Runa Schoolreisje

Hari Kamis (4 Mei) kemarin, sekolah Runa mengadakan schoolreisje (school trip), mungkin kalau di Indo namanya karyawisata kali ya. Kali ini tujuannya ke Wildlands Adventure Zoo Emmen. Semacam kebun binatang yang dilengkapi arena petualangan seru di dalamnya. Mereka pergi dengan bus yang memakan waktu satu jam perjalanan. Di jadwalnya mereka berkumpul di sekolah pukul 8.30, berangkat dengan bus pukul 09.00, dan akan sampai kembali ke sekolah pukul 15.30. 30 menit lebih lambat dari biasanya sekolah berakhir. Semua anak dari grup 1 sampai grup 8 diharapkan ikut. Oiya biayanya gratis.

Beberapa minggu sebelumnya, orang tua dikirimi email mengenai detail schoolreisje ini. Orang tua murid boleh ikut, dengan mendaftar sebelumnya. Di kelas Runa, karena beberapa orang tua bersedia ikut, lalu diundi orang tua siapa yang beruntung ikut. Tapi para orang tua ini ikut bukan untuk menjaga anaknya lho. Tetapi ia diberi tugas untuk mengawasi grup kecil yang akan dibentuk saat jalan-jalan nanti.

Runa sangat excited dari beberapa hari sebelum pergi. Tapi kok sayanya yang deg-degan. Ya iyaa.. ini kan pertama kalinya Runa pergi jalan-jalan jauh tanpa orang tuanya (atau saudara/kerabat dekatnya). Takutnya Runa capek karena mereka pasti akan jalan kaki mengelilingi Zoo Emmen tersebut, padahal kalau jalan-jalan sama kami pasti selalu bawa stroller. Takutnya Runa rewel karena bosan atau ngantuk. Takutnya Runa kedinginan karena cuaca pagi itu mendung dan sedikit gerimis, sudah pertengahan musim semi tapi cuaca tidak berubah membaik. Takutnya Runa lapar selama perjalanan, meskipun saya membekali Runa dengan roti, pisang, biskuit, dan botol minum. Sifatnya emak-emak emang selalu khawatiran. Saya juga bilang sama gurunya, ini pertama kalinya Runa pergi agak jauh dengan rombongan besar, dan bukan familinya. Juf(guru)-nya sih bilang: don’t worry, be happy. Enggak deng, haha.. Kata gurunya gak usah khawatir, nanti anak-anak akan dibagi dalam 4 grup kecil dan ada orang dewasa di dalam grup tersebut yang mengawasi anak-anak tsb. Lagipula dua guru di kelas Runa, Marjolejn dan Doeska juga ikut serta.

Rombongan ke Emmen itu besar juga lho. Di kelas Runa ada sekitar 25 anak, mungkin kelas lain jumlahnya ya kurang lebih 20-25 anak juga. Dikali total ada 26 grup di satu sekolah, jadi ada 600-an anak yang ikut.

Pukul 15.30 kurang lima menit saya sudah menunggu rombongan bus tiba di lapangan sekolah. Saya menunggu dengan cemas di bawah rintik-rintik hujan sore itu. Bus Runa belum tiba juga, sudah ada beberapa bus yang sampai duluan. Sampai akhirnya 5 menit menunggu datang juga bus grup Runa. Runa turun bus sambil memegang tasnya dan bungkus biskuitnya yang sudah habis. Kelihatannya dia capek. Saya langsung memeluk Runa dan bertanya antusias, gimana tadi sepanjang perjalanan, capek gak, lapar gak, makan apa aja, sama siapa aja mainnya. Runa menjawab sambil ogah-ogahan. Capek katanya.

Sampai di rumah, Runa pun mandi air hangat dan makan. Saya kira setelahnya dia akan segera tidur karena capek. Eh ternyata baterainya kayak terisi penuh lagi, haha. Runa malah jadi cerewet menceritakan pengalamannya tadi. Dia bilang tadi naik boat, lihat banyak binatang, juga dikasih makan patat (kentang goreng) jadi bekal roti dan pisangnya gak habis. Saya jadi lega.

