Groningen's Corner

De Opa van Marijn

De Opa van Marijn ~ Opanya Si Marijn

Marijn adalah anak lelaki sahabat Runa di sekolah. Rumah Marijn sebenarnya ada di Beijum, sekitar 3 km dari daerah tempat tinggal kami. Tapi kebetulan Opa dan Omanya tinggal bersebrangan dengan flat kami. Marijn tentu sering berkunjung ke flat Opa dan Omanya, terutama saat pulang sekolah. Kami juga jadi sering berinteraksi dengan Opa dan Oma Marijn. Ya sekedar say hallo dan menanyakan kabar saja. Soalnya Opa dan Oma Marijn cuma bisa bahasa Belanda, jadi basa-basi saya agak terbatas, haha.. Saya tetap berusaha bisa mengimbangi obrolannya Opa dan Oma, sedikit-sedikitlah (sedikit sok tahu juga wkwk). Btw, saya gak hapal nama Opa dan Oma siapa, jadi kami selalu memanggilnya Opa en Oma van Marijn.

Opa dan Omanya Marijn punya anjing, namanya Robin, yang kadang suka menggonggong kalau ketemu di lift. Kadang juga ketika Robin menggonggong, Runa jadi lari terbirit-birit. Eh Si Robin malah makin mengejar Runa karena dia mengira Runa ingin mengajaknya bermain lari-larian. Continue reading “De Opa van Marijn”

Advertisements
Tentang Menulis

Giveaway Groningen Mom’s’Journal

#Giveaway #GroningenMomsJournal

WhatsApp Image 2018-03-30 at 19.45.38
Buku ini merantau dari Indonesia dan akhirnya menemukan “rumahnya”. Iya, gambar sampul depan Groningen Mom’s Journal ini memang ada betulan di Groningen. Merupakan salah satu spot favorit saya di Groningen. Kalau di sampul buku terlihat pohon-pohonnya masih hijau pertanda musim semi sedang bertandang. Saat ini dedaunan di pohon-pohonnya masih baru akan tumbuh. Musim semi segera datang!

Nah, buat yang penasaran belum baca bukunya, ikutan yuk #giveaway #GroningenMomsJournal ini. Caranya gampang!
1. Like postingan di Instagram @monikaoktora
2. Repost foto ini
3. Tuliskan makna rumah atau merantau bagimu di postingan tersebut. Boleh berupa puisi, fiksi mini, atau kontemplasi singkat.
4. Tag dan mention ig saya @monikaoktora di postinganmu, biar ga kelewat di notif saya
5. Tag minimal 5 teman kamu, sekalian ajakin ikut giveaway ini
6. Jangan lupa hastag #GroningenMomsJournal .

Deadline 7 April 2018, pukul 23.59 WIB.

Dua tulisan yang paling menarik dan bermakna, akan mendapatkan buku Groningen Mom’s Journal!
Seru kaan?! Mumpung lagi weekend nih sekalian nulis, curhat, eh bisa dapetin buku. So, tunggu apa lagi! .

Salam hangat dari Groningen yang mulai menghangat🌞

Groningen's Corner, Life is Beautiful

Pindah

Sepertinya hal yang satu ini harus ditulis, biar rasanya lega. Soalnya dari beberapa bulan kemarin saya merasa masih agak gamang dengan yang namanya pindah.

Iya pindah. Jadi dalam sebulan ke depan, Insya Allah saya dan keluarga akan menempati rumah baru, di lingkungan yang baru, juga termasuk sekolah Runa yang baru. Tadinya sebelum merencanakan pindah ke sana, saya selalu melontarkan denial dengan perkataan pada suami saya. Seperti, “Beneran mau pindah?”, “Rasanya susah membayangkan pindah dari lingkungan sekarang ke tempat baru.”, sampai “Gak bisa ya kita cari rumah di daerah sini aja?”

