Literatur, Review dan Resensi Buku

Review Buku: Semua Ikan di Langit (Ziggy Z.), Brianna dan Bottomwise (Andrea Hirata), dan Dilan Woi Ai Ni 1983 (Pidi Baiq)


Langsung tiga review gak apa-apa yahhh? Mengisi kemelompongan blog sejak beberapa bulan terakhir ini, saya coba untuk menulis lagi dengan target yang gak muluk-muluk. Cukup sebulan sekali menulis di blog, yang isinya gak curcol ngelantur. Jalan paling mudah adalah dengan me-review singkat buku, sebab “tinggal” nulis komentar aja mengenai buku tersebut.

Tahun ini juga saya ingin membaca lebih banyak buku untuk melawan kebiasaan screen time. Jujur memang, berselancar di gadget lebih mudah dan tarikannya lebih banyak daripada membaca buku (apalagi nulis). Kebayang kan godaannya. Jadi saya coba paksa untuk mulai membereskan reading list saya sebelum saya menumpuk buku-buku baru lagi, heu.

Oke, buku pertama berjudul Semua Ikan di Langit, karya Ziggy Zezsyazeovoennazabrizkie. Asli kriting abis ini nama pas nulisnya. Kabayang kalo orangnya ikut SPMB masih pake lembar jawaban komputer nama yg harus dibuletin hiji-hiji, yah selamat aja deh Kakakk. Gurunya dulu manggil nama pas absen semoga ga keseleo lidah. Anyway, buku ini merupakan naskah Pemenang Pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2016.

Ceritanya diambil dari sudut pandang ‘aku’ yang merupakan bus dengan trayek Dipatiukur-Leuwipanjang (yang membuat pikiran saya melayang pada bus Damri warna putih bergaris biru donker). Cerita yang unik dan gak biasa emang. Bus tersebut melalui perjalanan ke berbagai ruang dan waktu, entah di angkasa atau dasar laut, yang pasti meninggalkan trayek Dipatiukur-Leuwipanjang. Di perjalanannya dia bersama Ned, seekor kecoa bule, dan bersama Beliau, seorang anak lelaki yang jalannya melayaang. Tak lupa ada ikan julung-julung yang mennyertai sekitaran Bus tersebut. Intinya cerita ini memang out of the box, ceritanya gabungan fantasi, fiksi ilmiah, dan dongeng. Saya juga kadang meraba-raba, ini sebenarnya lagi ngomongin apa ya? Saya berusaha keras untuk mencerna setiap paragraf yang ada. Pada akhirnya saya mencoba santai aja deh, yang penting bab demi bab terlalui, dan memang ada beberapa bab yang scene-nya menarik. Walaupun tak seluruhnya saya memahami maksud ceritanya. Well, it’s actullay not my typical book. Maapin emang anaknya gak nyastra banget.

Brianna dan Bottomwise dari Andrea Hirata adalah my next book for reading. Andrea Hirata memang gak pernah gagal membentuk suatu cerita sederhana sekaligus tragis dan menggelitik. Dengan bahasa Melayu dan Indonesia yang kaya, aku jatuh cinta membacanya. Khas Andrea banget membuat satu bab melompat ke bab lainnya dengan cerita bersudut pandang berbeda. Fokus utama dari kisah ini adalah mengenai gitar dicurinya gitar kesayangan dari musisi ternama, John Musiciante. Vintage Sunburst 1960 adalah nama gitar tersebut. Gitar tersebut mengarungi belahan dunia dan samudera hingga sampai ke Indonesia, Jakarta, dan menyebrang ke Pulau Sumatera. Selama perjalanannya gitar tersebut telah menyentuh hati dan bakat musik dari beberapa tokoh yang terlibat, termasuk dua anak jenius musik berbeda nasib, Alma dan Almeru. Yang kisahnya pilu adalah Alma, si Anak Malang dari keluarga miskin, yang ayahnya pemabuk dan penjudi.

Gitar tersebut bertemu manusia dengan berbagai karakter. Manusia serakah, penipu, penggadai, perampok, pemusik, orang melarat, orang terlilit hutang, orang butuh uang, dan sebagainya hingga tiba di tangan Sadman, si Bujang Orkes dengan telinga kuali. Walaupun buku ini berjudul Brianna dan Bottomwise, yang nampaknya menjadi peran utama di buku ini, tetapi porsi keduanya diceritakan di buku ini tidak sebanyak yang saya kira. Mereka berdua adalah detektif handal kharismatik dari Amerika yang bertugas untuk menyelidiki hilangnya gitar John Musiciante, sampai harus bisa menemukannya. Ini adalah novel Andrea Hirata yang unik sebab luasnya setting cerita yang dibangun, mulai dari Amerika hingga daratan Melayu. Karya Andrea Hirata yang ini menurutku memberikan gambaran bahwa musik yang tampak sederhana bisa diceritakan dari sudut pandang bermacam-macam, dan dibuat “lebay”. Meski lebay, tapi tidak norak.

Oke, next, my third book is: Dilan Woi Ai Ni 1983, oleh Pidi Baiq. Sebuah buku yang alur ceritanya santai dan ringan, dengan gaya bercerita sehari-hari. Ini tentang Dilan sewaktu masih berusia SD, sekitar kelas 5. Setting-nya di Bandung tahun 1983 (daku belom lahir). Tapi kerennya Pidi Baiq selalu bisa membawa pembaca ke masa tersebut dengan menceritakan kejadian penting yang terjadi di tahun tersebut dan penggambaran kota Bandung yang detail. Bandung sepertinya masih sunyi di tahun ini. Aku jadi ingin jalan-jalan dengan mesin waktu Doraemon ke waktu tersebut. Oiya, kejadian penting di tahun tersebut seperti Penembakan Misterius (berarti ini masih zaman rezim Soeharto ya), meletusnya Gunung Galunggung, dan Gerhana Matahari Total. 

Cerita Dilan ini seputar kegiatan Dilan di Bandung, setelah ia pindah dari Timor-Timur karena Ayah Dilan pindah tugas lagi. Saya suka dengan kegiatan Dilan dan teman-temannya yang sederhana tapi seru. Ke sekolah naik sepeda, pulang sekolah mengaji di mesjid, pas puasa main petasan dan mukul kentongan untuk bangunin sahur, tapi juga ada nakal-nakalnya berantem dengan anak-anak lelaki lain. Di sini, Dilan tertarik pada Mei Lien, gadis keturunan Tionghoa, di kelasnya. Seperti cinta monyet yang lugu, Dilan jadi ingin belajar bahasa Mandarin dan tertarik mengenai sejarah China karena Mei Lin. Walau kadang ada peristiwa yang diceritakan rasanya seperti, ‘kayaknya gak penting untuk diceritain deh’, dan kadang meloncat-loncat, tapi itu memang khas Pidi Baiq aja.

Oke deh. Segitu aja dari saya. Next saya masih punya 27 buku lagi yang dibaca dalam setahun. Semangat. Dan sekarang udah Februari.

Leave a comment