Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, School stuff

Insya Allah

“Insya Allah…”

Insya Allah, it means if Allah will” Akhirnya saya ucapkan juga kalimat itu di tengah-tengah meeting online bersama supervisor dan kedua post-doc yang terlibat dalam penelitian saya.

Saya mengatakannya sebab saya sendiri gak yakin untuk mengatakan “Yes, I can do that“. Sebab saat itu progres penelitian saya sedang terhambat, ada ketidakpastian di dalamnya, setelah bolak-balik kembali ke proses analisis data. Rasanya terlalu sesumbar untuk bilang kalau saya pasti bisa melakukannya, tetapi terlalu pesimis untuk bilang kalau, yaa.. liat nanti aja atau saya gak yakin nih. Dan orang Belanda tentu lebih suka sesuatu yang meyakinkan daripada ragu-ragu: iya ya iya, enggak ya enggak.

Akhirnya saya bilang aja, Insya Allah. Maksudnya ya saya berusaha, tapi tetap akhirnya saya serahkan pada Allah. Biasanya saya jarang-jarang mengucapkan kalimat dengan asma Allah kalau berbicara dengan kolega non-muslim/orang Belanda/Eropa, seperti bilang Alhamdulillah, Insya Allah, Masya Allah. Agak kagok aja, bisi mereka gak ngerti. Paling saya ucapkan dalam hati aja, gak secara lisan. Lain kalau ketemu muslim dari Turki, Maroko, Somali, Suriname, dan lain-lain. Enteng rasanya mengucapkan kata-kata tersebut di depan mereka. Sebab mereka juga pasti mengerti, dan menjawab hal serupa. Bahkan orang Maroko itu sangat enteng menyebut nama Allah ketika memuji.

Continue reading “Insya Allah”
review buku

Berkah Madinah Penggerak Sejarah – Review Buku

Berkah Madinah Penggerak Sejarah – @edgarhamas

Mungkin sebagian dari kita sudah familiar dengan kebesaran kota Madinah, kota pertama Rasulullah meletakkan pemerintahan dan dakwah Islam yang menyeluruh. Di sana terletak Masjid Nabawi dikelilingi dengan payung-payungnya yang indah. Tetapi belum tentu semua tahu berkah luar biasa di kota ini. Penulis menjabarkannya dengan ringan, namun menyentuh. Mengenai makam Baqi, makam Rasulullah SAW, gelar Al Munawwarah untuk Madinah, hikmah Madinah sebagai tempat hijrah Nabi SAW, kisah Uhud, Raudhah, Qiblatain, juga ada pengalaman menarik penulis ketika bersekolah di sana.

Setelah membaca buku ini, saya jadi semakin semangat untuk membawa kedua puteri saya mengunjungi Madinah (dan Mekah), semoga ada rezeki, aamiin. Bahkan terpikir, apa masih bisa ya ngambil sekolah di Madinah? (mengingat ilmu saya yang cetek, gak punya basic, mau belajar apa?) Atau anak-anak nanti mungkin? 🤲🏻

Madinah begitu … Masya Allah, ada kekuatan ilmu, penebal iman, dan buluh rindu pada Rasulullah SAW. Saking ingin terus mengingat Madinah, kami menyematkan ‘Medina’ di akhir nama anak kedua kami.

Kalau kita ditanya kota mana yang paling indah di muka bumi? Mungkin terbayang mewahnya London, bergengsinya New York, klasiknya Roma, majunya Dubai, dan lainnya. Tapi Madinah itu spesial, ia “murni”. Dahulu kota-kota megah pun sudah ada, para sahabat yang tinggal di Jazirah Arab yang notabene gersang tidak ada apa-apa tentu juga kagum akan Konstantinopel, Alexandria, atau Memphis. Namun Rasulullah mendidik sahabatnya untuk tidak silau dengan dunia, porsi sejati yang proporsional, dunia di genggaman tangan, dan akhirat di hati (hal. 52). Masjid Nabawi pun tidak seindah sekarang. Fondasinya dibangun malah hanya sehari jadi. Tapi siapa sangka dari Masjid Nabawi ini lahir pusat peradaban Islam terkuat? Yang kelak menundukkan Romawi dan Persia.

Penulis mendeskripsikan “murni” untuk Madinah. Betul memang tidak ada gemerlap dan polesan kemewahan berlebih di dalamnya. Tetapi esensinya Madinah adalah kesederhanaan, bahwa hakikat hidup manusia itu memurnikan-Nya tanpa tapi.

