Mengeluarkan Keutamaan

Beberapa hari yang lalu saya menonton kajian youtub mengenai Al Majmu, Bekal Nabi bagi Penuntut Ilmu, oleh Ust Adi Hidayat. Saya dapat linknya dari teman saya yang memang rajin mengaji, Insya Allah paham banyak ilmu agama. Terlepas dari adanya berita-berita yang saya lihat di google mengenai ustad tersebut, yang katanya berpaham wahabi. Tapi nilai-nilai yang disampaikannya saya rasa sangat baik, tidak mengandung bid’ah atau membid’ahkan sesuatu. Semuanya Ia sampaikan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Wallahu a’lam. Apalah saya ini yang belajar ilmu agama bukan dari pesantren, kyai, syekh, atau ustadz langsung. Saya cuma mengambil manfaat dari yang beliau sampaikan di kajian tersebut.

Pas banget yang beliau sampaikan di kajian tersebut, mengenai pesan-pesan Rasulullah pada semua penuntut ilmu. Pas ketika saya juga mencari motivasi di balik semua kegiatan dan rutinitas saya.

Menurut petunjuk-petunjuk dari Rasulullah yang terangkum dalam hadits adalah: bila kita diminta untuk menekuni sesuatu, atau kita ingin mempraktekkan sesuatu (dalam ibadah), itu tidak langsung serta-merta dipraktekan. Tapi kita diminta untuk mengeluarkan dulu KEUTAMAAN dari aktivitas yang akan kita kerjakan. Mengapa? 1. Agar menjadi motivasi bagi kita, 2. Mengetahui janji positif yang Allah siapkan bagi hambaNya yang mengerjakannya. Continue reading

KulWap #ODOP99days with Dee Lestari

Apaaah Dee Lestari mau kulwap di ODOP? Ah becandaaaa..

dee-books

Seriusann cuuy!

Thanks to Teh Shanty, yang lagi-lagi sukses menjembatani mastah-mastah ke grup kita. Horee.. Alhamdulillah.

Kalau tentang Dee, pastinya hampir semua orang sudah tahu ya. Penulis Supernova, vokalis RSD, penulis skenario film. Yang paling booming tentu novel Supernova-nya. Saya baca Supernova yang pertama waktu SMP. Rasanya magis aja gitu tulisannya. Meskipun saya ga ngikutin Supernova-nya sampai sekarang. Terhenti di Petir. Saya mulai agak lemot mencerna isinya, haha.. Tapi saya menikmati cerpen-cerpen Dee di Filosofi Kopi dan Rectoverso. Madre juga bagus, soalnya tokohnya unik (pas diperanin sama Vino Bastian, cocok yak). Perahu Kertas adalah karya Dee yang agak beda dibanding yang lainnya, lebih chic dan bernuansa segar, tapi tetap menarik.

So, this is the resume!

Kini mari kita masuk ke sesi tanya-jawab:

#1 Pertanyaan Thasya Sugito, Bandung

Hi teh Dee. Saya penggemar setia trio RSD dan juga Supernova, seneng banget teh Dee mau mampir di grup kami ini. Pertama kali beli Supernova edisi mahasiswa langsung jatuh cinta, lalu ikut musikalisasinya teh Dee di CCF Bandung, dan semakin jatuh cinta.

a. Boleh tahu gak, darimana teh Dee dapat ide/inspirasi menulis hingga lahir karya sekeren Supernova itu? Karena saat itu, saya belum pernah menemukan fiksi yang menggabungkan antara spiritualitas dengan sains seperti Supernova.

Jawaban:

Pada prinsipnya saya menulis apa yang ingin saya baca. Ketertarikan saya saat itu adalah sains dan spiritualitas dan sintesis antara keduanya. Hobi saya sendiri memang menulis fiksi. Jadi, karena saya merasa perlu ada bacaan yang menggabungkan unsur-unsur itu, saya tulislah Supernova.

b. Berapa jam waktu yang teh Dee alokasikan dalam sehari untuk menulis?

Jawaban:

Saya hanya menulis intensif hanya ketika akan memulai sebuah karya. Target saya biasanya jumlah kata, bukan jam. Tapi, karena saya harus mengurus keluarga dan anak, saya hanya dimungkinkan untuk menulis saat anak-anak bersekolah atau berkegiatan, jadi biasanya pagi (kadang subuh) sampai siang menjelang sore.

c. Pernah merasa kehabisan ide gak teh? Kalau pernah, apa yang dilakukan saat teteh merasa kehabisan ide?

