Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus

On Monday 6th 2020, Dutch government has released new measure against this pandemic situation. Several of the restriction will be reduced start on May 11th 2020.

It seems that we can feel the air of little freedom. The coronavirus is now under control, the number is still high, but the case reduces per day. I did not know the exact number, to be honest. I am not the one of people who always update with the news. All the information I knew was from my husband, who always keep update with the news, and that is enough for me.

However, the government still emphasize that we have to remain follow the basic rule, it is important!

Schools

Primary schools, including special primary schools, and daycare providers will reopen on 11 May

Runa is so excited about this! She said that she can’t wait to meet again her friends, and do activities at school. Although, everything will not be the same. There are several rules set up by the school. A long list of rules:

All the classes are divided into two small groups. Every day there are two blocks in which the same lessons are given. The morning shift 8:30 am – 10:45 am and the afternoon shift 11:45 am – 2:00 pm. In between of the shift, the school will be cleaned. Runa is in the afternoon shift, which we thought is an advantage, since Runa does sahur and fasting. The duration of fasting in here is quite long, around 17 hours. In this lock down situation, Runa did very well with her first shaum, she can complete several days for full shaum! Barakallahufiik, anak solehah. Continue reading “Back to school: Dutch government reduces the restriction against coronavirus”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Celengan Kebaikan – #RamadanBerkarya

Waktu tahu ada #ResepKarya ini di #RamadanBerkarya bersama DeGromiest Kinderen, Runa langsung semangat ingin bikin-bikin sesuatu. Tapi Runa pinginnya Senja juga ikutan. Jadilah kami bikin dua celengan kaca. Runa yang punya idenya, Senja yang ikutan menghias dan bikin hebohnya, hihi..

Celengan ini nanti akan diisi koin-koin bergambar Elsa dan Anna. Maklumlah ya anak-anak cewe. Tokoh princess yang terdiri dari kakak-adik👸🏻👸🏼 ya Frozen ini. Bunda mencetak gambar Elsa dan Anna yang Runa dan Senja suka. Setelah itu Runa yang menggunting bulatan koin Elsa untuknya. Sementara Bunda yang menggunting bulatan koin Anna untuk Senja.

Celengannya terbuat dari toples kaca bekas saus pasta yang dicat. Runa memilih warna biru dan Senja memilih warna merah. Mencat-nya sih sebentar, tapi belepotannya lumayan juga. Celengannya ditutup (tapi gak ditutup permanen) dan diberi nama masing-masing anak.

Bagaimana cara mendapatkan koin?
Koin-koin ini bisa didapatkan kalau Runa dan Senja berbuat baik. Runa pun menyusun apa saja list kebaikan yang kira-kira bisa ditukarkan dengan koin. Tapi tentunya bukan perbuatan baik yang sudah jadi kebiasaan, seperti salat dan mengaji. Harus berupa kebaikan yang kadang dikerjakan kadang tidak, misalnya membantu Bunda memasak, membacakan buku buat Senja, dll.

Tantangannya adalah: Koin-koin yang sudah dimasukkan ke dalam celengan bisa diambil lagi, kalauuu… Runa dan Senja melakukan perbuatan kurang baik, contohnya kalau dua bersaudara ini berantem. Ternyata cukup ampuh juga bikin Runa jadi bersabar.
List untuk Senja? Tentu saja dibuatkan kakaknya. Senjanya tinggal terima jadi. Runa yang bagian jadi polisi, mengingatkan Bunda kalau Senja boleh ditambahkan atau dikurangi koinnya.

Yang menarik adalah dalam penyusunan list ini adalah proses diskusinya. Kami membiarkan Runa mengusulkan setiap perbuatan baik dan kurang baik. Kalau kami setuju, Runa akan menuliskannya. Setiap perbuatan baik dan kurang baik memiliki nilai koin sendiri-sendiri, sesuai yang kami sepakati. Dalam hal ini terjadi tawar-menawar yang cukup ketat antara Runa dan ayah-bunda, disertai argumen yang mendukung opini masing-masing pihak, haha.

1 koin setara dengan 1 euro💰. Jumlah koin akan dihitung di akhir bulan Ramadan. Akan diuangkan untuk disedekahkan kemudian. Untuk Runa dan Senja, hadiahnya🎁 tentu bukan berupa uang dong. Ada deh, kejutan buat nanti!

