Katanya manusia itu di tahap-tahap tertentu dalam hidupnya bisa mengalami krisis identitas. Biasanya sih ketika menginjak usia 20an atau 25, ketika baru selesai kuliah, mulai menapaki dunia kerja, atau menjalani rumah tangga. Atau ketika usia 30an ketika sudah mulai stabil dalam pekerjaan, sudah berkeluarga atau punya anak, atau sudah menikmati masa lajangnya dengan mapan. Sebenarnya apa sih yang terjadi ketika itu? Manusia sepertinya sedang mencari, apa sih yang dicari dalam hidup, apa sih tujuan hidupnya?
Mungkin kita perlu menengok lebih dalam potensi baik apa yang ada dalam diri kita sehingga krisis itu tidak sampai terjadi; atau kalaupun sempat terjadi, hal itu tidak membuat diri kita terjerumus ke jalan yang salah dan tidak bermanfaat.
Ada banyak sahabat, tabi’in, dan orang alim yang pribadinya begitu mulia dan bisa kita selami untuk berkaca. Beliau-beliau (semoga Allah merahmati beliau) bukanlah sosok terkenal di zamannya, bukanlah influencer, bukan orang dengan kekayaan besar, bukan orang dengan fisik yang terbilang standar rupawan manusia, bukan pejabat, apalagi penguasa. Beliau-beliau yang pada masanya mungkin dipandang sebagai orang marginal, yang tak akan membuat orang menoleh untuk melihatnya. Namun, Masya Allah, nama mereka harum di kalangan manusia sekarang dan di kalangan malaikat, bahkan kisah hidupnya dituturkan Rasulullah, dan disebutkan dalam Al Qur’an.
Bilal bin Rabah
Siapa yang tidak mengenal Bilal? Sahabat Nabi yang dahulunya merupakan budak Umayyah bin Khalaf, Si Quraisy Jahiliyah. Kampungnya Bilal berada di Ethiophia. Ia merupakan budak berkulit gelap, miskin (ya namanya juga budak), secara fisik pun tidak ada yang istimewa. Ketika Rasulullah menerima risalah Islam, tanpa ragu Bilal langsung bersyahadat. Ketika tuannya mengetahui Bilal sudah memeluk Islam, ia disiksa sedemikian rupa. Ia diikat dan digiring keliling kota Mekah sambil dicambuki dan dipukuli. Siksaan itu semakin menjadi-jadi. Batu besar ditindihkan di atas dadanya. Ia dipaksa untuk mengakui bahwa patung adalah tuhan. Yang ia tetap ucapkan adalah, “Ahadun Ahad”, tetap beriman pada Allah. Keberanian dan keteguhan hati Bilal merupakan teladan sepanjang masa.
Selepas ia dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, Bilal menjadi sahabat Nabi yang paling setia. Ia ikut berhijrah ke Madinah, ia mengikuti seluruh peperangan di zaman Rasulullah. Hingga saat Fathu Makkah (penaklukan Makkah), Bilal yang mengumandangkan Azan di atas Ka’bah. Beliau adalah muadzin pertama, dan Bilal terus mengumandangkan Adzan sampai Rasulullah SAW meninggal. Ketika Rasulullah SAW wafat, saking sedihnya, Bilal sampai tidak sanggup untuk beradzan lagi. Beliau pun hijrah ke Syam, ikut berperang juga di Syam. Hingga beliau wafat di sana. Kelembutan dan kesetiaan hati Bilal merupakan permata berkilau.
Keimanan dan akhlak Bilal telah mengangkat derajatnya. Sementara kekufuran telah menjatuhkan Abu Lahab paman Rasulullah yang secara nasab lebih tinggi karena dari kalangan Bani Hasyim. Tetapi karena dia kufur maka dia dihinakan. Maka nasab dan status tidak akan meninggikan seseorang di mata Allah.
Uwais Al Qarni
Uwais Al Qarni sering kita dengar sebagai sosok yang tidak terkenal di bumi, tetapi sangat tenar di langit, di kalangan para malaikat. Sampai-sampai ketika wafatnya, yang menyolatkan dan mengantar ke pemakamannya suangaaat banyaakk. Padahal ketika di dunia, orang banyak gak tahu kalau dia itu siapa. Ternyata para malaikat yang datang dan mengantarkannya ke pemakaman. Apa yang menyebabkan ia menjadi orang yang terkenal di langit?
Uwais Al Qarni adalah sosok sederhana dari Yaman. Ia yatim dan tinggal bersama ibunya yang tua dan lumpuh. Keluarganya miskin. Ia bekerja sebagai pengembala kambing. Uwais pernah terkena penyakit kulit, yang menyebabkan kulitnya bercak menjadi putih seperti panu. Ketika sembuh, bagian putih itu hanya tersisa di telapak tangannya.
