Being a Student Mom, Mom's School stuff, Mommy's Abroad, [GJ] – Groningen’s Journal

Preparation and execution PhD Defence


Entah sudah berapa kali saya melihat defence (sidang) mahasiswa S3 di Groningen. Bahkan auditorium di academic gebouw (academic building) dengan mural the Tree of Knowledge yang terbentang di dinding utama tampak terasa familiar. Entah apa arti mural itu saya juga tidak tahu. Dominasi warna biru dan krem serta tokoh-tokoh di dalamnya kadang membuat bulu roma bergidik, mana rada porno pula hwhwh. Mimbar kayu di depan mural itu menjadi simbol panggung akademia. Ruangan terluas di academic building ini memang memberikan impresi berbeda ketika kita masuk ke dalamnya.

Menghadap mural besar itu, kursi-kursi penonton berjajar di depannya, untuk menyimak diskusi ilmiah antara sang promovendus (PhD Candidate) dengan para opponent, yaitu profesor dan doktor yang mumpuni di bidangnya. Semua mata akan tertuju pada kursi dan meja kecil di depan hadirin yang disediakan untuk PhD candidate.

Huwaahh terasa sangat menegangkan? Jangankan yang duduk di kursi panas PhD, yang menonton aja sering terbawa tegang ketika mengikuti sidang terbuka PhD ini. Sering sih membayangkan bagaimana rasanya duduk di kursi panas itu, ketika saya menyaksikan sidang PhD, ‘Duh ntar giliran saya kek apa yaa.’ Ngebayanginnya aja kadang suka bikin hati saya mencelos tajam. Dan sungguh rasanya berbeda ketika sudah mendapatkan tanggal untuk defence dengan sekedar membayangkannya.

Karena saya ingin merekam momen-momen bagaimana menuju hari H (biar pembaca ikut merasa tegang, haha), jadilah curcolan ini saya tuliskan. Bahwa hari itu adalah untuk dikenang, tapi tidak untuk diulang. Seperti akad nikah ya, cukup sekali saja seumur hidup.

Tanggal defence saya, sudah tertulis di lauhul mahfudz, Senin, 20 Februari 2023, pukul 11.00 CET

Sekitar H-3 bulan sebelum defence

Sudah menghubungi publisher untuk printing dan design untuk buku thesis. Proses perjalanan ‘melahirkan’ buku thesis saya bisa di baca di sini: The Journey of My PhD Thesis Book. Saran saya kalau bisa sesegera mungkin menghubungi dan berkorespondensi dengan publisher. Walaupun jangka waktu tiga bulan sebenernya pas aja, tapi who knows, ada kendala tidak terduga atau kepotong libur. Seperti saya kepotong libur natal dan tahun baru. Si Publisher gak libur sih, at least designer-nya. Jadi, setelah submit thesis ke Hora Finita, segeralah ancer-ancer untuk mengontak publisher. Ada banyak kan pilihan publisher, jadi pemilihan publisher kalau bisa udah dari sebelumnya malah. Lihat dari segi servis, harga, dan testimoni pengguna sebelumnya.

Saya masih inget sempat kontak-kontak sama designer layout-nya intens pas lagi jalan-jalan sama suami di Malioboro Yogya, kurang romantis apa coba? Haha.

H-3 bulan akan sibuk dengan urusan layout thesis, ngecek-ngecek hasil desain dan layout, revisi, dll. Ditambah kalau misal ada revisi konten dari Reading Committee (semoga enggak yaa). Kalau ada paper yang masih ngutang belum dipublish, ya bisa sambil dikerjain.

Plus tidak lupa mulai menyiapkan diri untuk belajar isi buku thesis, nyari tahun penelitian-penelitian terbaru yang terkait topik thesis kita, dan mulai ngepo-in siapa aja oponen kita, misal melihat apa aja bidang risetnya, paper-papernya yang ada, dan profil background-nya (untuk memprediksi kira-kira mereka bakal nanya apa). Nanti supervisor kita bakal ngasih tahu kok, siapa saja list oponen-nya. Kalau belum dikasih tahu, inisiatif aja tanya.