Tadinya saya cemas aja, anak 4 tahu lhoo ikutan school trip segalasaya aja dulu trip jauh-jauh pas udah kelas 6 SD kayaknya. Tapi memang anak Belanda ini jadi cepat dewasa karena dianggap mandiri juga sama orang dewasa. Mereka dianggap sudah bisa mengatur dirinya sendiri dan belajar bertanggung jawab. Selama trip mereka harus menggendong tasnya sendiri (yang isinya bekal dan air minum). Kalau mereka mau pipis dan pup ya bilang sama gurunya (meski di dalam tasnya juga anak-anak kecil ini diminta untuk membawa baju salin jika kotor). Mereka juga belajar untuk mendengarkan dan mengikuti instruksi orang dewasa dengan baik.

Dua hari setelahnya saya sudah bisa mengakses foto-foto saat schoolreisje-nya. Saya jadi tahu, oh ini yang dimaksud Runa naik boat. Oh ini kegiatan mereka selama di sana. Salut, Runa memang terlihat (belajar) lebih mandiri

Bersama teman-teman sekelasnya dan dua orang jufnya. Mereka dipakaikan rompi khusus, biar gampang dikenali kali ya, gak ilang-ilang.

Kecapekan di Bus, tidur di perjalanan pulang

Advertisements

Kisah Awal Seorang Jenius

Jenius, visioner, pekerja keras, luar biasa, extraordinary!

Itu sederet komentar saya yang keluar sepanjang saya membaca buku mengenai kisah masa muda Bacharuddin Jusuf Habibie, atau yang dikenal dengan nama Rudy di masa mudanya.

Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner

Selama ini saya hanya mengenal sosok Pak Habibie sebagai orang yang jenius, titik. Dalam buku dan film Ainun dan Habibie, lagi-lagi sosok yang tercipta adalah seorang jenius, di samping keromantisan kisah cinta mereka berdua. Mungkin saya memang kurang gaul mengenai perjalanan hidup beliau. Yang saya tahu beliau bersekolah sampai doktoral di Jerman, orang Indoneisa pertama mendesain pesawat di IPTN, serta presiden ketiga RI. Ternyata beliau lebih dari itu.

Buku berjudul Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner, telah membuka mata saya mengenai perjalanan hidup Pak Habibie. Sahabat saya yang telah berbaik hati meminjamkan bukunya. Saya bilang pada sahabat saya, saya lagi ingin membaca sesuatu yang ringan tetapi memotivasi. Ia pun memilihkan buku tersebut. Pilihannya tidak salah, kisah masa muda Rudy ini enak dibaca dan begitu menginspirasi. Meski saya menamatkan buku tersebut di sela-sela kegiatan liburan travelling saya, tetapi saya tidak bisa berhenti meletakkan buku tersebut, sampai saya merasa pusing membaca.

Rudy memang seseorang yang diberi kelebihan oleh Allah dengan kepintarannya yang sudah menonjol sejak kecil. Hingga sampai usia sekolah, kecerdasan Rudy semakin terlihat. Bahkan Mami, panggilan ibu Rudy, sampai bela-belain menyekolahkan Rudy ke Jakarta, ke Bandung, hingga ke Jerman. Keluarga Rudy memang cukup berada memiliki latar belakang pendidikan yang baik. ia beruntung bisa mengecap pendidikan Belanda ketika masih kecil. Saya juga baru tahu dari buku ini bahwa Pak Habibie memang fasih berbahasa Belanda sejak kecil, selain karena ia bersekolah di sekolah Belanda, juga karena bahasa Belanda adalah bahasa yang populer digunakan di Parepare (kota Parepare menjadi persinggahan bangsa asing, termasuk Belanda).

Yang membedakan Rudy dengan para jenius lainnya adalah, idealismenya untuk Indonesia. Orang jenius mungkin banyak, tetapi yang memiliki cita-cita dan optimisme besar untuk Indonesia mungkin hanya Rudy.