Celengan kebaikan ala Runa dan Senja
Behind the scenes
List kebaikan yang disusun Runa
Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner

Mamak van Groningen

Gak sengaja akhirnya lahir juga perkumpulan IG Mamak van Groningen. Monggo difollow

Foto dan caption pertama – kedua, Mamak ini yang bikin. Dishare di sini yaa..

Mamak van Groningen

Perpaduan antara sapaan ibu yang Indonesia banget (Mamak) dan kata penunjukkan asal yang Belanda banget (van, terjemahan: dari). Menunjukkan bahwa kami adalah ibu-ibu dari Groningen.
Maksudnya kami pernah mencicipi tinggal di Groningen, hidup di Groningen, atau masih berdomisili di Groningen sampai saat ini.
Persamaan kami adalah, kami begitu terikat pada magnet Groningen.

Mulanya, begitu mencicipi hawa kulkas Groningen, kami berjengit kedinginan. Begitu merasakan jauhnya Groningen dari kota-kota lain di Belanda, kami mengeluh sampai bosan. Begitu menyadari monotonnya Groningen, kami berbisik ingin perubahan.

Lambat laun, ternyata kami terhanyut dalam denyut Groningen.
Ikut terpaut pada kotanya yang bersahaja.
Berteman dengan tiap sisi dan sudutnya dengan bersepeda dan berjalan kaki.
Merasakan makna dari kekeluargaan dan persahabatan yang ditawarkan.

Berbagai alasan membawa kami bertolak dari tanah air ke tanah datar ini.
Berbeda tujuan bukan berarti membuat kami berjarak.
Ternyata malah membuat kami berkelindan dalam lipatan waktu.
Hanya Martini Toren, ikon Groningen, yang cukup jadi saksi, perjalanan kami selama di sini.

Kreasi. Resep. Cerita. Curhat. Traveling. Aktivitas. Studi. Kenangan. Ilustrasi. Akan ditemukan di sini. Enjoy! Selamat menikmati! Geniet er van!
.
.
Logo illustrated by: @thecrafterhours

Mamak van Groningen

=========

Diorama Musim Semi

Tahun ini Ramadan menyapa di musim semi.
Mekarnya bunga, terbangnya serbuk sari, bercampur aroma pupuk ikut menghiasi pergantian hari.
Groningen di musim semi masih sama.
Angin sepoi dengan mentari yang seirama.

Berkah Ramadan tidak berkurang.
Musim semi di Groningen masih berulang.
Hanya situasinya saja yang berbeda sekarang.
Tak apa, kami tak gamang.
Kami ada dengan semangat membentang.

Meski tangan kami tak saling menggenggam.
Meski bibir tak bisa saling mengucap salam.
Tapi hati-hati kami terpaut dalam doa yang tersulam.
Sebab doa terbaik adalah saat sahabatmu bermunajat untukmu dalam diam.

Salam dari kami yang saling merindukan,
Mamak van Groningen

Cerita Runa dan Senja, Journey, Motherhood

Ramadan 1441 Project by Runa

Tahun ini adalah tahun kedua Runa mulai belajar puasa lagi. Qadarullah bertepatan dengan adanya corona. Jadi hikmahnya Runa bisa lebih merasakan hawa Ramadan, bisa mencoba sahur dan puasa lebih panjang. Sebab tahun lalu kan meski mencoba sahur, tapi Runa harus bangun pagi untuk sekolah, takutnya ia masih mengantuk. Lalu di sekolah banyak kegiatan outdoor, olahraga, dll, jadi bagi anak-anak rasa lapar dan haus jadi lebih terasa.

Alhamdulillah tahun ini DeGromiest kinderen punya kegiatan Ramadan, untuk membuat anak-anak lebih semangat menyambut Ramadan dan memiliki kegiatan positif untuk dilakukan bersama keluarga di rumah. Cek IG DeGromiest untuk lengkapnya. H-7 ini kegiatannya adalah membuat Proyek Ramadan dan  Ibadah Tracker untuk anak-anak 6 tahun ke atas. Di sini lengkapnya.

Tahun lalu Runa membuat 30 Days Ramadan Project. Tahun ini pun Runa (saya dan suami) membuat program serupa.

 Tujuannya menjaga antusiasme Runa terhadap bulan Ramadan. Ramadan bulan yang spesial untuk umat Islam, sayangnya semaraknya kurang terasa di Belanda. Jadi kami ingin membuat Ramadan ini begitu berkesan bagi Runa, hingga ia bisa mengingat dan mengamalkannya sampai dewasa. Ramadan pun semakin terasa meriah. Masa kalah dengan perayaan event lain di Belanda, seperti Sinterklaas, Natal, Koningsdag, Paskah, dll.

