Tak sedikit muda-mudi datang hanya untuk selfie sambil menikmati suasana yang tenang. Objek wisata ini terletak di Pulau Gadang, XIII Koto Kampar, Tanjung Alai, Riau.

2. Ekowisata Mangrove Mengkapan

Tidak banyak yang tahu bahwa Kabupaten Siak memiliki sejumlah tempat wisata yang menarik. Salah satunya Ekowisata Mangrove Mengkapan. Destinasi wisata ini terletak di desa Mengkapan, Sungai Apit, kabupaten Siak, Riau.

Ada dua jalur yang bisa kamu gunakan untuk mencapai tempat ini. Ada jalan baru Siak yang menawarkan pemandangan indah selama perjalanan. Bisa juga mengambil jalan lama Siak yang jaraknya lebih pendek.

Ekowisata Mangrove Mengkapan memang belum setenar Istana Siak, padahal destinasi wisata ini sudah dibangun sejak tahun 2004. Butuh waktu sampai sembilan tahun lamanya sebelum Ekowisata Mangrove Mengkapan dikenal luas.

Berbeda dengan objek wisata kebanyakan, Ekowisata Mangrove Mengkapan memiliki keindahan alam berupa pantai, spot foto, dan Gembok Cinta Mangrove. Bagi kamu-kamu pemburu gambar bagus, jangan lewatkan untuk mengambil foto di atas jembatan hitam, di sekitar Gembok Cinta Mangrove, pantai, dan sejumlah spot seru lainnya.

Tak hanya itu saja, di tempat ini kamu juga bisa belajar banyak mengenai cara penanaman mangrove, jenis mangrove, pembibitan, dan perawatan mangrove.

3. Dermaga Tepian Mahligai

Destinasi wisata Dermaga Tepian Mahligai memang tergolong baru, tetapi tempat ini sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan wisatawan. Banyak keseruan selama berlibur yang bisa didapatkan di wisata alam yang berlokasi di Pulau gadang, XIII Koto Kampar, Riau ini

Cukup banyak kegiatan yang bisa dilakukan selama berada di pusat wisata ini. Misalnya, main sepeda air, flying fox, banana boat, memancing, main bola air, dan ATV. Biaya yang dipatok pun relatif standar. Di Dermaga Tepian Mahligai para wisatawan bisa berfoto sambil bermain aneka wahana atau di spot foto yang telah disediakan.

4. Hutan Kota

Siapa sangka kalau kawasan Hutan Kota menjadi tempat favorit untuk hunting foto. Kawasan yang terletak di Jalan Diponegoro, Suka Mulia, Sail, Pekanbaru ini sangat mudah untuk ditemukan karena letaknya tidak jauh dari gelanggang olahraga Tribuana.

Memasuki kawasan Hutan Kota, kamu akan merasakan kedamaian dan kesegaran yang benar-benar menghipnotis, membuat Anda nyaman. Banyak pepohonan hijau nan rindang yang sangat cantik untuk dijadikan latar belakang foto.

Selain cocok untuk dijadikan tempat relaksasi, para wisatawan pun dapat belajar banyak mengenai jenis tumbuhan yang ada. Pasalnya setiap pohon di kawasan Hutan Kota diberi label nama sehingga memudahkan para wisatawan untuk mengetahui setiap jenisnya.

Nah, itulah sejumlah tempat wisata instagrammable yang bisa kamu-kamu kunjungi selama berlibur di Pekanbaru. Pastikan untuk memesan hotel di Pekanbaru melalui jaringan hotel terbesar di Indonesia, Airy Rooms. Nikmati kemudahan booking penginapan murah dengan fasilitas lengkap berupa kamar bersih, air minum, TV layar datar, perlengkapan mandi, shower air hangat, AC, dan WiFi gratis. Nah, sudah siap liburan belum?

 

Advertisements
[GJ] – Groningen’s Journal

Review Groningen Mom’s Journal

Hati saya berbunga-bunga ketika ada kawan saya yang menuliskan panjang lebar kesan/komentar/review-nya mengenai buku Groningen Mom’s Journal. Buku bisa cetak saja sudah senang banget, apalagi ada yang bersedia membaca dan ternyata berkesan untuk mereka.

Berikut beberapa review yang dituliskan oleh kawan-kawan saya:

Yang ini revierw dari teh Winda, kawan seperjuangan di ODOP dari tahun 2016. Sejak awal di ODOP, saya udah ngikutin blognya Teh Winda yang kocak, terutama kisah fiksi Ria Jenaka. Itu bikin saya ngakak-ngakak sendiri. Saya menanti nih, siapa tahu kumpulan cerita Ria Jenaka bisa diterbitkan jadi buku, aamiin.