Jawaban:

Problem saya justru kebanyakan ide. Banyak sekali ide yang mengantre untuk dieksekusi, sementara waktu saya terbatas.

Kebanyakan ideee… super pisan!

d. Saya belum pernah berhasil menulis fiksi. Bagi-bagi tipsnya dong teh, bagaimana caranya bisa menulis fiksi hingga terasa real banget seperti Supernova? Ataukah, memang menulis fiksi ini hanya jadi bagiannya orang-orang yang punya daya imajinasi tinggi ya? #saya kayanya ga termasuk

Jawaban:

Menulis fiksi butuh latihan, jam terbang, disiplin, dan tekad untuk selesai. Menulis bisa dilakukan semua orang tapi memang tidak semua orang punya ketabahan untuk melakukannya dengan baik, karena memang prosesnya tidak mudah. Imajinasi adalah hal yang inferior dibandingkan keuletan untuk menyelesaikan sebuah karya.

Kunci jadi penulis: KETABAHAN DAN KEULETAN. Imajinasi ternyata penting setelahnya

#2 Pertanyaan Novita, Tangerang Selatan

Halo teh Dee, saya Novi penggemar buku buku kerennya. Terkesan banget sama filosofi kopi yang filosofis sekali. Pengen tau dong berapa lama penelitian atau survei lapangan yang dilakukan .

Trus pengalaman  mendalam apa yg melatar belakangi lahirnya buku itu. Kerasa banget mendalamnya makna buku itu sampe difilmkan…

Jawaban:

Filosofi Kopi adalah karya lama, saya tulis tahun 1996 waktu masih kuliah. Riset saya terbatas karena saat itu belum ada internet, jadi hanya mengandalkan pengetahuan seadanya dan riset pustaka (pakai Ensiklopedia). Niat saya waktu itu adalah menulis sebuah cerita tentang kopi, sebagai salah satu minuman favorit saya. Kebetulan dulu pun saya berkhayal ingin punya kedai seperti Filosofi Kopi. Jadi, senang sekali sekarang semua itu bisa terwujud.

#3 Pertanyaan Monika, Gronigen

Teh Dee.. akhirnya bisa kulwap di sini, seneng pisann! Saya baca dan punya hampir semua novelnya Teh Dee.. Supernova (baru baca sampai Petir sih, heuheu), Rectoverso, Perahu Kertas, Filkop, Madre. Pertanyaan saya:

a. Siapa penulis fav Dee dari dalam dan luar negeri? Dan buku apa yang menjadi favorit Dee, yang kira-kira sangat berkesan dan ingin bisa menulis sekelas buku tersebut.

Jawaban:

Saya tipe pembaca yang mencari informasi, jadi kesukaan saya kepada buku cenderung dari topiknya, bukan penulisnya. Hampir tidak ada penulis yang saya ikuti rutin karyanya. Namun ada beberapa buku/penulis yang menggugah saya pada masanya. Waktu kuliah saya suka Sapardi Djoko Damono, lalu tahun ’98 saya terpukau dengan Ayu Utami. Saya sempat suka Dave Eggers, Ana Castillo, Rattawutt Lapcharoensap. Beberapa karya Dan Brown juga sempat saya ikuti.

b. Tulisan-tulisannya Dee rasanya tu selalu berbobot dan sarat informasi. Selain dari melakukan riset dan banyak membaca, bagaimana agar tulisan kita bisa sampai padat berisi?

Jawaban:

Seperti yang saya bilang tadi, karena modus saya dalam membaca adalah mencari informasi, maka itu juga yang menggerakkan saya untuk menulis fiksi, karena ada informasi menarik yang menurut saya penting untuk dibagi.

Selain itu, penting bagi kita untuk terus memelihara rasa ingin tahu. Dengan demikian, sebagai kreator kita juga tidak cepat puas dalam berkarya, selalu ada drive untuk memperbaiki dan memperkaya khazanah kita.

c. Perahu Kertas adalah karya Dee yang cukup berbeda dengan karya-karya lainnya. Menurut saya lebih ringan alurnya dan santai membacanya. Apakah ada perbedaan dalam menulis buku tersebut dibandingkan buku-buku lainnya?