Karena saya sempat pulang ke Indonesia di sekitaran H-3 bulan sebelum defence itu, saya berbekal print-an isi buku thesis saya plus buku catatan ilmu sagala aya. Apaan tu? Itu adalah buku tempat saya menulis segala rupa materi, contekan, catatan yang terkait bidang penelitian saya. Kalau keingetan sesuatu, saya catet. Kalau merasa sering lupa sama definisi/pemahamam tertenu, saya catet ulang. Dengan punya buku itu, saya merasa (akan) lebih siap aja. Buku semacam ini juga pernah saya pakai ketika saya mau sidang kompre S1 dan kompre apoteker (hidup saya penuh ujian sidang yang bikin jantungan gini yah). Kecuali pas S2 gak ada sidang-sidangan, makanya saya paling menikmati masa-masa S2 saya dibandingkan jenjang yang lainya, wkwk.

Sebenarnya saya sudah menyiapkan buku itu udah agak lama, bukan sejak H-3 bulan sih. Mungkin setahun sebelumnya. Bukan karena saya udah mau siap sidang, tapi lebih karena saya merasa gak siap apa-apa. Asli, kalau saya pinter mah, kaga usah nyatet-nyatet bakal nempel aja itu semua di kepala. Ini karena saya sadar saya bukan the bright student, jadilah saya merasa harus lebih effort untuk menyiapkan diri. And that’s totally fine for me.

Judul bukunya aja: Buku catatan segala rupa belajar, wkwk. Cover buku dikasih Kakak-ku, lucu kannn

Ketika nyatet-nyatet untuk belajar, saya sempat merasa apakah saya mampu melewati sidang ini. Lalu saat gundah melanda, saya tulis gede-gede di buku tersebut: This is not only about ‘Dunya’as they always see, this is mainly about Ákhirat’. Agar tidak ada yang terasa sia-sia.

H-1 bulan sebelum defence

Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada desk saya tercinta. Saya beberes barang di meja dan lemari, soalnya sudah ada PhD student yang baru mau menempati meja saya (semangat yeee, mwahaha..). Barang saya gak banyak juga sih, soalnya sejak pandemi kan kebanyakan kerja di rumah, jadi beberapa buku dan catatan penting sudah diboyong ke rumah.

Penting juga untuk tidak lupa mengopi semua file yang ada drive laptop. Meski masih bisa mengakses lewat citrix atau jaringan univ, tapi lebih mudah kalau semuanya kita pindahkan ke hard disk. Nanti setelah lulus, kita gak tahu sampai kapan masih bisa mengakses jaringan kampus kan. Apalagi kalau udah sibuk urusan lain, nanti lupa deh mo ngopi file. Kerjaan selama bertahun-tahun jangan sampai kita gak punya kopiannya.

Bye bye desk

Oiya, buku thesis Alhamdulillah sudah sampai di rumah (dikirim oleh publisher) di akhir bulan Januari, pas lah ya, 3 minggu sebelumnya untuk kirim-kirim buku ke univ, perpus, supervisor, dan oponen (yang paling penting soalnya). Untuk kolega, networknya supervisor, dan teman-teman lain bisa setelahnya dicicil. Alhamdulillah dibantu paranim, semuanya bisa dikirim tepat waktu.

Mama Papa datang! Sekitar tiga minggu sebelum defence, Alhamdulillah Mama dan Papa sampai di Groningen (3 Feburari 2023). Dengan hadirnya Mama dan Papa tentu memberikan support moral luar biasa. Selain bisa jadi distraksi ketegangan-keteganan yang gak penting, juga ada yang masakin tiap hari, hahaha. Plus ngajak main anak-anak. Kalau ngobrol sama Mama dan Papa kan gak jadi kepikiran soal defence mulu. Tidak lupa ada bantuan Mama untuk mix and match kostum untuk defence untuk saya dan anak-anak.

Ngajak jalan Mama dan Papa titpis-tipis ke pusat kota Groningen dan foto-foto

Mock defence! This is important loh! Untungnya di dept saya, mock defence sudah jadi porsi khusus untuk yang mau defence. Tentunya kita yang harus inisiatif cari jadwalnya kapan. Karena di dept saya ada jadwal weekly meeting tiap Senin, biasanya mock defence dijadwalkan di saat tersebut. Setelah sudah tahu ancer-ancer tanggal defence, saya booked tinggal pilih mau Senin kapan. Paling enak 2-3 minggu sebelumnya, jadilah 6 Februari saya sudah pesen untuk jadi latihan sidang saya.

