review buku

Review singkat buku Metode Inovatif dalam Menghafal Al-Qur’an

“Dan sungguh telah kami mudahkan Al Qur’an untuk diingat, apakah ada yang mau mengingatnya?” (Al Qamar:17)

Menjadi penghafal Al Qur’an pastilah menjadi cita-cita banyak orang. Siapa yang tidak ingin bertemu Allah dengan bekal firman-firmanNya yang terpatri di hati dan pikirannya.

Buku ini mengupas langkah inovatif dalam menghafal Al Qur’an dalam 3 langkah:
1. Mendengarkan murattal di waktu luang, sebelum tidur, dan setelah bangun tidur.
2. Tahap memahami, mentadaburi maknanya. Caranya dengan membagi per tema/kisah.
3. Tahap memperkuat hafalan dengan membaca dari mushaf. Tentu dengan mengulang-ulangnya.

Buku ini juga menjabarkan lebih detail bagaimana mengimplementasikan langkah-langkah tsb, beserta bagaimana cara murajaah terbaik, sesuai dengan pengalaman penulis, Abdel Daim Kaheel, yang merupakan peneliti tentang kemukjizatan ilmiah Al Qur’an.

Saya melihat secercah cahaya setelah membacanya. Meski perjalanan menghafal masih panjang, tapi nasihat-nasihat emas dalam buku ini membuat saya lebih optimis.

Barakallah Gurunda Ustadz @hartanto_saryono dan tim @rumahtajwid.id sudah mencetak kembali buku ini. Insya Allah banyak sekali manfaatnya.

#BacaBuku2020 #MenghafalAlQuran #Murojaah #RumahTajwid

Cerita Runa, Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Playing with friends is just as important as learning

Kadang saya bertanya-tanya, apa sih yang paling penting dalam tangga edukasi anak di usia TK-SD seperti Runa dan Senja?
Pikiran saya melayang saat saya masih berseragam sekolah dulu. Paradigma yang ada adalah: 1. Pilih sekolah terbaik, 2. Jadi yang terbaik di sekolah. Katanya the better you do at school, the further you’ll go in life and be success. Jadi gak heran kalau di Indonesia orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik dan mendorong anaknya untuk berprestasi. Yang tentunya gak salah juga.

Tetapi, saya baru ngeh saat Runa dan Senja mulai sekolah di Belanda, bahwa it isn’t all about getting A grades or scoring > 80, and getting into the UGD (Universitas Gadjah Duduk). Pendidikan seharusnya memiliki tujuan jauh di atas itu. It’s also about the way of children’s well being and their development as an individual.

Yes, being smart is always good, but being survive (di dunia yang makin menantang ini), yet happy is important. Untuk bisa survive, pintar aja gak cukup. Soft skills dan social skills penting untuk ditanamkan di awal usia sekolah anak: How to make friends, be nice to them, menyelesaikan masalah bersama, bergantian saat bermain, berbagi, menjadi mandiri, be patient, be confident, dll.

Tapi tentu saya gak bisa membandingkan begitu saja edukasi di Indo dan di Londo. Sebab di Londo pendidikan bersifat merata, kaya atau miskin, anak seleb atau petani, Londo tulen atau imigran seperti kami, semua bisa dapat fasilitas sama. Sementara di Indo, orang kalangan ekonomi menengah ke bawah harus berusaha lebih keras untuk mengakses pendidikan yg baik. Belum sampai ke arah development berkelanjutan tadi. Namun semoga akan menuju ke arah yang lebih baik, aamin.

Being Indonesian in the Netherlands, Life is Beautiful

Melawan Kebatilan

(postingan yang telat diposting, udah dari pekan-pekan lalu, tapi gakpapalah ya, daripada enggak sama sekali)

Baru-baru ini ada kasus tak menyenangkan terjadi di Prancis. Saya singkat aja ya ceritanya. Jadi ada seorang guru di sekolah menengah atas yang memberikan pelajaran mengenai freedom of expression dengan cara memberi contoh kartun Rasulullah SAW. Kartun atau karikatur tersebut kalau tidak salah merupakan karya dari Charlie Hebdo yang heboh sejak 2006 silam, lalu muncul lagi di tahun 2013. Menurut sang guru, kartun yang menggambarkan sosok paling mulia di bumi adalah salah satu contoh kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Padahal ia tahu ada siswa muslim di kelasnya. Tapi ia tetap melakukannya. Tentu hal tersebut menyinggung sang murid. Lalu berikutnya ternyata sang guru ditemukan terbunuh mengenaskan oleh muridnya tersebut.