Ia bersekolah jauh-jauh ke Jerman demi memikirkan nasib bangsanya. Ia memiliki cita-cita untuk membangun Indonesia dengan pesawat terbangnya. Diceritakan pula selama kuliah di Aachen, Jerman, Rudy tidak hanya serius belajar, tetapi ia juga aktif di perhimpunan mahasiswa Aachen dan Jerman Barat. Ia bahkan mengadakan Seminar Pembangunan yang isinya mengonsep masa depan bangsa Indonesia, diikuti oleh seluruh PPI cabang kota di Eropa. Ada ceramah yang diisi dari pembesar Indonesia, termasuk Moh. Hatta di dalamnya. Kemudian setiap PPI cabang kota saling berdiskusi dan bertukar pikiran, mengoordinasikan kebutuhan pembangunan Indonesia di bidang industri, sesuai bidang studi masing-masing. Berat euy bahasannya. Langkah awal ini yang kemudian memandu Rudy untuk selalu menyimpan cita-cita besarnya untuk Indonesia.

Kalau direfleksikan dengan kondisi sekarang, rasanya jauh sekali. Di mana para pemuda Indonesia di luar negeri saat itu begitu idealis demi bangsa. Saya jadi berkaca pada diri sendiri, wah boro-boro memikirkan pembangunan Indonesia berkelanjutan. Kadang malah rasanya pesimis sekali dengan negara sendiri. Meski saya tahu hubungan saya dengan Indonesia ini seperti sebel-sebel-rindu. Sejauh apapun saya melangkah, pasti saya menengok ke tanah air saya, membayangkan apa yang bisa saya lakukan untuk tanah air di masa depan. Doakan saja, selalu ada langkah awal untuk memulainya. Aamiin.

 

Groens Cup XVI 2017

Salah satu event yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia di Groningen adalah Groens Cup. Sebuah ajang olahraga antar pelajar terbesar di Belanda. Yang mengadakannya siapa lagi kalau bukan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Groningen (PPIG). Pesertanya tidak hanya diikuti dari kontingen dari Belanda saja lho, ada beberapa kontingen dari Jerman dan Prancis yang juga turut serta. Sampai saat ini, sudah 16 kali Groens Cup diadakan.

Tahun 2017, tema yang diusung adalah KSATRIA dengan nuansa warna biru dongker. Olahraga dan permainan yang dipertandingkan adalah futsal, tenis meja, badminton, basket, voli, panco, capsa, catur sampai PS FIFA. Dalam dua hari 29-30 April 2017, Groens Cup akan berlangsung. Semua atlet dari tiap kontingen berusaha untuk memberikan performa terbaiknya.

Dulu tahun 2014, saya pernah sih jadi atlet badminton kelas bulu ayam, haha. Maksudnya cupu banget. Dilawan sama atlet pro dari kontingen lain langsung keok. Gapapa yang penting pernah mencoba meramaikan Groens Cup. Sementara suami selalu setia menjadi atlet futsal dalam tiga tahun ini, meski jarang menang. Tapi sudah cukup senang bisa bertanding serius. Kadang pernah juga suami jadi cadangan di tim basket, yaa hitung-hitung mencoba juga.  Suami memang suka olahraga. Jadi Groens Cup jadi momen yang menyenangkan baginya. Tidak hanya jadi atlet, tapi jadi penonton pertandingan juga sudah seru, katanya.

Tapi Groenscup ini tidak hanya diramaikan oleh ajang olahraga. Tidak lupa stand-stand kuliner khas Indonesia juga memeriahkan Groens Cup. Para koki-koki Groningen dengan bakat terpendam menyajikan menu-menu yang membuat ngiler. Nasi kuning, nasi padang, pempek, batagor, baso tahu, bebek cabe hijau, mie ayam, tempe mendoan, klepon, martabak manis, martabak asin, lumpia basah, dan masih banyak lagi. Tidak baik untuk kesehatan kantong, huhu. Apalagi untuk saya yang sudah sangat kangen masakan Indonesia. Harga makanan berkisar dari 5-6 euro. Untuk cemilan kecil mulai dari 1-2 euro.

Saya dan dua teman juga sudah pernah lho buka stand di Groens Cup, tahun 2014 silam. Tapi kami kapok, haha. Kami tidak setangguh emak-emak yang konsisten masak untuk jumlah besar sekaligus beberapa menu. Memasak untuk porsi banyak itu berat, Bung! Belum lagi lelah harus begadang, menyiapkan segala rupa bahan dari mulai mentah sampai disajikan, lalu harus pula menunggui lapak. Akhirnya tahun-tahun berikutnya kami menyerah. Lebih baik jadi penikmat stand saja. Bisa makan enak tanpa capek.