Jawaban:

Di Perahu Kertas, niat saya memang ingin menuliskan cerita cinta. Kembali kepada prinsip menulis apa yang ingin saya baca, saya merasa tidak atau sulit menemukan fiksi dengan kisah cinta yang sesuai dengan selera saya. Saya senang dengan kisah cinta yang berproses, elegan, menyentuh, sekaligus humoris, untuk itu saya kemudian menuliskan Perahu Kertas.

Saya menulis apa yang ingin saya baca

#4 Pertanyaan Wini Nirmala, Bandung

Halo mbak Dee, salam kenal. Saya pernah dengar mbak Dee bilang “penulis itu punya semestanya sendiri” di TV. Kalau nggak salah waktu wawancara lauching buku IEP di net.tv. Pertanyaan saya:

a. Pernahkah terlalu berlarut dalam semesta itu, sampai lupa membedakan mana realita dan imajinasi?

Jawaban:

Nggak sampai segitunya sih, kalau sudah tidak bisa membedakan mana realitas mana imajinasi itu sudah masuk ke problem klinis. Tapi, ketika sedang berproses kreatif saya memang seperti “menyimpan” semesta sendiri. Benak kita adalah rahim dari karya kreatif yang hendak kita lahirkan. Jadi, otomatis semua proses penciptaan yang terjadi mengambil tempat di dalam diri/pikiran kita.

b. Bagaimana mengontrolnya?

Jawaban:

Selama kita masih punya kewarasan yang cukup (tidak mengalami gangguan jiwa secara klinis), saya rasa kita akan relatif dimampukan untuk mengendalikan batasannya. Contohnya, saya menulis tokoh Bodhi, saya tahu bahwa Bodhi tidak ada. Dan saya tidak jadi berhalusinasi bahwa Bodhi betulan ada, atau saya tahu-tahu ngomong sendiri dengan Bodhi. Menurut saya itu sudah gangguan jiwa. Namun, ketika saya menuliskan Bodhi, secara internal saya bisa merasakan emosi yang ia rasakan, melihat wujudnya dalam “teater internal” saya. Tapi, ketika saya menutup laptop atau rihat menulis, saya tahu bahwa semua itu sebatas kreasi saya sendiri. Bukan kenyataan.

c. Ketika semesta itu begitu indah dibangun, ada detail yang dirasa tidak wajar. Tapi bukunya sudah terbit. Itu dibiarkan saja? Atau ada rasa gatal ingin revisi? Hehe..

Jawaban:

Dalam proses menulis ada yang namanya “fermentasi” dan editing. Kita tidak serta merta menyerahkan draf pertama kita ke penerbit. Draf pertama itu ibarat batu mentah yang perlu dipoles dan diperbaiki, bukan hasil akhir. “Fermentasi” di sini artinya memberi jeda waktu kepada draf pertama kita setelah rampung. Entah sebulan, dua minggu, dsb. Karena ketika kita menulis, kita pasti susah berjarak dengan karya kita. Begitu diberi waktu, jarak tersebut akan membuat kita punya objektivitas. Saya selalu merevisi/menyunting karya saya berkali-kali. Bahkan ketika sudah terbit pun biasanya kita masih akan mendeteksi typo, dsb. Tapi, kalau yang namanya merombak pasti sudah tidak mungkin.

Jadi, sebagai penulis kita juga perlu paham bahwa sebuah karya adalah cerminan kita pada saat tertentu. Ketika hari ini saya baca karya saya tahun 2001, pasti banyak yang ingin saya perbaiki. Tapi, saya harus bisa berdamai dengan “kekurangan” dan “kesalahan” saya pada saat itu dan menerimanya sebagai proses saya sebagai seorang penulis.

d. Bagi mbak Dee, tantangan terbesar membuat buku berseri itu apa?

Jawaban:

Waktu, komitmen, menyusun logika cerita

#5 Pertanyaan Farda, Surabaya

a. Apa motivasi terbesar alasan mb Dee menulis?

Jawaban:

Saya senang merangkai cerita. It’s an innate drive within me. Mungkin itu yang disebut sebagai bakat atau hasrat? Not sure. Kedua, ketika saya sudah berhasil merangkai sebuah cerita, saya pun punya dorongan untuk membaginya.

b. Apa yang membuat mb Dee sabar menuliskan cerita bagian-bagian fiksi dalam sebuah novel? Apalagi berseri.