Tapi memang pada kenyataannya kami sudah berusaha untuk mendapatkan rumah di daerah tempat kami tinggal sekarang ini. Ada tiga rumah yang kami datangi. Satu dari tiga itu cocok banget rasanya, tapi harganya bok yang ga cocok di kantong. Lalu kami juga kalah bidding, sebab ada yang menawar jauh di atas harga yang kami tawarkan. Continue reading “Pindah”

Motherhood

Happy Mom – Happy Little Soul

Happy Little Soul – Retno Hening
Sudah lama saya pernah dikasih tahu oleh kawan saya, katanya ada IG seorang ibu yang anaknya gemesin banget, celotehnya banyak dan anaknya lucu. Saya pun melihat sekilas ke timeline IG tersebut (@retnohening) dari smartphone kawan saya itu. Nama anaknya Kirana. Usia Kirana kayaknya waktu itu 2 tahun-an, beda setahun dari Runa.

Continue reading “Happy Mom – Happy Little Soul”

Journey, Just Learning

Penantian

Hari Kamis. Pagi itu saya terbangun lebih cepat, sebab hari itu banyak yang harus saya kerjakan. Saya pikir jika saya bangun lebih pagi, saya bisa mencicil pekerjaan sehingga hari itu tidak akan terlalu berat terasa. Rasanya saya ingin hari itu cepat-cepat berlalu, paling tidak jika saat salat zuhur sudah tiba, artinya setengah dari pekerjaan saya sudah selesai. Saya hanya tinggal menanti sore hari dengan lebih santai. Continue reading “Penantian”

Tentang Menulis

Mengikat Inspirasi, Menuangkannya menjadi Tulisan

Dalam proses menulis, seringkali kita terbentur dalam keadaan: “sedang mencari inspirasi” atau “tidak ada inspirasi lewat, jadi menulisnya berhenti dulu”.

Inspirasi lalu dikambinghitamkan sebagai sesuatu yang tidak kunjung datang.

Ya sudah, nanti inspirasi akan datang sendiri kok seiring waktu, tunggu saja. Wah salah kaprah dong!

Sama seperti jodoh, inspirasi itu dicari, bukan dinanti.

“Inspiration does exist, but it must find you working” (Pablo Picasso)

“If you wait for inspiration to write, you’re not a WRITER, you’re a WAITER” (Dan Poynter)

Apakah kamu termasuk WRITER atau WAITER?

Lalu bagaimana mencari inspirasi, mengikatnya, agar bisa dituangkan menjadi tulisan?

Ada 5 cara efektif dalam mencari dan mengikat inspirasi agar bisa dikemas menjadi tulisan Continue reading “Mengikat Inspirasi, Menuangkannya menjadi Tulisan”

Tentang Menulis

Setelah Menerbitkan Buku Solo? What’s Next?

Januari 2018 was a big leap for me, as an amateur writer. Cita-cita dari zaman baheula (Sunda: dulu) akhirnya bisa terwujud, Alhamdulillah, Barakallah.

Satu buku solo sudah tembus penerbit mayor, Elexmedia Komputindo. Folder berisikan kumpulan naskah tersebut akhirnya menjadi lembar-lembar yang berwujud. Finally…. Perasaan yang gak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ternyata memang butuh setahun untuk ‘membereskan’ semuanya. Setahun yang gak kerasa. Setahun yang lalu saya mendeklarasikan bahwa saya akan menerbitkan buku. Yang mana saya paling ogah sama urusan deklarasi-deklarasian, cukup disimpan dalam notes pribadi aja. But somehow the declaration works.

Kalau saya tengok ke belakang lagi, dari mulai menulis, mengumpulkan semua bahan tulisan jadi satu, mengedit, menyelesaikan dokumen kelengkapan naskah (seperti sinopsis, profil, dll), mengirimkannya ke beberapa kawan untuk diminta kritik, mengedit lagi, meminta testimoni, mengedit lagi, mengirimkan ke beberapa penerbit, ditolak, mengirim lagi, mengedit, mengirim, ditolak, sampai akhirnya bisa berjodoh dengan salah satu editor Elexmedia. Well, that was a long journey. Continue reading “Setelah Menerbitkan Buku Solo? What’s Next?”