Menunggu


Di ruang tunggu boarding bandara Schiphol. Tebak ada berapa orang yang sibuk dengan gadget?

Ruang tunggu boarding di gate M bandara Schiphol siang itu penuh dengan orang-orang yang akan terbang. Destinasinya macam-macam, Lisbon, Milan, Edinburgh, London, Malaga, dll. Semua calon penumpang menunggu dengan sabar. Sekitar 2-3 jam lagi calon penumpang baru akan dipanggil untuk boarding.

Lumayan juga waktu yang dihabiskan untuk menunggu. Banyak cara yang bisa dilakukan selama menunggu. Mengobrol, makan, membaca buku, tidur, main gadget, dan main (untuk Runa tentunya). Untungnya di tuang tunggu ada arena permainan sederhana, berupa perosotan dan anak tangga. Buat anak-anak itu udah lumayan banget. Untuk membunuh waktu, main gadget dan buka-buka hape adalah pilihan paling simpel dan banyak diambil oleh orang-orang, termasuk saya. Mulai dari buka whatsapp-an, teleponan, sampi buka sosmed hingga bosan. Tapi jarang sekali yang saya lihat membaca buku/majalah/koran. Sepertinya membaca bukan menjadi pilihan menarik sekarang ini. Saya sendiri membawa buku The Battle Hymn of the Tiger Mom. Akhirnya dalam durasi 3 jam menunggu, saya habiskan dengan membaca buku, main hape, makan, dan mengawasi Runa main.

Dulu, setiap aktivitas yang melibatkan tunggu-menunggu saya pasti menyiapkan satu buku apapun, untuk dibaca. Terutama di angkutan umum. Maklum dulu kan hape belum secanggih sekarang, jadi lihat-lihat hape cuma 5 menit aja sudah bosan. Paling sms-sms temen, paling mentok main game snake, haha. Sosmed juga belum booming. Kalaupun ada, gak bisa dibuka di hape jadul juga. Sekarang, saya juga masih suka membawa buku ke mana-mana, tapi keinginan membaca buku seringkali kalah dengan nafsu membuka hape, untuk balesin whatsapp dan buka sosmed, heu. Si buku jadi dicuekin di pangkuan. Kecuali kalau bukunya benar-benar bikin penasaran dan gak bisa ditutup.

Kalau melihat ke sekeliling. Di halte bus, di stasiun, di bandara, di kafe dan restoran, di kendaraan umum, di tempat tunggu dokter, dan lain-lain makin jarang menemukan orang yang asyik dengan buku. Hape dirasa lebih simpel dan menarik untuk dinikmati sambil menunggu. Orang baca buku ya kalau gak di perpus ya di toko buku.

Apapun aktivitasnya dalam menunggu, yang penting sih bisa bermanfaat. Saya juga inginnya memberikan memori pada Runa kalau lagi bosan itu ya perginya ke buku, bukan ke hape. Teringat dulu ketika menyambut liburan pulang kampung, papa dan mama selalu mengajak kami ke toko buku untuk membeli banyak bacaan sebagai teman di perjalanan panjang kami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s