Jadi inilah Ramadan Runa:

30 days project

Alat dan bahan: Continue reading “Ramadan 1441 Project by Runa”

Being Indonesian in the Netherlands, Groningen's Corner, [GJ] – Groningen’s Journal

Oma dan Oma itu

Doe je mee? We maken met zijn alleen tekeningen voor de ouderen uit onze wijk die het verzogings of verpleegtheuis iotten. Zij mogen nu geen bezoek meer ontvangen. Maak een tekening met mooie wens op te schrijven om ze op te vrolijken!”

Begitu isi email singkat dari sekolahnya Runa. Intinya mereka bilang, yuk bikin gambar/kreasi untuk dikirim ke panti jompo di deket lingkungan kita. Karena corona ini mereka gak boleh lagi menerima pengunjung, pasti mereka kesepian kan, kita hibur mereka dengan ngasih gambar karya anak-anak ini, bisa juga ditambah kalimat berisi wish.

Di lingkungan rumah sini ada dua panti jompo, Bernlef dan Blauwbörgje. Memang biasanya dalam beberapa minggu sekali anak-anak berkunjung ke panti jompo tersebut. Kadang anak kelas kecil, mereka bernyanyi dan menari untuk para oma opa. Kan gemesin ya polah anak-anak, mereka jadi terhibur dan merasa senang.

Kondisi sekarang ini tentu bukan cuma anak-anak aja yang ga boleh berkunjung ke sana. Keluarga mereka juga dilarang menemui orang tua di sana. Sebab mereka kan grup orang dengan risiko tinggi kalau sampai kena virusnya. Saya bisa membayangkan betapa sepinya di sana. Biasanya aja udah sepi, apalagi sekarang ini?

Sekolahnya Runa menginisasi pengumpulan drawings ini untuk para oma opa. Jadi tiap hari Jumat mereka menyediakan box di halaman sekolah untuk menampung kertas/kartu ucapan yang akan dikirimkan ke panti jompo tersebut. Runa pun saya encourage untuk ikutan menggambar. Tadinya Runa juga bilang, Runa lagi malas ngegambar, mau bikin-bikin yang lain aja. Tapi saya bilang: Run, pingin gak ngasih sesuatu ke orang? Dia pasti kan senang sekali, Runa perhatian sama mereka. Walaupun cuma gambar juga.. Oma-opa itu pasti kesepian. Runa pun akhirnya menggambar dan memikirkan sesuatu untuk mereka dengan semangat. Continue reading “Oma dan Oma itu”

Just Learning, Life is Beautiful

Hikmah di Balik Musibah

Kalau ditanya apa hikmah di balik musibah, ternyata hikmah yang dipetik ga cuma satu, dua, tapi mungkin puluh-puluhan, tak terhitung. Sama seperti nikmat yang Allah berikan pada manusia tidak bisa terukur.

Alhamdulillah Forum Komunikasi Netherlands (ForKom NL), gabungan dari perkumpulan muslim Indonesia di Belanda, mengadakan kajian rutin online tiap minggunya. Dengan pengisinya ustadz-ustadz mumpuni, Masya Allah. Ternyata termasuk kegiatan yang saya tunggu-tunggu tiap minggunya. Setelah dalam seminggu berkutat dengan kesibukan work-from-home, bolak balik masak, memantau pe-er Runa, ngajak main anak-anak, beres-beres lagi, gitu terus muter. Lelah kadang, tapi begitu ketemu weekend ada leganya. Setidaknya ada agenda bergizi untuk diikuti.

Kajian minggu ke-2 adalah dari Ust. Oemar Mita, mengenai hikmah di balik musibah. Apa yang dipaparkan Ust. Oemar Mita bikin saya merasa ditampar bolak-balik. Malu, cuma segini-gininya aja jadi makhluk.

Saya rangkum catatan kajiannya di sini, biar tidak lupa.

Pandemik corona ini adalah musibah. Setiap manusia akan mendapat musibah. Yang membedakan antar tiap manusia adalah waktunya dan kadarnya. Ujian corona ini mungkin bentuknya gak sama bagi tiap manusia.

Ketika di dunia, bisa jadi kita menangis, banyak air mata keluar karena ujian dan musibah. Tapi air mata kita akan kering di akhirat nanti insya Allah.

