Mumbling

Membaca Kembali Groningen Mom’s Journal

Ceritanya saya ingin segera menuntaskan naskah Groningen Mom’s Journal part 2, yang sudah lama mendekam di laptop. Ingin rasanya segera menyerahkannya ke editor, disunting, lay-out, cover, dicetak, beres deh. Tapi beberapa pekan ini saya lagi agak sibuk, entah sibuk apa, haha. Yang pasti di antaranya ngerjain tugas riset, yang memang gakan beres-beres, heuheu.

Wiken ini saya memaksa diri saya untuk mantengin laptop untuk urusan naskah. Ya Allah kayaknya saya udah lama meninggalkan si naskah ini huhu. Terus saya malah jadi ingin baca lagi buku pertama saya. Ingin tahu dulu saya nulis apaan sih? Sebagai referensi dan pembanding dengan naskah yang sedang GMJ part 2 ini.

Groningen Mom’s Journal

Jujur sejak buku saya terbit, saya memang gak pernah membacanya lagi, bisi malu, haha.. aneh yak sama tulisan sendiri kok malu. Ya begitu deh sifat minder saya suka gengges emang. Saya paksain deh baca dari awal sampai akhir, saya ingin tahu bagaimana gaya nulis saya, apa informasi yang dulu saya tulis, menarik/membosankan gak, dll. Saya juga bingung yak, dulu bisa aja menyelesaikan naskah lengkap itu, hebat ey. Tapi di sisi lain ternyata saya sadar tulisan saya masih banyak kurangnya juga di sana-sini. Masih ada bagian yang “apaan sih?” (menurut saya), dan juga kalimat-kalimat yang gak enakeun. Atau bahkan alur yang mboseni (mungkin karena saya udah pernah ngalamin apa yang ditulis kali ya).

Yah gakpapa lah ya, namanya juga buku pertama, banyak yang harus di-improve. Yang pasti saya harus memberikan apresiasi pada diri saya untuk karya saya yang satu ini. Meski bukan best seller dan tidak cetak ulang, setidaknya pernah mampir di toko buku besar di Indonesia, dipajang di rak buku, dan dinikmati oleh banyak pembaca di Indonesia, Alhamdulillah.

Buku tersebut menjadi refleksi kehidupan saya dan keluarga selama dua tahun pertama tinggal di Groningen. Kayaknya di dalam buku tersebut terasa masih setetes aja yang saya pahami dari kehidupan merantau di Groningen. Masih sedikit yang saya tahu tentang Belanda dan apa-apa yang ada di dalamnya. Sekarang sudah enam tahun berselang dari 2014 lalu, rasanya banyak yang berbeda. Banyak hal-hal baru yang ternyata oh begini dan oh begitu. Yang tadinya ada hal-hal menakjubkan sekarang jadi biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal sulit sekarang ya biasa aja. Yang tadinya ada hal-hal biasa aja eh malah jadi sesuatu yang penting. Ada hal-hal yang bergesar dan bergerak. Begitu deh kehidupan.

Maaf saya mah cuma numprang ngecapruk aja ini mah.

Random Things

(Jangan) Alergi Bangun Pagi

Setelah subuh enaknya itu bobo lagi, godaannya besar. Tapi tentu lebih utama gak tidur lagi, tapi kok prakteknya susah ya. Manalagi karena waktu subuh di Belanda (atau CET/CEST, central european summer time) ini berubah-ubah mengikuti pergerakan matahari.

Kalau dihitung-hitung dalam seminggu ini, setelah subuh, saya lebih banyak lanjut tidurnya daripada lanjut aktivitas. Bangun-bangun udah 7.30. Hitungannya belum telat sih untuk memulai aktivitas. Soalnya di sini kan anak-anak sekolah jam 8.30, ngantor juga jam 9. Tapi rasanya memang lebih puas kalau bangun lebih pagi dalam memulai hari.