Review di blog Teh Winda

Kita dapat menemukan banyak informasi dan inspirasi dari curhatan seorang ibu yang merantau nun jauh di sebuah negara Eropa dari buku padat berisi ini. Poin terpenting, saya merasa sama sekali tidak digurui oleh Monika di buku ini. Gaya bahasa yang digunakan cukup mudah diterima oleh pembaca dengan diksi yang tidak rumit. Secara tata bahasa, penyuntingan pun sudah termasuk rapi tanpa typo yang jelas mengganggu ataupun kalimat tak efektif.

Kata Teh Winda, yang perlu diperbaiki adalah soal foto. Iya saya setuju, soalnya foto-fotonya hitam putih, kadang ada yang kurang jelas. Kalau bisa berwarna mah keren banget. Hanya soal biaya harus dipikirkan. Bisa baca lengkapnya di blognya Teh Winda.

Nah yang ini ulasan dari Nyit. Nama aslinya sih Pranita, tapi dari SMA entah mengapa dipanggil Nyit, hehe.. Udah lama gak jumpa, Nyit ikut pesan buku saya dan gak nyangka ternyata niat juga nulisin reviewnya, huaa..

Review dari Nyitnyit

Bagi saya, buku ini sangat menginspirasi kita sebagai ibu – ibu yang masih muda, jangan pernah lelah untuk belajar dan mengejar mimpi yang dulu pernah kita cita – citakan sejak kecil. Status menikah dan memiliki anak bukanlah menjadi suatu penghalang, melainkan harus kita jadikan sebagai tantangan dalam hidup

Bisa baca lengkapnya di blog Mrs. Nyit

Terakhir, dari punggawa ODOP nih, Teh Shanty, yang menggiring saya ikut ODOP. Kalaulah saya tidak nyemplung basah di ODOP, mungkin buku saya ini belum terbit. Kalau Teh Shanty tahu dulu pas ikut ODOP awal-awal saya niat banget. Eh dulu ODOP beneran satu hari satu postingan lho, bukan rapelan seminggu kayak yang sekarang (minimal satu tulisan). Padahal waktu itu saya sambil ngerjain master report saya yang terakhir. Tabungan tulisan saya di blog ini ada yang saya masuk ke dalam buku ini. Jadi waktu itu, tiap saya baru datang ke kampus untuk ngerjain report, saya pemanasan dulu nulis di blog selama 30-40 menit, gak lebih. Kalau lebih nanti saya gak kelar dong nulis thesis saya mwahaha. Sampai kawan saya yang anak PhD dan juga suka ngeblog heran, kok tiap hari ada aja postingan saya nongol di feeds dia. Dia komen: ngeblog mulu woy! Tapi ternyata practices makes perfect itu benar adanya. Well ya gak perfect sih maksudnya. Tapi drilling dahulu kala itu menjadikan saya berkeinginan menerbitkan buku ini.

Review dari Teh Shanty

Ada tujuh poin ulasan dari Teh Shanty.

  1. Bagaimana seorang IRT bisa punya ide sekolah di luar negeri?
  2. Bagaimana sih caranya dapat beasiswa?
  3. Apa yang perlu dipersiapkan untuk sekolah ke Belanda?
  4. Belanda atau tepatnya Groningen itu seperti apa sih?Bagaimana suasana keagamaan di sana
  5. Bagaimana suasana keagamaan di sana?
  6. Bagaimana sih pendidikan untuk anak-anak di Belanda?
  7. Susah nggak sih jadi student mom di Belanda?

Bisa baca lengkapnya di blog Teh Shanty

Banyak hal baru yang saya dapatkan dalam buku ini. Ini nih yang bikin buku menarik untuk dibaca. Bukan hal-hal klise yang sejuta umat sudah tahu.
Satu bahan perenungan saya setelah membaca buku ini. Saya mengenal 2 tipe teman. Ada yang tipe Stay at home Momseperti saya, ada yang tipe Student Mom atau Working Mom seperti Monika.

Buku ini membuka wawasan saya betapa Monika bisa menjalankan perannya dengan sangat baik sebagai Student Mom. Sebuah pilihan yang mungkin di permukaan kita menilainya sebagai pilihan yang egois dan hanya mementingkan diri sendiri di atas kepentingan anak dan keluarga.
Tapi itu tidak terjadi dalam kasus Monika dan keluarga. Saya melihat seorang ibu rumah tangga yang membanggakan korpsnya (korps emak-emak berdaster maksudnya), membanggakan keluarganya, membawa nama almamaternya, mengenalkan nama negaranya, bahkan menjadi agen dakwah bagi agamanya.
Saya suka membaca bagaimana celoteh Runa di pagi hari: “Ayah kantor…Bunda kampus…Runa kolah….” (hal 216)

Berhaji dari Belanda, Catatan Haji 1437 Hijriyah

Parameter Diterimanya Ibadah Haji

Yang ini adalah tausiyah yang diberikan oleh Ustadz Irwan, Ustadz yang menemani rombongan Euromuslim ketika menunaikan haji. Ustadz Irwan dan Ustadz Rolly adalah dua ustadz Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Madinah. Alhamdulillah mereka berdua sudah sangat paham situasi Madinah dan Mekah.