Apa bedanya azab, ujian, musibah? Continue reading “Hikmah di Balik Musibah”

Life is Beautiful

Life in the Time of Corona

Assalamu’alaikum bloooggg..

OHHHH I MISS YOUU SOO MUCCHH!!

Napa eike ga nulis-nulis lagi siih? Syebel eike juga sama diri sendiri, yang gak bisa menyediakan waktu untuk nulis. Betapa kangen jari-jari saya menuangkan apa yang ada di kepala dan hati.

Apalagi saat ini dunia dalam kondisi krisis. Darurat. Pandemik. Udah kayak mau akhir zaman (ya memang mungkin udah mau kiamat, Walllahua’lam). Tapi Allah memang Maha Kuasa, Pemilik segala di langit dan bumi, Yang bisa membuat segala-galanya mungkin. Kita sebagai manusia merasa sangat lemah, lemah sekali.

Sebenernya kali ini saya nulis juga gak tau mau nulis apa. Saya lagi kebagian jatah bisa kerja tanpa gangguan anak-anak. Suami lagi jagain anak-anak di bawah. Setengah jam lagi saya ada meeting  sama Si Ibuk spv. (Rasanya) saya sudah cukup menyiapkan bahan diskusi, dan malas buka-buka lagi, belum ada update-an untuk dikerjain lagi. Terus tetiba saya ingin membuka blog.

Selama hampir sebulan ini hidup terasa ups and downs, aneh, parnoan. Tapi yang jelas aneeh banget, aneh.

Sebagai orang yang ambivert. Saya merasa hepi-hepi aja ada di rumah, ga mesti ngantor, dan ketemu banyak orang. Tapi di sisi lain, kok ada sesuatu yang hilang ya, ternyata saya juga ingin ngomong dan didengar, ingin mendengar dan menatap wajah orang secara langsung, ingin berkumpul.

Tadinya saya merasa gak masalah untuk work from home sama sekali. Malah untung, bisa kerja dan tetep bisa membersamai anak-anak. Bisa buka-buka laptop dan gantian shift kerja sama suami, sambil bisa masak, beres-beres rumah. Bisa sambil curi-curi selonjoran dan baca buku favorit sambil minum kopi. Tapi lama-lama kok saya merasa agak tertekan. Kerjaan suami yang lebih urgent  dan butuh telepon dan online setiap waktu membuat saya jadi merasa gak bisa dapat waktu khusus untuk kerja. Masak, beres-beres, tidak ada habisnya. Pe-er sekolah Runa harus dicek, sekolah jarak jauhnya, ngaji, dan hapalannya. Eh kok hapalan dan ngaji sendiri keteteran. Kok malah ga menikmati baca buku karena kalo ada waktu luang tentu dipake untuk buka kerjaan. Continue reading “Life in the Time of Corona”

Journey

Review Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Menamatkan buku setebal 631 halaman ini bukan sekadar menyelesaikan lembaran-lembarannya sampai halaman terakhir, tetapi juga membuat saya berpikir, menapaktilasi kembali sejarah bangsa Indonesia selama masa penjajahan Belanda, sampai menelusuri silsilah keraton Yogyakarta yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono.

Ternyata pelajaran Sejarah yang dulu sangat saya sukai sejak SD, tidak membekas di ingatan saya ketika saya membaca kisah Perang Diponegoro atau Perang Jawa yang disusun dalam bentuk fiksi sejarah oleh Ustadz Salim A. Fillah. Dulu saya cuma menghapal untuk ulangan bahwa Perang Diponegoro adalah perang yang terjadi di waktu menunaikan salat Maghrib (1825-1830) (ngerti kan ya maksudnya?) akibat dari pihak Belanda yang memasang patok-patok melintasi makam leluhur Diponegoro [Maapkan pengetahuan sejarah saya yang cetek ini].  Lebih dari itu Perang Sabil yang dikobarkan Sang Pangeran merupakan bentuk jihad fisabilillah melawan kebobrokan dan penurunan nilai-nilai Islam yang terjadi di keraton akibat pengaruh Belanda. Perang yang membangkrutkan Belanda ini menjadi pemantik bola salju kemerdekaan Indonesia (iya meski masih tahun 1945 resmi merdeka-nya). Continue reading “Review Sang Pangeran dan Janissary Terakhir”

Being a Student Mom, Being Indonesian in the Netherlands, Mommy's Abroad

Kontras

Friday drinks after work?”