Dulu waktu masih kecil-kecil, teringat Mama dan Papa saya selepas subuh gak pernah tidur lagi. Papa sibuk beres-beres, sementara Mama udah di dapur aja. Dari jam 4.30, bahkan sebelum subuh mereka sudah bangun, siap-siap. Jam 6, udah deh pada berangkat semua ke sekolah/ngantor. Maklum rumah kami jauh.

Saya jadi malu, selama ini saya sepertinya lebih sering menghabiskan waktu tak bermanfaat untuk kembali menarik selimut. Alergi rasanya bangkit dari tempat tidur. Padahal ini belum winter lho. Kalau winter wahhh.. perjuangannya untuk keluar dari tempat tidur luar biasa banget. Udah kayak jihad aja. Butuh obat anti-alergi bangun pagi yang kuat nih, alias motivasi besar. Idealnya maaaah yaaa, kalau jadi orang soleh banget, habis solat subuh tu ngaji, kalau perlu hapalan Qur’an. Soalnya pikiran kan jernih pas bangun pagi. Jadi bisa banyak masuk hapalannya.

Semoga gak alergi bangun pagi lagi! Bismillah

Just Learning, Life is Beautiful

Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata

Sepertinya cuma buku Andrea Hirata yang bikin saya gak akan menutup buku sekali membuka lembar pertama ceritanya.

Akhir minggu. Saya buka bukunya di pagi hari, pikiran saya terpaku pada kisahnya, gak mau pergi. Siang hari saya baca di sembari menemani anak-anak bermain. Malam hari, saya tamatkan tanpa jeda. Seperti ingin mengikuti terus ke mana langkah kaki Aini dan Guru Desi di cerita tersebut.

Andrea Hirata selalu bisa mengangkat topik orang-orang marginal menjadi sesuatu yang mencengangkan. Cerita Andrea Hirata meniupkan motivasi, mengembangkan mimpi, dan memperkaya jiwa. Sama seperti dulu saat saya membaca dua karya pertamanya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi 15 tahun yang lalu. Yang membuat saya ingin bermimpi ingin mengejar cita-cita ke negeri asing, dan meyakini bahwa tak ada yang mustahil bagi siapa yang berusaha keras. Dan buku Guru Aini ini telah melecutkan semangat yang sama pada saya dengan kedua buku pendahulunya.

Guru Aini, Andrea Hirata

Melalui sosok Aini, saya temukan berlian di balik timbunan lumpur. Berlian yang akan menampakkan kilaunya ketika ditempa dengan alat yang tepat, dan cara yang benar. Bahwa kebodohan bukanlah sesuatu yang absolut, tapi kemalasanlah sumber kebodohan. Bodoh atau tidak itu terletak pada keinginan untuk mengubah nasib. Dan keinginan itu akan ada ketika kita memiliki motivasi yang kuat. Motivasi Aini, si anak peraih angka biner 0 1 0 setiap ulangan Matematika, adalah ia ingin menjadi dokter ahli. Padahal ia sendiri tidak tahu apa itu dokter ahli, pokoknya ia ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan penyakit ayahnya. Ayahnya yang hanya berjualan mainan anak-anak kaki lima di pelabuhan tiba-tiba kolaps, perawat di Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Kabupaten tak ada yang bisa mengobati. Mustahil pula keluarga Aini bisa membawa ayahnya berobat ke dokter ahli.  kota Palembang. Kata Tabib di Selat Garam, tabib kesekian belas yang didatangi, penyakit model Ayah Aini hanya bisa disembuhkan dengan sekolah, dengan ilmu kedokteran modern, oleh dokter ahli.

“Ada keindahan yang sangat besar pada seseorang yang sangat ingin tahu, Laila, keindahan yang terlukisakan kata-kata” (Guru Desi pada Guru Laila, hal  198).

Tak ayal sesekali dia gembira, gembira karena keluarga dan sahabat setia, namun memahami suatu ilmu memberinya bentuk gembira yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Kegembiraan yang sulit dilukiskannya dengan kata-kata (Aini, hal 206).