Jawaban:

Pertama, karena cerita serial itu memang secara plot di desain agar memiliki ruang besar untuk berkembang. Sederhananya, serial bisa berlanjut karena ceritanya belum selesai. Kedua, karena komitmen. Bagi saya, semua karya yang belum selesai adalah utang. Sebagaimana utang membuat kita resah dan tidak tenang, saya ingin menunaikan utang-utang saya agar saya bisa merasa lega.

#6 Pertanyaan Anittaqwa Elamien, Surabaya:

Pernah nggak seorang Dee kursus (belajar) menulis ke orang lain?

Jawaban:

Saya baru ikut workshop menulis itu kira-kira dua tahun lalu, online lewat Udemy.com, selama ini saya belajar menulis secara otodidak, lewat berlatih, trial and error. Kadang saya juga belajar dari buku-buku panduan menulis atau buku memoir para penulis yang menuliskan pergelutannya. Dari sana saya juga banyak belajar bagaimana memahami apa yang sudah saya lakukan dan perlu saya lakukan untuk ke depannya.

#7 Pertanyaan Widitra Maulida, Gresik:

a. Perjalanan menulis kak Dee sejak usia berapa?

Jawaban:

Saya senang mengkhayal dan merangkai cerita dari sejak kecil. Terpengaruh buku-buku Enid Blyton, saya juga mencoba menulis waktu kecil. Pertama kali saya mencoba agak serius (menulis panjang) adalah waktu kelas 5 SD.

b. Di tahun ke berapa karya pertama dipublish?

Jawaban:

Tahun 2001

#8 Pertanyaan Marina Yudhitia, Bandung

a. Bener gak ya waktu dulu pertama kali bikin buku (Supernova) itu menerbitkan secara indie?

Jawaban:

Benar. Supernova pertama kali diterbitkan lewat metode self-publish.

b. Lalu setelah booming diterbirkan ulang oleh penerbit major?

Jawaban:

Saya baru bekerja sama dengan penerbit pada tahun 2002 (Akar) cetakan 1, dan Petir (cetakan 1-3). Baru Filosofi Kopi saya bekerja sama dengan penerbit lagi (Gagas Media). Ketika kuantitas buku yang dituntut pasar sudah sebegitu banyak (puluhan bahkan ratusan ribu kopi), sudah sulit bagi saya menerbitkan sendiri karena butuh modal dan SDM yang intensif.

c. Mau nanya juga untuk penulis pemula banget yang belum punya nama sama sekali dan baru pertama kali menghasilkan novel/kumcer apakah sebaiknya diterbitkan sendiri dan dijual sendiri dulu atau baiknya ajukan saja ke penerbit yang cocok walau akan makan waktu lama dan belum tentu diterima? Sementara si penulis pemula ini kan inginnya karyanya bisa segera di publish ke umum. Hatur nuhun.

Jawaban:

Sebetulnya bukan soal lebih baik/tidak. Menurut saya, self-publish maupun ikut penerbit punya konsekuensi masing-masing. Kalau self-publish tentu kita punya kendali penuh, menerbitkan kapan pun kita mau, tidak perlu menunggu lolos redaksi/tidak, memasarkannya dengan cara yang kita mau. Tapi, untuk itu kita butuh mengalokasikan waktu dan energi untuk menata perdagangan bukunya. Proses itu, jika tidak di-manage dengan baik, bisa menyita waktu bahkan energi kita yang seharusnya mungkin dialokasikan untuk membuat karya baru.

Tapi jika merasa siap, modal ada dan SDM ada, kenapa tidak? Lewat penerbit, berarti kita harus lolos dulu dari saringan redaksi, dan kita akan mengikuti jadwal, aturan, maupun cara pemasaran mereka. Saat ini banyak juga yang memulai dengan self-publish dulu, ketika basis pembaca sudah cukup kuat, biasanya menembus penerbit juga lebih gampang.

#9 Pertanyaan Shanty Dewi Arifin, Bandung

a. Menyambung pertanyaan Marina di atas, sebelum Supernova di jual Indie dulu, apa sempat ditawarkan ke penerbit major? Atau dari awal sudah memilih untuk indie?