Being a Student Mom, Catatan Hati, Groningen's Corner, Journey

Tentang Proses dan Hasil

Sekitar tahun 2019, saya lupa kapan tepatnya, ada pembangunan infrastruktur besar-besaran di depan kampus saya, UMCG. Yang saya ingat ada baligo besar terpampang di salah satu gerbang masuk UMCG, tertulis bahwa pemerintah kota Groningen akan membangun jalur bus dan halte baru, lengkap dengan perluasan trotoar dan jalan sepeda di sekitarnya. Konstruksi ini juga berimbas pada pelataran kampus juga, yang menyatu dengan jalan. Dengan dibangunnya infrastruktur ini, diharapkan membuat pejalan kaki, penyepeda, penumpang bus, akan lebih aman dan nyaman di intersection tersebut, yang memang sangat ramai dan padat. Ditargetkan pembangunan akan selesai di tahun 2022. 

Saya sendiri waktu itu berpikir (agak) skeptis, aduh pembangunan kayak gini kapan beresnya ya, mana pas masa konstruksi itu bikin jalan yang biasa saya lalui dengan sepeda jadi makin sempit dan riewuh banyak pembatas. Ada banyak pula alat berat konstruksi berseliweran, gak cantik untuk dipandang. Ditambah ada halte bus yang ditutup. Kalau saya kebetulan naik bus, saya harus jalan lebih jauh untuk mencapai halte bus lain yang terdekat. Memang betul, masa-masa pembangunan itu mungkin adalah saat “terberat” dalam rencana infrastruktur tersebut. 

Sumber dari groningen.nieuws.nl/ 
Sumber dari: groningen.nieuws.nl/ 

Sebagai orang yang melihat dari kacamata luar, saya merasa progres dari pembangunan tersebut lama juga. Sepertinya tidak terlihat kemajuan berarti, apalagi ketika pandemi. Semuanya seperti terhenti. Sampai-sampai, saya tidak sadar bahwa ada sedikit demi sedikit ada perubahan di jalan tersebut. Summer 2022, saya ternganga, setelah beberapa lama saya tidak menyambangi kampus, ternyata pembangunan tersebut diresmikan juga. Masya Allah, ternyata rencananya gak omdo (omong doang). Bahkan, saya merasakan nyaman dan enaknya hasil dari infrastruktur baru tersebut. Mahasiswa-mahasiwa yang baru datang ke Groningen di tahun ajaran ini langsung bisa menikmati kenyamanan infrastruktur tersebut, tanpa tahu sebelumnya itu jalan ruwetnya kayak apa.

Ternyata kalau dipikir-pikir, perjalanan konstruksi tersebut bisa diibaratkan perjalanan studi saya selama 4 tahun ini. Terlihat ambisius di awal, lengkap dengan rencana ini itu. Tentunya dalam pelaksanaannya, banyak compang-campingnya, ada sandungan dan tantangan berseliweran, gak cantik untuk dirasakan. Terkadang saya harus mengambil jalan memutar untuk bisa menyelesaikan satu masalah. Ketika pandemi merangsek, semuanya seperti mandek, pikiran terasa luar biasa capek. Tapi toh, dikerjakan juga, sampai akan ada saatnya studi ini bisa dinikmati, oleh saya pribadi atau oleh orang-orang lain.

Continue reading “Tentang Proses dan Hasil”
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja, Groningen's Corner

Avond4Daagse – Groningen (Reitdiep)

Registration of Avond4daagse is now open!

That was the slight message that appeared in the school portal. This message attracted me since I am actually already familiar with the activity. However, we never join this event. And there was corona for two years, and we did not really pay attention to the extra activities outside school.

I thought maybe this would be an excellent chance to join. Without any doubt, I enrolled Runa for 5 km walking in Avond4Daagse, organized by the school in the Reitdiep neighborhood.

So, what is actually Avond4Daagse?
Evening4daagse is an initiative event of Koninklijke Wandelbond Nederland ([KWbN], a sports association in the Netherlands). The mission is to persuade the children as much as possible in walking activity. They move through the neighborhood during the evening time, for 4 days in a row. The idea is not only to promote a healthy lifestyle, but also to make them have an unforgettable ‘walking party’. And this event was passed from generation to generation. Almost every region or city in the Netherlands organizes this activity. Children from 4 years old and older can join, and also parents can participate (especially for small children). Older children can walk by themselves.

Continue reading “Avond4Daagse – Groningen (Reitdiep)”
Being Indonesian in the Netherlands, Cerita Runa dan Senja

Pesantren Kilat Venuslaan

#Latepost ini tuh. Tapi sayang kalau gak dituliskan. Siapa tahu bisa jadi inspirasi para orang tua muslim yang tinggal di luar negeri.

Berangkat dari kegelisahan saat Ramadan di rantau, saya menyusun agenda kegiatan khusus untuk anak-anak. Semacam pesantren klat (sanlat) lah. Inginnya ya menampung semua anak Pengajian Anak DeGromiest, dari yang usia 4 tahun ke atas (seusia Senja) sampai yang usia 8 tahun ke atas (seusia Runa). Inginnya lagi kegiatannya full seminggu. Tapi apa daya energi dan waktu terbatas untuk bikin semua agenda. Selama Ramadan tetap harus kerja, anak-anak juga masih sekolah biasa. Jadinya bikin pesantren sesuai kapasitas sendiri.

