Literatur, Review dan Resensi Buku

Laut Bercerita – Laila S. Chudori [Review Buku]


Duh maap udah dari kapan mau bikin review buku ini, tapi karena kemageran luar biasa, dan bingung mau mulai dari mana, jadi aja ketunda terus. Aku tu udah ada beberapa buku yg dibaca sepanjang tahun 2023 ini, tapi gak semuanya dibikin resensi atau review, ya habis gemana. Tahun ini padat merayap, walaupun gak ada alasan yah nulis mah nulis aja.

Oke jadi ini tentang Buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Akhirnya saya nulis ini juga sebelum lupa. Gara-garanya saya habis nonton debat Capres perdana kemarin malam. Terus ada bahasan yang membuat pikiran saya melayang lagi ke cerita ini. Jadi ada pertanyaan dari Capres no. 3 pada Capres no. 2 mengenai bagaimana soal kasus HAM bertahun-tahun lalu, yaitu penghilangan paksa beberapa aktivis, apakah jika si Capres 2 ini jadi presiden nanti dia mau membuat pengadilan hukum ad hoc untuk kasus ini, bagaimana tindakan pengusutannya. Dan pertanyaan tersebut gak dijawab secara gamblang, malah mengawang. Saya agak bingung, ini lagi ngomongin kasus yang mana sih.

Ternyata setelah jeda (saya nontonnya di channel Mata Najwa ya). Faisol Riza, timses Capres no.1 berkomentar, bahwa ia kecewa dengan tanggapan si Capres no.2. Ia bilang kalau ia sendiri masih punya beban hidup yang terus ada kalau ketemu dengan keluarga korban penghilangan paksa. Kasarnya, kenapa ia yang hidup, dan kenapa anaknya yang hilang (sampe sekarang)? Eh, tunggu-tunggu kayaknya saya familiar deh dengan kisahnya.

Bener aja, saya googling nama Faisol Riza, ternyata ia memang korban selamat dari kasus penghilangan paksa aktivis di tahun 1997-1998. Pada tahun tersebut memang lagi panas-panasnya reformasi, menuntut Soeharto turun. Dan Prabowo saat itu menjabat sebagai Komandan Umum Kopassus, yang kasus ini sering disangkutkan padanya. Eniwei, jadi pikiran saya jadi keinget lagi buku Laut Bercerita.

Credit photo by Yosay

Saya tuh sebenernya agak-agak gak bisa ya baca buku yang tragis dan sadis, apalagi berdasarkan kisah nyata. Gak sanggup aja gitu membayangkannya kalau hal itu terjadi beneran. Tapi atas rekomendasi sahabat saya yang udah berapa kali bilang, ini baca lho bagus (Dari sejak dia masih tinggal di Den Haag sekitar tahun 2016-2019an sampai udah pindah ke Heidelberg, Jerman). Akhirnya pas saya berkunjung ke rumahnya, saya pinjem juga ini buku.

Sebenarnya saya udah baca buku Leila S. Chudori yang sebelumnya, berjudul Pulang. Temanya mirip-mirip juga tentang reformasi, perjuangan, kesewenang-wenangan pemerintah pada zamannya. Hanya beda setting, buku Pulang itu bercerita mengenai mereka yang terasingkan ke Prancis dan gak bisa pulang.

Ok, jadi Laut Bercerita ini mengisahkan tokoh Biru Laut, seorang mahasiswa jurusan Sastra Inggris UGM, yang memiliki idelalisme tinggi. Bersama kawan-kawannya sesama aktivis mereka melakukan diskusi, menyuarakan pandangan mengenai ketidakadilan yang diakukan rezim pemerintahaan pada saat itu. Tahu sendiri kan dulu Soeharto sudah berkuasa hampir 32 tahun, dan makin lama makin terasa ketimpangan sosial, adanya korupsi, kolusi, dan nepotisme, menjadi rezim yang diktaktor.

Uniknya di bagian pertama buku ini, kisah ini dipaparkan melalui sudut pandang Biru Laut yang saat itu ditenggelamkan di lautan tak berdasar. Lalu flash back ke kejadian masa lalu dan kembali melihat peristiwa yang terjadi di tahun yang bersangkutan. Mulai dari diskusi-diskusi mereka, pergerakan yang mereka lakukan, idealisme para aktivis, dan situasi politik di tahun tersebut.

Laut dan beberapa aktivis lainnya lalu diculik terkait aktivitas pergerakan yang mereka lakukan. Mereka disekap dan disiksa secara tidak manusiawi. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukuli, ditidurkan di balok es, disetrum, dan banyak lagi penyiksaan serem lainnya (duh saya linu banget pas baca, kayak pingin diskip aja bagian itu). Mereka disiksa agar mau menjawab: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu. Pada akhirnya ada beberapa aktivis dan mahasiswa yang dibebaskan dan yang lainnya dibunuh. Entah apa yang mendasari pilihan ada yang bebas dan ada yang mati, itu juga tanda tanya.

Bagian kedua buku ini diceritakan oleh Asmara Jati, adik Laut. Di bagian ini bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan trauma dan kehampaan hidup pasca dilepaskan, dan tanda tanya besar, kenapa ini terjadi? Leila Chudori bisa banget menangkap sisi pilu dari keluarga yang ditinggalkan. Bagaimana seorang ibu selalu memasak penuh cinta untuk anaknya. Bahwa mereka punya kebiasaan memasak bersama makanan kesukaan Biru Laut. Ada aroma masakan dan cara memasak tengkleng yang khas digambarkan secara detail. Lalu sang ayah meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul. Mereka seperti menolak untuk mengakui anak mereka mungkin tidak akan kembali.

Walaupun novel ini historical fiction yang mengangkat fakta-fakta yang sampai sekarang masih dianggap tabu, tapi kisah ini tetap dibungkus sangat cantik melalui gambaran kehangatan keluarga, persahabatan erat para aktivits, kepedihan orang yang ditinggal tanpa ada kejelasan hingga saat ini, dan kisah cinta muda-mudi.

Luar biasanya penulis ya kalau gak mau kacang-kacang, sebelum menulis harus melakukan riset dan wawancara terlebih dahulu secara langsung pada korban yang berhasil kembali atau kerabat korban.

Nah jadi tuntas juga ni azam saya untuk menuliskan review/resensi buku ini. Semoga kita bisa belajar dari sejarah masa lalu. Dari sana kita bisa mengambil pelajaran untuk menentukan langkah kita ke depan dan tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

2 thoughts on “Laut Bercerita – Laila S. Chudori [Review Buku]”

  1. Saya suka membaca cerita exile Indonesia di Luarnegeri. Kemudian saya membaca PULANG jd teringat, dl saya pernah membaca profil ahli matematika atau science saya lupa keturunan Indonesia dan beliau adalah exile di Eropa(timur), saya membacanya di koran saat itu. Perasaan saya jadi sedih membaca PULANG, jd saya belum siap membaca Laut Bercerita. Nice review btw.

    1. Terima kasih sudah mampir 🙂
      Laut Bercerita recommended untuk dibaca, memang harus siap mental juga ketika baca bagian kekerasan dan ketidakadilannya.

Leave a reply to Monika PO Cancel reply