“Jika Ibu ikuti dengan pensil, lambang ini takkan pernah berakhir. Inilah lambang infinity, Bu, suatu lambang yang bagi kemungkinan tak berhingga. Kata Guru Desi, kemungkinan tak berhingga bagi mereka yang ingin belajar, bagi mereka yang punya niat baik, bagi mereka yang berani bermimpi.” (Aini pada Ibunya, hal 212). Continue reading “Review buku Guru Aini, Prekuel Novel Orang-orang Biasa, karya Andrea Hirata”

Being a Student Mom, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Yang Paling Dirindukan

Setelah berbulan-bulan ga ke kampus, akhirnya saya berkesempatan juga ngampus lagi. Sekalian ngambil barang yang diperlukan sih. Tapi kan udah di sana mah ya gawe lah sekalian. Kayaknya terakhir ke kampus itu habis lebaran, tapi lupa kapan juga. Sekarang udah boleh ke kampus sekali seminggu, dengan aturan dalam ruangan saya, max cuma boleh 3 orang (seruangan ada 6).

Saya ke kampus dengan bersepeda. Biasalah, kendaraan rakyat, siapa saja punya. Sampai di kampus memang cuma ada saya temui segelintir orang. Salah satunya kawan seruangan saya, seorang post-doc dari Venezuela. Dia termasuk baru di departemen, baru bergabung bulan Juli.

Ternyata saya cukup menikmati space saya di kampus, di office, di room saya. Bisa mengakses kembali desktop tanpa repot harus connect ke sistem citrix, tanpa harus ribet ada waktu diskonek. Saya bisa dengan leluasa bekerja dengan layar yang cukup besar dan internet yang kencang (yah di rumah juga kenceng sih). Padahal saya pikir sebelumnya saya sangat menikmati work from home (wfh) dan mungkin gak ingin balik lagi ngantor.

Ternyata saya juga cukup menikmati interaksi dengan kolega saya, meski saya baru berkenalan dengannya. Ada rasa-rasa kalau saya menikmati percakapan dengan orang baru, tanpa canggung. Dengan bahasa Inggris percakapan yang sudah lama tidak saya pakai. Padahal saya pikir sebelumnya saya gak kehilangan tuh interaksi dengan kolega, haha.. maaf rada ansos.

Ternyata saya juga cukup menikmati kopi dari mesin kopi di departemen. Yang kata orang bilang kopinya rasanya gak enak. Saya memang bukan penikmat kopi sejati, yang tahu kopi mana yang enak dan yang gak enak. Asal bisa memberikan rasa pahit-pahit manis aja udah cukup, dan bikin adrenalin saya cukup terpacu ketika bekerja.

Dan ternyata lebih dari itu, ada hal yang sangat saya rindukan selama hampir 6 bulan wfh ini.

My desk. Standar ketika kerja, ada kopi, ada air putih (itu botol minum lucu dari Kamel, lhoo.. hihi seneng banget ketemu si botol lagi), kertas biasanya berserakan, catatan, pulpen, note, sticky notes.
My room @ UMCG. Empty office

Yang ternyata saya rindukan bukanlah suasana kerja, bukan kolega, bukan space di kantor, tetapi rutinitas naik sepeda ketika pulang dan pergi ke kampus. Waktu-waktu saya di sepeda ternyata begitu berharga. Saya kehilangan hal tersebut.

Ketika di sepeda, biasanya pikiran saya bebas berkelana ke mana saja. Di waktu pulang ke rumah saya kadang memikirkan to do list di rumah, termasuk mikirin mau masak apa nanti kalau sudah sampai rumah. Kadang saya juga merenungkan pembicaraan saya dengan si Ibuk Supervisor setelah meeting. Sementara di waktu berangkat ke kampus biasanya saya memikirkan kerjaan di kantor, eh paper mana yang harus dibaca, manuskrip ini nanti mau ditulis gimana, dst.  Kadang saya juga menyiapkan sedikit kalimat yang akan saya lontarkan sebelum meeting dengan si Ibuk nanti. Pikiran saya sepertinya sangat produktif. Sehingga saat sampai di kantor, saya tahu mau apa, dan ketika sampai ke rumah saya juga tahu mau ngapain. Walaupun sampai rumah biasanya perut keroncongan. Selain itu kadang saya juga memikirkan ide tulisan, naskah, dll.. sehingga lahirnya ide-ide juga tak lepas dari momen nyepeda.