Groens Cup menjadi ajang yang lengkap. Sehat karena ikut olahraga dapat, senang karena bisa melihat pertandingan seru dengan sportivitas, bisa memanjakan perut dengan makanan enak, sekaligus bersilaturahmi dengan penduduk Groningen plus komunitas dari belahan Belanda dan Eropa lainnya. Alhamdulillah

Tim Basket PPIG vs Tim Basket PPI Bonn (Jerman), pertandingan yang seru!

Ada stand yang unik tahun ini. Schminken (face painting) dari Mbak Frita. Laris diserbu anak-anak

Stand Makanan di Groens Cup 2017

Tim Futsal PPIG vs Tim Futsal AIA Amsterdam

Hora Finita!

Attending a PhD public defense always brings chill for me. It is like watching all the hardwork, sacrifies, effort, tears, even blood, were paid in one day, with the word HORA FINITA!

Untuk bisa meraih gelar doktor di University of Groningen (RuG), kandidat PhD harus melalui serangkaian proses yang panjang. Di akhir penganugerahan gelar, kandidat harus menghadapi public defense. Semacam sidang terbuka, di mana ia harus mempertahankan disertasinya yang telah ia rampungkan. Ia akan ditanya oleh para expert di bidangnya, beberapa adalah profesor dari RuG, dari universitas lain di Belanda, bahkan di luar Belanda, bisa juga profesor yang merupakan praktisi di bidangnya. Mereka akan bertindak sebagai opponent dan bertanya apapun yang berkaitan dengan research sang kandidat. Sidang ini boleh disaksikan oleh siapapun yang ingin melihat, keluarga, teman, kolega. Syaratnya penonton tidak boleh ribut, anak di atas 6 tahun biasanya sudah bisa mengikuti proses dengan tenang.

Tentu promotor dari kandidat akan menemani “anak asuh” mereka tersebut dalam sidang. Tapi jarang sekali promotor membantu memberikan jawaban (sejauh yang pernah saya saksikan). Ada juga dua orang paranymph (semacam pendamping kandidat) yang akan menyertai kandidat sebelum, selama, dan setelah sidang, untuk memastikan kebutuhan kandidat dalam menjalani proses defense. Ya tugasnya, semacam bridesmaid-lah dalam pernikahan.

Selama sekitar 45 menit, kandidat akan harus menjawab semua pertanyaan dari para opponent dengan baik. Sampai terdengar pintu ruang sidang terbuka dan seorang “pemandu para profesor” (saya gak tahu apa namanya), akan mengumandangkan kata: “Hora Finita!” yang menandakan waktu sidang sudah berakhir.

Hora Finita, diambil dari bahasa Latin yang artinya the time has passed. Kata itu akan membawa kelegaan panjang, tidak hanya bagi kandidat, tetapi juga bagi para penonton yang menyaksikan sidang. Setelah itu, para opponent akan meninggalkan ruangan untuk berdiskusi apakah kandidat akan diberi gelar doktor atau tidak.

Sejauh yang saya tahu, public defense para kandidat PhD selalu berakhir dengan happy ending. Katanya sih asal bisa menyelesaikan semua pertanyaan dengan lancar (tersendat-sendat sedikit itu biasa, namanya juga grogi) sampai hora finita terdengar, kandidat akan sudah pasti menggenggam ijazahnya. Belum pernah saya mendengar ada yang gagal dalam public defense. Kecuali katanya pernah ada kandidat yang pingsan ketika sidang, saking grogi/panik, sebelum ia berhasil menjawab semua pertanyaan. Tapi ujungnya ijazahnya tetap ia dapatkan kok. Bisa sampai ke public defense saja dengan menyelesaikan satu buku thesis saja itu sudah pencapaian yang luar biasa. Public defense ini terasa sebagai formalitas saja. Namun tetap menguji nyali para kandidat.

Di akhir prosesi public defense, kandidat akan diberikan gelar doktor secara resmi serta ijazah dari RuG. Lalu promotor akan memberikan short speech mengenai kandidat. Bagaimana mereka pertama kali bertemu, bagaimana etos kerja si kandidat, bagaimana perjuangannya selama menyelesaikan studi, bahkan hal-hal lucu dalam hubungan mereka, dan mengenai keluarga sang kandidat. Hal itu merupakan bagian paling menyentuh dalam sebuah public defense. Saya selalu merinding ketika medengar sang profesor berbicara mengenai tahun-tahun perjuangan kandidat, terutama kalau saya mengenal baik si kandidatnya.