Jawaban:

Saya memilih indie sebetulnya bukan karena idealisme tertentu mengenai cara memasarkan/menerbitkan, dsb. Waktu kecil saya bercita-cita satu saat akan melihat buku saya dijual di toko buku. Pada tahun 2000 ketika saya merampungkan draf Supernova, saya punya feeling bahwa karya tersebut cukup layak untuk menjadi karya perdana saya yang diterbitkan ke publik, lalu saya membuat target pribadi: pada ultah saya ke-25 (tahun 2001), saya ingin menghadiahi diri sendiri dengan melihat buku Supernova dijual di toko buku. Itu saja. Jadi, kenapa saya self-publish, karena waktu saya cukup mepet (draf selesai September 2000, ultah saya Januari 2001). Saya tahu akan makan waktu kalau ke penerbit dulu, juga belum tentu lolos. Dan niatan saya cuma jadi hadiah diri sendiri doang. Nggak membayangkan best-seller lah, apalah, ya sudah, akhirnya menerbitkan sendiri.

Wooww, baru ahu ternyata Supernova itu diterbitkan karena cita-cita target pribadi, untuk ke-25 harus udah publish. Ultah ke-25 saya udah lewat, perlu bikin target sebelum ultah ke-30 kayaknya nih, haha

b. Menurut Dee, apa kesalahan yang paling banyak dilakukan penulis wannabe sehingga membuat mereka belum berhasil menulis buku yang berkualitas?

Jawaban:

Ketika seorang penulis berhasil menamatkan karyanya, menurut saya dia sudah menyelesaikan peer besarnya. Berkualitas atau tidak, menurut saya itu bergantung pada jam terbang dan selera (yang mengklaim berkualitas/bukan siapa, selera yang menulisnya sendiri bagaimana), so it’s a grey area. Yang jelas, semakin sering kita berlatih, kualitas maupun proses kepenulisan kita bisa lebih baik dan lebih lancar.

Wawasan membaca juga penting, karena biasanya kita akan dibentuk dan dipengaruhi oleh apa yang kita baca. Yang menurut saya paling harus dijaga dari penulis pemula adalah mereka sering tidak tuntas berkarya. Banyak orang yang beraspirasi menjadi penulis tapi cuma kuat setengah jalan, dan habis itu putus asa untuk melanjutkan.

c. Berapa banyak waktu yang Dee alokasikan buat sosmed? Sejauh mana peran sosmed mendukung karir penulisan Dee?

Jawaban:

Kehidupan medsos saya baru di mulai sekitar 8 tahun yang lalu, sementara karier saya sebagai penulis sudah hampir 16 tahun. Jadi, setengahnya saya lewatkan tanpa medsos. Kegunaan utamanya bagi saya adalah komunikasi langsung dengan pembaca. Penyebaran informasi maupun proses dapur karya kreatif saya juga jadi lebih terbuka karena saya bisa share beberapa hal tentang buku saya bahkan sebelum diterbitkan. Para pembaca juga bisa lebih mengenal saya tanpa saringan media (karena saya bisa berkomunikasi secara direct). Jadi, dibilang penting, ya penting. Tapi, lebih ke aspek eksternal (promo, komunikasi). Sementara secara internal saya merasa dalam proses kreatif saya lebih membutuhkan kesendirian.

d. Buat Dee seberapa besar peran suami dan anak-anak dalam mendukung karir menulis seorang ibu?

Jawaban:

Suami dan anak-anak adalah pilar sekaligus fondasi saya. Berkarya itu seperti bermain di awang-awang. My family keeps me grounded.

e. Apa tanggapan terhadap pihak yang membajak Novel-novel Dee Lestari? Saya lihat novel dee mudah di download bebas di Internet.

Jawaban:

Pembajakan lebih ke masalah sistemik, yang untuk diusut secara hukum harus melibatkan banyak pihak. Kalau dari saya pribadi ya paling lebih ke cara persuasif, dengan mengedukasi maupun mengajak pembaca saya untuk tidak membeli bajakan karena itu artinya mereka hanya menguntungkan pembajak dan merugikan semua pihak lain, termasuk penulisnya sendiri. Ketika booksigning saya juga mewanti-wanti kepada pembaca bahwa saya hanya akan menandatangani buku asli, bukan yang bajakan.

#10 Pertanyaan Dessy Nathalia, Bandung

Salam, Teh Dee. Senang sekali bisa kedatangan tamu istimewa di #ODOPfor99days ini. Pertanyaan dari saya:

a. Apakah boleh penulis memiliki lebih dari satu gaya kepenulisan? Karena biasanya saat menulis curhatan di blog saya cenderung santai, sedangkan jika sedang menyikapi suatu topik yang agak serius, gaya penulisan saya pun terbawa serius, agak susah membawakan dalam gaya santai seperti biasa, hehe.