Target anak: Anak usia di atas 8 tahun, yang sudah bisa mandiri, karena agendanya menginap. Kalau anak-anak usia 4-5 mungkin masih agak insecure kalau dilepas menginap gak ada ortunya. Di Groningen, kebetulan anak yang seumuran Runa (dan perempuan) ada dua orang, Khaida dan Lilan. Saya pun menghubungi mamanya, mengabarkan kalau akan ada Sanlat Venuslaan. Khaida dan Lilan bisa ikut serta, gratis dong. Rencana saya disambut antusias oleh ortu keduanya. Saya pun jadi semakin serius menyusun agenda beneran dong.

Continue reading “Pesantren Kilat Venuslaan”
Catatan Hati

Yang Hilang Menurut Manusia, Yang Terbaik Menurut Allah

Dalam dua minggu ini mungkin banyak sekali warga Indonesia yang berduka. Duka yang dirasakan atas kejadian yang menimpa keluarga Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (RK). Padahal banyak dari kita yang kenal juga tidak, saudara bukan, keluarga apalagi. Tetapi begitu mendengar kabar ini, rasanya hati siapa yang tidak pilu. Tak bisa saya membayangkan untuk berada di posisi RK, Ibu Atalia, dan Zara. Jangankan membayangkan, membaca berita-beritanya saja, hati dan pikiran sudah lemas. Masya Allah.

Jumat, 27 Mei 2022. Pagi-pagi saya bangun dengan dikejutkan kalimat suami, “Bun, tahu gak anak Kang Emil hilang di Swiss?”

Saya yang masih setengah buka mata belum bisa mencerna maksud Suami. Ternyata sudah banyak berita berseliweran di grup whatsapp yang menceritakan musibah yang menimpa Emmeril Kahn Mumtadz, putra sulung Ridwan Kamil. Kejadiannya Kamis siang waktu Eropa, tapi berita mulai tersebar Jumat pagi. Dengan banyaknya berita, saya masih belum (mau) percaya. Apa segampang itu orang hanyut dan hilang di sungai di Swiss?

Bern, Swiss, beberapa kali kami melewati kota tersebut, hanya lewat, tidak mampir. Dua kali musim panas keitka pandemi, kami menghabiskan liburan ke bagian-bagian cantik Swiss, di Lauterbrunnen, Grindelwald, Zermat, Titlis, Interlaken, sampai kota Zurich. Memang Masya Allah cantiknya Swiss. Kalau orang bilang seperti paradise on earth.

Grindelwald

Siapa pun yang menjejakkan kaki ke Swiss pasti akan terkagum-kagum dengan panorama dan keindahan alamnya. Air terjun yang mengalir bebas di antara bebatuan dan hijaunya pepohonan. Langit biru tanpa ada abu-abu polusi. Gunung es yang berdiri gagah di tengah hamparan bumi. Sungai jernih yang sejuk, mulai dari yang berwarna biru sampai berwarna turquoise. Udara bersih, yang memanjakan paru-paru. Masya Allah, Masya Allah.

Continue reading “Yang Hilang Menurut Manusia, Yang Terbaik Menurut Allah”
Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

Idul Fitri 1443 H di Groningen

Lebaran sudah berlalu hampir sebulan, Syawal sudah mau habis, tapi saya baru sempat bikin tulisan mengenai Idul Fitri tahun ini sekarang. Telat gak apa-apa ya. Sayang kalau juga gak ditulis, bisa jadi kenang-kenangan selama merantau di Belanda. Ramadan dan Idul Fitri akan selalu spesial di hati.

Jadi apa saja yang disiapkan untuk menyambut Idul Fitri? dan yang dikerjakan saat lebaran?

1. Membuat kue kering lebaran

Membuat kue lebaran menjadi tradisi saya bersama mama dan kakak setiap menyambut lebaran. Dulu kan belum ada atau jarang ya yang jual kue kering. Kalau ada pun mahal. Jadi kami sering bikin kuker sendiri. Menunya hampir sama tiap tahun: nastar, putri salju, semprit, kue kacang bertabur gula palem, dan kastengels. Saya dan kakak bagian ngerecokin bantuin Mama. Kadang Mama suka ngomel kalau hasil yang saya dan kakak kerjakan tidak sesuai instruksi Mama, misalnya kuenya bentuknya mencong, tidak seragam, nyomotin adonan, dll. Dulu saya suka kesel, yaelah Mama, gitu aja ngomel. Sekarang ketika punya anak dan udah bikin kue kering sendiri baru sadar. Bikin kue kering itu capek, kalau hasilnya gak sesuai, pasti gondok. Apalagi bahan-bahan kue kering kan mahal ya (Di Indonesia, dulu eman-eman bahan kalau bikin kue bahan premimum). Kalau di sini Alhamdulillah bahan-bahan kue termasuk murah. Jadi begitu anak-anak campur tangan, dan hasilnya sesuai karya mereka, ya udah gak apa. Saya gak ngomel deh, yang penting anak-anak happy. Kan ini untuk konsumsi pribadi aja.