Akhirnyaaa.. selesai juga, kelegaan yang tidak bisa terbayangkan. Saya saja lega, apalagi si kandidat? Mungkin berjuta-juta ton beban terangkat dari pundaknya

Sudah beberapa kali saya menyaksikan public defense dari kandidat PhD, kebanyakan merupakan rekan-rekan Indonesia. Dari semua yang saya saksikan, tidak semua bisa saya pahami apa penelitiannya, apa inti dari buku thesisnya, apalagi pertanyaan yang dilontarkan para opponent. Cukup mengangguk-angguk saja ketika mendengar jawaban dari kandidat. Tentu, karena bidang penelitian mereka sangat spesifik dan bukan merupakan hal yang familiar bagi saya. Ada yang penelitiannya mengenai edukasi di Indonesia, ekonomi blabla, manfaat ekstrak jatropha curcas, liver fibrosis, dll.  Sejauh ini hanya dua public defense yang bisa saya pahami sedikit maksudnya. Itu pun karena saya terlibat di salah satu chapter dalam penelitian mereka. Tentu topiknya tidak jauh dari bidang saya.

Untuk penonton sidang, mungkin berkali-kali menyaksikan sidang akan menjadi pengalaman menarik. Tidak masalah mau datang ke sidang manapun. Tapi yang pasti, untuk para kandidat PhD, cukup sekali saja mengalami sidang maha penting dalam hidupnya itu.

Seni Travelling Bersama Keluarga

Selain menyiapkan dana dan itinerary yang matang untuk travelling, ada hal lain yang penting juga yang harus diperhatikan selama jalan-jalan. Yaitu perbekalan dan kesehatan.

Kalau dana ada tapi gak ada makanan yang layak untuk dibeli, selama jalan-jalan perut bisa keroncongan. Dana ada, tapi tetap harus memikirkan makanan apa yang murah dan halal-thoyyib untuk bisa dimakan. Kalau makanannya mahal-mahal yang dibeli terus, bisa-bisa pulang travelling ngais-ngais ntar. Maka dari itu makanan adalah hal yang esensial untuk disiapkan.

Biasanya kami selalu membawa bekal dari Groningen. Apakah itu beras/lontong, mie/popmie, biskuit, abon, sosis kalengan dll. Kadang jika dibutuhkan (di penginapan tidak ada dapur) kami akan membawa rice cooker turut serta. Nasi memang tidak lepas sebagai makanan sehari-hari. Biasanya sih, saya kuat aja gak makan nasi beberapa hari, begitu juga dengan Runa. Suami juga bisa diajak kompromi. Tapi dengan kondisi saya sekarang yang sedang hamil muda, perut kurang bisa diajak kerja sama. Dalam waktu dua jam saya udah merasa lapar. Kalau makan berat pengennya nasi biar nampol. Akhirnya perbekalan yang kami bawa cukup banyak, rice cooker, beras, mie, dan aneka biskuit.
Namun ternyata perjalanan seminggu tetap saja bekal kami kurang. Itupun kami tetap jajan di luar dan membeli roti, telor, selai di supermarket yang ada.

Satu lagi, meski itinerary sudah komplit dan matang, tapi kalau badan gak fit, tentu tidak bisa menikmati jalan-jalan dengan nyaman. Maka dari itu, kami lebih santai kalau sedang jalan-jalan. Menghabiskan 2-3 hari di kota yang sama baru pindah ke tempat lainnya. Kalau badan sudah capek, ya sudah tidak usah dipaksakan untuk tetap jalan, istirahat saja di penginapan.. santai-santai. Itu kan juga bagian dari liburan.

Jadi, merencanakan travelling yang matang juga tetap harus mempertimbangkan dua  faktor penting tadi. Buat apa jalan-jalan tapi perut lapar dan badan tidak fit? Nanti pemandangan di depan mata jadi tidak menarik lagi. Seni travelling ternyata banyak juga celahnya, terutama kalau travelling dengan bocah. Yang penting semuanya dinikmati dan disyukuri. Alhamdulillah

Biru-Putih Santorini

Trip kali ini saya benar-benar lost. Karena satu dan lain hal, saya gak ikut menyiapkan itinerary sama sekali, googling tempat-tempat yang akan kami kunjungi, apalagi membayangkan tempatnya seperti apa. Biasanya kamu menyusunnya bersama. Untung suami yang sigap, merencanakan semuanya.