Atau kebiasaan lainnya. Biasanya saya memutar playlist di hp saya, yang lagu-lagunya tidak pernah di-update. Saya gak mengikuti perkembangan musik sih, jadi di playlist ya lagunya itu-itu aja. Dan saya tidak pernah merasa bosan, meski ketinggalan zaman. Kalau lagi soleh, biasanya saya memutar murottal, sekalian menghapal, diulang-ulang terus aja beberapa ayat. Kalau lagi ingin siraman kalbu, saya memutar spotify-nya Ustadz Nouman Ali Khan, Adi Hidayat, atau Abdul Somad.

Momen berada di atas sepeda yang hanya berkisar 15 menit menjadi momen berharga bagi saya. Momen komtemplasi yang hanya ada saya dan pikiran saya yang berbicara. Dan itulah yang ternyata saya paling rindukan. Momen rutinitas bersepeda ke kampus.

Bersepeda di Groningen. Sepeda saya, sepeda suami, dan sepeda Runa.
Sepeda kesayanganku. Saya baru ganti sepeda 2x selama di Groningen. Sepeda pertama saya Gazzelle hijau, yang sudah sempoyongan rodanya. Sepeda kedua saya ini hadiah dari suami biar saya semangat menyelesaikan PhD hihi.. Gazelle juga tapi seri Esprit, dengan warna tosca lembut, yang saya bangettss.
Mumbling

1 Muharram 1442

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1442 H
“Ya Allah … aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak didengar (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud)

*Ini doa saya banget, akhir-akhir ini sulit fokus

Di era digital ini informasi kayak air bah, derasnya gak kira-kira. Kita kadang-kadang kewalahan memilah mana informasi yang perlu dibaca dan diserap serta mana yang seharusnya dilewatkan saja.

Kadang saya suka gemes sih sama diri saya sendiri, berselancar di sosial media sampai lupa waktu, scrolling aja. Mbok  ya yang lupa waktu itu pas ngaji dan berdoa gitu, huhu..

Saya dan suami majang list dalam di awal tahun (tahun masehi sih), kira-kira apa yang mau dicapai. List itu kami tempel di lemari, tiap ganti baju, buka lemari, pasti sedikit-sedikit kebaca. Baru pas tahun baru Muharram ini saya baca benar listnya. Wah ternyata tanpa sadar ada daftar yang bisa dicentang dengan sukses, Alhamdulillah. Sementara lebih banyak yang masih on process bahkan jadi tanda tanya. Setidaknya itu jadi pengingat kami, untuk kembali fokus dalam mencapai yang kami targetkan. Gak papa target tinggi, setindaknya setengahnya bisa tercapai.

Semoga yang kami kerjakan bermanfaat, untuk dunia akhirat, kami bisa semakin khusyu, merasa cukup atas karunia Allah, dan senantiasa bersabar.

 

Journey

Perjalanan Keluarga

Road trip keluarga di musim panas kali ini ke Switzerland merupakan road trip terpanjang dan terlama bagi keluarga kami. Alasan kami road trip karena masih dalam rangka covid, jadi kalau mau jalan-jalan memang aman pakai kendaraan sendiri, meminimilasisasi kontak dengan orang. Oiya dan juga lebih irit, kalau jumlah keluarga sudah semakin banyak. Plus bisa bawa barang banyak, makanan, dll, tanpa ada batasan bagasi. Sekitar 3000 km mungkin kami tempuh pulang pergi. Perjalanan darat dengan mobil membawa anak-anak ada tantangannya tersendiri. Mulai dari persiapan, perbekalan, hiburan biar anak-anak gak bosen (buku, boneka, mainan, and of course gadget to the rescue, hehe..). Gadget jadi jalan keluar, bukan cuma pas anak-anak rungsing, tapi pas ortunya juga lieur.