Saya tulis ulang catatan saya di blog, sebagai pengingat kembali bagi saya pribadi, juga supaya bisa bermanfaat untuk yang membaca.

Ba’da subuh, di Masjidil Haram, di lantai paling atas rombongan kami menunaikan salat Subuh berjamaah. Sambil menunggu fajar menyingsing, Ustadz Irwan membuka halaqah kami dengan kalimat: “ibadah haji adalah permulaan membuka lembaran baru”. Saat itu memang prosesi inti haji sudah selesai, dalam seminggu itu kami hanya menunaikan ibadah sunah di Masjidil Haram.

Ibadah haji yang sudah ditunaikan, lalu apa? Bagaimana parameter ibadah haji dterima oleh Allah? bagaimana implikasinya dalan pada keseharian kita selanjutnya? Tentu kita harus selalu mengusahakan agar ibadah yang kita lakukan selanjutnya senantiasa diterima dan ibadah haji tidak tertolak. Continue reading “Parameter Diterimanya Ibadah Haji”

Berhaji dari Belanda

Melanjutkan Catatan Haji

Salahnya kalau menunda-nunda suatu pekerjaan, malah akhirnya gak jadi-jadi. Tadinya saya mau menuliskan secara lengkap seluruh catatan haji daru Belanda 1437 Hijriyah, tahun 2016 silam di blog.

Sebab:

  1. Tentu untuk reminder saya sendiri
  2. Untuk memudahkan rekan-rekan yang ingin berhaji dari Belanda

Awalnya saya cukup rutin menulisnya, sampai akhirnya beberapa tulisan tertunda. Lama-lama saya malas memulainya lagi. Dan sekarang sudah mau dua tahun menuju Haji 2018.

Alhamdulillah tahun 2017 kemarin, jumlah jamaah haji (orang Indonesia) dari Belanda semakin meningkat. Beberapa sahabat saya pun sudah menunaikannya, dengan segala perjuangannya. Ada yang menitipkan anaknya pada orang tua di Indonesia, seperti saya dulu. Ada yang membawa orang tua, adik, atau tantenya ke sini untuk mengasuh anaknya. Dan macam-macam kisahnya, Masya Allah.

Tahun 2018 ini, Masya Allah calon jamaah haji dari Belanda semakin banyak. Mungkin setelah mengetahui  dan mendengar cerita dari rekan-rekan yang sudah menunaikan haji sebelumnya, orang-orang makin yakin bahwa menunaikan haji dari Belanda itu sangat mungkin dan Insya Allah mudah, mengapa?

  1. Tidak perlu mengantri
  2. Biaya yang dikeluarkan hampir setara dengan biaya haji regular (ONH) Indonesia
  3. Waktu yang dihabiskan saat menunaikan haji tidak selama jika berangkat di Indonesia. Maksimal 3 minggu waktu yang harus disediakan. Cukup dong dengan mengambil cuti dari kerja
  4. Jarak dari Belanda ke Arab Saudi lebih dekat
  5. Proses pengurusan tidak terlalu ribet

Paling yang menjadi concern utama (terutama bagi yang sudah berkeluarga) adalah urusan anak. Apakah anak mau dibawa, ditinggal, atau mengangkut keluarga dari Indonesia untuk membantu menjaga anak? Urusan perlengkapan dan persiapan haji Insya Allah tidak sulit.

Tahun ini banyak rekan saya yang berniat haji, dengan segala lika-likunya. Mendengarnya saja saya jadi terharu. Ada yang ingin membawa bayi ke tanah suci, ada yang ingin membawa dua anaknya juga, ada yang harus mengimpor orang tua dan mertuanya ke sini, ada yang di injury time baru merasa bisa berangkat sebab ternyata ada rezeki berlebih, lalu berpikir kapan lagi momennya? Masya Allah. Semoga dimudahkan, semoga dikuatkan, semoga ada jalannya, aamiin.

Ada rekan-rekan yang bertanya bagaimana pengalaman saya dan suami dulu. Itulah lemahnya manusia yang mudah lupa, kadang saya lupa bagaimana urutan kejadian di sana dan prosesi lengkapnya. Itulah juga kekurangan saya yang lebih bisa bercerita detail melalui tulisan daripada melalui lisan. Untung dulu saya mencatat singkat di notes hape kejadian setiap hari selama di tanah suci, hanya poin-poin saja, harus diurai dulu nih.