Maka begitu ketika kami sampai di Santorini, saya juga gak tahu sama sekali apa-apa yang bagus di sini. Saya cuma tahu dari beberapa teman yang sudah ke sini, katanya Santorini itu cantiiiik banget. Good escape dari cuaca Belanda yang moody. Ternyata memang, cuaca cerah dan matahari hangat menyambut kami.

Santorini adalah pulau yang terletak di Laut Aegean, sekitar 200 km dari pulau utama Yunani. Nama Santorini diambil dari nama Kerajaan Latin di abad ke-13 Saint Irene, merupakan nama yang diambil dari katedral tua.

Saya juga baru tahu setelah sampai di sini, ternyata Santorini ini adalah sisa-sisa dari bekas erupsi volcano beribu tahun yang lalu (disebut Caldera). Erupsi terbesarnya adalah Minoan eruption, disebut juga Thera eruption. Maka, Pulau Santorini juga terkenal dengan nama lain Thera.

Apa saja yang bisa dinikmati di Santorini?

Ibu kota Santorini adalah Fira, bandaranya juga terletak di sana. Tapi tempat yang terkenal senagai daerah wisatanya adalah Oia. Di Oia, warna putih dan biru mendominasi. Bangunan-bangunannya terbuat dari semem bertumpuk-tumpuk, diselingi dengan tangga. Warna biru menemani warna putih yang mendominasi. Memberikan efek sejuk pada mata. Salah satu spot utama yang terkenal di Santorini. Tiga kubah biru, yang merupakan gereja. Spot tersebut menjadi incaran untuk berfoto.

Sunset di Santorini

Salah satu yang para turis incar di Oia, Santorini adalah momen matahari terbenam. Panorama langit, laut, matahari yang berpadu dengan cantiknya kota sangat menarik untuk dinikmati. Guratan warna merah-oranye-kuning yang menyatu dengan birunya laut dan langit sangatlah indah. Berbondong-bondong para turis ini menuju spot di mana sunset dapat terlohat jelas. Di bulan April ini sunset jatuh pada pukul 20.00-20.30. Tetapi sejak pukul 19.00, spot tersebut sudah penuh turis, yang ingin mengabadikan momen dengan berfoto. Ketika sunset tiba, dan matahari sudah tenggelam sama sekali, terdengar tepuk tangan dari mereka. Menandakan berakhirnya momen sunset. Kalau kita mah bilangnya Subhanallah.. Masya Allah.. Maha Besar Allah yang menciptakan keindahan tersebut.

Jika ingin berkunjung ke Santorini, waktu terbaik adalah selepas winter dan sebelum winter datang. Bahkan beberapa penginapan di Oia hanya buka 6 bulan saja (mungkin saat pertengahan spring-summer-pertengahan autumn). Sisanya ketika winter, mereka tutup, untuk renovasi. Selain itu, mungkin karena cuaca dingin juga sih. Ramainya turis juga bisa ditemukan sepanjang 6 bulan tersebut.

Dengan magnet pariwisata di Santorini yang sangat kuat ini membuat Greece tetap bisa bertahan di tengah terjangan krisis ekonomi yang menimpa mereka. Tidak aneh sih, bisa dibayangkan berapa devisa yang mereka dapatkan dari pariwisata. Pelayanan mereka juga sangat prima untuk turis. Dari mulai pengurus penginapan sampai pelayan resto mereka sangat profesional sekali. Yunani saja “hanya” memiliki beberapa pulau untuk spot wisata bisa bertahan dari sana. Mungkin seharusnya Indonesia yang punya ribuan pulau dan berbagai pusat wisata juga bisa melejitkan potensi devisanya. Jadi turis gak cuma kenal Bali lagi, Bali lagi.