Entah mengapa perjalanan seperti ini saya rasakan dapat merekatkan keluarga. Sebab kita jadi lebih mengenal diri kita sendiri, suami, anak-anak, dan sebaliknya. Bagaimana kita jadi lebih sabar menghadapi anak-anak, lebih telaten untuk mengurus segala rupa, lebih berani mengambil risiko. Tentu diperlukan kerjasama juga antar suami-istri.

Teirngat saya perjalanan panjang saya di masa kecil ketika papa dan mama selalu mengajak kami road trip pulang kampung ke Padang, setiap menjelang lebaran. Mungkin alasan ngirit juga jadi alasan utama ya ketika itu. Sekitar tahun 1990-2000an keluarga kami tiap tahun masih rutin pulang kampung ke Padang. Soalnya keluarga Mama tinggal di Padang, keluarga Papa di Bukittinggi, kami juga masih punya kampung di Payakumbuh. Kami merayakan Idul Fitri di kampung halaman Mama dan Papa.

Banyak cerita soal pulang kampung ini. Meski saya masih kanak-kanak, tapi ingatan itu masih begitu terasa. Mungkin karena berkesan ya. Perjalanan dari Bandung ke Pelabuhan Merak, menyebrang dengan feri, lalu ke Pelabuhan Bakauheuni di Lampung, disambung jalan darat sampai ke Padang. Biasanya perjalanan menghabiskan dua hari. Kami berangkat malam hari, nyebrang lautan di subuh hari (Cipularang belom ada ya, jadi ke arah Jakarta juga jauh rasanya). Pagi hari sudah sampai di Bakauheuni. Terus menyusuri Lampung ke Bengkulu/Palembang, ada beberapa rute yang bisa dipilih, lalu ke Jambi, dan sampai di Sumatera Barat. Dalam perjalanan kami akan berhenti-berhenti tentunya untuk istirahat dan salat, untuk istirahat dan tidur sejenak, khususnya buat supir, dan untuk mandi-ganti baju-makan. Tempat pemberhentian pun rupa-rupa, ada warung kopi/warung makan yang malam hari cuma sedia popmie/indomie dan kopi, restoran makan padang (tentunya akan mudah ditemui sepanjang jalan perjalanan), bisa juga di pom bensin. Kami akan bertemu dengan para musafir lainnya yang juga akan pulang kampung, bus-bus, juga truk. Segala rupa.

Perjalanan kami tidak sendiri, tapi kami berombongan, minimal 3 mobil (3 keluarga). Biasanya dalam keluarga tersebut ada om, atau kerabat yang ikut juga, jadi supir ganti selama perjalanan. Ternyata kalau dipikir-pikir sekarang Masya Allah yaaa.. luar biasa. Kami biasanya punya alat komunikasi berupa ‘brik-brik’, apa sih namanya? Saya kok lupa.. yang radio dengan frekuensi itu lho. Jadi di mobil kami bisa saling memantau, memberi kabar, kalau mau berhenti, dll. Kan dulu ga ada hapeee..

Seru rasanya. Ingin saya bikin tulisan lengkap perjalanan keluarga dulu. Tapi nanti deh, ini buat pengingat aja kalau saya akan nulis ini.

Journey, Life is Beautiful

Terpaksa Nanjak dan Turun

Liburan naik gunung, hiking, trekking, apalah namanya (saya gak tahu bedanya), sambil berburu foto-foto landscape yang cantik mungkin jadi ambisi suami sejak kapan, Qadarullah baru kesampaian summer 2020 ini, trip ke Switzerland (Lauterbrunnen dan sekitarnya, Engelberg dan sekitarnya). Istrinya yang jiwa petualangnya mengkeret setelah punya dua anak agak susah diajak berkoordinasi. Makanya saya bebaskan saja suami untuk menyusun itenerary ke mana, pokoknya saya ngikut aja. Tiba-tiba hari ini trekking 4 km PP, besoknya melewati jembatan dan terowongan air terjun, besoknya naik cable car ke atas gunung, dst.