Ajakan rutin di grup whatsapp kantor mendekati jam 5 sore.

Ya keles ikutan drinks, Jumat sebelom jam 5 aja eike dah di rumah.

Mungkin di saat kolega-kolega saya melepaskan penat setelah bekerja dengan kongkow di bar, saya sedang melepaskan penat saya dengan nonton kartun Netflix bersama keluarga, atau bahkan sudah kruntelan di kasur.

Sabtu paginya, mungkin di saat mereka masih bobo habis hangout semalam, saya malah sudah nongkrong syantik di IKEA untuk sarapan pagi atau bahkan sudah siap-siap pergi belanja mingguan, muter dari Oriental (toko Asia), Nazar (Toko daging halal), supermarket, atau ke pasar.

Banyak kontras yang saya hadapi di lingkungan kerja saya sebagai PhDmama. Saya sadar, saya sangat berbeda. Bukan hanya dari kultur, latar belakang, kepercayaan, tapi juga dari segi situasi kondisi harian.

Dari penampilan saja saya sudah terlihat berbeda. Belum lagi soal “menghilang” di jam-jam salat, tidak makan/minum di musim panas alias puasa Ramadan (yang mereka anggap sangat berat), dan tidak pernah ikut Friday drinks after work.

Dari sisi sikon: kalau kolega saya biasanya masih stay di atas jam 5 sore jika ada deadline, saya mah kalau bisa jam 5 kurang udah siap pulang (apapun kondisinya), biar bisa cepat-cepat jemput anak-anak. Kalau ada jadwal sekolah anak libur, saya juga ikut libur. Jika terpaksa ngantor ya harus cari akal gantian jadwal sama suami, bahkan minta bantuan sahabat kami untuk “menitip” Runa. Lalu ada juga saat-saat genting, pas sedang sibuk di kampus, tiba-tiba dapat telepon dari daycare: “Senja kayaknya kurang enak badan, mungkin lebih baik dijemput lebih cepat”. Mau gak mau ya tutup semua kerjaan dan cus pulang.

Sometimes being minority feels quite difficult. Menjadi berbeda membuat saya sedikit berkecil hati dan merasa terasing. Tapi teringat salah satu ceramah Ust. NAK menjadi kontras di antara mayoritas bukan berarti sesuatu yang salah. Islam pun datang dari keadaan yang asing dan akan kembali menjadi asing (HR. Muslim), berbahagialah menjadi orang yang asing selama berada dalam kebenaran.

Hal itu sangat menghibur saya. Paling tidak, saya tidak segan menunjukkan identitas saya sebagai muslimah dan seorang ibu. I’m adapting, but I’m not trying to fit in such community, I’m just enough to have my family and Allah by my side, Insya Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakil.

*kali2 emak curcol gapapa yes.. biar variatif ga ngomongin anak mulu, hehe

Cerita Runa dan Senja, Cerita Senja

Tough love. Zwaaien naar Mama

“Kom Senja, we gaan zwaaien naar Mama.” (Yuk Senja, kita dadah-dadah ke Bunda). Zizi, staf pengasuh Senja di daycare menggendong Senja sambil mengantar saya sampai pintu kaca kelas Senja. Ia mengajak Senja mengucapkan perpisahan pada saya yang hendak berangkat ke kampus. Selalu seperti seperti itu.

Wajah Senja terlihat happy, seraya melambaikan tangannya lalu kiss bye. Saya jadi merasa tenang melihat Senja baik-baik saja. Insya Allah Senja ada di tangan yang terpercaya.

Memang butuh lebih agak lama untuk Senja bisa beradaptasi seperti di atas. Ketika Senja sudah bisa mengenali mana ayah bundanya, tentu lebih sulit meninggalkannya di daycare. Sebab ia pasti akan menangis ketika ditinggal. Tapi ada satu hal yang menarik dari kebiasaan daycare Senja saat “perpisahan” menitipkan anak.

Sudah pasti anak akan merasa agak insecure ketika ditinggal, wajahnya akan terlihat sedih, bahkan menangis. Namun, bukannya mengalihkan perhatian si anak untuk tidak menangis saat berpisah dengan orang tuanya, pengasuh akan mengajak si anak untuk menghadapi “perpisahan” dengan ceria dan berani. Malah kadang saya yang jadi gak tega. Continue reading “Tough love. Zwaaien naar Mama”