Derby Inter vs Milan di San Siro

Masih dalam rangka #30DWC, meski saat ini lagi liburan dan kami keliling-keliling, saya paksakan juga tetap menulis sesuatu. Justru masih dalam suasana libur, jadi cerita yang saya mau tulis masih panas. Kebiasaan kalau sudah pulang, selesai libur, semua cerita yang mau ditulis malah keburu menguap. Sayanya juga terbawa malas. Ditambah pressure menulis yang isinya harus berbobot.

Mumpung masih hangat nih ya.

Menonton bola langsung di stadium sebenarnya bukanlah hal yang benar-benar saya ingin lakukan. Menonton liga-liga terkenal di dunia secara live memang menggiurkan, membayangkan sensasi berasa satu tempat dengan pemain-pemain terkenal. Kali ini suami yang ngebet banget ingin nonton, tim kesayangannya bermain, match derby pula di Milan. Saya sih hayuk-hayuk aja.

Kalau dulu, mungkin saya akan excited banget. Tapi makin ke sini, antusiasme saya dalam menonton bola semakin meluntur (seiring bertambahnya usia haha). Kalau dulu saya akan bela-belain bangun dini malam untuk nonton tim favorit saya berlaga, atau menonton pertandingan seru antar dua tim terkenal. Sekarang mah woles aja, padahal jam nonton bola di Belanda masih bersahabat, kadang siang, sore, atau malam di bawah jam 9. Mending waktu saya dipakai untuk tidur. Dulu saya sampai hapal siapa-siapa pemain, pelatih, siapa yang ada di atas klasemen dan siapa top scorer. Sekarang, cukup tahu siapa yang menang aja.

Jadi sewaktu saya melangkahkan kaki ke Stadium San Siro, stadium yang membesarkan nama pemain favorit saya dulu, Pippo inzaghi, saya merasa biasa-biasa saja. Tidak seperti suami yang heboh banget, beli atribut Inter Milan supaya nonton bolanya makin seru.

Duh penuh gini stadium, kayaknya gak children friendly buat Runa, pikir saya (hyaeyalah). Kami mengantri di gate 9. Ketika sudah lama mengantri dan diperiksa tiket dan identitas, eh kami disuruh ke gate 5, karena bawa anak. Anak-anak ternyata perlu tiket, meski gak bayar. Jadilah kami mengantri lagi. Untung gak lama, kami pun masuk. Ternyata tempat duduk kami di deretan 300 itu berada paliiingg atas. Saya udah cemas aja ketika masuk stadium yang kecium adalah bau rokok, cimeng (ganja), dan gerombolan laki-laki Itali yang gogorowokan. Syukur tempat kami di atas cukup nyaman. Saya dan Runa bisa duduk, sementara suami berdiri di belakang (Runa memang gak dapat tempat duduk). Sebelah Runa adalah anak muda yang minim ekspresi, gak ribut. Sebelah saya adalah bapak-bapak necis yang sibuk berkomentar sepanjang pertandingan. Di depan kami bapak dengan dua anaknya yang mungkin berusia 8-10 th.

Tapi memang beda hawa-hawa nonton di stadium itu. Semua orang bersuka cita menanti timnya berlaga, melakukan yel-yel, teriak-teriak, ber-AH-OH, dan tepuk tangan bersama-sama. Suami udah ikutan aja. Saya sama Runa cukup duduk manis aja, sambil ngemil.Di waktu break, kami yang lapar malah buka kotak bekel makan nasi. Di awal babak kedua, Runa dengan santainya tertidur di pangkuan saya, di tengah berisiknya para penonton. Runa pulas sampai peluit panjang babak kedua ditiup

Kekurangannya nonton live ada juga. Pertama gak bisa lihat siaran ulang. Kedua, gak tahu siapa yang lagi ngegiring bola, bahkan yang ngegol-in. Posisi duduk kami kan jauh dari lapangan. Ketiga, gak bisa nyelonjorin kaki sambil makan kacang kayak kall nonton depan tipi.

Pada akhirnya derby memang berakhir dramatis 2-2. Padahal awalnya Inter memimpin 2-0. Hal ini membuat fans Inter di tempat duduk kami berteriak-teriak kecewa. Tapi mau gimana lagi. Sepak bola memang tak ubahnya candu seperti cimeng dan penuh drama seperti sinetron punjabi. Bagaimanapun juga untuk saya, cukup sekali saja nonton live sambil bawa anak. Besok-besok mending nonton di rumah, itupun kalau saya gak tidur.