Jawaban:

Tentu saja bisa. Setiap penulis akan punya preferensinya masing-masing, dan ketika semakin dilatih dan diasah, penulis akan lebih memahami style-nya sendiri.

b. Menurut Teteh, apakah penulis itu wajib membaca? Dan apakah bacaan itu harus selalu bergantung pada apa yang akan kita tulis?

Jawaban:

Jika seorang penulis ingin berkembang, ia pasti harus membaca. Karena membaca seperti melengkapi proses feedback loop bagi seorang penulis, memberikannya referensi dan wawasan. Tidak selalu bacaan kita harus berhubungan dengan apa yang kita tulis. Tapi dengan membaca kita bisa mengidentifikasi jenis tulisan seperti apa yang kita sukai dan yang tidak kita sukai. Kedua hal tsb cukup penting untuk membentuk karakter kita sebagai seorang penulis.

c. Teh, bagaimana ya mengatur waktu untuk menulis di tengah aktivitas yang padat sambil membersamai anak & keluarga? Hatur nuhun teh -Ibu Jerapah-

Jawaban:

Saya rasa nggak ada rumusnya untuk membagi waktu selain mengusahakan agar setiap “departemen” kebagian perhatian, seperti main juggling. Dan kita harus memahami skala prioritas masing-masing. Harus tetap realistis. Jangan kepengin dijalankan semua kalau memang tidak sanggup atau tidak memungkinkan. Misalnya, ketika saya sudah berkomitmen untuk menulis buku, otomatis saya menolak hampir semua tawaran wawancara, talkshow, dsb, karena kalau saya ladeni semua, waktu saya akan habis, tenaga saya akan habis. Sementara keluarga masih membutuhkan saya. So, definisikan dengan baik apa yang menjadi prioritas kita.

Alhamdulillah 10 pertanyaan (plus anak pertanyaannya) sudah dijawab dengan lancar. Emang kerasa beda yaa Dee Lestari ini, tertata gitu lho rasanya jawaban-jawabannya, berkelas. Senengnya lagi, Dee mengirimkan pesan suara di grup WA: “Halo semua, makasih banget ya atas tanya jawabnya. Semoga jawaban saya membuat teman-teman semakin semangat berkarya. Terima kasih. Selamat siang.”

Suaranya empuk ey, haha..

Terima kasih banyak Teh Dee Lestari, Insya Allah ilmunya bermanfaat untuk kami-kami semua.

Semangaaat, yosh!

MeRUTINkan AKTIVITAS

Ini perlu banget ya diCAPSLOCK si judulnya, kalau perlu mah dibold dan underline sekalian meRUTINkan AKTIVITAS saking nepsongnya nih sama ni judul.

Jadi begini saudara-saudara, berhubung saat ini saya ini dalam masa-masa bebas merdeka dari penjajahan (baca: pengangguran), saya jadi punya cukup banyak waktu luang. Tapi waktu luang ini sebenarnya seperti pisau bermata dua lho, menyenangkan sekaligus melenakan.. (sayup-sayup ada backsound Ike Nurjanah: terlenaaa.. ku terlenaaaa….. stop sebelum jempol kaki ikut joged). Melenakan karena saya jadi lupa daratan, lupa hal-hal penting yang harus dikerjakan, untunglah gak sampai lupa mandi.

Padahal teringat dahulu janji suci saya sama diri sendiri: saya akan blablablablablahh.. jika punya banyak waktu luang. Hadeuuhh kamana eta janji-janji manis madunya?

Saya sadar sih, saya jadi lebih banyak berprokrastinasi (ini udah jadi bahasa indonesia belum sih?). Saya ini jadi terjebak procrastination, intinya membuang-buang waktu untuk hal-hal yang less important tapi rasanya lebih pleasurable. Continue reading

Akhirnya selesai! Tapi…

Alhamdulillah Oktober 2016 lalu akhirnya saya bisa menyelesaikan studi master saya di University of Groningen. Syukur tidak ada habisnya perjuangan selama dua tahun menempuh perkuliahan, research, dan tesis akhirnya berakhir juga.

Eh, tapi benarkah berakhir begitu saja?

Bukankah hidup itu adalah perjalanan menempuh tujuan yang tidak ada habisnya? Tentu akan berakhir di ujung usia kita. Manusia akan “hidup” jika memiliki tujuan, apapun itu. Selama masih diberi umur oleh Allah, manusia akan selalu berusaha untuk menempuh hari-harinya. Hingga suatu saat akan terasa hasil dari yang diusahakannya.