Sebagai anak berbakti, Uwais sempat mewujudkan keinginan ibunya untuk pergi haji. Padahal ia tidak punya kendaraan dan uang yang cukup. Apalagi ibunya lumpuh. Uwais tetap berusaha mewujudkan mimpi ibunya untuk berhaji dengan caranya yang luar biasa. Setiap hari ia latihan menggendong anak sapi naik turun bukit. Sampai orang menganggapnya gila. Anak sapi itu semakin besar dan berat, seiring dengan semakin berototnya dan kuatnya Uwais. Akhirnya ia berhasil ke Mekah, mengantar ibunya naik haji dengan menggendongnya.
Selama hidupnya ia tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad. Maka, ia tidak termasuk golongan sahabat Nabi, tetapi hanya tabiin. Ia pernah hendak menemui Nabi di Madinah, tetapi tidak berjodoh. Rasulullah masih dalam jalalan pulang setelah peperangan. Ia hanya sempat bertemu Aisyah RA. Ia tidak bisa menunggu Rasulullah SAW sampai pulang (perjalanan Rasulullah SAW pergi bukan hanya sehari-dua hari) sebab ia meninggalkan ibunya di Yaman. Ia tidak ingin berlama-lama meninggalkan ibunya sendiri.
Sebelum Rasulullah SAW wafat, beliau pernah berpesan kepada Umar bin Khattab, bahwa ada orang yang doanya sangat makbul di zaman Umar RA. Orang tersebut berasal dari Yaman dan memiliki ciri-ciri bulatan putih di telapak tangannya. Jika ke sana, carilah dia dan mintakan doa ampunan darinya. Sejak saat itu, Umar RA selalu bertanya pada setiap rombongan kafilah yang datang dari Yaman. Adakah orang dengan ciri-ciri tersebut? Tapi tak ada yang tahu. Padahal Umar merasa orang itu mungkin sosok yang terkenal atau disegani.
Kemakbulan doa seseorang dan bagaimana ia diceritakan Nabi tidak bergantung ia berasal dari keturunan siapa atau memiliki kekayaan besar. Tetapi kesungguhannya dalam berbakti pada orang tua dan kecintaannya pada Nabi telah mengangkat namanya di langit
Luqman Al Hakim
Luqman Al Hakim adalah sosok yang diceritakan di Al Quran, surat ke ke-31, surat Luqman. Ada yang berpikir bahwa Luqman adalah Nabi. Tetapi tidak disebutkan demikian. Berbeda dengan dua teladan sebelumnya, Luqman Al Hakim hidup jauh sebelum zaman Rasulullah SAW.
Beberapa riwayat ada yang menjelaskan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habasyah (satu kampung dengan Bilal). Ada pula yang menyebut Luqman Al Hakim berasal dari keturunan ayah Nabi Ibrahim AS, dan pernah menjadi budak Bani Israel. Setelah dimerdekakan, Luqman tinggal di Kota Ramallah, dekat Baitul Maqdis (Palestina). Sedangkan secara fisik, sebuah riwayat mengatakan bahwa Luqman adalah seorang laki-laki berkulit hitam dan berbibir tebal.
Tak ada yang istimewa dari latar belakang pendidikan, profesi, maupun kedudukan Luqman, Namun Luqman Al Hakim selalu diceritakan sebagai sosok yang hatinya bersih, akhlaknya terpuji, dan tutur katanya penuh hikmah atau kebijaksanaan. Maka Al Hakim disematkan di belakang namanya.
Nasihat-nasihat Luqman pada anaknya dalah pegangan bagi orang tua sepanjang masa. Kedalaman ilmu dan kebijaksanaan Luqman dalam memberikan nasihat diterangkan dalam surat Luqman ayat 12-19.
“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.”
Beberapa nasihat Luqman yang tertuang dalam surat Luqman di antaranya:
- Larangan untuk menyekutukan Allah (tauhid mendasar sekali untuk anak-anak kita)
- Nasihat untuk selalu berbakti kepada orang tua (sepanjang hayat di kandung badan)
- Sadar bahwa manusia berada dalam pengawasan Allah (Untuk mengontrol tindak-tanduk kita)
- Berbuat kebaikan dan menjauhi kemungkaran (Pelaksanaan dari taqwa)
- Sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian (Karena hidup merupakan ladang ujian)
- Larangan untuk menyombongkan diri (Jika tidak ingin terjerumus ke neraka)
Masya Allah, ketiganya merupakan figur teladan yang seharusnya kita contoh. Bukan influencer gak jelas yang seliweran di medsos, bukan artis yang gentayangan di tiktok, bukan orang-orang kaya dengan hidup mewah yang kita jadikan life goals, bukan mereka dengan ribuan likes dan loves di laman sosmednya, bukan role model kacangan yang cuma mementingkan fisik, materi, dan status.
Sebagai penutup, nyambung dari bahasan krisis identitas. Carilah dalam diri kita apa yang bisa kita banggakan pada Allah. Apa yang bisa kita bawa di akhirat kelak. Penilaian Allah-lah yang penting. Allah akan meninggikan yang (orang anggap) rendah dan merendahkan orang yang tinggi hati.
Wallahu’alam