Continue reading “Idul Fitri 1443 H di Groningen”
Catatan Hati, Mommy's Abroad, School stuff

Suara hati 4 tahun ini

Masya Allah ya Ramadan itu, berkahnya luar biasa. Baik yang terasa langsung ataupun tidak. Jadi saya mau curcol dikit nih tentang kejadian yang menurut saya “kok bisa ya?”, yang Masya Allah skenario Allah gak bisa ditebak.

Mungkin yang dulu pernah baca curcolan saya di masa-masa awal PhD, atau yang baca buku The Power of PhD Mama tahu bagaimana struggle-nya saya saat itu. Gak semuanya tentu saya ceritakan. Dan selama tahun-tahun setelahnya, sampai tahun terakhir saya hampir selesai PhD ini (aamiin), Alhamdulillah semuanya baik-baik. Tidak ada drama lebay banget. Kalau rasa capek, frustasi, beban, mah biasa, tapi itu turun naik. Hubungan saya sama si Ibuk pun stabil, gak kayak rollercoaster lagi. Bahkan dia sangat suportif.

Tapi ternyata mungkin hal yang saya pendam dulu kala dan gak sempat tersampaikan itu ada momennya sendiri untuk terkuak. Suara itu menguar bebasnya di udara, tanpa ada percakapan antara saya dan si Ibuk. Tapi dengan perantara, di waktu yang baik.

Continue reading “Suara hati 4 tahun ini”
Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja, Mommy's Abroad

Ramadan dan Runa tahun ini

Alhamdulillah kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun ini. Masih ada kesempatan untuk mengumpulkan bekal-bekal pahala yang bertaburan. Masih ada kesempatan untuk memohon ampun untuk dosa-dosa. Padahal dosa selalu nambah aja tiap tahun.

Ramadan ini dimulai dengan suasana mellow. Ya mellow cuacanya (yang sering hujan angin), ya mellow juga perasannya. Ada perasaan, ya Allah pengen saya tu Ramadan lagi di Indonesia, di Bandung, deket keluarga. Udah 7 tahun ya Ramadan di rantau, ternyata ada rasa sedih-sedihnya kerasa sekarang.

Juga tantangan muncul, sebab Runa sudah semakin besar, udah 9 tahun. Sudah harus semakin mengerti Islam, iman, ibadah-ibadah. Bukan maksudnya ngerti gimana banget, tapi ya, terbiasa, dan tahu bahwa ini adalah agama yang jadi pegangan hidup kita sampai mati, yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Terus gimana menerapkannya value-value itu pada Runa? Gak gampang, asli. Dulu saya merasa, saya belajar memahami Islam seperti let it flow, semuanya sudah ada, semuanya serba mudah. Itu gak berlaku untuk Runa. Juga untuk saya sebagai orang tua.

Continue reading “Ramadan dan Runa tahun ini”
Indonesia, etc

Catatan Mudik di Kala Pandemi (1)

Tadinya mau ngelanjutin postingan: https://monikaoktora.com/2022/01/20/cerita-mudik-di-kala-pandemi-belanda-to-indonesia/ tentang mudik di Indonesia pas lagi pandemi. Tapi yah, baru ketulis judulnya aja, terus kesimpen aja ini di draft blog, gak sempet ketulis-tulis. Penyakit kalo udah nunda nulis tuh ujungnya malah gak jadi nulis. Emang kuduna dipaksakan gitu, walaupun terasa waktu mepet di antara huru-hara kerjaan kampus dan rumah tangga?

Yah sudahlah, saya kasihan juga sama si draft ini yang menunggu ditulis, daripada ujung-ujungnya berakhir trash.

Intinya, waktu kami mudik di 11 Desember 2021-16 Januari 2022, banyak sekali perasaan tercampur-campur. Dari mulai karantina menggila 10 hari, berurusan sama birokrasi Indonesia yang, biasalah, ribet. Lalu sampai di Bandung bertemu keluarga, pokoknya agenda khusus untuk keluarga. Boro-boro ketemu teman, janjian sana-sini. Pokoknya family time full, keluarga Mama Papa, Ibu Bapak, sama Kakak-Mbak-Mas-dan adik, tante-tante, om-om. Alhamdulillah masih sempat juga ketemu sahabat baik, itupun kebanyakan mereka yang nyamperin kita.

Continue reading “Catatan Mudik di Kala Pandemi (1)”