Pinginnya selalu bisa merangkum trip di blog, tapi apa daya, kadang suka skip. Udah banyak trip-trip yang catatannya tertunda ditulis, sampai sekarang udah lupa jadinya. Tujuannya nulis di blog, ya biar inget, oh dulu pas nge-trip gini dan gitu, kesannya apa, bisa terekam terus jejaknya.

Jadi saya nulis segini dulu aja, sama sedikit foto. Klau mau lihat hasil foto-foto landscape yang bagus selama di Switzerland, bisa dicek di akun IG suami aja: @fbprasetyo.

Selama diajak membolang naik-turun gunung, sebenarnya ada secuil rasa enggan dibalut keterpaksaan. Haduh nanti capek, haduh berat naik ke atas, haduh kasian nanti anak-anak gimana, dan haduh-haduh lainnya. Maap anaknya suka pesimisan dalam situasi yang menantang. Jadinya dalam perjalanan naik dan turun saya banyak berzikir aja, supaya lancar selama hiking, sekaligus memuji keindahan alam yang dilewati selama perjalanan. Dan saya juga jadi (sok-sokan) berfilosofi.

Berikut foto-foto pendakian kami:

Mendaki di Wengen, dengan track yang easy untuk anak-anak
Di Muren
Turun gunung di Wengen

Memang kalau mau lihat pemandangan bagus di atas harus berusaha keras, kalau perlu gas pol, digenjot terus semangatnya, walaupun kaki terasa pegel, dan gak tahu di mana ujung puncaknya. Sudah sampai atas, Masya Allah keindahannya, puas rasanya, rasa capek tadi jadi gak terasa. Dan ketika turun malah ternyata lebih susah daripada naik, soalnya telapak kaki harus bisa menjejak dengan seimbang, diiringi rem yang stabil, supaya badan gak menggelinding begitu saja di jalanan menurun.

Sama halnya seperti hidup. Ketika kita sedang berusaha mencapai cita-cita dan tujuan, diperlukan determinasi tinggi untuk terus maju, walau lelah, ya jangan berhenti di tengah jalan. Keletihan dalam perjalanan akan dibayar lunas saat berhasil meraih impian. Dan saat hidup terasa berada dalam posisi menurun, jangan sampai kita melepaskan kaki kita pasrah pada jalan menurun, bisa-bisa kita nanti terjun bebas. Perlu ada kekuatan dan sabar menahan agar saat turun kita tidak jatuh.

Itu aja sik, sisi hikmah yang bisa saya ambil ketika hiking.

Oiya satu lagi, it’s always nice to have company in our every journeys. So we will not be alone. Untuk kasus saya dan suami, kami belajar untuk saling percaya. Saya percaya aja kalau suami akan menunjukkan jalan yang benar sampai ke tujuan. Beberapa kali saya tanya, ‘masih lama gak?’, ‘masih jauh gak?’, dan dia selalu bilang, ‘bentar lagi kok’, ‘sedikit lagi kok’. Meski dalam hati saya tahu tidak semua ‘bentar’ dan ‘dekat’ yang dia bilang itu benar. Dia bilang gitu biar perasaan saya lebih baik. Sementara suami juga menaruh kepercayaan pada saya dan Runa, bahwa kami mampu berusaha naik dan turun dengan kekuatan kami. Alhamdulillah semuanya lancar.

Info for Motion, Journey, Lomba

Pengalaman Menamatkan Novel dan Mengikuti GWP2020

Alhamdulillah, akhirnyaa beres juga submit naskah untuk ikut event Gramedia Writing Project (GWP2020), The Writer’s Show. Ini naskah fiksi saya yang selesai pertama kalinya lho, *prokprokprok. Sejak zaman saya masih belum baligh, saya udah punya cita-cita pingin bikin buku, hihi.. Dulu pikiran saya bikin buku itu sama dengan bikin cerita fiksi, mungkin karena bacaan saya dulu banyakan cerita-cerita ya. Fast forward setelah saya punya menikah, punya anak, merantau jauh-jauh, baru bisa bikin buku sendiri, Alhamdulillah. Buku pertama yang bisa saya kelarin, buku nonfiksi, semacam jurnal, catatan hati, baca Groningen Mom’s Journal. Menurut pengalaman saya, membuat tulisan nonfiksi rasanya lebih mudah, entah mengapa. Ketika menulis fiksi, kreativitas dan imajinasi saya rasanya dituntut lebih keras.