Sebuah peristiwa yang sangat miris. Miris karena penghinaan yang dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Miris karena penghinaan tersebut dibalas dengan darah. Setelah itu Perdana Menteri Prancis, Macron, mengeluarkan statement yang membuat umat Islam di Prancis semakin terpojok. Katanya kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sah-sah saja sebagai kebebasan berpendapat. Setelahnya kartun tersebut malah dipajang di beberapa tempat, dengan alasan kebebasan tadi. Umat Islam semakin terpojok dengan adanya isu islamphobia.

Lalu bagaimana seharusnya sikap kita sebagai muslim di Eropa khususnya? Yang posisinya dekat dengan Prancis. Saya pun mau gak mau jadi merasa takut juga kalau ada islamophobia yang berujung diskriminasi. 

Tapi sebelum ke sana, pertama kita lihat dulu bagaimana dengan adanya penghinaan tersebut? Apa yang kita rasakan jika ada orang yang menghina Rasulullah SAW?

Continue reading “Melawan Kebatilan”
Being a Student Mom, Just Learning

Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online

Saya mau sharing sedikit pengalaman selama mengikuti kuliah online di masa pandemi ini. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, mayoritas kegiatan perkuliahan di universitas dilangsungkan secara online. Ada juga yang menggunakan metode  hybrid katanya. Semacam kombinasi aa tatap muka juga, ada online-nya juga. Untuk meminimalisasi adanya kerumunan massa, dan juga untuk tetap memfasilitasi kegiatan perkuliahan yang efektif. Yaa.. tau kan gimana tantangannya kuliah melalui layar laptop. Bagaimanapun tatap muka dan pertemuan fisik tidak bisa digantikan dengan tatap virtual. Banyaklah kekurangan dan kesulitannya.                                                     

1. Koneksi

Namanya koneksi suka stabil dan enggak, tergantung rezeki. Namanya juga semua orang lagi wfh, ya bisa aja satu hari koneksi pet pet pet gitu. Video macet, suara ilang-ilang. Gak cuma dari saya aja, kadang dari dosennya, kadang peserta lain. Kalau udah kayak gitu, apa lagi yang bisa dilakukan coba? Emang pas kebetulan aja gak hoki.

2. Komunikasi satu arah

Dosennya kayak ngomong sendiri ke layar gitu. Dia juga merasa desperate sebenarnya. Kayaknya aneh, dan ga ada aktif interaksi. Dia gak bisa melihat apa muridnya memperhatikan apa enggak, mengerti apa enggak. Ya sama, murid juga merasa gitu. Mau nanya ya kagok juga motong omongan dosen pas lagi ngomong. Ada sih pilihan raise hand (tunjuk tangan) kalau mau “nyela” tiba-tiba nanya. Tapi tetep we kagok. Bisa juga nanya lewat kolom chat. Tapi ya ngetik kadang males, atau bingung memformulasikan ke tulisan.

Continue reading “Pengalaman Menjalani Kuliah secara Online”
Groningen's Corner, School stuff, [GJ] – Groningen’s Journal

The Paranymph

Itu si Monik ngapain ngikut mejeng orang yang lagi defense?

Oh itu daku lagi jadi paranim.

Paranim apaan tu?

Paranymph bisa dibilang sebagai bridesmaid-nya sang PhD Candidate (Promovendus). Sejak zaman dahulu, meraih gelar PhD dianggap sebagai marriage for university. Upacaranya sakral, sebab sang Promovendus diambil janjinya untuk mengemban gelar doktor sesuai dengan the Netherlands Code of Conduct for Scientific Practice.

Role of paranymph apa? Tentunya mendampingi Promovendus sebelum sidang, selama berlangsungnya sidang, dan selama reception. Plus membantu juga arrange mock-defense (trial defense) dengan kolega, distribusi buku thesis, me-list daftar undangan, dan paling penting juga nyiapin kado dan party buat si calon doktor.

