Ada satu softskill manusia yang menurut saya banyak diremehkan oleh orang, bahkan dianggap gak penting. Sebab bisa jadi dianggap bukan suatu skill yang membutuhkan effort besar untuk melakukannya, padahal TETOT! Salah besar. Semakin dewasa (baca: berumur), semakin bergaul dengan banyak orang, saya menyadari bahwa LISTENING is such a GREAT skill. Dan bukan cuma sekedar mendengarkan dengan kuping aja, tapi mendengarkan dengan hati, dengan tulus. Yang saya yakin banyak orang yang gak bisa melakukannya, karena manusia lebih suka didengar, lebih suka diberi perhatian, lebih suka dipahami, lebih suka MENERIMA. Namanya juga manusia, primata egois.
Makanya di sosial media kan orang-orang marak banget bercerita soal dirinya, curhatannya, sampai kesehariannya -a day in my life, style teaa-. Padahal ia bercerita sama orang random juga, bukan sama orang terdekatnya.
But anyway, saya semakin menyadari bahwa menjadi pendengar yang baik itu sulit, gak semua orang bisa melakukannya. But I learned that a lot from Ibu Achadiyani, Ibu Yani, ibu mertua terbaik di dunia. Bahkan I keep learning from her even after she passed away. Sebab semua kehilangan sosok paling mendengarkan itu.
Ibu mendengarkan Bapak. Sampai kita gak pernah tahu “keluhan-keluhan” Bapak yang berulang disampaikan kepada Ibu. Ibu mendengarkan cerita semua anaknya. Mulai dari cerita keseharian, curhatan, rasa kesal, sampai permasalahan anak-anak. Ibu bahkan mendengarkan cucu-cucunya bercerita, bahkan walau hanya melalui layar ponsel. Untukku, yang termasuk jarang bercerita, pun mencari Ibu untuk bertanya, mengeluarkan uneg-uneg, termasuk ketika berbeda pandangan dengan suami (tentu saya menelepon ketika tidak ada suami di sekitar saya, hahah). Ibu mendengarkan mahasiswa-mahasiswinya mengadu dan curhat pada Ibu. Semua orang mencari Ibu.
Suami punya kebiasaan menelepon Ibu dalam perjalanan ke kantor (menyetir sekitar 2 jam). Apapun diceritakan pada Ibu. Ketika suami kerja di rumah dan tidak sibuk, juga kadang disambi mengobrol dengan Ibu melalui ujung telepon. Kompensasi dari kami yang merantau jauh, tidak bisa setiap waktu bertemu muka. Gak bisa dibayangkan betapa getirnya kehilangan momen-momen bercerita itu pada Ibu. Pasti ada sudut hampa di ujung hati yang gak bisa diisi oleh apapun. Kecuali dengan untaian doa ketika teringat Ibu.
Saya sadar betul, Ibu is one of a kind soal mendengarkan ini. No doubt, tidak tebang pilih, semua didengar. Padahal, mendengarkan orang bercerita itu bisa menyenangkan either kalau ceritanya seru/menarik/bermanfaat, atau yang berceritanya yang menarik (orang yang kita sangat peduli). Tapi Ibu sih gak pandang bulu soal apa isi cerita dan siapa yang bercerita. Ibu just listens. Dan tentunya beda ya kalau cuma mendengarkan dengan kuping dan mendengarkan dengan tulus. Ibu adalah seorang yang tulus. Itulah mengapa orang-orang merasa percaya untuk “menitipkan” ceritanya pada Ibu.
Untuk saya pribadi, saya bukan tipe pencerita secara lisan yang seru, gak seperti suami yang seneng ngomong. Well, I quite improved though, mayanlah saya juga udah bisa cerita panjang. Saya seneng sih sebenernya ngedengerin cerita teman-teman, misal gimana permasalahan yang mereka hadapi, gimana curcolan mereka. Soalnya saya bisa berkaca dan mengambil ibrah dari hal tersebut. Saya juga suka dengerin histori hidup orang, kalau ada yang cerita dulu gimana dia ketemu pasangannya (suami/istrinya), gimana mendidik anak-anaknya sampai sekarang, gimana dia bisa sampai di titik ini. Kayak jadi menguntai kisah gitu. Dan saya merasa ketika orang melakukan deep talk sama saya dan bisa merasa rapuh, saya merasa dipercaya olehnya. Saya pun gak ragu untuk mempercayakan kerapuhan saya padanya.
Semoga kita bisa menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, khususnya bagi orang yang kita sayangi. Sehingga tak lagi perlu mencari validasi di luar sana, karena selalu ada ruang kembali untuk bercerita pada orang yang dipercaya.
Groetjes ❤️