Udah berapa kali saya nyobain bikin novel, idenya selalu ganti-ganti terus, dan ujungnya gak pernah selesai. Sedih sih. Draft-draft cerpen dan novel saya teronggok gitu aja di laptop, sampai laptop saya yang zaman zebot itu rukzak, dan lenyap semua. Tapi ya sayang gak sayang, soalnya naskahnya gak beres juga. Saya selalu gak pede dengan tulisan fiksi saya. Setelah lama, pake banget, akhirnya ada juga naskah novel yang bisa saya selesaikan melalui event GWP2020 ini.

Tujuan saya ikutan GWP2020 sebenarnya sih gak muluk-muluk. Cuma pingin naskah rampung. Di awal pendaftaran di bulan Juni, kan cuma disuruh upload 3 bab. Dipaksainnn, akhirnya bisa juga upload 5 bab, hihi. Ketika dulu saya masih muda belia dan manis manja, saya pinginnya bikin novel cinta-cintaan gitu, wkwkwk.. tapi tentunya saya tuh takut melanggar batas-batas tertentu, entah gimana, saya selalu merasa punya border sendiri dalam nulis fiksi. Mungkin batasan-batasan tersebut yang membuat saya terus urung menyelesaikan tulisan fiksi saya. Sampai saya pernah mengikuti kelas tausiyah dari Habiburrahman El-Shirazy di bulan Ramadan lalu, saya akhirnya menancapkan dalam hati tujuan saya menulis novel. Waktu itu saya bertanya via kolom chat pada beliau, intinya bagaimana menulis novel yang tetap dalam jalur-jalur Islam, yang selaras dengan aturan agama. Beliau berkata, ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Itu kembali lagi dari apa tujuan Anda menulis cerita tersebut. Hakikatnya menulis cerita itu bisa jadi ladang dakwah dan amal jariyah. Baiklah, bismillah.

Continue reading “Pengalaman Menamatkan Novel dan Mengikuti GWP2020”

Pharmacisthings

Reuni Virtual 10 Tahun FKK06

Praktikum meracik bersama bu lusi
Bikin jurnal praktikum sejak dini hari
Ini reuni bukan reuni sembarang reuni
Reuni virtual FKK di masa pandemi

Masya Allah, tabarakallah, ada hikmahnya pandemi. Selalu ada. Mendekatkan kembali keluarga, merekatkan kembali persaudaraan dan pertemanan. Orang jadi lebih aware tentang hal-hal penting yang sering dianggap remeh.

Dari yang awalnya cuma iseng-iseng mau ngadain reuni virtual, dalam waktu seminggu akhirnya jadi juga.

Rindu sekali sama FKK 2006. Keluarga rumah kedua di masa-masa kuliah. Bersyukur Allah memilihkan saya komunitas komunitas yang kondusif, jadi saya terjaga dari pergaulan anak muda-mudi yang suka mengikuti hawa nafsu ke mana-mana. Sudah 10 tahun sejak kelulusan pertama FKK, di tahun 2010. Setelahnya beberapa dari kami menempun jalannya masing-masing. Kebanyakan dari kami tetap melanjutkan apoteker di ITB, jadi masih sama-sama. Tapi tentu semua berbeda…

Apalagi setelah dua tahun, tiga tahun, lima tahun, sampai sepuluh tahun setelah kelulusan. Sudah banyak yang berubah. Nasib membawa ke mana kami melangkah.