Katanya paranim ini kalau bisa orang yang juga punya latar belakang ilmu pengetahuan yang sama dengan bidang PhD yang didampinginya. Jadi kalau-kalau si calon doktor gak bisa jawab, paranim bisa bantu, but that is not often the case. Gak harus orang dari keilmuan yang sama, dan jarang banget paranim bantuin jawab. Kadang Paranim juga diminta Opponent untuk membacakan propositions dari buku thesis Promovendus.

Terus siapa yang biasanya jadi paranim?
Usually one who knows you well, but also someone you can fall back on if necessary, someone you trust. Like family member, a good friend, or colleagues.

It was my first time to be Paranymph of my best friend and colleauge in crime@sofadewialfian. Along with Mbak @afifah_fam, we were honored to accept the task. Barakallahufiik Doktor Sofa, semoga ilmunya berkah dunia akhirat, aamiin.

📸 @fbprasetyo
#phd #phddefense #studentlife #promovendus #paranymph #bridesmaid #TheNetherlands #Groningen

Menemani Promovendus sebelum masuk ke ruang defense
Ruangan ini khusus untuk Promovendus, keluarga dan rekan-rekannya menunggu sebelum masuk ke ruang defense, dan saat menunggu sebelum penyematan gelar doktoral
Beriringan dipandu oleh Bedel
Memberi hormat pada komite penguji (opponent) dan promotor
Duduk di barisan paling depan, siap sedia jika Promovendus membutuhkan bantuan

 

Pharmacisthings

Deprescribing pada pasien diabetes tipe-2

Bismillah.

Saya mencoba memaparkan sedikit pendahuluan dari riset kami mengenai deprescribing pada terapi diabetes tipe-2 secara sederhana, dalam bahasa Indonesia. Mudah-mudahan para pembaca bisa lebih mendapatkan informasi mengenai topik ini. Untuk paper lengkapnya bisa dibaca di tautan berikut: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/dme.14408 (Published: 23 September 2020, open access).

Deprescribing adalah sebuah proses terencana yang meliputi penurunan dosis, penghentian, atau pengubahan terapi obat. Tujuan dari proses tersebut adalah mengurangi risiko terapi (seperti efek samping obat), juga untuk meningkatkan hasil terapi sesuai dengan tujuan terapi dan preferensi pasien. Proses ini biasanya ditujukan untuk mencegah polifarmasi dan potensi pengobatan yang tidak tepat (polypharmacy and potentially inappropriate medication). Istilah deprescribing ini mungkin belum umum dikenal dalam bahasa Indonesia, belum ada padanan kata yang tersedia untuk kata ini. Sederhananya deprescribing mungkin lebih dikenal dengan proses de-eskalasi (de-escalation), de-intensifikasi (de-intensification), titrasi dosis (titration/tapering), atau penghentian obat (cessation/discontinuation).

Istilah deprescribing pertama kali dalam bahasa Inggris di tahun 2003, di salah satu artikel penelitian dari farmasi rumah sakit di Australia. Tahun 2014, sebuah systematic review menyimpulkan istilah deprescribing agar istilah ini diakui secara internasional, dan ada kesepakatan definisi.

Deprescribing is the process of withdrawal of an inappropriate medication, supervised by a health care professional with the goal of managing polypharmacy and improving outcomes’. (Reeve, 2014). Continue reading “Deprescribing pada pasien diabetes tipe-2”

Lifestyle, Mumbling

Kapankah kita boleh bersantai?

Tulisan ini murni curhat aja

Saat hari Senin sudah di depan mata, saya suka menghela napas panjang. Mulai lagi nih pekan ini. Ingin rasanya memperpanjang weekend, tapi tentu saja tidak mungkin. Senin adalah waktunya kembali memulai rutinitas, bakbukbakbuk untuk mengerjakan semua amanah, tugas, to-do-list di depan mata. Biasanya saya mulai bernapas sedikit di hari Rabu. Hari Rabu tidak ada jadwal daycare untuk Senja. Jadi biasanya saya bermain dengan Senja sepuasnya. Siang hari baru saya colongan buka email, saat suami sedang istirahat siang. Oiya, Runa sekolah sampai pukul 14.00, dan dia gak harus ditemani terus. Biasanya habis makan siang, dia akan sibuk sendiri, entah baca buku atau main di kamarnya. Jadi hari-hari biasa, Runa gak terlalu banyak menyita perhatian lagi.

