Saya gak tahu kapan persisnya saya mencoba hidup minimalis. Apa sudah ‘bakat’ yang dicontohkan Papa saya, apa sejak Marie Kondo booming dengan Konmari-nya, sejak saya berpindah rumah dua kali selama di Groningen (dan semakin banyak barang = semakin repot), atau sejak saya menjadi agak sadar urusan kebendaan ini adalah sebuah liability. Bisa jadi kombinasi semuanya dan terbangun sampai saat ini.
Saya pun mencoba meminimalisasi barang yang ada di rumah. Kalau udah gak perlu saya buang atau saya sumbangkan ke tempat tertentu. Kalau berhasil decluttering rasanya tu lega deh. Kayak merasa mengurangi beban rumah dan bisa beli barang baru. Juga merasa barang yang gak saya butuhkan ini bisa dimanfaatkan atau direcycle lagi. Kalau di Belanda mah gak ada pemulung sih ya, semuanya dibuang ke tempat yang sudah disediakan. Kalau di Indonesia? Hmm.. sistem pembuangan dan pemilahan sampahnya masih banyak yang gak teratur. Kalaupun ada yang baik dalam pemilahan dan untuk lingkungan, itu biasanya diinisiasi oleh sekelompok komunitas.
Waktu saya sampai di Bandung, kebiasaan decluterring saya kumat nih. Saya membongkar barang-barang saya di lemari. Baju-baju, tas-tas, buku-buku yang sudah tidak saya pakai atau jarang dipakai, saya pack masukkan ke kardus sesuai kategori. Sebenarnya saya juga ingin juga men-decluttering barang-barang Mama dan Papa. Saya merasa ini udah kebanyakan barang tidak terpakai dan mubazir jadinya. Misalnya kotak-kotak kue ada satu lemari penuh, tapi yang dipakai paling hanya 30%-nya. Ada sepatu dan sendal yang sudah berdebu menandakan jaraaaang dipakai. Kotak-kotak sepatu yang bertumpuk gak ada isinya. Buku-buku yang teronggok di lemari, juga sudah menguning dan berdebu. Tapi kan saya bukan tuan rumah ya, jadi gak bisa seenaknya declutter barang Mama Papa. Setidaknya saya mencoba mengumpulkan barang saya, dan barang rusak dan sampah si Mama.
Cuma bingungnya ini mau dibuang ke mana? Mau dibuang ke tong sampah kan sayang. Di Bandung sekarang ada sedekah yayasan pengumpul barang bekas sih, tapi mau diantar tempatnya jauh kalau ngirim ya berat di ongkir. Bisa dijemput tapi minimal 8 kardus. Kata si Mama, nanti diambil aja sama tukang rongsok. Ya ampun, saya lupa kalau di Indonesia masih ada profesi ‘tukang rongsok’. Mereka biasanya membawa gerobak atau becak gerobak yang dipakai untuk mengangkut barang. Barang yang dikumpulkan macam-macam. Segala macam sampah, barang rusak, atau tidak terpakai. Random-lah. Botol plastik, kotak kertas, perabotan, mau baju dan sepatu juga boleh.
Dulu saya inget, zaman saya masih kecil sih ada tukang pengumpul kertas, kardus, dan koran, dia timbang berapa berat si kertasnya dan dia beli ke kita. Terus dia ngejual lagi si kertasnya per kilo, ke pusat (entah di mana). Bisa dibayangkan berapa ya selisih keuntungan penjualan kertas itu? Mungkin gak banyak, huhu.
Anyway Mamang tukang rongsok pun datang dan mengambil barang-barang saya. Dia hepi banget bisa dapat satu kardus baju layak pakai dan satu kardus berisi tas, tempat pensil, dompet, dll. Ditambah rongsokan Mama yang berisi: botol-botol plastik, lampu pajangan rusak, kotak-kotak kue, sendal bekas, segala macam barang random.
Saya iseng aja tanya, “Mang ini dikemanain barangnya?”
“Kalau baju, sepatu, tas, mah bisa dipakai sendiri dan dibagiin ke keluarga, atau dibawa ke tukang yang suka jual baju bekas (CiMol alias Cibadak Mall contohnya kalau di Bandung). Kalau baju diitung per pcs, bisa dari Rp 4.000,-, tergantung kualitas baju.”
“Kalau rongsokan rupa-rupa kayak botol-botol plastik, kotak-kotak bisa ditukar juga dengan uang ke si Bos, dia beli.”
Si Bos yang dia maksud adalah orang pengumpul dan pemilah barang bekas dan sampah, nah dia ini yang akan menyeleksi dan menyalurkan barang-barang tersebut ke tempat yang tepat.
“Berapa-eun Mang dikasi harga belinya?”
“Yah … gak tentu, segimana si Bos ngasih harganya we.”
Waduh … kasian juga si Mamang, pendapatannya gak pasti dalam sehari dapat berapa.
“Kalau besi biasanya ditimbang per kg.”
Si Mamang nanya lagi, “Saya beli berapa ini rongsokan dan barang bekasnya?”
Ya masaaa saya tega ngasih harga, ya buat si Mang aja itu mah, gratis. Dia aja gak tentu dapat berapa dari si Bos pengumpul sampah.
Mata si Mamang tertuju pada trash bag di tempat sampah si Mama, dia tanya, apa itu isinya. Mama saya bilang itu Kakak saya yang buang, kayaknya isinya bukan barang kepakai lagi, tapi sampah kering gitu, bukan sampah dapur. Karena si Kakak lagi beres-beresin rumahnya mau pindahan. Banyak barang terlantar jadi dibuang.
Si Mamang akhirnya mengorek isi trash bag itu dan memilah barangnya. Ada juga yang dia ambil, kayak mainan rusak, kotak-kotak kertas, entah apa lagi, aku juga gak jelas.
Di Indonesia masih banyak orang yang bekerja serabutan kayak gini. Masih mending ya si Mamang ini mau usaha kerja mencari sampah. Cuma kan gak semua orang aware mau ngasih barang bekasnya ke si Mamang. Kadang barang bekas kita teronggok aja di rumah gak diapa-apain, kadang udah buluk banget baru dibuang. Kita bisa mencoba menakar barang-barang yang ada di rumah kita, apakah masih bisa bermanfaat atau harus disalurkan. Bisa jadi yang menurut kita sampah dan gak berguna, adalah harta bagi orang lain. Bersyukurlah kalau kita belum bisa mendapatkan barang yang kita impikan, sementara orang lain sibuk mengais sampah untuk penghidupan. Barang juga gak akan membawa kita kemana-mana kalau gak bermanfaat dan hanya teronggok begitu saja. Lebih baik disalurkan atau diberikan ke tempat dan orang yang tepat.
Semoga membawa hikmah.


Mama saya suka numpuk kayak baskom baskom plastik di dapur dan udah banyak banget sampai di atas atas lemari penuh sama baskom plastik yang tidak berguna tapi namanya saya bukan tuan rumah ya gak bisa seenaknya declutter punya mama,paling nanti kalau mama dan bapak saya sudah nggak ada,saya baru berani membuang atau memberikan barang itu ke orang yang lebih memerlukan
Hihi.. Coba aja diajaka Mamanya ikutan beberes dan decluttering barangnya, nanti pasti kerasa leganya juga