Alhamdulillah seneng banget akhirnya jadi juga reuni virtual via zoom. Lumayan lengkap personel FKK (ada 34 totalnya), kurang dua orang aja. Kami memang belum pernah mengadakan reuni yang cukup lengkap sebelumnya. Sengaja saya simpen di sini, biar bisa dikenang. Belum tahu kapan bisa kayak gini lagi.

Beberapa orang dari kita ada yang jadi volunteer sebagai panitia reuni, gak disangka seminggu bisa jadi dong nyusun acaranya, tanpa drama berarti, hehe.. Ada sih drama utamanya malah dari penampilan FKK Boys, mereka tampil dengan bikin video gitu, masing-masing ngerekam suara sendiri terus digabungin. Mantap sih ini para FKK boys, juga Zulfan Winda yang jadi PJ videonya.

Rundown:
19.00: opening (monik) yg lain mute
19.03: sambutan Om (yg lain mute)
19.08: Life Update ( teknisnya: pakai comment picker buat milih nama. Monik bacain life update yg dichat ama panitia. Anak2 suruh nebak. Terus yg bersangkutan diminta ngomong)
20.08: Kahoot Quiz (monik play kahoot quiznya yg sudah dibuat panitia)
20.23: FKK Boys Performance (kamel muter videonya)
20.38: Undian doorprize (pake wheel)
20.42: Doa bersama ( dipimpin zulfan)
20.47: Penutupan

Dua jam gak kerasa. Dan semua yang dulu pernah ada terasa flash back. Dan rasanya kembali ke masa-masa dulu. Masa-masa yang beban terberat di dunia itu cuma ujian dan lagi berantem sama gebetan/pacar (ups), ya sudahlah. Meski dulu gak ideal-ideal banget jadi anak muda, gak alim-alim banget, setidaknya masih ada dalam jalur yang (cukup) lurus. Banyak tidaknya dipengaruhi oleh lingkungan di FKK dan di Farmasi ITB. Alhamdulillah alakulli haal.

 

Being Indonesian in the Netherlands, [GJ] – Groningen’s Journal

Call Your Parents

“You call your parents everyday?”

“Yes, almost everyday, in irregular times. Sometimes in the morning, so in Indonesia it’s already afternoon.”

“Really? And you talk about …?”

“Anything, well, we can talk about everything. Not in really serious way. Sometimes just what did you do today? What did you cook today? Just simply daily conversation. It isn’t common?”

Jadi waktu ketemu lagi sama teman-teman di kampus, kan kita ngobrol gimana kabar-kabarnya nih selama pandemi, apa ada yang berubah? Ya tentu banyak yang berubah, ritme kerja, jadwal sehari-hari, intensitas komunikasi dengan keluarga (baik keluarga yang di sini atau yang di kampung halaman), dst. Ada teman yang jadi mengagendakan telepon/video call khusus dengan keluarganya, ada yang mamanya jadi lebih sering menelepon nanya kabar, dan ada juga yang biasa aja gak berubah karena biasanya emang jarang telepon/video call.

Kalau saya ya … hubungam dengan keluarga di Indo bisa dibilang gak terlalu banyak berubah. Sebab sebelum pandemi pun saya dan keluarga di Indonesia memang sering teleponan dan video call. Mama kan ibu rumah tangga, jadi gak punya jadwal khusus untuk kerja. Mama biasanya nelepon saya jam berapa aja selowongnya dia. Kalau saya biasanya nelepon Mama di pagi hari, sebelum berangkat ke kampus, atau malah sore pas pulang. Waktu wiken pasti jadi agenda menelepon yang agak panjang durasinya, kan kita bisanya juga santai. Kalau dengan keluarga suami (mertua), karena bapak dan ibu bekerja, jadi biasanya teleponan dan vid call lebih banyak dilakukan di saat wiken.

Pas pandemi, intensitas menelepon jadi lebih meningkat, soalnya sama-sama di rumah kan kita semua. Jadi bisa nelpon kapan aja. Biasanya ya kami pagi/siang di sana siang/sore (summer time bedanya 6 jam, Indonesia lebih duluan).

Continue reading “Call Your Parents”