Lanjut di hari Rabu tadi, kalau ada tugas penting untuk diselesaikan Kamis atau Jumat, Rabu malam saya paksakan untuk kembali menatap layar laptop. Hari Kamis adalah hari paling “dinanti” sepanjang pekan. Sebab di hari itu adalah jadwal meeting rutin saya dan supervisor. Saya sudah harus siap dengan segala bahan diskusi, jangan sampai meleng. Biasanya bahan meeting sudah saya kirimkan beberapa hari sebelumnya. Jumat pekan sebelumnya (kalau rajin), Senin, atau Selasa di pekan yang sama.

Kamis, pukul 11.00, ketika meeting sudah usai, rasanya setengah dari beban di pundak saya terangkat. Lalu saya cenderung sedikit bersantai, bisa sambil menyimak kajian tafsir Ustadz Hartanto Saryono via zoom. Sambil mengerjakan tugas yang ada. Lalu mulai deh buka-buka godaan baca blog, sosmed, twitter, hehe, sampai jam makan siang. Setelahnya baru nyadar, ya ampun tadi udah buang-buang waktu, harusnya bisa lebih efektif kerjanya. Langsung buru-buru bikin to-do-list baru biar lega dan gak merasa bersalah. Jumat tuh hari random, kalau saya lagi gak ada kerjaan yang mepet, biasanya saya loss aja tu seharian. Senja juga gak ke daycare. Jadi saya puas-puasin main sama Senja, buka email juga enggak. Tapi kadang Jumat suka ada jadwal meeting, di jam-jam tertentu, jadi saya minta suami atau adik saya megangin Senja selama 2 jam-an.

Saya pernah bilang sama Suami, Ini kayaknya saya semingguan itu, hidup untuk melewati hari Kamis. Kalau Kamis sudah terlewati, rasanya lega.

Sebenarnya gak selebay itu juga sih. Bisa jadi karena meeting sama supervisor yang membuat hari itu jadi terasa penting. Bisa jadi juga karena Kamis itu sudah mendekati weekend. Tapi tak apa, bismillah, diniatkan ibadah. Kalau gak punya kesibukan nanti bingung lagi. Terus kapan dong kita boleh bersantai? Kan urusan kerjaan itu gak kelar-kelar, urusan dunia juga terus berputar, sampai pada akhirnya ada waktu finish masing-masing.

Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia tertipu, nikmat sehat dan waktu luang (HR Bukhari). Sedang sehat, tapi tidak punya waktu luang karena sibuk dengan urusan dunia. Kalau sedang punya waktu lowong, malah kondisi sedang tidak sehat. Sedangkan ketika punya keduanya, manusia malah dihinggapi rasa malas. Itulah manusia yang tertipu.

Makanya santai-santainya tetap harus yang bermanfaat dong yah. Gimana sih santai-santai yang bermanfaat? Kalau buat saya:

  1. Nulis
  2. Baca buku
  3. Baca blog/web yang bermanfaat
  4. Nonton youtube/denger podcast kajian ustadz
  5. Bikin konten untuk post IG (jatohnya nulis juga maksudnya sih)
  6. Masak-masak, bikin kue

Maunya sih nonton K-drama, menggoda banget. Tapi aku kapok. Gara-gara banyak yang bilang Reply 1988 seru jadi we aku nonton di Netflix. Daaan.. benar seru dan tak bisa berhenti. Akhirnya malah kebanyakan nontonnya, begadang demi memuaskan dahaga penasaran, besok paginya bangun malah gak fit, migren karena kurang tidur, kerjaan pun tak beres. Kapok udah. Saya stop dulu nonton yang bikin candu gitu. Nanti aja kalau beneran emang libur panjang.

Gimana santai-santai yang bermanfaat menurut kamu?

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents (2)

Suatu kali si Mama cerita, katanya ada anak temannya yang juga di kuliah di Groningen. Teman Mama ini teman sepermainan dulu waktu di Padang. Jadi masih sesama urang awak. Mama bilang kenal gak sama si (sebut saja) Anggrek, anaknya Om (sebut saja) Jati? Saya bilang, kayaknya gak kenal sih, mungkin pernah ketemu, tapi gak pernah mengobrol atau gimana. Maklum kan ya orang Indonesia dan mahasiswa di Groningen ini banyak. Jadi gak selalu setiap sesama orang Indonesia kenal. Apalagi kalau mahasiswa-mahasiswa S1 atau S2 yang “gaul”, udah pasti daku gak masuk lingkaran pergaulan tersebut, haha. Maklum ye, dari dulu mah daku anak cupu.