Jika saya kilas balik dua tahun kemarin. Bisa dibilang itu adalah dua tahun yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Banyak tantangan, ada kesulitan, ada jatuh bangun. Tapi Alhamdulillah banyak juga senyum bahagia di sana.

Menjadi Student Mom

Continue reading

Di Mana Air Zam-zam?

Ini salah satu yang bikin penasaran banyak orang karena keberadaannya. Ya, betul air zam-zam, sang mata air surga.

Kebanyakan orang yang belum pernah ke Mekah atau Madinah berpikir bahwa meminum air zam-zam di Mekah itu langsung dari sumurnya, sehingga pertanyaan yang muncul adalah:

“Jadi sumur air zamzam itu di mananya Ka’bah?”

“Kalau lagi di Madinah gak bisa menikmati air zam-zam dong, kan sumurnya hanya ada di Mekah?”

“Pasti ngantri dong ya pas mau minum air zam-zam, harus ngambil dari sumur?” –> karena yang terbayang adalah sumur dan timba seperti yang ada di desa-desa di Indonesia.

Itu juga yang saya pikirkan sebelum tiba di Madinah dan Mekah. Aslinya memang sih zaman dahulu zam-zam ini berupa sumur yang ada timbanya. Di Museum 2 mesjid (Exhibition Two Holy Mosque) ada replikanya.

sumber

sumber dari sini

Tapi kenyataannya di zaman sekarang ini:

Air zam-zam itu melimpah ruah dan mudah sekali didapatkan. Tidak perlu menimba dulu untuk mendapatkan air. Air zam-zam tersedia di sekitaran komplek Masjid Nabawi, di dalam Masjidil Haram, dan di sekitaran komplek Al Haram. Kapan saja dan berapa banyaknya mau diambil bisa saja. Continue reading

Pengalaman Berkesan saat Haji

Jika ditanya pengalaman apa yang paling berkesan ketika haji?

Saya tidak bisa menjawab dengan hanya satu dua kalimat saja. Bisa jadi satu buku saya habiskan untuk bercerita. Saya juga tipe orang yang tidak terlalu pandai bercerita dengan lisan. Padahal banyak sekali yang ingin saya sharing. Tentu pengalaman tiap individu saat haji akan berbeda, pun pengalaman saya dan suami tidak sama meski kami sering bersama-sama ketika menjalankan ibadah haji. Spiritual dan perasaan yang tercipta hanya melibatkan makhluk tersebut dan Rabb-nya, romantis bukan?

Kalau dikupas satu-satu mungkin ini yang saya pribadi rasakan selama 3 minggu berada di Madinah dan Mekah Continue reading

Trip to Italy? Choose the cities first

Sudah lama gak nulis tentang trip atau jalan-jalan ala Monik and Family. Masih ngutang Trip to Spain (Malaga and Granada), Trip to Bremen (yang udah ketiga kalinya saya ke sana), dan tentunya spiritual trip to Mekah dan Madinah. Deuh utangnya banyak cuy, kenapa saya anggap hutang? Karena menurut saya pengalaman tersebut harus dituliskan, supaya saya pribadi punya kenangan yang bisa dibaca dan dibuka kapan saja, ganjel aja gitu kalau ga dituliskan. Selain itu juga untuk sharing ke orang lain yang mungkin punya rencana trip yang sama dengan saya, jadi memudahkan juga toh.

Okeh, mumpung yang ini masih agak fresh, saya cicil cerita trip saya.

Jadi Trip to Italy ini adalah the first buat saya dan Runa jalan-jalan tanpa Si Ayah. Saya dan Runa “bertugas” menemani Mama dan Papa jalan-jalan ke tanah kelahiran Leonardo da Vinci tersebut, Negara di bagian Eropa Selatan. Suami memang lagi gak bisa nemenin karena cutinya udah tipis, dipakai untuk haji kemarin. Alasan lain saya mau aja berangkat gak sama suami yaa karena saya sendiri belum pernah menjejakkan kaki ke negara pizza tersebut. Yang kedua, kapan lagi ini anaknya bisa ngajak orang tua pelesir ke negara orang (yang juga belum pernah ke sana), yang katanya penuh dengan karya budaya dan berseni tinggi? Continue reading