Groningen's Corner, Groningen's Journal

Meet Rachida


Setiap bertemu Rachida, beliau pasti memeluk dengan erat dan menyapa dengan hangat: Hoe gaat het, Sister?” Sampai kehangatannya menembus bekunya musim dingin.

Rachida, muslimah asal Tunisia yang kami kenal karena kebaikan hati dan semangat dakwahnya. Dari jalan beliau, komunitas muslim kami @degromiest bisa menggunakan ruangan di community center milik kelurahan secara gratis. Katanya, “Pakai saja ruangannya. Kalian kan memakainya untuk anak-anak belajar mengaji. Kita bisa saling membantu.”

Saya mengenal Rachida sebenarnya sudah cukup lama. Tapi baru lumayan sering ngobrol dalam beberapa tahun belakangan. Saya sering banget melihat beliau “berkeliaran” di mana-mana. Kayaknya orangnya sibuk terus tu. Ada di komunitas ini, ngurusin kegiatan itu, aktif di mana-mana. Saya baru tahu ternyata beliau mendirikan stichting (yayasan) Al Ikhlaas yang bergerak di bidang pendidikan Islam. Ada kelas-kelas bahasa Arab untuk perempuan dan untuk anak-anak. Beliau nampaknya orangnya luwes dan ringan tangan. Sampai akhirnya ketika beliau ingin memakai gedung kelurahan untuk aktivitas yayasannya, dikasih aja gratis gitu oleh Gementee (pemerintah daerah). Sama ketika saat Rachida dan komunitasnya mendirikan sekolah minggu untuk belajar bahasa Arab anak-anak, ia diperbolehkan memakai gedung sekolah secara cuma-cuma. Padahal susah lho mendapatkan kepercayaan dari orang sini.

Dalam bermuamalah, Rachida memegang prinsip “hal jazā’ul iḥsāni illal iḥsān”, tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan pula (QS. Ar-Rahman: 60). Itulah sebabnya ia dipercaya banyak pihak dan banyak volunteer yayasan yang loyal dan sayang padanya. Dari pancaran matanya saya melihat, tidak ada keuntungan duniawi dan materi yang ia cari; tujuannya hanya satu: menjadi khādimul ummah, pelayan umat. Semua yang ia lakukan semata-mata karena Allah, fisabilillah. Jika berkaca pada semangat dakwahnya, rasanya keinginan duniawi kita terasa receh banget.

Ia sendiri juga bilang: Saya mah gak pinter kayak kamu-kamu semua,(orang Indonesia yang di sini, kan kebanyakan student atau pekerja, dianggap Rachida sebagai orang yang berpendidikan), tapi saya melihat apa sih yang bisa saya lakukan untuk Islam dengan kemampuan saya ini. Saya ini cuma lulusan SMP. Ketika saya SMP, Ibu saya wafat, sementara Ayah saya sakit-sakitan. Saya masih memiliki 3 adik yang kecil-kecil. Akhirnya saya ya harus bekerja menopang keluarga saya dan merawat Ayah saya. Saya menyedekahkan diri saya untuk keluarga, O Allah, please use me. Kata beliau begitu. Maka saat Rachida kemudian hijrah ke Belanda, ia juga tetap memiliki semangat yang sama untuk berguna bagi umat. Meski pendidikannya gak selesai, tapi Rachida memiliki semangat sosial yang tinggi dan itulah yang bisa dia lakukan. Malu banget ga sih kita tu, pendidikan bagus, kehidupan lumayan, tapi pelit banget berbuat untuk umat.

Saya seneng sih dengerin kisah hidupnya Rachida, karena dari sana saya bisa belajar banyak. Ia juga bilang: saya menikah di usia yang gak muda, hampir 40. Makanya saya juga udah gak berharap punya keturunan. Tapi Allah kemudian mengamanahi satu anak laku-laki untuk Rachida dan suaminya, Karim namanya. Insya Allah semoga Karim mengikuti jejak kedua orang tuanya. Karim ternyata bersekolah di sekolah yang sama dengan Runa, di Gymnasium.

Masya Allah lah.

“Innamal mu’minūna ikhwatun” — orang-orang beriman itu bersaudara (QS. Al-Hujurat: 10). Sering kali dalam berkomunitas, kita terkotak oleh asal negara dan budaya. Namun Rachida menghidupkan makna ayat itu: bahwa apa pun latar belakang kita, ikatan iman jauh lebih kuat, kita tetap satu umat. Apalagi yang sudah satu budaya, Indonesia. Seharusnya ikatan kita lebih kokoh. Persamaan kita sebagai umat Islam jauh lebih banyak, ya gak usah memperdebatkan perbedaan yang kecil dan khilafiyah.

Rachida menjadi pengingat kami bahwa iman itu paling indah ketika diwujudkan lewat kebaikan dan ukhuwah islamiyah.

Leave a comment