Intinya Mama dan temannya ini berkomunikasi, ya kali aja sesama anaknya itu di Groningen saling kenal, jadi bisa saling silaturahmi. Namanya orang tua mungkin merasa lega kalau anaknya itu mengenal orang yang dikenal orang tuanya (eh gimana sih, pokoknya gitu).

Tapi memang saya dan Anggrek gak berkomunikasi, seperti yang diharapkan oleh orang tua kami. Ya gimana, gak mungkin juga saya mencari-cari si Anggrek ke mana, dan nanya-nanya. Dia pasti udah besar juga, dan kalau gak merasa butuh orang Indonesia untuk bergaul pasti gak akan nyari juga. Continue reading “Call Your Parents (2)”

review buku

Review Buku Helen dan Sukanta – Pidi Baiq

Dari semua buku Pidi Baiq yang pernah ditulis dan saya baca, ini yang menjadi favorit saya, Helen dan Sukanta. Dahulu saya pernah dibuat ngakak-ngakak pas baca serial Drunken-nya, dan dibuat termehe-mehe pas baca kisah Dilan-Milea, tapi kisah Helen dan Sukanta ini lain. Begitu dalam sekaligus menyayat. Begitu tulus dan romantis tapi tidak picisan. Dibalut dengan latar sejarah di era kolonialisme Belanda di Indonesia tahun 1930-1945. Lengkap dengan penuturan deskripsi tempat yang cukup detail di kawasan Ciwidey-Bandung-Lembang, di masa tersebut. Pikiran saya langsung melayang membayangkan Bandung tempo doeloe yang dingin dan berkabut di pagi hari, dengan tempat-tempat yang mengundang rasa rindu.

Saya masih terpikir apakah kisah Helen ini fiksi atau nyata. Rasanya terlalu nyata untuk fiksi, tetapi terlalu tragis jika ini nyata. Tadinya di awal-awal bab, saya mengira kisah cinta antara Helen dan Sukanta (Ukan) akan serupa Dilan-Milea, khas kisah cinta anak muda yang berapi-api. Tetapi tidak, kisah mereka tumbuh dari persahabatan anak-anak yang senang bermain dan mengeksplorasi alam. Tentu percakapan unik khas Pidi Baiq yang jenaka tetap terasa.

Helen Maria Eleonora adalah Noni Belanda yang lahir dan dibesarkan di Tjiwidey, ayahnya bekerja di perkebunan di sana. sementara Sukanta adalah pribumi biasa yang tinggal di daerah lingkungan Helen. Helen yang tidak punya teman karena keluarganya tertutup dari lingkungan luar selalu merasa kesepian. Dari Ukan-lah Helen menemukan kesenangan yang bebas, bermain di sungai, mencari belut, menjelajahi Situ Cileunca, diajari makan dengan tangan dengan menu khas rakyat. Sudah bisa ditebak tentu kisah cinta mereka mendapat pertentangan kuat dari pihak keluarga Helen. Namun, pada akhirnya bukan keluarganyalah yang memisahkan mereka, tetapi kondisi keji peperangan dan kekejaman pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

“Aku ingin segera mengatakan bahwa sebuah perang selalu tidak menyenangkan, yang ada hanyalah penderitaan, terutama bagi warga sipil.” (Halaman 351).

Dari sosok Helen saya merasakan bahwa tidak semua orang Belanda di masa penjajahan adalah sosok antagonis, tidak semua bersalah atas penderitaan rakyat Indonesia. Dari sosok Ukan saya mendapatkan ketulusan dan keramahan orang Indonesia, yang pada zaman sekarang ini semakin memudar.