Nah dari situlah, tolong doakan saya pembaca yang budiman, untuk bisa melanjutkan catatan perjalanan haji ini, sebelum bulan Zulhijah datang. Agar bisa dibaca dan bermanfaat bagi yang ingin melaksanakan haji dari Belanda.

Groningen's Corner

De Opa van Marijn

De Opa van Marijn ~ Opanya Si Marijn

Marijn adalah anak lelaki sahabat Runa di sekolah. Rumah Marijn sebenarnya ada di Beijum, sekitar 3 km dari daerah tempat tinggal kami. Tapi kebetulan Opa dan Omanya tinggal bersebrangan dengan flat kami. Marijn tentu sering berkunjung ke flat Opa dan Omanya, terutama saat pulang sekolah. Kami juga jadi sering berinteraksi dengan Opa dan Oma Marijn. Ya sekedar say hallo dan menanyakan kabar saja. Soalnya Opa dan Oma Marijn cuma bisa bahasa Belanda, jadi basa-basi saya agak terbatas, haha.. Saya tetap berusaha bisa mengimbangi obrolannya Opa dan Oma, sedikit-sedikitlah (sedikit sok tahu juga wkwk). Btw, saya gak hapal nama Opa dan Oma siapa, jadi kami selalu memanggilnya Opa en Oma van Marijn.

Opa dan Omanya Marijn punya anjing, namanya Robin, yang kadang suka menggonggong kalau ketemu di lift. Kadang juga ketika Robin menggonggong, Runa jadi lari terbirit-birit. Eh Si Robin malah makin mengejar Runa karena dia mengira Runa ingin mengajaknya bermain lari-larian. Continue reading “De Opa van Marijn”

Tentang Menulis

Giveaway Groningen Mom’s’Journal

#Giveaway #GroningenMomsJournal

WhatsApp Image 2018-03-30 at 19.45.38
Buku ini merantau dari Indonesia dan akhirnya menemukan “rumahnya”. Iya, gambar sampul depan Groningen Mom’s Journal ini memang ada betulan di Groningen. Merupakan salah satu spot favorit saya di Groningen. Kalau di sampul buku terlihat pohon-pohonnya masih hijau pertanda musim semi sedang bertandang. Saat ini dedaunan di pohon-pohonnya masih baru akan tumbuh. Musim semi segera datang!

Nah, buat yang penasaran belum baca bukunya, ikutan yuk #giveaway #GroningenMomsJournal ini. Caranya gampang!
1. Like postingan di Instagram @monikaoktora
2. Repost foto ini
3. Tuliskan makna rumah atau merantau bagimu di postingan tersebut. Boleh berupa puisi, fiksi mini, atau kontemplasi singkat.
4. Tag dan mention ig saya @monikaoktora di postinganmu, biar ga kelewat di notif saya
5. Tag minimal 5 teman kamu, sekalian ajakin ikut giveaway ini
6. Jangan lupa hastag #GroningenMomsJournal .

Deadline 7 April 2018, pukul 23.59 WIB.

Dua tulisan yang paling menarik dan bermakna, akan mendapatkan buku Groningen Mom’s Journal!
Seru kaan?! Mumpung lagi weekend nih sekalian nulis, curhat, eh bisa dapetin buku. So, tunggu apa lagi! .

Salam hangat dari Groningen yang mulai menghangat🌞

Groningen's Corner, Life is Beautiful

Pindah

Sepertinya hal yang satu ini harus ditulis, biar rasanya lega. Soalnya dari beberapa bulan kemarin saya merasa masih agak gamang dengan yang namanya pindah.

Iya pindah. Jadi dalam sebulan ke depan, Insya Allah saya dan keluarga akan menempati rumah baru, di lingkungan yang baru, juga termasuk sekolah Runa yang baru. Tadinya sebelum merencanakan pindah ke sana, saya selalu melontarkan denial dengan perkataan pada suami saya. Seperti, “Beneran mau pindah?”, “Rasanya susah membayangkan pindah dari lingkungan sekarang ke tempat baru.”, sampai “Gak bisa ya kita cari rumah di daerah sini aja?”

Tapi memang pada kenyataannya kami sudah berusaha untuk mendapatkan rumah di daerah tempat kami tinggal sekarang ini. Ada tiga rumah yang kami datangi. Satu dari tiga itu cocok banget rasanya, tapi harganya bok yang ga cocok di kantong. Lalu kami juga kalah bidding, sebab ada yang menawar jauh di atas harga yang kami tawarkan. Continue reading “Pindah”