Karena orang-orang di dept saya kalau nanya suka kritis dan menghujam, jadilah saya menjadwalkan mock defence untuk mock defence, mwahahaha. Tadinya mau sama paranim, tapi paranim saya udah aga repot ya saya minta tolongin terus, akhirnya saya ngontak Sofa untuk jadi oponen kumplit di mock before mock defence. Sofa adalah pilihan tepat karena dia sudah familiar sama penelitian saya dan juga udah melewati PhD defence dengan sukses. Satu jam tanya-jawab, plus curcol juga, Alhamdulillah lumayan jadi ada bayangan, dan juga bikin saya rada pede untuk menghadapi mock defence di departmen

Mock mock defence bersama Dr. Sofa D. Alfian

Mock defence pun saya jalani dengan agak rileks. Teman-teman di departmen akan menyiapkan 2-3 pertanyaan. Biasanya kritis-kritis banget. Saya ngajak salah satu paranim saya untuk mencatat pertanyaan-pertanyaan dan alur diskusi, serta masukan dari teman-teman. Alhamdulillah bisa untuk bekal latihan di rumah juga. Beberapa teman di departmen juga ada yang mengirimkan pertanyaannya melalui email, jadi bisa saya baca-baca lagi.

H-7 sebelum defence

Semakin dekat, Bung! Rasanya kayak udah melayang gitu. Kalau teman saya yang pernah defence bilang, makan gak enak, tidur pun tak nyenyak. Alhamdulillah saya makan mah masuk aja sih (tukang ngemil sih), tidur ya tidur aja (pelor juga), usahakan gak begadang. Pokoknya yang penting fit. Banyak-banyak zikir aja rasanya, sama waktu solat lebih banyak doanya. Pasraahhh.. Emang dasar ya manusia tu selalu ada maunya pas lagi butuh, huhu. Untung Allah gak pernah hitungan.

Beberapa teman juga mengirimkan doa dan semangat melalui whatsapp. Ada salah satu wasap yang bikin saya merasa lebih lega. Wasap dari Wak Panji, personel BRIN yang baru lulus PhD juga beberapa bulan sebelumnya.

Katanya begini: “Mbak hey tong stres nya.. pasrahkeun ka Allah, terus kalo udah hora finita, lupakan semuanya.. pasang senyum terindah, nikmati momennya.. bismillah lancar-lancar nya mbak

Sampai situ masih okelah. Terngakak dan menambah mental lega ketika ia bilang gini: “Betul mbak, jangan ada beban, nu penting mah hora finita.. kalo kata mbak ina, jauh lebih gampang sidang doktoral daripada ngalahirkeun cenah wkwk.. mbak kan sudah berpengalaman, inget kadinya weh kalo tiba2 nervous nya tak terkendali..

Wejangan Mbak Inna yang diturunkan pada Wak Panji kini diestafetkan padaku. Mbak Inna yang sudah lulus PhD setahun yang lalu ternyata punya kata mutiara luar biasa. Saya pikir, bener juga ya, waktu melahirkan kedua putri saya, rasanya saya udah dalam puncak kepasrahan tertinggi. Bisi habis lahiran saya gak terbangun lagi. Alhamdulillah Allah masih kasih umur untuk mengasuh anak-anak. Jadi rasanya sidang PhD ini tidak ada apa-apanya lah, tidak sampai bertaruh nyawa.

H-1 sebelum defence

Alhamdulillah Nada dan Kang Rihan datang dari Utrecht menginap di Groningen! Sedikit banyak bisa membantu saya rileks dengan ngobrol-ngobrol sama mereka. Mereka datang hari Jumat sore, mau ke Hamburg se-wiken-an. Dari Groningen ke Hamburg udah lumayan deket kan. Mereka balik ke Groningen Minggu malam. Sabtu paginya kami sempat ke centrum untuk beli roti hits Groningen, Broodje van Eigen Deeg. Yang dari dulu pengen dibeli pagi-pagi (karena rotinya masih anget), tapi belum kesampean. Meski sambil ujan rintik-rintik kami akhirnya berhasil membeli roti enak ini.