“Orang Hindia dalam banyak hal lebih punya simpati dan perhatian daripada orang Belanda. Mereka lebih banyak memberi penghormatan yang bisa dirasakan oleh setiap orang Belanda. Oleh karena itu, harus aku katakan, orang Hindia hanya ingin mengambil persahabatan, tetapi kita membalasnya dengan kaki di atas kepala mereka.” (Helen, Halaman 236)

Saya yakin Helen adalah orang Belanda yang lebih mencintai tanah Bandung dan Indonesia melebihi orang Indonesia sendiri atau melebihi tanah nenek moyangnya, Belanda. Belanda baginya adalah tanah asing, yang tidak pernah ia rasakan kedekatan batinnya. Saya jadi mengerti mengapa orang-orang yang merantau jauh ke luar negeri, tetapi dalam lubuk hatinya nama Indonesia masih saja terpancang kuat. Meski coreng-moreng membayangi wajah Ibu Pertiwi.

Penuturan situasi alam Ciwidey, Bandung, dan Lembang pada jaman kolonialisme digambarkan dengan apik oleh Pidi Baiq. Ada lembah-lembah, sungai, kebun teh, perumahan, suasana Bandung, dan jalan-jalannya yang masih diikuti dengan weg (jalan, dalam bahasa Belanda). Saya seperti diberi kemampuan untuk bernostalgia dan menjelajahi kehidupan di tahun tersebut tanpa pernah ada di sana.

“Waktu akan membuat kita lupa, tapi yang kita tulis akan membuat kita ingat.” —Pidi Baiq

Helen dan Sukanta – Pidi Baiq
Mumbling, review buku

Membaca Kembali Groningen Mom’s Journal

Ceritanya saya ingin segera menuntaskan naskah Groningen Mom’s Journal part 2, yang sudah lama mendekam di laptop. Ingin rasanya segera menyerahkannya ke editor, disunting, lay-out, cover, dicetak, beres deh. Tapi beberapa pekan ini saya lagi agak sibuk, entah sibuk apa, haha. Yang pasti di antaranya ngerjain tugas riset, yang memang gakan beres-beres, heuheu.

Wiken ini saya memaksa diri saya untuk mantengin laptop untuk urusan naskah. Ya Allah kayaknya saya udah lama meninggalkan si naskah ini huhu. Terus saya malah jadi ingin baca lagi buku pertama saya. Ingin tahu dulu saya nulis apaan sih? Sebagai referensi dan pembanding dengan naskah yang sedang GMJ part 2 ini.

Groningen Mom’s Journal

Jujur sejak buku saya terbit, saya memang gak pernah membacanya lagi, bisi malu, haha.. aneh yak sama tulisan sendiri kok malu. Ya begitu deh sifat minder saya suka gengges emang. Saya paksain deh baca dari awal sampai akhir, saya ingin tahu bagaimana gaya nulis saya, apa informasi yang dulu saya tulis, menarik/membosankan gak, dll. Saya juga bingung yak, dulu bisa aja menyelesaikan naskah lengkap itu, hebat ey. Tapi di sisi lain ternyata saya sadar tulisan saya masih banyak kurangnya juga di sana-sini. Masih ada bagian yang “apaan sih?” (menurut saya), dan juga kalimat-kalimat yang gak enakeun. Atau bahkan alur yang mboseni (mungkin karena saya udah pernah ngalamin apa yang ditulis kali ya).

Yah gakpapa lah ya, namanya juga buku pertama, banyak yang harus di-improve. Yang pasti saya harus memberikan apresiasi pada diri saya untuk karya saya yang satu ini. Meski bukan best seller dan tidak cetak ulang, setidaknya pernah mampir di toko buku besar di Indonesia, dipajang di rak buku, dan dinikmati oleh banyak pembaca di Indonesia, Alhamdulillah.

Buku tersebut menjadi refleksi kehidupan saya dan keluarga selama dua tahun pertama tinggal di Groningen. Kayaknya di dalam buku tersebut terasa masih setetes aja yang saya pahami dari kehidupan merantau di Groningen. Masih sedikit yang saya tahu tentang Belanda dan apa-apa yang ada di dalamnya. Sekarang sudah enam tahun berselang dari 2014 lalu, rasanya banyak yang berbeda. Banyak hal-hal baru yang ternyata oh begini dan oh begitu. Yang tadinya ada hal-hal menakjubkan sekarang jadi biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal sulit sekarang ya biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal biasa aja eh malah jadi sesuatu yang penting. Ada hal-hal yang bergesar dan bergerak. Begitu deh kehidupan.

Maaf saya mah cuma numprang ngecapruk aja ini mah.