Sarapan roti di weekend sebelum defence.

H-2 jam sebelum defence

Senin pagi bangun dengan perasaan pasrah luar biasa. Semua udah disiapin Bismillah.. kostum oke, suvenir untuk supervisor dan kolega oke, buku thesis contekan dan catatan oke (jangan sampai ketinggalan, apalagi salah bawa! Buku thesis saya udah saya tandain dan orat-oret soalnya).

Liany pun dateng pagi untuk jadi MUA saya, mwahaha. Alhamdulillah, soalnya saya gak bisa dandan. Tapi Liany pinter banget dandaninnya. Oiya, pas hari Jumat sebelumnya, Liany sempet trial make-up nya dulu, haha niat yah. Soalnya wajah eike jarang kena make up sih, bisi jadinya aneh. Tapi saya suka banget sama hasil dandannnya Liany untuk hari H, gak menor, gak ketipisan, tapi pas, bikin boost pede dan semangat.

Defence jam 11, artinya sejam sebelumnya kalau bisa sudah di tempat. Beres-beres, siap-siap, ada pengarahan/gladi bersih dari beadle-nya, gimana tata cara masuk ruangan, tata cara hormat ke opoenen dan promotor, dan gimana urutan dari rangkaian defence ini.

Beberapa teman datang sebelum defence dimulai dan menengok saya di ruang tunggu. Mereka menyemangati dan mendoakan. Oiya penting juga tidak lupa momen-momen sebelum defence ini dimanfaatkan untuk foto-foto dan mengambil video. Meski yang jadi tokoh utamanya mah udah gak tahu lagi deh mo foto apa, udah gak jelas, disuruh senyum kok nanggung, disuruh pose ini itu tapi tegang, hahaa. Boro-boro mikirin nanti fotonya bakal bagus apa enggak, pokonya ya udah aja lah yang cepet ini sesi foto-foto. Sudah tidak konsen, wakwaw.

Biar gak terlalu kosong perutnya, saya sempet melahap setengah pisang, kalau maag tiba-tiba pas lagi ditanya-tanya kan gawat juga. Ditambah pressure pas defence takut kumat kan. Jadi mending jaga-jaga masukin buah aja, walaupun gak laper.

Foto-foto apa lah terserah, pokonya mau beres aja.

Cerita defence dan segala rupa pertanyaannya bisa disimak di tautan berikut: PhD defence Monika. Pokonya udah laa hawla walaa quwwata illa billah aja. Pas udah duduk di kursi panas mah, waktu kerasa melayang. Kadang saya merasa menjawab dengan oke, kadang saya merasa gak tahu ngecapruk apa. Yang penting saya selamat. Kalau gak jelas pertanyaannya apa, it’s ok lho minta pertanyaanya diulang atau di-rephrase. Daripada sotoy jawabnya. Bisa cek postingan sebelumnya:

H+1 setelah defence

Alhamdulillah semuanya terlewati, defence lancar, resepsi lancar, dinner yang dibantuin tim Ali-Liany dan paranim pun sukses. Alhamdulillah Masya Allah Tabrakallah.

Entah mengapa H+1 setelah defence, malah migren menyerang. Mungkin kayak stres dan beban yang terasa sebelumnya kayak udah dilepas, malah jadi gelombang balik. Sebab saya merasa beberapa minggu sampai H-1 saya mo sidang, gak berasa stres yang sangat, yaahh okelah beban, tapi lebih ke pasrah. H+1 semua beban terangkat terbitlah migren, haha. Akhirnya saya menenggak parasetamol sampai 3x (500 mg x 3) dalam setengah hari. Plus kombinasi bobo cantik. Gak lama sih setelahnya Alhamdulillah sorenya udah baikan. Sempet siangnya dicariin Bu Bos, karena saya gak kelihatan online di Teams, “Monika, are you ok after defence?”. Salah sih ya, kudunya ambil cuti dua hari aja sekalian. Untung Bu Bos-na bageur.

Jadi begitu cerita defence saya, a day to remember.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s